Ronaboyd Mahdiharja

Sebuah goresan nan Pribadi mengenai metamorforsis dalam alam pemikiran perjalan menjadi manusia.

Dec 30, 2014



“To be is to do (Camus)
 To do is to be (Sartre)
Do be do be do (Sinatra)”     

            Siang ini hujan. Saya baru menyadarinya ketika bangun tidur. Jangan berpikir saya baru bangun ketika malamnya tertidur. Bukan. Subuh saya sudah bangun dan menjelang siang hari saya putuskan tidur kembali. Begitulah minggu-minggu ini berjalan. Sejanak saya teringat novel The Giver karya Lois Lowry yang memberikan pada pembaca sebuah dunai hitam putih tanpa emosi dengan segala rutinitasnya. Memang absurd. Tapi hidup dalam pandangan Camus adalah absurd. Semua berulang tanpa makna. Setidaknya itulah yang saya sering lihat dari wajah di berbagai media sosial.
            Camus memberikan dua pilihan pada dunia absurd yang dimiliki manusia, yaitu putus asa atau memberontak. Ketika banyak berbagai permasalahan mayoritas manusia memilih diam dan berputus asa dan tenggelam pada sesuatu yang menyenangkan (menghindar dari rasa sakit). Status quo. Semua itu didukung dengan media massa yang pesimis. Well, Marxis bagi sebagian orang mampu memberikan gairah namun itu terlalu utopis. Pemberontakan dalam arti keseharian memerlukan tekad dalam mendobrak rutinitas dan kegilaan. Waspadalah pada nihilisme karena ketika diri kosong, semua dengan mudah masuk. Kita perlu memilah-milahnya.
            Pada dunia yang makin abu-abu ini: pesimistis, keraguan, ketakpastian kita mencoba segala sesuatu pada google. Demokrasi google yang luar biasa yang membantu mengaburkan semua itu. Bayangkan saja ketika kamu mencari apakah judi itu haram dan seketika kamu menemukan bahwa 20 besar web menyatakan bahwa 70% menyatakan judi itu halal dan sisanya menyatakan judi itu haram. Mana yang akan kamu pilih?
            Sebentar lagi tahun baru. Banyak yang sibuk merencanakan memeriahkannya, sedangkan saya memilih tidur.  Mungkin kalian punya rencana untuk menyambutnya, namun saya punya rencana mengarungi tahun yang baru itu.

Semarang, 30 Desember 2014
            Kita bisa membuat sintesis dan solusi kita sendiri jika bisa memadukan berbagai referensi yang telah kita baca dengan pengalaman dan indera yang kita miliki. Jadi membaca buku merupakan salah satu sarana saja dalam menjawab berbagai pertanyaan yang kita ajukan. Konteks membaca yang lebih luas tidak hanya sekedar membaca buku, namun juga membaca realita. Indera merupakan alat untuk membaca realita. Melalui mata, telinga, hidung memberikan gambaran permasalahan yang terjadi di depan kita. Otak dan hati sebagai filter bagian mana yang sesuai dan tidak sesuai.
            Dikarenakan kali ini membahas membaca buku, saya akan batasi cara membatasi sintesis dan solusi kita sendiri. Tatkala kita membaca buku kita akan menemukan solusi dari permasalahan yang dibahas oleh penulis. Kita perlu mengetahui solusi permasalahan mana yang coba diselesaikan oleh penulis. Ketika mencoba memecahkan masalah tersebut, apakah ditemukan masalah-masalah baru? Apakah Ia juga menemukan solusi dari permasalahan baru tersebut atau justru gagal dalam menyelesaikan masalah baru tersebut? Dibagian mana Ia gagal dan apakah kamu punya solusi dari permasalahan itu? Apakah motif penulis sejalan dengan solusi yang Ia sampaikan? Jika tidak, bagaimana kamu bisa menyelaraskannya? Bagaimana dengan penulis-penulis lain dalam menyelesaikan permasalahan yang sama? Sejauh kamu memahami solusi dari berbagai penulis itu, apa kelemahan dan kelebihan dari solusi mereka? Bagaimana caramu untuk menutupi kelemahan tersebut? Bagaiamana metode yang mereka pergunakan dalam menyelesaikan masalah? Apakah ada lubang dalam metode yang mereka gunakan? Mungkin pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membantu dalam menemukan sintesis dan solusi yang kamu cari. Saya akan coba menjabarkannya secara ringkas.
1.        Cari dan Catat Celah Gagasan

            Gabungkanlah kalimat-kalimat inti dari berbagai buku yang membahas permasalahan yang sama. Suatu gagasan biasanya terdiri dari kalimat argumen penalaran yang disampaikan melalui beberapa kalimat atau paragraf. Kenalilah metode penulis dalam menyusun argumentasi. Langkah ini mempermudah dalam menemukan celah dalam proses penalaran suatu gagasan penulis. Catatlah baik di secarik kertas ataupun di ingatanmu celah tersebut.





2.        Jika Sepakat dan Tidak Sepakat
            Sebelum memutuskan sepakat atau tidak terhadap suatu tulisan, kita akan dihadapkan pada situasi “Saya tidak paham maksud penulis, tapi saya rasa sang penulis salah.” Ketika kita tidak paham maksud penulis sedangkan kita tidak dapat menunjukkan letak ketidakpahaman kita itu tandanya kita hanya mencari-cari alasan untuk menyalahkan. Tetapi, jika kita mengatakan tidak paham karena kerangka bacaan yang tidak jelas, terdapat bagian yang tidak berkaitan atau kurang memiliki tujuan dan bahkan pembatasan definisi suatu istilah yang ambigu, menandakan ada usaha memahami tetapi gagal paham. Harus ada alasan yang jelas ketika mengatakan bahwa anda tidak paham dan menyalahkan karena itu bagian dari sikap kritis dari penilaian buku. Intinya, perlu pemahaman dalam menilai suatu karya.
            Menyetujui suatu gagasan lebih gampang dibandingkan saat menolak karena anda berarti sepakat akan keseluruhan dari substansi walaupun ada beberapa kekurangan yang menurutmu bisa dimaafkan. Contohnya adalah analisis penulis tidak lengkap karena terdapat beberapa permasalahan yang tidak mampu ia selesaikan. Terdapat bahan-bahan yang sebenarnya bisa dimanfaatkan penulis untuk memperkuat argumentasinya tapi tidak dilakukan oleh penulis. Pada fase ini, kamu yang setuju dengan penulis memiliki peluang menutup celah dari kekurangan dari penulis
            Menyerukan ketidaksepakatan lebih rumit. Suatu informasi dalam tulisan bisa kurang atau justru salah. Informasi yang kurang menunjukkan data yang dimiliki penulis tidak cukup. Tunjukkan informasi yang kurang itu jika kamu memilikinya terutama informasi yang justru bisa mempengaruhi kesimpulan atau solusi yang ditawarkan. Menyatakan informasi yang dimiliki penulis salah perlu kehati-hatian karena efeknya besar pada tulisan. Secara tidak langsung kamu ingin mengatakan apa yang ditulis salah semua baik dari pernyataan maupun solusi yang ditawarkan. Kita perlu mencermati informasi yang diperoleh sang penulis dan metode dalam pengumpulan informasi. Lalu bandingkan dengan informasi yang kita anggap benar.
            Sepakat dan tidak sepakat terkait erat dengan yang namanya menyakinkan dan tak menyakinkan. Tulisan yang tak menyakinkan biasanya disebabkan oleh penalaran yang salah atau buruk. Ini karena kesimpulan atau solusi yang ditawarkan tidak berasal dari argumen yang dibangun. Bisa juga karena si penulis memberikan dua pernyataan atau lebih yang sesungguhnya saling bertolak belakang. Penalaran yang buruk menunjukkan sang penulis berangkat dari dasar pemikiran yang sudah benar tapi gagal dalam menemukan kesimpulan yang baik atau sesuai.
3.        Imajinasi
            Imajinasi dalam membuat sintesis atau solusi melibatkan indera kita. Emosi, pengalaman, fenomena, sikap kritis dan analitis merefleksikan suatu permasalahan dengan sebuah pertanyaan, apakah bisa dijalankan pada dunia nyata? Imajinasi yang baik adalah bisa diterapkan pada kehidupan nyata.


                                                                              

Dec 15, 2014


           Suasana menjadi gelap. Matahari telah tenggelam di belakang kami. Terdengar napas terengah-engah sebagai tanda lelah menempuh jalan menanjak nan licin. Tidak sedikit dari kami yang terpeleset. Dari kejauhan nampak titik-titik cahaya lilin menujuk adanya perkampungan. Tapi, bukan disana tujuan kami. Tak terasa kami telah sampai pada Desa Cibeo. Kami disambut dengan aroma yang khas dari desa tersebut dan terdengar riuh rombongan lain yang berjumlah ratusan. Inilah desa Cibeo, sebuah desa yang masuk sebagai desa bagi Suku Baduy Dalam. Desa yang dulunya tertutup dan dianggap terbelakang oleh masyarakat umum.
            Dari berbagai informasi, desa Suku Baduy Dalam adalah desa 1001 larangan. Tak ada listrik, tak ada televisi maupun alat komunikasi yang boleh diaktifkan. Menjauhkan saya dari hingar bingar Piala Dunia dan kampanye pilpres. Berbagai macam deterjen dilarang, bahkan berpikiran jelek pun adalah pantangan. Pada saat itu, desa menjadi berisik oleh tawa dan suara pengunjung. Kita bisa membayangkan keheningan malam jika pengunjung tidak ada. Masyarakatnya akan larut dalam kesunyian dan kegelapan. Tersisa hanya binatang-binatang malam di hutan yang sayup-sayup terdengar. Hawa dingin malam yang masuk melalui celah-celah dinding dan lantai dapat merelaksasi tubuh yang lelah berjalan sehingga pulas tertidur.
            Malam itu berbeda. Kami dan ratusan rombongan lain membuat kampung menjadi riuh layaknya pasar malam. Ada sedikit kekecewaan karena banyak pengunjung yang terlalu bising membuyarkan suasana senyap kampung. Banyak penjual dan pengunjung hilir mudik di depan saya. Membuat kepala menjadi pening. Malam itu saya habiskan dengan berbasa-basi sembari menanyakan alasan berbagai larangan yang ada di Baduy Dalam. Jawaban yang saya peroleh tidak memuaskan karena semua alasan larangan akan mereka jawab, “sudah perintah dari leluhur.” Dini hari saya sempatkan keluar rumah untuk menikmati malam di Baduy Dalam.

Benturan Budaya

            Pagi hari saya kaget. Banyak sampah yang bertebaran di sekitar perkampungan. Penjual cinderamata juga lalu lalang seperti malam hari. Anda bisa merasakan suasana Baduy Dalam yang sejuk tapi agak risih dengan kegaduhan dan sampah yang berserakan. Kemurnian Baduy Dalam yang dibayangkan tiap pengunjung menjadi sirna bukan oleh masyarakat Baduy Dalamnya, melainkan pengunjung itu sendiri. Dominan mereka berkunjung atau menginap untuk merasakan sensasi alami hutan dan daerah yang tak tersentuh teknologi, namun para pengunjung ini tak bisa lepas dari kebiasaan tempat asalnya.
            Saya sedikit teringat anti tesis Samuel P. Huntington terhadap pemikiran Francis Fukuyama perihal sumber fundamental dari konflik dalam dunia baru. Menurut Huntington, konflik pada dasarnya tidak lagi melandaskan pada ideologi maupun ekonomi, melainkan budaya. Budaya akan memilah-milah manusia dan menjadi sumber konflik yang dominan. Seperti ingin mempertahankan tesis Fukuyama, kapitalisme disini juga berjuang meraih kemenangan menuju akhir dari sejarah. Keberadaan pengunjung, pedagang, ataupun kebijakan pemerintah mengenai kawasan wisata Baduy memengaruhi kehidupan sehari-hari mereka. Pada sisi lain, suku Baduy juga ikut mempertahankan budaya mereka.
            Corak bertani dan melestarikan alam dapat tergeser karena saya menemukan suku Baduy Dalam juga turut berdagang. Bahkan menurut penuturan induk semang yang saya tinggali (saya lupa namanya) terkadang ada pedagang luar yang meminta uang kepada Baduy Dalam yang mereka sendiri tidak tahu alasannya kenapa diminta uang. Apabila pedagang luar tersebut tidak diberi uang mereka akan marah. Saya coba telusuri lebih dalam tapi mereka memang tidak tahu sebabnya dan tidak mau memberi tahu pedagang mana yang suka meminta uang (membuat saya kesulitan cross check), sehingga saya berpikir positif saja (di Baduy Dalam ada larangan untuk berpikir negatif) bahwa terjadi kesalahpahaman terkait perdagangan.
            Menurut penuturan sekretaris desa, pada dasarnya Baduy Dalam adalah tempat suci/disucikan oleh suku Baduy. Sedangkan Baduy Luar merupakan penyaring budaya-budaya dari luar yang diperbolehkan masuk ke Baduy Dalam. Salah satu contohnya adalah pendidikan. Pemahaman pendidikan kita adalah pendidikan formal, tetapi masyarakat Baduy memiliki konsep dan pemahaman yang berbeda perihal pendidikan. Sejujurnya, saya lebih meyukai konsep pendidikan suku Baduy dibandingkan konsep pendidikan formal yang pernah saya tempuh. Tidak ada pekerjaan rumah, ada waktu bermain, tidak ada persaingan antar geng atau kekayaan. Sampai umur 10 tahun masyarakat Baduy mendapatkan pendidikan dari orang tua mereka berupa bercocok tanam dan pelestarian alam. Setelah umur 10 tahun mereka akan dibina oleh Pu’un dan Jaro yang lebih pada pendalaman hukum adat dan ritual keagamaan. Pada tingakatan tertentu saya tak sependapat dengan Paulo Freire, namun saya sepakat bahwa untuk menjadi manusia harus menjalin hubungan dengan sesama dan dengan dunia. Dari konsep pendidikan tersebut saya menyadari alasan anak kecil disuruh memungut sampah yang berserakan di lingkungannya ketika pengunjung pulang.
            Pelestarian alam Baduy tidak perlu diragukan lagi. Mulai dari udara yang segar sampai air jernih yang membuat kita betah berendam. Saya agak sentimentil ketika pengunjung mandi menggunakan bahan-bahan kimia di sungai, walaupun perlengkapan mandi mereka tidak berbuih/berbusa. Tak ada gangguan kesehatan apapun tatkala saya mandi tanpa sabun, shampo maupun pasta gigi ketika disana. Satu lagi pertanyaan yang mengganggu benak saya, apakah masyarakat Baduy tidak menyadari atau mengetahui jikalau tidak jauh dari tempat mereka terdapat industri pemotongan kayu? Apakah kayu-kayu tersebut berasal dari hutan yang mereka lestarikan? Ataukah mereka tidak dapat berbuat apa-apa terhadap penebangan kayu yang dilakukan oleh orang dari luar?

Selintas Tentang Hukum

            Sebelum membahas hukum pada masyarakat Baduy Dalam, saya akan menguraikan tipologi bentuk otoritas pada masyarakat Baduy Dalam. Saya meminjam teorinya Max Weber kali ini. Pada Baduy Dalam yang paling menonjol adalah tipologi tradisional dan kharismatik. Tipologi tradisional dapat dilihat pada penerimaan aturan-aturan adat yang telah turun temurun dipraktikkan. Terdapat kepercayaan yang mengakar bahwa akan turunnya hukuman dari Tuhan jika melanggarnya. Otoritas ini akan nampak ketika kita menanyakan alasan hal-hal yang dilarang. Otoritas kharismatik dapat dilihat dari sosok Pu’un dan Jaro dalam menjaga ketertiban masyarakat Baduy Dalam. Kemampuan pemimpin dianggap memiliki kekuatan luar biasa dan cenderung mistis yang serta merta akan segera dipatuhi oleh masyarakat. Sebenarnya otoritas kharismatik ini mudah ditemui dalam masyarakat Indonesia.
            Mengapa masyarakat Baduy masih memegang teguh hukum dan kebiasaan mereka? Ditinjau dari  teori bekerjanya hukum Robert B. Seidman, pembentukan hukum dan praktiknya tidak akan lepas dari pengaruh dari kekuatan-kekuatan sosial dan personal. Dari pengaruh tersebutlah dapat diketahui kualitas dari produk hukum. Meskipun dalam prosesnya hukum sesuai dengan keinginan, faktor penentunya adalah kekuatan sosial yang dalam hal ini kuatnya otoritas tradisional dan kharismatik pada masyarakat Baduy Dalam.
            Selama di Baduy Dalam saya tidak menemukan suatu aturan atau hukum tertulis. Rata-rata aturan ataupun hukum yang ada diketahui secara lisan melalui peribahasa atau nasihat. Tentunya kita akan heran karena begitu banyak peribahasa maupun nasihat dalam bentuk cerita dan mereka mampu menghapalnya. Ini adalah kecerdasan yang diberikan Tuhan kepada mereka (pada suatu kesempatan mereka mempraktikan bahasa inggris hasil yang mereka peroleh ketika menonton televisi di luar lingkungannya). Pada sisi yang lain, selain mengingat mereka juga mempraktikan peribahasa atau nasihat tersebut dalam kesehariannya.
Hukum yang ada di dalam masyarakat Baduy memenuhi ciri-ciri Hukum Tradisional. Menurut Ronny Hanitijo Soemitro dalam buku Masalah-Masalah Sosiologi Hukum,  Hukum Tradisional sebagai jalan tengah perdebatan definisi hukum adat, yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a. Mempunyai sifat kolektifitas yang kuat ;
b. Mempunyai corak magis-religius,yaitu yang behubungan dengan pandangan hidup masyarakat asli; c. Sistem hukumnya diliputi oleh pikiran serba konkret, artinya hukum tradisional sangat memperhatikan banyaknya dan berulang-ulangnya hubungan–hubungan yang konkret yang terjadi di dalam masyarakat;
d. Sistem hukum tradisional bersifat visual, artinya hubungan–hubungan hukum dianggap terjadi karena ditetepkan dengan suatu ikatan yang dapat dilihat atau dengan suatu tanda yang tampak.

Mistisme Di Baduy
            Perjalanan berangkat dan pulang dari baduy memiliki kesan tersendiri bagi rombongan saya karena tidak lepas dari hal mistis. Dan ini sudah diwanti-wanti oleh kawan-kawan saya untuk menceritakannya ketika pulang. Seolah mereka lupa jika saya sudah pensiun perihal beginian.
            Boleh dibilang Baduy Dalam adalah salah satu surganya bagi pecinta klenik. Mulai dari energi, aura, dan penghuninya. Seandainya orang luar diperbolehkan tinggal enam bulan saja, saya akan melakukannya. Cobalah lepas sandal atau sepatu anda dan membiasakan diri bertelanjang kaki karena anda akan merasakan energi alami masuk melalui pori-pori telapak kakimu. Terlebih jika tengah malam yang sunyi. Banyak energi positif yang dihasilkan alam disekitar Baduy Dalam yang bisa anda serap. Auranya pun menentramkan, terutama Pu’un memiliki aura yang berbeda yakni terang bercahaya. Pantaslah jika beliau memang dihormati oleh masyarakatnya.
            Nah, permasalahan penghuni sedikit sensitif. Selain masyarakat Baduy, penghuninya pun ikut melaksanakan aturan dan hukum disana. Penghuni di Baduy Luar cenderung agresif dibandingkan yang di dalam. Mereka inilah yang melaksanakan hukuman bagi masyarakat Baduy (dan juga pengunjung) yang melanggar aturan yang telah ditetapkan. Rata-rata penghuni disana bersikap halus dan sopan tapi mudah tersinggung maka daripada itu lebih baik menjaga hati, pikiran, lisan ketika berada di Baduy. Jika tidak, anda akan dikejar seperti pengalaman kami. Mulai dari berpencarnya rombangan kami, terserempet tronton sampai menabrak trotoar dan ban pecah.
            Semua berawal dari lisan teman serombangan yang lisannya menyinggung penghuni di Baduy (lebih tepatnya di Baduy Luar). Saya agak sedikit khawatir terhadap tanda-tanda bahaya seperti biasanya. Disertai dzikir dan shalawat, saya berdoa terus-menerus selama perjalanan pulang. Kebetulan teman yang lisannya menyinggung penghuni tadi (sekaligus pemilik mobil) rencananya akan mengemudi dari Cirebon-Semarang sehingga Ia tidur di bangku paling belakang. Sedangkan Jakarta-Cirebon dikemudikan teman yang lain yang hendak turun di Cirebon. Ketika tidur-tidur ayam, saya sempat nyeletuk pada si Teman Cirebon.
“Bro, jika lewat jembatan di klakson” ujarku karena samar-samar ada makhluk duduk di pinggir jalan.
“Zaman sekarang masih percaya yang begituan ya, bro?” jawabnya.
            Entah berapa lama saya tidur-tidur ayam, seketika kantuk saya hilang. Teman-teman yang lain udah pada tertidur. Saya ajak ngobrol teman cirebon itu untuk menghilangkan kantuknya. Untuk beberapa saat, kami terdiam. Saya yang duduk tepat dibelakangnya melihat truck tronton di sebelah.  Tiba-tiba teman Cirebon itu mencoba menyalip kendaraan di depannya tanpa melihat di sebelah terdapat truck tronton. Sontak saja, mobil kami menyerempet truck tersebut dan klakson tronton itu berbunyi keras disertai rem mendadak oleh tronton. Goncangan yang keras pada mobil kami ternyata tidak berdampak pada teman saya. Seolah-olah dia tak sadar telah menyerempet tronton. Kawan-kawan lain yang terbangun menjadi panik. Untunglah kami mampu melewati jalur sempit antara tronton dan kendaraan di depan. Anehnya reflek kawan Cirebonku itu telat. Ia mencoba istigfar yang justru membuatku pengen tersenyum karena telat kaget. Ternyata oh ternyata temanku ini ditutup penglihatannya oleh makhluk yang duduk-duduk di pinggir jalan tadi. Kalian tau si pemilik mobil tetap cuek dan melanjutkan tidurnya. Aiiiih anak ini.
            Sampai Cirebon kawan yang telah menabrakkan mobil terlihat shock. Tapi si pemilik mobil ini nampak santai-santai saja. Salut lah. Nah, petaka selanjutnya menanti karena si pemilik mobil yang diincar. Usai makan, kami lanjutkan perjalanan. Tapi perjalanan kembali terhenti karena kantuk yang mendera. Kami memutuskan istirahat di sebuah pom bensin. Ketika yang lain tidur pulas, saya tak mampu memejamkan mata. Pukul lima pagi kami lanjut perjalanan. Saya menawarkan beli rokok sebentar untuk menghilangkan kantuk pemilik mobil yang sedang menyetir, namun masih menunda-nunda. Hati tak tenang, tapi mata sudah mulai mengantuk. Ketika tidur-tidur ayam, entah apa yang dilakukan si pemilik mobil tiba-tiba mobil menyerempet pembatas jalan dan mengakibatkan ban depan meletus. Padahal jalan pada kondisi sepi. Pada kondisi inilah seorang teman nyeletuk kalau dia mimpi buah yang saya bawa lah penyebabnya. Saya tidak percaya pada mimpi seseorang yang tidak berwudhu ketika tidur karena datangnya sering dari jin yang bertugas menyebarkan fitnah serta rasa gelisah. Sebelumnya saya memang menemukan buah aneh (sebesar mangga dan rasanya mirip durian) yang jatuh ketika di Baduy Luar. Alasan ini saya tolak karena saya telah izin oleh pemiliknya dan yang kedua teman saya ini botek-botek jika dia mimpi. Terlebih lagi jika kita membawa sesuatu dari suatu tempat yang keramat tanpa izin maka kita tidak akan bisa sampai rumah.
            Untuk menyenangkan hati kawan yang botek-botek masalah mimpi, saya bilang saja sudah saya buang. Dalam perjalanan, sepertinya seluruh penumpang mobil sudah mulai banyak berdoa. Yang bisa saya lakukan hanyalah mengirim Al Fatihah pada penghuni yang mengganggu tadi disertai permintaan maaf mewakili si pemilik mobil yang telah menyinggung. Akhirnya, kami sampai rumah selamat sentausa dan tidak luka. Tidak lupa saya mencicipi buah yang aneh itu. Saya tak tahu namanya apa.

Dec 2, 2014


Sebelum membahas cara berdialog dan memahami buku, saya akan menguraikan tipologi pembaca buku:
1.    Pemula
Bagi golongan ini buku cukup dibaca tanpa harus susah payah untuk aktif. Semua isi ditelan bulat-bulat tanpa dirasakan dan dikunyah. Terjadi interaksi satu arah saja. Buku seperti benda mati yang hanya dibaca lantas dilupakan poin-poin pentingnya. Kurang menguasai isi dan sulit menceritakan kembali gagasan yang diinginkan dari sang penulis.
2.    Menengah
Pembaca ini mampu membuat mind mapping buku. Tak mengherankan jika mereka dapat memahami dengan baik isi dan gagasan penulis serta dapat menceritakan kembali gagasan pokok dalam buku. Melalui imajinasi dan dialog dengan buku sudah bisa membenturkan suatu gagasan atau teori pada realita sehingga pada golongan ini bisa menyanggah si penulis.
3.    Pro
Tipe pembaca ini tidak hanya bisa melihat kelebihan dan kelemahan suatu gagasan atau permasalahan yang diajukan penulis, tetapi juga membandingkan dengan buku lain yang membahas permasalahan serupa. Metode perbandingan bagi pembaca pro hanya sarana dalam mencari dan menemukan jalan tengah suatu permasalahan yang dihadapi. Benar-benar terjadi suatu dialektika untuk menemukan sintesis. Beberapa tipe ini Mind mapping cukup digambarkan dalam imajinasi karena mereka memiliki daya ingat yang luar biasa.
4.    Maestro
Inilah pembaca yang sanggup menyelesaikan 2-3 buku dalam sehari. Mampu memprediksi secara tepat isi buku dan keinginan dari penulis. Kemampuan pembaca Pro dapat dilakukan dengan cepat dan akurat. Melalui metode membaca cepat (speed reading) golongan ini mampu melahap beberapa buku dalam sehari dan juga solusinya. Akan tetapi dalam menggunakan metode speed reading juga perlu berhati-hati karena ada teknik speed reading yang dapat membuat anda menjadi pembaca yang oportunis.

Membaca dan Memahami
            Ketika membaca ada beberapa pertanyaan yang harus bisa kamu jawab setelah menyelesaikan sebuah buku. Pertama, berbicara tentang apa buku itu? Temukanlah gagasan atau ide pokok dari buku yang kamu baca. Cara penulis mendeskripsikan gagasan atau ide pokok suatu buku juga perlu kamu ketahui karena biasanya buku disusun secara sistematis oleh suatu aturan baku. Kedua, apa motif si penulis dalam buku itu? Untuk mengetahuinya kita bisa menemukan dasar pemikiran dan landasan penulisan buku. Hal ini penting karena terkadang motif penulis bertolak belakang dengan gagasan atau teori yang dia jabarkan. Ketiga, pentingkah buku atau topik yang dibahas? Urgensi dalam sebuah buku adalah harga mati. Mengapa susah-susah menerbitkan buku jika tidak penting? Tingkat urgensi suatu buku bisa dilihat secara pribadi atau umum. Secara pribadi buku itu penting bagi dirimu sendiri karena sejalan dengan bidangmu atau ada sebuah informasi yang sedang kamu butuhkan walaupun topik tersebut tidak kamu suka. Secara umum bahwa buku itu memiliki dampak bagi kehidupan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Banyak sekali kamu akan menemukan buku dengan pembahasan sejenis yang mengulang dan tiada pembaharuan atau sumbangsih pemikiran dari penulis. Keempat, bagaimana kebenaran substansi dari buku? Adakalanya sebuah buku yang seluruh substansinya mengandung kebenaran dan validitas, namun ada pula yang hanya sebagian. Cara mengetahuinya kamu perlu menjawab dua pertanyaan awal di atas.
            Keempat pertanyaan di atas bisa kamu jawab ketika proses membaca dengan berdialog dengan buku. Pada proses membaca cobalah berdialog dengan buku. Buatlah pertanyaan-pertanyaan yang semestinya dijawab atau dibahas oleh buku itu. Di dunia ini ada buku yang bisa memuaskan pertanyaan-pertanyaanmu, tetapi tidak sedikit yang hanya menjawab sebagian atau bahkan tidak menjawabnya sama sekali. Prediksi-prediksi juga mesti kita keluarkan untuk melihat arah sang penulis dalam menguraikan gagasannya. Tak lupa imajinasi untuk memberikan gambaran simulasi dari sebuah teori, gagasan, atau pernyataan agar lebih mudah memahami maksud dari penulis. Imajinasi itu pula yang bisa kita manfaatkan untuk menguji teori, gagasan, atau pernyataan pada sebuah realitas. Apakah bisa diterapkan atau tidak? Jikalau bisa lakukan prediksi kemungkinan peluang dan hambatan-hambatannya, lantas apakah penulis membahasnya? Bila dibahas bagaimana Ia mengatasi hambatan sebuah teori atau gagasannya? Dan jikalau tidak bisa diterapkan paling tidak kamu harus bisa memberikan argumentasinya.
            Saya hampir lupa membahas tentang mind mapping atau peta pemikiran. Ada sebagian membuat mind mapping ketika membaca, namun ada juga membuatnya ketika selesai membaca buku. Mind mapping bagi pembaca sangat penting karena selain mengawetkan ingatan juga mempermudah memahami bacaan. Mind mapping juga bermanfaat dalam menyusun tulisan. Pada konteks untuk membaca, mind mapping cukup mempergunakan kata kunci sederhana yang disertai alur untuk mempermudah mengingat kembali. Pada beberapa pembaca Pro langkah ini cukup melalui imajinasi saja dan mereka tidak kesulitan untuk menggambarkan kembali dalam bentuk tulisan. Sedangkan pembaca pro yang sadar tidak memiliki daya ingat yang kuat masih menuliskannya pada secarik kertas kosong. Pokok pikiran, ide, gagasan, informasi sebuah buku dipadatkan dengan kata kunci yang sesuai menjadi sebuah peta. Mind mapping antara pembaca menengah dan pro terletak pada solusi dan sintesis dari permasalahan yang mereka cari. Apabila tipe menengah membuat mind mapping hanya sampai pada deskripsi buku, pembaca pro mengembangkan mind mapping pada gagasan asli mereka.
            Menjadi pembaca tipe Pro tidak mudah terutama dalam hal pembandingan, mencari sintesis serta solusi. Pembandingan buku membutuhkan bahan bacaan yang cukup untuk memulainya. Berapa banyak buku yang kita baca dan sejauh mana pemahaman kita terhadap buku-buku yang kita baca adalah modal utama dalam proses pembandingan. Kesulitan lain dalam pembandingan juga ditemukan pada istilah-istilah yang dipakai penulis. Otak penulis satu dengan yang lain berbeda sehingga tidak mengejutkan jika mereka mempergunakan istilah yang berbeda padahal menunjuk objek/maksud yang sama. Kita perlu mengerti istilah-istilah yang penulis gunakan dan mengerti definisi yang mereka uraikan. Keputusan kita dalam menggunakan satu istilah akan mempermudah kita dalam memahami suatu bacaan.
            Penemuan solusi memerlukan suatu proses. Dari buku yang telah kamu baca carilah kalimat inti atau dasar argumen mereka. Biasanya penulis mengemukakan kembali kalimat inti atau dasar argumennya dengan kalimat yang berbeda tetapi sebenarnya memiliki substansi yang sama. Acap kali saya temukan buku teman-teman yang menandai kalimat inti yang sama tetapi oleh penulis dipergunakan dengan kalimat yang berbeda. Latihlah kemahiranmu dengan menemukan kalimat tersebut dan mengubahnya dengan kalimatmu sendiri. Ujilah pemahamanmu perihal kalimat inti itu melalui deskripsi contoh pengalaman kalian sendiri atau mungkin pernah indera kalian rasakan. Nanti dengan sendirinya akan nampak suatu metode yang digunakan oleh penulis untuk mencapai solusi atau kesimpulan buku. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana membuat sintesis dan solusi kita sendiri? Saya akan membahasnya pada artikel selanjutnya.
            Speed reading adalah metode para maestro, meskipun ada juga pembaca pemula yang coba menerapkannya. Dampak yang dihasilkannya pun berbeda karena ada beberapa teknik speed reading yang membentuk kita menjadi pembaca yang oportunis. Tiada gairah dan sensasi yang dirasakan oleh pembaca pemula jika menerapkan metode speed reading karena mereka membaca ala kadarnya. Terkait metode dan teknik dari speed reading bisa kamu peroleh dari berbagai artikel di internet, buku-buku yang membahas khusus speed reading atau bahkan buku pelajaran Bahasa Indonesia tingkat SMA. Sejujurnya ada sedikit penyesalan karena benar-benar menyadari pentingnya speed reading saat magang di Jakarta. Dulu speed reading saya pergunakan hanya untuk buku atau tulisan-tulisan tertentu saja dan tekniknya pun bermacam-macam serta berbeda penggunaannya.