Ronaboyd Mahdiharja

Sebuah goresan nan Pribadi mengenai metamorforsis dalam alam pemikiran perjalan menjadi manusia.

Jan 16, 2019




Awal tahun 2019 kulihat kamar nampak rapi, meski wanita yang merapikan kelihatan kurang puas. Setidaknya, mulai tahun ini segala hal yang sering berserakan sudah ada yang merapikan. Ia nampak seperti Marie Kondo yang mengguncang dengan bukunya The Life-Changing Magic of Tidying Up yang diterjemahkan oleh penerbit Bentang menjadi Seni Beres-Beres dan Merapikan ala Jepang. Dari kebiasaan beres-beres itu, Marie Kondo bajakan itu seperti menegaskan bahwa ruangan yang bersih mampu menghadirkan kejernihan pikiran.

Orang-orang yang telah berbenah secara menyeluruh dan tuntas, sekaligus, mengalami perubahan hidup yang dramatis, tanpa kecuali.

Apalagi setelah melewati tahun 2018 yang penuh sentimen dan emosi. Tahun ini perlu fokus pada hal-hal yang perlu dan penting-penting saja. Kesadaran. Itulah yang pertama perlu kulakukan, baik itu melipat, menyimpan, atau membuang kenangan sesuatu yang penting. Atau aku yang harus menepi dan menjauhkan diri dari sesuatu yang dianggap menimbulkan kekacauan. Hmmm... lebih tepatnya aku harus sadar diri bahwa kehadiranku hanyalah debu-debu diantara ribuan galaksi yang tak begitu penting. Well, lebih baik begitu. 

Tenang saja, saya sudah sangat biasa poker face terhadap semua yang hadir dalam hidup, termasuk marah dan sedih. Dua hal yang sudah kujauhi beberapa tahun terakhir. Yah, meski terkadang amarah itu justru keceplosan hingga menyamai amarahnya Fir’aun. Setelah kurenungkan amarah macam Fir’aun itu mungkin bukan karena permasalahan dunia dan seisinya yang kulihat sangat receh serta enteng-enteng saja. Barangkali amarah itu berkaitan dengan kekhawatiran atau kecemasan yang bersinggungan pada salah satu kaidah dalam ushul fiqh, dar'ul mafaasid muqaddamun alaa jalbil mashaalih.

Satu hal yang kusuka pada tahun ini ialah tahun politik. Tahun penuh hiburan dengan politik sebagai mainan yang cuma guyonan. Seperti kata Vito Corleone dalam The Godfather karya Mario Puzo, keuangan adalah senjata, politik ialah tahu kapan harus menarik pelatuknya. Tahun ini pun saya bayangkan akan banyak pelatuk yang memicu tawa dan ketegangan.

Kejahatan macam apa yang akan ditarik pelatuknya pada tahun ini, saya tak tahu. Jadi, teringat ucapan Balzac dalam The Human Comedy bahwa behind every great fortune, there is a crime. Cukuplah menikmatinya. Marilah kita sedikit memilintir sindiran Vito Corleone kepada anaknya, a man who doesn’t spend time with his family thoughts, can never be a real man!

Jan 6, 2019














-     untuk para gadis


kau, sayang, menjadi kesayangan waktu,
sekulum senyum dengan gurat kerutan, kelak
tenang menatap mentari dengan
ketabahan pasir yang berlari,

mungkin kau kan menggoda,
tapi waktu menjawab,
“aku tak akan menyangkal;
juga tak perlu menjelaskan –
apa yang kau lihat dalam diriku.”

nyala lelampu di taman kota
nampak bangku-bangku menghuni senja,
tak ada yang dapat diucapkan, hanya duduk
memandang keributan musim-musim
suci yang bersemayam,

kesiaan, bintang-bintang, buku-buku,
mereka tak dapat membantu
karena terjatuh dan menjadi perahu,

semua hal dalam hidupmu–
menjalar dan berayun waktu luang
saat hujan mengetuk atap
dan jendela yang sembab.

Surabaya, 06.1.18



Di Tepian Waktu yang Kau Ingat


Oh, andai angin mampu berbisik pada awan hitam
Saat matahari bergumam di antara bukit dan jurang;
Andai tiap huruf tertulis jelas di sungai kecil yang
mengitari desa dan kota tanpa rasa bimbang,
dan kisah bintang-bintang kecil yang turun dari langit,
hitunglah kerlip mereka di angkasa yang berusia jutaan masa.

Andai samudra yang ditimang-timang mampu menyingkap
Segala yang lewati gurun terpendam emas,
Menyemburkan urat-urat gema:
Air mata bercampur tetes permata,
Bayang-bayang malam, tercipta tidur.

Gema, menaiki tahta
Mengulangi melodinya –kata dan nada
Buat hati pendengar suka cita:
Berbisik, bersumpah -desah.

Surabaya, 05.1.19



Berandai Pada...