Ronaboyd Mahdiharja

Sebuah goresan nan Pribadi mengenai metamorforsis dalam alam pemikiran perjalan menjadi manusia.

Jan 6, 2020

Catatan Si Pemalas #24





“J****k!”

Sekitar jam 09.00 pagi sudah kena makian dari orang nomer tiga yang kuharap tak jumpa. Ia menghampiriku. Memberiku senyum dan gaya jalannya yang khas parlente itu. Sejak awal bertemu, aku dan dia sudah saling menegaskan tidak pernah akan cocok sama sekali. Yah, semua itu terjadi pada forum diskusi dan debat.

“C****K! WA ora dibales, bareng diWA maneh wes centang siji.”

“Sepurane, crut. Oleh karena suatu hal, hpku rusak dan nomerku wes habis masa aktife.” Awal bulan November mungkin, karena hal tak terduga ponselku wafat selamanya. Diperbaiki pun lebih baik beli yang baru. Di sisi lain, nomer ponselku pun masa aktifnya habis. Mengurus SIM card membuatku malasnya gak ketulungan. Alhasil, beli baru semuanya.

Aku memaklumi amarahnya karena pesannya tertimbun dengan pesan-pesan yang lain ketika aku fokus menjawab beberapa pertanyaan di salah satu group. Untunglah di sekitar gazebo tak banyak orang.

“Pertanyaanku bien pie, crut?”

“Pertanyaan sing endi? Aku lali.”

“C***k!”

“Sek... sek... awakmu arep ngombe opo?”

“Halah, terserah.”

Walau kami tak akan pernah saling cocok, aku tetap harus memuliakan tamu dan seorang manusia. Hubungan kami agak membingungkan. Disebut teman, kami sudah tidak cocok dari berbagai hal. Bahkan secara blak-blakan di depan umum Ia mengatakan membenciku. Disebut musuh, aku tak ingin memiliki musuh. Di sisi lain, ia juga sering mengkritik pandanganku meski aku dapat mematahkannya. Bagiku dan mungkin beberapa orang, Ia adalah orang keras kepala yang pandai dan cerdas, tapi salah jalan. Sesat lagi menyesatkan. Suatu ketika, aku pernah mengkritik habis caranya belajar. Intinya, Ia adalah tipikal manusia yang malas kutemui, namun tak bisa kubenci.

Kebingungan tersebut menarikku untuk membahasnya dalam perspektif Derrida. Pada buku The Politics of Friendship, Derrida mengawalinya dari kontradiksi Aristoteles “O philoi, Oudeis philos” (wahai teman-teman, tidak ada teman). Derrida melihat ungkapan tersebut sebagai suatu sentimen aneh, ada pengakuan sekaligus negasi. Ia tertarik melihat kemungkinan baru dari ungkapan tersebut.

Ada yang melihat persahabatan bersifat abadi dan berirama layaknya musik. Mungkin bagi yang lain persahabatan adalah bagian dari nostalgia dengan keintiman sporadis dan berbagai percakapan yang telah lama ditinggalkan. Kita memilih teman atau kawan untuk hal-hal serius, sebagian hanya pada saat bersenang belaka. Beberapa menutupi kekurangan kita, dan lebih banyak merepotkan. Derrida ingin membongkar itu semua dalam bukunya.

Aku mendengarkan permasalahannya, mematahkan pendapatnya, dan memberikan pandanganku. Ia terdiam. Barangkali akan berbeda jika hal ini terjadi di suatu forum atau diskusi terbuka karena dia akan membantah pendapatku. Tindakannya itu justru kian memperlihatkan kebodohannya setelah susah payah mempertontonkan kecerdasannya. Ia tak mau kalah di forum-forum besar. Namun, kali ini kami hanya berdua.

“Awakmu ngerti,crut. Sejak pertama ketemu aku sudah gak suka dan benci awakmu.”

“Ora ngerti dan ora peduli. Toh, semua itu tak menyakiti dan merugikanku,” kataku sambil ngakak.

“C****K! malah nggegeg. Ketawamu dikurangi, c***k!”

“Inna min khiyari ummati qauman yadhakuna jahran min sa'ati rahmatillah, wa yabkuna sirran min khaufi adzabi.”

“Saiki moco ihya’?”

“Lagi mendalami ulang iki. Serius ngapalno.”

“Ora usah moco-moco kitablah, crut. Awakmu sing bien-bien wes menyebalkan, ketambahan moco-moco kui aku malah soyo benci.”

“Knopo to? Cek bencine.”

“Yoiku, c*k. Buatku, pendapatmu iku hampir selalu benar dan masuk akal. Ora usah ditambahi dasar-dasar agama. Aku malah wedi, c*k.”

“Itu kan berasal dari dirimu sendiri yang mengingkari kebenaran. Salah siapa menyakini kebenaran, tapi tidak dilakukan?”

“Oh iya, gara-gara peringatanmu kae aku sering kena masalah, crut.”

“Sing ndi?”

“Yang terakhir awak dewe ketemu.”

“Njiir. Wes suwi. Aku lali lah.”

“Awakmu pernah ngomong kalau orang yang tidak mau mendengarkan nasihat atau mengatakan ‘jangan campuri urusanku’, suatu saat orang lain takkan peduli dengan urusannya.”

“Oalah. Aku lali je.” Jawabku sambil terkekeh"

“Semenjak itu, crut, ora ono blas sing berempati dengan permasalahanku. Bahkan sampe urusan remeh, crut. Aku jadi ngerti alasane dirimu bien nyebut aku manusia libersos, yo?”

Aku tak bisa menahan tawa mendengarnya. Sebenarnya itu adalah ejekan untuk orang liberal nan egois, tetapi ketika masalah itu menimpanya Ia berseru lantang macam orang-orang sosialis. “Ora iku, tapi quasi libersos.”

***

Benar. Aku pernah kecewa karena dikhianati. Sering kecewa jika ada yang tidak percaya padaku. Sangat kecewa bila amanah yang kuberikan dimanfaatkan untuk pribadi atau dirusak. Aku pun kecewa melihat yang seharusnya dijaga malah tidak dijaga, yang seharusnya dinasihati malah dibiarkan saja. Akan tetapi, aku kecewa pada diriku sendiri karena tak bisa mencegah hal tersebut. Aku kecewa pada diriku karena terlalu naif dan mudah percaya sehingga sering dibohongi dan dibodohi. Aku kecewa pada diriku sendiri karena mudah menaruh harapan pada manusia, bukan kepada Allah SWT. Anehnya, semua rasa itu tidak pernah berasal dari dirinya. Sebaliknya, semua luka itu berasal dari peristiwa-peristiwa bersama teman atau orang-orang terdekat. “No friend without the possible wound. The tension between friendship and enmity would be pharmacological,” kata Derrida dalam bukunya itu.

Narasi persahabatan membuat Derrida terus membayangkan masa depan yang akan melampaui kematian. Hal ini dapat dilihat dari tulisan Derrida yang lain saat mengenang Lyotard, yaitu Lyotard and Us. Pada tulisannya tersebut, Derrida memperlihatkan kepada kita bahwa terlibat dan bergulat dalam ide-ide orang lain dapat menjadi salah satu bentuk ungkapan persahabatan sekaligus penghormatan. “How to leave him alone without abandoning him? How to, without further treason, disavow the act of narcissistic remembrance so full of memories to cry or make cry about?” tulis Derrida dalam Lyotard and Us.

Pergulatan pengalaman manusia perihal persahabatan memberikan kita suatu pemahaman ikatan sosial dan bayangan masa depan kolektif. Cara kita berduka, cara kita mengenal dan melihat orang tidak hanya ditentukan hubungan kita dengan masa lalu, tetapi juga segala kemungkinan masa depan. Pada The Politics of Friendship, Derrida memberikan pesan atau sebutlah wasiat yang berani dan tidak egois: “Demi persahabatan dalam cinta, tidak cukup hanya tahu bagaimana menanggung duka pasangannya: seseorang harus mencintai masa depan.”

Pada dunia yang makin nisbi. Banyak kutemukan ‘kematian’ sebelum waktunya. Duka, kenangan, dan pelestarian kewarasan terikat pada tanggungjawab untuk hari esok. Sayangnya, hal ini tidak dapat dilihat dengan bijak. Alih-alih mencintai masa depan, pasangan suami istri merobohkan tiang-tiang penyangga rumah dengan eskavator. Dapat ditebak, tindakan mereka berdasarkan ego masing-masing pihak. Ego yang mengarahkan mereka ke masa depan paska kehilangan memiliki konsekuensi memori atau warisan dari apa pun atau siapa pun yang telah rata oleh tanah.

Mungkin tahun inilah puncak histeria masal yang telah menjadi sampar.

***

The intimacy of friendship lies in the sensation of recognizing oneself in the eyes of another. 
Keintiman persahabatan terletak pada sensasi mengenali diri sendiri di mata orang lain. 
(Derrida, The Politics of Friendship)

Kulihat wajahnya sudah mulai menua. Kuberikan alternatif-alternatif solusi dan pandanganku terkait masalahnya. Sesekali kuajak bercanda agar sedap kupandang raut wajahnya. Walaupun aku tahu semua nasihat atau solusi yang kuberikan padanya tak akan dilakukan. Alasannya sudah pasti jelas, dia mencari celah argumentasinya sendiri dari lawan yang sebanding. Dengan begitu, Ia akan mencari siasat untuk mengelak atau menutup celah hal-hal buruk yang dapat terjadi pada dirinya.

Dia sendiri yang memberikan perumpamaan. Apabila Rasulullah punya Jibril yang menjadi pendamping dan menunjukkan jalan yang lurus. Baginya, aku adalah orang yang dapat menunjukkan kelemahannya agar dia bisa menutupi kelemahan itu di hadapan orang lain. Hal itulah yang menyebabkan aku malas menemuinya.

Kadang aku berpikir, mengapa Allah mempertemukan diriku dengan manusia macam itu? Jawaban sementaraku, intinya, bagaimanapun juga meski bukan teman maupun musuh, aku masih harus memuliakannya sebagai seorang tamu dan manusia.

1 comment:

  1. Yuk Merapat Best Betting Online Hanya Di AREATOTO
    Dalam 1 Userid Dapat Bermain Semua Permainan
    Yang Ada :
    TARUHAN BOLA - LIVE CASINO - SABUNG AYAM - TOGEL ONLINE ( Tanpa Batas Invest )
    Sekedar Nonton Bola ,
    Jika Tidak Pasang Taruhan , Mana Seru , Pasangkan Taruhan Anda Di areatoto
    Minimal Deposit Rp 20.000 Dan Withdraw Rp.50.000
    Proses Deposit Dan Withdraw ( EXPRES ) Super Cepat
    Anda Akan Di Layani Dengan Customer Service Yang Ramah
    Website Online 24Jam/Setiap Hariny

    ReplyDelete