Ronaboyd Mahdiharja

Sebuah goresan nan Pribadi mengenai metamorforsis dalam alam pemikiran perjalan menjadi manusia.

Jan 4, 2020





Ia menyelisik sesuatu yang kupegang. Ada rasa segan untuk menggangguku. Bukan lantaran buku yang sedang kupegang, melainkan benda yang melekat di telingaku. Benda itu sengaja kupakai agar dapat fokus membaca meskipun tidak sedang mendengarkan musik. Namun, gelagatnya yang ingin mengajak bicara malah mengganggu konsentrasiku.

Aku tersenyum padanya dan melepas earphone di telingaku. “Pripun, pak? Ada yang bisa kubantu?”

“Buku apa yang dibaca?” tanyanya. Bapak itu berusia sekitar lima puluh tahunan dengan uban yang telah mulai tumbuh. Kulitnya putih khas etnis Tionghoa. Kuserahkan buku Interpretasi dan over interpretasi karya Umberto Eco padanya. Kemudian, di atas kereta sepanjang perjalanan menuju Yogyakarta kami membicarakan banyak hal. Dari masalah ramah tamah hingga masalah yang sedang hangat. Tetapi, ada suatu obrolan yang membuatku terkesan sekaligus membuatku tercenung saat sampai di stasiun tujuan.

“Indonesia ini jumlah muslimnya terbesar di dunia, tapi bodoh-bodoh.” Ia memulai pembicaraan yang kontroversial.

Aku kaget dengan pernyataannya itu. Lalu ia mejelaskan. “Perintah pertama mereka kan disuruh membaca. Temanku yang islam jarang yang suka baca. Baca buku itu kan paling gampang dibanding melihat kondisi sekitar. Itu aja malas, eh sok-sokan jadi pakar.”

Ternyata bapak itu paham konteks membaca dalam surat tersebut. Ia mendapatkan pemahaman tersebut dari temannya. Setelah itu ia jadi rajin membaca dan menyuruh anak-anaknya untuk senang membaca. Baginya mungkin itu sudah cukup, namun bagiku belum.

Aku akan coba membedah ayat yang dimaksud beliau, yakni surat Al-Alaq ayat 1-5. Aku menguraikan surat tersebut dengan ringkas. Tentu saja ada versi panjangnya, tetapi tidak pada tulisan ini. Semoga Allah memberikan kekuatan dan kesempatan untuk menuliskan versi lengkapnya.

Sebenarnya, dari pembedahan tersebut diriku memiliki rumus atau kiat dalam mempelajari ilmu dunia:
  1. Berdoa
  2. Membaca
  3. Menganalisis dan berdiskusi
  4. Menulis
  5. Berterima kasih kepada Allah dan penulis buku
  6. Mengamalkannya.

Ada dua kali perintah iqra’. Iqra’ yang pertama ingin menegaskan perbedaan membaca biasa dengan membaca yang benar. Pada ayat pertama, ketika akan membaca harus menyebut nama Allah yang telah menciptakan segala sesuatu. Kecelakaan membaca tanpa berdoa atau menyebut nama Allah ialah kesalahan dalam menyimpulkan atau tidak meresapnya ilmu dalam qalbu manusia. Ayat pertama ini mengukuhkan bahwa Allah pemilik segala sesuatu. Dari sesuatu yang tiada menjadi ada, dan sebaliknya yang mulanya ada menjadi tiada. Termasuk ilmu. Atas kehendak Allah, siapapun dapat dicabut atau diambil lagi ilmu yang dimilikinya. Atau Allah ganti dengan ilmu yang lain. Hal ini tergantung dari tingkat konsistensi pemegang ilmu, salah satunya adalah mengajarkannya kembali dan mengamalkannya. Ada hadist yang membahas lengkap perihal ini.

Ayat kedua pada surat Al-Alaq hendak mengingatkan asal-usul kita. Perihal ini aku teringat kisah salah seorang sahabat, Abu Bakar jika tidak salah ingat. Sahabat Rasulullah tersebut kerap mengingatkan orang sombong dan angkuh dengan istilah ini. Diriwayat lain ada juga yang mengingatkan orang sombong atau angkuh dengan istilah “air mani”. Aku belum mengecek kembali terkait hal ini.

Posisi manusia yang berasal dari segumpal darah memberikan suatu pemahaman bahwa kita dulunya bukanlah apa-apa. Apakah orang tua kita pernah mengajarkan cara merangkak, menangis, tertawa, berdiri? Lantas, siapakah yang mengajarkan itu semua jika bukan Allah? Insting? Siapa yang menaruh insting pada diri kita sejak lahir kalau bukan Allah? Istilah insting adalah pemberian yang melekat pada manusia karena berangkat dari kebingungan manusia untuk menjelaskan hal-hal yang tanpa perlu dipelajari sejak lahir.

Ayat ketiga terdapat perintah “bacalah” lagi. Perintah ini berbeda dengan perintah “bacalah” yang pertama, tetapi memiliki maksud mengukuhkan. Iqra’ yang pertama aku menakwilkannya dengan kata terakhir, khalaqa, saat diriku benar-benar kosong, nihil, hina, dan bodoh. Tak memiliki apapun, hingga Allah menghadirkan pengetahuan dan pemahaman atas sesuatu dari yang kubaca. Pengetahuan dan pemahaman tersebut semakin bertambah setelah melalui proses analisis dan diskusi.

Iqra’ kedua berkaitan dengan kata Al-Akram, sifat Allah yang Maha Pemurah. Dapat pula kata tersebut dimaknai memberikan sesuatu yang pantas, tanpa pamrih, mulia, dan bernilai tinggi. Sifat inilah yang perlu diresapi. Segala sesuatu yang kita peroleh dari Allah melalui membaca tak boleh berhenti pada diri sendiri. Harus disebarkan dan diajarkan pada orang yang belum mengetahui, namun dengan memerhatikan makna dari kata Al-Akram. Hal ini memiliki maksud untuk melihat kondisi serta kepantasan atau kelayakan dari si penerima ilmu. Ilmu yang kuajarkan dan berikan cukup Allah yang membalas dengan cara-Nya sendiri. Jikalau hal tersebut dirasa sulit maka perlu dilatih.

Ayat keempat memiliki keterkaitan dengan ayat sebelumnya. Secara garis besar salah satu sifat pemurah Allah ialah mengajarkan manusia melalui Al-Qalam yang biasanya diartikan sebagai pena. Sesungguhnya, ada banyak tafsir perihal bentuk dari Al-Qalam sehingga menunjukkan berbagai maksud. Ada yang menafsirkan bahwa Qalam adalah pena yang diciptakan Allah untuk mencatat segala kejadian atau takdir sebelum penciptaan. Ada juga yang memaknai Al-Qalam sebagai tulisan (hasil kerja dari pena).

Begitu umumnya makna dari Al-Qalam, kita dapat memaknainya sebagai pena takdir Allah dan bisa juga menganggapnya sebagai tulisan. Maka daripada itu, perlu melihat ayat berikutnya: Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. Apakah pena takdir Allah mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya? Bisa saja, namun tidak semua kejadian atau takdir dapat dipahami dengan baik oleh manusia. Belum lagi perihal macam takdir yang dapat diubah dan tak dapat diubah. Hal tersebut terlalu membingungkan dan njlimet untuk diuraikan pada orang awam.

Aku sendiri lebih nyaman dengan pemahaman bahwa maksud Al-Qalam pada konteks ini adalah tulisan. Menurut beberapa ulama, ada beberapa sarana untuk menyimpan ilmu: otak, hati, lisan, dan tulisan. Tulisan memiliki keistimewaan bagi manusia. Konon, nabi Idris A.S adalah orang pertama yang mengajarkan manusia baca tulis.  Tulisan memiliki sejarah panjang yang menunjukkan tingkat peradaban manusia karena dapat ditelusuri jejaknya. Ia berisi kalimat, kata, huruf, dan tanda. Proses menulis pun pada dasarnya melibatkan berbagai indera, termasuk otak dan hati. Melalui tulisan, Al-Qur’an dapat dibaca dan dihafalkan sehingga terjaga kemurniannya (karena ada bukti autentik: tulisan dan hafalan). Intinya, tulisan merupakan sarana mengikat ilmu. Sifat lupa adalah hal yang wajar bagi manusia sehingga butuh pengingat atau pengikat yang dapat dibaca ulang.

Sadar atau tidak sadar, lahirnya tulisan merupakan suatu bentuk kekuasaan Allah. Melalui tulisan, kita dapat membaca dan mengetahui perkembangan ilmu pengetahuan dan pemikiran manusia. Ini adalah suatu bentuk nikmat dari Allah yang Maha Pemurah untuk mengenalkan dan mengajarkan kita melalui manusia-manusia yang menulis. Entah itu dari masa silam, saat ini, maupun yang akan datang. Kita menjadi mengenal orang-orang yang disebut dalam tulisan itu maupun karakter si penulis.

Ayat kelima surat Al-Alaq meneruskan ayat ketiga dan keempat. Selain itu, meneguhkan makna dari ayat kedua. Kata manusia pada ayat ini terdapat beberapa tafsir: Nabi Adam A.S, Nabi Muhammad SAW, dan manusia pada umumnya. Aku lebih condong dalam pemahaman manusia pada umumnya karena sejak lahir tidak memiliki kemampuan atau ilmu sehingga terangkatlah harkat kehormatan manusia karena ilmunya. Menariknya, surat ini tidak hanya memberitahu asal usul manusia, tetapi juga cara manusia memperoleh ilmu pengetahuan tentang dirinya dan segala hal yang diciptakan Allah. Maka daripada itu wajarlah bila kita harus berterima kasih kepada Allah pemilik ilmu dan juga orang-orang yang mengajarkan ilmu (pada konteks ini adalah si penulis buku).

Wallahu a’lam bish-shawabi
***
Aku memberitahukan bapak itu bahwa membaca saja tidak cukup kalau dilihat dari makna surat Al-Alaq ayat 1-5. Perlu analisis, diskusi, dan juga menulis lalu disebarkan. Oleh sebab itulah, para pencari ilmu membutuhkan mentor atau guru yang paham ilmu yang akan dipelajarinya. Ada banyak hadist terkait ini. Pada sisi lain juga perlu memperhatikan sesuatu di luar ilmu, yakni adab.

Bapak itu manggut-manggut dan memberikan beberapa pertanyaan. Aku menjawabnya sesuai pengetahuanku dan semampuku. Nampaknya, jawabanku cukup memuaskannya.

Di stasiun kami berpisah dan berjabat tangan.

Di stasiun aku tertegun cukup lama. Betapa Pemurahnya Allah memberikan ilmu kepada semua manusia dan mengikat ilmu pada manusia yang dikehendaki oleh-Nya. Secara tersirat bapak itu membenarkan cara-cara Islam, namun hidayah tak kunjung hadir padanya. Buru-buru aku ke mushola untuk sekadar sujud syukur. Aku takut pintu hidayah sewaktu-waktu tertutup dariku: mengakui kebenaran-Nya, tapi tak menjalankan perintah-Nya.

Pertemuan tersebut membuatku mempertimbangkan kembali untuk menutup blog ini.

Dec 30, 2019


Kepada diriku, mari kita ucapkan selamat tinggal pada tahun yang penuh luka, kegagalan, air mata, dan juga sehimpun syukur. Inilah tahun pembelajaran hidup dan misteri manusia yang kita jumpai di persimpangan jalan, trotoar, di atas bus, kereta dan bahkan di dunia tanpa tapal batas. Mari kita sampaikan terima kasih pada mereka semua.

Kepada diriku, mari kita sambut tahun mendatang pada hal-hal yang perlu dan penting. Sebab, itulah tahun yang penuh hukuman atas konsekuensi kegagalan dan kecerobohan. Masih ada lima, sepuluh, atau mungkin malah dua tahun lagi untuk segera menuntaskan segala sesuatu yang terlupakan.

Mari akhiri tahun ini dengan berziarah pada semiotika Eco yang nampak lapuk dan berdebu.

Dec 23, 2019



Minggu lalu aku telah memposting bagian pertama. Setelah menyelesaikan tugas akhir tahun yang banyak menumpuk, akhirnya ada waktu luang untuk memposting bagian kedua. Inilah 10 buku terbaik yang kubaca pada tahun 2019 bagian kedua.

6. Empat Aku – Yudhi Herwibowo

Menikmati kumcer yang ditulis pada tahun yang berbeda tentu menyenangkan. Aku pun menikmati cerita-cerita dalam buku kumcer ini. Aku menikmati kisah yang berubah dari waktu ke waktu, variasi teknik penceritaan, juga obsesi penulis, dan tak lupa kisah-kisah lokalitas yang begitu dekat denganku. Cerita-cerita tutur di desa menjadi favoritku, seperti mengingatkanku pada tanah kelahiranku. Kampung rampok terasa begitu dekat. Penulis mengakhiri cerita dengan mengesankan:

Datanglah kalau kau berani!
            Singgahi kampungku, kampung rampok! Kampung yang kami sendiri takut untuk tinggal...

Start with a pisser, end with a pisser, begitulah kira-kira penulis mengisahkan ceritanya. Kisah “Tanah Kabut” terasa begitu intim dengan penulis. Kematian dan desa begitu lekat dengan cerita-cerita Yudhi. Akan sangat menarik bila menganalisisnya dalam kaca mata psikoanalisis, entah itu Freud, Jung, atau Lacan. Sayangnya, aku tak memiliki waktu untuk menuliskannya.

Ah, satu lagi cerita “Empat Aku” begitu familiar. Konsep watak ‘ganda’ manusia dalam dunia sastra telah mengalami evolusi sejak abad pertengahan hingga kini. Kapan-kapan aku ingin mendiskusikan ini lebih jauh.



7. Yang Terkubur – Kazuo Ishiguro

Pada novel ini Ishiguro ingin menegaskan posisinya dalam ranah sastra. Ia tak ingin dengan mudah dikenal karena kategorisasi dalam sastra layaknya penulis-penulis besar lain. Ia adalah sastrawan yang lembut sekaligus kompleks. Novel Yang Terkubur memiliki inti kompleksitas teka-teki filosfis dalam tema-tema personal yang mendalam.

Setelah berhari-hari dihantui oleh akhir cerita, Ishiguro mengharuskanku untuk membaca kembali novel ini. Pada pembacaan kedua, karakter, peristiwa dan juga motif lebih mudah dipahami tanpa meninggalkan kesan misterius kehidupan manusia.

Novel sastra (yang serius), ogre, dan naga sungguh langka berjalan beriringan. Itulah kesan pertamaku pada buku ini. Ogre dan naga lebih banyak kutemui dalam genre fantasi sebagai alat dongeng, terutama karya-karya yang terinspirasi oleh Tolkien.

Berbeda dengan George RR Martin yang dengan percaya diri memadukan plot intrik kekuasaan dengan fantasi ala Tolkien, Ishiguro mengeksplorasi tema-tema Shakespeare dengan dunia fantasi Tolkien. Bahkan aku menemukan sesosok yang menyerupai Don Quixote. Pengaruh sastra dalam prosa Ishigura begitu kuat, elegan, dan cemerlang.

Sulur-sulur kabut mendekam di pedesaaan yang damai, melupakan pembantaian yang mengerikan. Ishiguro dengan sabar mengawali kisah dengan latar sejarah Inggris dan Saxon yang misterius. Masa tua, amnesia, penderitaan, cinta, dan perang tertutup kabut fantasi. Barangkali dengan itulah Ishiguro membuat metafora, menampung mitos, dan alegori di sisi lain.

Pada dasarnya novel ini adalah petualangan pasangan lansia dalam narasi yang terkadang puitis dan terselimuti kabut melankolis. Sebagai seorang novelis, Ishiguro merupakan novelis yang melakukan pendekatan bahasa dan karakter yang cermat. Berulang kali Ia berusaha menekan dan menyembunyikan makna. Dengan penuh percaya diri, Ia telah menulis novel dengan berbagai jenis yang berbeda sehingga karya-karyanya memiliki kualitas yang baik.

Penulis yang mengambil latar sejarah kerap terjebak pada parodi dan klise, tetapi Ishiguro memiliki variasi cara tersendiri untuk mengatasinya. Ia tidak cukup berani memberikan jawaban dari suatu pertanyaan yang memberikan denyut nadi buku karena memiliki konsekuensi menghancurkan.

Dapatkah luka lama sembuh sementara belatung masih hidup begitu mewah? Apakah yang telah terlupakan dapat kembali dan haruskah manusia menebusnya?

Bagaimanapun, Ishiguro adalah master ingatan yang memaksa pembaca terus terbayang dan mencari jawaban.


8. The Travelers – Regina Porter

Aku tidak yakin jika semua orang akan menyukai novel ini. Aku menyebutnya novel karena pada sampulnya mengatakan demikian, meski bagi pembaca lain akan menyebutnya kumpulan cerpen. Tidak salah memang karena novel ini memiliki plot yang rumit dan terputus-putus. Pada sisi lain, tidak ada pakem yang baku bahwa novel harus linier.

Porter mengemas cerita antar karakter dan waktu yang meloncat-loncat. Cukup menyulitkan untuk memikirkan pengembangan cerita, namun aku malah menikmatinya.

Kita akan disuguhi kehidupan beberapa keluarga yang berbeda warna kulit selama enam dekade! Porter menyisakan kronologi yang melompat melalui para tokoh, waktu dan tempat. Agak sumir untuk mendeskripsikan secara utuh. Misalkan, James Vincent Jr. Yang berusia empat tahun bertanya pada ayah, “mengapa orang butuh tidur?”. Sang ayah menjawab, “agar Tuhan dapat membuka semua hal yang telah dikacaukan orang.” Beberapa puluh tahun kemudian, cucunya menanyakan hal yang sama pada James Vincen Jr. Ia ragu dalam menjawab hingga akhirnya ia berkata, “Tidak ada yang tahu. Tidur adalah misteri.”

Saga beberapa keluarga antargenerasi ini sebenarnya memiliki jarak emosi pada tiap adegan yang seharusnya menggetarkan. Semua tokoh pada novel ini dipengaruhi berbagai pantulan dampak dari keputusan masa silam. Lantas, Porter mengemas ceritanya dengan cerdik dan terkadang kocak, seperti pola jahitan yang acak. Menariknya, ia membenturkan ilusi pilihan dan takdir.



9. Deaf Republic – Ilya Kaminsky

Berangkat dari rasa kecewa pada beberapa terjemahan puisi Najwa Zebian, “Bejana Pikiran” aku ingin membaca teks aslinya, “Mind Platter”. Pada situs belanja online aku menemukan nama Kaminsky di daftar rekomendasi sejenis. Berdasarkan judul dan sampulnya nampak sederhana dan menarik. Beberapa tahun belakangan aku kerap berhadapan dengan ketulian manusia. Aku tertarik terhadap konsep ketulian model apa yang hendak dibicarakan oleh Kaminsky dalam Deaf Republic. Dengan harga yang lumayan, tak masalah karena mumpung ada.

And when they bombed other people’s houses, we

protested
but not enough, we opposed them but not

enough. I was
in my bed, around my bed America

was falling: invisible house by invisible house by invisible house.

I took a chair outside and watched the sun.

In the sixth month
of a disastrous reign in the house of money

in the street of money in the city of money in the country of money,
our great country of money, we (forgive us)

lived happily during the war.
(Ilya Kaminsky – We Lived Happily During the War)

Puisi pembuka tersebut terlalu jelas untuk dihindari sebagai pesan politis. Sebagai pengantar, We Lived Happily During the War memberikan peringatan atas keterikatan tamsil pada puisi-puisi selanjutnya. Kerumitan dalam keheningan membuat Kaminsky mendefinisikan ketulian bukan dalam konteks mendengar. Ia mengajak kita mengevaluasi bahasa dan budaya yang kita kenal. Ia memberikan proposisi yang sebenarnya paradoks: ketulian sebagai bentuk perlawanan dan adegan puisi pembuka telah membuat seluruh kota menjadi tuli. Paradoks kota dan ketulian semakin kuat pada puisi On Silence,

The deaf don’t believe in silence. Silence is the invention of the hearing.

Lembar demi lembar puisi bergerak maju mengisahkan manusia dalam krisis, juga penaklukan, penyerahan diri, kematian tragis, dan juga semangat. Deaf republic sebagai pusat metafora memaksaku melihat lebih dekat dan mendesak dari yang kusadari sendiri. Warga kota yang berhenti ‘bicara’ dan menggunakan bahasa isyarat membawa gagasan kedamaian yang kerap relatif dan rapuh. Hal ini juga mengulik garis batas privat dan publik, apakah garis itu benar-benar ada?

Pada konsep individualisme, konsep privat dan publik memiliki garis tegas dan tebal. Paham ini membuat orang berpikir, jangan campuri urusan pribadiku: “Apakah masalahku akan menjadi masalahmu?” Sebenarnya, konsep ini tampak usang bagiku karena sejauh kutemui ada pertentangan dalam diri manusia yang menganut paham ini sehingga di lain kesempatan ia akhirnya berkata, “seharusnya masalahku adalah masalahmu.” Konsep garis batas inilah yang dituangkan Kaminsky melalui narasi dan liris pada As Soldiers March, Alfonso Covers the Boy's Face with a Newspaper:
...
Fourteen of us watch:
Sonya kisses his forehead—her shout a hole

torn in the sky, it shimmers the park benches, porch lights.
We see in Sonya’s open mouth

the nakedness
of a whole nation.
 ...


10. Steinbeck – Kepada Ilah yang Tak Diketahui

Barangkali jika aku membaca novel ini dalam kondisi normal, mungkin aku tak begitu menyukainya. Akan tetapi, kondisi dan tema yang diangkat Steinbeck pada novel ini begitu pas saat melihat berbagai kejadian aneh yang mendahuluinya.

Sebagai mantan mahasiswa Universitas Stanford yang tak tuntas kuliahnya, Steinbeck menjadi buruh selama menulis buku apalagi pada masa-masa depresi besar Amerika Serikat. Hal itulah yang kemudian membuat karyanya begitu realistis dalam menggambarkan kehidupan kaum buruh. Dari berbagai buku Steinbeck yang telah kubaca, novel ini yang terasa aneh, bukan seperti Steinbeck yang kukenal.

Buku ini menggambarkan bagaimana iman terhadap suatu hal terbentuk dan menyebar. Lantas berbenturan dengan iman dan keyakinan yang telah mapan. Yang menarik, bagaimana persepsi pada akhir novel memengaruhi rasa penasaran pembaca, siapa diantara Joseph dan Bapa Angelo yang tindakannya telah mendatangkan hujan? Keduanya percaya bahwa klaim mereka benar.

Steinbeck seperti kebingungan dalam menyusun dialog sehingga terasa kaku. Selain itu, tema yang diusung pun jauh berbeda: ritual mistis, spiritual, bercampur realis dan simbol-simbol alam. Ia seperti bermain-main dan mencoba hal baru sehingga aku perlu mencernanya secara pelan-pelan.

Setelah kutelusuri novel ini terbit sebelum karya-karya monumental Steinbeck seperti Dataran Tortila, Tikus dan Manusia, dan The Grapes of Wrath (dalam terjemahan bahasa Indonesia menjadi “Amarah”). Aku jadi sedikit memahami dalam melihat buku ini sebagai karya eksperimental Steinbeck dalam mencari karakter kepenulisannya. Aku membayangkan apa jadinya bila ia menyerah dan pensiun dini dari kepenulisan? Akankah aku bisa menikmati karyanya yang luar biasa itu? Atau kita tak akan melihat penyempurnaan gaya cerita plastis Pramoedya yang mengidolakan Steinbeck.

Dec 17, 2019








kemarin begitu gerah,
kini aku punya energi lagi
duduk di bawah sinar matahari
menapaki puing-puing kegilaanku

di seberang cakrawala
awan lama cumolonimbus
menghitung petir, aku berdiri
menyambut kata-kata terbangun dari istirahnya

kemiskinan seperti dadu yang dilemparkan di pemakaman,
kegagalan hanyalah konsonan tersamar,
hidup adalah memar yang perlahan hilang ditimpa luka lainnya,

suaraku lesap
bersama tetesan-tetesan
gema masa depan.

Surabaya, 12.12.19

Efek Samping Musim Kering

Dec 15, 2019






Pada dunia yang serba permisif, kata maaf seperti diskon akhir tahun. Ribuan hutan sengaja dibabat. Setelah memeroleh keuntungan, sang pelaku memohon maaf. Apakah kita akan memaafkannya? Tentu kita maafkan, namun apakah hutan akan kembali hijau dalam hitungan hari? Tidak. Butuh bertahun-tahun atau mungkin ratusan tahun.

Di meja sebelah, aku mendengarkan penuturan maaf sekelompok muda-mudi. Aku mengapresiasi keberanian mereka meminta maaf secara langsung karena kini banyak yang lebih suka melakukannya secara tidak langsung, melalui aplikasi pesan misalnya.

Salah satu dari muda-mudi itu berkisah. Ia telah meminjamkan tugas kelompoknya pada seorang teman dekat yang katanya “hanya ingin melihat”. Akan tetapi, sang teman malah menyalin persis tugas tersebut dan mengumpulkannya dengan anggapan “tidak akan diperiksa.” Kenyataannya, anggapan tersebut keliru. Kepercayaan sang teman telah dikhianati, dan justru merugikan kedua kelompok. Akhirnya, nilai dua kelompok tadi jeblok.

Aku yang pura-pura tak mendengarkan lantas diajak bicara oleh sang pemberi nilai. “Saya ingin memberikan pelajaran bagi kedua kelompok itu. Keduanya sama-sama salah.” Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Secara garis besar aku paham maksud beliau.

Pada dunia yang sudah serba permisif, manusia ingin serba instan dan meremehkan. Bagiku sendiri dunia semacam ini begitu membuatku kerepotan. Perubahan dan gap yang lebar mengharuskan memberikan batas saat berkompromi dan saat harus tegas. Bagi generasi saat ini tentu tak mudah dengan munculnya berbagai kemudahan yang mereka rasakan sejak lahir. Namun, kolega meja sebelahku ingin memberikan pembelajaran melalui pola kearifan berharga yang tak begitu asing bagiku. Keputusannya terlihat tidak adil dan cenderung kurang manusiawi.

Ungkapan Dworkin cukup mewakili, “no person should profit from his own wrong”. Seseorang tak boleh mendapatkan keuntungan dari kesalahannya. Pasti kalian bertanya, lalu mengapa yang lain kena imbasnya?

Ingatlah kisah seorang kekasih Allah (dalam beberapa riwayat disebutkan adalah Musa A.S) yang mempertanyakan azab yang menimpa seluruh kaumnya. “Yang maksiat hanya beberapa, mengapa malah semua yang terkena azab?” Pertanyaan tersebut terus bergema dalam benaknya hingga Ia tertidur di bawah pohon. Ia terbangun dan marah kepada semut yang telah menggigit dan mengganggu tidurnya. Saking murkanya, Ia bakar sarang semut beserta pohonnya. Sejurus kemudian, Ia menyadari jawaban atas pertanyaannya. Ia sadar telah berlaku kurang ajar terlalu banyak mempertanyakan yang bukan kewenangannya. Ia juga sudah tahu cara memperbaikinya dan agar tak terulang kembali: kepedulian dan saling menasihati.

Aku kembali dari perenungan dan mengawali tulisan ini dari kutipan pada sebuah esai Montaigne: apabila seseorang biasa bicara dan jarang menulis, itu artinya kemampuannya terletak pada tempat dari mana ia memperolehnya, dan bukan dalam dirinya sendiri.
***
7 Desember tahun ini merupakan hari akhir wuku Watugunung dan 8 Desember menjadi hari pertama wuku Sinta pada kalender Pawukon. Watugunung dan Sinta memiliki kisah yang menarik. Mereka adalah ibu dan anak yang dipisahkan oleh waktu dan agama. Jangan melihat hal ini sebagai pelanggaran HAM. Tolong. Mereka dipisahkan karena telah melakukan pelanggaran meski dasarnya menurutmu adalah cinta. Watugunung dan Sinta melakukan inses atau incest.

Kisah percintaan ibu dan anak begitu familiar dalam kisah rakyat Nusantara. Selain cerita Watugunung dan Sinta, barangkali pernah mendengar kisah Sangkuriang dan dayang Sumbi. Pada tataran dunia, Oedipus lebih dikenal dibanding kedua kisah tadi. Saking terkenalnya Oedipus, Freud menamakan salah satu tahapan psikoseksual anak-anak dengan nama Oedipus Complex. Meskipun sama-sama memiliki latar kisah tentang inses, namun ketiga cerita memiliki akhir yang benar-benar berbeda.

Tragedi Oedipus Rex oleh Sophocles mungkin lebih terkenal, tetapi menurutku kisah Watugunung dan Sangkuriang memiliki penyelesaian yang berbeda dan menarik. Padahal, dari hal tersebut kita dapat melihat solusi yang ditawarkan dalam suatu konflik. Untuk melihat kearifan dalam suatu kisah atau karya sastra, aku teringat Goethe. Sastra dalam sudut pandang Goethe begitu rumit sehingga perlu dipahami dan dihayati dengan serius. Goethe percaya bahwa sastra, baik itu belle letters maupun literature, merupakan dunia pemikiran maka mempelajari sastra sama halnya mempelajari filsafat. Sastra dalam filsafat bisa kita nikmati pada karya Dialog-nya Plato. Filsafat dalam sastra dapat dilihat melalui Orang Asing milik Camus atau Nausea karya Sartre. Anehnya, aku kerap menemui pecinta sastra seperti alergi terhadap filsafat.

Konflik yang dialami Watugunung berakhir dengan suatu kesadarannya untuk berpisah dengan sang ibu. Ia mengalah untuk kalah dari Wisnu yang berubah menjadi penyu setelah tahu telah melakukan perbuatan terlarang. Pengetahuan tersebut memunculkan kesadaran bahwa perbuatannya selama ini telah salah: membunuh ayah, meniduri ibu. Pencerahan Watugunung sangat berbeda dengan Oedipus yang memilih membutakan diri dan pergi berkelana bersama anaknya, Antigone. Katarsis dalam kisah Watugunung muncul ketika pembaca memasuki fase kesadaran Watugunung dan kutukan terhadap perbuatannya, sedangkan pada kisah Oedipus katarsis muncul ketika ia tersingkir dan mati.

Sangkuriang? Kisah ini begitu unik. Kesadaran dayang Sumbi tak diimbangi oleh Sangkuriang. Alih-alih sadar, ia murka hingga menendang perahu dan membuat perahu tersebut menjadi gunung. Akhir cerita begitu menggantung, dayang Sumbi menjadi bunga Jaksi dan Sangkuriang menghilang. Walau tak memiliki solusi dalam konflik, kita dapat mengambil hikmah dari kisah Sangkuriang.

Pola pendekatan penyelesaian masalah dari ketiga kisah tersebut berbeda. Watugunung memilih pendekatan ritual dan spiritual, Oedipus condong pada pencarian makna setelah merasa kehilangan semua arti hidup (membutakan diri dan berkelana). Sedangkan pada kisah Sangkuriang, menurutku sangat khas Indonesia. Seperti pendapat Kuntowijoyo bahwa masyarakat Indonesia cenderung menghindari konflik sehingga masalah yang sebenarnya dapat terselesaikan malah tidak terselesaikan. Efeknya, masalah tersebut dibiarkan berlarut-larut dan hilang dengan sendirinya. Akan tetapi, menurutku masalah tersebut tidak akan hilang. Ia akan tersimpan sampai generasi-generasi berikutnya membentuk watak generasi berikutnya. Sejatinya, permasalahan tersebut menunggu untuk diselesaikan.

Aku pun teringat hari penghakiman Allah yang menyelesaikan permasalahan yang tak tuntas di dunia. Inilah yang membuatku enggan lari dari permasalahan yang menghimpit.

Dec 12, 2019



Sebelum polemik busana santai Pak Nadiem, ada pengalaman unik akhir-akhir ini. Aku masih ingat betul siang tanggal 30 November 2019. Kulihat juri peradilan semu tampak terkantuk-kantuk. Aku pun demikian. Suasana sedikit berubah ketika seorang saksi perempuan masuk ruang sidang. Ia memakai baju terusan berwarna putih. Pakaiannya agak semrawang dan di atas lutut. Aku tertarik pada respon majelis hakim dari tim yang bertanding. Oh, ternyata bukan bagian dari eksplorasi persidangan.

Usai penilaian aku penasaran dan bertanya pada sang Hakim yang ikut serta melihat. Menurut sang Hakim, pakaian tersebut tidak memenuhi standar etika dan kesopanan di pengadilan. Aku pun lega karena sempat menyangsikan perihal etika dan kesopanan pakaian di pengadilan.  Aku masih ingat penjelasan seorang dosen bertahun-tahun silam, pelanggaran etika dan kesopanan pakaian bisa masuk dalam contempt of court. Problemnya, etika kesopanan dalam berpakaian memiliki standar yang berbeda untuk masa kini. Akan tetapi, ternyata hal tersebut tidak berubah di dalam pengadilan. Tidak ada yang berani bermain-main dalam suatu persidangan. Ketukan palu hakim dapat menentukan nasib ke depan seorang manusia, sedangkan yang lain hendak menganggap hal demikian main-main? MK sampai membuat aturan yang ketat perihal ini, bahkan hingga perlu menayangkan hal tersebut di layar LCD besar.
***
Ruang akademik memang cair. Tergantung suasana dan forum yang dikehendaki. Berbagai pendapat pun beragam. Yang mendukung rerata adalah kalangan muda-mudi atau merasa masih muda-mudi. Yang menolak mensakralkan ruang akademik dan jabatan yang melekat dalam diri seseorang. Aku? Aku tidak berada dalam kondisi mendukung dan menolak. Hal yang terpenting adalah agar kedua belah pihak tidak asing terhadap busana seseorang yang dipakai berdasarkan keyakinan agamanya. Pakai cadar dikritik, menggunakan pakaian biksu dikritik, mengenakan busana biarawati dikritik pula. Barangkali yang mengkritik menginginkan yang bersangkutan untuk telanjang saja.

Aku teringat seorang feminis yang heran ketika muslimah Perancis berdemo untuk menyuarakan hak untuk bercadar. Di Perancis bercadar itu dilarang, bahkan dikenai denda. Dalam dunia barat, cadar dilihat sebagai simbol pengekangan perempuan. Pada ruang materialis, tuntutan hak unutk bercadar tentunya tidak masuk akal karena hanya berguna untuk menyenangkan Tuhan. Tuhan bagi mereka hanya semacam ilusi atau candu.

Daripada aku terjebak pada perdebatan dengan hati dan otak batu semacam itu, lebih baik kutinggal menonton film The Irishman. Selama tiga setengah jam aku khidmat menonton kehidupan para gangster. Aku sedikit menggerutu karena melihat durasi film yang panjang. Akan tetapi, tidak sia-sia waktuku menontonnya. Film ini sajian mewah akhir tahun dalam bidang sinema. Melalui pendekatan yang berbeda, the Irishman nyaris sempurna sebagai sebuah film. Ternyata, Martin Scorsese sutradaranya.

Apabila kamu mengikuti perdebatan panas antara sineas Hollywood, pasti akan mafhum dengan nama Martin Scorsese. Yah, ketika akhir-akhir ini Disney memulai proyek remake film animasi menjadi live-action, Marvel telah memulai proyek ambisiusnya dengan film Iron Man. Satu dekade ini kita digempur oleh MCU dan Avengers: Endgame sebagai penutup fase (lihat di sini). Aku pun menikmati itu semua. Lalu Scorsese muncul untuk memulai polemik dan kemudian diikuti oleh Coppola. “That’s not cinema,” ujar Scorsese pada Empire Magazine. Scorsese sadar ucapannya telah membelah para sineas, Ia tidak tinggal diam sehingga perlu menguraikan pendapatnya secara khusus dalam kolom opini di New York Times.

Gagasan dan visi Scorsese makin tampak jelas ketika kalian menonton The Irishman. Setelah mengkritik MCU, Scorsese seperti ingin mengatakan “Begini lho film yang sebenarnya itu.” Penggemar Marvel pun akan terdiam melihat karya terbaru Scorsese. Butuh waktu bertahun-tahun bagi MCU untuk membuat penonton merasakan melankolis super hero, tapi tiga setengah jam sudah cukup bagi Scorsese. Perlu diakui bahwa omong besar Scorsese sejalan dengan karya yang dihasilkan. Setiap orang yang paham film akan bersepakat jika The Irishman layak mendapatkan nominasi Oscar. Sayangnya, satu-satunya hal yang menghambat Scorsese untuk meraih banyak nominasi Oscar adalah mulut besarnya sendiri. Kita hanya perlu menunggu tahun depan.
***
Jam telah menunjukkan dini hari. Sebuah berita lawas mampir di beranda browser android “article suggestions”. Berita-berita lawas yang sebenarnya tidak kupedulikan. Akhirnya, aku berhenti pada sebuah berita terkait anak pengacara kondang yang blak-blakan tentang perceraiannya dengan seorang Hafidz. Secara jujur Ia mengakui tidak ta’aruf, melainkan pacaran. Suatu bentuk kebohongan kepada seluruh negeri yang ia tutupi selama ini dan baru bisa dibuka. Aku meneteskan air mata membaca berita tersebut. Air mata itu seperti kelegaan. Berulang kali batinku berkata, “Teoriku benar. Teoriku benar. Teori yang selama ini kuyakini benar.” Selama ini aku yakin bahwa niat baik, proses salah maka hasilnya pun tidak baik. Pada sisi lain, aku pun teringat guruku bahwa ulama atau orang alim bercerai itu bukan aib sambil memberikan contoh-contohnya di masa lalu. Apalagi jika memiliki mobilitas tinggi, sedangkan istri tidak menghendaki. Maka daripada itulah, dulu aku diwanti-wanti mencari pendamping yang memiliki tingkat pengertian terhadap perjuangan suami.

Lantas, bagaimana jika hal tersebut dibalut dengan kebohongan? Allah lebih suka kejujuran dibandingkan kebohongan. Allah memang woles sehingga membuat banyak manusia terlena dan menggampangkan, namun perlu diingat pula azab-Nya pun begitu pedih. Pagi itu aku dibuat merinding mengingat petuahnya.



Dec 9, 2019






Aku tahu akan lari ke mana. Cukup sekali aku berdoa untuk diriku sendiri. Allah bukan pelupa. Sekali saja aku egois dalam doa sehingga doa yang berulang hanya untuk selainku. Mereka lebih penting. Hal itulah yang membuatku berdoa berulang-ulang. Aku takut tak memenuhi syarat doa yang terkabulkan ketika mendoakan orang lain.
Aku bukan Musa A.S yang dapat berbicara langsung dengan Allah. Jadi, aku akan mengambil Al Qur’an untuk dibaca dan diresapi maknanya. Seharian aku merenunginya. Apabila belum cukup, aku perlu bertamasya dalam lautan buku. Aku sadar pada takdirku.
Begitulah caraku mengatasi keraguan yang menimpaku, musim-musim di tengah laut yang tak tentu. Melalui buku, tergambar berbagai peristiwa, suatu kesempatan lirih yang ditandai oleh keheningan dan fantasi. Buku seharusnya tidak memberikanku kemewahan seperti itu, apalagi di penghujung akhir tahun. Ditambah 2019 adalah tahun yang dimulai dengan kegilaan, keajaiban, antiklimaks politik, dan ketidakpastian.
Sekarang, aku bukan hendak memberitahukanmu buku yang harus kau baca. Pada kesempatan ini, aku hanya ingin membagikan 10 buku terbaik yang kubaca pada tahun ini. Banyak genre yang telah kubaca. Mulai dari sastra anak hingga kumpulan jurnal ilmiah. Intinya, daftar ini adalah buku yang kubaca pada tahun 2019, bukan yang terbit pada tahun ini.
Beberapa buku telah terbit bukan pada tahun 2019, namun aku baru membeli dan membacanya pada tahun ini. Rata-rata tersebut buku berbahasa inggris yang kubeli saat BBW, atau buku-buku puisi. Bahkan, oleh sebab alasan yang pernah aku utarakan pada kesempatan yang lain, aku membaca buku yang telah kubaca dengan versi terjemahan dan penerbit yang berbeda. Misalkan, Postmodern karya Lyotard, Candide-Voltaire, dan Don Quijote-Cervantes. Aku perlu membatasi diri dalam menyebutkannya agar tidak ketahuan bahwa waktuku ternyata begitu luang, terutama saat malam hari.
Memilih sepuluh buku terbaik yang kubaca pada tahun ini tak semudah mengkhayal. Aku harus jeli dalam melihat ke dalam diri mana buku yang terbaik. Ini bukan perkara kualitas universal, melainkan kebutuhan jasmani dan rohani. Bagi mayoritas orang, karya Mark Manson “Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat” adalah karya yang bagus. Akan tetapi, saya lebih memilih Prophetic Parenting atau You Can’t Send a Duck to Eagle School. Tiap orang punya selera sendiri dan pada kondisi tertentu perlu buku yang berbeda.
Sebagai catatan, nomor pada buku tidak menunjukkan urutan. Tanpa banyak cakap, mari kita masuk reff.

1.    Bidayatul Mujtahid Wa Nihayatul Muqtashid – Ibnu Rusyd
Tahun ini saya memiliki tekad pribadi untuk memperdalam pemahaman tentang agama. Bukan dari segi filsafat, melainkan dari sisi alim ulama. Bukan tidak pernah, melainkan sangat jarang saya membaca kitab-kitab alim ulama. Apalagi setelah kematian guruku, saya perlu memperdalam dan menyegarkan kembali ajaran-ajaran beliau.
Saya mengenal Ibnu Rusyd dari perdebatannya dengan Imam Ghazali. Boleh dikatakan bahwa perdebatan mereka secara filosofi. Pada kitab ini, Rusyd melakukan perbandingan mazhab-mazhab, penelusuruan dalil nash, menguraikan alasan perbedaan pendapat, dan cara penentuan hukum. Suatu usaha yang tentunya butuh ketelatenan serta ketelitian untuk menggali kitab-kitab pokok tiap mazhab.
Secara fisik dan isi, kitab ini terasa berat bagi pemula. Sebagai orang hukum, buku ini begitu urgen karena membahas fiqh perbandingan mazhab-mazhab. Komentar-komentar yang diberikan oleh Rusyd pun memiliki nuansa bernas dan terkadang kocak. Misalkan, komentarnya perihal perdebatan istri lebih dari empat. Rasulullah diriwayatkan memiliki istri lebih dari empat, yaitu sembilan (ada yang menyebutnya sebelas). Hal ini kemudian menyebabkan ulama ada yang memiliki lebih dari empat istri. Dasarnya, penambahan dalam memahami ayat dari firman Allah: “dua, tiga, dan empat”. Rusyd menguraikan berbagai alasan atau sebab memiliki istri lebih dari empat, lalu komentarnya ditutup “pandangan yang menambahkan jumlah lebih menyerupai halusinasi, bukan pikiran.”
Pada sisi lain, buku ini membuatku banyak berpikir tentang hukum dan menguatkan argumentasiku terhadap berbagai hal. Namun, ada hal yang masih belum kutemukan jawaban pastinya untuk saat ini. Misal, mengapa dalam kasus pembunuhan hanya butuh dua saksi, sedangkan kasus perzinahan harus empat saksi? Mengapa suatu hal yang sifatnya berat hanya butuh dua saksi dibandingkan zina (yang dianggap sepele untuk masa kini) malah harus empat saksi? Apa rahasia Allah di balik hukum tersebut? Jawaban sementara dariku terkait hal ini adalah dampak duniawi turunan pembunuhan akan dianggap selesai bila pelaku mendapatkan hukuman setimpal atau membayar sejumlah diyat. Hal ini berbeda dengan zina yang efeknya tidak hanya kepada pelaku, melainkan pada orang-orang sekitar bahkan pada generasi berikutnya. Inilah yang membuat zina disebut sebagai hutang. Wallahu a’lam bish-shawabi.

2.    The Sound of Things Falling – Juan Gabriel Vasquez
Novel ini mengingatkanku pada pengalaman sepuluh tahun silam. Vasquez mencoba menyadarkan pembaca melalui kesadaran masa lalu sang tokoh. Yah, tiap orang punya masa silam yang beragam. Malah ada yang menguburnya meski itu menjadi beban dan nampak seperti telapak kaki yang bernanah. Membuat jalan si empunya terpincang-pincang dan membungkuk karena berat di punggungnya. Berandai, pura-pura lupa atau lari tak menyelesaikan masalah, manusia hanya perlu berbalik dan menyelesaikan masalahnya.
Vasquez mengajakku bertamasya batin dengan lanskap Kolombia. Ini seperti ziarah sejarah yang elegan. Melalui tema kejujuran dan kerahasian, saya dapat melihat hubungan diri dengan sejarah dan negara. Deskripsi tentang buku ini dapat dilihat pada link berikut.

3.    Kematian di Venesia – Thomas Mann
Gustav von Aschenbach, seorang penulis asal Jerman yang terkenal dan sukses, namun kesepian. Ia memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Venesia. Di kota tersebut, Aschenbach bertemu dengan Tadzio, bocah lelaki Polandia yang sedang berlibur dengan keluarganya.
Venesia, sebuah kota yang memiliki nuansa separuh dongeng dan setangahnya lagi perangkap wisata. Betapa langka dapat menikmati kemewahan dari suatu kesendirian dengan kecemasan yang berbalut kejeniusan. Mann benar-benar detail perihal emosi, bahkan sesuatu yang menurutku menjijikkan.
Mann lebih suka memberikan petunjuk apa yang terjadi terkait tokoh utamanya, alih-alih mengatakannya secara langsung. Corak ini yang membuat Kematian di Venesia begitu kaya interpretasi, terutama secara personal. Logika dan imajinasi kerap berbenturan dalam memaknai setiap adegan yang ada. Akan tetapi, kondisi ini bagiku begitu menyenangkan dan terasa aneh atau lebih tepatnya unik.
Idealisme Plato yang digambarkan Mann mengalami kegagalan. Aku banyak melihat hal ini di sekitarku. Betapa muda/mudi mudah berkhayal tentang cinta sejati hingga kemudian mereka sadar bahwa tindakan yang mereka melakukan berdasarkan nafsu. Seperti orang yang berpuasa bukan karena Allah, melainkan untuk tujuan tertentu. Dia matikan televisi, menghindari warung-warung. Ketika waktu berbuka, rakus dan buasnya minta ampun.

4.    Kekerasan dan Identitas – Amartya Sen
Bermula dari diskusi dengan seorang kolega yang bingung karena “direkomendasikan” pembimbingnya untuk menggali pemikiran Amar Yasen. What? Aku belum mengenal tokoh tersebut dan meminta waktu untuk memahami pemikirannya. Kala itu, aku membatin begitu jauhnya diri ini tertinggal terhadap pemikiran-pemikiran tokoh hukum kontemporer.
Aku mencarinya di mesin pencari nama tersebut. Tidak ketemu. Aku mencari namanya beserta teorinya juga tidak ketemu. Semua mengarah pada Amar Yasin dan Amartya Sen. Kuhubungi yang bersangkutan untuk klarifikasi dan memang benar, aku salah menulis nama: Amartya Sen.
Ada rasa lega tatkala tahu bahwa Sen adalah seorang ekonom, peraih nobel ekonomi. Suatu bidang yang sangat jarang kubaca literaturnya. Jadi, aku masih tidak tertinggal terkait tokoh hukum kontemporer.
Kecelakaan bersejarah tersebut membawaku pada buku ini. Hal ini berbarengan dengan kasus di asrama Papua dan merembet pada kerusuhan di pulau Papua. Tentunya, kasus tersebut semakin menarik bila ditelaah melalui kacamata dalam buku ini.
Latar Belakang sen yang unik mengawali buku ini. Ketika berumur sebelas tahun dia melihat seorang buruh harian muslim yang dibunuh warga Hindu pada suatu kerusuhan Hindu-Muslim di India. Buruh itu tak punya pilihan, dia harus memberi makan keluarganya yang kelaparan meski telah dilarang oleh istrinya. Kejadian itu bagi Sen tidak hanya traumatis, melainkan juga membingungkan.
Bagi seorang bocah yang kebingungan, kekerasan identitas sangat sulit dipahami bahkan orang dewasa sekalipun. Sen kemudian menyalahkan teori identitas soliter dan menganggap pandangan tersebut berbahaya. Sen juga mengkritik penggunaan teori Huntington dalam buku Benturan antar Peradaban untuk perang melawan terorisme, suatu tindakan yang malah memperkuat persepsi umat Islam untuk anti barat.
Identitas merupakan suatu hal yang melekat, tetapi sementara sekaligus rapuh. Suatu waktu kamu beragama A dan kemudian berpindah agama B. Suatu hari menikah dengan suku A, lantas mencoba mencintai suku tersebut. Seseorang tidak mau dikatakan sebagai kelompok A karena persepsi yang melekat pada kelompok tersebut. Seperti dalam pandangan Sen, manusia pada dasarnya memiliki multi identitas, bukan identitas tunggal.
Apakah ini benar-benar kesalahan intelektual sebagaimana dikatakan Sen? Hal ini terasa sederhana bagiku. Identitas menurutku hanya salah satu faktor kecil munculnya kekerasan atau kekejaman (lihat tulisan tentang kekerasan ala Zizek). Rasa takut, kebingungan, keputusasaan, kesemerawutan, sifat kejam alamiah manusia tidak akan mudah hilang dengan model terapi konseptual Sen.
Aku senang membaca buku ini karena setelah sekian lama menemukan anti tesis dari Samuel Huntington. Akan tetapi, Sen entah lupa atau sebutlah gagal dalam menjawab bagaimana suatu bangsa modern (tolong pisahkan konsep bangsa dan negara) dapat muncul dan harga yang ditimbulkan dari pengorbanan sebuah bangsa. Belum lagi suatu bangsa yang berperang melawan bangsanya sendiri.

5.    Tuan Presiden – Miguel Angel Asturias
Novel-novel kediktatoran mudah ditemui dalam literatur Amerika Latin. Setidaknya, aku mengingat karya Gabo Autumn of the Patriarch dan juga The Feast of the Goat milik Llosa. Sejarah panjang Amerika Latin melahirkan berbagai bentuk diktator. Wajar saja bila hal tersebut kerap menjadi tema sentral dalam suatu karya sastra.
Aku merasakan humor dalam kegelapan dan juga kecerdasan Asturias dalam penggambaran adegan yang begitu kuat. Banyaknya subplot dan karakter minor membuatku perlu memberikan perhatian lebih. Hal ini kulakukan guna memahami benturan realitas dan fiksi yang melatar belakangi kisah dalam novel, diktator, kekuasaan, dan politik. Asturias ingin menegaskan bahwa kediktatoran seorang penguasa tidak menjamin siapa pun menjadi aman. Tema yang memberikan ketegangan dan ketakutan bagi karakternya, pun kepada pembacanya.
Pada struktur sosial seperti ini, moralitas dan etika tak nampak abu-abu. Hanya ada hitam dan putih. Tinggal pilih yang mana, mengkhianati atau dikhianati. Menipu atau ditipu. Tinggal memilih.
Menjelang anti klimaks politik negeri ini, membaca Asturias jadi lebih terasa menggetarkan luar dan dalam. Di dalam imaji Asturias menghantui dan di luar ada perdebatan seru pilpres. Semacam lanjutan dari pertarungan politik tahun 2014 yang cukup membelah negara ini. Terasa janggal apabila sila Persatuan Indonesia dimaknai sebagai koalisi. Yah, koalisi yang berpotensi mengarah pada oligarki. Melihat kondisi tersebut, aku ditenangkan oleh seorang kawan dengan mengatakan “masih ada mahasiswa”. Sayangnya, lagi-lagi saya dibuat kecewa. Gerakan tersebut bersumbu pendek dan kurangnya kajian mendalam. Kini dan beberapa waktu mendatang masih menunggu dagelan macam apalagi yang menanti.

Minggu depan Insya Allah akan kulanjutkan kembali lima buku. Masih ada kumcer, kumpulan puisi, dan novel.