Ronaboyd Mahdiharja

Sebuah goresan nan Pribadi mengenai metamorforsis dalam alam pemikiran perjalan menjadi manusia.

Nov 28, 2017




“Shahrazad, tak takutkah kau pada kematian?”
“Tak ada ketakutan wahai Raja yang berusia panjang. Aku tahu bahwa kematian itu agung namun mengerikan...”



           
            Disney mungkin yang pertama kali mengenalkanku dengan salah satu tokoh dalam Kisah 1001 Malam (atau Arabian Nights), Aladdin. Ketika kecil Kisah 1001 Malam yang tebal itu seperti bacaan wajib anak-anak menjelang tidur. Tentunya anak-anak yang orangtuanya mampu membeli buku. Selebihnya anak-anak hanya mengetahui sekilas mengenai kisah-kisah dalam Arabian Nights sepintas saja. Barangkali saya ataupun anda mengenal Sinbad, Ali Baba, Kuda Ebony, Aladdin, Abu Nawas, dan tentu saja Sultan Harun Ar-Rasyid. Semua tokoh tersebut dapat anda temukan dalam versi lengkap Arabian Nights.
            Saya tak akan menganjurkan buku versi karya Geraldine ini dibaca anak-anak. Apa ya dirimu tega membacakan kepada anak-anak tentang kisah Raja Shahryar yang bolak-balik menikah lantas membunuh istri-istrinya setiap hari selama tiga tahun agar tak berhenti mencintainya? Perlu anda ketahui bahwa kisah Arabian Nights versi anak-anak seingatku adalah semacam kumpulan cerita. Pada buku ini saya baru mengetahui bahwa dari banyaknya kisah tersebut memiliki satu kisah besar yang membungkusnya, yaitu kisah Shahrazad dan Raja Shahryar.
            Istri pertama Raja Shahryar yang selingkuh membuat sang raja berpikiran bahwa wanita itu plin-plan. Pengkhianatan tersebut memberikan rasa trauma bagi sang raja. Setiap hari Ia menikah. Kemudian Ia menyuruh tukang jagal memenggal leher istrinya keesokan paginya, sebelum cinta sang istri menghilang. Begitu terus setiap hari. Selama tiga tahun. Seribu pengantin wanita, seribu eksekusi, dan seribu wanita hilang dari ramainya pasar. Sang Penasehat yang bertugas mencari wanita untuk dinikahi sang raja mulai kebingungan karena tidak ada lagi wanita bangsawan di kota. Hingga akhirnya putri sang Penasehat, Shahrazad, mengajukan diri menjadi pengantin wanita. Shahrazad membuat sang raja penasaran dengan kisah-kisah ajaib yang tak pernah Ia dengar. Begitulah cara Shahrazad bertahan hidup selama seribu satu malam hingga Ia tak mampu lagi bercerita. Kisah-kisah yang diceritakan Shahrazad itulah yang saya atau anda kenal.
            Cerdik dan licik itu beda tipis. Begitulah sekilas tentang kisah-kisah dalam Arabian Nights. Kita perlu memfilternya untuk mengisahkan kembali kepada anak-anak. Saya suka cara Shahrazad mencoba melakukan kritik tanpa melukai sang raja melalui cerita-cerita yang dibangunnya. Pada lain kesempatan Ia juga menghibur suasana hati raja dengan kisah yang lucu dan ringan. Meskipun kisah dalam buku ini tidak genap 1001, akan tetapi mewakili nuansa Persia, India, dan Arab. Ketiga tempat yang pernah menjadi wilayah kekuasaan Islam pada masa itu. Oh iya mengenai Sultan Harun Ar-Rasyid yang seolah-olah menjadi antagonis dan berbeda dengan sejarahnya, kapan-kapan saya akan mengisahkannya. Supaya dirimu penasaran dan mencariku. 

 Judul              : One Thousand and One Arabian Nights (Kisah 1001 Malam)
Penulis           : Geraldine McCaughrean
Penerjemah   : Dewanti Diah Ayu Purwanti
Tebal              : viii + 314 halaman
Cetakan          : II, Desember 2008
Penerbit          : Elex Media Komputindo







Pengetahuan tentang Dia tak tersedia di pintu orang-orang pandai yang menyusun kata. Pengetahuan dan kebodohan di sini sama, karena keduanya tak dapat menjelaskan maupun melukiskan.


           
            Fabel selalu menarik untuk dicermati. Selain kisah dan gaya penuturan yang sederhana, kritik yang dibangunnya tak perlu menunjuk secara langsung. Tak mengherankan kisah-kisah fabel menjadi diminati oleh anak-anak dan kerap dibacakan sebelum tidur.
Musyawarah burung salah satu fabel, yang bagiku, menarik untuk disimak sekaligus berat diperuntukkan anak-anak. Attar menyusun Musyawarah Burung berupa dialog dan kisah yang sederhana. Para Burung bermusyawarah untuk mencari Simurgh, raja sejati bagi burung. Hudhud yang mengisahkan bahwa mencapai singgasana Simurgh tidaklah mudah karena akan melalui perjalanan yang penuh bahaya, cobaan, dan kesengsaraan. Kisah Hudhud tentu saja membuat para burung berpikir ulang dan mencoba menghindar dengan berbagai dalih. Mereka merasa keberatan harus meninggalkan sesuatu yang sudah dimiliki: harta, cinta, atau popularitas. Akhirnya, para burung berangkat menuju istana Simurgh yang berada di Kaf, sebuah gunung/jajaran gunung yang mengelilingi bumi. Suatu tempat yang perlu melewati tujuh lembah yang menguji keterbatasan dan ketakutan diri.
Musyawarah Burung aslinya merupakan sekumpulan puisi prosa yang terdiri dari sekitar empat ribu bait. Simurgh dalam kisah ini merupakan simbol Ketuhanan. Sedangkan perjalanan para burung ialah perajalanan untuk mencapai pencerahan spiritual. Attar sendiri dikenal sebagai sufi persia yang mengalami perjalanan spiritual lantas mengembara untuk memperdalam sufi. Attar dianggap menginspirasi karya-karya Rumi dan pada suatu kesempatan Rumi mengatakan, “Attar adalah jiwa itu sendiri.”
Saya tak ingin merusak kesenanganmu membaca buku yang penuh alegoris nan puitis ini dengan memberitahukan akhir kisah. Secara garis besar dialog dan perjalanan para burung untuk menemui Simurgh seperti kisah Pandawa Moksa. Mengingatkanku pada jalan sunyi seorang sufi. Dulu juga pernah terjadi perdebatan diri mengenai jarak antara ma’rifatullah (mengenal Allah) dengan liqa’ullah (bertemu dengan Allah). Jarak keduanya yang penuh konsekuensi dan tuntutan yang besar terhadap diri sendiri. Mbah Sahal, pada suatu kesempatan, pernah mengatakan bahwa saat manusia ingin memasuki ‘daerah’ Allah, ada suatu kewajiban untuk ma’rifatullah terlebih dahulu. Dan saat titik akhir perjalanan tercapai hanya ada satu keinginan dan harapan, yakni liqa’ullah. Benar juga sih, ibaratnya anda datang ke rumah seseorang dan sampai ke pintu rumahnya, namun tak ingin bertemu langsung dengan sang pemiliknya.
Pada sisi lain, membaca Musyawarah Burung juga bernostalgia dengan konsep Manunggaling Kawula Gusti. Yah, perdebatan panjang yang akan membawa perihal pantheisme sampai emanasi. Konsep yang saya tolak (meskipun Ibnu Sina mencoba mengislamkan konsep tersebut) karena tak masuk akal menempatkan upil, keringat, atau (maaf) tahi juga sebagai salah satu pancaran dari Tuhan. Yaweslah, tak ada lagi yang mesti kuceritakan.

Judul              : Musywarah Burung
Penulis           : Fariduddin Attar      
Tebal              : vi + 178 halaman
Cetakan         : I, Mei 2015
Penerbit         : Titah Surga




Nov 25, 2017



"I know it, but I don't want to know that I know, so I don't know." I know it, but I refuse to fully assume the consequences of this knowledge, so that I can continue acting as if I don't know it.”

           
            Tatkala banyak berita mengenai Indonesia darurat kekerasan terhadap anak serta berbagai teror dan kekerasan di belahan bumi lainnya, teringat satu buah karya tipis ini yang sekiranya perlu anda baca. Salah satu karya sosiolog dan filsuf era posmo (meski dirinya mengklaim anti Posmo) asal Slovenia. Meski sudah cukup lama, nampaknya wacana kekerasan akan mendominasi pemberitaan pada media massa selama beberapa tahun ke depan dan buku ini akan relevan sebagai bahan bacaan yang menghibur (sekaligus menyebalkan) dan membuka alam pemikiran kita.
Melalui premis sederhana mengenai kekerasan, Zizek tidak membatasi kekerasan pada bentuk fisik saja. Zizek membagi kekerasan menjadi subjektif dan objektif. Kekerasan subjektif dilakukan oleh agen yang dapat diidentifikasi dengan jelas melalui tindakan–tindakan seperti teror, pembunuhan, penyerangan, perang. Sedangkan kekerasan objektif dipecah lagi menjadi kekerasan simbolik dan sistemik. Kekerasan simbolik menyentuh ranah simbol dan bahasa seperti diskriminasi, rasisme, hate speech dll. Kekerasan sistemik muncul sebagai konsekuensi bencana besar dari berfungsinya sistem ekonomi dan politik. Nanti akan dijelaskan oleh Zizek alasan sistem ekonomi dan politik mampu membentuk kekerasan. Secara garis besar, kekerasan objektif menyebabkan terjadinya kekerasan subjektif.
Membaca karya Zizek memang cukup menghibur karena disisipi humor satir, pembahasan budaya populer yang sedang berkembang dengan penyisipan sejarah dan filsafat. Zizek membawa diskursus menarik tatkala masyarakat puas untuk menipu diri mereka sendiri selama kekerasan subjektif tidak terjadi dan menimpa mereka. Anda bisa terkekeh ketika Bill Gates dan George Soros mendapatkan label “liberal comunists” karena memperoleh kekayaan dari struktur kapitalisme dan memposisikan diri sebagai seorang dermawan kepada masyarakat yang telah mereka eksploitasi. Menyebalkan? Tentu saja.
Pada buku ini, Zizek nampaknya lebih fokus pada kekerasan sistemik karena porsi lebih banyak membahas tentang hal yang sangat dia suka. Ia tidak memberikan definisi secara jelas mengenai arti kekerasan, meskipun demikian banyak hal kekerasan yang dibahas dari berbagai sudut seperti globalisasi, fundamentalisme, kapitalisme, bahasa, filsafat dan tentu saja film. Kita perlu berhati-hati terhadap argumentasi yang dibangun oleh Zizek karena dikemas sangat cantik dengan berbagai paradoks dan humor.
Zizek merupakan salah satu tokoh kontrovesial yang memiliki karya-karya yang provokatif. Menyimak perdebatannya dengan Henry-Levy maupun Chomsky akan menambah pemahaman karakter dari seorang yang dijuluki sebagai filsuf paling berbahaya di barat. Perlu suatu filter untuk meresapi pendapat Zizek untuk tidak terjebak atau terkesima pada kesia-siaan. Ada kalanya kita perlu mengetahui dan mempersiapkan anti tesis maupun sintesis wacana yang dilemparkan oleh Zizek agar anda dapat bergelut dengannya sambil tertawa.

Judul              : Violence: Six Sideways Reflections
Penulis           : Slavoj Zizek 
Tebal              : 272 halaman
Cetakan         : Agustus 2008
Penerbit         : Picador, New York








           
            Beberapa waktu lalu anda mungkin pernah terlibat perang urat saraf perihal hate speech pada sosial media atau panasnya pemilu 2014 yang masih meninggalkan bekas bagi para pendukung capres. Bahkan saya pun harus mengakui dulu pernah berdebat dengan kawan mengenai rencana pengenaan pajak pada bisnis online. Kita tidak bisa menyangkal beberapa tahun terakhir arus informasi bergerak sangat cepat. Kontribusi internet dan perkembangan teknologi ponsel turut memiliki andil di dalamnya.
            Kunjungan Chairman Google, Eric Schmidt, beserta salah satu direktur Google, Jared Cohen, ke Korea Utara pada bulan Januari 2013 menimbulkan banyak polemik dari publik Amerika Serikat. Setelah terbitnya buku ini publik mengerti bahwa tindakan tersebut merupakan serangkaian kegiatan untuk penelitian dalam menyusun buku. Tidak hanya Korea Utara, mereka juga mengunjungi beberapa pemimpin negara, enterpreneur, dan aktivis di Asia, Afrika, Eropa, serta Timur Tengah mengenai tantangan teknologi di masing-masing negara. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, mereka menyusun buku ini untuk mengetahui peran dunia digital bagi masa depan dunia. Suatu proyek yang ambisius.
           Schmidt dan Cohen menyoroti berbagai permasalahan masa depan identitas, kewarganegaraan, dan berita; masa depan negara; masa depan revolusi; masa depan terorisme; masa depan konflik, perang, dan intervensi; serta masa depan rekonstruksi. Mereka sangat yakin bahwa identitas virtual di dunia maya pada sepuluh tahun mendatang akan mengalahkan jumlah penduduk dunia. Suatu premis yang dapat dilihat dari banyaknya akun media sosial yang dimiliki oleh satu orang. Perkembangan internet juga memicu negara dalam mengembangkan suatu kebijakan untuk memberikan batasan dan kontrol pada dunia yang dianggap tanpa hukum tersebut.
         Suatu waktu anda akan sering membaca tautan yang bernada persuasif tentang revolusi maupun pemberontakan, namun sayangnya itu hanya sebatas wacana tanpa aksi yang nyata. Masyarakat yang memegang kendali dengan memanfaatkan teknologi, apakah revolusi benar-benar berkobar atau menguap begitu saja. Selain membahas masa depan revolusi, Schmidt dan Cohen juga membahas tentang masa depan terorisme yang meliputi fisik maupun virtual. Pada bagian ini kita dapat melihat teknologi dimanfaatkaan sebagai sarana komunikasi, perekrutan anggota oleh para teroris yang tentunya mempergunakan bahasa-bahasa metofara. Walaupun banyak permasalahan yang muncul dalam dunia digital, mereka mencoba bersikap optimis bahwa teknologi mampu menyatukan masyarakat dalam suatu komunikasi dan usaha rekonstruksi modern.
            Sangat menarik mencermati berbagai argumen dari Schmidt dan Cohen yang memiliki pengalaman di bidang dunia virtual. Sejujurnya tidak ada yang baru dalam buku ini karena kita bisa menemukan pembahasan serupa dalam The World Is Flat karya Thomas L. Friedman atau The Extreme Future milik James Canton. Thomas Friedman dalam The World Is Flat memang memaparkan sejarah perkembangan globalisasi sejak era Columbus sampai pada tahap Globalisasi 3.0 yang persaiangan global semakin menciut dengan hanya melibatkan individu atau kelompok kecil manusia. Berbeda dengan Friedman, Canton lebih memfokuskan pada ranah motif ekonomi untuk melakukan inovasi serta prediksi munculnya kejahatan bioterorisme dan terorisme yang juga dibahas oleh Schmidt dan Cohen. Kelebihan buku ini dibandingkan karya Friedman maupun Canton adalah data-data yang dimunculkan lebih aktual (salah satu contohnya) dengan munculnya Arab Springs serta ISIS.


Judul              The New Digital Age:Cakrawala Baru Negara, Bisnis dan Hidup Kita
Penulis           Eric Schmidt & Jared Cohen
Tebal              : xx+344 halaman
Cetakan         : Agustus 2014

Penerbit         : KPG


Nov 24, 2017






Mungkin saja manusia punya titik didihnya tersendiri. Ada yang memiliki titik puncak melalui ledakan amarah, tangis atau pukulan. Mereka berbeda dalam berbagai tingkatan emosional. Saya pun demikian, barangkali.
            Saya coba melihat ke belakang dengan berbagai masalah yang ada. Kecendurangan diri dalam melihat berbagai persoalan rata-rata dengan tanggapan santai, biasa, dan lumrah. Bahkan kerap merespon berbagai permasalahan dengan tertawa atau tersenyum. Akan tetapi, pada suatu ketika ada hal-hal urgen dan mendasar yang membuatku tak mampu mengendalikan diri. Spontanitas dengan ledakan amarah. “Ini seperti anak kecil,” ungkapku. “Kau berdosa membuat orang lain takut” ungkapku. Saya menolak, “Itu bukan titik puncakku.”
            Benar. Titik puncakku bukan dengan menangis. Saya bahkan lupa kapan terakhir menangis. Pun bukan pula ledakan amarah atau memukul. Mereka hanya ada di tengah-tengah puncak. “Lantas apa?” tanyaku. “Diam dan membiarkan,” jawabku.
            Ledakan amarah itu merupakan gelagat bahwa engkau sudah melampaui batas. Yah, termasuk golongan manusia yang melampaui batas kewajaran. Kompromi-kompromi itu sudah terkikis habis. Akan tetapi, tenanglah. Itu bukan puncak. Seperti kataku tadi, titik puncakku pada diam dan membiarkan.
            Beruntunglah engkau saat ada yang memarahi karena itu tanda Ia masih peduli. Beruntunglah dirimu ketika ada yang memaki sebab ia menegurmu dengan jujur. Celakalah kau saat didiamkan berarti aku tak acuh. Apabila sudah demikian, itu terserah kamu karena aku tak mau tahu tentangmu.
            Instrospeksi dan evaluasi diri itu perlu untuk melihat ke dalam. Yunus as melakukannya saat di perut ikan. Hal tersebut sangat sukar.
Bersambung >>>>>>

Nov 19, 2017

Hidupmu itu sunyi, mas,” ungkap Benyo saat itu.
Tentu saja pernyataan tersebut saya tolak. Apapun argumentasi yang Benyo lontarkan dengan medhog kala itu. Sebaliknya, hidupku terlalu riuh. Saya kasih satu bukti, konkret begitu riuhnya hidupku terutama perihal janji.
Kesampingkan janji-janji pada baliho yang bertebaran di jalan itu. Saya tak begitu menggubrisnya bukan lantaran tak mengenal mereka, melainkan janji-janji pada baliho tersebut kerap tak masuk akal sehingga sulit terealisasi. So, buang jauh-jauh mengenai pembahasan itu.
Saya bermaksud membahas janji yang lain. Yang sepele dan dari orang yang kukenal saja. Begitu banyak janji yang mampir ke dalam telingaku, namun saya tak terlalu berharap mereka memenuhinya. Banyak pelajaran yang dipetik dalam menulis janji tiap manusia yang berjanji kepadamu. Entah itu berkaitan dengan dirimu atau sama sekali tidak berkaitan padamu, alih-alih lebih kepada janji pribadi kepada diri sendiri dan saya sebagai saksinya. Walaupun demikian, saya tetap menulisnya untuk sekedar mengetahui seberapa serius dirinya atau kualitas pribadinya. Sebagai catatan saja, tidak lebih.
Janji yang sejauh ini kuingat, tetapi tidak kutulis adalah janji ayah untuk membelikan mainan yang sedang ngetren. Ada juga janji-janji sepele yang sebenarnya tak penting bagiku, tetapi mungkin penting bagi yang telah berjanji. Misalnya, ada yang berjanji puasa mutih tujuh hari, tidak makan lagi di warung X, tak akan lagi memakai baju berwarna biru. Masalah-masalah sepele yang sejujurnya sangat tidak penting, dan saya harus menjadi pendengar sekaligus saksi. Tak semuanya sepele sih, ada juga yang serius serta penting bagi dirinya dan sekali lagi tak penting bagiku. Saya akan kembali memberikan contoh sebagai bukti, ada kisah janji Life & Time Michael K yang berjanji untuk tidak memberikan harapan pada orang yang suka dirinya, sedangkan Ia sendiri tak suka. Pada lain kesempatan ada Josef K yang berjanji untuk presentasi buku yang saya sodorkan padanya, hingga kini belum semuanya Ia presentasikan. Adapula yang pernah berjanji tidak akan pacaran sebelum skripsinya kelar, lantas Ia lupa terhadap janji tersebut. Ada juga sepupu yang berjanji untuk menjauhi mantannya, tetapi kemudian saya tahu Ia tak bisa meskipun Ia sadar telah kena pelet atau sejenisnya. Atau ada juga pria cengeng yang berjanji akan lebih baik dan bertaubat, walaupun Ia sering mengulangi janji itu dan sejurus kemudian melanggarnya. Dan itu berulang kali.
Ada banyak yang berjanji dan saya menjadi saksi. Itu antara menyebalkan dan menyenangkan. Sebal karena mereka melanggar janjinya sendiri dan memosisikan saya sebagai saksi hanya sebatas candaan ala kadarnya. Menjadi saksi atas janji itu adakalanya menyenangkan melihat orang tersebut melanggar sehingga saya dapat belajar banyak dari manusia-manusia tersebut. Yah, ada yang ingkar, namun tak sadar. Siapapun dia, termasuk saya. Pada pelbagai situasi yang runyam, serius, dan di tengah gelak tawa kata meluncur begitu saja: tanpa kendali dan cepat.
Kamu tak boleh menyamakannya dengan Soekarno. Kata-kata yang keluar mampu membakar semangat massa. Hati pendengarnya akan bergemuruh dan siap mengikuti tiap yang diperintahkannya. Layaknya Hipnotis yang tak menghilangkan kesadaran manusia. Rasional dan tak terbendung. Ia pun tetap setia pada Indonesia dan banyak wanita.
Lain soal dengan mereka yang kerap berjanji di hadapanku, tak ada kata yang mampu menyakinkanku terhadap janji-janji mereka. Bahkan saya membuat sebuah kesimpulan subjektif bahwa manusia yang banyak berjanji lebih mudah lupa akan janjinya. Janganlah mudah percaya padanya.
Kalau saya pribadi masih ingat hanya saja belum terlaksana. Contohnya, ada janji mentraktir seseorang tetapi belum ada waktu karena sibuk (entah Ia atau saya). Saya juga pernah berjanji untuk membelikan baju yang seragam, namun belum kesampaian. Ini janji yang sudah lama, tapi masih saya ingat yaitu mengajak seseorang jalan-jalan bila skripsinya telah usai. Dan terakhir yang masih segar dalam ingatan ialah saat saya berjanji presentasi empat buku, tetapi belum terpenuhi karena pada hari senin yang telah kujanjikan tiada yang datang dan saya harus menunggu sambil dikerubungi nyamuk. Alhasil, saya pun pulang karena saya bosan menunggu. Pada sisi lain, ada rasa takut bila janji yang belum terpenuhi tersebut mengganjalku di akhirat kelak.  Jangan tanyakan padaku apakah mereka memiliki ketakutan yang sama sepertiku atau tidak.

Nov 18, 2017

Selain memperingati pergantian tampilan blog karena diejek jadul oleh arek2, melalui postingan ini saya pun perlu merayakan kehadiran catatan yang akhirnya menjadi buku. Tulisan yang lama mengendap dan tak pernah terpublikasi kemudian terkumpul dan dapat dikatakan layak menjadi buku. Yah, walau boleh disebut tak layak untuk dinikmati oleh umum. Dalam menyusunnya pun terkendala sumber dan bahan karena rata-rata bukunya banyak yang hilang atau dipinjam dan tak kembali. Mbuh lah.
Pastinya butuh keberanian karena saya ini pemalu. Walau banyak yang bilang malu-maluin, tapi jangan percaya sama mereka lebih baik percaya sama Gusti Allah saja. Mungkin saja dirimu suatu hari nanti akan menemukan cover yang berbeda, tebal buku yang tak sama atau bahkan judul yang juga berbeda karena buku ini belum masuk Best Seller editor buku sehingga apa adanya. Saat menyeleksi tulisan-tulisan di dalam buku yang aslinya 408 halaman ini, banyak tulisan yang bersifat privat dan tak layak konsumsi publik. Barangkali engkau nanti hanya dapat menikmati buku esai ini yah sekitar 250 halaman saja. Mungkin bisa kurang. Terserah penerbit yang mau menerbitkan. 😁
Yang saya herankan ialah teman-teman yang sudah tante-tante atau menjadi bapak-bapak malah yang ingin membacanya. Padahal tulisan-tulisan di dalam buku ini untuk mahasiswa. hehehehe...
Secara substansi, saya berharap tak ada perubahan yang fundamental. Bolehlah kata-kata kasar atau vulgar disensor atau dihapus. Tapi, eman rek. hehehehe...
Masalah judul dan cover Insya Allah ganti. Dan saya berharap judul dan covernya seperti di atas.
















Jul 19, 2017

Kejadian tahun 2009 seperti dipersiapkan untuk menghadapi masa-masa seperti ini. Menghabiskan hari dalam sebuah ruang gelap ketika jutaan manusia menyambut kemenangan. Boleh dikatakan tahun 2009 merupakan masa kelam. Dan apesnya, giliranku untuk menyambutnya. Merayakan hari raya di Telang yang mayoritas penghuninya mudik. Akan engkau temukan satu-satunya rumah yang terang benderang di Telang dan itulah kontrakanku. Kampus yang masih dikepung sawah bukan rumah sehingga kau dapat menemukan kunang-kunang maupun makhluk-makhluk berseliweran di rumah hantu. Motor tak ada. Warung dan Bank tutup. ATM terblokir. Kawan-kawan semua mudik dan televisi sibuk memberitakan info mudik tiap jamnya seperti tiada berita lain yang layak dijadikan berita. Sempurna. Benar-benar Bad The Bah.
            Lebaran tahun ini hampir mirip dengan tahun 2009 hanya saja berbeda rasa. Semangat mudik pun tidak. Si Mbak heboh karena mimpi bertemu Ayah. Saya hanya menanggapi sekenanya. Ia tak tahu jika tiap hari saya kerap bertemu dalam mimpi. Orang lain barangkali akan mengatakan bahwa karena saya memakai selimut yang dipakai almarhum saat meninggal dan bukannya dipendam. Tentu saja saya tolak pemikiran tersebut karena pertama saya butuh selimut yang hangat dan kedua kalau dipendam menjadi tidak bermanfaat.
Pada malam takbir rumah di Rembang gelap gulita. Bukan karena saya malas menghidupkannya, melainkan memang lampunya mati dan saya malas menggantinya. Saya biarkan demikian agar lebih hemat listrik dan saya memang sudah terbiasa dengan kegelapan. Suara takbir terdengar sayup-sayup dan lebih didominasi suara binatang malam yang berada di hutan depan rumah. Betul, di rumah tiada siapapun kecuali saya, satu-satunya manusia di tempat itu. Kodok yang dapat menempel tembok dan melompat tinggi serta makhluk-makhluk lain tak perlu dihitung. Ayah yang tinggal disana sebelumnya memang sudah tiada. Bahkan saat beliau meninggal pun tak ada air mata yang menetes. Seolah air mata ini sudah menangis bertahun-tahun silam sehingga tak perlu menangis lagi. Seakan saya sudah tahu bahwa hari itu akan tiba waktunya dan mental pun sudah siap. Alam tak memberikan tanda apapun. Pagi itu telampau biasa dan terasa tak istemewa untuk menghentakkan kesadaranku bahwa Ayahku tiada.
Akhir-akhir ini, sebagai bujang, saya seperti melihat kilasan-kilasan masa lalu yang tak pernah kualami namun ada kehadiranku di sana. Saya sering sulit tidur. Bangun pagi sudah berada di depan laptop dan tertidur di bawah ranjang dengan buku-buku berserak di sebelahku. Terkadang kutemukan kamar kos sangat bersih dan rapi, ada kalanya berantakan seketika. Ah, jangan salahkan saya.
Saya kerap mendapati mahasiswa menatapku dengan mata takut dan menghindar, meskipun saya selalu tersenyum. Seperti saya pernah melukai mereka.  Atau tatapan benci atau mengejek dan berusaha menjauh pun ada. Saya tak mempermasalahkannya karena pada dasarnya lebih suka menyepi. Kau akan seperti melihat tulisan “stay out of my territory” melayang di udara. Saya sedikit terhibur tatkala melihat mahasiswa berbohong dimana mereka tak sadar kebohongannya sudah kuketahui. Saya hanya dapat mengumpat dalam hati, “Don’t bullshit a bullshitter”.
Saya tak takut dibohongi, saya hanya benci dibohongi. Saya perlu mencari udara segar yang bebas polusi kebohongan. Dengan menyendiri atau menjadi diri sendiri.

Ronaboyd