Ronaboyd Mahdiharja

Sebuah goresan nan Pribadi mengenai metamorforsis dalam alam pemikiran perjalan menjadi manusia.

Nov 23, 2014


Pemain       : Matthew McConaughey, Anne Hathaway, Michael Caine, Jessica Chastain, Matt    Damon, John Lithgow, Ellen Burstyn
Sutradara      : Christopher Nolan
Naskah           : Christopher Nolan, Jonathan Nolan
Durasi            : 169 Menit


            Jenuh lihat kekasih jenuh karena skripsi terbersit mengajaknya nonton film ini. Terima kasih untuk Ita yang bersedia antri dan beli tiketnya, maaf sandalmu jebol. Sejujurnya ada hasrat tersendiri untuk menonton salah satu Sutradara favorit saya (selain Tim Burton dan tentunya Spielberg), Christoper Nolan. Alasan saya menyukai sutradara ini karena pola film dan kisahnya yang tak lazim. Okelah untuk film satu ini kisahnya umum, namun sekali lagi penyajiannya yang berbeda. Hampir tiga jam saya dibuat takjub, pusing, terharu, kaget, dan asing.
            Mengambil tema yang umum yakni luar angkasa, time traveler, dan getaran emosi ayah-anak. Film yang mengusung luar angkasa dan time traveler rata-rata memberikan twist ending. Hal inilah yang menjadi keahlian dari Nolan untuk menciptakan kisah yang berlapis dan multitafsir. Tengok saja The Prestige, Insomnia, Following, Memento atau Inception.
            Pada awal film kita dibawa pada nuansa akhir era manusia dengan kerusakan alam bukannya perang. Ekspedisi menemukan Bumi Baru bagi umat manusia memberikan gambaran Nolan ingin menggiring saya (dan mungkin kamu juga) tentang interpretasi ‘They’ dan ‘Ghost’ adalah alien atau makhluk lain. Ini dikarenakan banyaknya film-film bertema luar angkasa yang menjejali pemikiran kita akan adanya alien. Dan sialnya kita terkecoh. Walaupun saya terkecoh namun tidak terlalu mengejutkan layaknya The Prestige, Fight Club, The Others atau Shawsank Redemption. Yaah… mungkin karena saya tahu polanya Nolan sehingga saya pun siap untuk terkejut, tetapi yang saya dapatkan justru sebaliknya. Paling Cuma bilang “ooo…” atau “hmm..” itu saja.
            Daripada membicarakan kejutan dalam film saya justru tertarik membicarakan bait puisi Dylan Thomas yang sering diucapkan tokoh yang diperankan Michael Caine sampai akhir hayatnya, “Don’t Go Gentle Into That Good Night.” Mungkin diantara kalian yang masih bingung maksud dari kalimat tersebut belum mendapatkan jawabannya. Beruntunglah saya mempelajari semiotika. Karena tentu saja penjelasannya bukan melalui verbal melainkan adegan-adegan berikutnya dan perkembangan emosi Murphy tentunya. Itulah Nolan’s Rule yang tak ingin menjelaskan keyword dengan dialog.
            Anda tak perlu pusing tentang istilah-istilah ilmiah pada film ini. Adakalanya film yang mengkisahkan penjelajahan ruang angkasa membutuhkan penjelasan khusus tentang fenomena alam semesta dan tak sedikit pemilihan dialog terlalu bertele-tele dan sulit dipahami. Namun, anda tak usah khawatir karena Nolan meramu dialog dengan cerdas dan mudah dipahami oleh saya yang selalu remidi pelajaran Fisika. Mungkin karena ditunjang juga dengan adegan-adegan pendukung penjelasan ilmiah tersebut.
            Efek suara yang mengagetkan ditambah visualisasi yang mencengangkan membuat anda betah dan tak bosan. Ironi di planet Miller misalnya. Sebuah pulau yang hanya terdiri dari air setinggi sepuluh sentimeter, namun ternyata memiliki fenomena tsunami setinggi gunung. Atau pengaruh efek suara film Gravity menginspirasi Nolan untuk melakukan keheningan di luar angkasa. Serta getaran-getaran ketika melintasi warmhole sampai terasa di kursi penonton.
            Akting para pemain ada yang baik dan tidak istimewa. Totalitas McConaughey dalam Dallas Buyers Club, Mud, The Lincoln Lawyer, The Wolf of Wall Street tak perlu diragukan. Kita dibuat terharu hubungan ayah-anak dalam film ini. Lihat saja bagaimana kita menitihkan air mata ketika Ia melihat video perkembangan anaknya selama 23 tahun di bumi, padahal Ia baru meninggalkan mereka hanya beberapa jam (relativitas waktu Einstein). Akting Jessica dan Casey tidak terlalu istimewa dibandingkan dengan Mackenzie dan Chalamet. Serta Matt Damon yang luar biasa memerankan tokoh yang tak terduga. Terjawab sudah alasan pemeran Bourne itu tak muncul dalam trailer. Masih bersama dengan Caine yang berwibawa dan memiliki karater yang berbeda pada tiap film Nolan. Humor dalam film Nolan sangat sedikit. Tetapi kali ini ada beberapa adegan muncul dengan humor dan dialog unik. Bagaimana suara jangkrik di earphone Cooper atau kata-kata robot TARS yang terkadang nyelekit dan nyentil.
            Kejutan sebenar-benarnya yang saya rasakan dalam film ini tatkala saya berjalan keluar ruang biokop. Tersesat dan merasa asing di mall. Suara deru parkir bawah tanah serasa mesin pesawat luar angkasa. Bahkan pikiran pun menjadi blank ketika melihat jalan raya sampai lupa jalan pulang dan hanya berputar-putar di jalan. Saya akui efek sinematografi film Interstellar lebih mengejutkan.

Nov 8, 2014

          Tiap kali bertemu adik tingkat dan teman selalu ada pertanyaan terkait cara agar bisa memahami buku atau agar suka membaca atau lebih sadis cara agar tidak mengantuk ketika membaca buku. Well, daripada saya repot-repot menjelaskan panjang lebar lebih baik saya menuangkannya dalam sebuah tulisan. Tinggal copy lalu paste dan send. Simpel dan tidak mumet.
            Sebenarnya untuk memahami buku kita harus membaca. Lha anak-anak dari SD sampai mahasiswa tentu sudah bisa membaca, lantas ngapain membuat tulisan tentang tips membaca? Betul bahwa sejak SD kita sudah bisa membaca, namun belum tentu kita membaca dengan baik dan tepat. Kita bisa saja membaca akan tetapi sering lupa atau bahkan tidak tahu isi dari sesuatu yang kita baca.
            Ketika negara ini sibuk meningkatkan minat baca masyarakat, negara-negara lain sudah mengajari siswanya membaca dengan baik dan tepat. Dari berbagai informasi yang saya peroleh di negara-negara maju, para siswa diwajibkan setidaknya membaca 2-3 buku dalam sehari. Bagaimana bisa? Kita saja menghabiskan satu buku membutuhkan waktu berhari-hari dan bahkan berminggu-mingu. Tenang, bro. Santai. Saya akan jelaskan satu per satu dari cara agar tidak mengantuk ketika membaca buku sampai membaca 2-3 buku sehari.
            Cara menumbuhkan minat baca sebenarnya cukup sederhana, yakni masalah kebutuhan. Kita perlu menggali kebutuhan serta tujuan membaca. Kebutuhan inilah yang akan menyadarkan kita arti pentingnya membaca. Sekedar berbagi pengalaman saja bahwa awal mula tujuan saya membaca hanyalah sekedar hiburan. Seingat saya, buku pertama yang saya baca adalah komik Dragon Ball. Yup, komik. Awas kalau tertawa. Komik bagi anak SD lebih menarik dibandingkan dengan buku cerita anak-anak lainnya karena banyak gambar. Setelah suka membaca, Ayah membelikan majalah anak-anak BOBO. Menjelang lulus SD, saya diperkenalkan dengan kisah Lima Sekawan, Goosebumps karya R. L. Stine, Harry Potter yang fenomenal, dan Sherlock Holmes. Peralihan dari cerita komik yang penuh gambar ke cerita fiksi yang full teks pada mulanya memang berat. SMP merupakan fase yang berat karena saya dilarang membaca komik, bahkan komik yang saya koleksi dibakar oleh Ayah karena prestasi di sekolah yang buruk. SMA terjadi perubahan bacaan yang luar biasa, yaitu dari fiksi populer ke sastra, biografi, dan berbagai buku yang berbau pornografi. Ada kekagetan psikologis dalam peralihan tersebut. Berawal dari kisah dan tema anak-anak beranjak pada sesuatu yang mengusik batin dan emosi. Bayangkan saja ketika terbiasa membaca Detective Conan ataupun One Piece kemudian beralih pada gaya bahasa Pramoedya yang membakar dengan berbagai permasalahan kemanusiaan. Ditambah rasa ingin tahu remaja tentang seksualitas. Baru setelah kuliah mulai menyukai buku pelajaran dan sesekali membaca fiksi untuk penyegaran. Padahal sebelumnya tak pernah sedikitpun tertarik dengan buku pelajaran. Maaf sepertinya saya bernostalgia terlalu panjang, paling tidak kamu bisa mengawali minat baca dengan sesuatu yang kamu suka. Selanjutnya kembali fokus.
            Ada banyak pertanyaan, mengapa ketika membaca buku cepat mengantuk, bosan, lelah? Ada beberapa kemungkinan hal itu terjadi. Pertama, buku itu ditulis dengan bahasa yang kaku sehingga cenderung membosankan. Kedua, kamu tidak menyukai topik buku yang kamu baca. Ketiga, kamu tidak berdialog dengan buku itu.
            Perihal alasan pertama banyak dijumpai pada buku pelajaran atau teori memang cenderung kaku dan membosankan. Berbanding terbalik dengan buku-buku fiksi yang lebih mudah diikuti karena gaya bahasa yang mengalir. Apalagi jika buku non fiksi tersebut disertai dengan istilah-istilah ilmiah yang tidak kita pahami maksudnya. Semua itu bukan alasan pemaaf untuk kita terus mengeluh dan menghindari buku non fiksi. Tindakan yang perlu kita lakukan adalah hancurkan es batu di dalam kepala kita. Memangnya ada es batu di dalam kepala kita? Ibaratnya es batu itu adalah otak kita. Alat untuk memecahkan es batu itu berupa palu yang kita sebut paksaan dan motivasi. Jika kita tidak memaksa otak kita bekerja dan membaca, es batu itu akan tetap padat dan keras. Pukul es itu bekali-kali sampai mencair, sehingga kita bisa memahami buku yang kita baca. Paksa otak kita untuk terus membaca sampai halaman terakhir. Pada saat menemukan kata atau istilah yang tidak kita pahami maka catatlah dan cari dalam kamus ilmiah atau di internet. Selain itu, perlu perubahan posisi membaca agar tidak mudah lelah, mengantuk, dan bosan. Bertahan pada posisi membaca justru membuat kita mudah lelah dan mengantuk, terutama membaca sambil tidur. Sesekali keluar ruangan dan membaca di ruang terbuka untuk menyegarkan otak kita.
            Adakalanya kita dihadapkan pada kondisi yang mengharuskan kita untuk membaca topik yang tidak kita suka, terlebih bagi pengambil kebijakan. Perlu perpaduan antara sudut pandang mata cacing dan mata elang. Ketika kita melihat dengan mata cacing akan nampak hal-hal kecil ataupun detail yang tidak terlihat oleh mata elang. Meskipun kita dapat melihat dengan jelas dan besar suatu permasalahan, namun kelemahan sudut pandang mata cacing juga terbatas. Posisi sudut pandang mata elang mengurangi kelemahan sudut pandang mata cacing karena kita bisa melihat dengan jelas dari kejauhan dan terbawa emosi serta suasana. Manfaat lain dari mata elang kita juga bisa melihat secara komprehensif atau holistis karena pada dasarnya generalisasi juga diperlukan.
            Walaupun kita tidak menyukai topik yang kita baca, terkadang terdapat informasi yang penting dan suatu saat berguna bagi kita. Informasi merupakan kekuatan yang sering membantu kita dalam hal-hal yang tak terduga. Dari komik hentai maupun majalah dewasa pun kita bisa memperoleh informasi yang bermanfaat. Witing tresno jalaran soko kulino, tumbuhnya rasa cinta atau suka berasal dari kebiasaan. Kebiasaan ini memerlukan suatu hubungan yang intensif. Bacalah topik yang tidak kamu suka secara intens agar terbiasa dan kemudian kamu akan menyukainya.
            Kemungkinan terakhir bahwa kamu tidak berdialog dengan buku itu terjadi karena kamu memposisikan buku sebagai benda mati. Orientasi kita untuk menyelesaikan sebuah buku membuat kita justru terjebak dalam interaksi satu arah dan itu sangat menjemukan. Setiap orang bisa saja menyelesaikan sebuah buku tanpa ada interaksi. Ini bisa saja menjadi fatal karena ada peluang kita dikencingi atau dikibuli. Efek lainnya kita bisa menjadi keras kepala dan melupakan (terutama buku-buku ilmiah) bahwa ilmu pengetahuan selalu berkembang dan tidak stagnan.
            Sejatinya, buku merupakan manifestasi dari si penulis. Sang penulis yang bisa berbicara, memiliki pendapat, ide atau gagasan. Ketika membaca kita membutuhkan imajinasi untuk berdialektika dengan si penulis yang hadir melalui tulisan. Dari sanalah muncul dialog antara pembaca dan penulis secara imajiner. Tiada rasa bosan dan yang ada merupakan suatu keasyikan bercengkrama dengan seseorang. Lantas bagaimana cara berdialog dengan buku? Cara berdialog dengan buku erat kaitannya dengan memahami isi dari suatu buku. Saya akan coba menjelaskannya pada pembahasan selanjutnya.

Sep 18, 2014


Membahas U2 tidak akan ada habisnya. Pada mulanya saya mendengar kata U2 dari OST Mission Immpossible yang ikonik itu. Padahal sebelumnya With Or Without You kemudian Beautiful Day sudah akrab ditelinga, namun saat itu masih belum kenal siapa penyanyinya karena kaset tape babe tak ada wadahnya. Kemudian Elevation yang menjadi soundtrack Tomb Rider membuat saya semakin penasaran dengan band ini. Ada kisah menarik dengan lagu ini. Suatu hari ada toko kaset CD bajakan yang memutarnya dan saya berhenti untuk melihat penyanyinya (Dulu tak paham credit dalam film. Bodohnya aku, padahal tinggal muter aja filmnya dan lihat kreditnya). Sampai pada akhirnya saya jelajahi tiap toko kaset CD dan tape untuk menanyakan U2. Hingga saya jengkel pada penjualnya karena jelas-jelas ada kaset U2 dibelakang si penjual menggantung dengan indahnya, eh dia bilang tak ada dan saya nunjuk serta bilang “yang itu, pak.” Tau kah apa yang dibilang si penjual? “Oooh, U Dua (maksudnya U2). Ngomong to, mas.” Rasa jengkel tiba-tiba pengen ketawa karena saya selalu bertanya U2 dengan cara pengucapan yutu (You Two). Ternyata dengan bertanya U Dua saya mendapatkan kaset yang lumayan banyak, padahal sebelumnya nihil.
Mohon maaf, saya mengenal U2 dari bajakan karena yang asli sangat sulit ditemukan di desaku. Saya bersyukur dari bajakan tersebut mengenal lagu-lagu hits U2 mulai dari Where The Street Have No Name, One, Bad, Sunday Bloody Sunday,I Still Haven’t Found What I’m Looking For dll. Poin yang membuatku suka dengan band ini adalah musik dan vokal tertata dengan pas. Secara pribadi, tiap kali mendengar lagunya serasa berada di dunia lain yang belum terjamah. Vokal Bono pun terkadang sendu dan di lagu lain menghentak yang akan membuatku berkata “WOW! Kok bisa ya?” Dulu tak jarang pula saya jadikan musik U2 sebagai relaksasi sebelum penjelajahan ke dunia antah berantah atau sekedar mencari inspirasi karena bunyi-bunyian anehnya.
Bulan ini spesial karena U2 mengeluarkan album baru secara gratis. Beeh, saya suka gratisan meskipun ada yang bilang jika gratisan biasanya jelek, but I don’t Care. Album Song of Innocence terdengar simpel dan sederhana. Pada beberapa lagu nampak ingin mengembalikan nuansa pada album-album awal mereka. Walaupun banyak kritik terhadap album No Line On The Horizon, U2 selalu ditunggu karya-karyanya karena bisa dibilang band ini adalah parameter. Majalah Rolling Stone menobatkan U2 sebagai penguasa dekade 00 (2000-2010), meskipun dalam hal penjualan Coldplay lebih tinggi namun jika kita berbicara penguasa maka tak akan lepas pada pengaruh. Secara tak langsung pun Chris Martin, vokalis Coldplay, menjadikan Bono sebagai inspirasi. Ini bisa dilihat ketika lagu pembuka pada salah satu konser Coldplay adalah Magnificent dari album No Line On The Horizon.
Lagu dibuka dengan The Miracle (Joey Ramone) yang menampilkan usaha U2 untuk mengembalikan unsur post-punk mereka tapi rasanya tak sampai. Choir intro menjadikan lagu ini cocok untuk jingle iklan Apple. Meskipun tak ada yang spesial dalam lagu ini, namun cukup kenyal untuk lagu pembuka. Every Breaking Wave dimulai dengan suara lembut Bono yang mengingatkanku pada lagunya Nidji. Chorus beranjak memberikan kemegahan ala U2. California (There is no End to Love) mengingatkanku pada lagu New York yang sedikit membosankan. Akan tetapi, nampaknya U2 belajar dari kasus New York dalam memperbaiki California. Bunyi lonceng dan repitisi kata Santa Barbara memberikan kesan yang mistis pada lagu ini. Suara gitar Edge yang beachy terdengar menyenangkan dipadu dengan Larry Mullen yang mensimulasikan suara ombak. Vokal Bono “whoa.. o..o..” masih terngiang-ngiang pada beberapa kesempatan.
If there is a light, you can't always see,
And there is a world, we can't always be.
If there is a dark, that we shouldn't doubt,
And there is a light, don't let it go out.
And this is a Song, a Song for Someone;
This is a Song, a Song for Someone
Penggalan lirik di atas merupakan bagian dari lagu Song for Someone yang mendayu-dayu dan diiringi petikan gitar yang romantis. Pada awal lagu vokal Bono terdengar rendah dan datar, tapi terselamatkan oleh petikan gitar serta eksekusi selanjutnya yang menunjukkan kualitas lagu ini. Gumam di backing vokal menambah kesan cengeng nan cantik. Sebuah lagu yang bercerita tentang susahnya memperjuangkan dan mempertahankan sebuah cinta. Setidaknya saya dan Ghinan punya lagu yang tak kalah romantisnya dengan lagu ini hehehe…
Irish (Hold Me Close) menurut saya merupakan pengembangan dari I Still Haven’t Found What I’m Looking For dan Sometime You Can’t Make It on Your Own karena memiliki beberapa kesamaan dalam beberapa bagian. Lagu ini seperti halnya Lemon, I Will Follow, dan Tomorrow yang didedikasikan untuk ibu Bono. Selanjutnya adalah Volcano yang menjadi salah satu kesukaanku dalam album ini. Adam Clayton dengan betotan bass mengawali lagu ini. Sedikit teringat genre lagu-lagu awal U2 yang post-punk. Tidak terlalu lama bagi saya untuk menyukai lagu ini walau tak segarang Vertigo.
YOU ARE ROCK N ROLL
YOU AND I ARE ROCK N ROLL
YOU ARE ROCK N ROLL
YOU AND I ARE ROCK N ROLL
Volcano, you don’t wanna, you don’t wanna know.
Volcano, Something in you wants to blow
Volcano, You don’t wanna, you don’t wanna know
Belum cukup dengan Volcano, kita diajak dalam sebuah lagu yang kaya dengan musik instumen. Intro yang tidak asing, saya masih terus mengingat-ingat itu mirip suara apa. Ketegangan dalam lagu ini kental terasa untuk menampilkan gejolak politik yang berdarah masa lalu. Lirik I don’t believe anymore, I don’t believe anymore yang pelan sedikit mengurangi ketegangan menjadi jembatan menuju hentakan chorus yang cantik. You don’t believe it.
Cedarwood Road bercerita tentang persahabatan tatkala beranjak dewasa di sebuah jalan bernama Cedarwood. Mereka mencoba bernostalgia dengan jalan cerita Where The Street Have No Name. Menjelang detik ketiga puluh detik hentakan musik sulit untuk menghentikan kaki untuk mengikuti iramanya. Riff rendah Edge dan ritme pukulan yang solid menambah berat lagu ini. It was a war zone in my teens, I’m still standing on that street. Sedikit menyindir kita-kita, nih. Pada saat di luar sana terjadi perang, kita hanya duduk minum kopi sambil merokok. Sadis.
Denyut gelombang synthesizers yang kemudian ditumpuk string dan melodi dering sampai suara berisik riff Edge mengalun lembut tapi membakar membuat lagu Sleep Like A Baby Tonight berkelas. Didukung dengan lirik kelam lagu terasa satire. Lagu beranjak pada sebuah penghormatan kepada Joe Strummer, This Is Where You Can Reach Me Now. Lagu yang bisa saja dibuat dance remix. Edge menambahkan riff Reggae dan si Clayton ngebass macam bassisnya band Punk-Rock The Clash, siapa lagi jika bukan Paul Simonon Gustave. Asyik.
Finally, The Trouble. Sebuah lagu balada yang dimulai dengan suara halus wanita dan falsetto Bono menusuk membuat merinding. String sederhana Edge menambah kuat lagu ini yang menjadi megah membuatku serasa dalam dunia asing yang ingin kusinggahi.
Album ini mungkin akan mendapatkan banyak kritik karena kita seperti tidak mengenal band besar ini. Simpel, sederhana, dan seperti sedang mencari jati diri. Tapi jangan dilupakan bahwa ini adalah Song of Innocence yang merupakan refleksi musik mereka sebelum menjadi terkenal dan masih menjadi pemuda yang lugu nan polos. Whatever The Critics say, I always love U2. Oh, iya saya pernah mengira jika Robin Williams adalah Bono. OK, saatnya mutar Discotheque.



Sep 8, 2014

            Setiap penggila bola memiliki fase awal untuk memilih klub sepak bola favoritnya. Tifosi mungkin lebih tepat dikatakan demikian meskipun arti kata ini lebih mengarah pada pendukung klub dari negara Italia. Pada mulanya saya tidak begitu paham dengan klub sepak bola, namun ketika menonton sepak bola lebih tepatnya sejak EURO 1996 saya mulai menyukai sepak bola. Pasca itu ada liga Italia yang sesekali saya tonton. Dari beberapa klub peserta yang selalu saya tunggu penampilannya adalah AC Milan. Pas kecil masih ingat Liga Serie A ditayangkan oleh RCTI, tetapi karena tidak paham jadwal secara tidak sengaja sering juga melihat pertandingan. Bahkan dini hari pun tak sengaja melihatnya ketika terjaga dan televisi belum dimatikan karena Ayah ketiduran.
            Weah adalah nama dari pemain bernomor punggung 9 yang menarik perhatianku. Meskipun negro ada rasa harapan yang besar dan rasa kasihan (entah kenapa saya melihatnya begitu) dalam orang itu dan Ia menciptakan gol ketika pertandingan AC Milan yang saya tonton. Sejak itu selalu ada harapan AC Milan selalu menang dan Weah mencetak gol. Sampai pada akhirnya 1998 setelah Piala Dunia (dimana tim favoritku keok melawan Kroasia), AC mendatangkan Oliver Bierhoff. Penampilan Bierhoff pada EURO 1996 yang membuatku terkesan untuk pertama kalinya dengan sepak bola dan selalu mendukung Jerman pada tiap turnamen hingga saat ini. Keberadaan Bierhoff membuatku semakin suka dengan AC Milan terlebih gol-gol nya melalui sundulan. Bahkan hl itulah yang menginspirasi permainan Winning Eleven sampai PES untuk selalu membuat gol lewat sundulan, meskipun bisa saja lewat tendangan sampai-sampai teman-temanku pada jengkel.
            Sheva lah yang membuatku untuk mendeklarasikan diri menjadi seorang Milanisti. Meskipun pada saat itu Milan terpuruk tetapi tidak menyurutkanku. Dulu sempat terpikir untuk mendukung Juventus dengan Zizou-nya, namun entah kenapa saya lebih mantap di hati dengan AC Milan walaupun dalam perolehan scudetto Juve lebih banyak. Saya sendiri baru mengetahui sejarah AC Milan ketika SMP sehingga bukan masuk dalam fans yang memilih dengan alasan membaca sejarah atau lainnya. Dan ketika mengetahui sejarah dan track record AC Milan saya semakin bangga dan tidak salah pilih.
            Keterpurukkan Milan akhir-akhir ini membuatku bangkit kembali untuk menyaksikan lagi tiap laganya. Sempat terhenti dan mengikuti perkembangan AC Milan beberapa tahun, nampaknya Milan membutuhkan dukunganku. Rasa sakit pada tahun 2005 yang tanpa gelar dan kalah menyesakkan dari Liverpool tidak segenting saat ini. Krisis finansial dan penurunan penonton menunjukkan ketidakpercayaan publik terhadap Milan. Era baru Pippo membuat sedikit ada harapan walau belum terlihat hasil nyatanya (Inget awal-awal kepelatihan Carletto yang dingin dan tanpa ekspresi ketika kalah maupun menang. Sebal juga jika diingat). Semoga pula kedatangan Torres (yang juga ikut berperan dalam kekalahan pada final Liga Champion di Turki) bisa membantu dan mengembalikan kejayaan Milan.

Ed i colori che noi portiamo
sono la gloria
sono la gloria
Ed i colori che noi portiamo
sono la gloria
dei Rossone'
forza Milan ole'
forza Milan ole'
forza Milan ole' ole' ole'
Milan ! Milan ! Milan !
 



Aug 28, 2014



Pemain           : Scarlet Johansson, Morgan Freeman, Min-Sik Choi, Amr Waked
Sutradara       : Luc Besson
Naskah           : Luc Besson
Durasi             : 89 Menit

We humans are more concerned with having than with being

            Sinopsis sebuah film terkadang melebih-lebihkan atau justru sebaliknya. Selain trailer dan poster, sinopsis juga bagian penting dari marketing sebuah film. Untuk saya pribadi, ada kalanya saya melihat sinopsis terlebih dahulu baru kemudian trailer dan pemainnya. Namun, ada kalanya juga saya tak perlu membaca sinopsis dan melihat pemain yang masuk dalam daftar saya nilai memiliki akting bagus. ScarJo dan Morgan Freeman adalah pemain yang masuk dalam daftar saya dan inilah alasan saya menonton LUCY. Semenjak menonton Lost In Translation kemudian Match Point saya mengikuti film-film ScarJo sampai HER (meskipun cuma suara doang tapi asyik juga) dan Under The Skin. Shawsank Redemption lah yang memperkenalkan saya dengan Morgan Freeman dan film-film yang Ia bintangi memiliki kisah yang menarik serta memiliki twist ending. Selain Shawsank Redemption, ada Se7en, Million Dollar Baby, Trilogi Batman karya Christoper Nolan, Now You See Me, Wanted dll.
            Saya tak akan menguraikan sinopsisnya kembali karena itu membuang waktumu dan waktuku. Anda bisa membacanya sendiri pada website dan situs yang anda percaya. Langsung saja, Ok! Ide dasarnya adalah peningkatan kemampuan otak manusia melalui obat jenis baru. Manusia digambarkan hanya mempergunakan 10% kemampuan otaknya, dan bisa melakukan sesuatu yang spesial jika mempergunakan lebih dari itu. Tidak lebih bagus dari film Limitless, tapi ini lebih luas jangkauannya karena terdapat bumbu terkait kehidupan dan tujuan manusia. Pada awal film cukup bagus dengan selingan-selingan deskripsi evolusi dan adegan binatang yang cukup menggelikan. Karakter Lucy sendiri mengalami perubahan yang dari awalnya seorang gadis yang polos dan suka berpesta menjadi lebih tenang dan agresif (cenderung primitif/bar bar). ScarJo mampu membawakan karakter Lucy dengan baik pada awal sampai peertengahan, sedangkan dari pertengahan sampai akhir saya seperti melihat Black Widow. Morgan Freeman pun tidak mendapatkan porsi yang banyak dan karakter yang dibawakannya memang tidak berkembang. Min-Sik Choi dan Amr Waked lumayanlah tapi tidak benar-benar membantu.
            Sejak menit awal kita diberikan ketegangan dan berbagai pertanyaan muncul dalam benak kita. Ketegangan sedikit mengendor ketika fokus kita tidak lagi pada Lucy, melainkan lebih pada penjelasan ilmiah. Menjelang ending cerita nampak kedodoran dan dipaksakan. Tidak ada yang istimewa dari adegan ketika Lucy dapat mempergunakan kemampuan otaknya lebih dari 10% karena kita dapat menemukannya pada film-film X-Men. Atau lebih tepatnya jika Luc Besson tak jeli mengeksplorasi kemampuan Lucy dengan adegan yang bisa dikenang pada penonton.
            Saya menyukai humor yang disisipkan Luc Besson, terutama Black Humor yang dapat ditemukan dari dialog antara Lucy dengan Pierre Del Rio ketika Lucy menyetir mobil.
Pierre Del Rio: “I'd rather be late than dead.”
Lucy: “We Never Really Die”
Perhatikan saja ekspresi Pierre ketika mendengar jawaban Lucy. Sepertinya sang sutradara memang ingin sedikit mengurai ketegangan yang dibangunnya dengan menyelipkan beberapa klip personifikasi yang sesuai dengan situasi yang terjadi, terutama pada awal film dan bagian penjabaran immortality and reproduction (nah, yang ini si Besson dapat video itu darimana coba? Hehehe)
            Bagi mayoritas penonton pasti berpikir bahwa ada kesan menyeret Lucy menjadi Tuhan, namun jika demikian akan membuat lubang dalam cerita dan menarik pertanyaan yang mendasar “Apa yang terjadi jika semua manusia mampu mengoptimalkan 100% otaknya? Mengapa manusia harus memiliki hati? Lantas siapa yang menciptakan seluruh alam semesta dan kemampuan manusia yang begitu luar biasa?” Tiada penjelasan dalam film dan inilah yang menjadi salah satu ciri scifi. Lucy mengalami fase dimana kehilangan rasa sakit, takut, dan hasratnya. “Everything that makes us human, begins to escape. I feel less human.” Saya salut terhadap keberanian Besson dalam memasuki wilayah absolut dengan menciptakan karakter Lucy. Mustahil manusia memasuki wilayah absolut karena harus menghilangkan kemanusiaannya dan memandang semua rasa adalah sama yang tiada bedanya. Yang bisa dilakukan manusia adalah menyeimbangkan anugerah yang telah diberikan baik hati, jiwa, rasio bahkan indra. Pada tataran absolut, semua pertentangan/ironik/paradog harus dirasakan secara bersamaan dalam satu waktu sehingga upaya apapun manusia mencapainya adalah mustahil. Inilah yang membuatku menyukai genre scifi (truly scifi, bukan yang abal-abal) dibandingkan genre lainnya.
Lucy: “Time is the reason for its own existence, the ultimate measure. It attributes its existence to matter. Without time, it does not exist.”
            Berbicara tentang waktu teringat surat al-Ashr yang berbunyi “Demi masa (1) Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian (2) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran (3)”. Jadi, jangan sia-siakan waktu. Saatnya kembali fokus pada tesis. CU!!

Aug 27, 2014

    
            Suntuk mikirin tesis mending mengenang masa kecil dan komik. Pada dasarnya komik selalu lekat dengan anak-anak. Orang dewasa yang suka membaca komik kecenderungan ketika kecil sudah suka dengan komik. Jarang sekali saya temukan pemula yang mencintai komik secara tiba-tiba ketika dewasa. Sejak kecil sampai saya sudah kelar kuliah masih saja suka membaca komik. Pada kali ini saya tidak akan membahas tujuan orang membaca komik atau menyelidiki fase pecinta komik, namun saya hanya ingin mengenang beberapa komik yang kelak layak untuk terus dicari oleh pecinta komik meskipun beberapa tidak pernah lagi muncul di televisi ataupun dicetak lagi.
1.        Doraemon
Karya Fujiko F. Fujio ini benar-benar ikonik untuk anak kecil dan bahkan menciptakan pecinta Doraemon lintas generasi. Fantasi, teknologi, keinginan, persahabatan, edukasi membuat komik ini selalu direkomendasikan untuk anak-anak oleh orang dewasa. Saya tidak pernah tahu persis berapa kali komik ini dicetak ulang oleh Elex Media Komputindo. Tidak ada volume tamat dalam komik ini dikarenakan pengarangnya yang telah meninggal dunia, sehingga endingnya pun mengambang. Ada kabar jika film Doraemon Stand By Me adalah ending dari serial Doraemon.

2.        Dragon Ball
Mangaka Akira Toriyama sukses membawa Son Goku dkk menjadi idola bagi anak pria. Genre Fighting yang diusung benar-benar menjadi contoh bagi genre sejenis untuk menyami kesuksesan Dragon Ball. Bahkan adapula yang mengatakan bahwa Dragon Ball adalah gerbang manga merajai dunia komik. Lihat saja karakter utama dalam Naruto dan Bleach (ichigo) yang terinspirasi oleh karakter dalam Dragon Ball. Walaupun sepertinya sudah tidak dicetak ulang tetapi komik ini masih banyak diburu.

3.        One Piece
Adventure Never End. Well, ini serial komikku yang sampai saat ini belum TAMAT. Ini adalah Legenda Hidup komik modern dan mungkin sangat sulit/mustahil menyamai rekor yang ditorehkan Eiichiro Oda dalam menciptakan alur, tokoh, dan kisah yang seru, lucu, penuh nilai. Petualangan Monkey D. Luffy masih berlanjut untuk mendapatkan One Piece dan menjadi Raja Bajak Laut.

4.        Sylphid
Jarang-jarang ada komik yang membahas tentang kuda pacu dan bagus. Mungkin kamu masih memfavoritkan Mars atau Makibao, tetapi Sylphid lebih komplit menurutku. Dari segi hubungan antara joki dan kuda pacunya yang mengharuka. Yaaah, walaupun cover komik ini sebenarnya tidak mengundang nafsu untuk membaca tapi ternyata kereeeen!

5.        Detective Conan
Satu lagi komik trendsetter bergenre misteri dan detektif di Indonesia. Meskipun di Jepang Detektif Kindaichi lebih dahulu, ternyata Conan lebih sukses daripada pendahulunya. Mungkin disebabkan tokoh dalam Detective Conan menyertakan anak kecil dan kasus-kasusnya tidak sesadis Kindaichi. Alhasil kita akan menemukan banyak sekali komik-komik detektif serupa. Masih On Going nih komik. Oh, ya. Saya berasumsi jika Aoyama Gosho mengambil nama penulis novel series terkenal Sherlock Holmes, Arthur Conan Doyle sebagai tokoh utamanya.

6.        Samurai X
Komik samurai favorit saya. Komik ini merupakan pintu gerbang yang memperkenalkan sejarah Jepang pada saya. Nobuhiro Watsuki sebagai mangaka mampu memberikan konflik dasar pada setiap pertarungan Kenshin Himura, yaitu tidak boleh lagi membunuh sehingga Ia memakai pedang bermata tajam terbalik, Sakabatou. Sebenarnya saya mengenal Samurai X dari anime yang ditayangkan oleh SCTV, tetapi di dalam anime yang saya lihat berhenti sampai melawan Shishio Makoto. Original Soundtrack anime Samurai X sendiri masih menghiasi koleksi OST anime saya, mulai opening Sobakasu (Judy & Mary) sampai ending Dame! (You Izumi). Tak lupa Heart Of Sword (TM Revolution) dan Its Gonna Rain (Bonnie Pink). Mengapa komik ini akan terus dicari para penggemar komik Indonesia? Karena inilah komik legend samurai yang dikenal oleh masyarakat kita, meskipun ada Vagabond yang lebih sadis dan menarik. Komik ini sudah tak dicetak kembali dan dalam forum-forum pencinta komik dan bazar buku selalu dicari. Komik pertama yang saya baca berformat kanan-kiri.

7.        Kungfu Boy
Siapa yang tak kenal ahli Kungfu fantasi Chinmi dari kuil Dairin? Ketika masih kecil saya sering bermain tarung-tarungan dan selalu mengambil Chinmi sebagai karakter bertarung. Jurus andalan saya waktu itu adalah Jurus Peremuk Tulang untuk menghadapi laser Ultraman, Pedang Mataharinya Ksatria Baja Hitam RX, atau Megazordnya Power Rangers. Alhasil saya sering kena marah karena membuat menangis teman. Hehehe… Dengan alasan Chinmi lah saya tertarik ikut Karate, meskipun tidak nyambung karena yang penting saat itu dalam benak anak kecil saya “Saya harus lebih kuat dari Ultraman, Power Rangers, KBH RX, atau Gundam.” Banyak pembelajaran yang bisa dipetik dari serial komik ini. Eksistensi komik ini masih dapat ditemui pada toko buku dengan edisi baru.

8.        Paman Gober
Sebetulnya banyak juga komik non Jepang yang beredar pada saat saya masih kecil dan pernah saya baca misalnya Spiderman, Batman, Superman, G.I. JOE, Tintin, Asterix, Si Bob Napi Badung, Mickey Mouse, dan Donal Bebek dll. Terdapat beberapa argumentasi mengapa saya memasukkan satu saja komik non Jepang. Pertama dalam segi cerita yang lebih menarik dan tidak monoton. Rata-rata komik-komik non jepan memiliki alur cerita yang simpel tapi monoton untuk terus diikuti serinya. Kedua dalam segi gambar yang memiliki karakter dan menancap kuat dalam benak anak-anak. Kualitas gambar komik non Jepang lebih rumit, rame, dan ruwet yang terbanding terbalik dengan komik-komik Jepang (anak kecil suka menggambar tokoh dalam komik yang tidak rumit). Ketiga dari segi hikmah yang dapat diambil dari para tokoh maupun ceritanya. Satu ini saya tak perlu menjelaskannya karena kalian bisa merasakan perbedaannya sendiri. Keempat dari segi harga. Komik non Jepang memiliki harga yang lebih mahal dibandingkan harga komik Jepang. Kelima adalah distribusinya. Distribusi komik Jepang lebih merata dibandingkan non Jepang. Bahkan saya menemukan banyak jilid-jilid komik non Jepang dijual tidak teratur. Selain itu, cukup sulit menemukan komik-komik keluaran Marvel ataupun DC Comic di kota-kota kecil. Apalagi anak-anak tak perlu membeli komiknya karena sudah ditayangkan televisi, berbeda dengan komik Jepang yang penayangan animenya terkadang terlambat. Lantas mengapa Paman Gober? Walaupun Paman Gober kurang terkenal dibandingkan karya Walt Disney lainnya, tetapi ada muatan edukasi dan petualangan yang ditawarkan. Di samping itu juga terkadang Donal Bebek, Mickey Mouse, atau Goffy juga masuk dalam cerita.

9.        Breakshot
Satu lagi karya Takeshi Maekawa selain Kungfu Boy. Komik ini tak lazim, cuy! Saya belum menemukan lagi komik yang yang berkisah tentang Bilyar dan tokohnya punya jurus lagi. Hahahaha… Anehnya nama tokoh utamanya juga Chinmi, saya kira Takhesi Maekawa ini kehabisan nama untuk karakter utamanya dan ternyata nama Chinmi dalam komik ini bukan asli dari Takeshi melainkan dari penerbit Indonesia. Banyak juga sih nama karakter asli disesuaikan oleh penerbit dari negara penerjemah seperti Milo menjadi Snowy, atau Shiro menjadi Si Putih. Nama asli tokoh dalam Break Shot adalah Oda Shinsuke. Tema Bilyar memang susah untuk dibuat dan menjadi booming, tetapi Takeshi mampu memberikan pemahaman tentang Bilyar dari peraturan sampai teknik-tekniknya walaupun agak irrasional juga terkadang.

10.    Crayon Sinchan
Mangaka Yoshito Usui sudah berpulang, tetapi tokoh yang bernama asli Nohara Shinnosuke meski banyak kecaman masih memiliki banyak penggemar setia. Si Trouble Maker ini anak TK yang terlalu dini tumbuh dewasa. Walaupun kurang ajar dan lucu perlu perhatian orang tua jika anak anda memegang komik ini. Setidaknya dengan membaca komik ini anda memiliki gambaran cara preventif untuk mengatasi kenakalan anak anda. Ony Syahrial sebagai Seiyu mampu membawakan karakter Shinchan dengan sempurna.



Bonus
Kungfu Komang

Asli deh kocaknya. Semua kekonyolan yang sering muncul dalam komik ataupun televisi ditampilkan dengan segar. Perlu dicatat bahwa ini bukan karya Jepang atau Tiongkok melainkan Korea Selatan. Tokohnya pun unik-unik dan asyik, terutama Mekanin dan Kulpang. Sayangnya komik ini sudah langka diperedaran komik bekas maupun di toko buku. Jika anda memiliki edisi komplitnya bisa menghubungi saya, jika harganya terjangkau. Hehehe…

Aug 14, 2014

            Banyak pertanyaan yang diajukan perihal film pada saya. Dari berbagai pertanyaan tersebut rata-rata menanyakan film dengan genre science fiction/scifi/fiksi ilmiah. Fiksi ilmiah dapat diartikan sebagai sebuah genre yang mengedepankan khayalan imajinasi pembuat dalam merajut kisah/cerita yang mengajak kita untuk berpikir atau kontemplasi terhadap berbagai permasalahan yang melibatkan teknologi ataupun ilmu pengetahuan, walaupun ilmu pengetahuan tersebut belum teruji secara ilmiah. Lantas apa bedanya dengan genre fantasi? Fantasi adalah bagian kecil dari scifi yang tak memerlukan penjelasan ilmiah, pemikiran atau kontemplasi. Intinya, genre fantasi tinggal tonton saja tanpa berpikir keras atau bingung karena alur yang njlimet. Perkembangan film yang pesat membuat genre fantasi dan scifi menipis karena ada kecenderungan industri film lebih menekankan pada faktor finansial sehingga menghasilkan film yang laku di pasar. Selain itu, rata-rata penonton menonton film memiliki tujuan yang berbeda dan dominan mereka menonton untuk menghilangkan penat alias refreshing.
             Kita dalam memahami genre scifi perlu memerhatikan beberapa hal sebagai berikut:
1.    IPTEK
       Kita tak perlu repot untuk membuktikan fantasi pembuat film perihal teknologi atau ilmu pengetahuan yang dikemukakan. Disebabkan oleh rata-rata IPTEK yang ditonjolkan belum ditemukan atau belum teruji ilmiah dalam dunia nyata. Ikuti saja argumentasi pembuat film dalam membangun cerita. Biasanya terdapat konflik antara manusia dengan hasil ciptaan iptek (jadi teringat kerumitan konflik dalam film HER).
       Perhatikan poin-poin dalam iptek yang dibangun agar mengerti jalannya cerita. Meskipun terdapat istilah-istilah yang rumit atau tidak dipahami catat baik-baik dan cari tahu ketika film sudah berakhir (jika nonton di bioskop, bila di laptop kamu dapat pause). Hitung-hitung menambah perbendaharaan kosa kata, siapa tahu dalam film lain muncul kembali. Film yang menonjolkan IPTEK (terutama komputer/teknologi yang memiliki kemampuan cerdas sebagai antagonis) lebih mudah diikuti karena kuncinya terdapat menjelang akhir film.
2.    ALIEN dan LUAR ANGKASA
       Alien dan luar angkasa dapat dikatakan sebagai trademark dari scifi. Keberadaan alien dan luar angkasa yang misterius menjadi lahan yang subur untuk para sineas mengeksplorasinya dalam scifi. Secara garis besar ada alur dimana alien dan manusia bermusuhan (ex: ALIENS, Pacific Rim, Starship Troopers dll), namun juga terkadang makhluk luar angkasa tersebut bersahabat dengan manusia (Guardian Galaxy, Star Trek, Godzilla dll).
       Penjelajahan manusia ke luar angkasa pasti memiliki konflik cerita yang beragam. Setidaknya kita bisa mengambil hikmah dalam film ini. Ada kalanya ketamakan manusia mengakibatkan kerusakan alam semesta, namun tetap muncul juga kehumanisannya. Kita bisa ambil contoh ambisi dan ketamakan manusia dalam film Avatar, Enders Game ataupun Planet The Apes Saga.
       Bila kamu menemui kisah alien dan luar angkasa tak perlu terlalu panik karena pada dasarnya kisah ini mayoritas mudah diikuti hanya sedikit membuat gemas. Jangan terlalu banyak bertanya dimana asal dan terciptanya alien karena setting cerita alien sudah ada seperti itu adanya. Pada kasus-kasus tertentu mungkin bisa ditemukan film yang membutuhkan pemikiran dan kontemplasi terutama ada beberapa film yang berargumentasi bahwa manusia adalah ciptaan alien (Jangan emosi). Kamu bisa melihatnya dalam Prometheus dan Alien VS Predator. So, jangan ditelan mentah-mentah.
3.    Waktu
       Waktu menurut saya sangat penting karena kita tidak bisa kembali pada lampau. Kondisi inilah yang dimanfaatkan dengan alur yang cukup rumit dan penuh konflik. Baik itu konflik dalam mengubah sejarah atau hidup seseorang. Jika kita membuat film scifi dengan tema waktu memiliki potensi untuk membuat lubang dalam cerita. Kerumitan dan kisah yang membutuhkan analisis membuat tema ini lebih menarik dibandingkan yang lain.
       Para sineas tatkala mengangkat tema ini pada genre scifi akan memanfaatkan teknologi mesin waktu atau kemampuan seseorang dalam berpindah waktu. Tema mesin waktu dapat kamu lihat dalam film Back To The Future, Butterfly Effect, Déjà vu, Time Machine dan masih banyak lagi. Sedangkan kemampuan seseorang untuk berpindah waktu bisa ditonton lewat Hiro dalam serial Heroes. Dampak pada kisahnya pun berbeda. Ada beberapa teori dalam perumusan kisah perihal waktu, yaitu:
a.       Saling Berpengaruh
Tokoh yang datang pada masa tertentu keberadaannya memengaruhi kondisi dan sejarah masa si tokoh. Ada kepentingan sang tokoh untuk mengubah situasi di masa lalu atau masa depan.

b.      Tak Ada Pengaruh
Masa lalu dan masa depan tidak memiliki pengaruh apapun ketika tokoh datang pada masa itu. Waktu berjalan sendiri-sendiri tanpa saling memengaruhi. Ada kepedulian sang tokoh terhadap orang-orang yang dia kenal/cinta dalam hal ini untuk belajar dari kejadian pada masa sang tokoh.