Jan 15, 2015
Seperti halnya bukunya, saya pun menyukai filmnya. Film dengan sudut pandang malaikat maut yang tertarik pada Liesel saat kematian adiknya. Narator dengan dialog yang membuatku sedikit 'mesem'. Satu kata: Tontonlah.
"Ada satu fakta kecil. Kalian akan mati. Apapun usahamu, tak ada yang hidup selamanya. Maaf sudah membocorkan cerita"
Cerita : 7.5/10
Ending : 6.5/10
Pemain : 7/10
Overall : 7/10
Jan 12, 2015
Tahun 2014 meninggalkan catatan film-film yang luar biasa serta momen-momen yang juga menyenangkan. Daripada nunggu Academy Award mengumumkan penghargaan film-film lebih baik saya memberikan penghargaan film-film yang saya tonton selama tahun lalu.
Sebelum menjatuhkan pilihan pada All is Lost, saya sempat dibingungkan antara All is Lost, Interstellar dan The Raid 2: Berandal. Interstellar mampu membuatku tersesat tatkala pulang dari bioskop karena memberikan nuansa perjalanan antar galaxy dan waktu. The Raid 2 memiliki kisah yang bagus dipadu aksi pencak silat yang ciamik. Tak bosan kita menontonnya. Dan mengapa All is Lost? Film ini unik jika dibandingkan 127 Hours, Life of Pie, Cast Away, maupun Gravity Satu pemain, minim dialog dan hanya beberapa kata yang terucap. Sulit untuk menghidupkan suasana film dengan pemain hanya seorang. Jelas membutuhkan akting yang luar biasa dan itu telah dilaksanakan oleh Robert Redford dengan baik. Meskipun film ini tayang tahun 2013, pada ujung tahun 2014 saya baru sempat menontonnya. Padahal film ini telah lama mendekam di harddisk. Efek dari penilaian IMDB yang jelek.
Best Movies 2014
All is Lost
Sebelum menjatuhkan pilihan pada All is Lost, saya sempat dibingungkan antara All is Lost, Interstellar dan The Raid 2: Berandal. Interstellar mampu membuatku tersesat tatkala pulang dari bioskop karena memberikan nuansa perjalanan antar galaxy dan waktu. The Raid 2 memiliki kisah yang bagus dipadu aksi pencak silat yang ciamik. Tak bosan kita menontonnya. Dan mengapa All is Lost? Film ini unik jika dibandingkan 127 Hours, Life of Pie, Cast Away, maupun Gravity Satu pemain, minim dialog dan hanya beberapa kata yang terucap. Sulit untuk menghidupkan suasana film dengan pemain hanya seorang. Jelas membutuhkan akting yang luar biasa dan itu telah dilaksanakan oleh Robert Redford dengan baik. Meskipun film ini tayang tahun 2013, pada ujung tahun 2014 saya baru sempat menontonnya. Padahal film ini telah lama mendekam di harddisk. Efek dari penilaian IMDB yang jelek.
Worst Movies 2014
Crows Explode
Trailer film ini keren namun sayang filmnya jauh dari ekspektasi para Crowser. Mulai dari drama, aksi berantem dan akting pemainnya gagal total dalam mempertahankan kisah para gagak dari sekolah Suzuran ini. Yang sudah baca manga nya mungkin mengharapkan kemunculan Bouya Harumichi untuk mengobati kekecawaan film ini. Masalahnya adakah sosok yang bisa memerankan The Lone ‘Golden’ Wolf itu?
Best Movies Adapted From Books
The Fault in Our Stars
Walaupun kisah dalam film ada yang tidak ditampilkan, secara keseluruhan film ini lebih menarik jika dibandingkan film dari adaptasi novel lain seperti The Giver, The Hunger Game: Mockingjay, Divergent, Maze Runner, ataupun Vampir Academy. Alur dibangun step by step untuk memberikan kesan romantis, mellow tanpa berurai air mata yang mendramatisir. Adegan yang mengharukan dibuat agar kita tak terlalu sedih, sebaliknya adegan yang sebenarnya biasa saja justru menjadi menyenangkan dan terkadang mengharukan. Cocok untuk nonton bersama dengan pasangan.
Best Moment 2014
Big Hero 6
Momen terbaik ketika nonton film di tahun 2014 adalah ketika menonton robot yang kayak marsmellow. Dimulai ketika terjadi dengan pertengkaran dengan sang pacar dan berakhir dengan ketawa terbahak-bahak bersama di bioskop. Aksi kocak Baymax membuat kami jadi baikan lagi. “I’m Baymax.” Hahahaha
Best OST
Guardian Of The Galaxy
Eits.. sampai lupa hal yang penting dari film, yaitu original soundtrack. Adegan pertama film ini membuatku agak sedikit ragu dengan kualitas film. Adegan pendaratan di Planet Morag membuatku bertahan dan ketika Chris Pratt mengeluarkan Walkman adalah saat saya jatuh cinta dengan film ini. Goyangan Chris ditambah suasana planet dan disertai lagu "Come and Get Your Love" oleh Redbone memberikan nuansa asoyyy... "Hooked On a Feeling" juga mampu membuat kita merasakan perasaan Star Lord tatkala Walkman nya direbut. "I Want You Back" dari Jackson 5 pada bagian penutup sedikit menggemaskan dengan tarian Groot kecil di dalam pot.
Guardian Of The Galaxy
Eits.. sampai lupa hal yang penting dari film, yaitu original soundtrack. Adegan pertama film ini membuatku agak sedikit ragu dengan kualitas film. Adegan pendaratan di Planet Morag membuatku bertahan dan ketika Chris Pratt mengeluarkan Walkman adalah saat saya jatuh cinta dengan film ini. Goyangan Chris ditambah suasana planet dan disertai lagu "Come and Get Your Love" oleh Redbone memberikan nuansa asoyyy... "Hooked On a Feeling" juga mampu membuat kita merasakan perasaan Star Lord tatkala Walkman nya direbut. "I Want You Back" dari Jackson 5 pada bagian penutup sedikit menggemaskan dengan tarian Groot kecil di dalam pot.
Dec 30, 2014
“To be is to
do (Camus)
To do is to be (Sartre)
Do be do be
do (Sinatra)”
Siang
ini hujan. Saya baru menyadarinya ketika bangun tidur. Jangan berpikir saya
baru bangun ketika malamnya tertidur. Bukan. Subuh saya sudah bangun dan
menjelang siang hari saya putuskan tidur kembali. Begitulah minggu-minggu ini
berjalan. Sejanak saya teringat novel The Giver karya Lois Lowry yang
memberikan pada pembaca sebuah dunai hitam putih tanpa emosi dengan segala
rutinitasnya. Memang absurd. Tapi hidup dalam pandangan Camus adalah absurd. Semua
berulang tanpa makna. Setidaknya itulah yang saya sering lihat dari wajah di
berbagai media sosial.
Camus
memberikan dua pilihan pada dunia absurd yang dimiliki manusia, yaitu putus asa
atau memberontak. Ketika banyak berbagai permasalahan mayoritas manusia memilih
diam dan berputus asa dan tenggelam pada sesuatu yang menyenangkan (menghindar
dari rasa sakit). Status quo. Semua itu didukung dengan media massa yang
pesimis. Well, Marxis bagi sebagian
orang mampu memberikan gairah namun itu terlalu utopis. Pemberontakan dalam
arti keseharian memerlukan tekad dalam mendobrak rutinitas dan kegilaan. Waspadalah
pada nihilisme karena ketika diri kosong, semua dengan mudah masuk. Kita perlu
memilah-milahnya.
Pada
dunia yang makin abu-abu ini: pesimistis, keraguan, ketakpastian kita mencoba
segala sesuatu pada google. Demokrasi google yang luar biasa yang membantu
mengaburkan semua itu. Bayangkan saja ketika kamu mencari apakah judi itu haram
dan seketika kamu menemukan bahwa 20 besar web menyatakan bahwa 70% menyatakan
judi itu halal dan sisanya menyatakan judi itu haram. Mana yang akan kamu
pilih?
Sebentar
lagi tahun baru. Banyak yang sibuk merencanakan memeriahkannya, sedangkan saya
memilih tidur. Mungkin kalian punya
rencana untuk menyambutnya, namun saya punya rencana mengarungi tahun yang baru
itu.
Semarang, 30
Desember 2014
Kita
bisa membuat sintesis dan solusi kita sendiri jika bisa memadukan berbagai
referensi yang telah kita baca dengan pengalaman dan indera yang kita miliki.
Jadi membaca buku merupakan salah satu sarana saja dalam menjawab berbagai
pertanyaan yang kita ajukan. Konteks membaca yang lebih luas tidak hanya
sekedar membaca buku, namun juga membaca realita. Indera merupakan alat untuk
membaca realita. Melalui mata, telinga, hidung memberikan gambaran permasalahan
yang terjadi di depan kita. Otak dan hati sebagai filter bagian mana yang
sesuai dan tidak sesuai.
Dikarenakan
kali ini membahas membaca buku, saya akan batasi cara membatasi sintesis dan
solusi kita sendiri. Tatkala kita membaca buku kita akan menemukan solusi dari
permasalahan yang dibahas oleh penulis. Kita perlu mengetahui solusi
permasalahan mana yang coba diselesaikan oleh penulis. Ketika mencoba memecahkan
masalah tersebut, apakah ditemukan masalah-masalah baru? Apakah Ia juga
menemukan solusi dari permasalahan baru tersebut atau justru gagal dalam
menyelesaikan masalah baru tersebut? Dibagian mana Ia gagal dan apakah kamu
punya solusi dari permasalahan itu? Apakah motif penulis sejalan dengan solusi
yang Ia sampaikan? Jika tidak, bagaimana kamu bisa menyelaraskannya? Bagaimana
dengan penulis-penulis lain dalam menyelesaikan permasalahan yang sama? Sejauh
kamu memahami solusi dari berbagai penulis itu, apa kelemahan dan kelebihan
dari solusi mereka? Bagaimana caramu untuk menutupi kelemahan tersebut?
Bagaiamana metode yang mereka pergunakan dalam menyelesaikan masalah? Apakah
ada lubang dalam metode yang mereka gunakan? Mungkin pertanyaan-pertanyaan
tersebut dapat membantu dalam menemukan sintesis dan solusi yang kamu cari.
Saya akan coba menjabarkannya secara ringkas.
1.
Cari
dan Catat Celah Gagasan
Gabungkanlah
kalimat-kalimat inti dari berbagai buku yang membahas permasalahan yang sama.
Suatu gagasan biasanya terdiri dari kalimat argumen penalaran yang disampaikan
melalui beberapa kalimat atau paragraf. Kenalilah metode penulis dalam menyusun
argumentasi. Langkah ini mempermudah dalam menemukan celah dalam proses
penalaran suatu gagasan penulis. Catatlah baik di secarik kertas ataupun di
ingatanmu celah tersebut.
2.
Jika
Sepakat dan Tidak Sepakat
Sebelum memutuskan
sepakat atau tidak terhadap suatu tulisan, kita akan dihadapkan pada situasi
“Saya tidak paham maksud penulis, tapi saya rasa sang penulis salah.” Ketika
kita tidak paham maksud penulis sedangkan kita tidak dapat menunjukkan letak
ketidakpahaman kita itu tandanya kita hanya mencari-cari alasan untuk
menyalahkan. Tetapi, jika kita mengatakan tidak paham karena kerangka bacaan
yang tidak jelas, terdapat bagian yang tidak berkaitan atau kurang memiliki
tujuan dan bahkan pembatasan definisi suatu istilah yang ambigu, menandakan ada
usaha memahami tetapi gagal paham. Harus ada alasan yang jelas ketika
mengatakan bahwa anda tidak paham dan menyalahkan karena itu bagian dari sikap
kritis dari penilaian buku. Intinya, perlu pemahaman dalam menilai suatu karya.
Menyetujui suatu gagasan lebih gampang dibandingkan saat
menolak karena anda berarti sepakat akan keseluruhan dari substansi walaupun
ada beberapa kekurangan yang menurutmu bisa dimaafkan. Contohnya adalah
analisis penulis tidak lengkap karena terdapat beberapa permasalahan yang tidak
mampu ia selesaikan. Terdapat bahan-bahan yang sebenarnya bisa dimanfaatkan
penulis untuk memperkuat argumentasinya tapi tidak dilakukan oleh penulis. Pada
fase ini, kamu yang setuju dengan penulis memiliki peluang menutup celah dari
kekurangan dari penulis
Menyerukan ketidaksepakatan lebih rumit. Suatu informasi
dalam tulisan bisa kurang atau justru salah. Informasi yang kurang menunjukkan
data yang dimiliki penulis tidak cukup. Tunjukkan informasi yang kurang itu
jika kamu memilikinya terutama informasi yang justru bisa mempengaruhi
kesimpulan atau solusi yang ditawarkan. Menyatakan informasi yang dimiliki
penulis salah perlu kehati-hatian karena efeknya besar pada tulisan. Secara
tidak langsung kamu ingin mengatakan apa yang ditulis salah semua baik dari
pernyataan maupun solusi yang ditawarkan. Kita perlu mencermati informasi yang
diperoleh sang penulis dan metode dalam pengumpulan informasi. Lalu bandingkan
dengan informasi yang kita anggap benar.
Sepakat dan tidak sepakat terkait erat dengan yang
namanya menyakinkan dan tak menyakinkan. Tulisan yang tak menyakinkan biasanya
disebabkan oleh penalaran yang salah atau buruk. Ini karena kesimpulan atau
solusi yang ditawarkan tidak berasal dari argumen yang dibangun. Bisa juga
karena si penulis memberikan dua pernyataan atau lebih yang sesungguhnya saling
bertolak belakang. Penalaran yang buruk menunjukkan sang penulis berangkat dari
dasar pemikiran yang sudah benar tapi gagal dalam menemukan kesimpulan yang
baik atau sesuai.
3.
Imajinasi
Imajinasi dalam membuat sintesis atau solusi melibatkan
indera kita. Emosi, pengalaman, fenomena, sikap kritis dan analitis
merefleksikan suatu permasalahan dengan sebuah pertanyaan, apakah bisa dijalankan pada dunia nyata? Imajinasi yang baik adalah
bisa diterapkan pada kehidupan nyata.
Dec 15, 2014
Suasana
menjadi gelap. Matahari telah tenggelam di belakang kami. Terdengar napas
terengah-engah sebagai tanda lelah menempuh jalan menanjak nan licin. Tidak
sedikit dari kami yang terpeleset. Dari kejauhan nampak titik-titik cahaya
lilin menujuk adanya perkampungan. Tapi, bukan disana tujuan kami. Tak terasa
kami telah sampai pada Desa Cibeo. Kami disambut dengan aroma yang khas dari
desa tersebut dan terdengar riuh rombongan lain yang berjumlah ratusan. Inilah
desa Cibeo, sebuah desa yang masuk sebagai desa bagi Suku Baduy Dalam. Desa
yang dulunya tertutup dan dianggap terbelakang oleh masyarakat umum.
Dari
berbagai informasi, desa Suku Baduy Dalam adalah desa 1001 larangan. Tak ada
listrik, tak ada televisi maupun alat komunikasi yang boleh diaktifkan. Menjauhkan
saya dari hingar bingar Piala Dunia dan kampanye pilpres. Berbagai macam
deterjen dilarang, bahkan berpikiran jelek pun adalah pantangan. Pada saat itu,
desa menjadi berisik oleh tawa dan suara pengunjung. Kita bisa membayangkan
keheningan malam jika pengunjung tidak ada. Masyarakatnya akan larut dalam
kesunyian dan kegelapan. Tersisa hanya binatang-binatang malam di hutan yang
sayup-sayup terdengar. Hawa dingin malam yang masuk melalui celah-celah dinding
dan lantai dapat merelaksasi tubuh yang lelah berjalan sehingga pulas tertidur.
Malam
itu berbeda. Kami dan ratusan rombongan lain membuat kampung menjadi riuh layaknya
pasar malam. Ada sedikit kekecewaan karena banyak pengunjung yang terlalu
bising membuyarkan suasana senyap kampung. Banyak penjual dan pengunjung hilir
mudik di depan saya. Membuat kepala menjadi pening. Malam itu saya habiskan
dengan berbasa-basi sembari menanyakan alasan berbagai larangan yang ada di
Baduy Dalam. Jawaban yang saya peroleh tidak memuaskan karena semua alasan
larangan akan mereka jawab, “sudah perintah dari leluhur.” Dini hari saya
sempatkan keluar rumah untuk menikmati malam di Baduy Dalam.
Benturan Budaya
Pagi
hari saya kaget. Banyak sampah yang bertebaran di sekitar perkampungan. Penjual
cinderamata juga lalu lalang seperti malam hari. Anda bisa merasakan suasana
Baduy Dalam yang sejuk tapi agak risih dengan kegaduhan dan sampah yang
berserakan. Kemurnian Baduy Dalam yang dibayangkan tiap pengunjung menjadi
sirna bukan oleh masyarakat Baduy Dalamnya, melainkan pengunjung itu sendiri.
Dominan mereka berkunjung atau menginap untuk merasakan sensasi alami hutan dan
daerah yang tak tersentuh teknologi, namun para pengunjung ini tak bisa lepas
dari kebiasaan tempat asalnya.
Saya
sedikit teringat anti tesis Samuel P. Huntington terhadap pemikiran Francis
Fukuyama perihal sumber fundamental dari konflik dalam dunia baru. Menurut
Huntington, konflik pada dasarnya tidak lagi melandaskan pada ideologi maupun
ekonomi, melainkan budaya. Budaya akan memilah-milah manusia dan menjadi sumber
konflik yang dominan. Seperti ingin mempertahankan tesis Fukuyama, kapitalisme
disini juga berjuang meraih kemenangan menuju akhir dari sejarah. Keberadaan
pengunjung, pedagang, ataupun kebijakan pemerintah mengenai kawasan wisata
Baduy memengaruhi kehidupan sehari-hari mereka. Pada sisi lain, suku Baduy juga
ikut mempertahankan budaya mereka.
Corak
bertani dan melestarikan alam dapat tergeser karena saya menemukan suku Baduy
Dalam juga turut berdagang. Bahkan menurut penuturan induk semang yang saya
tinggali (saya lupa namanya) terkadang ada pedagang luar yang meminta uang
kepada Baduy Dalam yang mereka sendiri tidak tahu alasannya kenapa diminta
uang. Apabila pedagang luar tersebut tidak diberi uang mereka akan marah. Saya coba
telusuri lebih dalam tapi mereka memang tidak tahu sebabnya dan tidak mau
memberi tahu pedagang mana yang suka meminta uang (membuat saya kesulitan cross check), sehingga saya berpikir
positif saja (di Baduy Dalam ada larangan untuk berpikir negatif) bahwa terjadi
kesalahpahaman terkait perdagangan.
Menurut
penuturan sekretaris desa, pada dasarnya Baduy Dalam adalah tempat
suci/disucikan oleh suku Baduy. Sedangkan Baduy Luar merupakan penyaring
budaya-budaya dari luar yang diperbolehkan masuk ke Baduy Dalam. Salah satu
contohnya adalah pendidikan. Pemahaman pendidikan kita adalah pendidikan
formal, tetapi masyarakat Baduy memiliki konsep dan pemahaman yang berbeda
perihal pendidikan. Sejujurnya, saya lebih meyukai konsep pendidikan suku Baduy
dibandingkan konsep pendidikan formal yang pernah saya tempuh. Tidak ada
pekerjaan rumah, ada waktu bermain, tidak ada persaingan antar geng atau
kekayaan. Sampai umur 10 tahun masyarakat Baduy mendapatkan pendidikan dari
orang tua mereka berupa bercocok tanam dan pelestarian alam. Setelah umur 10
tahun mereka akan dibina oleh Pu’un
dan Jaro yang lebih pada pendalaman
hukum adat dan ritual keagamaan. Pada tingakatan tertentu saya tak sependapat
dengan Paulo Freire, namun saya sepakat bahwa untuk menjadi manusia harus
menjalin hubungan dengan sesama dan dengan dunia. Dari konsep pendidikan
tersebut saya menyadari alasan anak kecil disuruh memungut sampah yang
berserakan di lingkungannya ketika pengunjung pulang.
Pelestarian
alam Baduy tidak perlu diragukan lagi. Mulai dari udara yang segar sampai air
jernih yang membuat kita betah berendam. Saya agak sentimentil ketika
pengunjung mandi menggunakan bahan-bahan kimia di sungai, walaupun perlengkapan
mandi mereka tidak berbuih/berbusa. Tak ada gangguan kesehatan apapun tatkala
saya mandi tanpa sabun, shampo maupun pasta gigi ketika disana. Satu lagi
pertanyaan yang mengganggu benak saya, apakah masyarakat Baduy tidak menyadari
atau mengetahui jikalau tidak jauh dari tempat mereka terdapat industri
pemotongan kayu? Apakah kayu-kayu tersebut berasal dari hutan yang mereka
lestarikan? Ataukah mereka tidak dapat berbuat apa-apa terhadap penebangan kayu
yang dilakukan oleh orang dari luar?
Selintas
Tentang Hukum
Sebelum membahas hukum pada
masyarakat Baduy Dalam, saya akan menguraikan tipologi bentuk otoritas pada
masyarakat Baduy Dalam. Saya meminjam teorinya Max Weber kali ini. Pada Baduy
Dalam yang paling menonjol adalah tipologi tradisional dan kharismatik.
Tipologi tradisional dapat dilihat pada penerimaan aturan-aturan adat yang
telah turun temurun dipraktikkan. Terdapat kepercayaan yang mengakar bahwa akan
turunnya hukuman dari Tuhan jika melanggarnya. Otoritas ini akan nampak ketika
kita menanyakan alasan hal-hal yang dilarang. Otoritas kharismatik dapat
dilihat dari sosok Pu’un dan Jaro dalam menjaga ketertiban masyarakat
Baduy Dalam. Kemampuan pemimpin dianggap memiliki kekuatan luar biasa dan
cenderung mistis yang serta merta akan segera dipatuhi oleh masyarakat.
Sebenarnya otoritas kharismatik ini mudah ditemui dalam masyarakat Indonesia.
Mengapa
masyarakat Baduy masih memegang teguh hukum dan kebiasaan mereka? Ditinjau dari
teori bekerjanya hukum Robert B. Seidman, pembentukan hukum dan
praktiknya tidak akan lepas dari pengaruh dari kekuatan-kekuatan sosial dan
personal. Dari pengaruh tersebutlah dapat diketahui kualitas dari produk hukum.
Meskipun dalam prosesnya hukum sesuai dengan keinginan, faktor penentunya
adalah kekuatan sosial yang dalam hal ini kuatnya otoritas tradisional dan
kharismatik pada masyarakat Baduy Dalam.
Selama di Baduy Dalam saya tidak menemukan suatu aturan
atau hukum tertulis. Rata-rata aturan ataupun hukum yang ada diketahui secara
lisan melalui peribahasa atau nasihat. Tentunya kita akan heran karena begitu
banyak peribahasa maupun nasihat dalam bentuk cerita dan mereka mampu
menghapalnya. Ini adalah kecerdasan yang diberikan Tuhan kepada mereka (pada
suatu kesempatan mereka mempraktikan bahasa inggris hasil yang mereka peroleh
ketika menonton televisi di luar lingkungannya). Pada sisi yang lain, selain
mengingat mereka juga mempraktikan peribahasa atau nasihat tersebut dalam
kesehariannya.
Hukum yang ada di dalam masyarakat Baduy memenuhi ciri-ciri Hukum
Tradisional. Menurut Ronny Hanitijo
Soemitro dalam buku Masalah-Masalah Sosiologi Hukum, Hukum Tradisional sebagai jalan tengah
perdebatan definisi hukum adat, yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a. Mempunyai sifat kolektifitas yang kuat ;
b. Mempunyai corak magis-religius,yaitu yang
behubungan dengan pandangan hidup masyarakat asli; c. Sistem hukumnya diliputi oleh pikiran serba
konkret, artinya hukum tradisional sangat memperhatikan banyaknya dan
berulang-ulangnya hubungan–hubungan yang konkret yang terjadi di dalam
masyarakat;
d. Sistem hukum tradisional bersifat visual, artinya hubungan–hubungan hukum dianggap terjadi karena ditetepkan dengan
suatu ikatan yang dapat dilihat atau dengan suatu tanda yang tampak.
Mistisme Di Baduy
Perjalanan berangkat dan pulang dari baduy memiliki kesan
tersendiri bagi rombongan saya karena tidak lepas dari hal mistis. Dan ini
sudah diwanti-wanti oleh kawan-kawan saya untuk menceritakannya ketika pulang.
Seolah mereka lupa jika saya sudah pensiun perihal beginian.
Boleh dibilang Baduy Dalam adalah salah satu surganya
bagi pecinta klenik. Mulai dari energi, aura, dan penghuninya. Seandainya orang
luar diperbolehkan tinggal enam bulan saja, saya akan melakukannya. Cobalah
lepas sandal atau sepatu anda dan membiasakan diri bertelanjang kaki karena
anda akan merasakan energi alami masuk melalui pori-pori telapak kakimu.
Terlebih jika tengah malam yang sunyi. Banyak energi positif yang dihasilkan
alam disekitar Baduy Dalam yang bisa anda serap. Auranya pun menentramkan,
terutama Pu’un memiliki aura yang
berbeda yakni terang bercahaya. Pantaslah jika beliau memang dihormati oleh
masyarakatnya.
Nah, permasalahan penghuni sedikit sensitif. Selain
masyarakat Baduy, penghuninya pun ikut melaksanakan aturan dan hukum disana. Penghuni
di Baduy Luar cenderung agresif dibandingkan yang di dalam. Mereka inilah yang
melaksanakan hukuman bagi masyarakat Baduy (dan juga pengunjung) yang melanggar
aturan yang telah ditetapkan. Rata-rata penghuni disana bersikap halus dan
sopan tapi mudah tersinggung maka daripada itu lebih baik menjaga hati,
pikiran, lisan ketika berada di Baduy. Jika tidak, anda akan dikejar seperti
pengalaman kami. Mulai dari berpencarnya rombangan kami, terserempet tronton
sampai menabrak trotoar dan ban pecah.
Semua berawal dari lisan teman serombangan yang lisannya
menyinggung penghuni di Baduy (lebih tepatnya di Baduy Luar). Saya agak sedikit
khawatir terhadap tanda-tanda bahaya seperti biasanya. Disertai dzikir dan
shalawat, saya berdoa terus-menerus selama perjalanan pulang. Kebetulan teman
yang lisannya menyinggung penghuni tadi (sekaligus pemilik mobil) rencananya
akan mengemudi dari Cirebon-Semarang sehingga Ia tidur di bangku paling
belakang. Sedangkan Jakarta-Cirebon dikemudikan teman yang lain yang hendak
turun di Cirebon. Ketika tidur-tidur ayam, saya sempat nyeletuk pada si Teman
Cirebon.
“Bro, jika lewat
jembatan di klakson” ujarku karena samar-samar ada makhluk duduk di pinggir
jalan.
“Zaman sekarang masih
percaya yang begituan ya, bro?” jawabnya.
Entah berapa lama saya tidur-tidur ayam, seketika kantuk
saya hilang. Teman-teman yang lain udah pada tertidur. Saya ajak ngobrol teman
cirebon itu untuk menghilangkan kantuknya. Untuk beberapa saat, kami terdiam.
Saya yang duduk tepat dibelakangnya melihat truck tronton di sebelah. Tiba-tiba teman Cirebon itu mencoba menyalip
kendaraan di depannya tanpa melihat di sebelah terdapat truck tronton. Sontak
saja, mobil kami menyerempet truck tersebut dan klakson tronton itu berbunyi
keras disertai rem mendadak oleh tronton. Goncangan yang keras pada mobil kami
ternyata tidak berdampak pada teman saya. Seolah-olah dia tak sadar telah
menyerempet tronton. Kawan-kawan lain yang terbangun menjadi panik. Untunglah
kami mampu melewati jalur sempit antara tronton dan kendaraan di depan. Anehnya
reflek kawan Cirebonku itu telat. Ia mencoba istigfar yang justru membuatku pengen
tersenyum karena telat kaget. Ternyata oh ternyata temanku ini ditutup
penglihatannya oleh makhluk yang duduk-duduk di pinggir jalan tadi. Kalian tau
si pemilik mobil tetap cuek dan melanjutkan tidurnya. Aiiiih anak ini.
Sampai Cirebon kawan yang telah menabrakkan mobil
terlihat shock. Tapi si pemilik mobil ini nampak santai-santai saja. Salut lah.
Nah, petaka selanjutnya menanti karena si pemilik mobil yang diincar. Usai
makan, kami lanjutkan perjalanan. Tapi perjalanan kembali terhenti karena
kantuk yang mendera. Kami memutuskan istirahat di sebuah pom bensin. Ketika
yang lain tidur pulas, saya tak mampu memejamkan mata. Pukul lima pagi kami
lanjut perjalanan. Saya menawarkan beli rokok sebentar untuk menghilangkan
kantuk pemilik mobil yang sedang menyetir, namun masih menunda-nunda. Hati tak
tenang, tapi mata sudah mulai mengantuk. Ketika tidur-tidur ayam, entah apa
yang dilakukan si pemilik mobil tiba-tiba mobil menyerempet pembatas jalan dan
mengakibatkan ban depan meletus. Padahal jalan pada kondisi sepi. Pada kondisi
inilah seorang teman nyeletuk kalau dia mimpi buah yang saya bawa lah
penyebabnya. Saya tidak percaya pada mimpi seseorang yang tidak berwudhu ketika
tidur karena datangnya sering dari jin yang bertugas menyebarkan fitnah serta
rasa gelisah. Sebelumnya saya memang menemukan buah aneh (sebesar mangga dan
rasanya mirip durian) yang jatuh ketika di Baduy Luar. Alasan ini saya tolak
karena saya telah izin oleh pemiliknya dan yang kedua teman saya ini
botek-botek jika dia mimpi. Terlebih lagi jika kita membawa sesuatu dari suatu
tempat yang keramat tanpa izin maka kita tidak akan bisa sampai rumah.
Untuk menyenangkan hati kawan yang botek-botek masalah
mimpi, saya bilang saja sudah saya buang. Dalam perjalanan, sepertinya seluruh penumpang
mobil sudah mulai banyak berdoa. Yang bisa saya lakukan hanyalah mengirim Al
Fatihah pada penghuni yang mengganggu tadi disertai permintaan maaf mewakili si
pemilik mobil yang telah menyinggung. Akhirnya, kami sampai rumah selamat
sentausa dan tidak luka. Tidak lupa saya mencicipi buah yang aneh itu. Saya tak
tahu namanya apa.
Dec 2, 2014
Sebelum membahas cara berdialog dan memahami buku,
saya akan menguraikan tipologi pembaca buku:
1. Pemula
Bagi golongan ini buku
cukup dibaca tanpa harus susah payah untuk aktif. Semua isi ditelan bulat-bulat
tanpa dirasakan dan dikunyah. Terjadi interaksi satu arah saja. Buku seperti
benda mati yang hanya dibaca lantas dilupakan poin-poin pentingnya. Kurang
menguasai isi dan sulit menceritakan kembali gagasan yang diinginkan dari sang
penulis.
2. Menengah
Pembaca ini mampu
membuat mind mapping buku. Tak
mengherankan jika mereka dapat memahami dengan baik isi dan gagasan penulis
serta dapat menceritakan kembali gagasan pokok dalam buku. Melalui imajinasi
dan dialog dengan buku sudah bisa membenturkan suatu gagasan atau teori pada
realita sehingga pada golongan ini bisa menyanggah si penulis.
3. Pro
Tipe pembaca ini tidak
hanya bisa melihat kelebihan dan kelemahan suatu gagasan atau permasalahan yang
diajukan penulis, tetapi juga membandingkan dengan buku lain yang membahas
permasalahan serupa. Metode perbandingan bagi pembaca pro hanya sarana dalam
mencari dan menemukan jalan tengah suatu permasalahan yang dihadapi.
Benar-benar terjadi suatu dialektika untuk menemukan sintesis. Beberapa tipe
ini Mind mapping cukup digambarkan
dalam imajinasi karena mereka memiliki daya ingat yang luar biasa.
4. Maestro
Inilah pembaca yang
sanggup menyelesaikan 2-3 buku dalam sehari. Mampu memprediksi secara tepat isi
buku dan keinginan dari penulis. Kemampuan pembaca Pro dapat dilakukan dengan
cepat dan akurat. Melalui metode membaca cepat (speed reading) golongan ini mampu melahap beberapa buku dalam
sehari dan juga solusinya. Akan tetapi dalam menggunakan metode speed reading juga perlu berhati-hati
karena ada teknik speed reading yang
dapat membuat anda menjadi pembaca yang oportunis.
Membaca dan Memahami
Ketika
membaca ada beberapa pertanyaan yang harus bisa kamu jawab setelah
menyelesaikan sebuah buku. Pertama,
berbicara tentang apa buku itu? Temukanlah gagasan atau ide pokok dari buku
yang kamu baca. Cara penulis mendeskripsikan gagasan atau ide pokok suatu buku
juga perlu kamu ketahui karena biasanya buku disusun secara sistematis oleh
suatu aturan baku. Kedua, apa motif
si penulis dalam buku itu? Untuk mengetahuinya kita bisa menemukan dasar
pemikiran dan landasan penulisan buku. Hal ini penting karena terkadang motif
penulis bertolak belakang dengan gagasan atau teori yang dia jabarkan. Ketiga, pentingkah buku atau topik yang
dibahas? Urgensi dalam sebuah buku adalah harga mati. Mengapa susah-susah
menerbitkan buku jika tidak penting? Tingkat urgensi suatu buku bisa dilihat
secara pribadi atau umum. Secara pribadi buku itu penting bagi dirimu sendiri
karena sejalan dengan bidangmu atau ada sebuah informasi yang sedang kamu butuhkan
walaupun topik tersebut tidak kamu suka. Secara umum bahwa buku itu memiliki
dampak bagi kehidupan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Banyak sekali kamu
akan menemukan buku dengan pembahasan sejenis yang mengulang dan tiada
pembaharuan atau sumbangsih pemikiran dari penulis. Keempat, bagaimana kebenaran substansi dari buku? Adakalanya sebuah
buku yang seluruh substansinya mengandung kebenaran dan validitas, namun ada
pula yang hanya sebagian. Cara mengetahuinya kamu perlu menjawab dua pertanyaan
awal di atas.
Keempat
pertanyaan di atas bisa kamu jawab ketika proses membaca dengan berdialog
dengan buku. Pada proses membaca cobalah berdialog dengan buku. Buatlah
pertanyaan-pertanyaan yang semestinya dijawab atau dibahas oleh buku itu. Di
dunia ini ada buku yang bisa memuaskan pertanyaan-pertanyaanmu, tetapi tidak
sedikit yang hanya menjawab sebagian atau bahkan tidak menjawabnya sama sekali.
Prediksi-prediksi juga mesti kita keluarkan untuk melihat arah sang penulis
dalam menguraikan gagasannya. Tak lupa imajinasi untuk memberikan gambaran
simulasi dari sebuah teori, gagasan, atau pernyataan agar lebih mudah memahami
maksud dari penulis. Imajinasi itu pula yang bisa kita manfaatkan untuk menguji
teori, gagasan, atau pernyataan pada sebuah realitas. Apakah bisa diterapkan
atau tidak? Jikalau bisa lakukan prediksi kemungkinan peluang dan hambatan-hambatannya,
lantas apakah penulis membahasnya? Bila dibahas bagaimana Ia mengatasi hambatan
sebuah teori atau gagasannya? Dan jikalau tidak bisa diterapkan paling tidak
kamu harus bisa memberikan argumentasinya.
Saya
hampir lupa membahas tentang mind mapping
atau peta pemikiran. Ada sebagian membuat mind
mapping ketika membaca, namun ada juga membuatnya ketika selesai membaca
buku. Mind mapping bagi pembaca
sangat penting karena selain mengawetkan ingatan juga mempermudah memahami
bacaan. Mind mapping juga bermanfaat
dalam menyusun tulisan. Pada konteks untuk membaca, mind mapping cukup mempergunakan kata kunci sederhana yang disertai
alur untuk mempermudah mengingat kembali. Pada beberapa pembaca Pro langkah ini
cukup melalui imajinasi saja dan mereka tidak kesulitan untuk menggambarkan
kembali dalam bentuk tulisan. Sedangkan pembaca pro yang sadar tidak memiliki
daya ingat yang kuat masih menuliskannya pada secarik kertas kosong. Pokok
pikiran, ide, gagasan, informasi sebuah buku dipadatkan dengan kata kunci yang
sesuai menjadi sebuah peta. Mind mapping antara pembaca menengah dan pro
terletak pada solusi dan sintesis dari permasalahan yang mereka cari. Apabila
tipe menengah membuat mind mapping hanya sampai pada deskripsi buku, pembaca
pro mengembangkan mind mapping pada gagasan asli mereka.
Menjadi
pembaca tipe Pro tidak mudah terutama dalam hal pembandingan, mencari sintesis
serta solusi. Pembandingan buku membutuhkan bahan bacaan yang cukup untuk
memulainya. Berapa banyak buku yang kita baca dan sejauh mana pemahaman kita
terhadap buku-buku yang kita baca adalah modal utama dalam proses pembandingan.
Kesulitan lain dalam pembandingan juga ditemukan pada istilah-istilah yang
dipakai penulis. Otak penulis satu dengan yang lain berbeda sehingga tidak
mengejutkan jika mereka mempergunakan istilah yang berbeda padahal menunjuk
objek/maksud yang sama. Kita perlu mengerti istilah-istilah yang penulis
gunakan dan mengerti definisi yang mereka uraikan. Keputusan kita dalam
menggunakan satu istilah akan mempermudah kita dalam memahami suatu bacaan.
Penemuan
solusi memerlukan suatu proses. Dari buku yang telah kamu baca carilah kalimat
inti atau dasar argumen mereka. Biasanya penulis mengemukakan kembali kalimat
inti atau dasar argumennya dengan kalimat yang berbeda tetapi sebenarnya
memiliki substansi yang sama. Acap kali saya temukan buku teman-teman yang
menandai kalimat inti yang sama tetapi oleh penulis dipergunakan dengan kalimat
yang berbeda. Latihlah kemahiranmu dengan menemukan kalimat tersebut dan
mengubahnya dengan kalimatmu sendiri. Ujilah pemahamanmu perihal kalimat inti
itu melalui deskripsi contoh pengalaman kalian sendiri atau mungkin pernah
indera kalian rasakan. Nanti dengan sendirinya akan nampak suatu metode yang
digunakan oleh penulis untuk mencapai solusi atau kesimpulan buku. Pertanyaan
selanjutnya, bagaimana membuat sintesis dan solusi kita sendiri? Saya akan
membahasnya pada artikel selanjutnya.
Speed reading adalah metode para
maestro, meskipun ada juga pembaca pemula yang coba menerapkannya. Dampak yang
dihasilkannya pun berbeda karena ada beberapa teknik speed reading yang membentuk kita menjadi pembaca yang oportunis.
Tiada gairah dan sensasi yang dirasakan oleh pembaca pemula jika menerapkan
metode speed reading karena mereka
membaca ala kadarnya. Terkait metode dan teknik dari speed reading bisa kamu
peroleh dari berbagai artikel di internet, buku-buku yang membahas khusus speed
reading atau bahkan buku pelajaran Bahasa Indonesia tingkat SMA. Sejujurnya ada
sedikit penyesalan karena benar-benar menyadari pentingnya speed reading saat
magang di Jakarta. Dulu speed reading
saya pergunakan hanya untuk buku atau tulisan-tulisan tertentu saja dan
tekniknya pun bermacam-macam serta berbeda penggunaannya.














