Ronaboyd Mahdiharja

Sebuah goresan nan Pribadi mengenai metamorforsis dalam alam pemikiran perjalan menjadi manusia.

Mar 25, 2018

Buku & Malam Minggu


thisscoop.com

            Tempo hari saya bertemu mbak-mbak yang menjual buku-buku ayahnya. Seorang ayah penggila buku dan bekerja dalam bidang jasa konstruksi. Semua buku itu, katanya, untuk “sangu pensiun”. Kegilaannya membeli buku hingga memenuhi rumahnya dan membuat sang istri marah. Anaknya pun menjual buku-buku sang ayah satu per satu dengan harga second.
         Sebagai sesama pecinta buku, saya pun memahami alam pemikiran sang ayah. Sembari membayangkan bagaimana keluargaku kelak dalam merespon hobiku tersebut. Ada senyum tersungging saat mendengarkan penuturan si mbak-mbak. Saya bayangkan jika kelak anakku menjual buku-bukuku tanpa sepengetahuanku. Tanpa Ia tahu bahwa ayahnya ingin membuat perpustakaan mini untuk orang-orang di desa yang jarang bersentuhan dengan buku.
       Berhadapan dengan orang yang tak suka buku sudah biasa kutemui. Tetapi, beruntunglah si Mbak itu buku-buku ayahnya dijual kepadaku. Setidaknya, buku tersebut dapat bermanfaat di tangan orang lain. Dan bersyukur juga saya karena mbak dan ibunya tidak membakar buku-buku itu sehingga dapat saya beli.
            Jangan seolah-olah tak tahu jika ada pembakaran buku. Pertanyaan tersebut jikalau engkau ajukan ke Fernando Baez akan dijawab bahwa pembakaran buku adalah salah satu cara menghancurkan buku dan karena motif ideologi. Tesis Baez tersebut barangkali meleset ketika melihat pengalaman pembakaran buku yang pernah kualami. Tentu saja buku-bukuku pernah dibakar, bukan oleh pemerintah atau aliran ekstremis tertentu melainkan oleh ayahku sendiri. Buku-buku saya dibakar karena waktuku habis dengan membaca buku yang tidak berkaitan dengan pelajaran. Lantas ayah membakarnya di belakang rumah agar saya berhenti membaca buku selain buku pelajaran. Buku yang bermanfaat ialah buku pelajaran, mungkin begitu kesimpulannya.
            Terselip rasa bahagia tatkala melihat orang lain membaca buku yang pernah kubaca. Biasanya saya akan mengajak diskusi orang tersebut. Bahkan sampai ada yang mengejek, “jangan-jangan cewek yang kau dekati itu kamu ajak juga membaca buku.” Ia tidak seratus persen salah, ada benarnya juga sih. Lah memang seperti itulah saya biasanya mengawali pembicaraan dengan lawan jenis. Mengawali dari obrolan yang kita suka to?  
Dahulu saya percaya bahwa ada semacam rasa solidaritas antar pembaca buku. Pada saat itu, saya belum tahu bahwa ada banyak tipikal pembaca buku. Tak heran bila saya dengan mudah meminjamkan buku kepada seseorang dengan rasa percaya bahwa dia akan mengembalikannya. Bahkan sering pula kupinjamkan hingga sering saya sendiri yang mengantar ke kosnya.
Saya lupa, mungkin ada ratusan buku yang saya pinjamkan dan tak kembali. Kesadaran tersebut muncul ketika menjalani akhir pekan pada masa awal-awal perkuliahan dahulu. Perlu kalian ketahui bahwa tempat saya kuliah dulu, akhir pekan merupakan sebuah kesunyian panjang yang menjemukan. Kampus menjadi sekumpulan gedung yang sangat amat minim mahasiswa. Kawan-kawanku mayoritas pulang dan juga dengan mahasiswa lainnya. Apa yang dilakukan mahasiswa pada saat akhir pekan di tengah kampus yang dikepung sawah dan minim hiburan semacam mall atau hal-hal menyenangkan lainnya? Tidak ada. Mereka tentu saja pulang karena rumah relatif dekat.
Saya? rumah saya jauh. Pulang pun bisa satu semester sekali jika beruntung, jika buntung ya tak pulang dalam setahun. Pada kondisi sunyi dan tak ada kawan bicara tersebut, tiap awal bulan saya memborong buku untuk dibaca tiap akhir pekan. Hingga aku sadar bahwa buku-buku tersebut entah lari kemana saja. Ada yang saya ingat dipinjam oleh siapa dan terkadang lupa. Lebih menyebalkannya lagi ialah saya memintanya dengan cara mengemis, bukan atas dasar kesadaran si peminjam mengembalikan dengan sukarela.
Bagimu buku merupakan hal sepele untuk dikembalikan, tetapi bagiku adalah hal yang lain. Bolehlah engkau tak mengembalikan sandal, sepatu, baju atau yang lain. Saya sering ikhlas jika itu yang diambil orang lain. Oh, kalau buku rasanya hampir menangis jika tak kembali. Pernah suatu ketika ada yang nyeletuk,”Ah, Cuma buku saja diributkan.” Tentu saja Ia tak memahami perjuanganku membeli buku. Tiap bulan saya kerap menyisihkan uang makan untuk membelinya. Tiap akhir pekan ketika yang lain pulang kampung, buku yang menemaniku. Saat yang lain malam mingguan bersama pacar, buku yang menghiburku. Bahkan saat kawan-kawan yang lain sudah kelon dengan pasangannya, buku yang jadi teman tidurku.  
tapiture.com
Ada juga celotehan lain, “kalau hilang kan bisa beli lagi to.” Saya hanya mengelus dada. Dia tak tahu perjuanganku memeroleh buku Arus Balik dengan membongkar sebuah toko buku di jalan Semarang Surabaya. Saat ini carilah buku Arus Balik yang asli (bukan bajakan) seharga lima puluh ribu. Engkau tak akan menemukannya, kecuali seharga ratusan ribu bahkan jutaan. Atau seberapa sadar mereka bahwa buku Cerita Dari Blora seharga setengah dari uang bulananmu. Atau apakah engkau bisa menemukan novel Seratus Tahun Kesunyian karya Gabo yang asli dibawah seratus ribu? Tidak, kau akan sulit menemukannya alih-alih justru tak menemukannya. Meskipun kau temukan yang ori, terkadang sulit untuk menebusnya karena kau tak selalu memiliki uang.
            

No comments:

Post a Comment