Ronaboyd Mahdiharja

Sebuah goresan nan Pribadi mengenai metamorforsis dalam alam pemikiran perjalan menjadi manusia.

Mar 23, 2019

Catatan Si Pemalas #10






Apa yang menjemukan dari sebuah kota besar? Betul, macet. Untungnya, kemacetan yang kulalui melewati sungai Rolak, Gunung Sari yang lumayan menghibur mata. Setidak-tidaknya saya dapat sedikit memainkan imajinasi di sungai yang berwarna coklat itu.

Di tengah kemacetan saat jam pulang kantor muncul robot Godzila yang membuyarkan motor dan mobil. Lalu di bawah tol Karah, Kong yang asyik berendam merasa terusik ikut-ikutan ngamuk. Sial, efek Spielberg.

Malam sebelumnya saya menonton Ready Player One karya sutradara kawakan itu. Film yang mencampur berbagai budaya populer ke dalam suatu tampilan yang wah. Aku tentu tak pernah membayangkan motor PX-03 dari anime Akira hancur oleh si Kong yang turun dari tower. Atau Mechagodzilla yang bertarung dengan robot legendaris Gundam RX-78 dan Iron Giant. Spielberg dengan cerdas dan rapi memainkan berbagai wahana budaya pop ke dalam sebuah film. Sangat cocok untuk manusia yang stres saat melihat keranjang pakaian yang menggunung.

Tak ada Godzilla atau Kong yang saya temui di sungai itu. Adakalanya saya menemukan orang melarung sesaji di sana. Tak sering dan biasanya malam. Tiap orang dan tempat mungkin memaknai hal itu secara berbeda. Dalam budaya populer di Jepang, persembahan sangat penting untuk seorang dewa. Anime Noragami barangkali dapat menjadi representasi akan hal ini. Seorang dewa jika kehilangan penyembah atau yang berdoa untuknya, maka dia akan hilang karena terlupakan. Jauh sebelum Noragami, Neil Gaiman dengan sangat unik dan keren mengisahkan hal serupa: pertarungan dewa lama dengan dewa baru di tanah Amerika. Engkau akan terasa merinding bagaimana kubu Odin dan dewa-dewa dalam mitologi melawan Dewa Dunia dan Dewi Media. Yah semua hanya fiksi, dan seperti kata Gaiman dalam bukunya American Gods “Fiksi membantu kita menyelinap ke dalam kepala-kepala lain, tempat-tempat lain, dan melihat keluar melalui mata yang lain.” Baik Yato maupun Odin tentu mengalami hal yang menyakitkan. Dulunya dipuja kemudian dilupakan sehingga memiliki obsesinya sendiri.

Aku bersyukur karena tidak hidup dalam pemahaman yang demikian. Dalam pemahamanku Allah tidak melihat orangnya, melainkan perbuatannya. Amal kebaikan akan terus mengalir selama dia memberikan contoh yang baik, begitu pun kemaksiatan dan keburukan. Keduanya akan terus menggelinding bahkan setelah kematiannya. Pandangan ini kudasarkan pada hadist tentang putra pertama Adam tetap akan tetap menanggung dosa setiap jiwa yang terbunuh secara zalim.

Begitu menyedihkan menjadi dewa yang mengemis untuk dipuja. Aku lebih memilih tak dikenal, tetapi amal baik terus mengalir bahkan setelah kematianku.

No comments:

Post a Comment