Ronaboyd Mahdiharja

Sebuah goresan nan Pribadi mengenai metamorforsis dalam alam pemikiran perjalan menjadi manusia.

Jan 9, 2020

Catatan Si Pemalas #25 (TAMAT)






Beberapa bulan terakhir, aku dipaksa mengangkrabkan diri dengan angka. Padahal dulu kami begitu akrab. Selepas lulus SD, angka nampak berbeda. Ia jadi lebih ruwet dan berderet. Perlu dicatat, yang kumaksud di sini adalah angka arab, bukan romawi. Yup, angka yang berakar dari india, dipergunakan bangsa arab, dimodifikasi dan diperkenalkan oleh al-Khawarizmi. Panjang betul sejarahnya jadi kuringkas saja dalam satu kalimat.

Kubaca terjemahan The Wealth of Nations yang tebalnya hampir seribu halaman itu untuk menyiasatinya. Nyatanya, tidak banyak angka dalam buku itu. Tanpa kusadari, setiap penghitungan ekonomi dalam buku tersebut kerap terlewati. Alam bawah sadarku malah mempelajari konsep ekonominya dan tak memedulikan angka-angkanya. Apesnya, semua itu kusadari setelah usai membaca bukunya. Aku mengulanginya lagi, namun tetap enggan untuk fokus pada angka.

Mau tidak mau, kulakukan tugasku pada kondisi belum begitu akrab. Aku pun memulai survei harga pasar. Kupilih cara melalui online terlebih dahulu. Sambil berselancar terbersit pikiranku perihal perusahaan-perusahaan startup berstatus unicorn. Persaingan mereka begitu mengerikan. Terus menerus membakar uang, padahal belum mendapatkan keuntungan sama sekali. Isinya rugi terus. Yah, namanya rintisan pada era kekinian memang lebih mengejar valuasi daripada profit. Langkah ini cukup wajar sebagai upaya memberikan edukasi era industri 4.0 melalui disrupsi untuk mengalahkan pemain lama (jual-beli konvensional).

Keuntungan? Yang ada malah kerugian besar. Semua hal ini akan terus terjadi hingga diketahui siapa pemenangnya. Kamu boleh menyebutnya sebagai pemenang yang memegang monopoli atau kartel. Lihatlah Gugle dengan gmel, youcup, dan androidnya. Atau facebuk dengan instogram dan watsapp nya. Lantas, bagaimana dengan Compassionate Capitalism karya Blaine Bartlett dan David Meltzer? Terlalu panjang dan melelahkan untuk diuraikan pada catatan yang malas ini.

***
Pada sela waktu menunggu jemputan survei, ada seorang yang ingin konsultasi tulisan. Aku membolak-balik draft tulisan tersebut, sambil mendengarkan dia berceloteh tentang latar belakang dan rintangannya dalam menulis. Aku meliriknya yang masih saja bercerita.

“Kok cuma gini?” tanyaku. Ia menjawabnya dengan berkilah. “Kalau begitu rugi dong. Usaha yang kau ceritakan sejak tadi tidak menunjukkan hasil yang maksimal.”

Ia akhirnya diam. Aku masih mencorat-coret draft itu dan kuserahkan padanya untuk diperbaiki.

Aku melihatnya melangkah pergi dengan gontai. Mungkin terdengar sedikit kejam. Akan tetapi, itu untuk memberikan kesadaran padanya. Bayangkan, ia telah membaca buku yang kurekomendasikan. Tetapi, ia membohongi hampir semua orang untuk pergi kencan. Bahkan melakukan pemberontakan kecil-kecilan dengan orang tuanya. Menjelang hari pengumpulan, dia baru menulis. Diselingi perdebatan dengan si pacar yang tidak ia ceritakan sebabnya. Sedikit makan dan tidur. Hasilnya, draft tulisan amburadul. Terlalu banyak deskriptif tambal sulam tanpa analisis.

Ponselku telah berbunyi, tanda jemputan telah datang.

Semua ini kulakukan karena barang-barang yang kucari ternyata sangat sulit diperoleh di internet. Mungkin karena terlalu spesifik atau modelnya sudah tidak diproduksi lagi. Satu-satunya cara, ya, survei lapangan.

Begitu banyaknya mall di kota ini. Kuputuskan untuk survei yang besar-besar saja atau kemungkinan terdapat barang yang kucari.

Ajaibnya, di berbagai tempat yang kukunjungi selalu saja bertemu dengan orang yang kukenal. Entah itu kenalan lama, orang-orang dekat atau teman-teman yang sudah bertahun tak jumpa. Secara tak sengaja aku dipertemukan dengan mereka yang pernah hadir dan singgah dalam kehidupanku. Ada yang menyapa duluan, terkadang aku yang menyapa mereka, dan beberapa kubiarkan karena takut mengganggu aktivitas mereka.

Pada perjalanan mengunjungi beberapa outlet di beberapa mall, aku bertanya-tanya sampai kapan perang dagang antara penjual konvensional dan e-commerce berlangsung? Ruko-ruko yang hanya mengandalkan pengunjung tanpa mengikuti perkembangan era digital banyak yang merugi, startup yang kurang modal pun silih berganti tumbang. Yah, cukup masuk akal bagi pelapak kekinian yang menyebar jaring dengan membuka toko di berbagai marketplace dan platform online sembari membangun tempat bisnis di dunia nyata.

Data sudah terkumpul dan kuputuskan pulang. Dari dalam kendaraan kulihat banyak toko dan muda-mudi berseliweran. Melihat mereka aku teringat kalimat dari Bu Yas. Fase pertama ‘cinta’ adalah fase kepalsuan-kepalsuan. Yang cowok kelihatan baik dan loyal, yang cewek kelihatan taat dan perhatian. Inilah yang katanya orang sekarang disebut cinta, tetapi sebetulnya hanyalah imajinasi belaka. Mereka membayangkan keindahan semu. Itulah, cobaan Allah yang pertama. Fase kepalsuan ini sama sekali tidak dapat memprediksi apa yang bakal terjadi karena pada dasarnya mereka hanya mencintai dirinya sendiri dan ingin menyenangkan diri sendiri. Gabungan antara produksi hormon dan dorongan imajinasi malah memperburuk situasi di lingkungan keluarga dan teman. Dampaknya, hubungan mereka semakin rumit dan penuh masalah. Ketika berumah tangga malah muncul berbagai kekecewaan dan rasa hambar. Aku pernah ditanya solusi masalah ini. Kujawab tidak ada. Setiap dosa terdapat sanksi dari Allah. Itulah konsekuensinya dan terimalah sanksinya oleh sebab caranya sudah salah.

***
Esoknya, di depanku sudah ada bertumpuk-tumpuk kertas yang perlu kuperiksa. Ketika kubuka isinya angka semua. Aku coba mengakrabkan diri dengan angka-angka itu. Dua puluh menit kami berdialektika. Namun, setelah itu berkali-kali aku mengalami microsleep.

Mak klutik. Kepalaku terantuk tumpukan kertas. Orang-orang di ruangan kecil dan ber-AC itu tertawa karena kejadian itu.

“Goblok banget,” ucapku dalam batin sambil senyam-senyum.




NB: Dengan demikian, inilah postingan terakhir tentang Catatan Si Pemalas di blog ini. Di tengah perjalanan memang rencananya akan kuakhiri pada edisi #25. Masih ada satu catatan kecil sebagai salam terkahir pada blog ini karena telah menemani selama bertahun-tahun. Pastinya, saya tidak akan berhenti menulis. Mungkin bentuk tulisan atau tempatnya saja berubah.

1 comment:

  1. Yuk Merapat Best Betting Online Hanya Di AREATOTO
    Dalam 1 Userid Dapat Bermain Semua Permainan
    Yang Ada :
    TARUHAN BOLA - LIVE CASINO - SABUNG AYAM - TOGEL ONLINE ( Tanpa Batas Invest )
    Sekedar Nonton Bola ,
    Jika Tidak Pasang Taruhan , Mana Seru , Pasangkan Taruhan Anda Di areatoto
    Minimal Deposit Rp 20.000 Dan Withdraw Rp.50.000
    Proses Deposit Dan Withdraw ( EXPRES ) Super Cepat
    Anda Akan Di Layani Dengan Customer Service Yang Ramah
    Website Online 24Jam/Setiap Hariny

    ReplyDelete