Ronaboyd Mahdiharja

Sebuah goresan nan Pribadi mengenai metamorforsis dalam alam pemikiran perjalan menjadi manusia.

Showing posts with label film. Show all posts
Showing posts with label film. Show all posts

Jun 23, 2019






Flu dan demam telah menyebabkan diriku perlu istirahat sejenak. Sambil membongkar film yang terabaikan, The Mustang terpilih untuk menjadi teman.

Saat melihat judulnya, aku terkenang manga tentang kuda: Sylphid & Mars. Saya belum tahu gambaran film ini, namun setidaknya kutahu bahwa film ini tak lepas dari kuda. Yah, pengetahuanku tentang kuda sangat minim, dan aku tahu Mustang adalah sejenis kuda yang hidup liar pun dari manga. Hehehehe...

Atmosfir pembuka berbeda dengan War Horse nya Spielberg. Kuda-kuda liar digiring helikopter dan masuk dalam mobil-mobil besar. Mobil-mobil itu menuju sebuah penjara.

Film terpusat pada seorang napi bernama Roman Coleman. Satu dekade ia berada di dalam penjara dan tak pintar bersosialisasi. Bahkan si anak berpikiran bahwa ayahnya tidak memiliki keinginan keluar penjara. "I'm not good with people," katanya. Hingga terjadilah pertemuan dua monster di dalam penjara. Yah, ini bukanlah film Disney karena terdapat dua monster yang saling menghancurkan, memahami, dan berusaha pulih. Sengatan lembut yang menyakitkan berada pada akhir film yang membuat haru.

Meski berlatar suasana penjara, The Mustang memiliki atmosfir keheningan yang dominan. Dialog yang minim, tapi efektif ditambah akting aktornya yang tenang dan ekspresif membuat film ini memiliki keheningan puitis yang liar. 

Cerita              : 7,5/10
Pemain           :  8/10
Ending            : 8/10
Overall            : 8/0

May 2, 2019

“You could not live with your own failure, and where did that bring you? Back to me.”

Judul              : Avengers: Endgame
Durasi            : 181 menit
Sutradara     : Anthony Russo, Joe Russo
Naskah           : Christopher Markus, Stephen McFeely
Pemain           : Robert Downey Jr., Chris Evans, Chris Hemsworth, Scarlett Johansson, Jeremy Renner, Mark Ruffalo, Paul Rudd, Brie Larson, Karen Gillan, Josh Brollin


Tahun ini ada dua hal yang tak boleh kudengar, spoiler film Avengers: Endgame dan akhir dari Game of Throne. Akan terasa menyebalkan bila kedua hal tersebut sampai ada yang memberikan spoiler. Keindahannya akan pudar seperti bila kalian sayup-sayup mendengar akhir kisah Six Sense atau The Prestige. Saya perlu menahan diri, entah itu menghindar dari status teman-teman yang telah menonton maupun membaca berita yang berkaitan dengan keduanya.

Infinity Wars telah membawa banyak spekulasi, mulai “siapa yang akan membunuh Thanos?”, kemunculan film “Captain Marvel” di sela-sela film menimbulkan praduga bahwa ia yang akan mengalahkannya. Lantas, bagaimana langkah Russo bersaudara membangkitkan kembali triliunan makhluk yang mati paska genosida Thanos dengan jentikkan jarinya? Kehadiran Ant-Man sebelum Civil Wars membuka peluang adanya dugaan multiverse ala DC. Tetapi, DC dan Marvel jelas berbeda dalam membangun universe-nya. Biasanya film-film sci-fi untuk mengatasi masalah ini dengan cara time travel, namun tidak ada yang punya kemampuan melakukan perjalanan waktu seperti Flash untuk kembali ke masa lalu atau memanipulasi waktu. Sebentar. Quick Silver telah mati dalam Age of Ultron dan kemampuannya tak sehebat Flash dari DC.  Strange bisa, tapi dia sudah menjadi debu dalam Infinity Wars. Aih, daripada memikirkan semua itu lebih baik saya melihatnya langsung.

Setelah seminggu pemutaran, kesempatan itu datang dan takkan kusia-siakan. Meski seorang diri dan waktunya malam hari, kesempatan tersebut akan sulit terulang. Mengingat jumlah penonton serta waktu luang, lebih-lebih keganjenan kawan-kawan yang ingin segera membocorkan kisah Endgame. Well, lebih baik ndang budaaal!

Hasilnya, Avengers: Endgame menjadi karya kerja keras penuh cinta untuk seluruh fans Marvel Cinematic Universe. Bagi kalian yang tumbuh bersama dengan kehadiran Iron Man, Hulk, atau Thor, dan Captain America sejak tahun 2008 akan begitu terasa keharuannya. Film ini dibuat dengan kecermatan serta kehati-hatian dengan menampilkan banyak momen yang menguras serta memuaskan secara emosional. Kita dibawa untuk menyelami lebih dalam pikiran dan jiwa para super hero yang berkawan lantas berkonflik.

Kita menyadari narasi yang dibangun selama ini begitu solid. Sepanjang film kita menghirup nuansa kelam yang intens melebur dengan humor khas Marvel. Endgame melangkah cepat dengan fokus pengembangan karakter sehingga waktu tiga jam tak terasa.

Pencapaian lain dari film ini adalah kualitas akting dari para pemainnya. Bahkan aktor yang hanya sepintas tampil memberikan sentuhan penuh makna. Perhatikan secara saksama Thor, Captain America, Hulk, Iron Man, Ant-Man, dan Dr. Strange yang membawakan pesan dan emosi yang sulit dicapai film super hero lainnya. Ada suatu anggapan bahwa film super hero atau laga tidak membutuhkan akting yang bagus karena penonton hanya butuh aksi dan baku hantam, makanya genre tersebut akan sulit masuk nominasi Oscar terutama best actor atau best actress. Akan tetapi, kali ini saya akan menganggukkan kepala bila Robert Downey Jr. dimasukkan dalam nominasi Oscar.

Kisah yang dimulai paska genosida menawarkan konsistensi kegelapan dan siksa batin para super hero karena kegagalan sebagai seorang pahlawan. Yah, meski banyak juga film super hero yang berlatar kisah serupa, Endgame memiliki level yang berbeda. Jentikkan jari Thanos memberi efek premis terhadap film ini, 14 juta banding satu.

Apesnya, solusi yang dihadirkan dalam film ini ialah perjalanan waktu. Begitulah manusia ketika ingin menyelesaikan konflik kerap berandai tentang waktu. Meski tak berbelit dalam penguraiannya, perjalanan waktu tentu memiliki kelemahan tersendiri. Lubang plot yang hadir dalam Endgame jika diuraikan malah spoiler. Tenang, saya tak ingin merusak kesenanganmu meski saat ini tanganku terasa gatal untuk mengetik bocoran film ini.

Pada aspek lain, sinematografer nampak bergembira dengan memainkan skema cahaya dan warna dalam berbagai referensi film Marvel terdahulu. Ada juga skor musik yang menyajikan nada-nada riuh di dada. Suatu tawaran yang tak mampu kita tolak sambil bernostalgia ria.

Alhasil, Endgame memiliki struktur film yang kita inginkan dan beberapa ada makna yang kita butuhkan. Capaian langka dari film super hero setelah dengan kesabaran memulainya dalam dekade silam.

Cerita             : 7.5/10
Pemain          : 8.5/10
Ending           : 8/10
Overall           : 8/10

Nov 23, 2018



Judul               : Searching
Durasi             : 102 menit
Sutradara       : Annesh Chaganty
Naskah           : Annesh Chaganty, Sev Ohanian
Pemain           : John Cho, Debra Messing, Joseph Lee, Michelle La, Sara Sohn.

Aku tak ingat kapan film ini berada di laptopku. Tetapi,  pagi ini kuputuskan untuk menontonnya setelah jenuh pada anime Hanebado yang kurang greget kisahnya. Boleh disebut membuang waktu dengan menonton film yang kita tidak tahu kualitasnya.

Lima sampai sepuluh menit pertama kita disodorkan tayangan melalui layar komputer. Jernih dan tanpa unsur kegelapan. Jika melihat judulnya, Searching, aku berasumsi memiliki kisah pencarian seperti penculikan atau pencarian harta karun. Tidak seperti Prisoner yang muram, kita diberikan gambaran jernih sebuah keluarga melalui layar komputer layaknya film UP! Dan sepanjang film kita hanya menyaksikan para tokoh melalui medium layar komputer, laptop, ponsel, televisi, media sosial, dan bahkan CCTV.

Alkisah, David Kim (John Cho) membesarkan anak semata wayangnya, Margot (Michele La), seorang diri setelah sang istri meninggal karena kanker. Ketika beranjak remaja sang anak tiba-tiba menghilang. Si Ayah jelas kebingungan karena tidak ingin kehilangan lagi orang yang dicintai, tetapi semua petunjuk tak ia miliki. Margot dikenal penyendiri dan tak memiliki teman. Satu-satunya petunjuk ialah jejak digital di dunia maya.

Tidak ada yang istimewa dari kisah film ini. Tema serupa dapat kau temukan dalam banyak film. Salah satunya ialah film yang mengisahkan si ibu yang dibunuh secara brutal menyebabkan ayahnya protektif, dan membuat si anak ngambek hingga akhirnya diculik. Kasih sayang si ayah membuatnya menjelajah benua dan samudra dan ditemani teman perjalanan yang bodoh. Yap, itulah Finding Nemo. Tidak ada yang baru dari segi ini.

Justru, yang menarik ialah eksplorasi konteks kekinian: Media sosial, kondisi sosial, dan kasih sayang orangtua pada masa kini. Cho mampu memerankan karakter ayah yang menjurus patut dipersalahkan atau malah dikasihani. Semua gegara media sosial. Pada sisi lain kita menjadi gemas pada Margot yang terkesan misterius dan mendadak terkenal hingga seolah semua temannya merasa dekat dengannya. Sisi emosi dan satire memberikan dampak yang kuat pada film ini, khususnya era digital dan internet.

Pada saat marak phubbing dan hal tersebut jelas menyebalkan bagi siapa pun. Ada berbagai pertanyaan. Apakah pertemuan virtual dapat menggantikan keintiman dari perjumpaan langsung? Apalagi ini terkait hubungan orangtua dan anak. Pada sisi lain, jejak virtual dapat menjadi bahan kenangan yang menyakitkan atau mencipta rindu. Setidaknya, para orangtua juga sadar kehidupan anak-anaknya saat di luar pengawasannya. Bentuk perhatian ortu yang terkadang malah disalahpahami anak sebagai pengekangan. Hingga hadir kata-kata, “anakku tidak seperti itu,” atau “Anakku baik. Dia penurut.” Atau malah “Dia baik-baik saja. Tanpa masalah.” Saya pun turut bertanya-tanya, apakah perubahan era mempengaruhi relasi ortu-anak? Ada kehendak menganalisis melalui Baudrillard atau Derrida, tapi terlalu panjang nantinya. Intinya, seburuk apa pun keluarga, akan ada sesuatu yang dapat diambil sebagai pembelajaran (jika kau ingin berkeluarga).

Chaganty dengan cerdas dan agak pongah memanfaatkan itu semua. Kita diberikan berbagai spekulasi si penculik, penyebab dan akhir kisah ini. Model film seperti ini tentunya akan membuat plot twist yang mengejutkan. Yah, meski akhirnya kelicikan film ini membuat kita merasa tidak dibodohi dan mengumpat seperti The Prestige. Sebagaimana kita menghadapi orang cerdas, kita perlu bersabar pada film ini.

Kita dimanjakan pada kejernihan visual dan akting pemainnya meski nampak dramatik. Setiap detail pada layar menjadi penting. Trik visual yang unik juga mengingatkanku pada pop-up text message yang revolusioner dari serial Sherlock dan House of Cards. Sedikit aneh melihat visual yang tampak kurang mendukung untuk sebuah film thriller, ataukah kita memasuki era baru sebuah film thriller dan misteri pada era internet?


Searching menjadi film tahun 2018 yang cerdas dan tidak sia-sia. Film bagus tidak melulu masalah budget.

Cerita              : 7.5/10
Pemain           : 8,5/10
Ending            : 8/10
Overall            : 8/10

May 17, 2018




Judul               : Deadpool 2
Durasi             : 119 menit
Sutradara       : David Leitch
Naskah           : Rhett Reese, Paul Wernick, Ryan Reynolds
Pemain           : Ryan Reinolds, Josh Brolin, Morena Baccarin, Karan Soni, Zazie Beetz, T.J. Miller, Jullian Dennison, Brianna Hildebrand, Leslie Uggams, dan Stefan Kapicic, Brad Pitt.

Well, that's just lazy writing.
            Bukan, bukan karena joke atau sindirannya Deadpool yang kusuka pada tokoh ini, melainkan kesadaran dirinya yang sedang berada di dunia komik atau film. Saya pun sadar sedang di Surabaya beberapa hari setelah kejadian BOM yang membuat kota ini agak sepi dibandingkan hari-hari biasa. Pusat keramaian dijaga ketat dan semua pengunjung diperiksa, termasuk saya yang notabene tak bertampang teroris hanya saja ada sedikit brewok yang sedang malas kupotong. Langit Surabaya masih dalam nuansa parno, dan saya pun ikut-ikutan parno saat masuk di dalam studio. Ada sekelebat aksi penembakan brutal dalam gedung bioskop seperti di Amerika Serikat sana. Sialnya, posisi dudukku tak menguntungkan untuk berlindung maupun melarikan diri.
            Well, kita bahas Deadpool saja. Film ini memiliki formula yang hampir mirip dengan film pertama yang memerlukan latar belakang kejadian. Tak ada yang istimewa, namun saya suka. Dengan penghormatan terhadap Wolverine sebagai mantan rekan kerjanya, diikuti narasi-narasi kematian super hero untuk menaikkan rating, Deadpool memiliki caranya sendiri untuk mengapresiasi hal tersebut.
            Saya tak ingin membawamu kepada spoiler karena memang film ini tak memiliki plot yang mencengangkan. Terasa pendek dan lebih drama. So, Deadpool tak berbohong ketika mengatakan film ini adalah film keluarga. Super hero yang tak muluk-muluk mengisahkan penyelamatan dunia, tetapi lebih kepada dirinya sendiri yang begitu rumit dan sarkas.
            Di awal, kukatan Deadpool memiliki kesadaran bahwa dirinya berada di dalam dunia komik atau film. Hal ini membuat dialog-dialognya menerabas batas dunia perfilman. Jika kamu penikmat film, tentunya tahu bahwa Ryan Reinolds pernah memerankan Green Lantern dan paska Christian Bale, dia digadang-gadang memerankan sosok Batman (dan akhirnya diperankan oleh Ben Affleck). Banyak parodi dan joke mengenai hal tersebut. Selain itu, saya sendiri tak begitu yakin semua penonton memahami joke dari Merc with a mouth ini karena terlalu banyak referensi budaya pop luar yang tak banyak diketahui masyarakat Indonesia. Apalagi anak muda zaman now yang tak begitu akrab dengan Robocop.
            Akting ryan tak diragukan lagi. Ia benar-benar ingin move on dari green lantern dan menggampar para pengkritiknya melalui Deadpool (jadi, jangan langsung pulang). Ia seperti terinspirasi Hugh Jackman untuk bertaubat memerankan satu karakter super hero. Ryan is Deadpool, Deadpool is Ryan. Josh Brolin tak memiliki ruang khusus untuk mengeksplorasi karakternya. Dan Domino, saya menyukainya. Sepertinya dia akan menjadi tokoh sentral dalam X-Force.
            Adegan laga dan aksi salah satu yang paling ditunggu pada Deadpool. Dengan rating R, film ini menampilkan kebrutalan yang terkadang konyol dan kocak. Seoalah Deadpool ingin mengatakan “namanya juga film”. Berbagai kekacauan yang mengandung kecabulan serta Domino, aku menyukainya. Sudah berapa kali aku mengatakannya?
            Ada satu lagi yang menarik perhatianku: musik. Deadpool seperti mencoba mencuri formula Guardian of Galaxy dalam menempatkan musik-musik lama. Misalkan, Ost Yentl: Papa, can you hear me?  dengan bumbu parodi. Ada juga scene dengan latar Moonage Daydream David Bowie yang menjadi andalan para penjaga galaksi. All Out Love nya Air Suply saat trailer, serta Thunderstruck milik AC/DC ketik para X-Force terjun bebas. Ah, kalau dirimu tahu film Annie (1999), ada lagu Tomorrow-Alicia Morton yang mengiringi slow motion.
            Sesungguhnya yang paling besar mencuri perhatianku ialah Juggernaut. Pada film X-Men: The Last Stand, Ia nampak tak terlalu kuat dan seperti disia-siakan hanya untuk menabrak tembok dan kalah dengan konyol. Cobalah bermain SEGA Genesis atau video game Marvel, kau akan dibuat jengkel oleh Juggernaut sebagai salah satu bos sebelum menghadapi Magneto. Dan bersyukurlah karena Juggernaut mengikuti gaya komiknya, mulai dari kostum maupun kekuatan.
            Kau tahu, saat saya mendapatkan realitas bahwa gedung bioskop di surabaya, khususnya film Deadpool tak mengurangi kecemasan paska kejadian BOM. Buktinya, penonton Surabaya begitu antusias dengan film ini. Saat saya sampai, kursi full, dan kami mendapatkan tempat duduk deret ketiga di depan layar. Kali ini saya kurang begitu puas merasakan sensasi menonton Deadpool 2 lebih karena posisi duduk yang tak menguntungkan. Saranku, menontonlah setelah seminggu film ini diputar, semoga sudah mulai lengang. Ketika pulang nuansa bulan puasa mulai terasa. Tandanya bunyi petasan. Aku sulit membedakan bunyi petasan dengan bom di kota ini. Mungki karena belum pernah mendengarkan suara ledakan asli. Semoga saja tidak pernah. Jadi, saya akhiri dengan menyanyikan sebuah lagu

The sun will come out tomorrow
Bet your bottom dollar that tomorrow
There'll be sun
Just thinkin' about tomorrow
Clears away the cobwebs and the sorrow
'til there's none
When I'm stuck with a day that's grey and lonely
I just stick up my chin and grin and say, oh
The sun will come out tomorrow
So you gotta hang on
'til tomorrow, come what may!
Tomorrow, tomorrow, I love ya, tomorrow
You're always a day away!
            Oh, jangan mengalihkan pandanganmu dari layar karena ada banyak cameo pada film tersebut.

Cerita              : 8/10
Pemain           : 8,5/10
Ending            : 8/10
Overall            : 8/0

Apr 7, 2018



Judul               : A Quiet Place
Durasi             : 90 menit
Sutradara       : John Krasinski
Naskah           : John Krasinski, Bryan Woods, dan Scott Beck
Pemain           : John Krasinski, Emily Blunt, Millicent Simmonds, Noah Jupe


Kakiku mendadak dingin. Aku berusaha bernapas dengan teratur. Tanpa mengalihkan pandangan dari layar bioskop, jaket ku lepas untuk menutup kakiku yang mulai menggigil. Aku misuh dalam hati berharap film cepat kelar, meski mata fokus di layar.
            Semua itu kualami ketika menonton film A Quiet Place. Bermula dari tag instagram si Vain pada sebuah trailer film dengan tagline “If They Hear You, They Hunt You”. Tag line tersebut sebenarnya terasa seperti film horror lainnya, tetapi di akhir trailer menunjukkan klue lain “Silence is Survival” terasa wah...
            Silence salah satu kata pertama yang kupelajari: Keep Silent hehehe beda ya. Jika The Silence of the Lamb pasti kan sama. Setidaknya kata silence maupun silent akrab denganku, entah itu menjaga keheningan dalam kegelapan selama 4 hari atau tidak berbicara selama beberapa hari. Rasanya hening. Perasaannya tentu saja sangat jauh berbeda seperti hampir gila. Jadi, aku belum gila. Aku bisa buktikan dengan surat keterangan sehat kejiwaan lhooo...
Pengalaman dengan keheningan maupun tak bicara membuatku tertarik untuk menonton film ini. Jadi, kuputuskan untuk berangkat ke bioskop dengan memakai boxer karena stock celana pendek masih di laundry dan terjadilah ‘acara’ menggigil di dalam bioskop itu. Celana panjang? Oh, aku hanya memakai celana panjang saat acara-acara formal. Lagian akhir-akhir ini alergiku terhadap celana panjang kumatnya parah.
Secara garis besar film ini mengisahkan sebuah keluarga yang bertahan hidup dengan keheningan. Jangan bertanya dimana pemerintah, ini bukan film politik. Pemerintah mbuh ono, mbuh ora tidak mengganggu jalannya cerita. Monsternya selama film diputar tak dijelaskan datang dari mana. Mbuh ora ngerti monster itu dari mana lan ora penting omahe asli endi. Bukan dari hasil uji coba ilmiah karena tak ada kerusakan di muka bumi layaknya film The Road nya Cormac McCharty atau The Book of Eli, alih-alih Mad Max. Buktinya hutan masih hijau, hanya saja kotanya menjadi sunyi. Monsternya Ujug-ujug ono ngono wae.
Pada sepanjang film pikiran kita telah dibangunkan atmosfer keheningan yang menegangkan sekaligus menyebalkan. Tak ada jeda pemikiran secuil pun mengenai pemerintah atau asal monster. Kita disuguhi interaksi para pemain yang melakukan akting luar biasa: dengan gimik, isyarat, ketakutakan, kesakitan, dan kesunyian. Bagaimana kalian menjaga anakmu dari bahaya? Bagaimana orangtua melakukan sesuatu yang baik menurut mereka dan kita kerap sebal dibuatnya.
Nggegeg sak durunge katisen
A Quiet Place salah satu film yang mungkin tidak akan disukai Uda Jay karena selain keheningan tentu saja hentakan yang membuat jantung terlonjak. Suspense yang dibangun pun mampu memengaruhi kita, bahkan saat dirimu sendirian di kamar. Terlebih adegan ketika air ketuban Evelyn pecah, kita dibuat benar-benar tak mampu bergerak. Pahamkan jika air ketuban pecah peristiwa yang selanjutnya terjadi? No Woman, No Cry  begitulah. Padahal suara kecil pun akan disambangi si monster yang tak bernama itu (Nanti ada rule nya kok, tenang saja). Si monster seperti manusia yang sakit gigi lantas mendatangi pembuat kebisingan. Atau Squidward yang menghendaki dunia tanpa kebisingan SpongeBob dan Patrick Star. Napas? Lihat saja sendiri. Hehehe...
Ini film recomended. Meski bukan film yang cerdas, A Quiet Place dapat dikatakan berkualitas: minim dialog, aura horor dan suspensinya ketat banget. Terakhir kali saya menonton film dengan minim dialog adalah All Is Loss sekitar tahun 2013/2014. Film model ini biasanya menjual ketegangan dan butuh akting pemain yang optimal. Setidaknya, si aktor atau dalam film itu kudu ada teriakanlah masa dibayar mahal-mahal gak ngomong (Kecuali, film The Artist dan film jadul zaman bahula ya). Sayangnya, teriakan adalah cara bunuh diri dalam A Quiet Place. Cara mati yang menyeramkan sekaligus heroik.
A Quiet Place bukan horror spiritual semacam Ringu, The Others, atau The Six Sense, melainkan horror sci-fi (Maaf, Insidious bagiku horror yang tak terlalu menegangkan). Yaah, layaknya film Alien nya Ridley Scott. Nuansa ketegangan yang membuat saya perlu menahan napas mengingatkanku pada Jaws maupun Saw.
Ide yang orisinal dengan elemen paling dasar film horor maupun suspense mampu dieksplorasi habis-habisan. Dan ditutup dengan ending yang cakep. BTS eh BTW, saya masih kepikiran kaleng-kaleng bekas di sawah.  

Cerita             : 8/10
Pemain           : 8.5/10
Ending           : 8.5/10
Overall           : 8.3/10



Mar 27, 2018



Judul               : Three Billboards Outside Ebbing, Missouri
Durasi             : 115 menit
Sutradara       : Martin McDonagh
Naskah           : Martin McDonagh
                           Pemain           : Frances McDormand, Woody Harrelson, Sam Rockwell, Caleb Landry Jones, Lucas Hedges, Peter Dinklage, Abbie Cornish, Clarke Peters, John Hawkes

                           










Dixon: What are you, an idiot?
Desk Sergeant: Don't call me an idiot, Dixon!
Dixon: I didn't call you an idiot, I asked if you was an idiot... That was a question.



Judulnya sudah menarik minatku. Ada kesan lucu, aneh, dan kritis saat membaca judulnya. Tiga buah papan reklame di luar Ebbing, Missouri yang menjadi latar kisah film ini. Terkesan lucu memberi judul dengan menunjuk papa reklame, pasti akan banyak hal yang terjadi.

Pasca menonton The Greatest Showman yang megah nan meriah, lantas Darkest Hour yang menegangkan sesekali mengharukan, dilanjutkan oleh All The Money In The World yang menjanjikan di awal sayangnya menjemukan sejak pertengahan, saya memerlukan sesuatu yang lucu. Semua itu kutemukan pada pembukaan film yang tenang dengan iringan lagu The Last Rose of Summer yang bernuansa orkestra. Dan ada Mildred memandang papan reklame dengan sebuah ide yang provokatif. Dimulailah film dengan seorang emak-emak yang depresi karena anaknya terbunuh memprovokasi lembaga kepolisian setempat. Detail selanjutnya bisa kalian baca sendiri di sinopsis film yang bertebaran di internet.

Cerita kemudian berkembang liar dan anggun sekaligus lucu. Ada kritik dan sesuatu yang dapat didiskusikan dalam film ini. Transformasi, ya, begitulah. Transformasi karakter dapat kalian lihat dan rasakan. Jengkel jadi iba atau lucu, simpati menjadi sebal dan yaah mahfum. Semua bercampur dalam adonan kisah yang mengejutkan. Film tak terlalu detail mendalami kasus pembunuhan anak Mildred, melainkan efek yang ditimbulkan dalam pemasangan papan reklame yang notabene jarang dilewati kendaraan.

Ada tiga bintang dalam film ini yang kuat: sang Ibu Mildred, Polisi yang menyebalkan Dixon, dan Wiloughby penderita kanker yang dicintai warga kota sekaligus sosok yang diprotes. Ketiganya mampu memainkan sosok dan menentukan jalan cerita yang mengejutkan. Sam Rockwell menjadi benar-benar menyebalkan atau memang dia cocok memerankan tokoh yang menyebalkan seperti dalam The Green Mile? Walau memiliki ending yang menggantung, I like it. Saya sudahi dulu, ada kabar tak menyenangkan datang.

All this anger, man, it just begets greater anger






Cerita              : 8/10
Pemain           : 9/10
Ending            : 8/10
Overall            : 8.3/10


Mar 26, 2018

Judul               : Darkest Hour
Durasi             : 125 menit
Sutradara        : Joe Wright
Naskah           : Anthony McCarten
Pemain           : Gary Oldman, Kristin Scott Thomas, Lily James, Ronald Pickup, Stephen Dillane, Ben Mendelsohn





            Jujur saja saya enggan menulis review film ini. Darkest hour sudah lama mengendap di laptop dan belum tersentuh hingga saya kembali ke kos. Jikalau bukan karena Uda Jayuzka menyuruh nonton dan nampaknya dia ingin mendengarkan pendapatku tentang film (bukankah begitu da? 😁). So, saya niatkan saja akan mereview pasca menontonnya.
       Tanpa mencari informasi ini film tentang apa dan siapa pemerannya, langsung kuputar saja. Kesan awal film diputar menunjukkan bahwa ini adalah film tentang perang dan muncullah nama sutradaranya, Joe Wright. Ah, tak mungkin Joe bermain-main dengan film aksi pasca kegagalan dalam Pan. Saya lebih suka Ia membuat film drama seperti Atonement atau minimal Pride & Prejudice.
         Benar saja, kegaduhan di gedung parlemen menjadi tanda bahwa ini film drama dengan latar perang dunia kedua tahun 1940. Panggung politik kerajaan Inggris memanas seiring munculnya ancaman dari Jerman yang telah melakukan ekspansi ke beberapa negara Eropa Barat. Neville Chamberlain dituntut mundur oleh oposan karena dianggap tak cocok menjadi pemimpin pada saat genting. Muncullah Winston, meski tidak disukai, tetapi dia dianggap sosok yang dapat diterima oleh pihak oposan. Walaupun perang, persatuan tetap harus dijaga. Winston diragukan oleh berbagai pihak, termasuk dari partainya sendiri, karena track record dan sikapnya.
           Darkest Hour memiliki konflik yang sudah umum, namun dieksplorasi dengan baik. Ada pihak yang menginginkan negosiasi perdamaian dengan Jerman, sedangkan Winston ingin melawan Hitler karena Ia melihatnya sebagai “monstrous savage”. Barangkali usul perdamaian bagi Hitler tak mempan. Melalui operasi Barbossa tahun 1941, Jerman menyerang Soviet yang sebelumnya telah melakukan pakta perdamaian tahun 1939 yang dikenal dengan Pakta Molotov-Ribbentrop. Serangan yang membuat Stalin mencak-mencak. Film ini menunjukkan kejelian Winston dalam membaca situasi sekaligus usaha menjawab berbagai keraguan terhadap dirinya.

Winston          : My Copy of Cicero, did you shelve it?
Clemmie         : Did you hear what I said?
Winston          : What was that?
Clemmie         : We’re broke.
Akting pemeran Winston Churchill yang menutupi segala aspek kelemahan film ini. Pada akhirnya saya terkejut saat mengetahui pemeran si Winston Churchill adalah Gary Oldman. Whaat?? Saya benar-benar tidak menyadarinya. Bunglon adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikannya. Bagimu, bunglon mungkin si Johnny Depp, tetapi saya masih bisa mengenalinya. Coba tonton si Gary yang menjadi drakula (Bram Stoker’s Dracula) lantas menjadi animagus pada sosok Sirius Black (Harry Potter series) atau seorang komposer klasik (Immortal Beloved) dan berubah drastis pada seorang bassist Sex Pistols (Sid & Nancy). Dahulu saya pernah mengernyitkan dahi ketika tahu Nolan menunjuknya sebagai polisi yang baik (Batman Trilogy) sangat bertolak belakang dengan Norman yang korup (Leon: The Professional). Ah, mengapa saya terlalu terkejut. Bukankah Gary juga pernah menjadi seorang pembunuh presiden (JFK) dan kini menjadi seorang Perdana Menteri.
Kita terus dibawa pada sosok Winston yang menonjol, cerdik, dan temperamen sekaligus memiliki sisi humor dan lembut dengan balutan make up yang luar biasa sehingga kita mungkin akan terkecoh jika dia adalah Gary. Sinematografinya pun memuaskan. Mampu merealisasikan ketenangan dan ledakan emosi antara terang dan bayang-bayang. Saya suka saat pengambilan gambar di Istana Buckingham dan pidato terakhirnya.
Tahun 2017 kita seperti diperlihatkan lukisan sejarah dari kejadian perang dunia kedua dengan Darkest Hour sebagai lukisan utama dan Dunkirk sebagai spin-off nya. Anda tak perlu pusing seperti menonton Dunkirk karena Darkest Hour memiliki alur yang sederhana ditambah pemacu semangat (yang menumbuhkan rasa nasionalisme) dan (juga) haru.

Cerita              : 7.5/10
Pemain            : 8.5/10
Ending            : 8/10
Overall            : 8/10

NB: Baru tahu jika Gary Oldman dalam film ini meraih penghargaan sebagai Aktor Terbaik Oscar 2018.

Jul 1, 2015

Pemain             : Meryl Streep, Philip Seymour Hoffman, Amy Adams, Viola Davis
Sutradara         : John Patrick Shanley
Naskah             : John Patrick Shanley
Durasi               : 104 Menit




            Ini film lumayan lama, namun gak jadul-jadul banget. Baru 7 tahun silam. Genrenya drama dan jarang yang suka film bergenre ini (salah satu alasannya karena bikin ngantuk). Sebenarnya, saya pun begitu akan tetapi pada kasus-kasus film tertentu saya sangat menyukai genre ini. Berbeda dengan genre scifi, horor, atau laga, film drama memiliki unsur-unsur fundamental pada film. Atau saya boleh mengatakan jika genre drama merupakan genre tertua dalam dunia perfilman. Hal prinsipil dalam film drama pada akting, cerita, penokohan, dialog, sinematografi dan hal lain yang ada pada sebuah film. Tengoklah American Beauty, Forrest Gump dan Birdman yang solid, Dialog-dialog cerdas dalam A Separation, 12 Angry Men, dan Dwilogi Before (Before Sunrise & Before Sunset,serie ketiganya menurutku kurang), serta plot-plot keren layaknya Shawsank Redemption, Fight Club, dan Amelie. Bukan pada penonjolan visual efeknya, make up, keseruan aksi pukul-pukulan (ya iyalah... namanya juga drama).
            Doubt salah satu film drama yang menurutku unik, terutama dari segi cerita dan dialog-dialognya. Bersetting pada tahun 1960an di sebuah sekolah Katolik, St. Nicholas. Berkisah tentang pencarian bukti atas kecurigaan kepada seorang Pastor yang baru saja dipindahkan ke St. Nicholas. Kecurigaan yang mengarah pada skandal Pedofilia. Tema yang menarik, yaitu tentang skandal pedofilia yang melibatkan aktor pada suatu lembaga keagamaan. Dua tahun pasca rilis film ini Paus Benedictus XVI meminta maaf pada korban pelecehan anak oleh para pastor. Entah ada keterkaitan pengaruh dari film ini atau tidak, yang pasti film ini mengangkat isu yang sangat sensitif. Ditambah seting tahun 1960an diskriminasi pada kulit hitam masih kuat.
            Film dibuka dengan gambaran suasana kota dan iringan alat musik. Khotbah Father Flynn merepresentasikan isi kisah dalam film. “The message of the constellations, had he imagined it because of his desperate circumstance? Or had he seen truth once...and now had to hold on to it without further reassurance?” ujar Father Flynn. Suster Aloysius, Kepala Sekolah St. Nicholah yang tegas, kaku, dan konservatif menaruh kecurigaan awal pada khotbah sang Pastur. Amy Adams berperan sebagai Suster James memiliki kepolosan dan keluguan dan tidak terlalu ambil pusing atas kecemasan dari Aloysius. Akan tetapi, kejadian demi kejadian yang dialami Donald Miller, seorang siswa kulit hitam pertama di sekolah tersebut membuat Suster James menjadi ikut curiga. Dimulailah kedua suster tersebut dalam mencari bukti dan informasi tentang kejadian yang melibatkan Father Flynn.
            Akting para pemain Doubt patut diacungi jempol. Meryl Streep yang keras kepala dan super menyebalkan, Amy Adams yang menggemaskan dengan keluguannya, Hoffman sebagai Pastur yang ramah tapi bisa meledak-ledak, dan tidak ketinggalan Ibu Miller yang diperankan dengan baik oleh Viola Davis. Tidak heran film ini mendapatkan lima nominasi Oscar tahun 2009 yang salah satunya untuk Aktor Terbaik dan Aktris Terbaik. Ditunjang dengan naskah yang kuat dan dialog-dialog yang cerdas membuat film ini semakin greget. Suasana sekolah yang sunyi menambah kesan misteri dan tidak menentu tentang kejelasan akhir kisah ini. Bahkan sampai akhir film berakhir pun tidak ada kesimpulan pasti dari film ini.
            Film ini memiliki pesan moral yang kuat. Bagaimana asumsi tanpa bukti dapat membuat suatu gosip/rumor. Pernyataan ini dianalogikan dengan cantik melalui bulu-bulu bantal yang terbang dibawa angin. Bahkan karena saking jengkelnya dengan sifat keras kepala Aloysius, Father Flynn berkata, “I can't say everything, you understand? There's things I can't say, even if you can't imagine the explanation, Suster. Remember, there are things beyond your knowledge. Even if you feel certainty, it is an emotion, not a fact.” Meskipun tidak ada kejelasan apakah Father Flynn melakukan tindakan asusila pada Donald Miller, cukuplah tangisan Suster Aloysius menjadi sebuah kesimpulan kisah dalam film ini. “I have doubts. I have such doubts.” ungkap Suster Aloysius dalam isak tangisnya. Tangisan yang menandakan suatu penyesalan yang selalu datang terlambat karena pada dasarnya penyesalan memang tidak pernah tepat waktu. Jika tepat waktu bukan penyesalan namanya, tapi disiplin. Yah, mungkin Suster Aloysius tidak/kurang mendengarkan khotbah Father Flynn sebab sibuk mengawasi anak-anak yang ramai atau tertidur saat khotbah berlangsung. Nasihat di dunia militer mungkin cocok untuk Suster Aloysius,”Jika anda ragu lebih baik kembali.” Kembali kemana? Ya, kembali ke akhir khotbahnya Father Flynn di awal film,
“..., doubt can be a bond as powerful and sustaining as certainty. When you are lost, you are not alone.”

Story: 7.7/10
Pemain: 8.3/10
Ending: 8.4/10
Overall:  8.4/10

Feb 15, 2015

Ketika SMP saya sangat menyukai sebuah film dengan spesial efek visual yang keren dan megah. Ledakan dan berbagai adegan tak logis membuat saya begitu terpesona layaknya anak kecil yang penuh imajinasi (memang masih kecil saat itu). Lambat laun ternyata efek visual juga tak melulu ledakan ataupun adegan-adegan keren, lebih dari itu efek visual juga memerlukan akting karena perkembangan motion capture. Daripada nganggur dan otak jadi kaku mending saya melemaskannya dengan mengetik sesuatu yang ringan-ringan saja (yang berat disimpan untuk mikir tesis hehehe). Yap… The Best Visual Effect Academy Award 87th menampilkan 5 nominasi film: Captain America: The Winter Soldier, Dawn of the Planet of the Apes, Guardians of the Galaxy, Interstellar dan X-Men: Days of Future Past.

Walaupun tidak terlalu menyukai franchise nya, secara objektif saya mengakui Dawn of the Planet of the Apes memiliki efek visual yang waah. Film lain yang dinominasikan sebagai efek visual terbaik memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Masing-masing memiliki kekuatan tersembunyi untuk menyeruak memenangkan oscar.

Mari tengok Captain America: The Winter Soldier yang cukup menyita perhatian saya. Pasalnya, seri pertama yang biasa saja membuatku malas untuk melirik yang kedua. Namun, Scarlet Johansson yang kemudian membuatku merubah niat. Hehehe… Mulai dari gaya bertarung sampai efek visual diperbaiki kualitasnya. Mungkin menyusul kesuksesan The Avangers yang membuat sang Captain tampil lebih percaya diri. Saya senang melihat Falcon menghindari tembakan bertubi-tubi pesawat sambil meliuk-liuk di udara. Adegan terakhir yang menjadi klimaks menandakan perbedaan nyata antara seri pertama dengan kedua dari film ini. Dibandingkan melihat efek visual Captain America: The Winter Soldier saya lebih tertarik menonton adegan baku hantamnya. Menurutku, Transformers: Age of Extinction atau The Hobbit: The Battle of the Five Armies lebih cocok menggantikan Captain America: The Winter Soldier sebagai nominasi efek visual terbaik.
Ada salah satu adegan yang membuatku terpana sekaligus kagum dari X-Men: Days of Future Past, yaitu ketika Quicksilver mengobrak-abrik pentagon, khususnya ketika di dapur. Bagi yang sudah menonton film ini pasti akan berpendapat serupa. Ada lucu, keren dan memorable pada adegan tersebut. Slow motion nya mengingatkan kita pada The Matrix atau saya boleh mengatakan terinspirasi dari film yang dibintangi Keanu Reeve tersebut. Pertarungan dengan Sentinel pun perlu menjadi catatan juga. Nampaknya kekuatan/penyebab utama efek visual film ini karena adegan Quicksilver.

Para penikmat film memiliki ekspektasi tinggi pada film garapan baru Christoper Nolan, Interstellar. Pasca Inception yang meraih efek visual terbaik Oscar ke 83, banyak pihak mengharapkan film ini menyajikan efek visual yang lebih. Menggabungkan efek dari film Inception dan Gravity dengan imajinasi ala 2001: Space Odyssey membuat film ini berbeda dengan karya Nolan lainnya. Gemuruh badai pasir, keheningan di luar angkasa, tsunami di Planet Miller, kecantikan warmhole, sampai visualisasi 5D merupakan kekuatan dari film ini. Tontonlah dan anda akan mengerti.
5 Dimensi alan Nolan

Guardians of the Galaxy (GoG) sama kuatnya dengan Dawn of the Planet of the Apes (DPA). Rocket dan Groot mampu membuat kita tertawa, sedangkan para simpanse membuat kita bersimpati atas emosi mereka. Untuk para tokohnya, GoG mengandalkan efek CGI sedangkan DPA menggunakan motion capture. Kedua film ini memiliki efek visual yang merata, dari awal sampai akhir. 
Scene pembuktian Yondu yang ternyata kuat juga
GoG memberikan nuansa pertempuran luar biasa di angkasa ditambah karakter lucu Rocket dan Groot. DPA menampilkan detail hutan dan reruntuhan kota serta para simpanse yang penuh emosional. Bila memilih dua, saya akan memilih kedua film ini. Tetapi pemenang selalu berdiri seorang diri, jadi saya lebih memilih DPA sebagai efek visual terbaik.

Diplomasi ala Para Simpanse


Feb 9, 2015



Satu lagi yang menambah koleksi film bertema musik Jazz setelah The Legend 1900 dan tentu saja Ray. Dari cerita okelah dengan tema Jazz dengan drum sebagai fokusnya. Akting, si Botak Simmons sukses membuat saya tegang, jengkel dan penuh kejutan. Inget guruku yang suka maki-maki tulisanku dan memanfaatkan kepolosan dan keluguanku. Hehehe... Saya suka endingnya dengan aksi drum Andrew dan cerita yang dibiarkan menggantung.
Oscar tahun ini memang bakal ketat setelah berbagai macam film yang memiliki kualitas tak jauh berbeda. Dan Selamat untuk J.K. Simmon yang meraih Aktor Pendukung Terbaik di Golden Globe tahun ini.
Whiplash... story: 8/10, pemain: 7.8/10, Ending: 8.3/10, Overall: 8.2/10

Feb 5, 2015




            Saya acap kali jengkel ketika mengkopi film dari teman ternyata film yang saya tonton tidak memberikan manfaat atau paling parah film tersebut benar-benar tak berkualitas. Menonton sebuah film bukan sekedar mencari hiburan dari ledakan atau aksi berantem maupun humornya. Lebih dari itu, film dapat menjadi sebuah pembelajaran alih-alih membuat kita berpikir dan terdapat nasihat berharga di dalamnya.
            Pesatnya teknologi menggeser kebiasaan manusia dalam menonton film. Dulu kita dapat menonton film dari layar tancap yang kemudian bergeser ke bioskop dan lalu dirumahkan karena adanya televisi. Dari televisi lanjut dengan kemunculan VCD Player serta DVD Player yang membuat konsep baru bernama home theatre di dalam rumah. Kemunculan Blu-Ray semakin memanjakan mata penikmat film dengan kualitas High Definition (HD).
            Interenet kian menambah maraknya jumlah bajak laut hehehe… apalagi di negara berkembang seperti negera tercinta kita. Dari sinilah kita bisa menikmati film-film yang diinginkan. Bahkan adapula situs yang menyediakan menonton film secara online. Well, mendownload film seperti sebuah perjudian jika tak mengenal seluk beluknya. Daripada kamu menghabiskan kuota internet dengan downloadan yang tak jelas, saya akan memberikan tips dalam mendownload film sesuai pengalaman saya menjadi bajak laut.
1.    Kenali Film
Kenali dulu film yang akan kamu tonton. Jangan asal download. Tak masalah jika film tersebut kamu dapatkan dari mengcopy teman, namun jika hendak mendownload kenali dulu filmnya apakah anda suka atau tidak. Lihat cast pemainnya, sinopsisnya (saya jarang dan cenderung mengabaikan sinopsis karena mengurangi sensasi dalam menonton), thrillernya, atau bahkan poster. Situs IMDB mungkin bisa membantu walaupun bukan acuan yang sangat penting karena terkadang rating rendah belum tentu buruk sebuah film, namanya juga demokrasi dalam memberi rating.

2.    Lihat Deskripsi Film
Tengok dulu deskripsi filmnya. Kualitas video memengaruhi kenyamanan dalam menonton. Gak asik jika nonton terus ada bayangan orang lewat. Kenali kualitasnya dari informasi yang diberikan. Sebuah video film biasanya memiliki kualitas tertentu misalnya Cam, TS, R5, DVD, HD, Bluray dan adakalanya terdapat embel-embel rip sebagai singkatan dari ripping. Ripping merupakan hasil salinan dari kaset atau sebagai bentuk promosi. Mungkin urutannya seperti ini CAM > TS > DVDScr > R5 > WEBRip > DVDRip > HDTV > WEB-DL > BRRip/BDRip.
Selain deskripsi kualitas yang kamu perhatikan adalah subtitlenya. Tidak sedikit film yang kamu download mengandung hardsub. Hardsub ini maksudnya adalah subtitle yang melekat pada video. Ada yang bisa dihilangkan dengan software namun banyak juga yang tak bisa dihilangkan karena sudah mengalami kompres sebelumnya. Masih mending jika hardsubnya bahasa kita atau bahasa inggris yang masih kita pahami, bisa saja hardsubnya bahasa spanyol, tiongkok, korea, atau arab dan besar pula. Nah loh kapok koen. Hehehe…

3.    Hati-Hati Jebakan

Jebakan ini biasanya dialami karena kita terlalu nafsu dalam mendownload. Contoh paling mudah adalah film Naruto The Last yang banyak terkena jebakan para pecinta film. Baru satu bulan launching sudah keluar versi DVDrip nya. Nah, hati-hati jika tidak kamu bisa dapat zonk atau bisa-bisa kemasukan virus atau malware. Bisa didownload dan dibuka, namun ternyata film indonesia yang kamu tonton. Hahaha… Lihat dulu komen-komen di bawahnya karena itu bisa memperlihatkan reaksi para downloader. Jika ada makian dalam komentarnya mending urungkan niat untuk mendownload. Mubazir! Tak ada salahnya untuk bersabar. Selain itu, perhatikan passwordnya. Tak lucu bila selesai download anda diminta memasukkan password dan syukur-syukur ada passwordnya, kalau tidak ada password? Hahaha… Paling aman memang melihat komentarnya.

4.    Perhatikan Kuota dan Pemutar Film
Sebelum mendownload, kita patut memerhatikan akan ditonton dimana film kita nanti. Laptop? Notebook? TV? Jika TV berapa inch TV kita. Ini penting karena tak semua film cocok dan enak disembarang pemutar. Film yang kapasitasnya dibawah 500MB tentu kelihatan pecah-pecah ketika menontonnya di TV ataupun Laptop. Dan film dengan kualitas Bluray yang besarnya 2 GB lebih justru sering tersendat-sendat diputar pada notebook kita yang mini. Sesuaikan kebutuhan, OK?
Kuota juga menjadi aspek penentu kelancaran kita. Jangan sampai downloadan kita sudah 80%, akan tetapi terhenti hanya karena kuota kita habis atau koneksi internet lemot. Saya dulu sering mengalami ini dan kesalnya gak ketulungan.

5.    Ini Yang Paling Penting
Ini yang paling penting: bertanyalah! Tanyakan pada teman-temanmu yang biasa mendownload film apakah sudah memiliki film yang akan kamu download atau tidak. Rugi jika temanmu sudah punya ternyata kamu terlanjur download. Apalagi jika kualitasnya lebih baik. Nyeseeek!!!
Disamping itu berhentilah mendownload. Karena sesungguhnya menjadi bajak laut itu riskan.


Jan 30, 2015


Film 2012 mungkin bagi kebanyakan orang menjadi favorit pada ranah film katastrofe. Meskipun begitu film katastrofe yg menyentuh dan membuatku merinding salah satunya The Road. Kisah ayah-anak ini begitu mengharukan bila dibandingkan The Pursuit of Happiness. Jepang malah lebih punya dulu dengan Dragon Head yang eksentrik, Indonesia kapan ya?

"Kau selalu bilang berhati-hatilah dengan orang jahat. Orang tua itu bukan orang jahat. Kau bahkan tak bisa membedakannya lagi."

Cerita    : 8/10
Pemain : 7.6/10
Ending   : 7.8/10
Overall   : 7.9/10