Ronaboyd Mahdiharja

Sebuah goresan nan Pribadi mengenai metamorforsis dalam alam pemikiran perjalan menjadi manusia.

Jun 14, 2014


            Kepala ini terasa panas dan ingin meledak tatkala berminggu – minggu bergumul dengan tugas dan buku. Sesekali terselip keinginan untuk nggembel lagi. Hanya bermodal ransel dan gitar, nggandol truck atau pick up. Ternyata kawan – kawan sekelas ada rencana wisata. “Asyik juga, nih.” pikirku. Rencana ke Karimun Jawa batal dan dialihkan ke Pacitan. Dahiku agak mengkerut mendengar Pacitan. Yah, dulu waktu tour Jawa cuma lewat dan singgah sebentar. Kesanku pada saat itu adalah kabupaten yang miskin dan penuh batuh kapur. Nampaknya, liburan ke Pacitan terancam batal karena hanya beberapa teman yang ikut. Namun entah kenapa tiba – tiba beberapa kawan nekat juga memutuskan untuk berangkat. I like it. My journey always better with planless.
            Kami berangkat tengah malam dari Semarang. GPS kami hidupkan karena memang perjalanan ini buta terhadap daerah yang kami tuju. Rencana awal adalah menikmati sunrise di Pantai Klayar. GPS langsung menunjuk Pantai Klayar Pacitan dan pukul empat menjelang subuh GPS sudah menyatakan Pantai Klayar hampir sampai tujuan. Apesnya kami masuk perkampungan yang memiliki jalan sempit. Kami berputar – putar dan tersesat. Tak ada orang yang bisa ditanya arah. Sampai pada akhirnya kami dinyatakan oleh penduduk bahwa kami salah jalan alias tersesat.
            Mobil dipacu agar kami masih sempat menikmati sunrise. Di tengah perjalanan kami kembali bertanya pada muda mudi yang kemudian diarahkannya kami ke jalan yang jauh lebih sesat. Sekitar satu setengah jam kami melewati jalan yang buruk dan sempit. Berulang kali jantung berdetak kencang tatkala jalan yang kami lalui sempit dan terbayang mobil jatuh ke jurang. Dalam hati saya sempat jengkel pada muda mudi yang kami tanyai.
            Finally, kami sampai juga ke Pantai Klayar. Tetapi sunrise udah tak bisa dinikmati karena matahari sudah keluar dari ufuk. Setidaknya kami terobati dengan pemandangan di Klayar. Dengan hamparan pasir putih, eloknya air biru, kokohnya karang-karang dan deru ombak Samudra Hindia. Pantai Klayar memiliki seruling laut yang memuncratkan air dari sela – sela karang layaknya air mancur. Sayangnya di Pantai Klayar sulit untuk berenang karena ombak dan karangnya yang tajam. Berhati-hatilah anda jika ada niat untuk berenang disana. Anda bisa masuk ke batu karang Spinx jikalau ada petugasnya. Biasanya petugasnya datang tengah hari sekitar pukul sepuluh sampai dua belas. Di Batu Karang ini kamu bisa melihat seruling laut dari dekat. Biaya masuknya sekitar dua ribu per orang.
Batu Karang Spinx dari jauh
Karang Spinx dari dekat

            Pemandangan dari atas bukit patut kamu coba untuk melihat Pantai Klayar dengan view  berbeda. Tidak terlalu jauh kamu berjalan. Di samping jalan masuk Batu Karang Spinx terdapat jalan kecil menuju bukit. Dari atas bukit pu terdapat jalan menuju pantai lain dibalik Pantai Klayar, tapi disana agak berbahaya karena gelombang yang besar sampai melewati pasir dan menghantam dinding karang. Di bukit kamu juga bisa melihat seruling laut menyemburkan air dari kejauhan.
Pantai Klayar dari Bukit

Seruling Laut dan Karang Spinx nampak atas

            Perjalanan selanjutnya ke Goa Gong. Goa yang konon terindah kedua di Asia setelah Goa Maharani di Lamongan. Berbicara Pacitan pasti tak luput dari Goa karena klaimnya adalah kabupaten 1001 Goa. Goa ini dinamakan goa Gong karena di dalam goa terdapat batu yang bila dipukul mengeluarkan bunyi seperti Gong. Nah pada perjalanan kali ini aku hanya masuk sebentar. Kipas angin yang dipasang ternyata mengalahkan pengap dan panas di dalam. Terlebih rasa lelah masih terasa dan paru – paru yang penuh asap rokok. Disini kamu bisa menyewa lampu dengan harga lima ribu.
            Setelah ke Goa Gong kami berencana ke Pantai Banyu Tibo, namun kami harus balik arah menuju jalan Pantai Klayar lagi. Perlu kamu ketahui bahwa Goa Gong, Banyu Tibo, dan Pantai Klayar masih satu jalur. Dikarenakan pada awal perjalanan kami yang benar: benar-benar tersesat- Goa Gong tidak kami lewati lebih dahulu. Setelah keputusan diambil, kami akan kembali ke Banyu Tibo esok hari.
            Dan tujuan wisata terakhir hari itu adalah Pantai Teleng Ria. Dari referensi internet yang kami ketahui bahwa pantai ini wajib dikunjungi. Pemandangan dari atas pantai Teleng Ria cukup memesona dengan teluk Pacitan sebagai view nya. Sesampainya disana, kami kecewa dengan kondisi pantai yang kotor dan tidak semenarik Pantai Klayar. Meskipun begitu banyak pula wisatawannya dan beberapa turis manca negara. Seandainya pantai ini bersih dan asri mungkin masih cantik. Bedanya pantai ini memiliki ombak yang tidak sebesar Klayar sehingga bisa dipergunakan untuk berenang. Rasa lelah setelah dari Pantai Klayar dan Goa Gong tidak menarik minat kami untuk bermain di Pantai Teleng. Kami hanya duduk dan menikmati sore sembari makan nasi tiwul dengan ikan bakarnya, tak lupa kopi hitamnya cukup mengobati kekecewaan kami.
Nasi Tiwul+Ikan Bakar+Kopi

Teleng Ria

Sore di Teleng Ria

           Beruntunglah kami yang dapat menginap gratis pada kediamannya temannya teman di desa Sidomulyo Kecamatan Ngadirojo. Jalan menuju lokasi sangat bagus dan mulus sedikit jalan yang rusak (nampaknya ada peran presiden kita dalam membangun Pacitan). Mungkin karena jarang dilewati truck atau kendaraan berat lain. Jalan berkelok dan naik-turun yang menjadi ciri khas jalan di Pacitan kami lalui dengan lancar. Mata kami seakan terpesona dengan pantai yang kami lihat dari pinggir jalan. Pantai ini sepertinya masih belum cukup dikenal oleh wisatawan. Ada kesepakatan tak tertulis kami untuk mengunjungi pantai tersebut esok hari. Setelah mandi, nge-teh  dan makan malam tubuhku tumbang karena lelah dan ngantuk. Rekor tidur cepatku sampai saat ini pukul 19.30 sudah tidur pulas.
            Esok paginya kami lanjut ke pantai yang kami ingin kunjungi. Pantai itu bernama Pantai Soge. Suasana masih sepi dan hanya beberapa orang yang kemah di pantai tersebut. Tidak ada warung maupun sesuatu yang biasa kami temui layaknya wisata pantai karena pantai ini nampaknya masih belum banyak dijamah pengunjung. Pemandangan yang menakjubkan dengan gulungan ombak yang lumayan besar di pagi hari. Sedikit karang yang kami temui disana sehingga aman di kaki, namun entah dengan gelombangnya. Matahari nampak di belakang kami yang muncul dari balik tebing dengan pepohonan yang menjulang tinggi.
Jalan Raya Pantai Soge

Pagi di Pantai Soge

Masih Sepi Pengunjung dan Pedagang

Kamera yang tak mampu menjepret pemandangan yang ciamik

Soge: matahari di balik bukit

            Puas bermain di Pantai Soge, kami akhirnya pulang. Nah, dalam perjalanan pulang terjadi diskusi apakah akan kembali ke Banyu Tibo ataukah melanjutkan wisata ke Tawangmangu, Solo. Pendapat yang ingin ke Tawangmangu adalah karena jika ke Banyu Tibo jalan disana macet karena bertepatan hari minggu. Apalagi akses jalan kesana yang kecil sehingga ada kekhawatiran ketika berpapasan dengan mobil atau bus dari arah berlawanan. Argumentasiku dalam posisi ini adalah Banyu Tibo adalah ke Tawangmangu dari Semarang cukup dekat sehingga kapanpun bisa kita kesana (selain itu karena saya sudah pernah kesana hehehe), namun ke Pacitan belum tentu. Selain itu di Banyu Tibo kita juga bisa memperoleh wisata air terjun. Air terjun? Yap. Disitulah menariknya pantai ini. Air terjun yang berdekatan dengan pantai. Sangat menggairahkan! Kesimpulannya adalah kami ke Banyu Tibo dengan catatan jika macet kami akan berputar arah menuju Tawangmangu.
            Ketika menuju lokasi kami tidak menemui kemacetan, hanya beberapa kali berpapasan dengan mobil dan bus yang membuat hati kami berdegup. Jalur ke Banyu Tibo sangat kecil. Cuma cukup untuk lewat satu mobil saja. Bus dan elf dkk tidak akan bisa melewati jalan setapak perkampungan yang menuju lokasi. Saran saya pergunakan mobil atau sepeda motor untuk menuju kesini. Wisata adrenalin kami terbayar ketika melihat Pantai Banyu Tibo. Segala Puji Bagi Tuhan Yang menciptakan semesta dengan segala isinya. Disinilah kami bermain air sepuasnya. Let’s Rock!
Air Terjun Mini Banyu Tibo

Pantai Banyu Tibo

Deburan Ombak Banyu Tibo

Gaya Bentar aaah

Rock Well hwekekeke

View Atas Banyu Tibo

            Dari informasi yang saya peroleh, pantai Banyu Tibo baru ramai pada awal tahun baru 2014 dan diresmikan untuk dikelola sekitar dua bulanan. Tidak heran jika tempatnya masih bersih. Walaupun kecil dan sempit tapi seru bermain-main air di pantai ini. Ada air terjun dan pantai pilih yang mana terserah anda. Pengawas pantai menambah rasa aman karena terkadang ombak menghantam bibir pantai sampai ke pinggir tebing. Maklum saya tak bisa berenang.
            Banyu Tibo adalah tujuan akhir kami di Pacitan. Sebuah liburan dua hari yang sikat dan cukup menghilangkan penat di kepala. Pacitan yang saya kunjungi kali ini berbeda jauh dengan Pacitan yang dulu saya singgahi. Banyak yang berubah. Mulai dari kondisi jalan yang bagus dan sepertinya sudah tertata rapi. Menariknya, harga-harga di daerah wisata tidak semahal kebanyakan tempat wisata. Kadang kita menemukan tempat wisata yang pedagang – pedagangnya mematok harga yang ngemplang. Harga barang maupun makanan masih normal. Saya dapat pesan dari orang setempat jika menuju lokasi wisata jangan terlalu mengandalkan GPS karena sering menyesatkan mengingat jalan baru menuju lokasi  wisata yang tidak terdaftar pada GPS. Disamping itu, terdapat beberapa lokasi yang miskin sinyal. Ada keinginan lain hari untuk mengunjungi Pacita lagi. Let's Rock!!!

Jun 2, 2014


            Tubuh ini menggigil sekaligus gemas acap kali membaca berita ataupun menonton berita akhir-akhir ini. Tiada bahasan lain selain permasalahan politik. Ditambah sosial media yang kian mengakar memberikan kabar, gambar, dan pesan yang emosionil. La decima, kegagalan tim Thomas & Uber hanya bertahan beberapa hari saja dan kalah telak dengan manuver-manuver politik pra pilpres. Kepemilikan media massa membuat elemen jurnalisme terlihat tidak relevan dalam memenuhi hasrat masyarakat. Situasi ini disebabkan karena politik menjadi perbincangan yang menarik tiap elemen masyarakat mulai dari kafe kelas atas sampai warung kopi pinggir jalan.
            Sudah puluhan tahun yang lalu Chomsky mengkritik kuasa media massa karena peran propaganda dan keberpihakan pada politik. Muncullah apa yang dikatakan Chomsky bahwa berita adalah olahan fakta dari dapur redaksi. Kondisi makin semrawut dengan munculnya web 2.0 dan “adik-adiknya”. Tim cyber dikerahkan untuk menyerang, bertahan dan menyerang balik isu maupun wacana yang dilempar. Baik dengan kecaman atau bahkan melalui humor. Ini lebih dahsyat dari penggambaran ‘World is Flat’nya Thomas L. Friedman dimana persaingan tidak hanya melibatkan individu dalam dunia maya, melainkan sudah masif dan sistematis. Potensi konflik dari dunia maya ke nyata makin besar.
            Berita maupun opini yang muncul berasal dari ideologi tiap pihak. Perdebatan Chomsky dan Zizek perihal ideologi menarik untuk disimak serta dikaji. Slavoj Zizek menegaskan pentingnya kritik atas ideologi sedangkan Chomsky mengutarakan kritik ideologi tidak penting karena kebenaran lah yang penting. Saya tidak ingin terjebak dalam perdebatan tersebut karena ini adalah wajar dalam ranah akademis, namun nampaknya masyarakat telah diarahkan pada wacana perdebatan seperti itu.
Paralaks Wacana Ideologi & Kebenaran
            Titik rawan wacana adalah simulasi konflik. Wacana lebih menggema jikalau terdapat konflik konkret yang diolah untuk menciptakan efek psikologis. Pada pilpres kali ini kedua kubu saling serang dalam kedua hal ini. Kita bahas yang pertama terlebih dahulu, Ideologi. Berangkat dari terminologi Lacanian, Zizek membagi ideologi menjadi tiga mode yaitu doktrin (doctrine), keyakinan (belief), ritual (ritual). Dua kejadian yang sebenarnya tidak menggambarkan pertarungan ideologi membuat berita yang dibaca atau ditonton mengarahkan pada kedua hal tersebut. Kita bisa melihat bagaimana pemberitaan parpol agama tertentu dan wacana pemurnian menggiring terhadap fobia pada ideologi tertentu. Kita juga dapat melihat pemberitaan suatu kebijakan tertentu yang diolah sedemikian rupa mengarah terhadap ideologi pasar tertentu. Agama dan pasar menjadi simbol yang laris dalam propaganda sebuah kampanye. Pemberitaan penyerangan jamaah akan menyeret pemikiran publik untuk berpikir bahwa ini adalah perbuatan si X dan gerakan macam si X didukung oleh calon Y. Demikian pula tatkala sebuah berita memberikan gambaran kebijakan si A yang mendorong orang untuk berpikir bahwa kebijakan tersebut adalah ideologi Z yang bertentangan dengan keinginan bangsa.
            Tatkala Karl Marx dan Nietzsche dihujat oleh bangsa ini, namun pada sisi tertentu bangsa ini sepakat terhadap apa yang dikritik oleh keduanya, agama dan kapitalisme. Marx dan Nietzche bukan mengkritik agama dan yang dipraktekkan di Indonesia melainkan kritik terhadap agama dan pemeluknya yang ada di Eropa pada saat itu. Pada fase ini terdapat perbedaan kosmologi yang tak dapat digeneralisasi begitu saja. Masih banyak hal-hal baik di Indonesia yang tidak terdapat dalam sistem yang berkembang pada kehidupan kedua orang tersebut.
            Kebenaran dalam benak media massa dan juga status sosmed orang yang saya lihat adalah kebenaran subjektif dimana sudah ada penghilangan fakta tanpa melihat secara komprehensif. Tak ayal berbagai respon bertentangan muncul. Suatu kebenaran (yang telah diolah) menggelinding seperti bola salju yang kian membesar dan siap menghantam siapa saja. Media massa maupun media sosial bagi Zizek merupakan ruang penalaran publik yang di dalamnya perlu suatu kritik ideologi, sedangkan Chomsky yang memandang segala sesuatu sudah jelas hanya memerlukan pengungkapan kebenaran. Nah, perdebatan permasalahan ini menyisakan sebuah lubang yakni sejauh mana kemampuan pembaca atau orang dalam mengolah informasi yang ia tangkap.
Cooling Down
            Pada kekacauan informasi karena terdapat kabut yang menyamarkan kebenaran dan informasi timbul keegoisan masing-masing. Rasionalitas tentunya tidak dapat diandalkan pada posisi seperti ini. Ada trauma, dendam, kegelisahan, ketakpercayaan, kekhawatiran yang menyelimuti rasionalitasnya. Hati? Manusia sebagai makhluk yang berlumur dosa tidak tahu apakah hati dan pikirannya benar-benar bersih. Tidak ada yang berani menjaminnya.
            Kejadian-kejadian beberapa minggu terakhir justru menjadi kesempatan bagi pihak ketiga untuk memperkeruh suasana. Kita musti berkaca pada tragedi di luar negeri pada beberapa negara yang kian memanas. Pada konteks yang lebih luas kita juga perlu memerhatikan agenda zionis terhadap negeri ini (lihat artikel agenda zionis). Maka daripada itu kita menenangkan pikiran dan hati sejenak.
            Fase genting seperti saat ini kita juga sering lupa untuk memohon petunjuk pada Yang Maha Kuasa. Inilah yang saya sebut kita terlalu egois dan sombong hanya mengandalkan pikiran dan hati kita dengan melupakan sang pencipta. Setidaknya bagi yang Islam dapat melaksanakan sholat Istikharah sedangkan yang lain dapat melakukan sesuai dengan agamanya.