Ronaboyd Mahdiharja

Sebuah goresan nan Pribadi mengenai metamorforsis dalam alam pemikiran perjalan menjadi manusia.

Sep 20, 2011

Kemarin menjadi hari yang bergelora dengan semangat yang membara. Alasannya? Pada saat itu adalah hari pertama perkuliahan aktif dimulai. Tekad sebelumnya yang sudah merencanakan pembenahan dalam masuk kuliah pada diri sendiri. Orang tua telah memberikan amanah yang mau tidak mau, suka tidak suka tahun depan  sudah harus selesai kuliahnya. Agar kemudian biaya perkuliahan bisa di alokasikan kepada adek yang terpaksa cuti karena biaya kurang (maaf ya dek kalau kamu sampai berkorban begitu). 


Masuk kuliah mental perlu ditata disebabkan oleh karena aku harus masuk dengan adik tingkatku, adik yang pernah aku ospek sebelumnya (Oh begini rasanya). Kuliah semester ini fokus pada perbaikan. Makanya agak sedikit kurang ngeh ketika bilang "yang dapt nilai 'E' itu yang ngasih tanpa pertimbangan karena sering tidak masuk, tidak pernah mengumpulkan tugas, dan tidak ikut UAS". Itu benar. Namun stereotipe orang yang mendapat nilai E adalah orang bodoh. Pada saat itu aku hanyut pada masa lampau. Masa-masa yang mengorbankan kuliah untuk kegiatan berorganisasi. Masa-masa tatkala harus cuti karena perkara organisasi. Meskipun organisasi tidak boleh dipersalahkan karena kita yang mengambil keputusan tersebut. Tidak perlu disesali ataupun disesali. Mencerna kata-kata dosen tersebut, aku pun yakin seyakin yakinnya bahwa kuliah itu hanya sekedar datang, duduk, dengarkan, pulang, buat tugas maka nilaimu akan bagus. Sebuah rutinitas yang membosankan bukan? Itu juga alasan yang membuatku untuk cuti, keluar dari rutinitas dan mencoba keliling pulau jawa dengan nggembel

Pagi ini aku bangun lebih awal. Memang tidak ada acara download. Mungkin karena ketiduran akibat capek habis wawancara calon anggota SM. Tapi entah lah ada yang aneh, suara-suara asing itu muncul lagi lewat bisikan yang membuat kepalaku agak pusing. Bisikan yang mengabarkan ada bayi kelaparan di Afrika, entah dimana aku kurang tahu. Ada bisikan warga kekurangan air bersih, aku juga kurang tahu ada dimana itu. Bisikan itu terus berbisik, sampai aku pusing dibuatnya dan pada akhirnya aku sudah dalam keadaan tertidur.

Pagi yang menarik karena diawali dengan kritik di status warta utm. Yah kritik, lantas aku takut? Tidak. Setiap kritik harus kita terima dengan terbawa apapun jeleknya itu. Bagaimanapun itu melumpuhkan mental dan emosi. Toh tak ada yang salah dengan kritik. Melalui kritik kita berbincang dengan diri. Menyempatkan waktu untuk mengenal lebih dekat siapa diri ini. Tanpa kritik kita hanya menjadi borok. Tindakan yang perlu kita lakukan hanyalah mengobatinya. Ibaratkanlah kritik itu adalah penyakit. Dibenci dan ditakuti, akan tetapi apa hak kita untuk menolak itu? Kita hanya menerimanya. Apakah kita akan marah tatkala ada dokter atau seseorang bilang kita sedang sakit? Apa yang mereka katakan adalah peringatan atau lebih halusnya nasehat. Mengingatkan kita apabila kita sedang sakit. Menasehati kita apabila kita sakit berobatlah. 

Namun tidak semua orang dibilang sakit itu menerimanya. Mereka akan bilang "aku tidak sakit. Aku sehat kok. Lha aku yang punya tubuh masak kamu yang bilang sakit." Ini adalah tipe manusia keras kepala. Tak sadar jika penyakit itu bekerja dengan sangat lambat dan kita akan menyesalinya apabila sudah terlanjur parah. Kemudian orang itu akan bilang "Kenapa tidak bilang dari dulu??".

Alhamdulilah bila ada yang memberi kritik. Berarti kita diperhatikan. Mereka ingin kita sehat kembali. Jangan marah dengan pemberi kritik. Jangan takut karena tanpa mereka bisa saja anda tidak bisa berdiri tegak.



Sep 19, 2011

Aku terbangun di sebuah perumahan Knightsbridge, London. Di sana aku menemukan beberapa gambar pada hp ku. Entah aku tidak benar-benar tahu bagaimana aku sampai di sana. Muncul sebuah nama dan angka yang tidak saya kenal sebelumnya.

Hari kala itu berubah malam, malam memberikan apapun yang kita inginkan: dengan mimpi. Aku cukup muda untuk mengatakan dunia harus sesuai kehendakku, harus menjadi kehidupan yang lebih baik. Namun, banyak yang mengatakan jika kamu tidak bisa melawan. Seperti London pada malam berapi itu. Pesawat seperti melompat keluar. Ini menjadi omong kosong yang tidak bekerja, London yang eksotis pada malam sebelum berubah seketika.  Sebagian orang berteriak gembira seperti orang bodoh.

Aku putus asa di tengah kekacauan itu. Aku merasa seperti akan kehilangan sesuatu yang berharga. Ibarat ribuan jendela menutup dengan begitu cepat. Semua memberikan wajah dengan mental kalah. Alam bawah sadar mengingatkan bahwa masih ada harapan. Harapan yang kita miliki begitu banyak untuk merasa baik tentang ketidak teraturan dunia.

Malam itu aku ajak para remaja minum. Memberikan sugesti untuk berpegang teguh pada kebenaran. Itulah yang hanya dimiliki sebagai laki-laki. Pada dasarnya mereka tak ingin kehilangan apa yang mereka miliki.

Kadang-kadang ketika aku sendirian aku bertanya-tanya, apakah ada mantra yang bisa menjaga saya dari melihat hal yang nyata secara terang tanpa ada keraguan sedikitpun. Mereka tidak siap kehilangan, terkadang aku juga. "Begitu menyakitkan" kata salah seorang dari remaja itu. "Tapi terkadang itu menyakitkan yang baik kata." kataku.

Saat London musim dingin dengan gedung-gedung berapi yang tak ada seorang pun berusaha memadamkannya. Mereka terlalu putus asa. Kemudian kita bernyanyi untuk melampaui hal-hal buruk. Seketika kami ambruk begitu saja. 

"ayo kita padamkan" ujar salah satu dari mereka. Dengan muka merah akibat minuman kita memadamkan api itu. Orang yang melihat kami mulai tergerak hati mereka. Gairah mulai muncu pada diri mereka. Aku merasa hidup saat itu.

Aku Menemukan diriku di dalam sebuah ruangan yang berantakan dengan berbagai macam kabel. Kabel-kabel Laptop, sound, joystick, hard disk membentuk ketidak teraturan.

Sep 16, 2011


Apa harta karunmu? Apabila yang ditanya Edward Newgate pasti dia akan menjawab "Keluarga". Dia bajak laut yang tidak memburu harta, melainkan bajak laut yang berkeliling samudra mencari orang yang diajaknya menjadi keluarga. Keluarga yang mau memanggilnya "Ayah". Dia akan melawan siapa saja yang menyakiti anggota keluarga. Bahkan mati ketika menyelematkan anaknya yang ditangkap angkatan laut.

Mengapa kau membunuh? Apabila yang ditanya Don Michael Corleone pasti akan menjawab "demi keluarga". Kepala keluarga mafia penerus marga Corleone itu tak segan membunuh siapa saja yang mengancam kehidupan keluarga Corleone, sekalipun itu kakak kandungnya.

Akhir Bulan Ramadhan menjelang awal bulan syawal lekat dalam tiap diri, sadar ataupun tak sadar dalam benak yang merayakan akan memikirkan keluarga. Tradisi maaf-memaafkan dan saling kunjung menjadi hal biasa. Dari sanalah akan diketahui keakraban sesama keluarga dan juga ... keretakannya.

Yah... keretakan. Seperti jalan yang retak dan berlubang. Kadang di pinggir, kadang di tengah atau malah keduanya. Kemudian jalan itu ditambal sulam dengan kata perbaikan bukan dengan pembuatan jalan baru. Hasilnya tentu saja mengganggu (karena bergelombang) meskipun terlihat baru.

Zaman dahulu orang berpikiran banyak anak banyak rezeki, sehingga kita seringkali melihat sebuah keluarga besar yang memiliki lusinan anak. Apalah arti lusinan anak bila anak cucu tidak saling kenal dan mengetahui apabila mereka bersaudara. Keretakanlah yang membuat para orang tua enggan mengenalkan sanak saudara mereka. Retak karena malas silaturahim dan silaturahmi.

Konteks Bernegara
Seorang teman malu, tatkala diceritakan garis keturunan. Malu karena di dalam darahnya mengalir sebuah suku yang sering kali dia ejek. Sering kali kita tdak mengetahui tentang asal usul darah yang mengalir dalam diri kita. Mungkin saja di dalam darah itu bercampur dari berbagai suku, tapi kita tidak menyadarinya. Kita menganggap saudara bagi yang jelas saja. Tanpa pernah ingin menggali lebih dalam. Kita tak perlu membenci Yahudi jika tahu kita ada darah mereka. Kita tak perlu mengejek ras tertentu bila kita memiliki garis keturunan ras tersebut. Walaupun satu tetes darah saja karena itu sama saja mengejek dan membenci diri kita sendiri.

Kerusuhan berbau SARA tak perlu terjadi ketika kita menyadari dan mengetahui bila mereka adalah keluarga. Nepotisme dapat hilang apabila kita sadar sepenuhnya bahwa kita bersaudara yang putus silsilahnya, sehingga kita saling tidak mengenal. Saling mengenal keluarga saja masih bisa berselisih apalagi jika tidak mengenal.

Sekali lagi tentang mengutamakan harta dan kekuasaan yang dibarengi dengan keengganan menjalin silaturahmi dan silaturahim menyebabkan keretakan keluarga. Berkaca dari sejarah dan cerita perihal perselisihan internal keluarga telah begitu gamblang keretakan terjadi karena itu. Bagaimana Oda Nobunaga saling berperang dengan adiknya sendiri, Oda Nobuyuki, dalam memperebutkan kepala klan Oda. Bagaimana perang saudara menenggelamkan kerajaan-kerajaan di penjuru Nusantara. Bagaimana Perang Bharatayudha terjadi oleh sesama saudara.

 Manusia yang hidup dalam negara ini adalah keluarga. Dimana saling bahu membahu untuk kesejahteraan anggota keluarga lainnya. Dimana mereka bermusyawarah untuk menyelesaiakan masalah keluarganya. Dimana perbedaan, kesenjangan, dan perselisihan itu hal biasa tetapi tidak melupakan untuk memikirkan masa depan keluarganya bukannya memilih sendiri jalan hidupnya.

***
"kenapa ayah mau membantu Pak Yadi membayar uang operasi padahalkan bukan keluarga kita?" tanya seorang anak umur 10 tahunan suatu hari. "Siapa bilang bukan keluarga kita? Semua manusia di negeri ini adalah keluarga" jawab Sang Ayah tersenyum mengusap kepala anaknya dengan lembut. "Keluarga dari mana? Enyang putri? Edi juga keluarga kita dong yah?" tanya anak itu lagi.
"Bukan dari Enyang putri tapi dari ibu enyang putri namanya Ibu Pertiwi. Edi juga keluarga kita."
"Tapi kenapa Edi masih saja nakal sama aku dan teman-teman?"
"Yah... Edi belum tau saja kalau semua orang Indonesia itu keluarga"

Dan Edward Newgate tetaap ditertawakan teman-temannya, dalam hatinya berkata "Kalian belum tahu bagaimana rasanya tidak memiliki keluarga. Karena Keluarga adalah harta karunku".
Malam selalu gelap. Segelap tinta yang senantiasa kugores pada selembar kertas yang putih dan terkadang bergaris. Dikala malam sering kali kudengar suara-suara asing yang selalu bertanya. Mungkinkah karena itu orang memilih tidur daripada bangun mendengar pertanyaan yang setiap jawaban selalu dikejar? Tak kan pernah usai tatkala pagi menyingsing menyisakan pertanyaan yang terus membekas dalam benak.

Malam tak dapat dihindari, begitu pula mempertanyakan jawaban kembali. Malam kali ini berbeda. Kali ini dia menyerang apa yang sering kulakukan dan tetap teguh kupegang. Sekali-kali dia menggoyahkan keyakinanku dengan semilir angin lembut yang membelai rambut. Dia mempertanyakan kekuatan tulisan.

"Mengapa engkau menulis?" tanya malam. "Karena menulis adalah kewajiban" jawabku. "Kewajiban dari siapa? Bukankah engkau menulis karena ambisi pribadimu?" tanyanya lagi. Pertanyaan yang langsung menohok hati. Tanpa sadar aku merasa malu sendiri dibuatnya.

"Ada amal yang tak kan terputus ketika kita mati, yakni amal jariyah, do'a anak yang sholeh, dan ilmu yang bermanfaat. Melalui tulisan kita bisa menyalurkan sebuah ilmu." jawabku dengan nada serius. "Hah!! Engkau ingin abadi? Bila engkau ingin abadi, kau melupakan-Nya!! Jikalau semua manusia musnah, siapa yang akan membaca tulisanmu? Tulisanmu hanya hidup sepanjang manusia itu ada. Munafik!" ujarnya dengan menahan geram. 

"Bukan begitu" kataku.
"Bukan begitu bagaimana? Meneruskan ilmu yang bermanfaat? Hanya ada manusia berlomba-lomba menjadi kekal lewat tulisan. Itu alibi!" bentaknya.

"Tulisan memiliki kekuatan untuk menginspirasi seseorang melakukan sesuatu, mengubah cara pandang bagi yang membaca dan sebagai salah satu cara menyampaikan sebuah kebenaran" kataku sambil meraih rokok di depanku. "Menginspirasi atau agitasi? Bukankah dengan mengubah paradigma seseorang berarti engkaau menginginkan dunia ini berjalan sesuai keinginanmu? Hebat betul kamu yah.." ujarnya sambil meraih rokok, menyalakannya, menghisap dan kemudian mengepulkan awan-awan gelap yang berarakan. "Menyampaikan kebenaran... Dengan lihainya para penulis menyusun kata yang mampu membelokkan logika yang salah menjadi benar dan sebaliknya. Kebenaran bagi otak si penulis sendiri" lanjutnya.

"Ada benarnya juga. Kertas, note, blog atau media apa pun itu merupakan sebuah lahan kosong. Lahan yang menunggu untuk kita bangun sebuah dunia baru. Meninggalkan dunia nyata kita yang telah banyak mengecewakan. Di lahan kosong itu kita bebas, sebebas-bebasnya mengeluarkan gagasan dan ide kita. Walaupun terkadang gagasan itu utopis, namun dominan orang menulis mempergunakan dunia riil sebagai fondasinya dengan memperbaiki apa saja yang salah padanya. Setelah sempurna ada kalanya dunia gagasan ditaruh begitu saja ke dunia riil." ucapku dalam hati.

"Nah!" kejutnya, membuyarkan lamunanku. "Bagaimana dunia gagasan ditaruh begitu saja ke dunia riil?" tanya malam.
"Kau membaca pikiranku?" tanyaku penuh curiga. 
"Tak bolehkah?" jawabnya.
"Tak sopan tanpa izin" kataku singkat.

"Paling tidak dengan begini aku bisa membantumu berdialektika. Tidak seperti para penulis yang memanfaatkan momen kesengsaraan bagi masyarakat yang dia jadikan objek. Masyarakat menjadi objek paling menarik untuk menuju ketenaran mereka, tanpa memberikan sumbangsih bagi objeknya itu. Kalian hanya berdiri di belakang meja." ungkapnya.

Realisasi Tulisan
Malam semakin malam. Rerumputan dengan mudah bergoyang ditiup angin semilir. Menimbulkan gemirisik khas rumput kering menanti hujan yang tak kunjung datang.

"Siapa bilang kami hanya bekerja di balik meja? Banyak juga yang turut serta merealisasikan gagasan mereka dan memberikan sumbangsih bagi objek mereka."
"Dan engkau mengetahui akibatnya kan?" malam bertanya balik. "Lihat Tolstoy mati di stasiun kereta api setelah diusir istrinya karena akan memberikan kekayaannya pada petani. Syari'ati yang dibunuh intelejen SAVAK. Rosa Luxemburg yang disiksa dan dibunuh Freikorps. Kau tahu akibatnya kan?"

"Yah. Tak perlu mereka turun lapangan merealisasikan gagasan mereka. Hanya berjuang melalui tulisan sama saja membahayakannya bergerilya di bawah tanah, itu kata Syari'ati."

"Apalah gunanya jikalau hanya menulis saja? Bagaimana bila tulisan tersebut tidak sesuai jika diterapkan karena sang penulis sendiri tidak ikut turun lapangan?" tanya malam sebelum menyeruput kopi yang aku suguhkan.

"Bukan berarti tidak berguna. Sang penulis hanya bisa menulis, belum diberi kesempatan turun lapangan untuk merealisasikannya. Meskipun tulisan tersebut tidak sesuai dengan lapangan, apabila ada yang membaca dan menyadari kekurangan tersebut kemudian membenahinya bisa bermanfaat juga tulisan tersebut." kataku.

"Hmm..." kata malam sambil manggut-manggut.
"Tanpa adanya tesis tak mungkin sintesis terjadi." ujarku sambil berdiri.
"Hei... Mau kemana?"
"Tidur. Ngantuk." ucapku dengan berjalan masuk menuju tempat tidur.
"Jam segini sudah ngantuk?" seru malam dari luar.
"Kita lanjutkan besok!" teriakku.

Dia adalah malam tak mungkin mengantuk.