Showing posts with label film. Show all posts
Showing posts with label film. Show all posts
Jun 23, 2019
Flu dan demam telah menyebabkan diriku perlu istirahat sejenak. Sambil membongkar film yang terabaikan, The Mustang terpilih untuk menjadi teman.
Saat melihat judulnya, aku terkenang manga tentang kuda: Sylphid & Mars. Saya belum tahu gambaran film ini, namun setidaknya kutahu bahwa film ini tak lepas dari kuda. Yah, pengetahuanku tentang kuda sangat minim, dan aku tahu Mustang adalah sejenis kuda yang hidup liar pun dari manga. Hehehehe...
Atmosfir pembuka berbeda dengan War Horse nya Spielberg. Kuda-kuda liar digiring helikopter dan masuk dalam mobil-mobil besar. Mobil-mobil itu menuju sebuah penjara.
Film terpusat pada seorang napi bernama Roman Coleman. Satu dekade ia berada di dalam penjara dan tak pintar bersosialisasi. Bahkan si anak berpikiran bahwa ayahnya tidak memiliki keinginan keluar penjara. "I'm not good with people," katanya. Hingga terjadilah pertemuan dua monster di dalam penjara. Yah, ini bukanlah film Disney karena terdapat dua monster yang saling menghancurkan, memahami, dan berusaha pulih. Sengatan lembut yang menyakitkan berada pada akhir film yang membuat haru.
Meski berlatar suasana penjara, The Mustang memiliki atmosfir keheningan yang dominan. Dialog yang minim, tapi efektif ditambah akting aktornya yang tenang dan ekspresif membuat film ini memiliki keheningan puitis yang liar.
Cerita : 7,5/10
Pemain : 8/10
Ending : 8/10
Overall : 8/0
May 2, 2019
“You could not live with your own failure, and where did that bring you? Back to me.”
Judul
: Avengers: Endgame
Durasi :
181 menit
Sutradara : Anthony
Russo, Joe Russo
Naskah
: Christopher Markus, Stephen
McFeely
Pemain
: Robert Downey Jr., Chris Evans, Chris Hemsworth, Scarlett Johansson, Jeremy
Renner, Mark Ruffalo, Paul Rudd, Brie Larson, Karen Gillan, Josh Brollin
Tahun ini ada dua hal yang tak boleh
kudengar, spoiler film Avengers: Endgame
dan akhir dari Game of Throne. Akan
terasa menyebalkan bila kedua hal tersebut sampai ada yang memberikan spoiler. Keindahannya
akan pudar seperti bila kalian sayup-sayup mendengar akhir kisah Six Sense atau The Prestige.
Saya perlu menahan diri, entah itu menghindar dari status teman-teman yang
telah menonton maupun membaca berita yang berkaitan dengan keduanya.
Infinity
Wars telah
membawa banyak spekulasi, mulai “siapa yang akan membunuh Thanos?”, kemunculan
film “Captain Marvel” di sela-sela film menimbulkan praduga bahwa ia yang akan
mengalahkannya. Lantas, bagaimana langkah Russo bersaudara membangkitkan
kembali triliunan makhluk yang mati paska genosida Thanos dengan jentikkan
jarinya? Kehadiran Ant-Man sebelum Civil
Wars membuka peluang adanya dugaan multiverse ala DC. Tetapi, DC dan Marvel
jelas berbeda dalam membangun universe-nya. Biasanya film-film sci-fi untuk
mengatasi masalah ini dengan cara time
travel, namun tidak ada yang punya kemampuan melakukan perjalanan waktu
seperti Flash untuk kembali ke masa
lalu atau memanipulasi waktu. Sebentar. Quick Silver telah mati dalam Age of Ultron dan kemampuannya tak
sehebat Flash dari DC. Strange bisa, tapi dia sudah menjadi debu
dalam Infinity Wars. Aih, daripada
memikirkan semua itu lebih baik saya melihatnya langsung.
Setelah seminggu pemutaran, kesempatan itu
datang dan takkan kusia-siakan. Meski seorang diri dan waktunya malam hari,
kesempatan tersebut akan sulit terulang. Mengingat jumlah penonton serta waktu
luang, lebih-lebih keganjenan kawan-kawan yang ingin segera membocorkan kisah Endgame. Well, lebih baik ndang budaaal!
Hasilnya, Avengers:
Endgame menjadi karya kerja keras penuh cinta untuk seluruh fans Marvel Cinematic Universe. Bagi kalian
yang tumbuh bersama dengan kehadiran Iron Man, Hulk, atau Thor, dan Captain
America sejak tahun 2008 akan begitu terasa keharuannya. Film ini dibuat dengan
kecermatan serta kehati-hatian dengan menampilkan banyak momen yang menguras
serta memuaskan secara emosional. Kita dibawa untuk menyelami lebih dalam pikiran dan jiwa
para super hero yang berkawan lantas berkonflik.
Kita menyadari narasi yang dibangun
selama ini begitu solid. Sepanjang film kita menghirup nuansa kelam yang intens
melebur dengan humor khas Marvel. Endgame
melangkah cepat dengan fokus pengembangan karakter sehingga waktu tiga jam tak
terasa.
Pencapaian lain dari film ini adalah kualitas
akting dari para pemainnya. Bahkan aktor yang hanya sepintas tampil memberikan
sentuhan penuh makna. Perhatikan secara saksama Thor, Captain America, Hulk,
Iron Man, Ant-Man, dan Dr. Strange yang membawakan pesan dan emosi yang sulit
dicapai film super hero lainnya. Ada suatu anggapan bahwa film super hero atau
laga tidak membutuhkan akting yang bagus karena penonton hanya butuh aksi dan
baku hantam, makanya genre tersebut akan sulit masuk nominasi Oscar terutama best actor atau best actress. Akan tetapi, kali ini saya akan menganggukkan kepala
bila Robert Downey Jr. dimasukkan dalam nominasi Oscar.
Kisah yang dimulai paska genosida menawarkan
konsistensi kegelapan dan siksa batin para super hero karena kegagalan sebagai
seorang pahlawan. Yah, meski banyak juga film super hero yang berlatar kisah
serupa, Endgame memiliki level yang
berbeda. Jentikkan jari Thanos memberi efek premis terhadap film ini, 14 juta
banding satu.
Apesnya, solusi yang dihadirkan dalam film
ini ialah perjalanan waktu. Begitulah manusia ketika ingin menyelesaikan
konflik kerap berandai tentang waktu. Meski tak berbelit dalam penguraiannya,
perjalanan waktu tentu memiliki kelemahan tersendiri. Lubang plot yang
hadir dalam Endgame jika
diuraikan malah spoiler. Tenang, saya tak ingin merusak kesenanganmu meski saat ini tanganku terasa gatal untuk mengetik bocoran film ini.
Pada aspek lain, sinematografer nampak
bergembira dengan memainkan skema cahaya dan warna dalam berbagai referensi
film Marvel terdahulu. Ada juga skor musik yang menyajikan nada-nada riuh di
dada. Suatu tawaran yang tak mampu kita tolak sambil bernostalgia ria.
Alhasil, Endgame
memiliki struktur film yang kita inginkan dan beberapa ada makna yang kita
butuhkan. Capaian langka dari film super hero setelah dengan kesabaran
memulainya dalam dekade silam.
Cerita
: 7.5/10
Pemain :
8.5/10
Ending :
8/10
Overall :
8/10
Nov 23, 2018
Judul : Searching
Durasi : 102 menit
Sutradara : Annesh Chaganty
Naskah : Annesh Chaganty, Sev Ohanian
Pemain :
John Cho, Debra
Messing, Joseph Lee, Michelle La, Sara Sohn.
Aku tak ingat kapan film ini berada di
laptopku. Tetapi, pagi ini kuputuskan
untuk menontonnya setelah jenuh pada anime Hanebado yang kurang greget
kisahnya. Boleh disebut membuang waktu dengan menonton film yang kita tidak
tahu kualitasnya.
Lima sampai sepuluh menit pertama kita
disodorkan tayangan melalui layar komputer. Jernih dan tanpa unsur kegelapan. Jika
melihat judulnya, Searching, aku
berasumsi memiliki kisah pencarian seperti penculikan atau pencarian harta karun.
Tidak seperti Prisoner yang muram,
kita diberikan gambaran jernih sebuah keluarga melalui layar komputer layaknya
film UP! Dan sepanjang film kita
hanya menyaksikan para tokoh melalui medium layar komputer, laptop, ponsel,
televisi, media sosial, dan bahkan CCTV.
Alkisah, David Kim (John Cho) membesarkan
anak semata wayangnya, Margot (Michele La), seorang diri setelah sang istri meninggal
karena kanker. Ketika beranjak remaja sang anak tiba-tiba menghilang. Si Ayah jelas
kebingungan karena tidak ingin kehilangan lagi orang yang dicintai, tetapi
semua petunjuk tak ia miliki. Margot dikenal penyendiri dan tak memiliki teman.
Satu-satunya petunjuk ialah jejak digital di dunia maya.
Tidak ada yang istimewa dari kisah film ini. Tema
serupa dapat kau temukan dalam banyak film. Salah satunya ialah film yang mengisahkan
si ibu yang dibunuh secara brutal menyebabkan ayahnya protektif, dan membuat si
anak ngambek hingga akhirnya diculik.
Kasih sayang si ayah membuatnya menjelajah benua dan samudra dan ditemani teman
perjalanan yang bodoh. Yap, itulah Finding
Nemo. Tidak ada yang baru dari segi ini.
Justru, yang menarik ialah eksplorasi konteks
kekinian: Media sosial, kondisi sosial, dan kasih sayang orangtua pada masa
kini. Cho mampu memerankan karakter ayah yang menjurus patut dipersalahkan atau
malah dikasihani. Semua gegara media sosial. Pada sisi lain kita menjadi gemas
pada Margot yang terkesan misterius dan mendadak terkenal hingga seolah semua
temannya merasa dekat dengannya. Sisi emosi dan satire memberikan dampak yang
kuat pada film ini, khususnya era digital dan internet.
Pada saat marak phubbing dan hal tersebut jelas menyebalkan bagi siapa pun. Ada berbagai
pertanyaan. Apakah pertemuan virtual dapat menggantikan keintiman dari
perjumpaan langsung? Apalagi ini terkait hubungan orangtua dan anak. Pada sisi
lain, jejak virtual dapat menjadi bahan kenangan yang menyakitkan atau mencipta
rindu. Setidaknya, para orangtua juga sadar kehidupan anak-anaknya saat di luar
pengawasannya. Bentuk perhatian ortu yang terkadang malah disalahpahami anak sebagai
pengekangan. Hingga hadir kata-kata, “anakku tidak seperti itu,” atau “Anakku
baik. Dia penurut.” Atau malah “Dia baik-baik saja. Tanpa masalah.” Saya pun
turut bertanya-tanya, apakah perubahan era mempengaruhi relasi ortu-anak? Ada kehendak menganalisis melalui Baudrillard atau Derrida, tapi terlalu panjang nantinya. Intinya, seburuk
apa pun keluarga, akan ada sesuatu yang dapat diambil sebagai pembelajaran (jika kau ingin berkeluarga).
Chaganty dengan cerdas dan agak pongah memanfaatkan
itu semua. Kita diberikan berbagai spekulasi si penculik, penyebab dan akhir kisah
ini. Model film seperti ini tentunya akan membuat plot twist yang mengejutkan. Yah, meski akhirnya kelicikan film ini
membuat kita merasa tidak dibodohi dan mengumpat seperti The Prestige. Sebagaimana kita menghadapi
orang cerdas, kita perlu bersabar pada film ini.
Kita dimanjakan pada kejernihan visual dan
akting pemainnya meski nampak dramatik. Setiap detail pada layar menjadi
penting. Trik visual yang unik juga mengingatkanku pada pop-up text message yang revolusioner dari serial Sherlock dan House of Cards. Sedikit aneh melihat visual yang tampak kurang
mendukung untuk sebuah film thriller, ataukah kita memasuki era baru sebuah
film thriller dan misteri pada era internet?
Searching menjadi film
tahun 2018 yang cerdas dan tidak sia-sia. Film bagus tidak melulu masalah
budget.
Cerita : 7.5/10
Pemain : 8,5/10
Ending : 8/10
Overall : 8/10
May 17, 2018
Judul : Deadpool 2
Durasi : 119 menit
Sutradara : David Leitch
Naskah : Rhett
Reese, Paul Wernick, Ryan Reynolds
Pemain : Ryan Reinolds, Josh Brolin, Morena Baccarin, Karan Soni, Zazie Beetz, T.J. Miller, Jullian Dennison, Brianna Hildebrand, Leslie Uggams, dan Stefan Kapicic, Brad Pitt.
Pemain : Ryan Reinolds, Josh Brolin, Morena Baccarin, Karan Soni, Zazie Beetz, T.J. Miller, Jullian Dennison, Brianna Hildebrand, Leslie Uggams, dan Stefan Kapicic, Brad Pitt.
Well, that's just lazy writing.
Bukan, bukan
karena joke atau sindirannya Deadpool yang kusuka pada tokoh ini, melainkan
kesadaran dirinya yang sedang berada di dunia komik atau film. Saya pun sadar sedang
di Surabaya beberapa hari setelah kejadian BOM yang membuat kota ini agak sepi
dibandingkan hari-hari biasa. Pusat keramaian dijaga ketat dan semua pengunjung
diperiksa, termasuk saya yang notabene tak bertampang teroris hanya saja ada
sedikit brewok yang sedang malas kupotong. Langit Surabaya masih dalam nuansa
parno, dan saya pun ikut-ikutan parno saat masuk di dalam studio. Ada sekelebat
aksi penembakan brutal dalam gedung bioskop seperti di Amerika Serikat sana.
Sialnya, posisi dudukku tak menguntungkan untuk berlindung maupun melarikan
diri.
Well, kita bahas Deadpool
saja. Film ini memiliki formula yang hampir mirip dengan film pertama yang
memerlukan latar belakang kejadian. Tak ada yang istimewa, namun saya suka. Dengan
penghormatan terhadap Wolverine sebagai mantan rekan kerjanya, diikuti
narasi-narasi kematian super hero untuk menaikkan rating, Deadpool memiliki
caranya sendiri untuk mengapresiasi hal tersebut.
Saya tak ingin membawamu
kepada spoiler karena memang film ini tak memiliki plot yang mencengangkan. Terasa
pendek dan lebih drama. So, Deadpool
tak berbohong ketika mengatakan film ini adalah film keluarga. Super hero yang
tak muluk-muluk mengisahkan penyelamatan dunia, tetapi lebih kepada dirinya
sendiri yang begitu rumit dan sarkas.
Di awal, kukatan Deadpool
memiliki kesadaran bahwa dirinya berada di dalam dunia komik atau film. Hal ini
membuat dialog-dialognya menerabas batas dunia perfilman. Jika kamu penikmat
film, tentunya tahu bahwa Ryan Reinolds pernah memerankan Green Lantern dan
paska Christian Bale, dia digadang-gadang memerankan sosok Batman (dan akhirnya
diperankan oleh Ben Affleck). Banyak parodi dan joke mengenai hal tersebut. Selain itu, saya sendiri tak begitu
yakin semua penonton memahami joke dari Merc
with a mouth ini karena terlalu banyak referensi budaya pop luar yang tak banyak
diketahui masyarakat Indonesia. Apalagi anak muda zaman now yang tak begitu akrab dengan Robocop.
Akting ryan tak
diragukan lagi. Ia benar-benar ingin move on dari green lantern dan menggampar para pengkritiknya melalui Deadpool (jadi,
jangan langsung pulang). Ia seperti terinspirasi Hugh Jackman untuk bertaubat
memerankan satu karakter super hero. Ryan
is Deadpool, Deadpool is Ryan. Josh Brolin tak memiliki ruang khusus untuk
mengeksplorasi karakternya. Dan Domino, saya menyukainya. Sepertinya dia akan
menjadi tokoh sentral dalam X-Force.
Adegan laga dan
aksi salah satu yang paling ditunggu pada Deadpool. Dengan rating R, film ini
menampilkan kebrutalan yang terkadang konyol dan kocak. Seoalah Deadpool ingin
mengatakan “namanya juga film”. Berbagai kekacauan yang mengandung kecabulan
serta Domino, aku menyukainya. Sudah berapa kali aku mengatakannya?
Ada satu lagi
yang menarik perhatianku: musik. Deadpool seperti mencoba mencuri formula
Guardian of Galaxy dalam menempatkan musik-musik lama. Misalkan, Ost Yentl: Papa, can you hear me? dengan bumbu parodi. Ada juga scene dengan latar Moonage Daydream David Bowie yang menjadi andalan para penjaga
galaksi. All Out Love nya Air Suply
saat trailer, serta Thunderstruck
milik AC/DC ketik para X-Force terjun bebas. Ah, kalau dirimu tahu film Annie
(1999), ada lagu Tomorrow-Alicia
Morton yang mengiringi slow motion.
Sesungguhnya yang
paling besar mencuri perhatianku ialah Juggernaut. Pada film X-Men: The Last
Stand, Ia nampak tak terlalu kuat dan seperti disia-siakan hanya untuk menabrak
tembok dan kalah dengan konyol. Cobalah bermain SEGA Genesis atau video game
Marvel, kau akan dibuat jengkel oleh Juggernaut sebagai salah satu bos sebelum
menghadapi Magneto. Dan bersyukurlah karena Juggernaut mengikuti gaya komiknya,
mulai dari kostum maupun kekuatan.
Kau tahu, saat
saya mendapatkan realitas bahwa gedung bioskop di surabaya, khususnya film
Deadpool tak mengurangi kecemasan paska kejadian BOM. Buktinya, penonton Surabaya
begitu antusias dengan film ini. Saat saya sampai, kursi full, dan kami
mendapatkan tempat duduk deret ketiga di depan layar. Kali ini saya kurang
begitu puas merasakan sensasi menonton Deadpool 2 lebih karena posisi duduk
yang tak menguntungkan. Saranku, menontonlah setelah seminggu film ini diputar,
semoga sudah mulai lengang. Ketika pulang nuansa bulan puasa mulai terasa. Tandanya
bunyi petasan. Aku sulit membedakan bunyi petasan dengan bom di kota ini.
Mungki karena belum pernah mendengarkan suara ledakan asli. Semoga saja tidak
pernah. Jadi, saya akhiri dengan menyanyikan sebuah lagu
The sun will come out tomorrow
Bet your bottom dollar that tomorrow
There'll be sun
Just thinkin' about tomorrow
Clears away the cobwebs and the sorrow
'til there's none
When I'm stuck with a day that's grey and lonely
I just stick up my chin and grin and say, oh
The sun will come out tomorrow
So you gotta hang on
'til tomorrow, come what may!
Tomorrow, tomorrow, I love ya, tomorrow
You're always a day away!
Oh, jangan mengalihkan
pandanganmu dari layar karena ada banyak cameo pada film tersebut.
Cerita : 8/10
Pemain : 8,5/10
Ending : 8/10
Overall : 8/0
Apr 7, 2018
Judul : A Quiet Place
Durasi : 90 menit
Sutradara : John
Krasinski
Naskah :
John Krasinski, Bryan Woods, dan Scott Beck
Pemain : John Krasinski, Emily Blunt, Millicent
Simmonds, Noah Jupe
Kakiku mendadak
dingin. Aku berusaha bernapas dengan teratur. Tanpa mengalihkan pandangan dari
layar bioskop, jaket ku lepas untuk menutup kakiku yang mulai menggigil. Aku misuh
dalam hati berharap film cepat kelar, meski mata fokus di layar.
Semua
itu kualami ketika menonton film A Quiet
Place. Bermula dari tag instagram si Vain pada sebuah trailer film dengan
tagline “If They Hear You, They Hunt You”.
Tag line tersebut sebenarnya terasa seperti film horror lainnya, tetapi di
akhir trailer menunjukkan klue lain “Silence
is Survival” terasa wah...
Silence salah satu kata pertama yang
kupelajari: Keep Silent hehehe beda
ya. Jika The Silence of the Lamb
pasti kan sama. Setidaknya kata silence maupun
silent akrab denganku, entah itu
menjaga keheningan dalam kegelapan selama 4 hari atau tidak berbicara selama
beberapa hari. Rasanya hening. Perasaannya tentu saja sangat jauh berbeda
seperti hampir gila. Jadi, aku belum gila. Aku bisa buktikan dengan surat
keterangan sehat kejiwaan lhooo...
Pengalaman
dengan keheningan maupun tak bicara membuatku tertarik untuk menonton film ini.
Jadi, kuputuskan untuk berangkat ke bioskop dengan memakai boxer karena stock celana pendek masih di laundry dan terjadilah ‘acara’ menggigil di dalam bioskop itu.
Celana panjang? Oh, aku hanya memakai celana panjang saat acara-acara formal. Lagian
akhir-akhir ini alergiku terhadap celana panjang kumatnya parah.
Secara garis
besar film ini mengisahkan sebuah keluarga yang bertahan hidup dengan keheningan.
Jangan bertanya dimana pemerintah, ini bukan film politik. Pemerintah mbuh ono, mbuh ora tidak mengganggu
jalannya cerita. Monsternya selama film diputar tak dijelaskan datang dari
mana. Mbuh ora ngerti monster itu dari
mana lan ora penting omahe asli endi.
Bukan dari hasil uji coba ilmiah karena tak ada kerusakan di muka bumi layaknya
film The Road nya Cormac McCharty
atau The Book of Eli, alih-alih Mad Max. Buktinya hutan masih hijau,
hanya saja kotanya menjadi sunyi. Monsternya Ujug-ujug ono ngono wae.
Pada sepanjang
film pikiran kita telah dibangunkan atmosfer keheningan yang menegangkan
sekaligus menyebalkan. Tak ada jeda pemikiran secuil pun mengenai pemerintah
atau asal monster. Kita disuguhi interaksi para pemain yang melakukan akting
luar biasa: dengan gimik, isyarat, ketakutakan, kesakitan, dan kesunyian. Bagaimana
kalian menjaga anakmu dari bahaya? Bagaimana orangtua melakukan sesuatu yang
baik menurut mereka dan kita kerap sebal dibuatnya.
![]() |
| Nggegeg sak durunge katisen |
Ini film recomended. Meski bukan film yang
cerdas, A Quiet Place dapat dikatakan
berkualitas: minim dialog, aura horor dan suspensinya ketat banget. Terakhir kali
saya menonton film dengan minim dialog adalah All Is Loss sekitar tahun 2013/2014. Film model ini biasanya
menjual ketegangan dan butuh akting pemain yang optimal. Setidaknya, si aktor
atau dalam film itu kudu ada teriakanlah masa dibayar mahal-mahal gak ngomong
(Kecuali, film The Artist dan film
jadul zaman bahula ya). Sayangnya, teriakan adalah cara bunuh diri dalam A Quiet Place. Cara mati yang menyeramkan
sekaligus heroik.
A Quiet Place bukan horror spiritual semacam Ringu,
The Others, atau The Six Sense, melainkan
horror sci-fi (Maaf, Insidious bagiku horror yang tak terlalu
menegangkan). Yaah, layaknya film Alien nya
Ridley Scott. Nuansa ketegangan yang membuat saya perlu menahan napas
mengingatkanku pada Jaws maupun Saw.
Ide yang
orisinal dengan elemen paling dasar film horor maupun suspense mampu dieksplorasi habis-habisan. Dan ditutup dengan ending yang cakep. BTS eh BTW, saya
masih kepikiran kaleng-kaleng bekas di sawah.
Cerita : 8/10
Pemain : 8.5/10
Ending : 8.5/10
Overall : 8.3/10
Mar 27, 2018
Durasi : 115 menit
Sutradara : Martin McDonagh
Naskah :
Martin McDonagh
Pemain : Frances McDormand, Woody Harrelson, Sam Rockwell, Caleb
Landry Jones, Lucas Hedges, Peter Dinklage, Abbie Cornish, Clarke Peters, John
Hawkes
Dixon: What are you, an idiot?
Desk Sergeant: Don't call me an idiot, Dixon!
Dixon: I didn't call you an idiot, I asked if you was an idiot... That was a question.
Judulnya sudah menarik minatku. Ada kesan lucu, aneh, dan kritis saat membaca judulnya. Tiga buah papan reklame di luar Ebbing, Missouri yang menjadi latar kisah film ini. Terkesan lucu memberi judul dengan menunjuk papa reklame, pasti akan banyak hal yang terjadi.
Pasca menonton The Greatest Showman yang megah nan meriah, lantas Darkest Hour yang menegangkan sesekali
mengharukan, dilanjutkan oleh All The Money
In The World yang menjanjikan di awal sayangnya menjemukan sejak
pertengahan, saya memerlukan sesuatu yang lucu. Semua itu kutemukan pada
pembukaan film yang tenang dengan iringan lagu The Last Rose of Summer yang bernuansa orkestra. Dan ada Mildred
memandang papan reklame dengan sebuah ide yang provokatif. Dimulailah film
dengan seorang emak-emak yang depresi karena anaknya terbunuh memprovokasi
lembaga kepolisian setempat. Detail selanjutnya bisa kalian baca sendiri di
sinopsis film yang bertebaran di internet.
Cerita kemudian berkembang liar dan anggun
sekaligus lucu. Ada kritik dan sesuatu yang dapat didiskusikan dalam film ini. Transformasi,
ya, begitulah. Transformasi karakter dapat kalian lihat dan rasakan. Jengkel jadi
iba atau lucu, simpati menjadi sebal dan yaah mahfum. Semua bercampur dalam
adonan kisah yang mengejutkan. Film tak terlalu detail mendalami kasus pembunuhan
anak Mildred, melainkan efek yang ditimbulkan dalam pemasangan papan reklame
yang notabene jarang dilewati kendaraan.

All this anger, man, it just begets greater anger
Cerita : 8/10
Pemain : 9/10
Ending : 8/10
Overall : 8.3/10
Mar 26, 2018
Durasi : 125 menit
Sutradara : Joe Wright
Naskah : Anthony McCarten
Pemain : Gary Oldman, Kristin Scott Thomas, Lily James, Ronald Pickup, Stephen Dillane, Ben Mendelsohn
Jujur
saja saya enggan menulis review film ini. Darkest
hour sudah lama mengendap di laptop dan belum tersentuh hingga saya kembali
ke kos. Jikalau bukan karena Uda Jayuzka menyuruh nonton dan nampaknya dia
ingin mendengarkan pendapatku tentang film (bukankah begitu da? 😁). So, saya niatkan saja akan mereview
pasca menontonnya.
Tanpa
mencari informasi ini film tentang apa dan siapa pemerannya, langsung kuputar
saja. Kesan awal film diputar menunjukkan bahwa ini adalah film tentang perang
dan muncullah nama sutradaranya, Joe Wright. Ah, tak mungkin Joe bermain-main
dengan film aksi pasca kegagalan dalam Pan.
Saya lebih suka Ia membuat film drama seperti Atonement atau minimal Pride
& Prejudice.
Benar
saja, kegaduhan di gedung parlemen menjadi tanda bahwa ini film drama dengan
latar perang dunia kedua tahun 1940. Panggung politik kerajaan Inggris memanas
seiring munculnya ancaman dari Jerman yang telah melakukan ekspansi ke beberapa
negara Eropa Barat. Neville Chamberlain dituntut mundur oleh oposan karena
dianggap tak cocok menjadi pemimpin pada saat genting. Muncullah Winston, meski
tidak disukai, tetapi dia dianggap sosok yang dapat diterima oleh pihak oposan.
Walaupun perang, persatuan tetap harus dijaga. Winston diragukan oleh berbagai
pihak, termasuk dari partainya sendiri, karena track record dan sikapnya.
Darkest
Hour memiliki konflik yang sudah umum, namun dieksplorasi dengan baik. Ada pihak
yang menginginkan negosiasi perdamaian dengan Jerman, sedangkan Winston ingin
melawan Hitler karena Ia melihatnya sebagai “monstrous savage”. Barangkali usul perdamaian bagi Hitler tak
mempan. Melalui operasi Barbossa tahun 1941, Jerman menyerang Soviet yang
sebelumnya telah melakukan pakta perdamaian tahun 1939 yang dikenal dengan Pakta Molotov-Ribbentrop. Serangan yang
membuat Stalin mencak-mencak. Film ini menunjukkan kejelian Winston dalam
membaca situasi sekaligus usaha menjawab berbagai keraguan terhadap dirinya.
Winston : My Copy of Cicero, did you shelve it?
Clemmie : Did you hear what I said?
Winston : What was that?
Clemmie : We’re broke.
Akting pemeran Winston
Churchill yang menutupi segala aspek kelemahan film ini. Pada akhirnya saya
terkejut saat mengetahui pemeran si Winston Churchill adalah Gary Oldman. Whaat?? Saya benar-benar tidak
menyadarinya. Bunglon adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikannya. Bagimu,
bunglon mungkin si Johnny Depp, tetapi saya masih bisa mengenalinya. Coba tonton
si Gary yang menjadi drakula (Bram Stoker’s
Dracula) lantas menjadi animagus pada sosok Sirius Black (Harry Potter series) atau seorang komposer
klasik (Immortal Beloved) dan berubah
drastis pada seorang bassist Sex Pistols (Sid
& Nancy). Dahulu saya pernah mengernyitkan dahi ketika tahu Nolan
menunjuknya sebagai polisi yang baik (Batman
Trilogy) sangat bertolak belakang dengan Norman yang korup (Leon: The Professional). Ah, mengapa
saya terlalu terkejut. Bukankah Gary juga pernah menjadi seorang pembunuh
presiden (JFK) dan kini menjadi
seorang Perdana Menteri.
Kita terus
dibawa pada sosok Winston yang menonjol, cerdik, dan temperamen sekaligus
memiliki sisi humor dan lembut dengan balutan make up yang luar biasa sehingga kita mungkin akan terkecoh jika
dia adalah Gary. Sinematografinya pun memuaskan. Mampu merealisasikan
ketenangan dan ledakan emosi antara terang dan bayang-bayang. Saya suka saat pengambilan
gambar di Istana Buckingham dan pidato terakhirnya.
Tahun 2017 kita
seperti diperlihatkan lukisan sejarah dari kejadian perang dunia kedua dengan Darkest Hour sebagai lukisan utama dan Dunkirk sebagai spin-off nya. Anda tak perlu pusing seperti menonton Dunkirk karena Darkest Hour memiliki alur yang sederhana ditambah pemacu semangat (yang
menumbuhkan rasa nasionalisme) dan (juga) haru.
Cerita : 7.5/10
Pemain : 8.5/10
Ending : 8/10
Overall : 8/10
NB:
Baru tahu jika Gary Oldman dalam film ini meraih penghargaan sebagai Aktor
Terbaik Oscar 2018.
Jul 1, 2015
Pemain :
Meryl Streep, Philip Seymour Hoffman, Amy Adams, Viola Davis
Sutradara :
John Patrick Shanley
Naskah :
John Patrick Shanley
Durasi : 104 Menit
Ini film lumayan lama, namun gak
jadul-jadul banget. Baru 7 tahun silam. Genrenya drama dan jarang yang suka
film bergenre ini (salah satu alasannya karena bikin ngantuk). Sebenarnya, saya
pun begitu akan tetapi pada kasus-kasus film tertentu saya sangat menyukai
genre ini. Berbeda dengan genre scifi,
horor, atau laga, film drama memiliki unsur-unsur fundamental pada film. Atau
saya boleh mengatakan jika genre drama merupakan genre tertua dalam dunia
perfilman. Hal prinsipil dalam film drama pada akting, cerita, penokohan,
dialog, sinematografi dan hal lain yang ada pada sebuah film. Tengoklah American Beauty, Forrest Gump dan Birdman yang solid, Dialog-dialog cerdas
dalam A Separation, 12 Angry Men, dan
Dwilogi Before (Before Sunrise & Before Sunset,serie ketiganya menurutku
kurang), serta plot-plot keren layaknya Shawsank
Redemption, Fight Club, dan Amelie.
Bukan pada penonjolan visual efeknya, make up, keseruan aksi pukul-pukulan (ya
iyalah... namanya juga drama).
Doubt
salah satu film drama yang menurutku unik, terutama dari segi cerita dan
dialog-dialognya. Bersetting pada tahun 1960an di sebuah sekolah Katolik, St.
Nicholas. Berkisah tentang pencarian bukti atas kecurigaan kepada seorang
Pastor yang baru saja dipindahkan ke St. Nicholas. Kecurigaan yang mengarah
pada skandal Pedofilia. Tema yang menarik, yaitu tentang skandal pedofilia yang
melibatkan aktor pada suatu lembaga keagamaan. Dua tahun pasca rilis film ini
Paus Benedictus XVI meminta maaf pada korban pelecehan anak oleh para pastor.
Entah ada keterkaitan pengaruh dari film ini atau tidak, yang pasti film ini
mengangkat isu yang sangat sensitif. Ditambah seting tahun 1960an diskriminasi
pada kulit hitam masih kuat.
Film
dibuka dengan gambaran suasana kota dan iringan alat musik. Khotbah Father
Flynn merepresentasikan isi kisah dalam film. “The message of the constellations, had he imagined it because of his
desperate circumstance? Or had he seen truth once...and now had to hold on to
it without further reassurance?” ujar Father Flynn. Suster Aloysius, Kepala
Sekolah St. Nicholah yang tegas, kaku, dan konservatif menaruh kecurigaan awal
pada khotbah sang Pastur. Amy Adams berperan sebagai Suster James memiliki
kepolosan dan keluguan dan tidak terlalu ambil pusing atas kecemasan dari
Aloysius. Akan tetapi, kejadian demi kejadian yang dialami Donald Miller,
seorang siswa kulit hitam pertama di sekolah tersebut membuat Suster James
menjadi ikut curiga. Dimulailah kedua suster tersebut dalam mencari bukti dan
informasi tentang kejadian yang melibatkan Father Flynn.
Akting
para pemain Doubt patut diacungi jempol. Meryl Streep yang keras kepala dan
super menyebalkan, Amy Adams yang menggemaskan dengan keluguannya, Hoffman
sebagai Pastur yang ramah tapi bisa meledak-ledak, dan tidak ketinggalan Ibu
Miller yang diperankan dengan baik oleh Viola Davis. Tidak heran film ini
mendapatkan lima nominasi Oscar tahun 2009 yang salah satunya untuk Aktor
Terbaik dan Aktris Terbaik. Ditunjang dengan naskah yang kuat dan dialog-dialog
yang cerdas membuat film ini semakin greget. Suasana sekolah yang sunyi
menambah kesan misteri dan tidak menentu tentang kejelasan akhir kisah ini. Bahkan
sampai akhir film berakhir pun tidak ada kesimpulan pasti dari film ini.
Film
ini memiliki pesan moral yang kuat. Bagaimana asumsi tanpa bukti dapat membuat
suatu gosip/rumor. Pernyataan ini dianalogikan dengan cantik melalui bulu-bulu
bantal yang terbang dibawa angin. Bahkan karena saking jengkelnya dengan sifat
keras kepala Aloysius, Father Flynn berkata, “I can't say everything, you understand? There's things I can't say, even
if you can't imagine the explanation, Suster. Remember, there are things beyond your knowledge. Even if you feel
certainty, it is an emotion, not a fact.” Meskipun tidak ada kejelasan
apakah Father Flynn melakukan tindakan asusila pada Donald Miller, cukuplah
tangisan Suster Aloysius menjadi sebuah kesimpulan kisah dalam film ini. “I have doubts. I have such doubts.”
ungkap Suster Aloysius dalam isak tangisnya. Tangisan yang menandakan suatu
penyesalan yang selalu datang terlambat karena pada dasarnya penyesalan memang
tidak pernah tepat waktu. Jika tepat waktu bukan penyesalan namanya, tapi
disiplin. Yah, mungkin Suster Aloysius tidak/kurang mendengarkan khotbah Father
Flynn sebab sibuk mengawasi anak-anak yang ramai atau tertidur saat khotbah
berlangsung. Nasihat di dunia militer mungkin cocok untuk Suster Aloysius,”Jika
anda ragu lebih baik kembali.” Kembali kemana? Ya, kembali ke akhir khotbahnya
Father Flynn di awal film,
“..., doubt can
be a bond as powerful and sustaining as certainty. When you are lost, you are
not alone.”
Story: 7.7/10
Pemain: 8.3/10
Ending: 8.4/10
Overall: 8.4/10
Feb 15, 2015
Ketika SMP saya sangat menyukai
sebuah film dengan spesial efek visual yang keren dan megah. Ledakan dan berbagai
adegan tak logis membuat saya begitu terpesona layaknya anak kecil yang penuh
imajinasi (memang masih kecil saat itu). Lambat laun ternyata efek visual juga
tak melulu ledakan ataupun adegan-adegan keren, lebih dari itu efek visual juga
memerlukan akting karena perkembangan motion
capture. Daripada nganggur dan otak jadi kaku mending saya melemaskannya
dengan mengetik sesuatu yang ringan-ringan saja (yang berat disimpan untuk
mikir tesis hehehe). Yap… The Best Visual Effect Academy Award 87th menampilkan
5 nominasi film: Captain America: The
Winter Soldier, Dawn of the Planet of
the Apes, Guardians of the Galaxy,
Interstellar dan X-Men: Days of Future Past.
Walaupun tidak terlalu menyukai franchise nya, secara objektif saya
mengakui Dawn of the Planet of the Apes
memiliki efek visual yang waah. Film lain yang dinominasikan sebagai efek
visual terbaik memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Masing-masing memiliki
kekuatan tersembunyi untuk menyeruak memenangkan oscar.
Mari tengok Captain America: The Winter Soldier yang cukup menyita perhatian
saya. Pasalnya, seri pertama yang biasa saja membuatku malas untuk melirik yang
kedua. Namun, Scarlet Johansson yang kemudian membuatku merubah niat. Hehehe… Mulai
dari gaya bertarung sampai efek visual diperbaiki kualitasnya. Mungkin menyusul
kesuksesan The Avangers yang membuat
sang Captain tampil lebih percaya
diri. Saya senang melihat Falcon menghindari tembakan bertubi-tubi pesawat
sambil meliuk-liuk di udara. Adegan terakhir yang menjadi klimaks menandakan
perbedaan nyata antara seri pertama dengan kedua dari film ini. Dibandingkan melihat
efek visual Captain America: The Winter
Soldier saya lebih tertarik menonton adegan baku hantamnya. Menurutku, Transformers: Age of Extinction atau The Hobbit: The Battle of the Five Armies
lebih cocok menggantikan Captain America:
The Winter Soldier sebagai nominasi efek visual terbaik.
Ada salah satu adegan yang
membuatku terpana sekaligus kagum dari X-Men:
Days of Future Past, yaitu ketika Quicksilver mengobrak-abrik pentagon,
khususnya ketika di dapur. Bagi yang sudah menonton film ini pasti akan
berpendapat serupa. Ada lucu, keren dan memorable
pada adegan tersebut. Slow motion
nya mengingatkan kita pada The Matrix
atau saya boleh mengatakan terinspirasi dari film yang dibintangi Keanu Reeve
tersebut. Pertarungan dengan Sentinel pun perlu menjadi catatan juga. Nampaknya
kekuatan/penyebab utama efek visual film ini karena adegan Quicksilver.
Para penikmat film memiliki
ekspektasi tinggi pada film garapan baru Christoper Nolan, Interstellar. Pasca Inception
yang meraih efek visual terbaik Oscar ke 83, banyak pihak mengharapkan film ini menyajikan efek visual
yang lebih. Menggabungkan efek dari film Inception
dan Gravity dengan imajinasi ala 2001: Space Odyssey membuat film ini
berbeda dengan karya Nolan lainnya. Gemuruh badai pasir, keheningan di luar
angkasa, tsunami di Planet Miller, kecantikan warmhole, sampai visualisasi 5D merupakan kekuatan dari film ini. Tontonlah
dan anda akan mengerti.
![]() |
| 5 Dimensi alan Nolan |
Guardians
of the Galaxy (GoG) sama kuatnya
dengan Dawn of the Planet of the Apes (DPA).
Rocket dan Groot mampu membuat kita tertawa, sedangkan para simpanse membuat
kita bersimpati atas emosi mereka. Untuk para tokohnya, GoG mengandalkan efek
CGI sedangkan DPA menggunakan motion
capture. Kedua film ini memiliki efek visual yang merata, dari awal sampai
akhir.
![]() |
| Scene pembuktian Yondu yang ternyata kuat juga |
GoG memberikan nuansa pertempuran luar biasa di angkasa ditambah
karakter lucu Rocket dan Groot. DPA menampilkan detail hutan dan reruntuhan kota
serta para simpanse yang penuh emosional. Bila memilih dua, saya akan memilih
kedua film ini. Tetapi pemenang selalu berdiri seorang diri, jadi saya lebih
memilih DPA sebagai efek visual terbaik.
![]() |
| Diplomasi ala Para Simpanse |
Feb 9, 2015
Satu lagi yang menambah koleksi film bertema musik Jazz setelah The Legend 1900 dan tentu saja Ray. Dari cerita okelah dengan tema Jazz dengan drum sebagai fokusnya. Akting, si Botak Simmons sukses membuat saya tegang, jengkel dan penuh kejutan. Inget guruku yang suka maki-maki tulisanku dan memanfaatkan kepolosan dan keluguanku. Hehehe... Saya suka endingnya dengan aksi drum Andrew dan cerita yang dibiarkan menggantung.
Oscar tahun ini memang bakal ketat setelah berbagai macam film yang memiliki kualitas tak jauh berbeda. Dan Selamat untuk J.K. Simmon yang meraih Aktor Pendukung Terbaik di Golden Globe tahun ini.
Oscar tahun ini memang bakal ketat setelah berbagai macam film yang memiliki kualitas tak jauh berbeda. Dan Selamat untuk J.K. Simmon yang meraih Aktor Pendukung Terbaik di Golden Globe tahun ini.
Whiplash... story: 8/10, pemain: 7.8/10, Ending: 8.3/10, Overall: 8.2/10
Feb 5, 2015
Saya
acap kali jengkel ketika mengkopi film dari teman ternyata film yang saya
tonton tidak memberikan manfaat atau paling parah film tersebut benar-benar tak
berkualitas. Menonton sebuah film bukan sekedar mencari hiburan dari ledakan
atau aksi berantem maupun humornya. Lebih dari itu, film dapat menjadi sebuah
pembelajaran alih-alih membuat kita berpikir dan terdapat nasihat berharga di
dalamnya.
Pesatnya
teknologi menggeser kebiasaan manusia dalam menonton film. Dulu kita dapat
menonton film dari layar tancap yang kemudian bergeser ke bioskop dan lalu
dirumahkan karena adanya televisi. Dari televisi lanjut dengan kemunculan VCD
Player serta DVD Player yang membuat konsep baru bernama home theatre di dalam rumah. Kemunculan Blu-Ray semakin memanjakan
mata penikmat film dengan kualitas High Definition
(HD).
Interenet
kian menambah maraknya jumlah bajak laut hehehe… apalagi di negara berkembang
seperti negera tercinta kita. Dari sinilah kita bisa menikmati film-film yang
diinginkan. Bahkan adapula situs yang menyediakan menonton film secara online. Well, mendownload film seperti sebuah
perjudian jika tak mengenal seluk beluknya. Daripada kamu menghabiskan kuota
internet dengan downloadan yang tak jelas, saya akan memberikan tips dalam
mendownload film sesuai pengalaman saya menjadi bajak laut.
1. Kenali Film
Kenali dulu film yang akan kamu tonton. Jangan
asal download. Tak masalah jika film tersebut kamu dapatkan dari mengcopy teman, namun jika hendak
mendownload kenali dulu filmnya apakah anda suka atau tidak. Lihat cast
pemainnya, sinopsisnya (saya jarang dan cenderung mengabaikan sinopsis karena
mengurangi sensasi dalam menonton), thrillernya,
atau bahkan poster. Situs IMDB mungkin bisa membantu walaupun bukan acuan yang
sangat penting karena terkadang rating rendah belum tentu buruk sebuah film, namanya
juga demokrasi dalam memberi rating.
2. Lihat Deskripsi Film
Tengok
dulu deskripsi filmnya. Kualitas video memengaruhi kenyamanan dalam menonton. Gak
asik jika nonton terus ada bayangan orang lewat. Kenali kualitasnya dari
informasi yang diberikan. Sebuah video film biasanya memiliki kualitas tertentu
misalnya Cam, TS, R5, DVD, HD, Bluray dan adakalanya terdapat embel-embel rip
sebagai singkatan dari ripping. Ripping merupakan hasil salinan dari kaset atau sebagai bentuk
promosi. Mungkin urutannya seperti ini CAM
> TS > DVDScr > R5 > WEBRip > DVDRip > HDTV > WEB-DL >
BRRip/BDRip.
Selain
deskripsi kualitas yang kamu perhatikan adalah subtitlenya. Tidak sedikit film
yang kamu download mengandung hardsub. Hardsub ini maksudnya adalah subtitle
yang melekat pada video. Ada yang bisa dihilangkan dengan software namun banyak
juga yang tak bisa dihilangkan karena sudah mengalami kompres sebelumnya. Masih
mending jika hardsubnya bahasa kita atau bahasa inggris yang masih kita pahami,
bisa saja hardsubnya bahasa spanyol, tiongkok, korea, atau arab dan besar pula.
Nah loh kapok koen. Hehehe…
3. Hati-Hati Jebakan
Jebakan ini biasanya dialami karena kita
terlalu nafsu dalam mendownload. Contoh paling mudah adalah film Naruto The
Last yang banyak terkena jebakan para pecinta film. Baru satu bulan launching
sudah keluar versi DVDrip nya. Nah, hati-hati jika tidak kamu bisa dapat zonk
atau bisa-bisa kemasukan virus atau malware. Bisa didownload dan dibuka, namun
ternyata film indonesia yang kamu tonton. Hahaha… Lihat dulu komen-komen di
bawahnya karena itu bisa memperlihatkan reaksi para downloader. Jika ada makian
dalam komentarnya mending urungkan niat untuk mendownload. Mubazir! Tak ada
salahnya untuk bersabar. Selain itu, perhatikan passwordnya. Tak lucu bila
selesai download anda diminta memasukkan password dan syukur-syukur ada
passwordnya, kalau tidak ada password? Hahaha… Paling aman memang melihat
komentarnya.
4. Perhatikan Kuota dan Pemutar Film
Sebelum mendownload, kita patut
memerhatikan akan ditonton dimana film kita nanti. Laptop? Notebook? TV? Jika TV
berapa inch TV kita. Ini penting karena tak semua film cocok dan enak
disembarang pemutar. Film yang kapasitasnya dibawah 500MB tentu kelihatan
pecah-pecah ketika menontonnya di TV ataupun Laptop. Dan film dengan kualitas
Bluray yang besarnya 2 GB lebih justru sering tersendat-sendat diputar pada
notebook kita yang mini. Sesuaikan kebutuhan, OK?
Kuota juga menjadi aspek penentu
kelancaran kita. Jangan sampai downloadan kita sudah 80%, akan tetapi terhenti
hanya karena kuota kita habis atau koneksi internet lemot. Saya dulu sering
mengalami ini dan kesalnya gak ketulungan.
5. Ini Yang Paling Penting
Ini yang paling penting: bertanyalah! Tanyakan
pada teman-temanmu yang biasa mendownload film apakah sudah memiliki film yang
akan kamu download atau tidak. Rugi jika temanmu sudah punya ternyata kamu
terlanjur download. Apalagi jika kualitasnya lebih baik. Nyeseeek!!!
Disamping itu berhentilah mendownload. Karena sesungguhnya menjadi bajak laut itu riskan.
Disamping itu berhentilah mendownload. Karena sesungguhnya menjadi bajak laut itu riskan.
Jan 30, 2015
Film 2012 mungkin bagi kebanyakan orang menjadi favorit pada ranah film katastrofe. Meskipun begitu film katastrofe yg menyentuh dan membuatku merinding salah satunya The Road. Kisah ayah-anak ini begitu mengharukan bila dibandingkan The Pursuit of Happiness. Jepang malah lebih punya dulu dengan Dragon Head yang eksentrik, Indonesia kapan ya?
"Kau selalu bilang berhati-hatilah dengan orang jahat. Orang tua itu bukan orang jahat. Kau bahkan tak bisa membedakannya lagi."
Cerita : 8/10
Pemain : 7.6/10
Ending : 7.8/10
Overall : 7.9/10

















