Ronaboyd Mahdiharja

Sebuah goresan nan Pribadi mengenai metamorforsis dalam alam pemikiran perjalan menjadi manusia.

Dec 30, 2013



I am
A little bit of loneliness
A little bit of disregard
A handful of complaints
But I can't help the fact
That everyone can see these scars
(Faint – Linkin Park)

         
         
           Sebelum anda melanjutkan membaca artikel ini, hendaknya anda memutar lagu Faint dari Linkin Park (jikalau belum memilikinya sebaiknya anda mengunduhnya). Memang tidak ada kaitannya antara Linkin Park dengan petapa. Setidaknya itu dapat mengurangi kejenuhan atas pemberitaan yang membentuk energi negatif.
            Dulu. Dulu sekali saya (yang lain) pernah menjadi seorang masokis, bukan masokis yang merupakan bentuk parafilia, tetapi lebih pada penyimpangan psikologi untuk ingin dipenjara. Berawal dari konklusi bahwa engkau tidak akan berpikir jernih untuk menulis suatu karya jika tidak di dalam penjara. Ketika para koruptor ketakutan akan penjara dan kriminal lain lari dari jeratan hukum, saya malah ingin merasakannya. Liberte!!! Suatu teriakan dari gema revolusi Perancis yang bertahan sampai saat ini, dan kini terdiam di Amerika Serikat menjadi sebuah patung. Dan kini terekam dalam buku dan hati para manusia dengan baik. Penjara merupakan kekuatan tersendiri untuk membangunkan tingkat imajinasi dan keluasan mata dalam memandang. Dari dalam jeruji besi semua nampak lebih jujur, meskipun nampak kotor. Namun, itu lebih baik dibandingkan kemunafikan yang telah memoles rupanya dengan keramahan dan keteraturan yang dipaksakan. Di sana saya bisa menjadi petapa yang menyepi, diam, dan tidak terlihat. Mataku bisa berubah menjadi mata elang yang luas memandang. Kemudian menjadi cacing yang berpandangan sempit yang melihat segala sesuatu menjadi serba besar. Kesakitan membuatku semakin bergairah. Itu tidak lazim memang, tetapi seperti kata Foucault bahwa setiap zaman memiliki definisi kegilaannya sendiri. Definisi kegilaan yang berubah sebagai indikator terjadinya perubahan paradigma, dimana Capra menyebutnya sebagai bagian dari titik balik peradaban.
            “Dari penjara itu engkau akan membuat berbagai karya yang menggemparkan,” ujarku (yang lain) pada saat itu.
            “Tetralogi Pulau Buru (Pramoedya Ananta Toer), Catatan-Catatan dari Penjara (Gramsci), Dari Penjara ke Penjara (Tan Malaka), Don Quixote (Miguel de Cervantes), Fi-Zhilalil Qur’an (Sayyid Qutb), Pledoi Indonesia Menggugat (Soekarno). Masih belum puas aku memberikan contoh karya dari penjara? Hitler pun dengan Mein Kampf dan Abu Bakar Ba’asyir tidak ketinggalan.”
            Aku terus mengoceh dengan mengutip dari Ibnu Taimiyah, “Dan dipenjara yang sebenarnya ialah yang dipenjarakan hawa nafsunya. Bila orang-orang yang memenjarakan saya ini tahu bahawa saya dalam penjara ini merasa bahagia dan merasa merdeka, maka merekapun akan dengki atas kemerdekaan saya ini, dan akhirnya mereka tentulah mengeluarkan saya dari penjara ini.”
            Lantas diriku yang lain mengambil alih dengan keinginan menyendiri di gunung untuk menghindari kegilaan duniawi. Penjara terlalu berisik dengan kenaifan pula. Kota terlalu cepat, penuh polusi serta kemacetan. Di sana masing-masing memiliki Gatoloco yang berbeda topeng berevolusi dengan halus: kalimat-kalimat bijak nan halus untuk pemerkosaan, kondisi-kondisi pemaaf yang kompromis. Obsesi Nietzsche terhadap Zarathustra menjadi Gatoloco bagi kaum ‘kiri’ yang membuat lebih skeptis dan apatis terhadap realitas. Dunia menghasilkan ‘Si Gila’ Nietzche, ‘Sang pemberontak’ Camus, Hitler yang paranoia, dan narcissus baru di media sosial.
            Secara duniawi tidak ada yang bergaransi, semua membutuhkan resiko. Begitu juga Resi Bisma ketika meninggalkan pertapaannya untuk turun gunung menjadi guru Pandawa dan Kurawa. Ia tidak menyangka bila pesona kekayaan menjeratnya, itu pun diakuinya. Lantas, apakah saya? Pertanyaan tersebut terus terjadi sampai para Gatoloco kelelahan yang kemudian berlanjut dengan berkomplotnya iblis dan dajjal. Mereka muncul dengan kebaikan, lalu coba menjerumuskan.
            Banyak orang yang saya kenal dan temui mengatakan sanggup menghadapi berbagai godaan. Pada mulanya saya memercayai ucapannya karena intelektualitas mereka. Pemikiran bukanlah berjenjang seperti dibilang Comte, melainkan utuh. Dari berpikir metafisik, logis, dan afeksi. Memang terkadang pemikiran menghasilkan tindakan, namun tidak selalu tindakan berasal dari pemikiran. Terdapat faktor-faktor yang memengaruhi, seperti perasaan, situasi, spontanitas, afeksi, dan kemampuan.
            Engkau perlu membangunnya. Tetapi, perlu pemikiran jernih yang memandang segala sesuatu secara meluas dan hati yang tenang, bukan melalui kegundahan dan pesimistis. Seperti banyak dialami manusia masa kini. Diskotik yang selalu sesak; ekstasi yang penuh fantasi; keriuhan sentuhan perkelaminan. Dunia beserta teorinya dibangun dengan keputus-asaan. Pesimistis yang menghasilkan nihilisme. Tak akan engkau temukan solusinya karena yang tersisa adalah pembenaran-pembenaran. Pemuka agama sudah nyenyak. Semua tampak gonyah walaupun kelihatan kokoh. Tidak kah kau dapat melihatnya?
            Mereka akan terus lari. Mencari ketenangan di pinggir laut dan di atas gunung. Mereka tidak akan menemukan apapun. Sang Petapa sudah banyak yang turun gunung dan merapat pada keramaian kota. Seperti halnya Musashi, Petapa perlu menghindar menyimpang di kesunyian dan lalu bergerak maju untuk membunuh kegelisahan serta kelinglungan bagi mereka yang mencarinya.
            Banyak cara menjadi petapa. Paling efektif adalah dengan menghindar menyimpang. Meskipun tidak ada jaminan untuk menghilangkan permasalahan hidup, dan permasalahan itu adalah solusi bagi manusia-manusia yang mencarinya. Hingga telinga sang petapa penuh kotoran karena cerita-cerita.
            Dan entah sejak kapan saya tidak menyukai ‘kiri’ yang dulunya kupuja. Mungkin dogma akan dunia diciptakan dengan struktur keseimbangan membuat kiri bergeser menjadi topangan rasio dalam membangunkan hatiku. Kapan itu? Saya sendiri lupa.
            Musik telah berganti dengan lagu Breaking the Habit karena lupa melakukan repeat otomatis. Sampai pada lirik, I don't want to be the one, the battles always choose.

Semarang, 30 Desember 2013


Dec 21, 2013

            Awalnya tidak ada niatan untuk mengetik. Disebabkan rasa kantuk yang besar iseng-iseng putar musik campur sari. Ternyata eh ternyata malah tidak bisa tidur. Lantunan musik serta lirik yang melankolis dari Didi Kempot membuatku over dosis untuk berimajinasi. Well, mataku melirik tumpukan buku di sampingku. Begitu banyak buku yang aku baca, tapi dari sekian itu apakah ada yang berkesan? Lantas coba ku buka gudang memoriku untuk menemukan buku-buku yang berkesan bagiku (bukan bagimu). Nomer urut tidak memengaruhi ya…

1.      Edensor (Andrea Hirata)

Buku ketiga dari Tetralogi Laskar Pelangi ini memiliki banyak pengaruh, terutama pengaruh untuk mengikuti jejak Ikal dan Arai untuk berkeliling Eropa. Tentunya pada saat itu bukan Eropa yang kukelilingi, melainkan Jawa. Selain itu, jika Ikal dan Arai kegiatannya ketika liburan kuliah, Saya keliling Jawa ketika menjelang kuliah berakhir dan mengakibatkan harus cuti kuliah. Andrea membuat kisah dalam novel Edensor menarik tatkala mozaik-mozaik dalam novel sebelumnya, Sang Pemimpi, dihadirkan di dalamnya. Sebut saja kutukan Capo Lam Nyet Pho dan tentunya penantian enam belas tahun pembalasan Tuhan terhadap lolongan serigala Arai di sebuah Masjid di Austria (berkali-kali saya baca adegan ini, berkali-kali pula dibuatnya tertawa). “Tuhan tahu tapi menunggu” kutip Andrea menirukan Leo Tolstoy untuk menjelaskan peristiwa tersebut.




2.     Cerita Dari Blora (Pramoedya Ananta Toer)
 
Ini adalah buku kenang-kenangan yang diberikan oleh salah satu dosen. Dipinjam oleh seorang teman kurang lebih selama satu setengah tahun dan segera berupaya memintanya untuk dikembalikan setelah tahu jika harga buku ini di pasar loak Rp. 250.000,- (meskipun di belakang buku tertera harga Rp. 15.000,-). Kisah bersetting pada masa revolusi tahun 1945-1949 yang menggambarkan suasana mencekam tokoh-tokoh yang menderita karena konflik negara yang baru lahir. Satu-satunya kumpulan cerpen yang paling menyanyat dan ciamik. Buku yang menginspirasi untuk menulis cerpen.


3.      Il Principle (Niccolo Machiavelli)

Ini dia buku pedoman para diktator mulai dari Stalin, Hitler, Mussolini, Pol Pot, Pinochet, Milosevic dan masih banyak lagi. Sebuah kado bagi Lorenzo de Medici dari Machiavelli setelah melakukan pengamatan terhadap karakter penguasa di Eropa. Ia gemas melihat Italia terjajah dan kalah terhadap negara lain sehingga terpecah menjadi beberapa bagian. Keinginannya untuk menyatukan Italia adalah dengan memperkuat Sang Penguasa yang dihormatinya. Tetapi Sang Penguasa yang dihormatinya terlalu menjunjung moral sehingga mudah tergilas kenaifan Penguasa-Penguasa lain. Kejujuran Machiavelli dalam mengungkapkan tabir kekuasaan begitu gamblang. Contoh-contoh yang digambarkannya banyak ditiru oleh para pemimpin dunia. Karena buku ini, dulu sempat juga berkhayal menjadi seorang diktator sekaligus membuat daftar nama orang yang akan aku binasakan. Hahahaha maklum darah masih mudah mendidih.

4.     The End of History and the Last Man (Francis Fukuyama)
Awal semester dua saya tidak sengaja menemukan buku ini. Ketika membacanya tiada satu pun yang saya pahami. Lantas seorang dosen berkomentar sambil ketawa, “Ya harus paham filsafat dulu untuk mengetahui buku seperti itu.” Saya turuti sarannya untuk belajar filsafat secara otodidak. Setelah mulai paham, saya buka kembali buku ini dan mengerti maksud dari tulisan Fukuyama.
Tesis Fukuyama berakhir dengan pernyataan bahwa Sejarah telah berakhir dengan kemenangan kapitalisme dan demokrasi liberal yang menjadi akhir dari peradaban. Tesis tersebut berangkat dari filsafat Hegel mengenai sejarah. Hegel menekankan bahwa sejarah sebagai suatu proses dialektika yang terus berputar, yang dimaknai Fukuyama bahwa sejarah as the dialectical processes and not the occurrence of events. Akhir sejarah dalam pemahaman Fukuyama, tidak berarti siklus alam seperti kelahiran dan kematian akan berakhir, atau bahwa peristiwa-peristiwa penting tidak akan terjadi lagi.
Dalam sejarah peradaban manusia, kemunculan Komunisme melalui Karl Marx yang kemudian melahirkan negara-negara komunis yang kuat seperti Uni Soviet, China, dan Kuba menimbulkan perang dingin. Keruntuhan Uni Soviet di tahun 1990an, yang dianggap sebagai pusat komunisme internasional pada saat itu, dianggap menunjukkan akhir dari pergulatan dua filsafat besar, yaitu kemenangan idealisme dan kekalahan materialisme.
Arogansi filsafat Hegel nampak jelas dalam tulisan ini, pandangan Barat lebih superior daripada non-Barat dan Demokrasi liberal akan menjadi kiblat. Paradigma tersebut sebenarnya membawa dikotomistik karena berangkat dari dasar-dasar yang sudah usang dalam ilmu sosial. Misalnya, hukum Aufhebung Hegel sudah dibantah oleh Foucault dengan diskontinuitas sejarahnya untuk memahami peradaban kontemporer.
Membaca buku ini setidaknya membuka cakrawala terhadap perdebatan dunia yang tidak pernah habis. Perkembangan Islam yang pesat, luput oleh perhatian Fukuyama.
  
5.     The Clash of Civilization and the Remaking of World Order (Samuel P. Huntington)
Buku yang sama dengan karya Fukuyama yang membahas permasalahan global pasca perang dingin. Sebuah anti tesis dari Huntington terhadap Fukuyama terkait pola-pola dunia dalam pergulatan dan permasalahannya tidak semata-mata antara kapitalisme dan komunisme. Lebih jauh lagi, Huntington menggambarkan adanya suatu benturan peradaban di dunia yang aka terus bertarung dan bergulat karena di situlah letak konfliknya, Peradaban.
Melalui buku ini anda akan melihat banyak sekali benturan peradaban yang dialami Indonesia. Mulai dari klaim Malaysia terhadap kebudayaan Indonesia, ekspansi K-Pop di Indonesia ataupun fashion kawula muda kita. Efek dari globalisasi yang tidak terhindarkan.


6.        The World is Flat (Thomas L. Friedman)
Beberapa tahun terakhir globalisasi dianggap sebagai hantu oleh negara-negara dunia ketiga. Dengung globalisasi membuka ranah baru dan suatu gaya yang baru dalam dunia. Tetapi, globalisasi oleh Friedman telah berlangsung cukup lama. Ia membagi tiga versi globalisasi. Pertama, globalisasi versi 1.0 yang diawali dengan penjelajahan Colombus tahun 1492 sampai tahun 1800 yang sekaligus mengawali era globalisasi. Inilah era mengglobalnya negara yang meruntuhkan tembok agama dan imperialisme. Kedua, globalisasi versi 2.0 dimulai tahun 1800 sampai tahun 2000 yang menjadi era penyusutan dunia pada tataran perusahaan multinasional. Melalui revolusi industri membuat perusahaan-perusahaan multinasional memainkan peran penting pasar dunia dan tenaga kerja yang kemudian diikuti depresi dari perang dunia serta diakhiri dengan jatuhnya biaya telekomunikasi. Ketiga, globalisasi versi 3.0 dimulai tahun 2000 yang menyusutkan dunia yang kecil makin kecil sehingga menjadi datar. Konvergensi komputer atau telekomunikasi membuat Individu ataupun kelompok kecil mampu menjadi global tanpa menghiraukan jarak pada tataran dunia datar (flat world platform). Persaingan individu menentukan era ini yang disokong dengan pesatnya perkembangan gadget.
Sesungguhnya dari Fukuyama, Huntington maupun Friedman memandang pergerakan dunia dengan sudut pandang yang berbeda. Fukuyama dari arah ideologi, Huntington dari unsur peradaban, dan Friedman dari teknologi dan industri. Friedman memiliki persepsi yang berbeda terhadap globalisasi apabila disandingkan pandangan globalisasi pada umumnya, dimana pada saat inilah era globalisasi. Ia memandang persaingan global sudah terjadi sejak abad lima belas, yang dimulai dengan persaingan antar negara yang kemudian kian menyusut lebih kecil.

7.     Teori Keadilan (John Rawls)
Buku ini saya beli dua kali karena yang pertama hilang (penghalusan dari kata dicuri). Disebabkan oleh saya adalah mahasiswa hukum tentunya terdapat referensi hukum yang memiliki kesan dan salah satu buku tersebut adalah karya John Rawls, Teori Keadilan. Ada suatu keinginan dari Rawls untuk menemukan alternatif bagi dua teori besar, yakni utilitarianisme dan intuitif deontologis. Ia ingin mengakomodasi individu tanpa mempertaruhkan kesejahteraan atau haknya sendiri demi kebaikan orang lain. Selain itu Ia memberikan metode yang konkret untuk membuat keputusan paling mendasar dari keadilan distributif yang kemudian menghasilkan keadilan sebagai kesetaraan (justice as fairness).
Meskipun terdapat keinginan untuk memberikan jalan keluar dari kedua teori, tetapi Rawls terjebak dalam penguatan utilitarianisme. Sebenarnya banyak kelemahan dari teori Rawls, namun buku ini memberikan banyak gambaran mengenai proses keadilan yang rasional dan institusional yang lebih condong ke normatifnya.

8.     Teori Umum Hukum dan Negara (Hans Kelsen)
Tidak ada mahasiswa hukum yang tidak kenal Hans Kelsen, baik dari teori stufentheory maupun pure of law. Bisa dikatakan pemikiran melalui buku inilah yang mendominasi struktur keilmuan hukum sampai saat ini, meskipun pada era postmodern banyak yang menentangnya akan tetapi tidak mengurangi pendukungnya. Hans Kelsen meletakkan dasar-dasar yang kuat bagi positivisme hukum, sehingga Meuwissen pun berpendapat bahwa ilmu hukum adalah ilmu yang sui generis.
Kelsen dalam buku ini ingin membuktikan hukum dan negara bukanlah dua hal yang berbeda, melainkan saling keterkaitan. Secara lengkap buku ini membahas banyak hal mulai dari konsep hukum sampai mengenai negara sekaligus kritik terhadapnya. Keinginan-keinginan Kelsen untuk menjauhkan hukum dari anasir-anasir non yuridis melupakan suatu hal yang penting, yakni bahwa pembentuk undang-undang adalah lembaga politik yang dipilih dari lapisan masyarakat. Sehingga, tentu saja sulit untuk memisahkannya dengan anasir non yuridis, setidaknya politik. Hal ini tentunya memengaruhi produk hukum yang berada di bawah undang-undang apabila mengacu sistem hierarki peraturan perundang-undangan yang mengharuskan untuk sinkron.

9.     Politik Kuasa Media (Noam Chomsky)
Ini buku kecil nan tipis, namun membuka pemikiran kita terhadap berita yang muncul di berbagai media. Setidaknya ini membantu mampu memilah berita-berita yang muncul. Chomsky berpendapat bahwa fakta di media massa hanyalah rekonstruksi dan olahan dari redaksi. Terkadang terdapat fakta yang sengaja disembunyikan, penonjolan secara berlebihan suatu fakta-fakta tidak penting. Secara garis besar buku ini membicarakan kebobrokan media di Amerika Serikat yang terkadang melakukan perselingkuhan dengan pihak pemerintah ataupun swasta untuk membentuk opini publik. Bagaimana humas bekerja dan media-media memeroleh dana yang begitu besar oleh politik media dikeluarkan pemerintah untuk menjaga kekuasaanya.
Sebagai pegiat pers, buku ini terlalu jujur dan berani tetapi tidak ada yang salah karena saya sendiri mengetahui bagaimana kerja media di lapangan sampai masuk dapur redaksi. Meskipun begitu, kondisi seperti ini perlu ditelaah bagi pegiat media untuk melakukan segala aktivitas dengan nurani.

10.    Seri Sherlock Holmes (Sir Arthur Conan Doyle)
Aoyama Gosho dalam pembuatan komik Detektif Conan terinspirasi dari penulis seri Sherlock Holmes. Bagi saya ini adalah buku yang mampu merangsang rasa ingin tahu saya yang besar (jika anak muda sekarang dibilang “Kepo”). Cara berpikir deduktif coba saya terapkan sejak masih sekolah dasar sampai kuliah (akhir-akhir ini mulai mencoba berpikir induktif), walaupun tidak disertai dengan ‘blusukan’ ala Holmes. Gaya penulisan yang seperti catatan perjalanan dari Watson tidak mengurangi kekuatan karakter dari tokoh-tokohnya. Meskipun tokoh-tokoh fiksi dalam serial detektif, mulai dari Hercule Poirot (Agatha Cristie), Jacques Clouseau (Seri Pink Panther) sampai era Ace Ventura dan Sinichi Kudo, Holmes selalu lebih menonjol karena dia adalah pembuka gerbang tokoh detektif.

11.  Dragon Ball, especially vol 33-35 (Akira Toriyama)
Hehehe ini adalah sebuah pengakuan karena buku inilah saya gemar membaca buku, sehingga berapa pun umurku tidak bisa lepas dari sebuah komik disebabkan oleh komik adalah buku favorit pertama saya. Komiknya sendiri sudah tamat pada saat SD (hahaha maklum misi komersial televisi). Serial televisinya baru berakhir ketika saya SMA kelas 2 padahal pertama kali muncul di televisi Indonesia tahun 1995an (bayangkan sendiri berapa lama). Gaya pertarungan Super Saiya 3 dalam komik ini memberikan dampak gaya bertarung ketika main perang-perangan maupun pas Karate (kondisi ini berlaku sampai tamat SD, geli rasanya jika mengingat hal tersebut). Overall, hanya menceritakan pukul-pukulan dan tidak ada pesan moralnya, namun tetap berkesan (mungkin karena dulu suka pukul-pukulan). Hahahaha udah ah tidak mau membahas terlalu lama. Ada ketakutan malah akan larut dalam nostalgia masa kecil.

12.    A Walk To Remember (Nicholas Sparks)
Semakin aku gali memori dan kenangan dalam gudang otak, ku temukan buku yang bikin mewek dan termehek-mehek. Ialah novel ini. Cerita yang romantis sampai menangis di akhir cerita. Istilah leukimia pada saat itu begitu asing, sampai dosen yang begitu dekat denganku menderitanya juga. Sontak saya teringat dengan novel ini.
Nicholas Sparks memang spesialis kisah romantis-dramatis mulai dari Notebook sampai Dear John. Meskipun masih banyak buku serupa karena novel ini dibaca tatkala hendak masuk masa puber (sekitar umur 14 tahunan) ada sisi kenangan yang tidak bisa lepas dari keinginan sederhana seorang gadis muda.


13.    One Piece (Eichiro Oda)
Kisah Naruto, Bleach, Fairy Taile, sampai Beelzebub kalah telak dengan One Piece yang menjadi manga terpanjang dalam sejarah Jepang. Petualangan yang tidak mengenal ujung ini sangat amat panjang dan menarik dan tidak dapat diprediksi endingnya (karena memang belum TAMAT). Komik yang penuh gairah, semangat, dan pesan moral nan kocak. Semua komplit dan dalam porsi yang tepat tanpa sesuatu yang berlebihan. Jika anda seorang skeptis dan pesimistis perlu kiranya membaca komik ini untuk suplemen semangat dalam menghadapi dunia yang kian nisbi.


14.  Kata adalah Senjata (Subcomandante Marcos)
Keunikan EZLN (Ejército Zapatista de Liberación Nacional) dan Marcos sebagai pemimpin (jika bisa dibilang begitu) adalah gerakan yang lain dari suatu pemberontak. Pemberontakan yang tidak bertujuan untuk menggulingkan pemerintahan, tetapi mengadakan sebuah pemilu yang bersih dan demokratis meskipun hasilnya adalah sama. Sehingga di sebuah bukit, Ia tidak mengajarkan cara menggunakan senjata untuk para militan melainkan mengajarkan sastra dan filsafat. Setelah pemberontakan yang gagal karena cara berpikir masyarakatlah yang mesti diubah, Ia mewajibkan pembacaan terhadap karya sastra. Gerakan senjata militer adalah kegagalan dan kata merupakan senjata baru yang tak terkalahkan. Melalui esai-esai yang cerdas, Marcos membangkitkan gejolak muda saya untuk terus berpikir, belajar sastra, dan menulis. Walaupun hanya gerakan kultural, namun efek yang diberikan pada seluruh dunia terasa. Bahkan Gabriel Garcia-Marquez mengapresiasi sastra Marcos. Rentetan kata-katanya mampu menembus hati yang angkuh dan memaksa untuk mengerahkan segala indera terhadap hegemoni dunia.



15.  The Alchemist (Paulo Coelho)
Begitu banyak buku yang harus kubeli dua kali karena dipinjam yang berujung tidak dikembalikan, sehingga aku lupa siapa yang meminjam. Pertama kali membaca ketika SMA pada waktu yang tepat, -patah hati. Masih ingat di benakku kalimat pelipur lara itu,
“jika emas yang kau temukan itu terbuat dari unsur murni, maka ia tidak akan rusak. Dan kau bisa selalu bisa kembali. Tetapi jika emas yang kau temukan itu hanya sepuhan belaka, seperti kilasan bintang jatuh, kau tidak akan menemukan apapun tatkala pulang nanti.”
Tahun 2011-2012, saya rekomendasikan seorang teman untuk membelinya dengan niatan membacanya ulang (Hehehe maaf ya, Ardi). Ketika membaca untuk kedua kalinya ada perbedaan nuansa, kali ini yang muncul adalah kemesraan dan kerinduan pada seseorang wanita di Semarang, seperti halnya kerinduan Santiago terhadap Fatima. Pada tanggal 26 November 2013 kuputuskan untuk memberikan kado ulang tahun pada wanita tersebut buku ini. Yang semoga saja merepresentasikan isi hatiku padanya.


Nov 23, 2013

Cita-Cita Dari Seorang Begawan Hukum

 Judul              : Negara Hukum Yang Membahagiakan Rakyatnya
Penulis            : Satjipto Rahardjo
Penerbit          : Genta Publishing
Cetakan          : Kedua, Mei 2009
Tebal              : x+118 halaman, 12 cm x 19 cm

“…, tidak ada standar dunia mengenai bagaimana suatu bangsa harus bernegara hukum”

            Banyak yang bertanya alasan saya tidak pernah menulis, atau setidaknya meresensi buku, tentang hukum. Memang benar karena saya memiliki beberapa alasan. Pertama, Hukum begitu luas sehingga tidak baik jikalau menulisnya hanya beberapa lembar saja. Kedua, saya memiliki beberapa pemikiran yang masih mengendap dan perlu ditelaah, dieksplorasi, eksploitasi, diungkap, dan ditemukan solusinya. Ketiga, masih ada sedikit keraguan tentang posisi tulisan yang akan saya tulis, apakah berupa esai, catatan ilmiah, makalah, cerpen atau novel.
            Inilah buku tentang hukum pertama yang saya ulas. Sebuah penghormatan bagi sang Begawan Hukum yang dalam buku-bukunya mudah dimengerti dibandingkan pakar hukum lainnya. Sehingga, orang awam pun akan memahami maksud dari sang penulis. Tidak banyak yang demikian karena para pakar hukum (mayoritas) masih mempergunakan bahasa yang hanya dipahami oleh orang hukum sendiri (suatu bentuk ekslusivisme orang hukum) dan cenderung kaku serta monoton. Selain itu, berkat buku Prof. Tjip yang lain saya seperti telah memiliki legitimasi untuk melanjutkan hobi membaca komik, sastra dan non hukum (bahkan beberapa teman menyindir saya tersesat dari jurusan). Saya anggap buku non hukum itu sebagai media olah rasa. “Lha Subcomandante Marcos saja mengajarkan pemberontak EZLN buku-buku sastra, bukan mengajarkan berlatih senjata,” rutukku dalam hati sambil tetap tersenyum.
            Buku tipis ini secara garis besar berkisah tentang sejarah negara hukum yang dipahami manusia sebagai bentuk negara modern. Penulis mengupas dinamika hukum dan perkembangan negara hukum yang salah dipahami manusia (ahli hukum dan negarawan) menjadi sesuatu yang kaku dan menentukan arah politik penguasa. Berawal dari kegelisahan dan pencarian akan bentuk negara hukum yang sesuai dengan Indonesia karena Prof. Tjip beranggapan bahwa negara hukum yang dibentuk pada tahun 1945 ibarat sebuah rumah yang belum selesai. Setiap negara memiliki karakteristik sendiri dan Indonesia masih mencari itu.
            Penulis menganjurkan untuk mencontoh pada Jepang yang berusaha menemukan karakter negara hukum yang sesuai dengan tradisi dan masyarakatnya meskipun berlawanan dengan tren dunia. Mulai dari Daniel S. Lev sampai Benedict R. Anderson gagal dalam memberikan gambaran yang jelas tentang cara berhukum di Indonesia (Jadi teringat Clifford Greetz yang menyatakan bahwa anatomi budaya Indonesia adalah yang paling rumit di dunia dan kengototan Van Vollenhoven untuk menerapkan hukum adat dibandingkan hukum kolonial). Daniel S. Lev mengatakan Indonesia tidak memiliki budaya cara berhukum modern yang individualistis. Sedangkan Anderson mengaku gagal dalam memahami konsep kekuasaan orang Jawa (meskipun suku Jawa mayoritas, tetapi adalah bagian dari entitas kecil peradaban Indonesia) dengan pisau analisa ilmu politik barat.
            Pada kesimpulannya, penulis ingin mengatakan bahwa negara hukum yang membahagiakan rakyatnya cenderung untuk menjadi negara hukum yang progresif (lagi-lagi progresif hehehe). Negara yang memiliki inisiatif bertindak dan melayani bukan menunggu rakyat “merengek dan meminta-minta” untuk dilayani oleh negara. Sampai sini saya sedikit lega karena memeroleh jawaban dari substansi buku, namun ada kalimat pada paragraf terakhir yang membuatku terusik,
            “… negara ini masih membutuhkan pengidentifikasian dan pemberian makna lebih tajam lagi, untuk menjawab pertanyaan ‘bernegara hukum untuk apa?’ Risalah ini menjawab dengan mengatakan, kita bernegara hukum untuk membuat rakyat merasa bahagia hidup dalam negara hukum Indonesia.”

            Aduuuh… Pernyataan tersebut mengisyaratkan dan mengajak kita harus menemukan konsep kebahagiaan ala rakyat Indonesia yang kemudian dapat diaplikasikan ke dalam negara hukum yang Indonesia. Mikir maning, mikir maning.

Irfa Ronaboyd


Membaca Novel Pertama Murakami

Judul              : Dengarlah Nyanyian Angin (Kaze No Uta O Kike)
Penulis            : Haruki Murakami
Tebal              : iv+119 hlm. 13,5 cm x 20 cm.
Cetakan          : Kedua, Mei 2013
Penerbit          : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)


“Kamu sedang apa sekarang?”
“Aku sedang membaca buku.”
“Ck,ck,ck. Nggak baik tuh. Kamu harus mendengarkan radio. Kamu justru akan semakin terasing kalau membaca buku.”

            Pertama kali mendengar (lebih tepatnya membaca) nama Haruki Murakami dari sebuah pengantar novel “Di Bawah Bendera Merah” karya Mo Yan. Murakami dan Mo Yan menjadi dua nama sastrawan Asia (Jika Pramoedya masih hidup mungkin namanya akan ikut serta) dengan urutan teratas masuk nominasi peraih Nobel Sastra 2012. Selepas membaca “Di Bawah Bendera Merah” segera kucari novel Murakami dan suatu kebetulan yang teramat bahwa buku Murakami tinggal satu dan itu adalah novel pertamanya.
            Paragraf pertama yang pendek sebagai pembuka sekaligus permintaan maaf karena itulah novel pertamanya, berbunyi “Tidak ada kalimat yang sempurna. Sama seperti tidak ada keputusasaan yang sempurna.” Novel tipis ini berlatar belakang tahun 1960an yang bercerita si Aku, mahasiswa Biologi yang sedang libur di tempat tinggalnya yang kecil. Kehidupan remaja yang kompleks, tidak jelas, penuh rokok dan alkohol menjadi ciri yang menonjol dari novel ini. Kalimat-kalimat yang mudah dipahami namun menusuk dan dalam seolah melupakan bahwa alur dari kisah pada novel ini melompat serta tidak beraturan.
            Tipis tetapi memberikan kesan mendalam melalui dialog-dialog dan deskripsi yang menggelitik. Misalnya,
            Selagi aku membersihkan debu di kaca depan dengan tisu, dia berjalan perlahan mengelilingi mobil dengan penuh rasa curiga. Setelah berkeliling satu kali, sejenak dia menatap lekat-lekat gambar muka sapi berukuran besar yang dilukis dengan cat putih di atas kap mobil. Sapi itu mengenakan anting hidung, sementara di mulutnya terselip setangkai bunga mawar putih. Sapi itu tertawa. Tawa yang sangat mesum.
“Kamu yang menggambarnya?”
“Bukan. Pemilik sebelumnya.”
“Kenapa harus gambar sapi sih?”
“Entahlah.” Kataku.

            Karakter si Aku juga memiliki keanehan yang condong pada sedikit gila. Masa kecilnya yang begitu pendiam membuat orang tuanya membawa ke psikiater, dan memperoleh cerita tentang kambing gunung, kelinci, gajah. Umur empat belas tahun pada musim semi selama tiga bulan mengoceh tanpa henti dan seketika berhenti karena demam tinggi, setelah itu menjadi pria yang biasa (secara fisik iya, secara otak tidak beres). Lebih suka membaca buku karya orang yang sudah mati karena akan lebih mudah memaafkan. Terobsesi pada penulis Amerika yang tidak terkenal yang mati bunuh diri. Menyukai binatang karena mereka tidak bisa tertawa. Ada lagi, tokoh Nezumi seorang anak kaya yang tidak suka dengan kekayaannya. Tidak suka membaca, namun menulis novel. Novel yang tiap tahun dikirim sebagai hadiah ulang tahun si Aku. Karakteristik novelnya yang tidak ada adegan seks dan tiada tokoh yang mati.
            Overall, novel ini benar-benar membuat dirimu wajib membacanya. Cukup luangkan waktu 1 jam, setelah itu perenungan bisa sampai 2 hari. Saat tulisan ini di upload pun, saya masih tertawa sendiri memikirkan kisah dalam novel yang penuh humor dan ajakan berpikir. Suatu gerbang yang membuka untuk terus membaca karya Murakami selanjutnya. 

Irfa Ronaboyd


‘Tragedi Impian Gatsby’

Genre            : Drama
Pemain       : Leonardo DiCaprio, Tobey Maguire, Carey Mulligan, Joel Edgerton, Isla Fisher, Elizabeth Debicki, Amitabh Bachchan
Sutradara      : Baz Luhrmann
Naskah          : Baz Luhrmann & Craig Pierce
Durasi           : 143 Menit

“He had come such a long way.
And his dream must have seemed so close, 
that he could hardly fail to grasp it.
But he did not know… that it was already behind him.”

            Jangan berpikiran bahwa film ini menceritakan kisah hidup pemilik pabrik Gatsby karena itu tidak ada kaitannya dengan kosmetik pesolek untuk pria. Atau ada alasan logis bahwa pemilik pabrik pesolek tersebut terinspirasi oleh karakter Gatsby dalam novel karya F. Scott Fitzgerald, sehingga para pria tertarik untuk membeli produknya.
            Ok, kembali fokus. Ini adalah film adaptasi dari sebuah novel berjudul sama karya Francis Scott Key Fitsgerald. Bagi yang sudah pernah melihat The Curious Case of Benjamin Button mungkin tidak asing lagi dengan Fitsgerald. Kisah diawali dengan narasi Nick Carraway (Tobey Maguire), seorang penulis lulusan Yale dan bekerja di Wall Street di sebuah klinik psikiater. Ia menceritakan tentang pengalaman yang ia alami di sebuah musim panas tahun 1922. Diceritakan bahwa Nick yang baru saja pindah kerja ke New York ini menyewa rumah di kota West Egg di Long Island. Nick memiliki tetangga misterius, bernama Jay Gatsby (Leonardo DiCaprio), pemilik mansion yang sangat besar dengan hobi menyelenggarakan pesta-pesta besar, mewah, dan glamour setiap malamnya. Nick sering mengunjungi sepupunya, Daisy Buchanan (Carey Mulligan) dan suaminya, yang juga teman kuliah Nick, Tom Buchanan (Joel Edgerton), persis di seberang kotanya yang terpisah oleh teluk (atau tanjung), di East Egg. Suatu hari ia menerima undangan dari sang tetangga yang secara pribadi mengundangnya datang ke pestanya dan menemui pria misterius tersebut. Pertemuannya dengan Jay Gatsby mengawali setiap konflik pada sebuah dunia penuh ambisi, romansa, mimpi hingga konflik cinta orang-orang terdekatnya.
            Sejujurnya, film ini tidak memiliki kesan mendalam dalam membangun emosi antar pemain. Ada beberapa tokoh yang menonjol karakternya, yakni Tom Buchanan dan Jordan. Yah, akting Tobey dan Leonardo yang tidak bisa dikesampingkan, walaupun Leonardo dalam membangun sosok Gatsby tidak jauh berbeda dengan karakter dalam filmnya yang lain (berbanding terbalik dengan Johnny Depp): karismatik, penuh pesona, cool, meledak-ledak. Kehadiran Amitabh Bachchan sebagai Meyer Wolfsheim juga sempat mengagetkanku, sempat terpikir bahwa itu bukan Amitabh karena dalam Meyer dalam novel adalah seorang Yahudi bukan India (Yaah.. meskipun akhir-akhir ini antara Israel dan India dekat).
            Ambisi, harapan dan mimpi Gatsby (pada objek yang berbeda tentunya) mengingatkanku pada tragedi kehidupan Tony Montana (Al Pacino) dalam Scarface. Pesta yang riuh, mewah, dan glamor berbanding terbalik ketika pemakaman Gatsby yang hanya dihadiri oleh Nick. Alur dibangun dengan lambat dan sedikit menjenuhkan, meskipun ada beberapa adegan lucu dan narasi menggelitik. Apabila menganggap film ini bertemakan drama perselingkuhan mungkin lebih nyaman menonton Closer, The Reader, atau Killing Me Softly. Namun inilah kisah American Dream pasca perang dunia pertama, pesta, histeria, romansa, konflik sosial. Semua kekurangan plot dan cerita tertutupi dengan audio visual yang memanjakan mata dengan berbagai musik dan efek CGI (terutama bangunan tahun 1920an dan balapan motor jadul di jalanan).
                                     

Cerita: 7/10                                         Pemain: 8/10
Ending: 7/10                                       Keseluruhan: 7/10