Ronaboyd Mahdiharja

Sebuah goresan nan Pribadi mengenai metamorforsis dalam alam pemikiran perjalan menjadi manusia.

Showing posts with label Buku. Show all posts
Showing posts with label Buku. Show all posts

Dec 23, 2019



Minggu lalu aku telah memposting bagian pertama. Setelah menyelesaikan tugas akhir tahun yang banyak menumpuk, akhirnya ada waktu luang untuk memposting bagian kedua. Inilah 10 buku terbaik yang kubaca pada tahun 2019 bagian kedua.

6. Empat Aku – Yudhi Herwibowo

Menikmati kumcer yang ditulis pada tahun yang berbeda tentu menyenangkan. Aku pun menikmati cerita-cerita dalam buku kumcer ini. Aku menikmati kisah yang berubah dari waktu ke waktu, variasi teknik penceritaan, juga obsesi penulis, dan tak lupa kisah-kisah lokalitas yang begitu dekat denganku. Cerita-cerita tutur di desa menjadi favoritku, seperti mengingatkanku pada tanah kelahiranku. Kampung rampok terasa begitu dekat. Penulis mengakhiri cerita dengan mengesankan:

Datanglah kalau kau berani!
            Singgahi kampungku, kampung rampok! Kampung yang kami sendiri takut untuk tinggal...

Start with a pisser, end with a pisser, begitulah kira-kira penulis mengisahkan ceritanya. Kisah “Tanah Kabut” terasa begitu intim dengan penulis. Kematian dan desa begitu lekat dengan cerita-cerita Yudhi. Akan sangat menarik bila menganalisisnya dalam kaca mata psikoanalisis, entah itu Freud, Jung, atau Lacan. Sayangnya, aku tak memiliki waktu untuk menuliskannya.

Ah, satu lagi cerita “Empat Aku” begitu familiar. Konsep watak ‘ganda’ manusia dalam dunia sastra telah mengalami evolusi sejak abad pertengahan hingga kini. Kapan-kapan aku ingin mendiskusikan ini lebih jauh.



7. Yang Terkubur – Kazuo Ishiguro

Pada novel ini Ishiguro ingin menegaskan posisinya dalam ranah sastra. Ia tak ingin dengan mudah dikenal karena kategorisasi dalam sastra layaknya penulis-penulis besar lain. Ia adalah sastrawan yang lembut sekaligus kompleks. Novel Yang Terkubur memiliki inti kompleksitas teka-teki filosfis dalam tema-tema personal yang mendalam.

Setelah berhari-hari dihantui oleh akhir cerita, Ishiguro mengharuskanku untuk membaca kembali novel ini. Pada pembacaan kedua, karakter, peristiwa dan juga motif lebih mudah dipahami tanpa meninggalkan kesan misterius kehidupan manusia.

Novel sastra (yang serius), ogre, dan naga sungguh langka berjalan beriringan. Itulah kesan pertamaku pada buku ini. Ogre dan naga lebih banyak kutemui dalam genre fantasi sebagai alat dongeng, terutama karya-karya yang terinspirasi oleh Tolkien.

Berbeda dengan George RR Martin yang dengan percaya diri memadukan plot intrik kekuasaan dengan fantasi ala Tolkien, Ishiguro mengeksplorasi tema-tema Shakespeare dengan dunia fantasi Tolkien. Bahkan aku menemukan sesosok yang menyerupai Don Quixote. Pengaruh sastra dalam prosa Ishigura begitu kuat, elegan, dan cemerlang.

Sulur-sulur kabut mendekam di pedesaaan yang damai, melupakan pembantaian yang mengerikan. Ishiguro dengan sabar mengawali kisah dengan latar sejarah Inggris dan Saxon yang misterius. Masa tua, amnesia, penderitaan, cinta, dan perang tertutup kabut fantasi. Barangkali dengan itulah Ishiguro membuat metafora, menampung mitos, dan alegori di sisi lain.

Pada dasarnya novel ini adalah petualangan pasangan lansia dalam narasi yang terkadang puitis dan terselimuti kabut melankolis. Sebagai seorang novelis, Ishiguro merupakan novelis yang melakukan pendekatan bahasa dan karakter yang cermat. Berulang kali Ia berusaha menekan dan menyembunyikan makna. Dengan penuh percaya diri, Ia telah menulis novel dengan berbagai jenis yang berbeda sehingga karya-karyanya memiliki kualitas yang baik.

Penulis yang mengambil latar sejarah kerap terjebak pada parodi dan klise, tetapi Ishiguro memiliki variasi cara tersendiri untuk mengatasinya. Ia tidak cukup berani memberikan jawaban dari suatu pertanyaan yang memberikan denyut nadi buku karena memiliki konsekuensi menghancurkan.

Dapatkah luka lama sembuh sementara belatung masih hidup begitu mewah? Apakah yang telah terlupakan dapat kembali dan haruskah manusia menebusnya?

Bagaimanapun, Ishiguro adalah master ingatan yang memaksa pembaca terus terbayang dan mencari jawaban.


8. The Travelers – Regina Porter

Aku tidak yakin jika semua orang akan menyukai novel ini. Aku menyebutnya novel karena pada sampulnya mengatakan demikian, meski bagi pembaca lain akan menyebutnya kumpulan cerpen. Tidak salah memang karena novel ini memiliki plot yang rumit dan terputus-putus. Pada sisi lain, tidak ada pakem yang baku bahwa novel harus linier.

Porter mengemas cerita antar karakter dan waktu yang meloncat-loncat. Cukup menyulitkan untuk memikirkan pengembangan cerita, namun aku malah menikmatinya.

Kita akan disuguhi kehidupan beberapa keluarga yang berbeda warna kulit selama enam dekade! Porter menyisakan kronologi yang melompat melalui para tokoh, waktu dan tempat. Agak sumir untuk mendeskripsikan secara utuh. Misalkan, James Vincent Jr. Yang berusia empat tahun bertanya pada ayah, “mengapa orang butuh tidur?”. Sang ayah menjawab, “agar Tuhan dapat membuka semua hal yang telah dikacaukan orang.” Beberapa puluh tahun kemudian, cucunya menanyakan hal yang sama pada James Vincen Jr. Ia ragu dalam menjawab hingga akhirnya ia berkata, “Tidak ada yang tahu. Tidur adalah misteri.”

Saga beberapa keluarga antargenerasi ini sebenarnya memiliki jarak emosi pada tiap adegan yang seharusnya menggetarkan. Semua tokoh pada novel ini dipengaruhi berbagai pantulan dampak dari keputusan masa silam. Lantas, Porter mengemas ceritanya dengan cerdik dan terkadang kocak, seperti pola jahitan yang acak. Menariknya, ia membenturkan ilusi pilihan dan takdir.



9. Deaf Republic – Ilya Kaminsky

Berangkat dari rasa kecewa pada beberapa terjemahan puisi Najwa Zebian, “Bejana Pikiran” aku ingin membaca teks aslinya, “Mind Platter”. Pada situs belanja online aku menemukan nama Kaminsky di daftar rekomendasi sejenis. Berdasarkan judul dan sampulnya nampak sederhana dan menarik. Beberapa tahun belakangan aku kerap berhadapan dengan ketulian manusia. Aku tertarik terhadap konsep ketulian model apa yang hendak dibicarakan oleh Kaminsky dalam Deaf Republic. Dengan harga yang lumayan, tak masalah karena mumpung ada.

And when they bombed other people’s houses, we

protested
but not enough, we opposed them but not

enough. I was
in my bed, around my bed America

was falling: invisible house by invisible house by invisible house.

I took a chair outside and watched the sun.

In the sixth month
of a disastrous reign in the house of money

in the street of money in the city of money in the country of money,
our great country of money, we (forgive us)

lived happily during the war.
(Ilya Kaminsky – We Lived Happily During the War)

Puisi pembuka tersebut terlalu jelas untuk dihindari sebagai pesan politis. Sebagai pengantar, We Lived Happily During the War memberikan peringatan atas keterikatan tamsil pada puisi-puisi selanjutnya. Kerumitan dalam keheningan membuat Kaminsky mendefinisikan ketulian bukan dalam konteks mendengar. Ia mengajak kita mengevaluasi bahasa dan budaya yang kita kenal. Ia memberikan proposisi yang sebenarnya paradoks: ketulian sebagai bentuk perlawanan dan adegan puisi pembuka telah membuat seluruh kota menjadi tuli. Paradoks kota dan ketulian semakin kuat pada puisi On Silence,

The deaf don’t believe in silence. Silence is the invention of the hearing.

Lembar demi lembar puisi bergerak maju mengisahkan manusia dalam krisis, juga penaklukan, penyerahan diri, kematian tragis, dan juga semangat. Deaf republic sebagai pusat metafora memaksaku melihat lebih dekat dan mendesak dari yang kusadari sendiri. Warga kota yang berhenti ‘bicara’ dan menggunakan bahasa isyarat membawa gagasan kedamaian yang kerap relatif dan rapuh. Hal ini juga mengulik garis batas privat dan publik, apakah garis itu benar-benar ada?

Pada konsep individualisme, konsep privat dan publik memiliki garis tegas dan tebal. Paham ini membuat orang berpikir, jangan campuri urusan pribadiku: “Apakah masalahku akan menjadi masalahmu?” Sebenarnya, konsep ini tampak usang bagiku karena sejauh kutemui ada pertentangan dalam diri manusia yang menganut paham ini sehingga di lain kesempatan ia akhirnya berkata, “seharusnya masalahku adalah masalahmu.” Konsep garis batas inilah yang dituangkan Kaminsky melalui narasi dan liris pada As Soldiers March, Alfonso Covers the Boy's Face with a Newspaper:
...
Fourteen of us watch:
Sonya kisses his forehead—her shout a hole

torn in the sky, it shimmers the park benches, porch lights.
We see in Sonya’s open mouth

the nakedness
of a whole nation.
 ...


10. Steinbeck – Kepada Ilah yang Tak Diketahui

Barangkali jika aku membaca novel ini dalam kondisi normal, mungkin aku tak begitu menyukainya. Akan tetapi, kondisi dan tema yang diangkat Steinbeck pada novel ini begitu pas saat melihat berbagai kejadian aneh yang mendahuluinya.

Sebagai mantan mahasiswa Universitas Stanford yang tak tuntas kuliahnya, Steinbeck menjadi buruh selama menulis buku apalagi pada masa-masa depresi besar Amerika Serikat. Hal itulah yang kemudian membuat karyanya begitu realistis dalam menggambarkan kehidupan kaum buruh. Dari berbagai buku Steinbeck yang telah kubaca, novel ini yang terasa aneh, bukan seperti Steinbeck yang kukenal.

Buku ini menggambarkan bagaimana iman terhadap suatu hal terbentuk dan menyebar. Lantas berbenturan dengan iman dan keyakinan yang telah mapan. Yang menarik, bagaimana persepsi pada akhir novel memengaruhi rasa penasaran pembaca, siapa diantara Joseph dan Bapa Angelo yang tindakannya telah mendatangkan hujan? Keduanya percaya bahwa klaim mereka benar.

Steinbeck seperti kebingungan dalam menyusun dialog sehingga terasa kaku. Selain itu, tema yang diusung pun jauh berbeda: ritual mistis, spiritual, bercampur realis dan simbol-simbol alam. Ia seperti bermain-main dan mencoba hal baru sehingga aku perlu mencernanya secara pelan-pelan.

Setelah kutelusuri novel ini terbit sebelum karya-karya monumental Steinbeck seperti Dataran Tortila, Tikus dan Manusia, dan The Grapes of Wrath (dalam terjemahan bahasa Indonesia menjadi “Amarah”). Aku jadi sedikit memahami dalam melihat buku ini sebagai karya eksperimental Steinbeck dalam mencari karakter kepenulisannya. Aku membayangkan apa jadinya bila ia menyerah dan pensiun dini dari kepenulisan? Akankah aku bisa menikmati karyanya yang luar biasa itu? Atau kita tak akan melihat penyempurnaan gaya cerita plastis Pramoedya yang mengidolakan Steinbeck.

Dec 9, 2019






Aku tahu akan lari ke mana. Cukup sekali aku berdoa untuk diriku sendiri. Allah bukan pelupa. Sekali saja aku egois dalam doa sehingga doa yang berulang hanya untuk selainku. Mereka lebih penting. Hal itulah yang membuatku berdoa berulang-ulang. Aku takut tak memenuhi syarat doa yang terkabulkan ketika mendoakan orang lain.
Aku bukan Musa A.S yang dapat berbicara langsung dengan Allah. Jadi, aku akan mengambil Al Qur’an untuk dibaca dan diresapi maknanya. Seharian aku merenunginya. Apabila belum cukup, aku perlu bertamasya dalam lautan buku. Aku sadar pada takdirku.
Begitulah caraku mengatasi keraguan yang menimpaku, musim-musim di tengah laut yang tak tentu. Melalui buku, tergambar berbagai peristiwa, suatu kesempatan lirih yang ditandai oleh keheningan dan fantasi. Buku seharusnya tidak memberikanku kemewahan seperti itu, apalagi di penghujung akhir tahun. Ditambah 2019 adalah tahun yang dimulai dengan kegilaan, keajaiban, antiklimaks politik, dan ketidakpastian.
Sekarang, aku bukan hendak memberitahukanmu buku yang harus kau baca. Pada kesempatan ini, aku hanya ingin membagikan 10 buku terbaik yang kubaca pada tahun ini. Banyak genre yang telah kubaca. Mulai dari sastra anak hingga kumpulan jurnal ilmiah. Intinya, daftar ini adalah buku yang kubaca pada tahun 2019, bukan yang terbit pada tahun ini.
Beberapa buku telah terbit bukan pada tahun 2019, namun aku baru membeli dan membacanya pada tahun ini. Rata-rata tersebut buku berbahasa inggris yang kubeli saat BBW, atau buku-buku puisi. Bahkan, oleh sebab alasan yang pernah aku utarakan pada kesempatan yang lain, aku membaca buku yang telah kubaca dengan versi terjemahan dan penerbit yang berbeda. Misalkan, Postmodern karya Lyotard, Candide-Voltaire, dan Don Quijote-Cervantes. Aku perlu membatasi diri dalam menyebutkannya agar tidak ketahuan bahwa waktuku ternyata begitu luang, terutama saat malam hari.
Memilih sepuluh buku terbaik yang kubaca pada tahun ini tak semudah mengkhayal. Aku harus jeli dalam melihat ke dalam diri mana buku yang terbaik. Ini bukan perkara kualitas universal, melainkan kebutuhan jasmani dan rohani. Bagi mayoritas orang, karya Mark Manson “Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat” adalah karya yang bagus. Akan tetapi, saya lebih memilih Prophetic Parenting atau You Can’t Send a Duck to Eagle School. Tiap orang punya selera sendiri dan pada kondisi tertentu perlu buku yang berbeda.
Sebagai catatan, nomor pada buku tidak menunjukkan urutan. Tanpa banyak cakap, mari kita masuk reff.

1.    Bidayatul Mujtahid Wa Nihayatul Muqtashid – Ibnu Rusyd
Tahun ini saya memiliki tekad pribadi untuk memperdalam pemahaman tentang agama. Bukan dari segi filsafat, melainkan dari sisi alim ulama. Bukan tidak pernah, melainkan sangat jarang saya membaca kitab-kitab alim ulama. Apalagi setelah kematian guruku, saya perlu memperdalam dan menyegarkan kembali ajaran-ajaran beliau.
Saya mengenal Ibnu Rusyd dari perdebatannya dengan Imam Ghazali. Boleh dikatakan bahwa perdebatan mereka secara filosofi. Pada kitab ini, Rusyd melakukan perbandingan mazhab-mazhab, penelusuruan dalil nash, menguraikan alasan perbedaan pendapat, dan cara penentuan hukum. Suatu usaha yang tentunya butuh ketelatenan serta ketelitian untuk menggali kitab-kitab pokok tiap mazhab.
Secara fisik dan isi, kitab ini terasa berat bagi pemula. Sebagai orang hukum, buku ini begitu urgen karena membahas fiqh perbandingan mazhab-mazhab. Komentar-komentar yang diberikan oleh Rusyd pun memiliki nuansa bernas dan terkadang kocak. Misalkan, komentarnya perihal perdebatan istri lebih dari empat. Rasulullah diriwayatkan memiliki istri lebih dari empat, yaitu sembilan (ada yang menyebutnya sebelas). Hal ini kemudian menyebabkan ulama ada yang memiliki lebih dari empat istri. Dasarnya, penambahan dalam memahami ayat dari firman Allah: “dua, tiga, dan empat”. Rusyd menguraikan berbagai alasan atau sebab memiliki istri lebih dari empat, lalu komentarnya ditutup “pandangan yang menambahkan jumlah lebih menyerupai halusinasi, bukan pikiran.”
Pada sisi lain, buku ini membuatku banyak berpikir tentang hukum dan menguatkan argumentasiku terhadap berbagai hal. Namun, ada hal yang masih belum kutemukan jawaban pastinya untuk saat ini. Misal, mengapa dalam kasus pembunuhan hanya butuh dua saksi, sedangkan kasus perzinahan harus empat saksi? Mengapa suatu hal yang sifatnya berat hanya butuh dua saksi dibandingkan zina (yang dianggap sepele untuk masa kini) malah harus empat saksi? Apa rahasia Allah di balik hukum tersebut? Jawaban sementara dariku terkait hal ini adalah dampak duniawi turunan pembunuhan akan dianggap selesai bila pelaku mendapatkan hukuman setimpal atau membayar sejumlah diyat. Hal ini berbeda dengan zina yang efeknya tidak hanya kepada pelaku, melainkan pada orang-orang sekitar bahkan pada generasi berikutnya. Inilah yang membuat zina disebut sebagai hutang. Wallahu a’lam bish-shawabi.

2.    The Sound of Things Falling – Juan Gabriel Vasquez
Novel ini mengingatkanku pada pengalaman sepuluh tahun silam. Vasquez mencoba menyadarkan pembaca melalui kesadaran masa lalu sang tokoh. Yah, tiap orang punya masa silam yang beragam. Malah ada yang menguburnya meski itu menjadi beban dan nampak seperti telapak kaki yang bernanah. Membuat jalan si empunya terpincang-pincang dan membungkuk karena berat di punggungnya. Berandai, pura-pura lupa atau lari tak menyelesaikan masalah, manusia hanya perlu berbalik dan menyelesaikan masalahnya.
Vasquez mengajakku bertamasya batin dengan lanskap Kolombia. Ini seperti ziarah sejarah yang elegan. Melalui tema kejujuran dan kerahasian, saya dapat melihat hubungan diri dengan sejarah dan negara. Deskripsi tentang buku ini dapat dilihat pada link berikut.

3.    Kematian di Venesia – Thomas Mann
Gustav von Aschenbach, seorang penulis asal Jerman yang terkenal dan sukses, namun kesepian. Ia memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Venesia. Di kota tersebut, Aschenbach bertemu dengan Tadzio, bocah lelaki Polandia yang sedang berlibur dengan keluarganya.
Venesia, sebuah kota yang memiliki nuansa separuh dongeng dan setangahnya lagi perangkap wisata. Betapa langka dapat menikmati kemewahan dari suatu kesendirian dengan kecemasan yang berbalut kejeniusan. Mann benar-benar detail perihal emosi, bahkan sesuatu yang menurutku menjijikkan.
Mann lebih suka memberikan petunjuk apa yang terjadi terkait tokoh utamanya, alih-alih mengatakannya secara langsung. Corak ini yang membuat Kematian di Venesia begitu kaya interpretasi, terutama secara personal. Logika dan imajinasi kerap berbenturan dalam memaknai setiap adegan yang ada. Akan tetapi, kondisi ini bagiku begitu menyenangkan dan terasa aneh atau lebih tepatnya unik.
Idealisme Plato yang digambarkan Mann mengalami kegagalan. Aku banyak melihat hal ini di sekitarku. Betapa muda/mudi mudah berkhayal tentang cinta sejati hingga kemudian mereka sadar bahwa tindakan yang mereka melakukan berdasarkan nafsu. Seperti orang yang berpuasa bukan karena Allah, melainkan untuk tujuan tertentu. Dia matikan televisi, menghindari warung-warung. Ketika waktu berbuka, rakus dan buasnya minta ampun.

4.    Kekerasan dan Identitas – Amartya Sen
Bermula dari diskusi dengan seorang kolega yang bingung karena “direkomendasikan” pembimbingnya untuk menggali pemikiran Amar Yasen. What? Aku belum mengenal tokoh tersebut dan meminta waktu untuk memahami pemikirannya. Kala itu, aku membatin begitu jauhnya diri ini tertinggal terhadap pemikiran-pemikiran tokoh hukum kontemporer.
Aku mencarinya di mesin pencari nama tersebut. Tidak ketemu. Aku mencari namanya beserta teorinya juga tidak ketemu. Semua mengarah pada Amar Yasin dan Amartya Sen. Kuhubungi yang bersangkutan untuk klarifikasi dan memang benar, aku salah menulis nama: Amartya Sen.
Ada rasa lega tatkala tahu bahwa Sen adalah seorang ekonom, peraih nobel ekonomi. Suatu bidang yang sangat jarang kubaca literaturnya. Jadi, aku masih tidak tertinggal terkait tokoh hukum kontemporer.
Kecelakaan bersejarah tersebut membawaku pada buku ini. Hal ini berbarengan dengan kasus di asrama Papua dan merembet pada kerusuhan di pulau Papua. Tentunya, kasus tersebut semakin menarik bila ditelaah melalui kacamata dalam buku ini.
Latar Belakang sen yang unik mengawali buku ini. Ketika berumur sebelas tahun dia melihat seorang buruh harian muslim yang dibunuh warga Hindu pada suatu kerusuhan Hindu-Muslim di India. Buruh itu tak punya pilihan, dia harus memberi makan keluarganya yang kelaparan meski telah dilarang oleh istrinya. Kejadian itu bagi Sen tidak hanya traumatis, melainkan juga membingungkan.
Bagi seorang bocah yang kebingungan, kekerasan identitas sangat sulit dipahami bahkan orang dewasa sekalipun. Sen kemudian menyalahkan teori identitas soliter dan menganggap pandangan tersebut berbahaya. Sen juga mengkritik penggunaan teori Huntington dalam buku Benturan antar Peradaban untuk perang melawan terorisme, suatu tindakan yang malah memperkuat persepsi umat Islam untuk anti barat.
Identitas merupakan suatu hal yang melekat, tetapi sementara sekaligus rapuh. Suatu waktu kamu beragama A dan kemudian berpindah agama B. Suatu hari menikah dengan suku A, lantas mencoba mencintai suku tersebut. Seseorang tidak mau dikatakan sebagai kelompok A karena persepsi yang melekat pada kelompok tersebut. Seperti dalam pandangan Sen, manusia pada dasarnya memiliki multi identitas, bukan identitas tunggal.
Apakah ini benar-benar kesalahan intelektual sebagaimana dikatakan Sen? Hal ini terasa sederhana bagiku. Identitas menurutku hanya salah satu faktor kecil munculnya kekerasan atau kekejaman (lihat tulisan tentang kekerasan ala Zizek). Rasa takut, kebingungan, keputusasaan, kesemerawutan, sifat kejam alamiah manusia tidak akan mudah hilang dengan model terapi konseptual Sen.
Aku senang membaca buku ini karena setelah sekian lama menemukan anti tesis dari Samuel Huntington. Akan tetapi, Sen entah lupa atau sebutlah gagal dalam menjawab bagaimana suatu bangsa modern (tolong pisahkan konsep bangsa dan negara) dapat muncul dan harga yang ditimbulkan dari pengorbanan sebuah bangsa. Belum lagi suatu bangsa yang berperang melawan bangsanya sendiri.

5.    Tuan Presiden – Miguel Angel Asturias
Novel-novel kediktatoran mudah ditemui dalam literatur Amerika Latin. Setidaknya, aku mengingat karya Gabo Autumn of the Patriarch dan juga The Feast of the Goat milik Llosa. Sejarah panjang Amerika Latin melahirkan berbagai bentuk diktator. Wajar saja bila hal tersebut kerap menjadi tema sentral dalam suatu karya sastra.
Aku merasakan humor dalam kegelapan dan juga kecerdasan Asturias dalam penggambaran adegan yang begitu kuat. Banyaknya subplot dan karakter minor membuatku perlu memberikan perhatian lebih. Hal ini kulakukan guna memahami benturan realitas dan fiksi yang melatar belakangi kisah dalam novel, diktator, kekuasaan, dan politik. Asturias ingin menegaskan bahwa kediktatoran seorang penguasa tidak menjamin siapa pun menjadi aman. Tema yang memberikan ketegangan dan ketakutan bagi karakternya, pun kepada pembacanya.
Pada struktur sosial seperti ini, moralitas dan etika tak nampak abu-abu. Hanya ada hitam dan putih. Tinggal pilih yang mana, mengkhianati atau dikhianati. Menipu atau ditipu. Tinggal memilih.
Menjelang anti klimaks politik negeri ini, membaca Asturias jadi lebih terasa menggetarkan luar dan dalam. Di dalam imaji Asturias menghantui dan di luar ada perdebatan seru pilpres. Semacam lanjutan dari pertarungan politik tahun 2014 yang cukup membelah negara ini. Terasa janggal apabila sila Persatuan Indonesia dimaknai sebagai koalisi. Yah, koalisi yang berpotensi mengarah pada oligarki. Melihat kondisi tersebut, aku ditenangkan oleh seorang kawan dengan mengatakan “masih ada mahasiswa”. Sayangnya, lagi-lagi saya dibuat kecewa. Gerakan tersebut bersumbu pendek dan kurangnya kajian mendalam. Kini dan beberapa waktu mendatang masih menunggu dagelan macam apalagi yang menanti.

Minggu depan Insya Allah akan kulanjutkan kembali lima buku. Masih ada kumcer, kumpulan puisi, dan novel.



Oct 13, 2019






Barangkali baru tahun ini aku datang ke BBW seorang diri. Biasanya ada seorang kawan yang menemani atau malah rombongan. Tapi, biarlah toh sekarang juga dekat jaraknya (meski memakai motor pinjaman).

Aku membawa tiga buku, dua buku lainnya sudah kukenal dekat: Madiano dan Llosa. Satunya merupakan hasil minat dan insting. Jelas ini beresiko kena sindiran James Joyce, “Life is too short to read a bad book.” Kalau dana mepet mungkin aku sedikit berhati-hati, tetapi mumpung ada lebih hehehe...

Biasanya aku punya kriteria khusus bila menghadapi kondisi demikian. Aku tak begitu peduli dengan sampulnya yang hanya hitam dengan tulisan yang agak blur. Sinopsis dan blurb novel tak menjadi fokusku. Aku membaca bagian paragraf pembuka novel:

“The first hippopotamus, a male the color of black pearls weighing a ton and a half, was shot dead in the middle of 2009. He'd escaped two year before from Pablo Escobar's old zoo in the Magdalena Valley. And during that time of freedom had destroyed crops, invaded drinking troughs, terrified fishermen and even attacked the breeding bulls at a cattle ranch. The marksmen who finally caught up with him shot him once in the head and again in the heart with .357 caliber bullets, since hippopotamus skin is thick. They posed with the dead body, the great dark wrinkled mass, a recently fallen meteorite. And there, in front of the first cameras and onlookers, beneath a saber tree that protected them from the harsh sun, explained that the weight of the animal would prevent them from transporting him whole, and they immediately began carving him up.”

Menurutku, ini lead yang keren. Banyak penulis begitu lama memikirkan paragraf pembuka yang dapat memikat pembaca, dan Vasquez berhasil. Kuda Nil, Kebun Binatang Pablo Escobar, dan penembakan. Pablo Escobar, seorang raja kokain dari Kolombia yang sempat dibuat tv series berjudul Narcos. Imajinasiku banyak menerka isi dalam novel.

Masih penasaran, kubuka lembar terakhir novel. Pembaca disuguhi pertanyaan yang memborbardir,
“Would i ask her where she was, if i could go and pick her up or if i had the right to hope she'd come back? Would I keep quiet so she could realize she'd made a mistake abandoning our life? Or would I try to convince her, tell her that together we could defend ourselves better from the evil of the world, or that the world was too risky a place to be wandering on our own, without anyone waiting for us at home, who worries about us when we don't show up and who can go out to look for us?”

Awalan dan penutup buku serasa begitu tak asing. Jika ini berkaitan dengan narkoba sepertinya aku sudah cukup kenyang dengan kisah-kisah moralitas polisi, pecandu, korban, dan pengedar. Setelah mendekam lama di kamar untuk menghabiskan buku ini, ada rasa gamang yang menghimpit. Ada beberapa hal yang kucatat dalam novel ini, semoga tidak terjadi miss dalam pembacaan bahasa inggrisku.

Narator dalam novel ini begitu dekat denganku, Antonio Yammara, seorang dosen hukum yang bersih dari berbagai hal yang berkaitan dengan narkoba. Hingga kemudian terjadi penembakan yang mengubah hidupnya. Ia terbebani oleh masa lalu kawannya dan berusaha mengupasnya dengan tenang. Kisah pribadi kerap politis, dan bekas luka Yammara mewakili luka negara Kolombia dari cengkeraman Pablo Escobar.

Vasquez menaruh pengalaman traumatis yang begitu intim terhadap mereka yang secara langsung dipengaruhi oleh orang-orang sekitar, dengan cara yang sering kita temui. Aku pun terkadang tak berdaya untuk memprediksi atau mencegahnya. Dahulu sering kali aku berpikir, apakah hal tersebut akibat dari suatu tindakan yang telah dipilih ataukah dari peristiwa ketika aku tidak memiliki kontrol terhadap hal tersebut. Sulit untuk mengatakannya, antara marah dan penyesalan.

Aku banyak menyaksikan kejatuhan seseorang karena suatu keputusan yang membuat kekacauan, hubungan retak dan luka yang mendalam. Dan Vasquez memberikan pertanyaan besar terkait itu, apakah mungkin manusia menjalani hidup seolah-olah hal tersebut tidak terjadi? Atau itu strategi manusia untuk berpura-pura bahwa mereka menjalani kehidupan yang normal? Ada bagian yang menarik terkait hal ini dalam novel, “the saddest thing that can happen to a person is to find out their memories are lies”.

Vasquez dengan cerdik benar-benar mengeksplorasi kompleksitas pengalaman manusia. Trauma, entah itu besar atau kecil, berdampak luas atau personal, paling tidak ia ingin menunjukkan suatu eksistensi manusia. Apalagi di negara yang kacau karena dosa-dosa masa lalu, tak sekedar objektif melainkan juga subjektif. Yah, kita terlalu lama mendekam untuk memahami tekanan dan peristiwa yang justru menyebabkan penderitaan luar dan dalam. Tanpa bertindak dan mencoba berpura-pura. Pernyataan “andai saja” atau “seumpama” tak akan memberikan manfaat yang signifikan.





Dec 6, 2018


Siapa itu Larry King? Pada saat itu aku tidak mengenalnya dan tidak begitu peduli dengan nama penulisnya. Aku menarik buku ini dari rak perpustakaan kampus oleh karena judulnya. Berbicara dilihat sebagai sebuah seni. Cukup menarik.
Bagi mahasiswa baru sekaligus manusia yang pemalu, berbicara ialah suatu hal yang menakutkan sekaligus menyilaukan. Apalagi saat kau memasuki dunia yang menuntutmu pandai berbicara, yakni dalam bidang hukum. Pandangan awam  melihat bahwa mahasiswa hukum harus pandai berbicara terutama pada khalayak. Tentu saja hal tersebut terasa menakutkan sebab diriku tipikal orang yang pemalu pada siapa pun, kecuali pada orang yang sudah kukenal dekat dan dalam obrolan person to person.
Sebaliknya, terasa menyilaukan saat melihat para senior begitu pandai dalam berbicara. Siapa yang tak ingin seperti mereka? Aku pun demikian. Makanya, buku ini merupakan salah satu buku pertama yang kupinjam dari perpustakaan kampus saat masuk perkuliahan. Begitu menggelikan.
Setelah membaca buku ini, segera kuputuskan untuk memilikinya. Ada banyak hal yang diungkapkan Larry dalam buku ini. Saking banyaknya, informasi yang diberikan tak mampu kuterapkan semua. Akan tetapi, ada poin-poin penting (bagiku) yang sampai saat ini masih kuingat.
Pertama, jangan melabeli seseorang pandai karena ia banyak bicara. Ini kesalahanku pertama saat itu karena mudah silau terhadap orang-orang yang banyak bicara. Aku menjadi mulai jeli ketika orang-orang banyak bicara selama bermenit-menit, tetapi tidak efektif terkadang juga mbulet tur njlimet serta miskin substansi. Beberapa tahun belakangan kerap kutemui orang-orang semacam ini. Bedakan antara pandai dan berani dalam berbicara. Orang pandai berbicara selalu kaya substansi bahkan dalam humornya.
Kedua, dengarkanlah. Mendengarkan ialah hukum pertama dalam suatu percakapan. Banyak orang ingin bicara, tapi sedikit ingin mendengarkan. Hingga kau paham ketika seseorang mengelak dan saat seseorang benar-benar tidak tahu. Dari mendengarkan pun kau menjadi tahu semakin banyak orang berbicara, semakin memperlihatkan kebodohannya.
Ketiga, humor. Aku suka bercanda itu fakta. Namun, aku mulai menyadari cara mempergunakan humor yang tepat. Setidaknya tahu saat harus menggunakan humor untuk menyentuh, menyentil, atau memecah kebekuan. Meskipun dalam praktiknya juga kerap salah karena terbawa suasana.
Sebagaimana buku tips maupun motivasi, lebih tepat bila membacanya secara intensif lantas mempraktikkannya. Buku pinjaman dari perpustakaan tak cocok dengan karakter seperti ini karena keterbatasan waktu pinjam. Jadi, memilikinya merupakan solusi. Sayangnya, buku ini telah kucari di beberapa toko buku dan hasilnya nihil. Saat aku sudah melupakan buku ini, dia terselip di bawah tumpukan buku di sebuah toko buku bekas.
Ada beberapa hal penting yang luput dari perhatianku kala itu. Salah satunya ialah berbicara dengan lawan jenis. Andai dulu aku saksama barangkali tidak akan menjomblo bertahun-tahun lamanya. Jangan tertawa. Satu hal lagi, tak sadarkah kau dalam tulisan ini bila aku terlalu banyak membicarakan diriku? Dalam suatu tulisan, khususnya di dalam blog, sah-sah saja (daripada ngerasani orang lain?) Akan tetapi, dalam suatu obrolan membicarakan diri sendiri perlu dihindari.
Larry seperti membuat sebuah peta untuk mengatasi ketakutan serta mengikuti segala perbincangan dengan keyakinan. Melalui bahasa yang menarik dan mudah dimengerti buku ini cepat untuk segera diselesaikan, tetapi cukup sulit untuk dipraktikkan terutama mencari gaya sendiri dalam berbicara.
Setidaknya, ada dua bagian substansi dalam buku ini, yaitu Larry dan berbagai keterampilan praktis dalam berbicara. Buku ini seperti sebuah buku semi biografi tentang seorang Larry King sendiri dan juga pekerjaannya. Tak percaya? Tengoklah bagian “Tamu Terbaik dan Terburuk Saya” yang menurutku tak begitu penting. Seperti ulasan buku ini, Larry melarang berbicara mengenai diri sendiri, tetapi dalam tulisannya banyak membicarakan dirinya sendiri. Selain itu, pengalaman-pengalaman Larry yang terserak di sepanjang buku membuatnya nampak tersusun secara acak sehingga ada aspek-aspek lain dari seni berbicara yang belum tersentuh. Dampaknya, buku ini menjadi lemah untuk menjadi rujukan akademis.
Oh, maaf jika terlalu panjang.
Dan perihal judulnya, mungkin, bagian strategi pemasaran.



Judul                : Seni berbicara: kepada siapa saja, kapan saja, di mana saja
Penulis             : Larry King
Penerjemah      : Marcus Primhinto Widodo
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan           : Kelima, Desember 2012

Tebal               : xvi+ 212 halaman

Nov 4, 2018


Tiba-tiba kita disodorkan bahwa buku adalah sumber kekacauan dan ketidakbahagiaan. 
Masyarakat tempat Montag tinggal merupakan gambaran distopia dunia tanpa buku. Memiliki buku ialah kejahatan. Membaca buku adalah tindakan ilegal dan buku harus dilenyapkan. “... bakar sampai menjadi abu, lalu bakar abunya.” Itulah yang terjadi pada buku-buku.

Judul               : Fahrenheit 451
Penulis            : Ray Bradbury
Penerjemah   : Lulu Wijaya
Penerbit         : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan          : 2018
Tebal              : 208 halaman

“Benarkah bahwa dulu sekali, petugas kebakaran memadamkan api, dan bukan membakar?”
“Tidak. Rumah-rumah sejak dulu tahan api, percayalah.” (h. 17)
            Apa yang akan kamu lakukan saat pulang dari sekolah melihat abu di depan rumahmu? Tumpukan abu hasil pembakaran buku-buku yang susah payah kamu beli, baca, dan koleksi (dari komik hingga novel). Abu yang masih mengeluarkan asap dan membuatmu melakukan gerakan bawah tanah melakukan perlawanan. Saya pernah mengalaminya. Sungguh. Petugas kebakaran yang telah membakar itu ialah ayahku sendiri.
            Pada saat itu saya bertanya-tanya, “apa yang membuat ayahku membakar buku-bukuku?” Kejadian serupa terjadi lagi beberapa tahun kemudian saat awal masuk kuliah. Saya pulang membawa buku-buku kiri yang susah payah kucari di jalan semarang, Surabaya. Beberapa dapat kubeli kembali karena sudah dijual bebas, tapi tak sedikit yang sudah sulit dicari.
Tentu saja keherananku bukan tanpa sebab. Masih kuingat jika dulu sering disuruh banyak membaca karena sampai akhir kelas dua sekolah dasar baru lancar membaca. Sebelumnya, saya kesulitan membedakan: “ng”, “ny”, dan “y”; “s” dengan “x”; atau “b”, “p” dengan “d”. Barangkali kamu akan mendengar nama “boyd” terdengar seperti “boip” atau “boib” seperti orang membaca qalqalah.
Ketika saya memegang buku ini terjadi kebimbangan. Perlukah saya membacanya lagi karena telah membaca Fahrenheit 451 terbitan Elex Media Komputindo? Kemudian kubaca lagi dan kutemukan beberapa perbedaan, khususnya wawancara Bradbury di akhir buku pada terbitan Elex Media. Selebihnya, bagiku sama. Pertanyaan itu muncul, apakah saya perlu menulis resensinya? Hal itu mengusikku. Beberapa kali terbangun dan memikirkannya, perihal buku dan pembakaran yang pernah kualami dan dikisahkan dalam Fahrenheit 451.
Fahrenheit 451 memberikan sebuah pemahaman tentang kisah pembakaran buku-buku. Tokoh utama buku ini, Guy Montag, merupakan petugas kebakaran yang bertugas untuk menghancurkan buku. Si Anjing pemburu yang bekerja di Departemen Kebakaran yang dikawal helikopter dan Robot Anjing Pemburu. Siap melacak para pembangkang yang menentang aturan, orang-orang yang nekat menyimpan dan membaca buku.

Distopia Dunia Tanpa Buku
Fahrenheit 451 membawa kita pada kondisi masyarakat yang tidak membaca buku, menikmati alam, berpikir secara mandiri, atau memiliki percakapan yang bermakna. Pemerintah mengendalikan rakyat dengan kenikmatan yang terus-menerus, yang mematikan pikiran. Mereka menonton televisi secara berlebihan dengan informasi yang telah disediakan oleh pemerintah, iklan kereta bawah tanah yang memekakkan telinga, berkendara sangat cepat pada dunia yang bergegas sehingga memutuskan orang-orang dari pikiran dan tubuh mereka.

Masyarakat tempat Montag tinggal merupakan gambaran distopia dunia tanpa buku. Memiliki buku ialah kejahatan. Membaca buku adalah tindakan ilegal dan buku harus dilenyapkan. “... bakar sampai menjadi abu, lalu bakar abunya.” Itulah yang terjadi pada buku-buku.
Terdengar familiar? Tentu saja. Sejarah negara kita tak lepas dari pembakaran dan penyensoran terhadap buku-buku. Bahkan Pramoedya Ananta Toer pernah dituduh atau terlibat dalam pembakaran buku-buku pada masa orde lama. Pada lain kesempatan, buku-bukunya pun pernah dilarang tatkala negara begitu galak terhadap pemikiran yang berbau komunis.
Sebenarnya, penghancuran buku bukanlah suatu hal yang baru. Fernando Baez melalui bukunya A Universsal History of the Destruction of Books telah menguraikan penghancuran buku dari masa ke masa, sejak zaman kuno hingga masa kini. Mulai buku non fiksi sampai ke fiksi. Penghancuran buku-buku fiksi terkenal seperti Don Quixote - Carventes, Time  Machine - H.G. Wells,  Fahrenheit 451 - Ray Bradbury,  The Name of The Rose - Umberto Eco,  hingga novel Voices karya Ursula K, Le Guin. Kamu sedang tidak salah baca. Fahrenheit 451 juga mengalami penghancuran.
Fernande Baez melihat hancurnya buku dapat terjadi karena beberapa faktor. Beberapa karena bencana alam, adapula rusak karena serangga atau cuaca, tetapi tak sedikit karena ulah manusia sendiri. Manusia menghancurkan buku karena ada kebencian etnis, sentimen politis, atau kepentingan ideologis.
“Orang-orang berwarna tidak menyukai Little Black Sambo. Bakar saja. Orang-orang kulit putih tidak gembira membaca Uncle Tom’s Cabin. Bakar saja.” (h. 79)
Lantas saya memahami alasan tindakan ayah membakar buku. Inilah yang terjadi pada ayahku yang merupakan didikan orde baru. Negara mengontrol dan menyensor buku-buku yang berkaitan dengan kiri atau komunis. Well, saya mampu memahami alasan pembakaran buku-buku kiri dengan melihat latar belakang beliau. Tapi, apa yang salah dengan novel dan komik? Bradbury dengan lihai menjadikan buku sebagai lambang individualitas dan bentuk pelarian diri dari pengendalian pikiran. Pembaca buku dipandang sebagai makhluk asosial dan pada konteks diriku, buku membuat prestasi akademikku justru merosot.
“Hidup adalah saat ini, pekerjaan menjadi penting, kenikmatan ada di mana-mana setelah selesai bekerja. Untuk apa belajar apa pun selain memencet tombol, menarik saklar, memasang baut dan paku?” (h. 74)
Ironisnya, manusia pun lupa bahwa buku-buku mewakili kemanusiaan itu sendiri. Montag mulai menyadari ada manusia di balik setiap buku yang dibakarnya, pencipta buku itu. Buku juga mewakili kemampuan untuk menata kembali dan membangun kembali peradaban.
“... Pasti ada sesuatu dalam buku-buku, hal-hal yang tak bisa kita bayangkan, .... untuk pertama kali aku menyadari ada orang di balik setiap buku itu. Ada orang yang harus memikirkan isinya. Ada orang yang harus menghabiskan waktu lama sekali untuk menuliskannya di kertas.” (h. 69-70)
Dehumanisasi menjadi dampak mengerikan yang dirasakan Montag. Masyarakat lantas terputus dari diri mereka sendiri, keluarga, orang lain, sejarah, dan dunia.  Terlalu bergantung televisi dan teknologi. Semua serba instan dan cepat. Akibatnya, orang-orang juga terputus dari pengetahuan dan kemampuan berpikir. Manusia menjadi seperti robot dan statis. 

Evolusi Dunia dan Kekuatan Buku
            Mengapa buku begitu mudah ditakuti? Fahrenheit 451 tidak memberikan penjelasan tunggal yang jelas tentang alasan pelarangan buku. Tiba-tiba kita disodorkan bahwa buku adalah sumber kekacauan dan ketidakbahagiaan. Parameter kekacauan dan ketidakbahagiaan pun tidak jelas bila alasan pembakaran buku seperti yang dikatakan Baez, sentimen politis atau kepentingan ideologi.
Pada suatu dialog antara Montag dan Faber, seorang profesor Sastra Inggris menjelaskan alasan buku begitu dibenci dan ditakuti,
“Buku memperlihatkan pori-pori di wajah kehidupan. Orang-orang yang nyaman hanya menginginkan wajah mulus, tak berpori, tak berbulu, tak berekspresi. Kita hidup pada masa ketika bunga berusaha hidup dari bunga lain, bukannya tumbuh dari hujan yang cukup dan tanah humus hitam.” (h. 106)
Si Beatty, kapten Departemen Kebakaran, memiliki pandangan lain perihal ini. Perkembangan teknologi hingga peningkatan populasi menyebabkan semuanya ingin bergerak cepat. Pada sisi lain, majalah dan buku mengalami kemorosotan mutu sampai sangat hambar hingga kurangnya minat baca. Pada titik tertentu, masyarakat melihat para penulis dengan pikiran jahat disuruh berhenti karena masyarakat ingin hidup tenang.
“Asalnya bukan dari pengarahan pemerintah di atas. Tidak ada perintah, tidak ada deklarasi, tidak ada sensor, sejak awal, tidak ada! Teknologi, eksploitasi massal, dan tekanan minoritas yang membuatnya terjadi, puji Tuhan.” (h. 77)
Membaca pernyataan Beatty terasa sangat logis dan terdengar seperti runtuhlah teori Baez. Penghancuran buku terjadi begitu alami pada tataran masyarakat. Akan tetapi, percayakah kamu dengan yang dikatakan Beatty?
Saya tentunya tak begitu saja percaya dengan Beatty karena ada rentang waktu dalam sejarah yang hilang dan dilupakan. Meski demikian, antara Beatty dan Faber saling mendukung perihal buku, kualitas dan penulis baik-buruk. Buku-buku yang bagus diperpendek dan direproduksi dalam bentuk lain.
Pada saat ini buku tak melulu dari kertas. Ia telah berevolusi dalam bentuk digital menjadi ebook atau sepenggalan kisah di website yang bisa kita nikmati melalui layar tablet atau gawai. Kendati telah berevolusi, buku masih digemari dan dikagumi. Mulai dari aroma, sentuhan tangan membalik kertas, interaksi mata yang jelas berbeda antara buku dan layar bahkan terkadang muncul edisi khusus atau premium. Dari segi substansi pun buku lebih memiliki kedalaman, detail, serta kelengkapan. Lagipula saat kamu bertemu penulis, mereka akan kesulitan membubuhkan tanda tangan di ebook atau website. Orisinalitasnya dipertanyakan.
Perubahan zaman dan kebutuhan menyebabkan buku semakin tersudutkan saat dunia menyerukan gerakan paperless. Gerakan ini sebagai bentuk dari kesadaran penyelamatan lingkungan. Semakin sedikit kertas yang diproduksi, sedikit pula pohon yang ditebang. Benarkah? Bukankah pembukaan lahan untuk perkebunan dan pertambangan pun banyak mengurangi area hutan? Silakan dicek sendiri.
Apakah kebiasaan pemakaian teknologi tidak memiliki dampak lingkungan yang serupa? The Washington Post merilis artikel yang berjudul How bad is email for the environment yang mengulas dampak dari email dan teknologi yang biasa dipergunakan oleh masyarakat terhadap emisi karbon (carbon footprint). Mulai dari streaming video dan musik, video games, televisi, hingga email. The Radicati Group, sebuah perusahaan riset pasar teknologi, pada tahun 2015 melaporkan jumlah email yang dikirim dan diterima di seluruh dunia per hari mencapai 205 miliar. Angka ini diperkirakan akan meningkat 3% per tahun dan mencapai sekitar 246 miliar pada akhir 2019. Ini berarti hampir 2,4 juta email dikirim setiap detik dan sekitar 74 triliun email dikirim per tahun. Apabila tiap email mengandung estimasi terendah 0,3 karbon, total karbon yang dihasilkan oleh seluruh email di seluruh dunia mencapai 22 juta metrik ton karbon tiap tahunnya. Total ini sama dengan gas rumah kaca yang dihasilkan oleh 5 juta mobil.
Buku yang terbuat dari bahan dasar kayu masih mudah untuk didaur ulang dan diperbarui. Sebaliknya, limbah elektronik (e-waste) yang memiliki karakteristik berbeda dengan limbah lainnya sulit didaur ulang dan semakin meningkat tiap tahunnya. Berdasarkan laporan United Nations Environment Programme (UNEP) PBB mencatat sampah elektronik di dunia bertambah 40 juta ton per tahun. Rata-rata volume e-waste terus terjadi peningkatan 3 – 5 % per tahun. Jumlah ini tiga kali lebih cepat dibandingkan dengan limbah jenis lain. Sampah ponsel dan komputer personal sebagai penyumbang terbesar. Limbah emas dan perak 3%, palladium 13% dan kobalt 15%, setiap tahunnya. Selain terdapat komponen-komponen berharga, limbah elektronik juga mengandung banyak komponen yang bersifat racun. Sebuah komputer (PC) saja mengandung komponen yang terdiri dari merkuri, arsenik, dan krom, yang termasuk dalam logam berat. E-waste apabila ditimbun bahan-bahan kimianya mengalami dekomposisi serta masuk ke dalam tanah, tetapi jika dibakar melepaskan dioksin yang sangat beracun.

Pusing? Ya, sama. Saya memang sengaja tidak langsung menyederhanakannya agar kamu merasakan sesuatu yang kurasakan. Intinya, ketika kita beranggapan bahwa paperless merupakan usaha penyelematan lingkungan, kita seolah menutup diri telah turut andil menyebabkan kerusakan lingkungan pada sektor lain yang sama berbahayanya.
Evolusi perwujudan buku pada bentuk lain menyisakan suatu pertanyaan, “masihkah buku berbahaya?” Pada dasarnya, buku seperti halnya ebook dan website tak perlu ditakuti karena tidak memiliki kekuatan. Mereka hanyalah wadah untuk menyimpan berbagai hal yang tak ingin dilupakan. Informasi dan beberapa hal yang tersimpan dalam buku, ebook, atau website itulah yang membuatnya ditakuti.
Boom! Manusia memasuki era digital yang serba cepat. Informasi melaju cepat. Kondisi ini diperparah dengan pemotongan dan sensor beberapa bagian buku sehingga menampilkan sebagian fakta, bukannya detail keseluruhan fakta. Belum lagi mata kita yang mudah lelah karena terlalu lama menatap layar sehingga proses mencerna informasi tidak maksimal. Tiba-tiba kita menjadi kecanduan gawai dan informasi yang terpenggal-penggal. Bangun tidur langsung mencari gawai dan di mana-mana kamu menemukan orang-orang menatap gawainya.
Pada situasi melenakan inilah yang paling menakutkan. Kita terlalu sibuk sehingga tidak sempat memilah informasi yang berkualitas. Tidak ada waktu bersantai untuk mencernanya dan melakukan tindakan hasil pelajaran dari interaksi terhadap berbagai informasi. Pikiran kita menjadi malas dan mudah termakan informasi yang menyesatkan.
Tidakkah terdengar familiar?
Saya pun merasa demikian.

Eli, 1984, dan Berbagai Hal yang Terbakar dalam Farenheit 451
Fiksi-fiksi distopia, mulai dari buku hingga film, bagaimanapun bentuknya dianggap seperti sebuah nubuat. In Time seperti sebuah dunia yang tak masuk akal ketika waktu diibaratkan dengan nyawa, tetapi film ini memiliki kritikan tajam terhadap cara kerja dunia saat ini. The Book of Eli memvisualisasikan runtuhnya peradaban dan buku merupakan kunci keselamatan dunia, khususnya kitab suci yang dianggap mampu mengobati dahaga spiritual saat itu. Sekali lagi, bukan bukunya, melainkan isi pengetahuan dari buku. Pengetahuan inilah sumber kekuasaan.

Kekuasaan tentu membutuhkan dukungan fakta yang dimanipulasi. Fakta di media menjadi sebuah realitas yang tidak lengkap. Pada 22 Januari 2017 Kellyanne Conway dalam sebuah wawancara yang membela jubir Gedung Putih terkait jumlah penonton pelantikan Donald Trump, membuat kita tertawa perihal pengenalan sebuah frasa: “fakta alternatif”.
Mungkin yang dimaksud alternatif fakta seperti ini.
Kekuasaan dan kontrol masyarakat seperti menjadi tema sentral dalam fiksi-fiksi distopia. Pada The Book of Eli kekuasaan seperti nampak tradisional dan sederhana karena kemunduran peradaban paska perang dunia. Pada 1984 dan A Clockwork Orange memiliki struktur kekuasaan yang jelas. Fahrenheit 451 struktur kekuasaan tidak terlalu ditonjolkan, pembaca buku terlihat aneh bagi masyarakat biasa. A Clockwork Orange, 1984, dan Fahrenheit 451 memiliki beberapa kesamaan. Penyembunyian fakta dan kontrol pemerintah kepada seluruh masyarakat dilakukan pada 1984 dan Fahrenheit 451. Pada A Clockwork Orange kontrol terhadap masyarakat hanya dilakukan seperlunya pada individu yang bermasalah.
Cara-cara cuci otak demi melanggengkan kekuasaan ditempuh sedemikian rupa. Media dipilih sebagai alat pertama dalam propaganda penguasa. Pola pikir masyarakat menjadi terkontrol dan tidak memiliki pilihan. Apabila tidak berhasil, kekerasan serta penyiksaan adalah pilihan terbaik dalam menangani Winston (1984) dan Alex (A Clockwork Orange). Pada Fahrenheit 451, Bradbury memilih mengirimkan para pembaca buku ke rumah sakit jiwa atau diasingkan dan dibakar bersama buku-buku bila masih membangkang. Mana yang lebih baik? Pilihlah sendiri yang menurutmu  terbaik untuk mencuci otakmu.
Nuansa. Sebuah fiksi distopia perlu kesuksesan dalam membangun nuansa. Orwell dalam 1984 yang begitu gelap berhasil menghadirkan suara-suara lirih nan mencekam untuk meneror pembaca. Burgess dalam A Clockwork Orange mampu menampilkan estetika budaya pop yang banal berbalut kekerasan dengan kebimbangan pilihan moral. Melalui pengetahuannya yang luar biasa tentang potensi teknologi, Bradbury menampilkan Fahrenheit 451 dengan prosa yang kuat sekaligus bergerak cepat dan terlihat puitis (baik dalam terjemahan Elex Media Komputindo maupun Gramedia Pustaka Utama).
Setetes hujan. Clarisse. Tetesan lain. Mildred. Ketiga. Sang paman. Keempat. Api malam ini. Satu, Clarisse. Dua, Mildred. Tiga, paman. Empat, api. Satu, Mildred, dua, Clarisse. Satu, dua, tiga, empat, lima, Clarisse, Mildred, paman, api, pil tidur, tisu sekali pakai, kerah baju, embus, remas, buang, Clarisse, Mildred, paman, api, pil, tisu, embus, remas, buang. Satu, dua tiga, satu, dua, tiga! Hujan. Badai. Tawa sang paman. Petir di lantai bawah. Seluruh dunia kehujanan. (h. 20-21, Elex Media)
Satu tetes air hujan. Clarisse. Satu tetes lagi. Mildred. Tetes ketiga. Paman. Keempat. Api malam ini. Satu, Mildred, dua, Clarisse. Satu, dua, tiga, empat, lima, Clarisse, Mildred, paman, api, obat tidur, pria-pria, tisu sekali pakai, memanfaatkan, buang ingus, gumpal, buang, Clarisse, Mildred, paman, api, pil, tisu, buang ingus, gumpal, buang. Satu, dua, tiga, satu dua, tiga! Hujan. Badai. Paman tertawa. Halilintar jatuh di bawah. Seluruh dunia berhamburan turun. (h. 28, GPU)
Bradbury mungkin tidak akan mengira bahwa karyanya kemudian menimbulkan begitu banyak paradoks, baik dari segi substansi maupun dampak. Kita dibuat terombang-ambing dengan narasi dan dialog, “apakah saya tetap membaca buku atau membuangnya saja? Bradbury menceritakan semua ini dengan paradoks melalui perspektif orang ketiga yang terbatas perihal pikiran dan perasaan Montag. “... Kamar itu tidak kosong. ... Kamar itu memang kosong.” Itulah dunia imaji Bradbury tentang masa depan yang dia tulis pada tahun 1950 (dua tahun setelah Orwell menulis 1984). Selain itu, kekayaan kosa kata yang kasar telah membelah masyarakat untuk mendukung atau menolak buku ini masuk ke dalam kurikulum maupun perpustakaan sekolah di Amerika Serikat.
Tebal Fahrenheit 451 yang hanya 200 halaman tampil seperti sebuah film yang bergerak cepat dan meloncat. Sebuah buku yang cukup pendek dengan tema yang kompleks, sangat disayangkan. Akan tetapi, hal tersebut tidak menghalangi pengembangan karaktek Montag yang rumit dan radikal, Beatty yang begitu intens dan cerdas dalam memanipulasi.
Fahrenheit 451 membakar semua yang kamu miliki dalam pikiranmu. Layaknya burung yang terbang bebas lalu terbakar menjadi abu. Dari tumpukan abu tersebut lahir burung api, phoenix.
Bagiku, Fahrenheit 451 bukanlah sebuah nubuat melainkan peringatan. Pembakaran buku oleh sebab dibenci atau ditakuti tentu tak dibenarkan. Pelarangannya pun justru membuat orang-orang kian penasaran. Bagaimana kita dapat membantah sebuah buku tanpa membacanya sedangkan membacanya saja dilarang? Tindakan yang perlu dilakukan ialah membuat buku bantahan atau tandingan. Sambil sesekali berdoa agar buku itu tidak kalah populer sehingga dibaca dan dimengerti oleh khalayak. Terakhir, saya hampir lupa mengingatkan bahwa industri percetakan buku mengikuti selera pasar. Ini bisnis, bung.