Ronaboyd Mahdiharja

Sebuah goresan nan Pribadi mengenai metamorforsis dalam alam pemikiran perjalan menjadi manusia.

Feb 5, 2019





Puncaknya ialah minggu terakhir Januari 2019. Setelah kerap menggigil karena AC dua Pk dan ditambah pulang dengan basah kuyup, fisikku mencapai batasnya. Selama dua hari aku demam dan pilek. Barangkali 38,30 C bukan suhu badan terpanas yang pernah menderaku, tapi demam tersebut cukup membuatku menjadi bawel untuk mengigau dan bermimpi aneh.

Igauan seperti apa aku sendiri tak tahu. Istriku mendeskripsikannya sebagai igauan yang bawel hehehehe. Yah semacam ceracau yang mengungkap kode rahasia sebuah brangkas pribadi. Ini hanyalah ungkapan karena saya sendiri tak memiliki brangkas.

Pastinya, mimpi kala demam itu terasa aneh dan membekas. Baru pertama kali aku bermimpi tentang ka’bah berbentuk persegi panjang yang tingginya sekitar 20 atau 20,3 meter. Ka’bah itu dibangun oleh makhluk yang lebih tinggi dan besar dari apa yang dia bangun, jadi kesannya Ka’bah ini lebih kecil.

Esoknya aku senyam senyum sendiri. Bagiku ini aneh dan membuatku kian penasaran. Aku coba cari tinggi Ka’bah di internet dan hasilnya 13,16 M x 11,53 M x 12,03 M. Lantas aku berpikiran kalau angka 20 atau 20,3 dalam mimpiku itu sebagai angka togel. Hehehehe Kutelusuri lebih jauh sejarahnya, bahwa Ka’bah dulunya persegi panjang dan berkaitan dengan Nabi Adam AS yang konon tingginya 60 hasta atau sekitar 27 meter. Akhirnya, aku benar-benar mengurungkan niat untuk pasang nomer togel.

Aku penasaran karena aku sendiri kurang tertarik pada detail Ka’bah dan sedikit literatur yang pernah kubaca berkaitan dengan Ka’bah. Seingatku buku yang pernah kubaca terkait Ka’bah hanya karangan Ali Syariati, itu pun tentang haji.

Gara-gara filmnya Christopher Nolan yang berjudul Inception, aku jadi parno sendiri. Siapa yang memberikan insepsi ketika aku tidur? Yah, insepsi bentuknya macam-macam. Ada yang melalui mimpi atau pola pikir yang merasuki alam bawah sadar sehingga dapat memengaruhi pendirian atau titik mula suatu tindakan. Hidup kita, 95% berasal dari program pikiran bawah sadar.

Insepsi yang keren dapat dilihat dalam anime Hamatora. Salah satu antagonis terkuat dalam anime itu bernama Moral. Ia memanfaatkan psikologis serta kehendak bebas manusia dengan berbagai pertanyaan dan diakhiri sebuah pilihan. Manusia-manusia yang diberikan pilihan oleh Moral lantas memilih sesuatu yang telah ia prediksi dan dampaknya begitu merusak baik si pemilih dan orang sekitarnya.

Hidup adalah pilihan, begitu kata-kata basi yang kerap kudengar. Bahkan pilihan itu menurut beberapa orang berupa titik. Tetapi, dadu dan noda juga memiliki titik. Makanya ada hadits yang memperingatkan idza wussidal amru ila ghairi ahlihi, fantadhir al-sa'ah (menyerahkan segala sesuatu pada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya). Untuk menjadi seorang ahli dibutuhkan fokus dalam bidang tertentu. Itulah sebabnya Rasulullah tidak beranjak dari titik tertentu sebelum membentuk bulatan penuh. Beliau menjadi penggembala kambing beberapa tahun sebelum belajar berdagang pada Abu Thalib, pamannya. Lalu fokus menjadi pedagang sebelum fokus mengurusi umat.

Sayangnya, banyak orang belajar tidak tersistematis dan kerap salah dalam memilih pembimbing. Apa yang terjadi jika seorang pemuda meninggalkan orangtuanya yang tak mengizinkan anaknya untuk berjihad? Hal yang mengejutkan terjadi, si pemuda disuruh pulang, bukannya ikut berperang karena berbakti kepada orangtua adalah bagian dari jihadnya. Begitulah Rasulullah menjadi pembimbing sekaligus pemimpin. Dia tahu dan paham dalam menentukan sebuah prioritas, jihad atau berbakti.

Ibnu Rusyd telah memberikan catatan panjangnya perihal fenomena ini pada karya Plato, Republik. Tak mungkin kau belajar memasak pada orang yang tak pintar memasak. Yang ada ialah mereka belajar memuaskan selera pencicip makanan, bukannya belajar memasak. Atau belajar hal-hal yang berhubungan dengan rumah tangga pada seseorang yang belum pernah menikah. Seperti kata Plato saat mengomentari kaum Sofis yang dianggap tahu banyak hal bahwa mereka hanya mencari-cari keuntungan. "Tak mungkin orang mengetahui segala hal," begitulah katanya.

Jan 16, 2019




Awal tahun 2019 kulihat kamar nampak rapi, meski wanita yang merapikan kelihatan kurang puas. Setidaknya, mulai tahun ini segala hal yang sering berserakan sudah ada yang merapikan. Ia nampak seperti Marie Kondo yang mengguncang dengan bukunya The Life-Changing Magic of Tidying Up yang diterjemahkan oleh penerbit Bentang menjadi Seni Beres-Beres dan Merapikan ala Jepang. Dari kebiasaan beres-beres itu, Marie Kondo bajakan itu seperti menegaskan bahwa ruangan yang bersih mampu menghadirkan kejernihan pikiran.

Orang-orang yang telah berbenah secara menyeluruh dan tuntas, sekaligus, mengalami perubahan hidup yang dramatis, tanpa kecuali.

Apalagi setelah melewati tahun 2018 yang penuh sentimen dan emosi. Tahun ini perlu fokus pada hal-hal yang perlu dan penting-penting saja. Kesadaran. Itulah yang pertama perlu kulakukan, baik itu melipat, menyimpan, atau membuang kenangan sesuatu yang penting. Atau aku yang harus menepi dan menjauhkan diri dari sesuatu yang dianggap menimbulkan kekacauan. Hmmm... lebih tepatnya aku harus sadar diri bahwa kehadiranku hanyalah debu-debu diantara ribuan galaksi yang tak begitu penting. Well, lebih baik begitu. 

Tenang saja, saya sudah sangat biasa poker face terhadap semua yang hadir dalam hidup, termasuk marah dan sedih. Dua hal yang sudah kujauhi beberapa tahun terakhir. Yah, meski terkadang amarah itu justru keceplosan hingga menyamai amarahnya Fir’aun. Setelah kurenungkan amarah macam Fir’aun itu mungkin bukan karena permasalahan dunia dan seisinya yang kulihat sangat receh serta enteng-enteng saja. Barangkali amarah itu berkaitan dengan kekhawatiran atau kecemasan yang bersinggungan pada salah satu kaidah dalam ushul fiqh, dar'ul mafaasid muqaddamun alaa jalbil mashaalih.

Satu hal yang kusuka pada tahun ini ialah tahun politik. Tahun penuh hiburan dengan politik sebagai mainan yang cuma guyonan. Seperti kata Vito Corleone dalam The Godfather karya Mario Puzo, keuangan adalah senjata, politik ialah tahu kapan harus menarik pelatuknya. Tahun ini pun saya bayangkan akan banyak pelatuk yang memicu tawa dan ketegangan.

Kejahatan macam apa yang akan ditarik pelatuknya pada tahun ini, saya tak tahu. Jadi, teringat ucapan Balzac dalam The Human Comedy bahwa behind every great fortune, there is a crime. Cukuplah menikmatinya. Marilah kita sedikit memilintir sindiran Vito Corleone kepada anaknya, a man who doesn’t spend time with his family thoughts, can never be a real man!

Jan 6, 2019














-     untuk para gadis


kau, sayang, menjadi kesayangan waktu,
sekulum senyum dengan gurat kerutan, kelak
tenang menatap mentari dengan
ketabahan pasir yang berlari,

mungkin kau kan menggoda,
tapi waktu menjawab,
“aku tak akan menyangkal;
juga tak perlu menjelaskan –
apa yang kau lihat dalam diriku.”

nyala lelampu di taman kota
nampak bangku-bangku menghuni senja,
tak ada yang dapat diucapkan, hanya duduk
memandang keributan musim-musim
suci yang bersemayam,

kesiaan, bintang-bintang, buku-buku,
mereka tak dapat membantu
karena terjatuh dan menjadi perahu,

semua hal dalam hidupmu–
menjalar dan berayun waktu luang
saat hujan mengetuk atap
dan jendela yang sembab.

Surabaya, 06.1.18



Di Tepian Waktu yang Kau Ingat


Oh, andai angin mampu berbisik pada awan hitam
Saat matahari bergumam di antara bukit dan jurang;
Andai tiap huruf tertulis jelas di sungai kecil yang
mengitari desa dan kota tanpa rasa bimbang,
dan kisah bintang-bintang kecil yang turun dari langit,
hitunglah kerlip mereka di angkasa yang berusia jutaan masa.

Andai samudra yang ditimang-timang mampu menyingkap
Segala yang lewati gurun terpendam emas,
Menyemburkan urat-urat gema:
Air mata bercampur tetes permata,
Bayang-bayang malam, tercipta tidur.

Gema, menaiki tahta
Mengulangi melodinya –kata dan nada
Buat hati pendengar suka cita:
Berbisik, bersumpah -desah.

Surabaya, 05.1.19



Berandai Pada...


Dec 23, 2018







Ada banyak cara untuk menghemat energi. Salah satunya, menonton anime. Aku tiduran pada bantal yang kutekuk menjadi dua. Aku menekuk bantal karena itu barang sudah kempes. Jadi, bisa kalian ketahui intensitasku dalam bermalas-malasan menghemat energi. Begitulah aku menikmati anime.

Kali ini Hinamatsuri. Anime absurd yang bikin ngakak so hard. Aku tahu jika lelucon itu relatif, tapi jika kotak tertawamu tak terganggu minimal dirimu akan tersenyum. Bahkan Ndoro yang tak begitu suka anime direwangi nonton. Hana, anak manusia super yang berasal dari antah berantah hidup bersama dengan seorang mafia jomblo bernama Nitta. Ceritanya menggelinding begitu saja dengan para tokoh yang unik dan kocak.

Ada banyak pesan dan kisah dalam anime ini, kadang mengharukan, menyebalkan, dan tentunya jenaka. Ada episode lucu ketika keluarga Nitta mempertanyakan “siapa Hana?” Berbagai upaya dilakukan untuk menjelaskan siapa Hana, tetapi tentu saja ia tak tahu. Penonton saja tak tahu siapa si Hana. Daripada rumit dan banyak akting, akhirnya si Nitta memiliki solusi terakhir.

Episode itu seperti mengingatkanku pada kisah Walid bin al-Mugirah (ayahnya Khalid). Bahkan ada sekitar 104 ayat Al Qur’an yang berhubungan dengan si Walid. Ada salah satu kisah lucu perihal ini yang kuingat. Si Walid yang pesohor kaum Quraisy tahu dan seorang sastrawan paham bahwa Al Qur’an bukan buatan manusia, tapi dirinya ingkar.

Pada surat Al Qalam: 10-16, si Walid disifati aibnya oleh Al-Qur’an dengan sepuluh sifat. Sembilan sifat itu diakuinya, tapi ada sifat yang tidak ia mengerti dan membuatnya marah, yaitu kata zanim. Zanim memiliki arti mengaku-ngaku nasab atau nasabnya tidak jelas atau lahir sebagai anak zina. Tentu saja hal ini berkebalikan dengan yang sering Walid gaungkan sebagai keluarga Quraisy terhormat dan memiliki kedudukan yang tinggi. Satu kata itulah yang membuatnya marah dan mendatangi ibunya. 

"Bu, Al Qur'annya Muhammad menyifatiku sepuluh hal. Sembilannya saya akui itu, tapi ada satu yang mengganjal: zanim. Muhammad tidak mungkin bohong soal ini. Saiki, Ibu cerita yang sebenarnya kalau tidak pedang ini bisa menebas lehermu." Sambil mengancam membunuh ibunya, secara tidak langsung ia mengakui kesembilan sifat yang melekat dalam dirinya. 

Ibunya pun berkata, "Ngene lho le, bapakmu kuwi impoten, pada satu sisi memiliki harta yang banyak, dari keluarga terpandang, di sisi lain ya butuh keturunan. Akhirnya, ibu melakukannya dengan seorang penggembala. Yo, tukang angon kuwi bapak aslimu."

Kurang lebih seperti aku mengingat kisahnya. Terasa aneh jika seseorang mengakui kehebatan Al Qur’an, tapi ingkar. Ini menandakan bahwa Al Qur’an pada dasarnya dapat dengan mudah dipahami oleh siapa saja, bahkan orang kafir. Jadi, kelak tak ada alasan manusia di hadapan Allah tidak paham risalah Ketuhanan. Lantas mengapa mereka menolaknya? Mungkin ada sesuatu yang menghalangi. Jawabannya bisa beragam. Salah satunya adalah keangkuhan.

Keangkuhan pula yang membuat azazil terusir dari kedudukannya. Perihal ini banyak orang membuat tafsir mengenai keimanan azazil pada Tuhan dan blablabla. Namun, tiap kali aku bertanya, “mengapa dirimu tidak menjadi pengikutnya azazil atau iblis saja? Tak perlu sholat, zakat, atau puasa. Hidup bisa sesuka hatimu dan bebas hukum.” Tetapi, mereka tidak mau atau menolak. Mereka mengaku masih mencintai Rasulullah, dan sayang sekali tidak pernah kudengarkan mereka mengisahkan kehebatan Rasulullah. Kapan-kapan aku ceritakan kerennya Rasulullah.

Aku sering memikirkan ini, kata orang-orang aku itu baik meski agak sinting, tetapi aku tak sebaik itu. Yah, aku kelihatan baik karena Allah telah menjaga aibku. Tentunya, aku tak berharap memiliki nasib senahas karakter David Lurie nya Coetzee. Ah, menjadi seorang kriminal bukanlah hal yang memalukan. Tetap menjadi penjahat itulah aib yang memalukan.

Nani kore?
Gohan...

Si Hana membuat perutku lapar, tapi kok ya ngantuk.

Dec 22, 2018



Setiap kali ada pertanyaan: sibuk apa?, aku kelimpungan bagaimana menjawabnya. Apalagi akhir-akhir ini menjelang tutup tahun. Tak mungkin kujawab, sibuk menyimpan energi. 

Pada beberapa kesempatan, aku menyimpan energi sambil memikirkan nasib MU yang dilibas Liverpool, dan Milan yang ditahan imbang Bologna yang dilatih Inzaghi (mantan pelatih AC Milan). Lalu membayangkan mengolah kedelai yang lama tak tersentuh atau lupa kusentuh hingga ada banyak hewan di dalamnya. Aku ingin mengolahnya menjadi peyek kedelai. Dulu pernah sekali aku membuatnya dan hasilnya enak. Bahan-bahannya pun sederhana: ketumbar, kemiri, garam, merica, daun jeruk, terigu, tepung beras. Pertama kulumat bumbunya, lalu campur terig, tepung beras, dan air. Setelah itu iris daun jeruk dan masukkan ke adonan. Simpel.

Beberapa hari kemudian coba kupraktikkan. Realitasnya, adonan terlalu encer. Selain itu, ada obsesi untuk memasukkan sebanyak-banyaknya kedelai yang telah kurendam. Hasilnya, adonan kedelai nempel di wajan hingga membuatku beralih ke wajan teflon. Peyek pun tidak gurih malah seperti lemah syahwat. Apa kurang minyaknya atau kurang besar apinya.

Aku matikan kompor, kutinggalkan adonan dan kembali menyimpan energi. Ndoro turun gunung, meski tak mengubah hasil seperti dalam bayangan tentang peyek yang pernah kubuat dulu. Disimpannya dalam toples seperti menyimpan aib agar orang lain tak tahu atau paling fatal, agar tidak masuk ke perut manusia. Mana ada peyek di seluruh dunia yang lemah syahwat? Itu aib dunia rempeyek.

Aku tiduran sambil mengawang nasib Mourinho yang dipecat dan bertanya, kapan Rino Gattuso juga dipecat? Lelah sendiri jadinya. Kubuka toples dan memandang peyek lemah syahwat itu. Sebuah aib bagi dunia rempeyek. Maafkan aku penggemar peyek dan juga produsen peyek di mana pun kalian berada.

Semacam rasa malu yang tak terkira yang mendorong munculnya sebuah kekuatan yang tentunya bukan kekuatan super saiya. Kekuatan melawan rasa malu yang membuatku bersedia melalui perasaan itu. Kugoreng kembali si peyek kedelai. Dan rasanya kriuk...

Yah, bagaimana pun, aku tak berharap sepenuhnya mampu menundukkan kesalahan masa lalu dengan menderita pada saat kini. Bisa kalian lihat peyek itu berwarna kecoklatan, bukan cerah. Minimal, itu peyek bisa dimakan dan aman masuk perut.

Kudengar suara si Tiara yang menggemaskan itu. Tiap lihat dia rasanya pengen nyiwel pipinya yang dalam anganku bisa melar kayak Luffy, tapi takut nangis. Jadi, tak pernah kulakukan. 

Ada rasa was-was saat memberi si Tiara. Kira-kira dia doyan gak? Giginya mampu menguyah gak? Atau berdampak buruk untuk kesehatannya gak? Was-was, gelisah itu normal lah. Namanya juga manusia. Manusia kan dapat melakukan kejahatan saat berbuat kebaikan, dan tanpa diniatkan manusia juga dapat melakukan kebaikan saat berbuat kejahatan.


Peyek Kedelai yang Brutal

Dec 6, 2018


Siapa itu Larry King? Pada saat itu aku tidak mengenalnya dan tidak begitu peduli dengan nama penulisnya. Aku menarik buku ini dari rak perpustakaan kampus oleh karena judulnya. Berbicara dilihat sebagai sebuah seni. Cukup menarik.
Bagi mahasiswa baru sekaligus manusia yang pemalu, berbicara ialah suatu hal yang menakutkan sekaligus menyilaukan. Apalagi saat kau memasuki dunia yang menuntutmu pandai berbicara, yakni dalam bidang hukum. Pandangan awam  melihat bahwa mahasiswa hukum harus pandai berbicara terutama pada khalayak. Tentu saja hal tersebut terasa menakutkan sebab diriku tipikal orang yang pemalu pada siapa pun, kecuali pada orang yang sudah kukenal dekat dan dalam obrolan person to person.
Sebaliknya, terasa menyilaukan saat melihat para senior begitu pandai dalam berbicara. Siapa yang tak ingin seperti mereka? Aku pun demikian. Makanya, buku ini merupakan salah satu buku pertama yang kupinjam dari perpustakaan kampus saat masuk perkuliahan. Begitu menggelikan.
Setelah membaca buku ini, segera kuputuskan untuk memilikinya. Ada banyak hal yang diungkapkan Larry dalam buku ini. Saking banyaknya, informasi yang diberikan tak mampu kuterapkan semua. Akan tetapi, ada poin-poin penting (bagiku) yang sampai saat ini masih kuingat.
Pertama, jangan melabeli seseorang pandai karena ia banyak bicara. Ini kesalahanku pertama saat itu karena mudah silau terhadap orang-orang yang banyak bicara. Aku menjadi mulai jeli ketika orang-orang banyak bicara selama bermenit-menit, tetapi tidak efektif terkadang juga mbulet tur njlimet serta miskin substansi. Beberapa tahun belakangan kerap kutemui orang-orang semacam ini. Bedakan antara pandai dan berani dalam berbicara. Orang pandai berbicara selalu kaya substansi bahkan dalam humornya.
Kedua, dengarkanlah. Mendengarkan ialah hukum pertama dalam suatu percakapan. Banyak orang ingin bicara, tapi sedikit ingin mendengarkan. Hingga kau paham ketika seseorang mengelak dan saat seseorang benar-benar tidak tahu. Dari mendengarkan pun kau menjadi tahu semakin banyak orang berbicara, semakin memperlihatkan kebodohannya.
Ketiga, humor. Aku suka bercanda itu fakta. Namun, aku mulai menyadari cara mempergunakan humor yang tepat. Setidaknya tahu saat harus menggunakan humor untuk menyentuh, menyentil, atau memecah kebekuan. Meskipun dalam praktiknya juga kerap salah karena terbawa suasana.
Sebagaimana buku tips maupun motivasi, lebih tepat bila membacanya secara intensif lantas mempraktikkannya. Buku pinjaman dari perpustakaan tak cocok dengan karakter seperti ini karena keterbatasan waktu pinjam. Jadi, memilikinya merupakan solusi. Sayangnya, buku ini telah kucari di beberapa toko buku dan hasilnya nihil. Saat aku sudah melupakan buku ini, dia terselip di bawah tumpukan buku di sebuah toko buku bekas.
Ada beberapa hal penting yang luput dari perhatianku kala itu. Salah satunya ialah berbicara dengan lawan jenis. Andai dulu aku saksama barangkali tidak akan menjomblo bertahun-tahun lamanya. Jangan tertawa. Satu hal lagi, tak sadarkah kau dalam tulisan ini bila aku terlalu banyak membicarakan diriku? Dalam suatu tulisan, khususnya di dalam blog, sah-sah saja (daripada ngerasani orang lain?) Akan tetapi, dalam suatu obrolan membicarakan diri sendiri perlu dihindari.
Larry seperti membuat sebuah peta untuk mengatasi ketakutan serta mengikuti segala perbincangan dengan keyakinan. Melalui bahasa yang menarik dan mudah dimengerti buku ini cepat untuk segera diselesaikan, tetapi cukup sulit untuk dipraktikkan terutama mencari gaya sendiri dalam berbicara.
Setidaknya, ada dua bagian substansi dalam buku ini, yaitu Larry dan berbagai keterampilan praktis dalam berbicara. Buku ini seperti sebuah buku semi biografi tentang seorang Larry King sendiri dan juga pekerjaannya. Tak percaya? Tengoklah bagian “Tamu Terbaik dan Terburuk Saya” yang menurutku tak begitu penting. Seperti ulasan buku ini, Larry melarang berbicara mengenai diri sendiri, tetapi dalam tulisannya banyak membicarakan dirinya sendiri. Selain itu, pengalaman-pengalaman Larry yang terserak di sepanjang buku membuatnya nampak tersusun secara acak sehingga ada aspek-aspek lain dari seni berbicara yang belum tersentuh. Dampaknya, buku ini menjadi lemah untuk menjadi rujukan akademis.
Oh, maaf jika terlalu panjang.
Dan perihal judulnya, mungkin, bagian strategi pemasaran.



Judul                : Seni berbicara: kepada siapa saja, kapan saja, di mana saja
Penulis             : Larry King
Penerjemah      : Marcus Primhinto Widodo
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan           : Kelima, Desember 2012

Tebal               : xvi+ 212 halaman