Ronaboyd Mahdiharja

Sebuah goresan nan Pribadi mengenai metamorforsis dalam alam pemikiran perjalan menjadi manusia.

Oct 12, 2018

Walah Repot







Life can only be understood looking backward. It must be lived forward.- Eric Roth, The Curious Case of Benjamin Button Screenplay

Aku menjamah Pedro Paramo berulang kali. Akhir-akhir ini lebih sering dengan membandingkan terjemahan yang berbeda (Gambang dan Gramedia). Bolak-balik menuju lorong masa kini dan silam di kota Comala. Kurasakan gegar riuh dan sunyi dalam deretan kata Rulfo. Hal itu tak lantas memberikanku sebuah kesimpulan bahwa hidup ialah seperiuk tai. Jangan dengarkan gerutuan Kilgore Trout, kakek uzur yang mengalami ‘gegar’ karena gempa waktu.

Vonnegut menjelma menjadi lebih cerewet dari biasanya. Mohon mahfum namanya juga kakek-kakek, nenek-nenek pun demikian. Meskipun mereka menyebar hoax atau haus perhatian, biarkanlah namanya juga kakek-nenek. Adakalanya mereka sudah makan sepiring nasi tapi merasa belum makan sama sekali. Janganlah kita ikut-ikutan membully walau mereka bullyable. Tentu saja merepotkan. Anggaplah menahan diri sebagai latihan menjadi lelaki atau anak/kawula muda yang berbakti.

Bicara merepotkan, aku ingin membawamu pada sejarah dalam definisi Carr, dialog tanpa akhir antara masa kini dan masa lalu. Belakangan ini ada sebuah kerepotan yang membayangiku. Terlepas dari repotnya kakek-nenek yang merepotkan itu, aku bertanya-tanya, sejauh mana dulu aku merepotkan.  Ketika belum lahir pun kita kerap merepotkan orang tua. Cobalah bayangkan dirimu mendekam di rahim sedangkan orangtuamu berkeliling mencari lele penyet pada pagi hari saat anak-anak sekolah di Surabaya (yang luas). Atau pagi buta mencari warung rawon yang masih buka. Merepotkan? Tidak, justru menyenangkan dan lucu meski saat mencarinya jelas-jelas mengerutu. Pemahaman ini setelah ada jeda dan jarak.

Jeda dan jarak itulah yang membuatku terpingkal-pingkal tatkala membaca tulisan-tulisanku bertahun lampau. Aku tak mampu menemukan betapa merepotkannya diriku saat masih dalam kandungan. Selain ayahku yang irit bicara, aku tak begitu dekat dengan ibu (karena jarang berjumpa). Jadi, tulisan-tulisan itulah yang merepresentasikan betapa merepotkannya diriku. Tulisan-tulisan hasil belajar yang oleh para mentor dibuang, disobek, dihujat, dibanting, diinjak, dan diamini.

Dulu tiada tebersit kegiatan yang menjemukan itu menghasilkan uang atau sekumpulan karya. Lha wong aku sinau nulis biar skripsiku lancar. Memang dangkal banget. Mungkin sedikit berbeda dengan orang-orang yang berniat belajar menulis untuk menembus media, menghasilkan maha karya atau alih-alih menjadi abadi. Bagiku itu hanyalah bonus sebab ora kepikiran blas.

Ketika kian jamak pelatihan menulis tentu saja hal tersebut membuatku semakin merinding. Mereka berharap banyak setelah mengikuti pelatihan menjadikan tulisan mereka semakin bagus secara tiba-tiba. Kerap kutemui muda-mudi dengan semangat menggebu yang kemudian menjadi lesu ketika mereka dijatuhkan. Padahal menulis merupakan proses berulang penghancuran dan pembentukan. Hanya orang keras kepala yang mau dan belajar berbenah dari proses ini.

Aku tak mampu membayangkan betapa repotnya para mentorku. Barangkali mereka pusing atau bahkan hendak muntah saat membacanya. Pasti akan mengejutkan mendengar komentar-komentar mereka. Sayangnya, diriku belum sempat menanyakannya. 

Sejauh apapun diriku membayangkan betapa merepotkannya pada masa silam, hidup memang selalu ke depan dan harus dijalani. Aih, benar memang jika sejarah nampak seperti pelacur yang bersahaja. Tapi, ...

Though wise men at their end know dark is right,
Because their words had forked no lightning they
Do not go gentle into that good night.
Dylan Thomas

No comments:

Post a Comment