Ronaboyd Mahdiharja

Sebuah goresan nan Pribadi mengenai metamorforsis dalam alam pemikiran perjalan menjadi manusia.

Mar 25, 2015

Mungkin kamu akan heran karena buku favoritmu tidak masuk dalam daftar saya. Atau agak mangkel karena menempatkan bukunya Pidi Baiq dalam daftar dan berada di atas karya Goethe & Jose Saramago. Hehehe itu adalah subjektifitas saya dalam menilai... Ada beberapa buku kesukaanku yang terpaksa tidak saya masukkan, seperti Seven Habits (Stephen R. Covey), On Liberty (John Stuart Mills), The Prince (Machiavelli), Politics (Aristoteles), Muqadimmah (Ibnu Khaldun), Puisi pilihan Octavio Paz dan masih banyak lagi. Kamasutra tidak saya masukkan karena tidak bisa dinikmati generasi. Selain itu, pertimbangan yang saya ambil adalah tidak semua orang suka puisi dan tidak semua orang langsung sukses dengan membaca buku motivasi. Saya pun tidak merekomendasikan buku-buku hukum, yang saya rekomendasikan lebih pada novel yang bercerita tentang hukum. Perihal saya memasukkan Al Qur'an tak lepas dari perenungan panjang karena pada dasarnya Al Qur'an bukanlah buku tapi kitab suci. Agar kitab suci ini mudah dihafal maka dibukukan. Kalimat-kalimat di dalamnya bukanlah kalimat yang berasal dari manusia. Selain itu, ketika melakukan survey kecil-kecilan tentang 'buku apa yang kamu sarankan untuk dibaca orang lain?' ternyata ada juga yang menjawabnya Al Qur'an (ada juga yang menjawab buku panduan sholat, UUD 45). Akhirnya jalan tengahnya saya temukan.

Boyd’s List of 100 Books You Must Read



1.   Al Qur’an beserta terjemahan & tafsirnya. (Setidaknya seorang muslim atau muslimah mengkhatamkan kitab suci ini sekali seumur hidup. Dan bagi pengidap islamphobia sempatkan membacanya 1 ayat saja)
2.        Harry Potter Series – JK Rowling (Anak yang tumbuh besar pada awal milenium ini pasti kenal novel fantasi ini. Saya merasakan kejengkelan jika ada manusia yang tidak kenal novel ini dan bertanya “Siapa itu Dementor?” atau “Mengapa Sirius Black mati?”)
3.        Sherlock Holmes Series – Sir Arthur Conan Doyle (Selain Goosebump, inilah novel pertama yang saya baca)
4.        Cerita Dari Blora – Pramoedya Ananta Toer (Entah mengapa saya lebih mencintai Cerita Dari Blora dibandingkan dengan Tetralogi Pulau Buru)
5.        The Old Man And The Sea (Lelaki Tua & Laut) – Ernest Hemingway (Tiap naik kapal dengan hantaman ombak besar seketika ingat kisah dalam novel ini)
6.        Don Quixote – Miguel De Cervantes (Saya sepakat dengan Milan Kundera bahwa Don Quixote lebih terkenal daripada pengarangnya sendiri hahhaaha)
7.        The Godfather – Mario Puzo (Dunia mafia yang beranak pinak)
8.        Musashi – Eiji Yoshikawa (Kelahiran Pemain Pedang Terbaik Jepang)
9.        Perfume: The Story of a Murderer – Patrick Suskind (Pinjem Kartika Niken. Merinding bacanya)
10.    The Secret – Rhonda Byrne (Buku yang mengubah paradigma saya selama ini)
11.    Arus Balik – Pramoedya Ananta Toer (Gemuruh perang dan laut seakan sulit sirna)
12.    Klan Otori Series – Lian Hearn (Kisah yang panjang dan tragis nan menarik)
13.    A Walk To Remember (Kan Terkenang Selalu) – Nicholas Sparks (Siapin tisu aja baca novel ini)
14.    The Alchemist – Paulo Coelho (Pencarian yang memaknai hidup dan berakhir indah. Tiap kali memberikan kado, buku inilah yang saya berikan)
15.    The Lord of The Rings Trilogy & The Hobbit – JRR Tolkien (Middle Earth benar-benar hidup dalam imaji yang membacanya. Awas jangan suka parno ketika malam seolah melihat Gollum ya hehehe pengalaman pribadi)
16.    War And Peace – Leo Tolstoy (Bukan novel Tolstoy seperti umumnya. Semua saling terhubung)
17.    The Trial – Franz Kafka (Orang hukum wajib baca buku ini, keputus asaan menembus labirin hukum, tapi endingnya jangan ditanya)
18.    La Peste (Sampar) – Albert Camus (Awalnya saya masih bingung dengan arti sampar yang ternyata adalah nama wabah)
19.    Candide – Voltaire (Satir tentang seorang yang optimistis. Voltaire membuatnya karena ingin membantah Leibniz & Pope. Wow bantahan dalam bentuk novel!)
20.    Animal Farm – George Orwell (Ini novel provokatif banget. Kamu ingin dipimpin babi yang meneriakkan All animals are equal?? Hihihi)
21.    Laskar Pelangi Tetralogi – Andrea Hirata (Awal kuliah ditemani novel yang luar biasa untuk Indonesia)
22.    Notre-Dame of Paris (Si Bongkok Dari Notre-Dame) – Victor Hugo (Saya sempat berpikir mengapa novel besar mesti berakhir tragis?)
23.    Germinal – Emile Zola (Saya lebih menyukai karya Zola ini bila dibandingkan Notre-Dame. Mungkin karena ada humor satir yang buat saya geli. Kisah lengkap yang melodramatis)
24.    Norwegian Wood – Haruki Murakami (Lagu Beatles mengalun sepanjang membaca buku ini)
25.    The Count of Monte Cristo – Alexandre Dumas (Pemuda yang mengalami pengalaman pahit tentang cinta dan persahabatan)
26.    The Name of Rose – Umberto Eco (Tak ada salahnya membaca karya ahli semiotika yang berlatar belakang pembunuhan rahib biara di Italia)
27.    Big Breast and Wide Hips – Mo Yan (Dari judulnya akan kamu bayangkan novel striptis ala Tiongkok. Dan anda salah besar meskipun ada sedikit benarnya)
28. Our Word is Our Weapon (Kata Adalah Senjata) – Subcomandante Marcos (Buku yang mengubah cara pandang tentang pergerakan)
29.    Hamlet – William Shakespeare (Saya gemas dengan si Hamlet)
30.    The Great Gatsby – F. Scott Fitzgerald (American’s Dream yang berakhir tragis)
31.    Hadji Murad – Leo Tolstoy (Muslim dalam kacamata Tolstoy dan perlawanan di Rusia)
32.    The Phantom of the Opera – Gaston Leroux (Tergolong horor gotik tapi tidak ada merindingnya karena memang aneh. Kisah segitiga yang melibatkan hantu memang aneh. Namun tak dipungkiri jika novel ini memang bagus)
33.    Love in the Time of Cholera – Gabriel Garcia Marquez (Sebagai bentuk apresiasi terhadap perjuangan yang tak sia-sia. Walaupun sudah tua tetap cinta)
34.    Mahabharata – C. Rajagopalachari (Ini karya kompleks dan penuh dengan benturan moral serta etika)
35.    Hunger (lapar) – Knut Hamsun (Jika kamu kehilangan semangat, buku ini layak sebagai asupan semangatmu)
36.    Max Havelaar – Multatuli (Kisah yang cukup unik tentang Hindia Belanda. Di samping kisah penindasan ada unsur humor yang eksentrik)
37.    Mother (Ibunda) – Maxim Gorki (Karya Penting Gorki di Indonesia. Pram sebagai penerjemah tahu betul mengangkat semangat seorang Ibu ditengah Revolusi. Kata – kata yang menggelora “bahkan samudera pun takkan mampu menenggelamkan kebenaran.”)
38.    The Rebel (Sang Pemberontak) – Albert Camus (Buku yang selalu disampingku tatkala tidur. Ketika gemar meneriakkan pemberontakan pada kebodohan)
39.    City of God (Kota Tuhan) – EL Doctorow (Jika kamu masih berkutat masalah ketuhanan, mungkin novel ini bisa menjadi teman debatmu)
40.    Cadas Tanios – Amin Maalouf (Saya berjudi dengan membeli buku ini. Karena buku ini direkomendasikan oleh penjaga stan Yayasan Obor. Saya berpikir “ini bapak sales yang jujur atau tidak.” Dan perjudian itu  berbuah manis.)
41.    Khan el Khalili (Lelaki dalam Pasungan) – Naguib Mahfouz (Kekritisan Mahfouz melalui pergulatan budaya dan agama)
42.    Snow – Orhan Pamuk (Karya penting Pamuk yang butuh kesabaran)
43.    The Giver – Lois Lowry (Distopia hitam putih yang absurd tapi tak kan puas dengan satu buku saja)
44.    Life of Pi – Yann Martel (Karena Hemingway, saya menyukai petualangan penjelajahan laut)
45.    V For Vendetta – Alan Moore & David Lloyd (Manifestasi politik dan sosiologi yang cantik)
46.    Pride And Prejudice – Jane Austen (Kisah cinta rumit mana lagi yang bisa mengalahkan karya Jane Austen ini?)
47.    Winnetou Series – Karl May (Kamu tidak akan mengira jika Karl May sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di benua amerika)
48.    Lupus – Hilman (Novel kocak yang menemani masa kecil)
49.    Just So Stories (Sekedar Cerita) – Rudyard Kippling (Cerita pendek pengantar tidur)
50.    Selected Short Stories Tagore (Yang Hidup & Mati) – Rabindranath Tagore (Awal mula jatuh cinta dengan Tagore)
51.    The 100 Year Old Man Who Climbed Out of The Window And Disappeared – Jonas Jonasson (Siap-siap tertawa terbahak-bahak)
52.    The Road – Cormac McCarthy (Perjuangan hidup ayah dan anak)
53.    The Book Thief – Markus Zusak (Sudut pandang pencabut nyawa yang mengharu)
54.    My Sister’s Keeper – Jodi Picoult (Buku berat [dibuat mukul bisa sakit lho]. Yang tak kuat lambaikan tangan. Siapin sapu tangan)
55.    Drunken Serie (Drunken Monster, Mama, Molen, Marmut) – Pidi Baiq (Baca saja. Jangan tanya mengapa saya memasukkan buku ini. Nanti akan ketahuan alasannya. Hehehe)
56.    Faust – Goethe (Bersiaplah. Otakmu akan diperas sampai kering oleh Goethe)
57.    Blindness – Jose Saramago (Saramago dan keanehan ceritanya yang tendensius)
58.    Cold Mountain – Charles Frazier (Pergulatan cinta dan pelarian tentara perang)
59.    The Adventures of Tom Sawyer (Petualangan Tom Sawyer) – Mark Twain (Siapa yang tak kenal Mark Twain?)
60.    Dead Souls (Jiwa-Jiwa Mati) – Nikolai Gogol (Saya melihat kebusukan birokrasi dari Gogol)
61.    Filosofi Kopi – Dee (Saya pecinta kopi dan mewajibkan anda membaca kumpulan cerpen tentang kopi)
62.    Dongeng Sepanjang Masa/Kumpulan Dongeng Andersen – Hans Christian Andersen (Anak kecil masa kini setidaknya membaca buku HC Andersen. Jangan jejali mereka dengan sinetron atau tayangan musik yang tak mendidik)
63.    Si Doel Anak Jakarta – Aman Datuk Madjoindo (Jujur saja bahwa buku inilah yang saya resensi pertama kali sebagai tugas sekolah)
64.    Bekisar Merah – Ahmad Tohari (Tohari dan kisah seorang perempuan yang ah sudahlah…)
65.    David Copperfield – Charles Dickens (Pembolak-balikan moralitas dan penuh emosi)
66.    Sophie’s World (Dunia Sophie) – Jostein Gaarder (Buku filsafat yang memberikan pemahaman filsafat secara mudah)
67.    Anna Karenina – Leo Tolstoy (Sebuah tragedi dari cinta terlarang)
68.    Moby Dick – Herman Melville (Dendam memang selalu irrasional yaa)
69.    Lord of The Flies (Penguasa Lalat) – William Golding (Kisah menarik dimana anak sekolah yang terperangkap di pulau terpencil)
70.    The Picture of Dorian Gray – Oscar Wilde (Adik tingkatku ada yang menyukai film ini. Akan tetapi, novelnya lebih menarik)
71.    Disgrace (Aib) – JM Coetzee (Cinta bukan sekedar perasaan ataupun seks, tapi juga komitmen)
72.    The Metamorphosis – Franz Kafka (Ajaib jika saya boleh menggambarkan novel ini)
73.    The Double & The Gambler – Fyodor Dostoevsky (Lebih bagus daripada si Kembar Karamazov)
74.    The Kite Runner – Khaled Hosseini (Saya jengkel dengan tokoh utama buku ini, tapi mau gimana lagi karena kisahnya menguras emosi)
75.    Pak Kanjeng – Emha Ainun Nadjib (Ini novel penuh sindiran pada Orba)
76.    The Fault in Our Stars – John Green (Penyakit terkadang tak perlu ditangisi)
77.    Saman – Ayu Utami (Pram pun juga menyukainya)
78.    The Life of Useless Man (Pecundang) – Maxim Gorky (Insting Gorky memang ciamik)
79.    The Devil And Miss Prym – Paulo Coelho (Hidup memang harus memilih)
80.    Ayat – Ayat Cinta - Habiburrahman el Shirazy (Bagiku buku ini adalah pelopor kisah-kisah Islami dan yang paling bertanggung jawab munculnya novel-novel sejenis. Harus diakui ini novel yang mengesankan untuk anak SMA)
81.    The Duchess – Jude Deveraux (Banyak kejutan di dalamnya. Nikmati saja.)
82.    The Notebook – Nicholas Sparks (Sparks memang ahli dalam meramu kisah perjuangan cinta)
83.    And Then There Were None – Agatha Christie (Satu novel Agatha yang mengasyikkan)
84.    American Psycho – Bret Easton Ellis (Novel sadis yang memiliki ending yang membingungkan)
85.    The Piano Teacher (Sang Guru Piano) – Elfriede Jelinek(Buku yang mesum sangat indah hehehe)
86.    Laila Majnun – Hakim Nizami Ganjavi (Laila Majnun bagiku lebih menarik dibanding Romeo Juliet. Dan Siti Nurbaya karya Marah Rusli memiliki aroma yang sama oleh kisah keduanya)
87.    2001: Space Odyssey – Clarke Arthur C (Penjelajahan angkasa luar yang luar biasa)
88.    Ben-Hur – Lew Wallace (Anda tak kenal Benhur? Maka kamu perlu membacanya)
89.    An Artist of the Floating World – Kazuo Ishiguro (inilah puncak dari seorang Ishiguro)
90. The Labyrinth of Solitude – Octavio Paz (Paz menjebakmu dalam sebuah labirin yang membuatmu terus mencari karyanya)
91.    The Lost World – Sir Arthur Conan Doyle (Hei, inilah yang menghidupkan para Dinosaurus sebelum dibuat lebih keren filmnya oleh Steven Spielberg)
92.    To Kill A Mongkingbird – Lee Harper (Usai membacanya kamu tidak akan heran jika buku ini selalu muncul dalam daftar “Must Read”)
93.    Wuthering Heights – Emily Bronte (Penolakan cinta terkadang membawa petaka bagi yang menolak, terutama yang menolak dengan ‘kasar’)
94.    One Hundred Years of Solitude (100 Tahun Kesunyian) – Gabriel Garcia Marquez (Seperti Indo*** yang dari generasi ke generasi. Dari Sabang - Merauke hehehe)
95.    1984 – George Orwell (Ramalan yang mencekam sebelum abad 20 berakhir)
96.    Dr. Zhivago – Boris Pasternak (Pasternak pancen edaaan)
97.    Nausea – Jean Paul Sartre (Saya tidak sependapat dengan eksistensialisme Sartre, namun buku ini benar-benar menggairahkan)
98.    Timeline – Michael Crichton (Tiada rintangan meski kau tak paham fisika)
99.    Love Story – Eric Seagal (Walaupun tidak sebagus A Walk To Remember, buku ini menyentuh imajinasimu)
100. Burung-Burung Manyar – YB Mangunwijaya (Entah mengapa sulit membuatku jatuh cinta pada penulis dalam negeri. Dan Mangunwijaya salah satu penulis yang mampu menaklukkan saya)


Mar 10, 2015




Judul              : The 100 Year Old Man Who Climbed Out of The Window And Disappeared
Penulis            : Jonas Jonasson
Tebal              : viii+508 hlm. 20,5 cm.
Cetakan          : Kedua, 2014
Penerbit          : Bentang Pustaka

           
“Balas dendam seperti politik, satu hal akan diikuti hal lain sehingga yang buruk menjadi lebih buruk dan yang lebih buruk akan menjadi paling buruk.”

            Mulanya saya tidak tertarik dengan buku ini. Alasan pertama, sampulnya yang berwarna hijau sehingga terkesan agak norak. Kedua, jenis kertas buram yang saya curigai sebagai buku bajakan, tetapi kok dijual di toko buku besar dengan harga yang lumayan mahal untuk kertas buram (karena masih mikir bajakan). Ketiga, judul yang terlalu panjang untuk sebuah novel seakan-akan buku ini seperti karya ilmiah. Ketiga alasan itulah yang menjadi kelemahan awal dari buku ini.
            Berbagai ulasan dari El Mundo, Le Figaro dan The Observer menarik minatku. Terutama karena buku ini merupakan buku humor dan saat itu saya butuh humor di tengah kejaran proposal Tesis. Rileks sebentar tak apalah.
            Bagian awal novel terasa sangat lambat. Allan Karlson menjadi kakek yang menyebalkan dan tidak bisa diam (ternyata masa mudanya juga sudah menyebalkan). Namun, lambat laun kisah mulai menunjukkan keseruannya. Dibangun dengan penuh kesabaran dan rapi menjadi nilai tambah buku ini. Benar saja novel ini dipenuhi humor-humor kocak dengan alam pemikiran Allan yang tidak suka politik dan anti komunis. Yang dia suka adalah Vodka. Keahliannya adalah membuat vodka dari susu kambing dan membuat bom atom. Berbagai tokoh dunia dipertemukan dengan Allan dan memiliki benang merah cerita dengannya. Paling mengejutkan dan kocak ketika ada Indonesia dengan semua perilaku warganya (orang Swedia ini dapat cerita darimana coba? Mungkin dia pernah berlibur ke Bali hahahaha…).
Bagian yang saya suka ketika si kakek ingin mendarat di Bali tanpa memiliki izin mendarat.
"Nama saya Dolar," kata Allan. "Seratus ribu dolar." Kemudian hening.
"Anda masih disana, Mr. Dolar?"
"Seratus ribu," kata Allan. Saya Mr. Seratus ribu dolar, dan saya minta izin untuk mendarat di bandara anda."
"Maaf, Mr. Dolar, suaranya jelek sekali. Maukah anda menyebutkan nama depan anda sekali lagi?"
"Nama depan saya Dua ratus ribu, apakah kami boleh mendarat?"
"Selamat datang di Bali, Mr. Dolar. Senang anda berkunjung kemari."
"Indonesia adalah negara di mana segalanya mungkin," ujar Allan pada Kapten Pesawat.
            Jonas menceritakan kisah Allan tua dan muda yang semuanya memiliki jalinan kisah yang menarik, seru dan tentunya kocak. Kebrutalan dan kesadisan tidak melulung menakutkan, sebaliknya justru dibalut dengan humor. Latar belakangnya sebagai wartawan dan juga pegiat media memudahkannya untuk meramu peristiwa sejarah dengan kisah fiktif Allan Karlsson. Layaknya novel Forrest Gump mungkin akan menarik jika difilmkan dan dengan gaya penceritaan seperti The Godfather: Allan muda dan tua. Jason sukses menghibur pembacanya. Disamping ketiga kelemahan yang saya sebutkan sebelumnya, buku ini diterjemahkan dengan baik sekali. Ringan dan menghibur. Cocok untuk anda yang sedang mengalami tekanan.

“Hidup berjalan sedemikian rupa sehingga benar tidak selalu benar, tetapi apa yang dikatakan benar oleh orang yang berkuasa.”

Feb 15, 2015

Ketika SMP saya sangat menyukai sebuah film dengan spesial efek visual yang keren dan megah. Ledakan dan berbagai adegan tak logis membuat saya begitu terpesona layaknya anak kecil yang penuh imajinasi (memang masih kecil saat itu). Lambat laun ternyata efek visual juga tak melulu ledakan ataupun adegan-adegan keren, lebih dari itu efek visual juga memerlukan akting karena perkembangan motion capture. Daripada nganggur dan otak jadi kaku mending saya melemaskannya dengan mengetik sesuatu yang ringan-ringan saja (yang berat disimpan untuk mikir tesis hehehe). Yap… The Best Visual Effect Academy Award 87th menampilkan 5 nominasi film: Captain America: The Winter Soldier, Dawn of the Planet of the Apes, Guardians of the Galaxy, Interstellar dan X-Men: Days of Future Past.

Walaupun tidak terlalu menyukai franchise nya, secara objektif saya mengakui Dawn of the Planet of the Apes memiliki efek visual yang waah. Film lain yang dinominasikan sebagai efek visual terbaik memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Masing-masing memiliki kekuatan tersembunyi untuk menyeruak memenangkan oscar.

Mari tengok Captain America: The Winter Soldier yang cukup menyita perhatian saya. Pasalnya, seri pertama yang biasa saja membuatku malas untuk melirik yang kedua. Namun, Scarlet Johansson yang kemudian membuatku merubah niat. Hehehe… Mulai dari gaya bertarung sampai efek visual diperbaiki kualitasnya. Mungkin menyusul kesuksesan The Avangers yang membuat sang Captain tampil lebih percaya diri. Saya senang melihat Falcon menghindari tembakan bertubi-tubi pesawat sambil meliuk-liuk di udara. Adegan terakhir yang menjadi klimaks menandakan perbedaan nyata antara seri pertama dengan kedua dari film ini. Dibandingkan melihat efek visual Captain America: The Winter Soldier saya lebih tertarik menonton adegan baku hantamnya. Menurutku, Transformers: Age of Extinction atau The Hobbit: The Battle of the Five Armies lebih cocok menggantikan Captain America: The Winter Soldier sebagai nominasi efek visual terbaik.
Ada salah satu adegan yang membuatku terpana sekaligus kagum dari X-Men: Days of Future Past, yaitu ketika Quicksilver mengobrak-abrik pentagon, khususnya ketika di dapur. Bagi yang sudah menonton film ini pasti akan berpendapat serupa. Ada lucu, keren dan memorable pada adegan tersebut. Slow motion nya mengingatkan kita pada The Matrix atau saya boleh mengatakan terinspirasi dari film yang dibintangi Keanu Reeve tersebut. Pertarungan dengan Sentinel pun perlu menjadi catatan juga. Nampaknya kekuatan/penyebab utama efek visual film ini karena adegan Quicksilver.

Para penikmat film memiliki ekspektasi tinggi pada film garapan baru Christoper Nolan, Interstellar. Pasca Inception yang meraih efek visual terbaik Oscar ke 83, banyak pihak mengharapkan film ini menyajikan efek visual yang lebih. Menggabungkan efek dari film Inception dan Gravity dengan imajinasi ala 2001: Space Odyssey membuat film ini berbeda dengan karya Nolan lainnya. Gemuruh badai pasir, keheningan di luar angkasa, tsunami di Planet Miller, kecantikan warmhole, sampai visualisasi 5D merupakan kekuatan dari film ini. Tontonlah dan anda akan mengerti.
5 Dimensi alan Nolan

Guardians of the Galaxy (GoG) sama kuatnya dengan Dawn of the Planet of the Apes (DPA). Rocket dan Groot mampu membuat kita tertawa, sedangkan para simpanse membuat kita bersimpati atas emosi mereka. Untuk para tokohnya, GoG mengandalkan efek CGI sedangkan DPA menggunakan motion capture. Kedua film ini memiliki efek visual yang merata, dari awal sampai akhir. 
Scene pembuktian Yondu yang ternyata kuat juga
GoG memberikan nuansa pertempuran luar biasa di angkasa ditambah karakter lucu Rocket dan Groot. DPA menampilkan detail hutan dan reruntuhan kota serta para simpanse yang penuh emosional. Bila memilih dua, saya akan memilih kedua film ini. Tetapi pemenang selalu berdiri seorang diri, jadi saya lebih memilih DPA sebagai efek visual terbaik.

Diplomasi ala Para Simpanse


Feb 14, 2015


Film yang sukses membuatku menonton dua kali karena diangkat dari novel The Double karya Jose Saramago yg surealis dan penuh simbol.
Seperempat film penuh nuansa mencekam dan misteri yang kemudian beranjak pada sesuatu yang aneh. Kisah kembar identik (suara, rupa sampe bekas luka) tpi beda karakter. Mirip-mirip film The Double yg diadaptasi dari karya Fyodor Dostoyevsky.
Keywordnya ada di depan: Chaos is order yet undeciphered... hahaha lalu laba-laba yang diinjak. Surealisme dalam bentuk laba-laba merupakan simbol dari kecemasan, ketakutan dan kecerdasan. Ceritanya sederhana tapi dibuat berantakan agar kita bisa menyusun puzzle-nya. Seseorang yang memiliki kepribadian ganda yang ingin meninggalkan selingkuhannya untuk kembali pada istrinya.
Cerita:  7.9/10
Pemain: 8.2/10
Ending:  9/10
Overall: 8.4/10


Feb 11, 2015

            

             Bingung karena beasiswa belum cair yang berdampak pada belum bisa membayar semesteran dan tentu saja menunda sidang proposal tesis (syaratnya sidang proposal adalah tidak memiliki tanggungan biaya semesteran), so mari kita bicarakan Film Terbaik dalam Academy Award 86th. Nominasi kali ini menampilkan film American Sniper, Boyhood, Birdman, The Grand Budapest Hotel, The Imitation Game, Selma, The Theory of Everything, Whiplash. Mari kita bicarakan satu-satu.
            American Sniper. Jangan ditanya mengapa film ini masuk nominasi oscar. Jelas alasannya, Patriotisme. Amerika memang menggandrungi film dengan tema patriotisme. Apalagi film ini menceritakan tentang Chris Kyle, sniper legengaris AS yang telah membunuh lebih dari 160 orang (konon menjadi salah satu sniper paling mematikan di dunia). Dan pantas jika rakyat AS mengenal dekat tokoh ini dan menjadi box office. Menurut saya, kualitas film ini biasa saja. Saya tidak terlalu mengenal dekat dengan Kyle dalam film. Berbeda jika saya bandingkan dengan Enemy At The Gate yang kita bisa mengenal lebih dekat dengan Vasily Zeitsev. Persaingan antara Kyle dan Mustafa pun tidak seseru Zeitsev melawan Major Koenig. Akting Bradley Cooper pun tidak seistimewa ketika berperan di Silver Linings Playbook. Bila disandingkan dengan The Hurt Locker maupun Platoon yang sama-sama mengangkat patriotisme AS yang suka berperang, American Sniper masih belum memenuhi ekspektasi sebagai pemenang Film terbaik.
            Boyhood. Film yang biasa saja. Akan tetapi karena biasa itulah menjadi luar biasa. Kisah perjalanan anak kecil sampai remaja direkam dengan apik. Kita seperti mengenang perjalanan hidup kita dengan segala kebiasaan dan perkembangan psikologisnya terutama bagi anak yang broken home. Pembuatan film yang selama 12 tahun menunjukkan dedikasi yang luar biasa. Jika melihat dedikasinya, Linklater pantas meraih Best Directed. Karya Orisinal yang menyentuh.
            Birdman. Drama humor absurd yang menawan. Bagi penonton awam mungkin tak begitu memahami film ini. Keaton menampilkan sosok aktor mantan superhero yang pensiun dan redup popularitasnya dan mencoba mengembalikan kembali bintangnya melalui theater. Sepanjang film anda akan bertanya-tanya, apakah Riggan memiliki kekuatan super ataukah itu hanya imajinasinya? Jawabannya akan anda temukan pada akhir film dengan sebuah senyuman sambil memaki di dalam hati. Antara Riggan dengan Keaton memiliki kesamaan, yaitu sama-sama pernah berperan sebagai super hero. Riggan sebagai Birdman dan Keaton sebagai Batman karya Tim Burton. Inilah yang membuat aktingnya mampu memukau kita dengan segala kerumitan dalam dirinya. Good Job!
            The Grand Budapest Hotel. Saya menyukai film dengan seluruh kekonyolan orisinal khas Wes Anderson. Film mewah nan megah dengan plot rumit, namun gaya bertutur yang sederhana. Banyak warna kontras membuat ceria dan menyenangkan. Anda akan terhibur dengan segala keanehan film ini dan mungkin beberapa tahun ke depan film ini masih akan menjadi perbincangan. Diisi dengan pemain-pemain yang mumpuni menambah kuat kesan mewah. Tetapi, bila menilik kebiasaan Oscar untuk film terbaik nampaknya film ini harus mengalah dengan film lain. Atau pihak panitia ingin menambah gaya baru dalam pemenang film terbaik oscar.
            The Imitation Game. Ada sebuah rumus bahwa jika ingin menang dalam oscar, kita harus membuat film tentang tokoh besar. Mulai dari film Gandhi, Braveheart (William Wallace), A Beautiful Mind (John Nash), sampai The King’s Speech (King George VI). Film ini memenuhi rumus tersebut karena inilah film yang berkisah tentang Alan Turing. Siapa Alan Turing? Simpelnya adalah dia peletak dasar dari evolusi komputer. Tanpa jasa Turing mungkin kita tak akan bisa menikmati yang namanya komputer. Tiga timeline dihadirkan dalam film ini. Saat Turing masih remaja yang penuh bullying dan cinta pertamanya, saat perang dunia II berlangsung dan pasca perang dunia II. Kita dibawa pada dunia Turing yang rumit dengan segala perhitungannya dan kepribadiannya. Dan Benedict mampu memuaskan saya dengan film ini. Adegan bunuh dengan apel yang dicampur sianida pun tak perlu kita tonton unuk mendapatkan kompleksitas pada diri Turing. Saya menjagokan film menang sebagai film terbaik.
            Selma. Seperti halnya The Imitation Game, film ini juga menerapkan rumus yang sama. Kali ini tokohnya Martin Luther King Jr. Di samping itu, film menerapkan rumus lain yang kerap menang oscar, yaitu HAM. Persamaan hak, diskriminasi minoritas, dan rasial merupakan hal-hal sensitif yang mampu meraih simpati dewan juri oscar. Tengoklah 12 Years a Slave misalnya. Secara subjektif, saya lebih menyukai The Help dibandingkan film ini meskipun memiliki tema yang sama. Adakalanya kuda hitam memang mampu mengejutkan dan muenyingkirkan film lain.
            The Theory of Everything. Film yang diangkat dari sebuah judul buku Stephen Hawking. Bukan berkisah isi di dalam buku melainkan kisah hidup si jenius Hawking lah yang diangkat pada film ini. Sebagai sebuah film secara utuh, film ini menarik karena ada beberapa hal yang membuat film ini istimewa, yaitu penampilan Eddi Redmayne dan kisah di samping kehidupan Hawking. Lucunya, Eddi harus bersaing dengan Benedict Cumberbatch yang juga pernah memerankan Stephen Hawking tahun 2004 dalam Hawking, tapi kali ini memerankan Alan Turing. Rumus pemenang Oscar yang berkisah penyandang cacat dan ‘jenius’ memang selalu menarik. Ada perpaduan antara Forrest Gump dan A Beautiful Mind pada film ini. Sayangnya The Theory of Everything tidak ada kejutan dan kelucuan seperti kedua film tersebut.
            Hehehe Whiplash. Saya terkesan dengan bangunan cerita pada film ini. Konflik dibangun secara rapi dan penuh kesabaran. Yah… JK Simmon mampu memberikan tekanan dan ketegangan bahkan juga kejutan di akhir cerita. Kisah sederhana yang mampu membuat penontonnya betah dan tertawa serta jengkel. Hahaha…
            Wes to? Saiki ngene wae, awakmu milih ndi? Secara jujur saya mengakui bahwa film terbaik oscar ke 87 memang ketat dan memiliki kualitas yang sama bila dibandingkan dengan tahun-tahun lalu. Apabila terjadi anomali, bisa saja yang menang The Grand Budapest Hotel. Kejutan selalu ada di dalam Oscar, layaknya The Artist atau Sheakspeare In Love. Atau jika mengikuti rumus bisa jadi Selma, The Imitation Game, atau The Theory of Everything. Mungkin realitas Boyhood mampu memengaruhi juri oscar. Bila saya jurinya saya akan memilih diantara The Imitation Game dan Whiplash.

Feb 9, 2015



Satu lagi yang menambah koleksi film bertema musik Jazz setelah The Legend 1900 dan tentu saja Ray. Dari cerita okelah dengan tema Jazz dengan drum sebagai fokusnya. Akting, si Botak Simmons sukses membuat saya tegang, jengkel dan penuh kejutan. Inget guruku yang suka maki-maki tulisanku dan memanfaatkan kepolosan dan keluguanku. Hehehe... Saya suka endingnya dengan aksi drum Andrew dan cerita yang dibiarkan menggantung.
Oscar tahun ini memang bakal ketat setelah berbagai macam film yang memiliki kualitas tak jauh berbeda. Dan Selamat untuk J.K. Simmon yang meraih Aktor Pendukung Terbaik di Golden Globe tahun ini.
Whiplash... story: 8/10, pemain: 7.8/10, Ending: 8.3/10, Overall: 8.2/10

Feb 5, 2015




            Saya acap kali jengkel ketika mengkopi film dari teman ternyata film yang saya tonton tidak memberikan manfaat atau paling parah film tersebut benar-benar tak berkualitas. Menonton sebuah film bukan sekedar mencari hiburan dari ledakan atau aksi berantem maupun humornya. Lebih dari itu, film dapat menjadi sebuah pembelajaran alih-alih membuat kita berpikir dan terdapat nasihat berharga di dalamnya.
            Pesatnya teknologi menggeser kebiasaan manusia dalam menonton film. Dulu kita dapat menonton film dari layar tancap yang kemudian bergeser ke bioskop dan lalu dirumahkan karena adanya televisi. Dari televisi lanjut dengan kemunculan VCD Player serta DVD Player yang membuat konsep baru bernama home theatre di dalam rumah. Kemunculan Blu-Ray semakin memanjakan mata penikmat film dengan kualitas High Definition (HD).
            Interenet kian menambah maraknya jumlah bajak laut hehehe… apalagi di negara berkembang seperti negera tercinta kita. Dari sinilah kita bisa menikmati film-film yang diinginkan. Bahkan adapula situs yang menyediakan menonton film secara online. Well, mendownload film seperti sebuah perjudian jika tak mengenal seluk beluknya. Daripada kamu menghabiskan kuota internet dengan downloadan yang tak jelas, saya akan memberikan tips dalam mendownload film sesuai pengalaman saya menjadi bajak laut.
1.    Kenali Film
Kenali dulu film yang akan kamu tonton. Jangan asal download. Tak masalah jika film tersebut kamu dapatkan dari mengcopy teman, namun jika hendak mendownload kenali dulu filmnya apakah anda suka atau tidak. Lihat cast pemainnya, sinopsisnya (saya jarang dan cenderung mengabaikan sinopsis karena mengurangi sensasi dalam menonton), thrillernya, atau bahkan poster. Situs IMDB mungkin bisa membantu walaupun bukan acuan yang sangat penting karena terkadang rating rendah belum tentu buruk sebuah film, namanya juga demokrasi dalam memberi rating.

2.    Lihat Deskripsi Film
Tengok dulu deskripsi filmnya. Kualitas video memengaruhi kenyamanan dalam menonton. Gak asik jika nonton terus ada bayangan orang lewat. Kenali kualitasnya dari informasi yang diberikan. Sebuah video film biasanya memiliki kualitas tertentu misalnya Cam, TS, R5, DVD, HD, Bluray dan adakalanya terdapat embel-embel rip sebagai singkatan dari ripping. Ripping merupakan hasil salinan dari kaset atau sebagai bentuk promosi. Mungkin urutannya seperti ini CAM > TS > DVDScr > R5 > WEBRip > DVDRip > HDTV > WEB-DL > BRRip/BDRip.
Selain deskripsi kualitas yang kamu perhatikan adalah subtitlenya. Tidak sedikit film yang kamu download mengandung hardsub. Hardsub ini maksudnya adalah subtitle yang melekat pada video. Ada yang bisa dihilangkan dengan software namun banyak juga yang tak bisa dihilangkan karena sudah mengalami kompres sebelumnya. Masih mending jika hardsubnya bahasa kita atau bahasa inggris yang masih kita pahami, bisa saja hardsubnya bahasa spanyol, tiongkok, korea, atau arab dan besar pula. Nah loh kapok koen. Hehehe…

3.    Hati-Hati Jebakan

Jebakan ini biasanya dialami karena kita terlalu nafsu dalam mendownload. Contoh paling mudah adalah film Naruto The Last yang banyak terkena jebakan para pecinta film. Baru satu bulan launching sudah keluar versi DVDrip nya. Nah, hati-hati jika tidak kamu bisa dapat zonk atau bisa-bisa kemasukan virus atau malware. Bisa didownload dan dibuka, namun ternyata film indonesia yang kamu tonton. Hahaha… Lihat dulu komen-komen di bawahnya karena itu bisa memperlihatkan reaksi para downloader. Jika ada makian dalam komentarnya mending urungkan niat untuk mendownload. Mubazir! Tak ada salahnya untuk bersabar. Selain itu, perhatikan passwordnya. Tak lucu bila selesai download anda diminta memasukkan password dan syukur-syukur ada passwordnya, kalau tidak ada password? Hahaha… Paling aman memang melihat komentarnya.

4.    Perhatikan Kuota dan Pemutar Film
Sebelum mendownload, kita patut memerhatikan akan ditonton dimana film kita nanti. Laptop? Notebook? TV? Jika TV berapa inch TV kita. Ini penting karena tak semua film cocok dan enak disembarang pemutar. Film yang kapasitasnya dibawah 500MB tentu kelihatan pecah-pecah ketika menontonnya di TV ataupun Laptop. Dan film dengan kualitas Bluray yang besarnya 2 GB lebih justru sering tersendat-sendat diputar pada notebook kita yang mini. Sesuaikan kebutuhan, OK?
Kuota juga menjadi aspek penentu kelancaran kita. Jangan sampai downloadan kita sudah 80%, akan tetapi terhenti hanya karena kuota kita habis atau koneksi internet lemot. Saya dulu sering mengalami ini dan kesalnya gak ketulungan.

5.    Ini Yang Paling Penting
Ini yang paling penting: bertanyalah! Tanyakan pada teman-temanmu yang biasa mendownload film apakah sudah memiliki film yang akan kamu download atau tidak. Rugi jika temanmu sudah punya ternyata kamu terlanjur download. Apalagi jika kualitasnya lebih baik. Nyeseeek!!!
Disamping itu berhentilah mendownload. Karena sesungguhnya menjadi bajak laut itu riskan.