Ronaboyd Mahdiharja

Sebuah goresan nan Pribadi mengenai metamorforsis dalam alam pemikiran perjalan menjadi manusia.

Dec 9, 2019






Aku tahu akan lari ke mana. Cukup sekali aku berdoa untuk diriku sendiri. Allah bukan pelupa. Sekali saja aku egois dalam doa sehingga doa yang berulang hanya untuk selainku. Mereka lebih penting. Hal itulah yang membuatku berdoa berulang-ulang. Aku takut tak memenuhi syarat doa yang terkabulkan ketika mendoakan orang lain.
Aku bukan Musa A.S yang dapat berbicara langsung dengan Allah. Jadi, aku akan mengambil Al Qur’an untuk dibaca dan diresapi maknanya. Seharian aku merenunginya. Apabila belum cukup, aku perlu bertamasya dalam lautan buku. Aku sadar pada takdirku.
Begitulah caraku mengatasi keraguan yang menimpaku, musim-musim di tengah laut yang tak tentu. Melalui buku, tergambar berbagai peristiwa, suatu kesempatan lirih yang ditandai oleh keheningan dan fantasi. Buku seharusnya tidak memberikanku kemewahan seperti itu, apalagi di penghujung akhir tahun. Ditambah 2019 adalah tahun yang dimulai dengan kegilaan, keajaiban, antiklimaks politik, dan ketidakpastian.
Sekarang, aku bukan hendak memberitahukanmu buku yang harus kau baca. Pada kesempatan ini, aku hanya ingin membagikan 10 buku terbaik yang kubaca pada tahun ini. Banyak genre yang telah kubaca. Mulai dari sastra anak hingga kumpulan jurnal ilmiah. Intinya, daftar ini adalah buku yang kubaca pada tahun 2019, bukan yang terbit pada tahun ini.
Beberapa buku telah terbit bukan pada tahun 2019, namun aku baru membeli dan membacanya pada tahun ini. Rata-rata tersebut buku berbahasa inggris yang kubeli saat BBW, atau buku-buku puisi. Bahkan, oleh sebab alasan yang pernah aku utarakan pada kesempatan yang lain, aku membaca buku yang telah kubaca dengan versi terjemahan dan penerbit yang berbeda. Misalkan, Postmodern karya Lyotard, Candide-Voltaire, dan Don Quijote-Cervantes. Aku perlu membatasi diri dalam menyebutkannya agar tidak ketahuan bahwa waktuku ternyata begitu luang, terutama saat malam hari.
Memilih sepuluh buku terbaik yang kubaca pada tahun ini tak semudah mengkhayal. Aku harus jeli dalam melihat ke dalam diri mana buku yang terbaik. Ini bukan perkara kualitas universal, melainkan kebutuhan jasmani dan rohani. Bagi mayoritas orang, karya Mark Manson “Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat” adalah karya yang bagus. Akan tetapi, saya lebih memilih Prophetic Parenting atau You Can’t Send a Duck to Eagle School. Tiap orang punya selera sendiri dan pada kondisi tertentu perlu buku yang berbeda.
Sebagai catatan, nomor pada buku tidak menunjukkan urutan. Tanpa banyak cakap, mari kita masuk reff.

1.    Bidayatul Mujtahid Wa Nihayatul Muqtashid – Ibnu Rusyd
Tahun ini saya memiliki tekad pribadi untuk memperdalam pemahaman tentang agama. Bukan dari segi filsafat, melainkan dari sisi alim ulama. Bukan tidak pernah, melainkan sangat jarang saya membaca kitab-kitab alim ulama. Apalagi setelah kematian guruku, saya perlu memperdalam dan menyegarkan kembali ajaran-ajaran beliau.
Saya mengenal Ibnu Rusyd dari perdebatannya dengan Imam Ghazali. Boleh dikatakan bahwa perdebatan mereka secara filosofi. Pada kitab ini, Rusyd melakukan perbandingan mazhab-mazhab, penelusuruan dalil nash, menguraikan alasan perbedaan pendapat, dan cara penentuan hukum. Suatu usaha yang tentunya butuh ketelatenan serta ketelitian untuk menggali kitab-kitab pokok tiap mazhab.
Secara fisik dan isi, kitab ini terasa berat bagi pemula. Sebagai orang hukum, buku ini begitu urgen karena membahas fiqh perbandingan mazhab-mazhab. Komentar-komentar yang diberikan oleh Rusyd pun memiliki nuansa bernas dan terkadang kocak. Misalkan, komentarnya perihal perdebatan istri lebih dari empat. Rasulullah diriwayatkan memiliki istri lebih dari empat, yaitu sembilan (ada yang menyebutnya sebelas). Hal ini kemudian menyebabkan ulama ada yang memiliki lebih dari empat istri. Dasarnya, penambahan dalam memahami ayat dari firman Allah: “dua, tiga, dan empat”. Rusyd menguraikan berbagai alasan atau sebab memiliki istri lebih dari empat, lalu komentarnya ditutup “pandangan yang menambahkan jumlah lebih menyerupai halusinasi, bukan pikiran.”
Pada sisi lain, buku ini membuatku banyak berpikir tentang hukum dan menguatkan argumentasiku terhadap berbagai hal. Namun, ada hal yang masih belum kutemukan jawaban pastinya untuk saat ini. Misal, mengapa dalam kasus pembunuhan hanya butuh dua saksi, sedangkan kasus perzinahan harus empat saksi? Mengapa suatu hal yang sifatnya berat hanya butuh dua saksi dibandingkan zina (yang dianggap sepele untuk masa kini) malah harus empat saksi? Apa rahasia Allah di balik hukum tersebut? Jawaban sementara dariku terkait hal ini adalah dampak duniawi turunan pembunuhan akan dianggap selesai bila pelaku mendapatkan hukuman setimpal atau membayar sejumlah diyat. Hal ini berbeda dengan zina yang efeknya tidak hanya kepada pelaku, melainkan pada orang-orang sekitar bahkan pada generasi berikutnya. Inilah yang membuat zina disebut sebagai hutang. Wallahu a’lam bish-shawabi.

2.    The Sound of Things Falling – Juan Gabriel Vasquez
Novel ini mengingatkanku pada pengalaman sepuluh tahun silam. Vasquez mencoba menyadarkan pembaca melalui kesadaran masa lalu sang tokoh. Yah, tiap orang punya masa silam yang beragam. Malah ada yang menguburnya meski itu menjadi beban dan nampak seperti telapak kaki yang bernanah. Membuat jalan si empunya terpincang-pincang dan membungkuk karena berat di punggungnya. Berandai, pura-pura lupa atau lari tak menyelesaikan masalah, manusia hanya perlu berbalik dan menyelesaikan masalahnya.
Vasquez mengajakku bertamasya batin dengan lanskap Kolombia. Ini seperti ziarah sejarah yang elegan. Melalui tema kejujuran dan kerahasian, saya dapat melihat hubungan diri dengan sejarah dan negara. Deskripsi tentang buku ini dapat dilihat pada link berikut.

3.    Kematian di Venesia – Thomas Mann
Gustav von Aschenbach, seorang penulis asal Jerman yang terkenal dan sukses, namun kesepian. Ia memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Venesia. Di kota tersebut, Aschenbach bertemu dengan Tadzio, bocah lelaki Polandia yang sedang berlibur dengan keluarganya.
Venesia, sebuah kota yang memiliki nuansa separuh dongeng dan setangahnya lagi perangkap wisata. Betapa langka dapat menikmati kemewahan dari suatu kesendirian dengan kecemasan yang berbalut kejeniusan. Mann benar-benar detail perihal emosi, bahkan sesuatu yang menurutku menjijikkan.
Mann lebih suka memberikan petunjuk apa yang terjadi terkait tokoh utamanya, alih-alih mengatakannya secara langsung. Corak ini yang membuat Kematian di Venesia begitu kaya interpretasi, terutama secara personal. Logika dan imajinasi kerap berbenturan dalam memaknai setiap adegan yang ada. Akan tetapi, kondisi ini bagiku begitu menyenangkan dan terasa aneh atau lebih tepatnya unik.
Idealisme Plato yang digambarkan Mann mengalami kegagalan. Aku banyak melihat hal ini di sekitarku. Betapa muda/mudi mudah berkhayal tentang cinta sejati hingga kemudian mereka sadar bahwa tindakan yang mereka melakukan berdasarkan nafsu. Seperti orang yang berpuasa bukan karena Allah, melainkan untuk tujuan tertentu. Dia matikan televisi, menghindari warung-warung. Ketika waktu berbuka, rakus dan buasnya minta ampun.

4.    Kekerasan dan Identitas – Amartya Sen
Bermula dari diskusi dengan seorang kolega yang bingung karena “direkomendasikan” pembimbingnya untuk menggali pemikiran Amar Yasen. What? Aku belum mengenal tokoh tersebut dan meminta waktu untuk memahami pemikirannya. Kala itu, aku membatin begitu jauhnya diri ini tertinggal terhadap pemikiran-pemikiran tokoh hukum kontemporer.
Aku mencarinya di mesin pencari nama tersebut. Tidak ketemu. Aku mencari namanya beserta teorinya juga tidak ketemu. Semua mengarah pada Amar Yasin dan Amartya Sen. Kuhubungi yang bersangkutan untuk klarifikasi dan memang benar, aku salah menulis nama: Amartya Sen.
Ada rasa lega tatkala tahu bahwa Sen adalah seorang ekonom, peraih nobel ekonomi. Suatu bidang yang sangat jarang kubaca literaturnya. Jadi, aku masih tidak tertinggal terkait tokoh hukum kontemporer.
Kecelakaan bersejarah tersebut membawaku pada buku ini. Hal ini berbarengan dengan kasus di asrama Papua dan merembet pada kerusuhan di pulau Papua. Tentunya, kasus tersebut semakin menarik bila ditelaah melalui kacamata dalam buku ini.
Latar Belakang sen yang unik mengawali buku ini. Ketika berumur sebelas tahun dia melihat seorang buruh harian muslim yang dibunuh warga Hindu pada suatu kerusuhan Hindu-Muslim di India. Buruh itu tak punya pilihan, dia harus memberi makan keluarganya yang kelaparan meski telah dilarang oleh istrinya. Kejadian itu bagi Sen tidak hanya traumatis, melainkan juga membingungkan.
Bagi seorang bocah yang kebingungan, kekerasan identitas sangat sulit dipahami bahkan orang dewasa sekalipun. Sen kemudian menyalahkan teori identitas soliter dan menganggap pandangan tersebut berbahaya. Sen juga mengkritik penggunaan teori Huntington dalam buku Benturan antar Peradaban untuk perang melawan terorisme, suatu tindakan yang malah memperkuat persepsi umat Islam untuk anti barat.
Identitas merupakan suatu hal yang melekat, tetapi sementara sekaligus rapuh. Suatu waktu kamu beragama A dan kemudian berpindah agama B. Suatu hari menikah dengan suku A, lantas mencoba mencintai suku tersebut. Seseorang tidak mau dikatakan sebagai kelompok A karena persepsi yang melekat pada kelompok tersebut. Seperti dalam pandangan Sen, manusia pada dasarnya memiliki multi identitas, bukan identitas tunggal.
Apakah ini benar-benar kesalahan intelektual sebagaimana dikatakan Sen? Hal ini terasa sederhana bagiku. Identitas menurutku hanya salah satu faktor kecil munculnya kekerasan atau kekejaman (lihat tulisan tentang kekerasan ala Zizek). Rasa takut, kebingungan, keputusasaan, kesemerawutan, sifat kejam alamiah manusia tidak akan mudah hilang dengan model terapi konseptual Sen.
Aku senang membaca buku ini karena setelah sekian lama menemukan anti tesis dari Samuel Huntington. Akan tetapi, Sen entah lupa atau sebutlah gagal dalam menjawab bagaimana suatu bangsa modern (tolong pisahkan konsep bangsa dan negara) dapat muncul dan harga yang ditimbulkan dari pengorbanan sebuah bangsa. Belum lagi suatu bangsa yang berperang melawan bangsanya sendiri.

5.    Tuan Presiden – Miguel Angel Asturias
Novel-novel kediktatoran mudah ditemui dalam literatur Amerika Latin. Setidaknya, aku mengingat karya Gabo Autumn of the Patriarch dan juga The Feast of the Goat milik Llosa. Sejarah panjang Amerika Latin melahirkan berbagai bentuk diktator. Wajar saja bila hal tersebut kerap menjadi tema sentral dalam suatu karya sastra.
Aku merasakan humor dalam kegelapan dan juga kecerdasan Asturias dalam penggambaran adegan yang begitu kuat. Banyaknya subplot dan karakter minor membuatku perlu memberikan perhatian lebih. Hal ini kulakukan guna memahami benturan realitas dan fiksi yang melatar belakangi kisah dalam novel, diktator, kekuasaan, dan politik. Asturias ingin menegaskan bahwa kediktatoran seorang penguasa tidak menjamin siapa pun menjadi aman. Tema yang memberikan ketegangan dan ketakutan bagi karakternya, pun kepada pembacanya.
Pada struktur sosial seperti ini, moralitas dan etika tak nampak abu-abu. Hanya ada hitam dan putih. Tinggal pilih yang mana, mengkhianati atau dikhianati. Menipu atau ditipu. Tinggal memilih.
Menjelang anti klimaks politik negeri ini, membaca Asturias jadi lebih terasa menggetarkan luar dan dalam. Di dalam imaji Asturias menghantui dan di luar ada perdebatan seru pilpres. Semacam lanjutan dari pertarungan politik tahun 2014 yang cukup membelah negara ini. Terasa janggal apabila sila Persatuan Indonesia dimaknai sebagai koalisi. Yah, koalisi yang berpotensi mengarah pada oligarki. Melihat kondisi tersebut, aku ditenangkan oleh seorang kawan dengan mengatakan “masih ada mahasiswa”. Sayangnya, lagi-lagi saya dibuat kecewa. Gerakan tersebut bersumbu pendek dan kurangnya kajian mendalam. Kini dan beberapa waktu mendatang masih menunggu dagelan macam apalagi yang menanti.

Minggu depan Insya Allah akan kulanjutkan kembali lima buku. Masih ada kumcer, kumpulan puisi, dan novel.



Nov 18, 2019






tadi malam kami duduk
sambil menangkap nama-nama
semua kawan yang mati

aku menulisnya
dalam urutan abjad
ia menulisnya seperti daftar belanja

“kau tidak terburu-buru ke minimarket dan kembali ke dapur bukan?”
“aku basah kuyup membawanya, tidakkah kau bisa bantu memberitahuku
tentang apel, roti dan jerri,
kulkas penuh bintang
serta bunga di pojok toko? aku hampir melupakannya.”

hanya kami
yang masih berjalan dan bicara
menerka berapa lama kami dapat bertahan
pada pengulangan tanpa akhir,
“haruskah kugandeng welas asih dan ketakutan?”

Surabaya, 16.11.19

Sapuan Waktu

Oct 24, 2019









aku terbaring dan menyeret udara
lewati rongga gua,
semudah angin, semudah membayang

sebuah tempat peristirahatan
kala tubuh melupa lelah dan khianat
dipatuk beo yang mengelupas kulit
ketidakpedulian bertepi rasa tak hormat
semudah angin, semudah membayang

tanpa ahli waris
pemahaman adalah keganjilan
apa yang harus menjadi hidup?

remasan kertas bergambar otak
terbuang di selokan kering
berbagi ruang dengan daun berserak,
menunggu tanah terendam gin dan martini
semudah angin, semudah membayang.


Surabaya, 22.09.19

                                                                                                   Sebelum Musim Hujan

Oct 13, 2019






Barangkali baru tahun ini aku datang ke BBW seorang diri. Biasanya ada seorang kawan yang menemani atau malah rombongan. Tapi, biarlah toh sekarang juga dekat jaraknya (meski memakai motor pinjaman).

Aku membawa tiga buku, dua buku lainnya sudah kukenal dekat: Madiano dan Llosa. Satunya merupakan hasil minat dan insting. Jelas ini beresiko kena sindiran James Joyce, “Life is too short to read a bad book.” Kalau dana mepet mungkin aku sedikit berhati-hati, tetapi mumpung ada lebih hehehe...

Biasanya aku punya kriteria khusus bila menghadapi kondisi demikian. Aku tak begitu peduli dengan sampulnya yang hanya hitam dengan tulisan yang agak blur. Sinopsis dan blurb novel tak menjadi fokusku. Aku membaca bagian paragraf pembuka novel:

“The first hippopotamus, a male the color of black pearls weighing a ton and a half, was shot dead in the middle of 2009. He'd escaped two year before from Pablo Escobar's old zoo in the Magdalena Valley. And during that time of freedom had destroyed crops, invaded drinking troughs, terrified fishermen and even attacked the breeding bulls at a cattle ranch. The marksmen who finally caught up with him shot him once in the head and again in the heart with .357 caliber bullets, since hippopotamus skin is thick. They posed with the dead body, the great dark wrinkled mass, a recently fallen meteorite. And there, in front of the first cameras and onlookers, beneath a saber tree that protected them from the harsh sun, explained that the weight of the animal would prevent them from transporting him whole, and they immediately began carving him up.”

Menurutku, ini lead yang keren. Banyak penulis begitu lama memikirkan paragraf pembuka yang dapat memikat pembaca, dan Vasquez berhasil. Kuda Nil, Kebun Binatang Pablo Escobar, dan penembakan. Pablo Escobar, seorang raja kokain dari Kolombia yang sempat dibuat tv series berjudul Narcos. Imajinasiku banyak menerka isi dalam novel.

Masih penasaran, kubuka lembar terakhir novel. Pembaca disuguhi pertanyaan yang memborbardir,
“Would i ask her where she was, if i could go and pick her up or if i had the right to hope she'd come back? Would I keep quiet so she could realize she'd made a mistake abandoning our life? Or would I try to convince her, tell her that together we could defend ourselves better from the evil of the world, or that the world was too risky a place to be wandering on our own, without anyone waiting for us at home, who worries about us when we don't show up and who can go out to look for us?”

Awalan dan penutup buku serasa begitu tak asing. Jika ini berkaitan dengan narkoba sepertinya aku sudah cukup kenyang dengan kisah-kisah moralitas polisi, pecandu, korban, dan pengedar. Setelah mendekam lama di kamar untuk menghabiskan buku ini, ada rasa gamang yang menghimpit. Ada beberapa hal yang kucatat dalam novel ini, semoga tidak terjadi miss dalam pembacaan bahasa inggrisku.

Narator dalam novel ini begitu dekat denganku, Antonio Yammara, seorang dosen hukum yang bersih dari berbagai hal yang berkaitan dengan narkoba. Hingga kemudian terjadi penembakan yang mengubah hidupnya. Ia terbebani oleh masa lalu kawannya dan berusaha mengupasnya dengan tenang. Kisah pribadi kerap politis, dan bekas luka Yammara mewakili luka negara Kolombia dari cengkeraman Pablo Escobar.

Vasquez menaruh pengalaman traumatis yang begitu intim terhadap mereka yang secara langsung dipengaruhi oleh orang-orang sekitar, dengan cara yang sering kita temui. Aku pun terkadang tak berdaya untuk memprediksi atau mencegahnya. Dahulu sering kali aku berpikir, apakah hal tersebut akibat dari suatu tindakan yang telah dipilih ataukah dari peristiwa ketika aku tidak memiliki kontrol terhadap hal tersebut. Sulit untuk mengatakannya, antara marah dan penyesalan.

Aku banyak menyaksikan kejatuhan seseorang karena suatu keputusan yang membuat kekacauan, hubungan retak dan luka yang mendalam. Dan Vasquez memberikan pertanyaan besar terkait itu, apakah mungkin manusia menjalani hidup seolah-olah hal tersebut tidak terjadi? Atau itu strategi manusia untuk berpura-pura bahwa mereka menjalani kehidupan yang normal? Ada bagian yang menarik terkait hal ini dalam novel, “the saddest thing that can happen to a person is to find out their memories are lies”.

Vasquez dengan cerdik benar-benar mengeksplorasi kompleksitas pengalaman manusia. Trauma, entah itu besar atau kecil, berdampak luas atau personal, paling tidak ia ingin menunjukkan suatu eksistensi manusia. Apalagi di negara yang kacau karena dosa-dosa masa lalu, tak sekedar objektif melainkan juga subjektif. Yah, kita terlalu lama mendekam untuk memahami tekanan dan peristiwa yang justru menyebabkan penderitaan luar dan dalam. Tanpa bertindak dan mencoba berpura-pura. Pernyataan “andai saja” atau “seumpama” tak akan memberikan manfaat yang signifikan.





Oct 1, 2019




Sepulang penelitian dari Blitar inginku langsung tidur, namun urung. Aku terhenyak oleh pesan masuk dan seruan aksi. Seruan penolakan UU KPK tidak kupermasalahkan karena sudah cacat sejak dalam kandungan. Terasa aneh bila baru sekarang dipermasalahkan dan dibuat aksi besar-besaran. Begitu telat.

Kekecawaan terberatku ialah munculnya infografik terhadap beberapa pasal RKUHP. Infografik tersebut jelas dibuat oleh berbagai media bila melihat dari sumbernya. Gambar-gambar tersebut disebarluaskan oleh anak hukum pula. Alamak!

Beberapa pekan sebelum viral, seorang teman mengirim RKUHP dan meminta pendapatku. Setelah kubaca kurang lebih 600an pasal, diriku tidak ada hal-hal yang mengganggu. Pembuatan RUU biasa dengan RKUHP jelas berbeda. RKUHP sifatnya integral/terpadu, menyuluruh, mencakup berbagai aspek dan bidang, dan juga berpola. Sangat berbeda dengan RUU biasa yang parsial, tidak berpola dan hanya mengatur delik-delik khusus atau tertentu. Intinya, RKUHP menjadi rancang bangun sistem hukum pidana nasional.

Sayangnya, penyebar infografik tidak membaca keseluruhan pasal dan tidak memahami konsep RKUHP secara utuh. Tidak membaca, tidak paham, hanya didasarkan pada asumsi buta, emosi dan ikut-ikutan. Dengan sedikit pedas aku berkomentar, “simpan kebodohanmu sendiri dan jangan tularkan pada yang lain. Bila cara kalian seperti itu, aksi kalian akan memakan korban.”

Patut disayangkan adalah media begitu masif melakukan agitasi, tanpa membaca Buku I RKUHP sehingga memberikan pemahaman yang keliru. Ini semacam hoax terbesar tahun ini. Oleh sebab reputasi DPR yang buruk, bahkan hendak berbuat benar pun nampak salah.

Toh, pada akhirnya mereka masih aksi juga. Banyak yang mengunggah gambar-gambar aksi dengan berbagai pamflet atau poster yang sebenarnya lucu, tetapi nampak aneh. Sekonyong-konyong, ilmuku runtuh seketika ketika tulisan-tulisan tentang perzinahan muncul.

Pelajaran tentang Pancasila yang kuterima sejak SD hingga perguruan tinggi dengan terkantuk-kantuk nampak tak berguna sedikit pun. Pancasila itu volkgeist booos. Itu jiwa rakyat, jiwa bangsa. Ia tidak hadir serta merta, melainkan kristalisasi nilai-nilai yang dibangun melalui pengemblengan sejarah. Pancasila itu dari jiwa bangsa kita sendiri, bukan desain dari produk-produk asing. Lahir secara alamiah melalui spirit atau soul manusia Indonesia. Hal ini jelas adalah sesuatu yang sifatnya ideal dan bertugas menuntun perilaku sosial.

Apa karena suka sama suka, lalu bertindak seenaknya sendiri? Tanpa pranata sosial atau aturan? Apakah suka sama suka itu kalian sebut cinta? Bukan birahi yang bisa meredup kapan saja? Apabila kita mengakui adanya Tuhan, tentu akan menempatkan segala sesuatu dengan semestinya. Bukan sembarangan.

Apakah karena mau sama mau, lantas dibenarkan? Lantas tidak mengganggu sekitar bahkan keluargamu sendiri? Kondisi psikologis dan jiwamu? Apa yang kalian lakukan jika suami/istri, ibu/ayah, kakak/adik, sepupu melakukan kumpul kebo? Bahkan kalian bisa membaca sebuah penelitian dalam American College of Pediatricians pada tahun 2015 yang berjudul Cohabitation: Effects of Cohabitation on the Men and Women Involved. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa  kohabitasi memberikan kerusakan yang signifikan pada hubungan dan individu yang terlibat, misal kekerasan terhadap pasangan, pasangan yang tidak setia, perceraian setelah menikah. Lebih jauh, dampaknya juga pada anak-anak, seperti risiko kesehatan meningkat, kendala komunikasi dengan anak.  Sunday Review pada tahun 2012 menurunkan sebuah artikel opini yang menarik berjudul The Downside Cohibiting Before Marriage tentang survei anggapan bahwa kohibitasi sebagai langkah menuju pernikahan dan menghindari perceraian, tetapi berdasarkan pengalaman dan penelitian menunjukkan sebaliknya.

Kumpul kebo atau dalam istilah asingnya cohabitation, samen leven, conjugal union, living in non-matrimonial union juga diatur dalam KUHP negara lain. Coba lihat KUHP Singapura, Kanada, China, India, dll. Jadi, pengaturan seperti ini bukanlah sesuatu yang asing.
Ok, jika itu adalah masalah privat atau pribadi. Bukankah ada juga tindak kejahatan yang sifatnya privat, tetapi malah masuk ranah publik. Coba perdalam kembali.
***
Penolakan terhadap RKUHP membawa dampak krusial bagi diriku sendiri. Aku kembali mengalami trauma intelektual. Aku mengecek lagi sanad-sanad keilmuan yang pernah kuperoleh.

Living law yang dianggap kabur atau pasal karet atau tidak membawa kepastian hukum. Diriku seperti merasa percuma pernah belajar hukum adat, pengaruhnya terhadap kehidupan bernegara maupun hukum nasional justru tidak dikehendaki.

Pasal tentang hewan ternak dan unggas yang jelas-jelas jarang ditemui diperkotaan, dan lalu berkata “ngapain negara ngurusin itu?” Aturan itu juga ada di KUHP lama untuk melindungi petani di desa. Dirimu saja kalau ada ayam nelek di rumah jengkel, apalagi bibit dan tanaman yang menjadi sumber penghasilannya dirusak binatang yang, entah disengaja atau tidak kamu lepas begitu saja.

Berdasarkan foto-foto yang beredar, muda-mudi membawa poster bertuliskan kata-kata nyeleneh bin ajaib. Mereka menghendaki KUHP yang memisahkan masalah privat dan publik, menitikberatkan perlindungan kepentingan dan kebebasan individu yang jelas lebih bersifat sekuler dan liberal. Pemahamanku tentang Pancasila sebagai grundnorm, volkgeist runtuh seketika. Hingga aku berpikiran, Pancasila sudah tidak dikehendaki oleh anak-anak zaman sekarang.

Aku punya dua solusi untuk muda-mudi yang seperti itu. Pertama, carilah negara yang mengakomodir kepentingan dan gaya hidup yang diinginkan. Alasannya? Permasalahan itu akan sering muncul karena Pancasila masih menjadi ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Apabila tidak mau atau tidak bisa karena terkendala bahasa, aku masih punya solusi kedua. Solusi kedua, yaitu hilangkan sila pertama. Akar masalahmu beres dan anda akan membuat sebuah revolusi di negara ini. Berani?
***
Aku pun tertidur dengan bantal menutup muka. Merasa kecewa dan malu.