Ronaboyd Mahdiharja

Sebuah goresan nan Pribadi mengenai metamorforsis dalam alam pemikiran perjalan menjadi manusia.

Showing posts with label Esai. Show all posts
Showing posts with label Esai. Show all posts

Oct 12, 2018







Life can only be understood looking backward. It must be lived forward.- Eric Roth, The Curious Case of Benjamin Button Screenplay

Aku menjamah Pedro Paramo berulang kali. Akhir-akhir ini lebih sering dengan membandingkan terjemahan yang berbeda (Gambang dan Gramedia). Bolak-balik menuju lorong masa kini dan silam di kota Comala. Kurasakan gegar riuh dan sunyi dalam deretan kata Rulfo. Hal itu tak lantas memberikanku sebuah kesimpulan bahwa hidup ialah seperiuk tai. Jangan dengarkan gerutuan Kilgore Trout, kakek uzur yang mengalami ‘gegar’ karena gempa waktu.

Vonnegut menjelma menjadi lebih cerewet dari biasanya. Mohon mahfum namanya juga kakek-kakek, nenek-nenek pun demikian. Meskipun mereka menyebar hoax atau haus perhatian, biarkanlah namanya juga kakek-nenek. Adakalanya mereka sudah makan sepiring nasi tapi merasa belum makan sama sekali. Janganlah kita ikut-ikutan membully walau mereka bullyable. Tentu saja merepotkan. Anggaplah menahan diri sebagai latihan menjadi lelaki atau anak/kawula muda yang berbakti.

Bicara merepotkan, aku ingin membawamu pada sejarah dalam definisi Carr, dialog tanpa akhir antara masa kini dan masa lalu. Belakangan ini ada sebuah kerepotan yang membayangiku. Terlepas dari repotnya kakek-nenek yang merepotkan itu, aku bertanya-tanya, sejauh mana dulu aku merepotkan.  Ketika belum lahir pun kita kerap merepotkan orang tua. Cobalah bayangkan dirimu mendekam di rahim sedangkan orangtuamu berkeliling mencari lele penyet pada pagi hari saat anak-anak sekolah di Surabaya (yang luas). Atau pagi buta mencari warung rawon yang masih buka. Merepotkan? Tidak, justru menyenangkan dan lucu meski saat mencarinya jelas-jelas mengerutu. Pemahaman ini setelah ada jeda dan jarak.

Jeda dan jarak itulah yang membuatku terpingkal-pingkal tatkala membaca tulisan-tulisanku bertahun lampau. Aku tak mampu menemukan betapa merepotkannya diriku saat masih dalam kandungan. Selain ayahku yang irit bicara, aku tak begitu dekat dengan ibu (karena jarang berjumpa). Jadi, tulisan-tulisan itulah yang merepresentasikan betapa merepotkannya diriku. Tulisan-tulisan hasil belajar yang oleh para mentor dibuang, disobek, dihujat, dibanting, diinjak, dan diamini.

Dulu tiada tebersit kegiatan yang menjemukan itu menghasilkan uang atau sekumpulan karya. Lha wong aku sinau nulis biar skripsiku lancar. Memang dangkal banget. Mungkin sedikit berbeda dengan orang-orang yang berniat belajar menulis untuk menembus media, menghasilkan maha karya atau alih-alih menjadi abadi. Bagiku itu hanyalah bonus sebab ora kepikiran blas.

Ketika kian jamak pelatihan menulis tentu saja hal tersebut membuatku semakin merinding. Mereka berharap banyak setelah mengikuti pelatihan menjadikan tulisan mereka semakin bagus secara tiba-tiba. Kerap kutemui muda-mudi dengan semangat menggebu yang kemudian menjadi lesu ketika mereka dijatuhkan. Padahal menulis merupakan proses berulang penghancuran dan pembentukan. Hanya orang keras kepala yang mau dan belajar berbenah dari proses ini.

Aku tak mampu membayangkan betapa repotnya para mentorku. Barangkali mereka pusing atau bahkan hendak muntah saat membacanya. Pasti akan mengejutkan mendengar komentar-komentar mereka. Sayangnya, diriku belum sempat menanyakannya. 

Sejauh apapun diriku membayangkan betapa merepotkannya pada masa silam, hidup memang selalu ke depan dan harus dijalani. Aih, benar memang jika sejarah nampak seperti pelacur yang bersahaja. Tapi, ...

Though wise men at their end know dark is right,
Because their words had forked no lightning they
Do not go gentle into that good night.
Dylan Thomas

Apr 18, 2018





Apa yang akan kamu lakukan ketika ada yang berkata “Call me Ishmael” saat membuka halaman pertama? Tentu saja hal ini tak lumrah pada zaman dulu, seolah ada orang asing yang mengajakmu berbicara dan kamu akan terus diajak dalam petualangannya dalam buku Moby Dick. Atau saat Kafka mendobrak kesadaran dan mengagetkan kita dengan kalimat pembuka, As Gregor Samsa awoke one morning from uneasy dreams he found himself transformed in his bed into a gigantic insect.”
Pada suatu karya kalimat pembuka menjadi sangat sakral karena akan memberikan kesan dan kehendak membaca kalimat berikutnya. Akan tetapi, saya punya pendapat lain saat Leila S. Chudori membuka novel Pulang: “Dia muncul seperti selarik puisi yang belum selesai.” Selain memberi nuansa misterius, kalimat tersebut terkesan puitis. Leila memberikan diksi puitis untuk pembacanya. Pembuka tersebut memenuhi keutamaan unsur diksi menurut Aristoteles: jelas dan tidak biasa. Ini tentu tidak mudah dan tidak semua penulis mampu membuatnya. Saya kerap heran bagaimana seseorang mampu menulis diksi puitis.
Konon, kalimat puitis identik dengan puisi. Well, sejak SD sampai sekarang puisi merupakan hal yang sulit kupahami sehingga saya hanya mampu menikmati larik-larik puitis karya penyair, tanpa mampu membuatnya. Mungkin, dulu bagiku, puisi hanya sekedar untaian kata untuk merayu wanita.
Dengarkanlah puisi Neruda berjudul I Like for You to be Still:
I like for you to be still
it is as though you are absent
And you hear me from far away
And my voice does not touch you
it seems as though your eyes had flown away
And it seems that a kiss had sealed your mouth

Atau Are You The New Person, Drawn Toward Me? Milik Walt Whitman:
Are you the new person drawn toward me?
To begin with, take warning—I am surely far different from what you suppose;
Do you suppose you will find in me your ideal?
Do you think it so easy to have me become your lover?
Do you think the friendship of me would be unalloy’d satisfaction?
Do you think I am trusty and faithful?
Do you see no further than this façade—this smooth and tolerant manner of me?
Do you suppose yourself advancing on real ground toward a real heroic man?
Have you no thought, O dreamer, that it may be all maya, illusion?

Sebenarnya masih banyak lagi soneta-soneta cinta Neruda, Whitman, atau Gibran. Maklum, ini pemahaman dangkal seseorang yang tak mendalami puisi. Begitulah saya melihat puisi yang selalu puitis, sehingga saya menulis puisi saat jatuh cinta. Dan itu bermula dari nasihat seorang kawan,
“Koen, yen pengen dapat pacar: nulis puisi! Kirimi dia puisi pas tengah malam.”  
Saya yang tak pernah tuntas menulis puisi sejak kecil kemudian mendadak latihan membuat puisi. Meski nasihatnya terasa menyimpang dan terasa ganjil, tetap saja saya menurutinya. Layaknya kalimat pembuka novel Pulang, puisi-puisiku jarang selesai dan jikalau selesai kemudian menjadi puisi gelap. Walaupun begitu, ternyata benar, resep itu manjur.
Lambat laun saya pun menyadari bahwa tak semua puisi bernada puitis untuk lawan jenis. Kita dapat melihat karya-karya Chairil atau Wiji Thukul yang lugas dan tajam. Mungkin juga dengan... hmmm... gimana ya? Begini, apa yang terlintas dalam benakmu saat mendengar kalimat “starving hysterical naked”? Terkesan aneh dan membuat kita ingin tertawa, kan? Puisi Howl oleh Ginsberg mewakili karya-karya Beat Generation.
Sepulang dari Jogja yang mampir dahulu ke Solo, selepas pengalaman-pengalaman emosional dan spritual, kulihat puisi-puisiku yang lampau. Sesekali tersenyum kecil dan geleng-geleng, dan tentunya banyak bertanya: apa maksud puisiku ini? Atau mengapa aku menggunakan kata ini? Jejak rasa dalam puisiku itu seperti lindap, adakalanya saya seperti terputus dengan jejakku sendiri. 
Dahulu saya tak paham maksud dari kata-kata Octavio Paz, “Like a poem, it is not linear, it meanders and twists back on itself, shows us what we do not see with our eyes, but in the eyes of our spirit.” Benar, apa yang diperlihatkan puisi tak melalui mata lahiriah, melainkan penyelaman relung –relung jiwa manusia. Dan saya telah kehilangan makna dari puisi yang belum terselesaikan. Apakah rasa dan ingatan saat itu sudah menguap sehingga tak mampu lagi kutelusuri? 
Entah siapa yang bilang, saya lupa, tetapi masih teringat betul kata-kata tersebut yang mengatakan, “Jika kamu tidak dapat menulis puisi, atau setidaknya tak mampu menikmatinya, berhati-hatilah karena itu menandakan hatimu keras.” Dan kusadari ternyata tugas penyair itu sulit karena menyampaikan perwakilan rasa dari jiwa manusia yang melampaui bahasa.
Pada momen-momen tersebut saya bersyukur ternyata masih terdapat lilin kecil yang menyala dan mungkin akan terus kujaga: menulis puisi. Yap, puisi yang tak lagi melulu masalah cinta. Meski begitu tetap saja saya malu untuk memperlihatkannya, kecuali orang-orang terdekat atau kuanggap dekat. Sementara ini, cukuplah kutulis dan simpan sendiri coretan-coretan mungil itu. Puisi-puisi gelap itu memberiku ketakutan jika pembacanya salah menafsirkan atau salah menangkap maknanya sehingga memunculkan kecurigaan, permusuhan, atau pertikaian. Tak dipungkiri saya pun berharap kelak ada yang membacanya, akan tetapi saat saya sudah tidak di sana dan tak mengetahui jika ada yang membacanya.

Apr 14, 2018




            Bagaimana kita melihat suatu paradoks? Yup, paradoks yang menyelimutiku hari-hari ini. Kali ini saya akan mengawalinya dengan membahas salah satu karya Shakespeare, Macbeth. Meski bukan karya Shakespeare favoritku (Hamlet is my favourite), namun Macbeth mampu memberikan suatu gambaran mengenai paradoks. Karya tersebut terangkum dalam sebuah frasa terkenal, “fair is foul, foul is fair”. Sebuah frasa yang dikatakan penyihir ketiga yang terkesan bijaksana dan penengah. Karakter penyihir dalam Macbeth memiliki kepribadian yang berbeda. Seperti sebuah dialektika, penyihir pertam yang kerap bertanya dan gelisah; penyihir kedua yang reaktif dan pemberi jawaban; dan penyihir ketiga yang menjadi penengah dan terkesan bijaksana.
            Shakespeare dengan jeli membungkus niat dengan cantik. Cobalah lihat apa yang dikatakan Lady Macbeth saat diberitahu rahasia oleh Macbeth: “My hands are of your color; but I shame to wear a heart so white. Dan selanjutnya, jika anda membacanya, akan tahu karakternya.
            Paradoks yang sama akan anda temukan pada beberapa kisah lain. Ada seorang yang berniat mencuri dan mengatakan niatnya tersebut kepada seorang kawan. Apakah sang kawan mencegahnya? Tidak. Ia membiarkan dan kawannya pun mencuri dan membunuh pemilik rumah. Seminggu sebelum eksekusi, sang kawan mengunjungi si pencuri dan terjadi banyak dialog. Si kawan mengungkapkan penyesalan dan berjanji membantu keluarga si pencuri jika Ia mati. A heart look so white. Si pencuri bersikeras bahwa itu adalah niatnya sendiri dan ia mengatakan bahwa “Satu-satunya kesalahanku adalah aku menjalankan niat burukku.” Yang menarik dari kisah tersebut adalah bagaimana seorang kawan digambarkan layaknya super hero, dan si pencuri menjadi pesakitan. Adil itu busuk.

     Adapula kisah lain yang lebih terkenal dalam film Trainspotting. Yup... film Skotlandia terbaik sepanjang masa dan berdiri kokoh di puncak sebagai film terbaik yang mengisahkan kehidupan pemadat (Maaf Requiem for a Dream kutaruh nomor dua). Akan tetapi, saya tak akan fokus ke narkoba melainkan sisi lain dari film tersebut. Trainspotting mengisahkan beberapa manusia yang bersahabat sejak kecil yang memiliki kehidupan beragam. Lihatlah bagaimana si Renton memberikan heroin kepada Tommy, kemudian kecanduan heroin dan mati karena terkena HIV. Penyesalan kehilangan kawan belum terlalu terekspos saat itu. Kemudian T2 Trainspotting kehidupan para tokoh yang sudah menua dan konflik berpusat pada Begbie yang lari dari penjara karena tidak ingin menghabiskan hidupnya di penjara. Lantas apa yang dilakukan kawan-kawannya? Mereka menaruh si pembuat onar di bagasi mobil dan mengirimnya kembali ke penjara. Begbie marah dan mengutuk teman-temannya, sedangkan teman-temannya tak ingin kehilangan sahabat karibnya lagi. Busuk itu adil.
Fair is foul, foul is fair juga tersebar dalam kisah sehari-hari. Dan ada kisah yang menggelitik yang pernah mampir ke telingaku. Kisah pertama seorang pemuda-pemudi kasmaran yang berlibur menghabiskan waktu di wilayah Batu, Malang, dan terus berlanjut di kosan beberapa bulan kemudian. Si wanita hamil dan menuntut pertanggungjawaban, sedangkan si pria menolak dengan berbagai alasan. Dialog perdebatan tersebut masih kuingat jelas karena keduanya bertengkar dengan nada kencang sehingga tetangga rumah kontrakan mendengarnya.
“Kau tak bisa terus menyalahkanku! Kau sendiri menikmatinya! Kita suka sama suka!” teriak si pria.
“Dulu di Malang aku sudah merengek minta pulang. Kau tidak mencegah rencanamu dan malah melanjutkan perbuatanmu! Aku paham jika keluarga kita pasti akan malu. Jika sudah begini bagaimana?” si wanita tak kalah meraung disertai isak tangis.
Waktu memang tak bisa diulang kembali. Semenjak itu Si cantik berubah wajah pucat pasi karena aborsi. Si pria menggandeng wanita lain lagi. Fair is foul.
Kisah kedua sedikit lucu dan menggelitik. Kisah temanku sendiri yang curhat kala sore hari yang biasa saja. Ketika baru jadian saya berasumsi kawanku ini beruntung mendapatkan pacar yang cantik. Akan tetapi saat mendengarkan penuturan kawanku, mereka jadian dan putus karena kesangean pacarnya. Loh kok bisa? Mereka jadian saat si cewek sange dan kawanku tergoda. Akhirnya mereka kerap petting di berbagai tempat. Pada suatu ketika saat petting, ceweknya benar-benar gak kuat dan segera meminta untuk lebih.
“Kau masukkan gak?” tanyaku penasaran.
“Ya, enggaklah! Aku tolak. Aku masih bisa mikir masa depannya. Iya kalau jodoh, jika tidak? Kasihan dia dan suaminya,” ungkapnya pelan. Pada sisi ini saya salut pengendalian dirinya.
“Lha kenapa bisa putus?”
“Ya, karena aku menolak permintaannya itu. Seketika itu juga aku langsung ditendang, dimaki-maki kolot, puritan, pengecut, cemen. Wes macem-macem lah.”
Mendengarkan kisahnya sontak saya tertawa terbahak-bahak dan spontan saja bungkus rokok kena lempar mukaku. Meski begitu saya masih penasaran, “Eh, yang bawahnya gimana kayak artis bokep?”
“Dulu dia sering petting sama mantannya dan masturbasi pas njomblo.
“Terus?” Saya bertanya sambil mikir kok gak nyambung sih jawabannya.
“Yaaa item laaah!”
Kami pun tertawa sore itu. Setelah itu kawanku menikah dengan wanita dan sekarang sudah menjadi ayah. Nampaknya, dia baik-baik saja dan hidup normal. Semenjak putus, mantannya itu kerap mengunggah status di media sosial yang bernada keras, ketus, dan kontroversial. Beberapa pekan yang lalu saya dapat kabar bahwa dia telah menikah, tetapi status di media sosialnya masih tetap dengan gaya konsisten. Yah... Foul is Fair.
Paradoks Macbeth setidaknya memberikan pembelajaran mengenai niat dan tindakan. Adakalanya niat yang salah perlu tindakan pencegahan yang keras dan tegas. Dan niat yang baik perlu pengorbanan dan jalan berliku. Seorang ibu sekaligus pelacur tak ingin anak-anaknya merasakan pengalaman sakit yang sama dengan dirinya. Setidaknya, kakak yang baik akan mencegah tindakan dari niat bodoh adiknya. Seperti halnya pengetahuan yang diperoleh melalui proses tanpa pengalaman (apriori). Sedangkan, banyak orang ingin memeroleh pengetahun yang diperoleh dari pengalaman (posteriori). Jikalau itu adalah pengalaman yang buruk sehingga tak sedikit membuat orang jatuh ke dalam lubang keledai, cukuplah itu menjadi pelajaran dan tak perlu dilakukan. Sayangnya, kita kurang mendengarkan pengalama-pengalaman buruk itu dan kurang percaya terhadapnya.
            Dari berbagai kisah, saya lebih suka adegan ketika Sunan Bonang berdialog dengan Lokajaya. Apriori dan posteriori berkelindan pada dialog tersebut: niat dan tindakan Lokajaya seperti mencuci pakaian dengan air kencing; rumput yang tercerabut dengan kesia-siaan; dan pengalaman langkah-langkah Sunan Bonang dalam mengentaskan kemiskinan.


Nov 19, 2017

Hidupmu itu sunyi, mas,” ungkap Benyo saat itu.
Tentu saja pernyataan tersebut saya tolak. Apapun argumentasi yang Benyo lontarkan dengan medhog kala itu. Sebaliknya, hidupku terlalu riuh. Saya kasih satu bukti, konkret begitu riuhnya hidupku terutama perihal janji.
Kesampingkan janji-janji pada baliho yang bertebaran di jalan itu. Saya tak begitu menggubrisnya bukan lantaran tak mengenal mereka, melainkan janji-janji pada baliho tersebut kerap tak masuk akal sehingga sulit terealisasi. So, buang jauh-jauh mengenai pembahasan itu.
Saya bermaksud membahas janji yang lain. Yang sepele dan dari orang yang kukenal saja. Begitu banyak janji yang mampir ke dalam telingaku, namun saya tak terlalu berharap mereka memenuhinya. Banyak pelajaran yang dipetik dalam menulis janji tiap manusia yang berjanji kepadamu. Entah itu berkaitan dengan dirimu atau sama sekali tidak berkaitan padamu, alih-alih lebih kepada janji pribadi kepada diri sendiri dan saya sebagai saksinya. Walaupun demikian, saya tetap menulisnya untuk sekedar mengetahui seberapa serius dirinya atau kualitas pribadinya. Sebagai catatan saja, tidak lebih.
Janji yang sejauh ini kuingat, tetapi tidak kutulis adalah janji ayah untuk membelikan mainan yang sedang ngetren. Ada juga janji-janji sepele yang sebenarnya tak penting bagiku, tetapi mungkin penting bagi yang telah berjanji. Misalnya, ada yang berjanji puasa mutih tujuh hari, tidak makan lagi di warung X, tak akan lagi memakai baju berwarna biru. Masalah-masalah sepele yang sejujurnya sangat tidak penting, dan saya harus menjadi pendengar sekaligus saksi. Tak semuanya sepele sih, ada juga yang serius serta penting bagi dirinya dan sekali lagi tak penting bagiku. Saya akan kembali memberikan contoh sebagai bukti, ada kisah janji Life & Time Michael K yang berjanji untuk tidak memberikan harapan pada orang yang suka dirinya, sedangkan Ia sendiri tak suka. Pada lain kesempatan ada Josef K yang berjanji untuk presentasi buku yang saya sodorkan padanya, hingga kini belum semuanya Ia presentasikan. Adapula yang pernah berjanji tidak akan pacaran sebelum skripsinya kelar, lantas Ia lupa terhadap janji tersebut. Ada juga sepupu yang berjanji untuk menjauhi mantannya, tetapi kemudian saya tahu Ia tak bisa meskipun Ia sadar telah kena pelet atau sejenisnya. Atau ada juga pria cengeng yang berjanji akan lebih baik dan bertaubat, walaupun Ia sering mengulangi janji itu dan sejurus kemudian melanggarnya. Dan itu berulang kali.
Ada banyak yang berjanji dan saya menjadi saksi. Itu antara menyebalkan dan menyenangkan. Sebal karena mereka melanggar janjinya sendiri dan memosisikan saya sebagai saksi hanya sebatas candaan ala kadarnya. Menjadi saksi atas janji itu adakalanya menyenangkan melihat orang tersebut melanggar sehingga saya dapat belajar banyak dari manusia-manusia tersebut. Yah, ada yang ingkar, namun tak sadar. Siapapun dia, termasuk saya. Pada pelbagai situasi yang runyam, serius, dan di tengah gelak tawa kata meluncur begitu saja: tanpa kendali dan cepat.
Kamu tak boleh menyamakannya dengan Soekarno. Kata-kata yang keluar mampu membakar semangat massa. Hati pendengarnya akan bergemuruh dan siap mengikuti tiap yang diperintahkannya. Layaknya Hipnotis yang tak menghilangkan kesadaran manusia. Rasional dan tak terbendung. Ia pun tetap setia pada Indonesia dan banyak wanita.
Lain soal dengan mereka yang kerap berjanji di hadapanku, tak ada kata yang mampu menyakinkanku terhadap janji-janji mereka. Bahkan saya membuat sebuah kesimpulan subjektif bahwa manusia yang banyak berjanji lebih mudah lupa akan janjinya. Janganlah mudah percaya padanya.
Kalau saya pribadi masih ingat hanya saja belum terlaksana. Contohnya, ada janji mentraktir seseorang tetapi belum ada waktu karena sibuk (entah Ia atau saya). Saya juga pernah berjanji untuk membelikan baju yang seragam, namun belum kesampaian. Ini janji yang sudah lama, tapi masih saya ingat yaitu mengajak seseorang jalan-jalan bila skripsinya telah usai. Dan terakhir yang masih segar dalam ingatan ialah saat saya berjanji presentasi empat buku, tetapi belum terpenuhi karena pada hari senin yang telah kujanjikan tiada yang datang dan saya harus menunggu sambil dikerubungi nyamuk. Alhasil, saya pun pulang karena saya bosan menunggu. Pada sisi lain, ada rasa takut bila janji yang belum terpenuhi tersebut mengganjalku di akhirat kelak.  Jangan tanyakan padaku apakah mereka memiliki ketakutan yang sama sepertiku atau tidak.

Jul 27, 2015

            
              Tiap kali ke toko buku, dimana pun itu, buku-buku yang menjadi Best Seller didominasi buku motivasi (efeknya buku bajakannya pun bertebaran di toko buku bekas). Secara tidak langsung hal ini menandakan bahwa masyarakat kita kurang motivasi atau masuk pada fase kurang percaya diri. Tidak dapat dinafikan bahwa ada kalanya manusia mengalami disorientasi jati diri atau dorongan. Saya pun pernah merasakan hal tersebut. Banyak buku-buku motivasi yang saya baca dan beli, namun ada yang sedikit mengganjal dan itu fatal: aplikasi. Kebanyakan membaca buku motivasi ternyata membawa dampak pada tingginya teoritis, tetapi minim aplikasi. Sehingga, kita dapat memotivasi orang lain dan sayangnya sulit memotivasi diri sendiri. Padahal itulah tujuan awal saya membaca buku motivasi. Pada akhirnya, saya berhenti membaca buku motivasi dan mulai mempraktekkannya.
            Semenjak itu setiap kali melihat brosur atau iklan tentang pelatihan motivasi atau yang sejenisnya, saya hanya tersenyum geli dan geleng-geleng karena harga pelatihan/seminar yang begitu mahal. Dan pesertanya tidak sedikit, ratusan atau mungkin ribuan bahkan dibuat angkatan-angkatan. Begitu besar rasa ingin mengenal diri, sukses, mendekatkan diri pada Tuhan atau hidup yang lebih baik harus diimbangi dengan pengeluaran yang tidak sedikit. Ada yang berhasil dan tidak sedikit yang gagal.
            Banyaknya pelatihan/seminar motivasi tidak menurunkan tingkat depresi masyarakat karena apa? Ya karena yang bisa ikut hal tersebut ya orang-orang berduit, kaya, mapan atau penghasilan cukup. Padahal negara kita mayoritas MISKIN. Sehingga, saya sempat berkesimpulan jika pelatihan/seminar motivasi adalah ladang bisnis. BISNIS ya. Ada untungnya, dan tak gratis itu. Astagfirullah kok malah negatif thinking gini. Tak boleh Boip... itu tidak boleh ya. Boip kan sudah baca buku-buku motivasi jadi harus positif thinking. Astagfirullah 100x... Ampuni Boip ya Allah. Ya... maklumlah kalau mahal, itu kan ilmu. Emang gampang buat teori? Buat diagram yang bulet-bulet atau kotak-kotak itu emangnya gampang? Ilmu itulah yang buat mahal mas brooo...
            Aduuh saya takut dibilang klise ketika hendak mengetik, “bagaimana nasib masyarakat miskin?” Ada banyak jawaban untuk menjawab pertanyaan tersebut. Mari mengucapkan Alhamdulillah karena terdapat internet yang menyediakan secara gratis yang memuat hasil pelatihan/seminar motivasi dan bersyukur karena tingkat pembajakan yang tinggi sehingga tersedia CD atau buku bajakan. Lha terus mbah-mbah atau bapak-bapak yang tidak kenal internet atau teknologi gimana? Ya, biarin. Derita mereka, bukan kita. Hehehe... bercanda.
            Pada hakikatnya banyak lho kisah-kisah atau serat-serat yang mengandung motivasi untuk kesuksesan materi, pengembangan diri, atau spiritual. Sayangnya, tradisi masyarakat kita tidak terlalu mengejar materi jadi sedikit susah (bukan berarti tidak ada) untuk menggali motivasi meraih kesuksesan materi. Meskipun ada kisah-kisah mencari kesuksesan materi, akan tetapi ujung-ujungnya akan berakhir pada spiritual. Permasalahannya kisah-kisah atau serat-serat itu memiliki kemasan yang dalam sudut pandang marketing tidak terlalu menjual karena terkesan jadul atau kuno. Bandingkan saja dengan pelatihan/seminar motivasi saat ini yang bertaburan istilah-istilah ilmiah dan terkesan modern yang didukung penelitian-penelitian ilmiah.
            Berbanding terbalik dengan budaya lokal yang terkesan kuno. Sebelum para wali, sebenarnya Islam sudah muncul di Jawa dan daerah-daerah di Nusantara lain. Akan tetapi, perkembangan Islam stagnan karena metode dakwah terbilang frontal. Karakteristik masyarakat Jawa yang lembut dan halus tentu saja akan menolak ketika ada yang berdakwah dengan penghakiman yang tidak secara langsung membid’ahkan atau mengkafirkan. Perubahan metode pendekatan dilakukan oleh para wali melalui berbagai cara, salah satunya melalui budaya. Saya ambil contoh wayang. Bukankah masyarakat zaman dahulu sudah mengenal wayang dengan kisah dan tentunya sudah banyak yang hafal? Tentu saja Para wali memahami hal tersebut, tetapi mereka melakukan revolusi pewayangan baik dari substansi, bentuk wayang dan juga bentuk pertunjukan yang hanya mempertontonkan bayangan. Hasilnya benar-benar membuat masyarakat tertarik. Saya yang pernah melihat wayang meskipun hanya bayangannya saja merinding dibuatnya.
Mungkin jika anda pernah membaca kitab Mahabharata asli, kemampuan memanah Arjuna karena Ia merupakan titisan Dewa Indra. Dalam pewayangan Jawa dikisahkan bahwa kemampuan Arjuna karena berlatih memanah sampai akhirnya ia menjadi ahli panah. Selain berlatih memanah, Ia juga dikenal sebagai ksatria yang rajin bertapa (puasa) agar mendapatkan ridho Allah. Setidaknya jika anda menonton kisah Arjuna dalam berlatih panah, mungkin anda tak perlu membaca buku 7 Habits Of Highly Effective People karya Stephen R. Covey. Atau memahami kisah pertemuan Bima dengan Dewa Ruci tentang hakikat kehidupan sehingga anda tak perlu repot-repot mengikuti pelatihan/seminar ESQ atau justru anda bisa meluruskan konsep ESQ perihal God Spot. Atau bagaimana anda akan memahami Jamus Kalimasada sebagai pusaka paling penting dalam kerajaan Amarta yang mengalami penggubahan berisi kalimat syahadat dan itu dijabarkan dengan terang.
Lantas letak relevansi akses masyarakat miskin dengan pelatihan/seminar motivasi? Ya itu tadi, tak ada akses. Bayar saja mahal bro... Akses internet pun juga tidak merata dan hanya yang bisa saja. Kisah-kisah atau serat-serat yang mengandung motivasi pun banyak yang dicap bid’ah, kafir, plural, atau liberal. Masyarakat jadi takut lah. Sayangnya, tradisi kita bertutur sehingga tak ada itu yang namanya diagram penjelas atau buletan-buletan dan kotak-kotak yang menjabarkan konten dari kisah-kisah atau serat-serat seperti halnya buku, pelatihan, atau seminar motivasi.

Apr 18, 2015




            Berbagai pendapat perihal pengamen ini menuai pro dan kontra (manusia emang selalu pro-kontra). Ada yang suka, tapi tidak sedikit yang benci. Entah disebabkan karena habisin uang receh, terganggu atau risih. Pada dasarnya mereka sudah tersisih oleh kondisi dan lingkungan sehingga jangan sampai kita ikut menyisihkan mereka karena stigma negatif yang sudah melekat pada mereka. Tidak semua orang bisa menikmati pendidikan dan lingkungan yang bersahabat dalam pertumbuhan psikis. Ada sebagian yang hanya tahu cara mencari penghidupan dengan mengamen. Beruntunglah kita tidak pernah diajarkan mengamen sejak kecil sehingga memiliki pilihan lain dari mecari sesuap nasi yang lebih layak. Sebagai mantan pengamen orang yang dulu sering ngamen dan sekaligus penikmat pertunjukkan musik jalanan, ada beberapa sikap yang patut kita perhatikan ketika menjumpai mereka.
1.    Lepaskan Earphone! (Khusus di Bus)

Zaman ini kita dimanjakan oleh gadget yang mendukung untuk menjadi autis, salah satunya pemutar musik lewat ponsel. Lepaskan earphone mu sejenak untuk menghargai mereka. Sopir saja tidak keberatan mematikan pemutar musiknya, masak kamu tak mau. Tidak ada salahnya mendengarkan suara mereka. Meski terkadang ada juga yang menyanyi sebagai formalitas. Tetapi banyak juga lho yang nyanyi nya bagus. Pasang kembali ketika mereka sudah meminta recehan padamu.

2.    Jangan pura-pura Tidur

Eits… jangan salah, kadang pengamen memiliki lagu tersendiri untuk menyindir para penumpangnya. Khususnya yang pura-pura tidur. Hahahaha lagu andalan pun mereka mainkan
Ciri-cirine wong pelit, jare ngamale ra tau
Paribasan onok wong ngamen agi-agi etok-etok turu,
etok-etok turu karo ngempet ngguyu.

3.    Pasang Wajah Ramah
Siapa yang tidak emosi ketika dicuekin? Mereka pun sama. Mereka menyodorkan tangan malah dicuekin rasanya tuh sakit banget (pengalaman sendiri). Terlebih dengan mimik dingin. Acapkali saya temukan pengamen yang menegur pengamen tipekal ini. Entah asyik main ponsel atau sedang ngobrol. Pasanglah wajah ramah pada mereka. Hidup mereka sudah sulit jangan ditambahi dengan wajahmu yang pahit untuk dilihat. Khusus wanita/ yang memakai masker, karena ekspresimu tidak kelihatan lebih baik mempergunakan tanda penolakan yang halus yang akan dibahas sebentar lagi.

4.    Berikan Tanda Penolakan Yang Halus
Tak Efektif

Diam itu menyebalkan bagi pengamen karena seperti tidak diberi kepastian. Hehehe tapi benar lho jangan diam saja ketika disodori tangan mereka. Berikanlah tanda penolakan. Tentu saja tanda yang halus, bukan yang kasar karena geleng-geleng, memberikan tanda lima jari  kadang seperti minta digampar. Sudah panas-panas, capek, keluar suara banyak, dikasih wajah pahit dan mendapatkan penolakan yang kasar membuat mereka emosi. Ada satu tanda penolakan yang sejauh ini berhasil membuat saya tidak pernah ditegur (baca dimaki), yaitu menyatukan kedua telapak tangan seperti mengucapkan hari raya Idul Fitri. Saya pun sebagai mantan pengamen orang yang dulu sering ngamen akan segan memaksa dan seperti ada rasa adem di dalam dada.

5.    Tutup Pintu Rumahmu Ketika Masih Jauh
Menutup pintu ketika ada pengamen itu sangat kasar. Tatkala sayup-sayup terdengar suara pengamen dan kamu tidak berkenan lebih baik segera tutup pintumu daripada menutupnya saat dilihat pengamen. Seolah anda mengusir mereka dan itu menyesakkan dada. Rasanya diusir benar-benar sakit.

Berhati-hatilah wahai para penumpang
Karena siang ini banyak tuyul di belakang
Jagalah pacar Anda, jangan sampai hilang
Kalau sampai hilang, segera lapor satria baja hitam
Atau si Doraemon

Dec 15, 2014


           Suasana menjadi gelap. Matahari telah tenggelam di belakang kami. Terdengar napas terengah-engah sebagai tanda lelah menempuh jalan menanjak nan licin. Tidak sedikit dari kami yang terpeleset. Dari kejauhan nampak titik-titik cahaya lilin menujuk adanya perkampungan. Tapi, bukan disana tujuan kami. Tak terasa kami telah sampai pada Desa Cibeo. Kami disambut dengan aroma yang khas dari desa tersebut dan terdengar riuh rombongan lain yang berjumlah ratusan. Inilah desa Cibeo, sebuah desa yang masuk sebagai desa bagi Suku Baduy Dalam. Desa yang dulunya tertutup dan dianggap terbelakang oleh masyarakat umum.
            Dari berbagai informasi, desa Suku Baduy Dalam adalah desa 1001 larangan. Tak ada listrik, tak ada televisi maupun alat komunikasi yang boleh diaktifkan. Menjauhkan saya dari hingar bingar Piala Dunia dan kampanye pilpres. Berbagai macam deterjen dilarang, bahkan berpikiran jelek pun adalah pantangan. Pada saat itu, desa menjadi berisik oleh tawa dan suara pengunjung. Kita bisa membayangkan keheningan malam jika pengunjung tidak ada. Masyarakatnya akan larut dalam kesunyian dan kegelapan. Tersisa hanya binatang-binatang malam di hutan yang sayup-sayup terdengar. Hawa dingin malam yang masuk melalui celah-celah dinding dan lantai dapat merelaksasi tubuh yang lelah berjalan sehingga pulas tertidur.
            Malam itu berbeda. Kami dan ratusan rombongan lain membuat kampung menjadi riuh layaknya pasar malam. Ada sedikit kekecewaan karena banyak pengunjung yang terlalu bising membuyarkan suasana senyap kampung. Banyak penjual dan pengunjung hilir mudik di depan saya. Membuat kepala menjadi pening. Malam itu saya habiskan dengan berbasa-basi sembari menanyakan alasan berbagai larangan yang ada di Baduy Dalam. Jawaban yang saya peroleh tidak memuaskan karena semua alasan larangan akan mereka jawab, “sudah perintah dari leluhur.” Dini hari saya sempatkan keluar rumah untuk menikmati malam di Baduy Dalam.

Benturan Budaya

            Pagi hari saya kaget. Banyak sampah yang bertebaran di sekitar perkampungan. Penjual cinderamata juga lalu lalang seperti malam hari. Anda bisa merasakan suasana Baduy Dalam yang sejuk tapi agak risih dengan kegaduhan dan sampah yang berserakan. Kemurnian Baduy Dalam yang dibayangkan tiap pengunjung menjadi sirna bukan oleh masyarakat Baduy Dalamnya, melainkan pengunjung itu sendiri. Dominan mereka berkunjung atau menginap untuk merasakan sensasi alami hutan dan daerah yang tak tersentuh teknologi, namun para pengunjung ini tak bisa lepas dari kebiasaan tempat asalnya.
            Saya sedikit teringat anti tesis Samuel P. Huntington terhadap pemikiran Francis Fukuyama perihal sumber fundamental dari konflik dalam dunia baru. Menurut Huntington, konflik pada dasarnya tidak lagi melandaskan pada ideologi maupun ekonomi, melainkan budaya. Budaya akan memilah-milah manusia dan menjadi sumber konflik yang dominan. Seperti ingin mempertahankan tesis Fukuyama, kapitalisme disini juga berjuang meraih kemenangan menuju akhir dari sejarah. Keberadaan pengunjung, pedagang, ataupun kebijakan pemerintah mengenai kawasan wisata Baduy memengaruhi kehidupan sehari-hari mereka. Pada sisi lain, suku Baduy juga ikut mempertahankan budaya mereka.
            Corak bertani dan melestarikan alam dapat tergeser karena saya menemukan suku Baduy Dalam juga turut berdagang. Bahkan menurut penuturan induk semang yang saya tinggali (saya lupa namanya) terkadang ada pedagang luar yang meminta uang kepada Baduy Dalam yang mereka sendiri tidak tahu alasannya kenapa diminta uang. Apabila pedagang luar tersebut tidak diberi uang mereka akan marah. Saya coba telusuri lebih dalam tapi mereka memang tidak tahu sebabnya dan tidak mau memberi tahu pedagang mana yang suka meminta uang (membuat saya kesulitan cross check), sehingga saya berpikir positif saja (di Baduy Dalam ada larangan untuk berpikir negatif) bahwa terjadi kesalahpahaman terkait perdagangan.
            Menurut penuturan sekretaris desa, pada dasarnya Baduy Dalam adalah tempat suci/disucikan oleh suku Baduy. Sedangkan Baduy Luar merupakan penyaring budaya-budaya dari luar yang diperbolehkan masuk ke Baduy Dalam. Salah satu contohnya adalah pendidikan. Pemahaman pendidikan kita adalah pendidikan formal, tetapi masyarakat Baduy memiliki konsep dan pemahaman yang berbeda perihal pendidikan. Sejujurnya, saya lebih meyukai konsep pendidikan suku Baduy dibandingkan konsep pendidikan formal yang pernah saya tempuh. Tidak ada pekerjaan rumah, ada waktu bermain, tidak ada persaingan antar geng atau kekayaan. Sampai umur 10 tahun masyarakat Baduy mendapatkan pendidikan dari orang tua mereka berupa bercocok tanam dan pelestarian alam. Setelah umur 10 tahun mereka akan dibina oleh Pu’un dan Jaro yang lebih pada pendalaman hukum adat dan ritual keagamaan. Pada tingakatan tertentu saya tak sependapat dengan Paulo Freire, namun saya sepakat bahwa untuk menjadi manusia harus menjalin hubungan dengan sesama dan dengan dunia. Dari konsep pendidikan tersebut saya menyadari alasan anak kecil disuruh memungut sampah yang berserakan di lingkungannya ketika pengunjung pulang.
            Pelestarian alam Baduy tidak perlu diragukan lagi. Mulai dari udara yang segar sampai air jernih yang membuat kita betah berendam. Saya agak sentimentil ketika pengunjung mandi menggunakan bahan-bahan kimia di sungai, walaupun perlengkapan mandi mereka tidak berbuih/berbusa. Tak ada gangguan kesehatan apapun tatkala saya mandi tanpa sabun, shampo maupun pasta gigi ketika disana. Satu lagi pertanyaan yang mengganggu benak saya, apakah masyarakat Baduy tidak menyadari atau mengetahui jikalau tidak jauh dari tempat mereka terdapat industri pemotongan kayu? Apakah kayu-kayu tersebut berasal dari hutan yang mereka lestarikan? Ataukah mereka tidak dapat berbuat apa-apa terhadap penebangan kayu yang dilakukan oleh orang dari luar?

Selintas Tentang Hukum

            Sebelum membahas hukum pada masyarakat Baduy Dalam, saya akan menguraikan tipologi bentuk otoritas pada masyarakat Baduy Dalam. Saya meminjam teorinya Max Weber kali ini. Pada Baduy Dalam yang paling menonjol adalah tipologi tradisional dan kharismatik. Tipologi tradisional dapat dilihat pada penerimaan aturan-aturan adat yang telah turun temurun dipraktikkan. Terdapat kepercayaan yang mengakar bahwa akan turunnya hukuman dari Tuhan jika melanggarnya. Otoritas ini akan nampak ketika kita menanyakan alasan hal-hal yang dilarang. Otoritas kharismatik dapat dilihat dari sosok Pu’un dan Jaro dalam menjaga ketertiban masyarakat Baduy Dalam. Kemampuan pemimpin dianggap memiliki kekuatan luar biasa dan cenderung mistis yang serta merta akan segera dipatuhi oleh masyarakat. Sebenarnya otoritas kharismatik ini mudah ditemui dalam masyarakat Indonesia.
            Mengapa masyarakat Baduy masih memegang teguh hukum dan kebiasaan mereka? Ditinjau dari  teori bekerjanya hukum Robert B. Seidman, pembentukan hukum dan praktiknya tidak akan lepas dari pengaruh dari kekuatan-kekuatan sosial dan personal. Dari pengaruh tersebutlah dapat diketahui kualitas dari produk hukum. Meskipun dalam prosesnya hukum sesuai dengan keinginan, faktor penentunya adalah kekuatan sosial yang dalam hal ini kuatnya otoritas tradisional dan kharismatik pada masyarakat Baduy Dalam.
            Selama di Baduy Dalam saya tidak menemukan suatu aturan atau hukum tertulis. Rata-rata aturan ataupun hukum yang ada diketahui secara lisan melalui peribahasa atau nasihat. Tentunya kita akan heran karena begitu banyak peribahasa maupun nasihat dalam bentuk cerita dan mereka mampu menghapalnya. Ini adalah kecerdasan yang diberikan Tuhan kepada mereka (pada suatu kesempatan mereka mempraktikan bahasa inggris hasil yang mereka peroleh ketika menonton televisi di luar lingkungannya). Pada sisi yang lain, selain mengingat mereka juga mempraktikan peribahasa atau nasihat tersebut dalam kesehariannya.
Hukum yang ada di dalam masyarakat Baduy memenuhi ciri-ciri Hukum Tradisional. Menurut Ronny Hanitijo Soemitro dalam buku Masalah-Masalah Sosiologi Hukum,  Hukum Tradisional sebagai jalan tengah perdebatan definisi hukum adat, yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a. Mempunyai sifat kolektifitas yang kuat ;
b. Mempunyai corak magis-religius,yaitu yang behubungan dengan pandangan hidup masyarakat asli; c. Sistem hukumnya diliputi oleh pikiran serba konkret, artinya hukum tradisional sangat memperhatikan banyaknya dan berulang-ulangnya hubungan–hubungan yang konkret yang terjadi di dalam masyarakat;
d. Sistem hukum tradisional bersifat visual, artinya hubungan–hubungan hukum dianggap terjadi karena ditetepkan dengan suatu ikatan yang dapat dilihat atau dengan suatu tanda yang tampak.

Mistisme Di Baduy
            Perjalanan berangkat dan pulang dari baduy memiliki kesan tersendiri bagi rombongan saya karena tidak lepas dari hal mistis. Dan ini sudah diwanti-wanti oleh kawan-kawan saya untuk menceritakannya ketika pulang. Seolah mereka lupa jika saya sudah pensiun perihal beginian.
            Boleh dibilang Baduy Dalam adalah salah satu surganya bagi pecinta klenik. Mulai dari energi, aura, dan penghuninya. Seandainya orang luar diperbolehkan tinggal enam bulan saja, saya akan melakukannya. Cobalah lepas sandal atau sepatu anda dan membiasakan diri bertelanjang kaki karena anda akan merasakan energi alami masuk melalui pori-pori telapak kakimu. Terlebih jika tengah malam yang sunyi. Banyak energi positif yang dihasilkan alam disekitar Baduy Dalam yang bisa anda serap. Auranya pun menentramkan, terutama Pu’un memiliki aura yang berbeda yakni terang bercahaya. Pantaslah jika beliau memang dihormati oleh masyarakatnya.
            Nah, permasalahan penghuni sedikit sensitif. Selain masyarakat Baduy, penghuninya pun ikut melaksanakan aturan dan hukum disana. Penghuni di Baduy Luar cenderung agresif dibandingkan yang di dalam. Mereka inilah yang melaksanakan hukuman bagi masyarakat Baduy (dan juga pengunjung) yang melanggar aturan yang telah ditetapkan. Rata-rata penghuni disana bersikap halus dan sopan tapi mudah tersinggung maka daripada itu lebih baik menjaga hati, pikiran, lisan ketika berada di Baduy. Jika tidak, anda akan dikejar seperti pengalaman kami. Mulai dari berpencarnya rombangan kami, terserempet tronton sampai menabrak trotoar dan ban pecah.
            Semua berawal dari lisan teman serombangan yang lisannya menyinggung penghuni di Baduy (lebih tepatnya di Baduy Luar). Saya agak sedikit khawatir terhadap tanda-tanda bahaya seperti biasanya. Disertai dzikir dan shalawat, saya berdoa terus-menerus selama perjalanan pulang. Kebetulan teman yang lisannya menyinggung penghuni tadi (sekaligus pemilik mobil) rencananya akan mengemudi dari Cirebon-Semarang sehingga Ia tidur di bangku paling belakang. Sedangkan Jakarta-Cirebon dikemudikan teman yang lain yang hendak turun di Cirebon. Ketika tidur-tidur ayam, saya sempat nyeletuk pada si Teman Cirebon.
“Bro, jika lewat jembatan di klakson” ujarku karena samar-samar ada makhluk duduk di pinggir jalan.
“Zaman sekarang masih percaya yang begituan ya, bro?” jawabnya.
            Entah berapa lama saya tidur-tidur ayam, seketika kantuk saya hilang. Teman-teman yang lain udah pada tertidur. Saya ajak ngobrol teman cirebon itu untuk menghilangkan kantuknya. Untuk beberapa saat, kami terdiam. Saya yang duduk tepat dibelakangnya melihat truck tronton di sebelah.  Tiba-tiba teman Cirebon itu mencoba menyalip kendaraan di depannya tanpa melihat di sebelah terdapat truck tronton. Sontak saja, mobil kami menyerempet truck tersebut dan klakson tronton itu berbunyi keras disertai rem mendadak oleh tronton. Goncangan yang keras pada mobil kami ternyata tidak berdampak pada teman saya. Seolah-olah dia tak sadar telah menyerempet tronton. Kawan-kawan lain yang terbangun menjadi panik. Untunglah kami mampu melewati jalur sempit antara tronton dan kendaraan di depan. Anehnya reflek kawan Cirebonku itu telat. Ia mencoba istigfar yang justru membuatku pengen tersenyum karena telat kaget. Ternyata oh ternyata temanku ini ditutup penglihatannya oleh makhluk yang duduk-duduk di pinggir jalan tadi. Kalian tau si pemilik mobil tetap cuek dan melanjutkan tidurnya. Aiiiih anak ini.
            Sampai Cirebon kawan yang telah menabrakkan mobil terlihat shock. Tapi si pemilik mobil ini nampak santai-santai saja. Salut lah. Nah, petaka selanjutnya menanti karena si pemilik mobil yang diincar. Usai makan, kami lanjutkan perjalanan. Tapi perjalanan kembali terhenti karena kantuk yang mendera. Kami memutuskan istirahat di sebuah pom bensin. Ketika yang lain tidur pulas, saya tak mampu memejamkan mata. Pukul lima pagi kami lanjut perjalanan. Saya menawarkan beli rokok sebentar untuk menghilangkan kantuk pemilik mobil yang sedang menyetir, namun masih menunda-nunda. Hati tak tenang, tapi mata sudah mulai mengantuk. Ketika tidur-tidur ayam, entah apa yang dilakukan si pemilik mobil tiba-tiba mobil menyerempet pembatas jalan dan mengakibatkan ban depan meletus. Padahal jalan pada kondisi sepi. Pada kondisi inilah seorang teman nyeletuk kalau dia mimpi buah yang saya bawa lah penyebabnya. Saya tidak percaya pada mimpi seseorang yang tidak berwudhu ketika tidur karena datangnya sering dari jin yang bertugas menyebarkan fitnah serta rasa gelisah. Sebelumnya saya memang menemukan buah aneh (sebesar mangga dan rasanya mirip durian) yang jatuh ketika di Baduy Luar. Alasan ini saya tolak karena saya telah izin oleh pemiliknya dan yang kedua teman saya ini botek-botek jika dia mimpi. Terlebih lagi jika kita membawa sesuatu dari suatu tempat yang keramat tanpa izin maka kita tidak akan bisa sampai rumah.
            Untuk menyenangkan hati kawan yang botek-botek masalah mimpi, saya bilang saja sudah saya buang. Dalam perjalanan, sepertinya seluruh penumpang mobil sudah mulai banyak berdoa. Yang bisa saya lakukan hanyalah mengirim Al Fatihah pada penghuni yang mengganggu tadi disertai permintaan maaf mewakili si pemilik mobil yang telah menyinggung. Akhirnya, kami sampai rumah selamat sentausa dan tidak luka. Tidak lupa saya mencicipi buah yang aneh itu. Saya tak tahu namanya apa.

Jun 2, 2014


            Tubuh ini menggigil sekaligus gemas acap kali membaca berita ataupun menonton berita akhir-akhir ini. Tiada bahasan lain selain permasalahan politik. Ditambah sosial media yang kian mengakar memberikan kabar, gambar, dan pesan yang emosionil. La decima, kegagalan tim Thomas & Uber hanya bertahan beberapa hari saja dan kalah telak dengan manuver-manuver politik pra pilpres. Kepemilikan media massa membuat elemen jurnalisme terlihat tidak relevan dalam memenuhi hasrat masyarakat. Situasi ini disebabkan karena politik menjadi perbincangan yang menarik tiap elemen masyarakat mulai dari kafe kelas atas sampai warung kopi pinggir jalan.
            Sudah puluhan tahun yang lalu Chomsky mengkritik kuasa media massa karena peran propaganda dan keberpihakan pada politik. Muncullah apa yang dikatakan Chomsky bahwa berita adalah olahan fakta dari dapur redaksi. Kondisi makin semrawut dengan munculnya web 2.0 dan “adik-adiknya”. Tim cyber dikerahkan untuk menyerang, bertahan dan menyerang balik isu maupun wacana yang dilempar. Baik dengan kecaman atau bahkan melalui humor. Ini lebih dahsyat dari penggambaran ‘World is Flat’nya Thomas L. Friedman dimana persaingan tidak hanya melibatkan individu dalam dunia maya, melainkan sudah masif dan sistematis. Potensi konflik dari dunia maya ke nyata makin besar.
            Berita maupun opini yang muncul berasal dari ideologi tiap pihak. Perdebatan Chomsky dan Zizek perihal ideologi menarik untuk disimak serta dikaji. Slavoj Zizek menegaskan pentingnya kritik atas ideologi sedangkan Chomsky mengutarakan kritik ideologi tidak penting karena kebenaran lah yang penting. Saya tidak ingin terjebak dalam perdebatan tersebut karena ini adalah wajar dalam ranah akademis, namun nampaknya masyarakat telah diarahkan pada wacana perdebatan seperti itu.
Paralaks Wacana Ideologi & Kebenaran
            Titik rawan wacana adalah simulasi konflik. Wacana lebih menggema jikalau terdapat konflik konkret yang diolah untuk menciptakan efek psikologis. Pada pilpres kali ini kedua kubu saling serang dalam kedua hal ini. Kita bahas yang pertama terlebih dahulu, Ideologi. Berangkat dari terminologi Lacanian, Zizek membagi ideologi menjadi tiga mode yaitu doktrin (doctrine), keyakinan (belief), ritual (ritual). Dua kejadian yang sebenarnya tidak menggambarkan pertarungan ideologi membuat berita yang dibaca atau ditonton mengarahkan pada kedua hal tersebut. Kita bisa melihat bagaimana pemberitaan parpol agama tertentu dan wacana pemurnian menggiring terhadap fobia pada ideologi tertentu. Kita juga dapat melihat pemberitaan suatu kebijakan tertentu yang diolah sedemikian rupa mengarah terhadap ideologi pasar tertentu. Agama dan pasar menjadi simbol yang laris dalam propaganda sebuah kampanye. Pemberitaan penyerangan jamaah akan menyeret pemikiran publik untuk berpikir bahwa ini adalah perbuatan si X dan gerakan macam si X didukung oleh calon Y. Demikian pula tatkala sebuah berita memberikan gambaran kebijakan si A yang mendorong orang untuk berpikir bahwa kebijakan tersebut adalah ideologi Z yang bertentangan dengan keinginan bangsa.
            Tatkala Karl Marx dan Nietzsche dihujat oleh bangsa ini, namun pada sisi tertentu bangsa ini sepakat terhadap apa yang dikritik oleh keduanya, agama dan kapitalisme. Marx dan Nietzche bukan mengkritik agama dan yang dipraktekkan di Indonesia melainkan kritik terhadap agama dan pemeluknya yang ada di Eropa pada saat itu. Pada fase ini terdapat perbedaan kosmologi yang tak dapat digeneralisasi begitu saja. Masih banyak hal-hal baik di Indonesia yang tidak terdapat dalam sistem yang berkembang pada kehidupan kedua orang tersebut.
            Kebenaran dalam benak media massa dan juga status sosmed orang yang saya lihat adalah kebenaran subjektif dimana sudah ada penghilangan fakta tanpa melihat secara komprehensif. Tak ayal berbagai respon bertentangan muncul. Suatu kebenaran (yang telah diolah) menggelinding seperti bola salju yang kian membesar dan siap menghantam siapa saja. Media massa maupun media sosial bagi Zizek merupakan ruang penalaran publik yang di dalamnya perlu suatu kritik ideologi, sedangkan Chomsky yang memandang segala sesuatu sudah jelas hanya memerlukan pengungkapan kebenaran. Nah, perdebatan permasalahan ini menyisakan sebuah lubang yakni sejauh mana kemampuan pembaca atau orang dalam mengolah informasi yang ia tangkap.
Cooling Down
            Pada kekacauan informasi karena terdapat kabut yang menyamarkan kebenaran dan informasi timbul keegoisan masing-masing. Rasionalitas tentunya tidak dapat diandalkan pada posisi seperti ini. Ada trauma, dendam, kegelisahan, ketakpercayaan, kekhawatiran yang menyelimuti rasionalitasnya. Hati? Manusia sebagai makhluk yang berlumur dosa tidak tahu apakah hati dan pikirannya benar-benar bersih. Tidak ada yang berani menjaminnya.
            Kejadian-kejadian beberapa minggu terakhir justru menjadi kesempatan bagi pihak ketiga untuk memperkeruh suasana. Kita musti berkaca pada tragedi di luar negeri pada beberapa negara yang kian memanas. Pada konteks yang lebih luas kita juga perlu memerhatikan agenda zionis terhadap negeri ini (lihat artikel agenda zionis). Maka daripada itu kita menenangkan pikiran dan hati sejenak.
            Fase genting seperti saat ini kita juga sering lupa untuk memohon petunjuk pada Yang Maha Kuasa. Inilah yang saya sebut kita terlalu egois dan sombong hanya mengandalkan pikiran dan hati kita dengan melupakan sang pencipta. Setidaknya bagi yang Islam dapat melaksanakan sholat Istikharah sedangkan yang lain dapat melakukan sesuai dengan agamanya. 

May 14, 2014

         
Papan Peringatan Bahwa Anda Memasuki
Wilayah Pemberontak EZLN
         Kita merasakan sesuatu yang sama. Duduk dan menonton sesekali sedikit berharap. Tahun ini panasnya terasa berbeda. Kala malam pun demikian panas. Panas yang bercampur gairah kian terasa. Akan tetapi, bukan itu yang saya rasakan. Mungkin itu yang dirasakan politisi. Saya beruntung jauh dari media yang turut serta menghembuskan angin panas kemana-mana. Panas yang menyebabkan kabut sepanjang hari hingga orang tidak mampu berjalan dengan baik.
            Kudeta posmo terhadap modernisme sudah berdengung sebelum saya lahir. Namun, posmo juga belum mampu memperbaiki kondisi. Sebagian dari kita sadar bahwa kita lahir pada zaman yang genting. Dimana manusia mencari kebahagiaan tetapi terjebak dalam kekejaman dan kekerasan yang lembut. Soft wars yang tidak disadari beberapa dari kita.
        Posmodernisme secara jujur menguraikan kebusukan modernisme sekaligus memberikan kesempatan untuk menggali nilai-nilai dalam masyarakat yang berbeda. Kondisi ini membuat masyarakat menemukan arti hidup bagi mereka masing-masing. Keraguan terhadap metanarasi menyebabkan nilai-nilai universal ditentang oleh kaum posmo. Sepintas posmo memang mendukung etnosentrisme.
            Kejujuran posmo tidak diimbangi oleh proyek selanjutnya. Kudeta yang dilaksanakan seolah tanpa perencanaan sehingga banyak kebanyakan dari mereka dan tentu saja kita kebingungan. Dan kita bertanya pada diri kita, “Lantas apa yang dilakukan setelah ini?” Saya dan mereka bingung. Tidak mengherankan apabila kebanyakan dari kita menjadi pesimis: duduk, menonton sembari berharap.

Politik & Kegilaan
            Setiap zaman memiliki definisi kegilaan yang berbeda, setidaknya itu pendapat Foucault. Perubahan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat setidaknya menyumbangkan perubahan definisi tersebut. Setiap manusia berhak untuk optimis, tetapi tidak sedikit terjebak dalam optimisme yang berlebihan hingga melupakan tujuan optimisme. Optimisme itu bertransformasi menjadi sebuah ambisi. Sejarah terlalu banyak untuk mengungkapkan ambisi seorang pemimpin atau kegagalan sebuah ambisi.
            Ambisi menyeret banyak dari kita terjerembab pada sesuatu yang kita sebut kegilaan. Bulan ini kita akan menyaksikannya. Ada sedikit kesombongan bahwa kita mampu melakukan perubahan. Lihat! Kesombongan itu menjadi virus yang merusak sistem kesadaran kita. Mereka berani malu untuk mempertontonkan wajah mereka di depan publik dengan resiko mendapat caci maki atau malah coretan di wajah pada balihonya. Sedangkan kita? Kita hanya duduk dan menonton mereka memasang baliho karena kita apatis. Pesimisme ini membawa kita takluk pada ambisi mereka.
            Tahun politik bagi kita yang tidak menggairahkan tetap memaksakan diri untuk melaksanakan kewajiban politik. Hobbes membawa perdebatan kontemporer perihal kewajiban politik melalui kontrak sosial. Ketakutan yang dalam status alamiah digambarkan Hobbes sebagai ketundukan pada kondisi pemberian kekuasaan terhadap seseorang. Tindakan yang mengamini apa yang tidak kita inginkan.
            Salah satu nilai dari demokrasi menurut Henry B. Mayo adalah menyelenggarakan perubahan pemimpin secara berkala atau kita lebih mengenalnya dengan pemilu. Namun kita sendiri tidak terlalu percaya pada demokrasi yang dituhankan begitu banyak akademisi. Sejujurnya saya lebih percaya jika demokrasi adalah alat untuk mempertahankan status quo, tidak lebih.
            Richard Rorty melakukan keisengan dengan sebuha ide ketika terjadi kebuntuan politik, yaitu mengandalkan para cendikiawan. Tugas kaum intelek ini menurutnya bukan untuk menyempurnakan teori-teori sosial, tapi membuat kita ikut merasakan penderitaan orang lain, sekaligus menajamkan, memperdalam, dan memperluas kemampuan kita mengidentifikas diiri dengan orang lain, berbela rasa dengan orang lain sesuai moralitas. Tetapi, kaum intelek ini lebih suka bermain dengan imaji mereka dan beradu argumen. Kebenaran yang mereka dapatkan berbuah pesimisme. Mampukah mereka diandalkan?
            Ketidakpastian dan kemungkinan dalam fisika menggambarkan universalitas yang memungkinkan adanya kekacauan. Kekacauan yang semestinya memang harus terjadi dan menyebabkan entropi. Pertumbuhan alamiah yang menjadi dasar entropi membawa kekacauan pada kestabilan karena kekacauan memiliki nilai kecil. Karena mayoritas kita melihat kekacauan sebagai objek manusia. Alam semesta tidak pernah kita perhitungkan sebelumnya karena kita memikirkan mereka sebagai sesuatu yang terpisah. Padahal aslinya tidak karena kita bekerja pada sistem yang sama, yaitu sistem Tuhan.
            Saya percaya bahwa Tuhan itu Esa yang memiliki hukum universal yang nilainya sama. Makna atau hakikat yang ditemukan tiap manusia memiliki kemungkinan berbeda sehingga dalam pendefinisiannya dibutuhkan generalisasi. Letak generalisasinya adalah sebuah fenomena, bukan dengan tafsirnya.
Itulah mengapa posmo tersesat pada hakikat karena mereka mengabaikan generalisasi. Rata-rata mereka tidak mampu menjawab pertanyaan, selanjutnya apa?
            Lalu, apa yang harus dilakukan? Apakah kita menunggu Tuhan turun ke bumi? Hei, omong kosong apalagi itu! Tidakkah kita ingat kisah Musa yang ingin melihat Tuhan, tetapi Ia pingsan dan gunung meledak di depannya? Bukankah Tuhan sudah menunjuk manusia sebagai pemimpin di bumi? Tuhan terlalu suci untuk turun ke bumi yang diselimuti kebusukan. Cukuplah wakil-Nya yang seorang manusia yang memperbaikinya agar kita tidak terlalu sering diprotes oleh alam karena kepemimpinan kita.
            Kompleksitas negara ini sudah dalam taraf akut. Dan sekali lagi kita hanya duduk, menonton serta berharap. Dominan itu yang kita lakukan dan masih mengharapkan perubahan. Pesimisme membuat kita tertunduk dan diam. Perubahan tidak diawali dengan berdiam diri. Itulah hukum universal Tuhan.

                                                                                                       Semarang, 9 Mei 2014