Ronaboyd Mahdiharja

Sebuah goresan nan Pribadi mengenai metamorforsis dalam alam pemikiran perjalan menjadi manusia.

Showing posts with label review. Show all posts
Showing posts with label review. Show all posts

Oct 13, 2019






Barangkali baru tahun ini aku datang ke BBW seorang diri. Biasanya ada seorang kawan yang menemani atau malah rombongan. Tapi, biarlah toh sekarang juga dekat jaraknya (meski memakai motor pinjaman).

Aku membawa tiga buku, dua buku lainnya sudah kukenal dekat: Madiano dan Llosa. Satunya merupakan hasil minat dan insting. Jelas ini beresiko kena sindiran James Joyce, “Life is too short to read a bad book.” Kalau dana mepet mungkin aku sedikit berhati-hati, tetapi mumpung ada lebih hehehe...

Biasanya aku punya kriteria khusus bila menghadapi kondisi demikian. Aku tak begitu peduli dengan sampulnya yang hanya hitam dengan tulisan yang agak blur. Sinopsis dan blurb novel tak menjadi fokusku. Aku membaca bagian paragraf pembuka novel:

“The first hippopotamus, a male the color of black pearls weighing a ton and a half, was shot dead in the middle of 2009. He'd escaped two year before from Pablo Escobar's old zoo in the Magdalena Valley. And during that time of freedom had destroyed crops, invaded drinking troughs, terrified fishermen and even attacked the breeding bulls at a cattle ranch. The marksmen who finally caught up with him shot him once in the head and again in the heart with .357 caliber bullets, since hippopotamus skin is thick. They posed with the dead body, the great dark wrinkled mass, a recently fallen meteorite. And there, in front of the first cameras and onlookers, beneath a saber tree that protected them from the harsh sun, explained that the weight of the animal would prevent them from transporting him whole, and they immediately began carving him up.”

Menurutku, ini lead yang keren. Banyak penulis begitu lama memikirkan paragraf pembuka yang dapat memikat pembaca, dan Vasquez berhasil. Kuda Nil, Kebun Binatang Pablo Escobar, dan penembakan. Pablo Escobar, seorang raja kokain dari Kolombia yang sempat dibuat tv series berjudul Narcos. Imajinasiku banyak menerka isi dalam novel.

Masih penasaran, kubuka lembar terakhir novel. Pembaca disuguhi pertanyaan yang memborbardir,
“Would i ask her where she was, if i could go and pick her up or if i had the right to hope she'd come back? Would I keep quiet so she could realize she'd made a mistake abandoning our life? Or would I try to convince her, tell her that together we could defend ourselves better from the evil of the world, or that the world was too risky a place to be wandering on our own, without anyone waiting for us at home, who worries about us when we don't show up and who can go out to look for us?”

Awalan dan penutup buku serasa begitu tak asing. Jika ini berkaitan dengan narkoba sepertinya aku sudah cukup kenyang dengan kisah-kisah moralitas polisi, pecandu, korban, dan pengedar. Setelah mendekam lama di kamar untuk menghabiskan buku ini, ada rasa gamang yang menghimpit. Ada beberapa hal yang kucatat dalam novel ini, semoga tidak terjadi miss dalam pembacaan bahasa inggrisku.

Narator dalam novel ini begitu dekat denganku, Antonio Yammara, seorang dosen hukum yang bersih dari berbagai hal yang berkaitan dengan narkoba. Hingga kemudian terjadi penembakan yang mengubah hidupnya. Ia terbebani oleh masa lalu kawannya dan berusaha mengupasnya dengan tenang. Kisah pribadi kerap politis, dan bekas luka Yammara mewakili luka negara Kolombia dari cengkeraman Pablo Escobar.

Vasquez menaruh pengalaman traumatis yang begitu intim terhadap mereka yang secara langsung dipengaruhi oleh orang-orang sekitar, dengan cara yang sering kita temui. Aku pun terkadang tak berdaya untuk memprediksi atau mencegahnya. Dahulu sering kali aku berpikir, apakah hal tersebut akibat dari suatu tindakan yang telah dipilih ataukah dari peristiwa ketika aku tidak memiliki kontrol terhadap hal tersebut. Sulit untuk mengatakannya, antara marah dan penyesalan.

Aku banyak menyaksikan kejatuhan seseorang karena suatu keputusan yang membuat kekacauan, hubungan retak dan luka yang mendalam. Dan Vasquez memberikan pertanyaan besar terkait itu, apakah mungkin manusia menjalani hidup seolah-olah hal tersebut tidak terjadi? Atau itu strategi manusia untuk berpura-pura bahwa mereka menjalani kehidupan yang normal? Ada bagian yang menarik terkait hal ini dalam novel, “the saddest thing that can happen to a person is to find out their memories are lies”.

Vasquez dengan cerdik benar-benar mengeksplorasi kompleksitas pengalaman manusia. Trauma, entah itu besar atau kecil, berdampak luas atau personal, paling tidak ia ingin menunjukkan suatu eksistensi manusia. Apalagi di negara yang kacau karena dosa-dosa masa lalu, tak sekedar objektif melainkan juga subjektif. Yah, kita terlalu lama mendekam untuk memahami tekanan dan peristiwa yang justru menyebabkan penderitaan luar dan dalam. Tanpa bertindak dan mencoba berpura-pura. Pernyataan “andai saja” atau “seumpama” tak akan memberikan manfaat yang signifikan.





Jun 23, 2019






Flu dan demam telah menyebabkan diriku perlu istirahat sejenak. Sambil membongkar film yang terabaikan, The Mustang terpilih untuk menjadi teman.

Saat melihat judulnya, aku terkenang manga tentang kuda: Sylphid & Mars. Saya belum tahu gambaran film ini, namun setidaknya kutahu bahwa film ini tak lepas dari kuda. Yah, pengetahuanku tentang kuda sangat minim, dan aku tahu Mustang adalah sejenis kuda yang hidup liar pun dari manga. Hehehehe...

Atmosfir pembuka berbeda dengan War Horse nya Spielberg. Kuda-kuda liar digiring helikopter dan masuk dalam mobil-mobil besar. Mobil-mobil itu menuju sebuah penjara.

Film terpusat pada seorang napi bernama Roman Coleman. Satu dekade ia berada di dalam penjara dan tak pintar bersosialisasi. Bahkan si anak berpikiran bahwa ayahnya tidak memiliki keinginan keluar penjara. "I'm not good with people," katanya. Hingga terjadilah pertemuan dua monster di dalam penjara. Yah, ini bukanlah film Disney karena terdapat dua monster yang saling menghancurkan, memahami, dan berusaha pulih. Sengatan lembut yang menyakitkan berada pada akhir film yang membuat haru.

Meski berlatar suasana penjara, The Mustang memiliki atmosfir keheningan yang dominan. Dialog yang minim, tapi efektif ditambah akting aktornya yang tenang dan ekspresif membuat film ini memiliki keheningan puitis yang liar. 

Cerita              : 7,5/10
Pemain           :  8/10
Ending            : 8/10
Overall            : 8/0

May 2, 2019

“You could not live with your own failure, and where did that bring you? Back to me.”

Judul              : Avengers: Endgame
Durasi            : 181 menit
Sutradara     : Anthony Russo, Joe Russo
Naskah           : Christopher Markus, Stephen McFeely
Pemain           : Robert Downey Jr., Chris Evans, Chris Hemsworth, Scarlett Johansson, Jeremy Renner, Mark Ruffalo, Paul Rudd, Brie Larson, Karen Gillan, Josh Brollin


Tahun ini ada dua hal yang tak boleh kudengar, spoiler film Avengers: Endgame dan akhir dari Game of Throne. Akan terasa menyebalkan bila kedua hal tersebut sampai ada yang memberikan spoiler. Keindahannya akan pudar seperti bila kalian sayup-sayup mendengar akhir kisah Six Sense atau The Prestige. Saya perlu menahan diri, entah itu menghindar dari status teman-teman yang telah menonton maupun membaca berita yang berkaitan dengan keduanya.

Infinity Wars telah membawa banyak spekulasi, mulai “siapa yang akan membunuh Thanos?”, kemunculan film “Captain Marvel” di sela-sela film menimbulkan praduga bahwa ia yang akan mengalahkannya. Lantas, bagaimana langkah Russo bersaudara membangkitkan kembali triliunan makhluk yang mati paska genosida Thanos dengan jentikkan jarinya? Kehadiran Ant-Man sebelum Civil Wars membuka peluang adanya dugaan multiverse ala DC. Tetapi, DC dan Marvel jelas berbeda dalam membangun universe-nya. Biasanya film-film sci-fi untuk mengatasi masalah ini dengan cara time travel, namun tidak ada yang punya kemampuan melakukan perjalanan waktu seperti Flash untuk kembali ke masa lalu atau memanipulasi waktu. Sebentar. Quick Silver telah mati dalam Age of Ultron dan kemampuannya tak sehebat Flash dari DC.  Strange bisa, tapi dia sudah menjadi debu dalam Infinity Wars. Aih, daripada memikirkan semua itu lebih baik saya melihatnya langsung.

Setelah seminggu pemutaran, kesempatan itu datang dan takkan kusia-siakan. Meski seorang diri dan waktunya malam hari, kesempatan tersebut akan sulit terulang. Mengingat jumlah penonton serta waktu luang, lebih-lebih keganjenan kawan-kawan yang ingin segera membocorkan kisah Endgame. Well, lebih baik ndang budaaal!

Hasilnya, Avengers: Endgame menjadi karya kerja keras penuh cinta untuk seluruh fans Marvel Cinematic Universe. Bagi kalian yang tumbuh bersama dengan kehadiran Iron Man, Hulk, atau Thor, dan Captain America sejak tahun 2008 akan begitu terasa keharuannya. Film ini dibuat dengan kecermatan serta kehati-hatian dengan menampilkan banyak momen yang menguras serta memuaskan secara emosional. Kita dibawa untuk menyelami lebih dalam pikiran dan jiwa para super hero yang berkawan lantas berkonflik.

Kita menyadari narasi yang dibangun selama ini begitu solid. Sepanjang film kita menghirup nuansa kelam yang intens melebur dengan humor khas Marvel. Endgame melangkah cepat dengan fokus pengembangan karakter sehingga waktu tiga jam tak terasa.

Pencapaian lain dari film ini adalah kualitas akting dari para pemainnya. Bahkan aktor yang hanya sepintas tampil memberikan sentuhan penuh makna. Perhatikan secara saksama Thor, Captain America, Hulk, Iron Man, Ant-Man, dan Dr. Strange yang membawakan pesan dan emosi yang sulit dicapai film super hero lainnya. Ada suatu anggapan bahwa film super hero atau laga tidak membutuhkan akting yang bagus karena penonton hanya butuh aksi dan baku hantam, makanya genre tersebut akan sulit masuk nominasi Oscar terutama best actor atau best actress. Akan tetapi, kali ini saya akan menganggukkan kepala bila Robert Downey Jr. dimasukkan dalam nominasi Oscar.

Kisah yang dimulai paska genosida menawarkan konsistensi kegelapan dan siksa batin para super hero karena kegagalan sebagai seorang pahlawan. Yah, meski banyak juga film super hero yang berlatar kisah serupa, Endgame memiliki level yang berbeda. Jentikkan jari Thanos memberi efek premis terhadap film ini, 14 juta banding satu.

Apesnya, solusi yang dihadirkan dalam film ini ialah perjalanan waktu. Begitulah manusia ketika ingin menyelesaikan konflik kerap berandai tentang waktu. Meski tak berbelit dalam penguraiannya, perjalanan waktu tentu memiliki kelemahan tersendiri. Lubang plot yang hadir dalam Endgame jika diuraikan malah spoiler. Tenang, saya tak ingin merusak kesenanganmu meski saat ini tanganku terasa gatal untuk mengetik bocoran film ini.

Pada aspek lain, sinematografer nampak bergembira dengan memainkan skema cahaya dan warna dalam berbagai referensi film Marvel terdahulu. Ada juga skor musik yang menyajikan nada-nada riuh di dada. Suatu tawaran yang tak mampu kita tolak sambil bernostalgia ria.

Alhasil, Endgame memiliki struktur film yang kita inginkan dan beberapa ada makna yang kita butuhkan. Capaian langka dari film super hero setelah dengan kesabaran memulainya dalam dekade silam.

Cerita             : 7.5/10
Pemain          : 8.5/10
Ending           : 8/10
Overall           : 8/10

Dec 6, 2018


Siapa itu Larry King? Pada saat itu aku tidak mengenalnya dan tidak begitu peduli dengan nama penulisnya. Aku menarik buku ini dari rak perpustakaan kampus oleh karena judulnya. Berbicara dilihat sebagai sebuah seni. Cukup menarik.
Bagi mahasiswa baru sekaligus manusia yang pemalu, berbicara ialah suatu hal yang menakutkan sekaligus menyilaukan. Apalagi saat kau memasuki dunia yang menuntutmu pandai berbicara, yakni dalam bidang hukum. Pandangan awam  melihat bahwa mahasiswa hukum harus pandai berbicara terutama pada khalayak. Tentu saja hal tersebut terasa menakutkan sebab diriku tipikal orang yang pemalu pada siapa pun, kecuali pada orang yang sudah kukenal dekat dan dalam obrolan person to person.
Sebaliknya, terasa menyilaukan saat melihat para senior begitu pandai dalam berbicara. Siapa yang tak ingin seperti mereka? Aku pun demikian. Makanya, buku ini merupakan salah satu buku pertama yang kupinjam dari perpustakaan kampus saat masuk perkuliahan. Begitu menggelikan.
Setelah membaca buku ini, segera kuputuskan untuk memilikinya. Ada banyak hal yang diungkapkan Larry dalam buku ini. Saking banyaknya, informasi yang diberikan tak mampu kuterapkan semua. Akan tetapi, ada poin-poin penting (bagiku) yang sampai saat ini masih kuingat.
Pertama, jangan melabeli seseorang pandai karena ia banyak bicara. Ini kesalahanku pertama saat itu karena mudah silau terhadap orang-orang yang banyak bicara. Aku menjadi mulai jeli ketika orang-orang banyak bicara selama bermenit-menit, tetapi tidak efektif terkadang juga mbulet tur njlimet serta miskin substansi. Beberapa tahun belakangan kerap kutemui orang-orang semacam ini. Bedakan antara pandai dan berani dalam berbicara. Orang pandai berbicara selalu kaya substansi bahkan dalam humornya.
Kedua, dengarkanlah. Mendengarkan ialah hukum pertama dalam suatu percakapan. Banyak orang ingin bicara, tapi sedikit ingin mendengarkan. Hingga kau paham ketika seseorang mengelak dan saat seseorang benar-benar tidak tahu. Dari mendengarkan pun kau menjadi tahu semakin banyak orang berbicara, semakin memperlihatkan kebodohannya.
Ketiga, humor. Aku suka bercanda itu fakta. Namun, aku mulai menyadari cara mempergunakan humor yang tepat. Setidaknya tahu saat harus menggunakan humor untuk menyentuh, menyentil, atau memecah kebekuan. Meskipun dalam praktiknya juga kerap salah karena terbawa suasana.
Sebagaimana buku tips maupun motivasi, lebih tepat bila membacanya secara intensif lantas mempraktikkannya. Buku pinjaman dari perpustakaan tak cocok dengan karakter seperti ini karena keterbatasan waktu pinjam. Jadi, memilikinya merupakan solusi. Sayangnya, buku ini telah kucari di beberapa toko buku dan hasilnya nihil. Saat aku sudah melupakan buku ini, dia terselip di bawah tumpukan buku di sebuah toko buku bekas.
Ada beberapa hal penting yang luput dari perhatianku kala itu. Salah satunya ialah berbicara dengan lawan jenis. Andai dulu aku saksama barangkali tidak akan menjomblo bertahun-tahun lamanya. Jangan tertawa. Satu hal lagi, tak sadarkah kau dalam tulisan ini bila aku terlalu banyak membicarakan diriku? Dalam suatu tulisan, khususnya di dalam blog, sah-sah saja (daripada ngerasani orang lain?) Akan tetapi, dalam suatu obrolan membicarakan diri sendiri perlu dihindari.
Larry seperti membuat sebuah peta untuk mengatasi ketakutan serta mengikuti segala perbincangan dengan keyakinan. Melalui bahasa yang menarik dan mudah dimengerti buku ini cepat untuk segera diselesaikan, tetapi cukup sulit untuk dipraktikkan terutama mencari gaya sendiri dalam berbicara.
Setidaknya, ada dua bagian substansi dalam buku ini, yaitu Larry dan berbagai keterampilan praktis dalam berbicara. Buku ini seperti sebuah buku semi biografi tentang seorang Larry King sendiri dan juga pekerjaannya. Tak percaya? Tengoklah bagian “Tamu Terbaik dan Terburuk Saya” yang menurutku tak begitu penting. Seperti ulasan buku ini, Larry melarang berbicara mengenai diri sendiri, tetapi dalam tulisannya banyak membicarakan dirinya sendiri. Selain itu, pengalaman-pengalaman Larry yang terserak di sepanjang buku membuatnya nampak tersusun secara acak sehingga ada aspek-aspek lain dari seni berbicara yang belum tersentuh. Dampaknya, buku ini menjadi lemah untuk menjadi rujukan akademis.
Oh, maaf jika terlalu panjang.
Dan perihal judulnya, mungkin, bagian strategi pemasaran.



Judul                : Seni berbicara: kepada siapa saja, kapan saja, di mana saja
Penulis             : Larry King
Penerjemah      : Marcus Primhinto Widodo
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan           : Kelima, Desember 2012

Tebal               : xvi+ 212 halaman

Nov 23, 2018



Judul               : Searching
Durasi             : 102 menit
Sutradara       : Annesh Chaganty
Naskah           : Annesh Chaganty, Sev Ohanian
Pemain           : John Cho, Debra Messing, Joseph Lee, Michelle La, Sara Sohn.

Aku tak ingat kapan film ini berada di laptopku. Tetapi,  pagi ini kuputuskan untuk menontonnya setelah jenuh pada anime Hanebado yang kurang greget kisahnya. Boleh disebut membuang waktu dengan menonton film yang kita tidak tahu kualitasnya.

Lima sampai sepuluh menit pertama kita disodorkan tayangan melalui layar komputer. Jernih dan tanpa unsur kegelapan. Jika melihat judulnya, Searching, aku berasumsi memiliki kisah pencarian seperti penculikan atau pencarian harta karun. Tidak seperti Prisoner yang muram, kita diberikan gambaran jernih sebuah keluarga melalui layar komputer layaknya film UP! Dan sepanjang film kita hanya menyaksikan para tokoh melalui medium layar komputer, laptop, ponsel, televisi, media sosial, dan bahkan CCTV.

Alkisah, David Kim (John Cho) membesarkan anak semata wayangnya, Margot (Michele La), seorang diri setelah sang istri meninggal karena kanker. Ketika beranjak remaja sang anak tiba-tiba menghilang. Si Ayah jelas kebingungan karena tidak ingin kehilangan lagi orang yang dicintai, tetapi semua petunjuk tak ia miliki. Margot dikenal penyendiri dan tak memiliki teman. Satu-satunya petunjuk ialah jejak digital di dunia maya.

Tidak ada yang istimewa dari kisah film ini. Tema serupa dapat kau temukan dalam banyak film. Salah satunya ialah film yang mengisahkan si ibu yang dibunuh secara brutal menyebabkan ayahnya protektif, dan membuat si anak ngambek hingga akhirnya diculik. Kasih sayang si ayah membuatnya menjelajah benua dan samudra dan ditemani teman perjalanan yang bodoh. Yap, itulah Finding Nemo. Tidak ada yang baru dari segi ini.

Justru, yang menarik ialah eksplorasi konteks kekinian: Media sosial, kondisi sosial, dan kasih sayang orangtua pada masa kini. Cho mampu memerankan karakter ayah yang menjurus patut dipersalahkan atau malah dikasihani. Semua gegara media sosial. Pada sisi lain kita menjadi gemas pada Margot yang terkesan misterius dan mendadak terkenal hingga seolah semua temannya merasa dekat dengannya. Sisi emosi dan satire memberikan dampak yang kuat pada film ini, khususnya era digital dan internet.

Pada saat marak phubbing dan hal tersebut jelas menyebalkan bagi siapa pun. Ada berbagai pertanyaan. Apakah pertemuan virtual dapat menggantikan keintiman dari perjumpaan langsung? Apalagi ini terkait hubungan orangtua dan anak. Pada sisi lain, jejak virtual dapat menjadi bahan kenangan yang menyakitkan atau mencipta rindu. Setidaknya, para orangtua juga sadar kehidupan anak-anaknya saat di luar pengawasannya. Bentuk perhatian ortu yang terkadang malah disalahpahami anak sebagai pengekangan. Hingga hadir kata-kata, “anakku tidak seperti itu,” atau “Anakku baik. Dia penurut.” Atau malah “Dia baik-baik saja. Tanpa masalah.” Saya pun turut bertanya-tanya, apakah perubahan era mempengaruhi relasi ortu-anak? Ada kehendak menganalisis melalui Baudrillard atau Derrida, tapi terlalu panjang nantinya. Intinya, seburuk apa pun keluarga, akan ada sesuatu yang dapat diambil sebagai pembelajaran (jika kau ingin berkeluarga).

Chaganty dengan cerdas dan agak pongah memanfaatkan itu semua. Kita diberikan berbagai spekulasi si penculik, penyebab dan akhir kisah ini. Model film seperti ini tentunya akan membuat plot twist yang mengejutkan. Yah, meski akhirnya kelicikan film ini membuat kita merasa tidak dibodohi dan mengumpat seperti The Prestige. Sebagaimana kita menghadapi orang cerdas, kita perlu bersabar pada film ini.

Kita dimanjakan pada kejernihan visual dan akting pemainnya meski nampak dramatik. Setiap detail pada layar menjadi penting. Trik visual yang unik juga mengingatkanku pada pop-up text message yang revolusioner dari serial Sherlock dan House of Cards. Sedikit aneh melihat visual yang tampak kurang mendukung untuk sebuah film thriller, ataukah kita memasuki era baru sebuah film thriller dan misteri pada era internet?


Searching menjadi film tahun 2018 yang cerdas dan tidak sia-sia. Film bagus tidak melulu masalah budget.

Cerita              : 7.5/10
Pemain           : 8,5/10
Ending            : 8/10
Overall            : 8/10

Nov 4, 2018


Tiba-tiba kita disodorkan bahwa buku adalah sumber kekacauan dan ketidakbahagiaan. 
Masyarakat tempat Montag tinggal merupakan gambaran distopia dunia tanpa buku. Memiliki buku ialah kejahatan. Membaca buku adalah tindakan ilegal dan buku harus dilenyapkan. “... bakar sampai menjadi abu, lalu bakar abunya.” Itulah yang terjadi pada buku-buku.

Judul               : Fahrenheit 451
Penulis            : Ray Bradbury
Penerjemah   : Lulu Wijaya
Penerbit         : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan          : 2018
Tebal              : 208 halaman

“Benarkah bahwa dulu sekali, petugas kebakaran memadamkan api, dan bukan membakar?”
“Tidak. Rumah-rumah sejak dulu tahan api, percayalah.” (h. 17)
            Apa yang akan kamu lakukan saat pulang dari sekolah melihat abu di depan rumahmu? Tumpukan abu hasil pembakaran buku-buku yang susah payah kamu beli, baca, dan koleksi (dari komik hingga novel). Abu yang masih mengeluarkan asap dan membuatmu melakukan gerakan bawah tanah melakukan perlawanan. Saya pernah mengalaminya. Sungguh. Petugas kebakaran yang telah membakar itu ialah ayahku sendiri.
            Pada saat itu saya bertanya-tanya, “apa yang membuat ayahku membakar buku-bukuku?” Kejadian serupa terjadi lagi beberapa tahun kemudian saat awal masuk kuliah. Saya pulang membawa buku-buku kiri yang susah payah kucari di jalan semarang, Surabaya. Beberapa dapat kubeli kembali karena sudah dijual bebas, tapi tak sedikit yang sudah sulit dicari.
Tentu saja keherananku bukan tanpa sebab. Masih kuingat jika dulu sering disuruh banyak membaca karena sampai akhir kelas dua sekolah dasar baru lancar membaca. Sebelumnya, saya kesulitan membedakan: “ng”, “ny”, dan “y”; “s” dengan “x”; atau “b”, “p” dengan “d”. Barangkali kamu akan mendengar nama “boyd” terdengar seperti “boip” atau “boib” seperti orang membaca qalqalah.
Ketika saya memegang buku ini terjadi kebimbangan. Perlukah saya membacanya lagi karena telah membaca Fahrenheit 451 terbitan Elex Media Komputindo? Kemudian kubaca lagi dan kutemukan beberapa perbedaan, khususnya wawancara Bradbury di akhir buku pada terbitan Elex Media. Selebihnya, bagiku sama. Pertanyaan itu muncul, apakah saya perlu menulis resensinya? Hal itu mengusikku. Beberapa kali terbangun dan memikirkannya, perihal buku dan pembakaran yang pernah kualami dan dikisahkan dalam Fahrenheit 451.
Fahrenheit 451 memberikan sebuah pemahaman tentang kisah pembakaran buku-buku. Tokoh utama buku ini, Guy Montag, merupakan petugas kebakaran yang bertugas untuk menghancurkan buku. Si Anjing pemburu yang bekerja di Departemen Kebakaran yang dikawal helikopter dan Robot Anjing Pemburu. Siap melacak para pembangkang yang menentang aturan, orang-orang yang nekat menyimpan dan membaca buku.

Distopia Dunia Tanpa Buku
Fahrenheit 451 membawa kita pada kondisi masyarakat yang tidak membaca buku, menikmati alam, berpikir secara mandiri, atau memiliki percakapan yang bermakna. Pemerintah mengendalikan rakyat dengan kenikmatan yang terus-menerus, yang mematikan pikiran. Mereka menonton televisi secara berlebihan dengan informasi yang telah disediakan oleh pemerintah, iklan kereta bawah tanah yang memekakkan telinga, berkendara sangat cepat pada dunia yang bergegas sehingga memutuskan orang-orang dari pikiran dan tubuh mereka.

Masyarakat tempat Montag tinggal merupakan gambaran distopia dunia tanpa buku. Memiliki buku ialah kejahatan. Membaca buku adalah tindakan ilegal dan buku harus dilenyapkan. “... bakar sampai menjadi abu, lalu bakar abunya.” Itulah yang terjadi pada buku-buku.
Terdengar familiar? Tentu saja. Sejarah negara kita tak lepas dari pembakaran dan penyensoran terhadap buku-buku. Bahkan Pramoedya Ananta Toer pernah dituduh atau terlibat dalam pembakaran buku-buku pada masa orde lama. Pada lain kesempatan, buku-bukunya pun pernah dilarang tatkala negara begitu galak terhadap pemikiran yang berbau komunis.
Sebenarnya, penghancuran buku bukanlah suatu hal yang baru. Fernando Baez melalui bukunya A Universsal History of the Destruction of Books telah menguraikan penghancuran buku dari masa ke masa, sejak zaman kuno hingga masa kini. Mulai buku non fiksi sampai ke fiksi. Penghancuran buku-buku fiksi terkenal seperti Don Quixote - Carventes, Time  Machine - H.G. Wells,  Fahrenheit 451 - Ray Bradbury,  The Name of The Rose - Umberto Eco,  hingga novel Voices karya Ursula K, Le Guin. Kamu sedang tidak salah baca. Fahrenheit 451 juga mengalami penghancuran.
Fernande Baez melihat hancurnya buku dapat terjadi karena beberapa faktor. Beberapa karena bencana alam, adapula rusak karena serangga atau cuaca, tetapi tak sedikit karena ulah manusia sendiri. Manusia menghancurkan buku karena ada kebencian etnis, sentimen politis, atau kepentingan ideologis.
“Orang-orang berwarna tidak menyukai Little Black Sambo. Bakar saja. Orang-orang kulit putih tidak gembira membaca Uncle Tom’s Cabin. Bakar saja.” (h. 79)
Lantas saya memahami alasan tindakan ayah membakar buku. Inilah yang terjadi pada ayahku yang merupakan didikan orde baru. Negara mengontrol dan menyensor buku-buku yang berkaitan dengan kiri atau komunis. Well, saya mampu memahami alasan pembakaran buku-buku kiri dengan melihat latar belakang beliau. Tapi, apa yang salah dengan novel dan komik? Bradbury dengan lihai menjadikan buku sebagai lambang individualitas dan bentuk pelarian diri dari pengendalian pikiran. Pembaca buku dipandang sebagai makhluk asosial dan pada konteks diriku, buku membuat prestasi akademikku justru merosot.
“Hidup adalah saat ini, pekerjaan menjadi penting, kenikmatan ada di mana-mana setelah selesai bekerja. Untuk apa belajar apa pun selain memencet tombol, menarik saklar, memasang baut dan paku?” (h. 74)
Ironisnya, manusia pun lupa bahwa buku-buku mewakili kemanusiaan itu sendiri. Montag mulai menyadari ada manusia di balik setiap buku yang dibakarnya, pencipta buku itu. Buku juga mewakili kemampuan untuk menata kembali dan membangun kembali peradaban.
“... Pasti ada sesuatu dalam buku-buku, hal-hal yang tak bisa kita bayangkan, .... untuk pertama kali aku menyadari ada orang di balik setiap buku itu. Ada orang yang harus memikirkan isinya. Ada orang yang harus menghabiskan waktu lama sekali untuk menuliskannya di kertas.” (h. 69-70)
Dehumanisasi menjadi dampak mengerikan yang dirasakan Montag. Masyarakat lantas terputus dari diri mereka sendiri, keluarga, orang lain, sejarah, dan dunia.  Terlalu bergantung televisi dan teknologi. Semua serba instan dan cepat. Akibatnya, orang-orang juga terputus dari pengetahuan dan kemampuan berpikir. Manusia menjadi seperti robot dan statis. 

Evolusi Dunia dan Kekuatan Buku
            Mengapa buku begitu mudah ditakuti? Fahrenheit 451 tidak memberikan penjelasan tunggal yang jelas tentang alasan pelarangan buku. Tiba-tiba kita disodorkan bahwa buku adalah sumber kekacauan dan ketidakbahagiaan. Parameter kekacauan dan ketidakbahagiaan pun tidak jelas bila alasan pembakaran buku seperti yang dikatakan Baez, sentimen politis atau kepentingan ideologi.
Pada suatu dialog antara Montag dan Faber, seorang profesor Sastra Inggris menjelaskan alasan buku begitu dibenci dan ditakuti,
“Buku memperlihatkan pori-pori di wajah kehidupan. Orang-orang yang nyaman hanya menginginkan wajah mulus, tak berpori, tak berbulu, tak berekspresi. Kita hidup pada masa ketika bunga berusaha hidup dari bunga lain, bukannya tumbuh dari hujan yang cukup dan tanah humus hitam.” (h. 106)
Si Beatty, kapten Departemen Kebakaran, memiliki pandangan lain perihal ini. Perkembangan teknologi hingga peningkatan populasi menyebabkan semuanya ingin bergerak cepat. Pada sisi lain, majalah dan buku mengalami kemorosotan mutu sampai sangat hambar hingga kurangnya minat baca. Pada titik tertentu, masyarakat melihat para penulis dengan pikiran jahat disuruh berhenti karena masyarakat ingin hidup tenang.
“Asalnya bukan dari pengarahan pemerintah di atas. Tidak ada perintah, tidak ada deklarasi, tidak ada sensor, sejak awal, tidak ada! Teknologi, eksploitasi massal, dan tekanan minoritas yang membuatnya terjadi, puji Tuhan.” (h. 77)
Membaca pernyataan Beatty terasa sangat logis dan terdengar seperti runtuhlah teori Baez. Penghancuran buku terjadi begitu alami pada tataran masyarakat. Akan tetapi, percayakah kamu dengan yang dikatakan Beatty?
Saya tentunya tak begitu saja percaya dengan Beatty karena ada rentang waktu dalam sejarah yang hilang dan dilupakan. Meski demikian, antara Beatty dan Faber saling mendukung perihal buku, kualitas dan penulis baik-buruk. Buku-buku yang bagus diperpendek dan direproduksi dalam bentuk lain.
Pada saat ini buku tak melulu dari kertas. Ia telah berevolusi dalam bentuk digital menjadi ebook atau sepenggalan kisah di website yang bisa kita nikmati melalui layar tablet atau gawai. Kendati telah berevolusi, buku masih digemari dan dikagumi. Mulai dari aroma, sentuhan tangan membalik kertas, interaksi mata yang jelas berbeda antara buku dan layar bahkan terkadang muncul edisi khusus atau premium. Dari segi substansi pun buku lebih memiliki kedalaman, detail, serta kelengkapan. Lagipula saat kamu bertemu penulis, mereka akan kesulitan membubuhkan tanda tangan di ebook atau website. Orisinalitasnya dipertanyakan.
Perubahan zaman dan kebutuhan menyebabkan buku semakin tersudutkan saat dunia menyerukan gerakan paperless. Gerakan ini sebagai bentuk dari kesadaran penyelamatan lingkungan. Semakin sedikit kertas yang diproduksi, sedikit pula pohon yang ditebang. Benarkah? Bukankah pembukaan lahan untuk perkebunan dan pertambangan pun banyak mengurangi area hutan? Silakan dicek sendiri.
Apakah kebiasaan pemakaian teknologi tidak memiliki dampak lingkungan yang serupa? The Washington Post merilis artikel yang berjudul How bad is email for the environment yang mengulas dampak dari email dan teknologi yang biasa dipergunakan oleh masyarakat terhadap emisi karbon (carbon footprint). Mulai dari streaming video dan musik, video games, televisi, hingga email. The Radicati Group, sebuah perusahaan riset pasar teknologi, pada tahun 2015 melaporkan jumlah email yang dikirim dan diterima di seluruh dunia per hari mencapai 205 miliar. Angka ini diperkirakan akan meningkat 3% per tahun dan mencapai sekitar 246 miliar pada akhir 2019. Ini berarti hampir 2,4 juta email dikirim setiap detik dan sekitar 74 triliun email dikirim per tahun. Apabila tiap email mengandung estimasi terendah 0,3 karbon, total karbon yang dihasilkan oleh seluruh email di seluruh dunia mencapai 22 juta metrik ton karbon tiap tahunnya. Total ini sama dengan gas rumah kaca yang dihasilkan oleh 5 juta mobil.
Buku yang terbuat dari bahan dasar kayu masih mudah untuk didaur ulang dan diperbarui. Sebaliknya, limbah elektronik (e-waste) yang memiliki karakteristik berbeda dengan limbah lainnya sulit didaur ulang dan semakin meningkat tiap tahunnya. Berdasarkan laporan United Nations Environment Programme (UNEP) PBB mencatat sampah elektronik di dunia bertambah 40 juta ton per tahun. Rata-rata volume e-waste terus terjadi peningkatan 3 – 5 % per tahun. Jumlah ini tiga kali lebih cepat dibandingkan dengan limbah jenis lain. Sampah ponsel dan komputer personal sebagai penyumbang terbesar. Limbah emas dan perak 3%, palladium 13% dan kobalt 15%, setiap tahunnya. Selain terdapat komponen-komponen berharga, limbah elektronik juga mengandung banyak komponen yang bersifat racun. Sebuah komputer (PC) saja mengandung komponen yang terdiri dari merkuri, arsenik, dan krom, yang termasuk dalam logam berat. E-waste apabila ditimbun bahan-bahan kimianya mengalami dekomposisi serta masuk ke dalam tanah, tetapi jika dibakar melepaskan dioksin yang sangat beracun.

Pusing? Ya, sama. Saya memang sengaja tidak langsung menyederhanakannya agar kamu merasakan sesuatu yang kurasakan. Intinya, ketika kita beranggapan bahwa paperless merupakan usaha penyelematan lingkungan, kita seolah menutup diri telah turut andil menyebabkan kerusakan lingkungan pada sektor lain yang sama berbahayanya.
Evolusi perwujudan buku pada bentuk lain menyisakan suatu pertanyaan, “masihkah buku berbahaya?” Pada dasarnya, buku seperti halnya ebook dan website tak perlu ditakuti karena tidak memiliki kekuatan. Mereka hanyalah wadah untuk menyimpan berbagai hal yang tak ingin dilupakan. Informasi dan beberapa hal yang tersimpan dalam buku, ebook, atau website itulah yang membuatnya ditakuti.
Boom! Manusia memasuki era digital yang serba cepat. Informasi melaju cepat. Kondisi ini diperparah dengan pemotongan dan sensor beberapa bagian buku sehingga menampilkan sebagian fakta, bukannya detail keseluruhan fakta. Belum lagi mata kita yang mudah lelah karena terlalu lama menatap layar sehingga proses mencerna informasi tidak maksimal. Tiba-tiba kita menjadi kecanduan gawai dan informasi yang terpenggal-penggal. Bangun tidur langsung mencari gawai dan di mana-mana kamu menemukan orang-orang menatap gawainya.
Pada situasi melenakan inilah yang paling menakutkan. Kita terlalu sibuk sehingga tidak sempat memilah informasi yang berkualitas. Tidak ada waktu bersantai untuk mencernanya dan melakukan tindakan hasil pelajaran dari interaksi terhadap berbagai informasi. Pikiran kita menjadi malas dan mudah termakan informasi yang menyesatkan.
Tidakkah terdengar familiar?
Saya pun merasa demikian.

Eli, 1984, dan Berbagai Hal yang Terbakar dalam Farenheit 451
Fiksi-fiksi distopia, mulai dari buku hingga film, bagaimanapun bentuknya dianggap seperti sebuah nubuat. In Time seperti sebuah dunia yang tak masuk akal ketika waktu diibaratkan dengan nyawa, tetapi film ini memiliki kritikan tajam terhadap cara kerja dunia saat ini. The Book of Eli memvisualisasikan runtuhnya peradaban dan buku merupakan kunci keselamatan dunia, khususnya kitab suci yang dianggap mampu mengobati dahaga spiritual saat itu. Sekali lagi, bukan bukunya, melainkan isi pengetahuan dari buku. Pengetahuan inilah sumber kekuasaan.

Kekuasaan tentu membutuhkan dukungan fakta yang dimanipulasi. Fakta di media menjadi sebuah realitas yang tidak lengkap. Pada 22 Januari 2017 Kellyanne Conway dalam sebuah wawancara yang membela jubir Gedung Putih terkait jumlah penonton pelantikan Donald Trump, membuat kita tertawa perihal pengenalan sebuah frasa: “fakta alternatif”.
Mungkin yang dimaksud alternatif fakta seperti ini.
Kekuasaan dan kontrol masyarakat seperti menjadi tema sentral dalam fiksi-fiksi distopia. Pada The Book of Eli kekuasaan seperti nampak tradisional dan sederhana karena kemunduran peradaban paska perang dunia. Pada 1984 dan A Clockwork Orange memiliki struktur kekuasaan yang jelas. Fahrenheit 451 struktur kekuasaan tidak terlalu ditonjolkan, pembaca buku terlihat aneh bagi masyarakat biasa. A Clockwork Orange, 1984, dan Fahrenheit 451 memiliki beberapa kesamaan. Penyembunyian fakta dan kontrol pemerintah kepada seluruh masyarakat dilakukan pada 1984 dan Fahrenheit 451. Pada A Clockwork Orange kontrol terhadap masyarakat hanya dilakukan seperlunya pada individu yang bermasalah.
Cara-cara cuci otak demi melanggengkan kekuasaan ditempuh sedemikian rupa. Media dipilih sebagai alat pertama dalam propaganda penguasa. Pola pikir masyarakat menjadi terkontrol dan tidak memiliki pilihan. Apabila tidak berhasil, kekerasan serta penyiksaan adalah pilihan terbaik dalam menangani Winston (1984) dan Alex (A Clockwork Orange). Pada Fahrenheit 451, Bradbury memilih mengirimkan para pembaca buku ke rumah sakit jiwa atau diasingkan dan dibakar bersama buku-buku bila masih membangkang. Mana yang lebih baik? Pilihlah sendiri yang menurutmu  terbaik untuk mencuci otakmu.
Nuansa. Sebuah fiksi distopia perlu kesuksesan dalam membangun nuansa. Orwell dalam 1984 yang begitu gelap berhasil menghadirkan suara-suara lirih nan mencekam untuk meneror pembaca. Burgess dalam A Clockwork Orange mampu menampilkan estetika budaya pop yang banal berbalut kekerasan dengan kebimbangan pilihan moral. Melalui pengetahuannya yang luar biasa tentang potensi teknologi, Bradbury menampilkan Fahrenheit 451 dengan prosa yang kuat sekaligus bergerak cepat dan terlihat puitis (baik dalam terjemahan Elex Media Komputindo maupun Gramedia Pustaka Utama).
Setetes hujan. Clarisse. Tetesan lain. Mildred. Ketiga. Sang paman. Keempat. Api malam ini. Satu, Clarisse. Dua, Mildred. Tiga, paman. Empat, api. Satu, Mildred, dua, Clarisse. Satu, dua, tiga, empat, lima, Clarisse, Mildred, paman, api, pil tidur, tisu sekali pakai, kerah baju, embus, remas, buang, Clarisse, Mildred, paman, api, pil, tisu, embus, remas, buang. Satu, dua tiga, satu, dua, tiga! Hujan. Badai. Tawa sang paman. Petir di lantai bawah. Seluruh dunia kehujanan. (h. 20-21, Elex Media)
Satu tetes air hujan. Clarisse. Satu tetes lagi. Mildred. Tetes ketiga. Paman. Keempat. Api malam ini. Satu, Mildred, dua, Clarisse. Satu, dua, tiga, empat, lima, Clarisse, Mildred, paman, api, obat tidur, pria-pria, tisu sekali pakai, memanfaatkan, buang ingus, gumpal, buang, Clarisse, Mildred, paman, api, pil, tisu, buang ingus, gumpal, buang. Satu, dua, tiga, satu dua, tiga! Hujan. Badai. Paman tertawa. Halilintar jatuh di bawah. Seluruh dunia berhamburan turun. (h. 28, GPU)
Bradbury mungkin tidak akan mengira bahwa karyanya kemudian menimbulkan begitu banyak paradoks, baik dari segi substansi maupun dampak. Kita dibuat terombang-ambing dengan narasi dan dialog, “apakah saya tetap membaca buku atau membuangnya saja? Bradbury menceritakan semua ini dengan paradoks melalui perspektif orang ketiga yang terbatas perihal pikiran dan perasaan Montag. “... Kamar itu tidak kosong. ... Kamar itu memang kosong.” Itulah dunia imaji Bradbury tentang masa depan yang dia tulis pada tahun 1950 (dua tahun setelah Orwell menulis 1984). Selain itu, kekayaan kosa kata yang kasar telah membelah masyarakat untuk mendukung atau menolak buku ini masuk ke dalam kurikulum maupun perpustakaan sekolah di Amerika Serikat.
Tebal Fahrenheit 451 yang hanya 200 halaman tampil seperti sebuah film yang bergerak cepat dan meloncat. Sebuah buku yang cukup pendek dengan tema yang kompleks, sangat disayangkan. Akan tetapi, hal tersebut tidak menghalangi pengembangan karaktek Montag yang rumit dan radikal, Beatty yang begitu intens dan cerdas dalam memanipulasi.
Fahrenheit 451 membakar semua yang kamu miliki dalam pikiranmu. Layaknya burung yang terbang bebas lalu terbakar menjadi abu. Dari tumpukan abu tersebut lahir burung api, phoenix.
Bagiku, Fahrenheit 451 bukanlah sebuah nubuat melainkan peringatan. Pembakaran buku oleh sebab dibenci atau ditakuti tentu tak dibenarkan. Pelarangannya pun justru membuat orang-orang kian penasaran. Bagaimana kita dapat membantah sebuah buku tanpa membacanya sedangkan membacanya saja dilarang? Tindakan yang perlu dilakukan ialah membuat buku bantahan atau tandingan. Sambil sesekali berdoa agar buku itu tidak kalah populer sehingga dibaca dan dimengerti oleh khalayak. Terakhir, saya hampir lupa mengingatkan bahwa industri percetakan buku mengikuti selera pasar. Ini bisnis, bung.



May 17, 2018




Judul               : Deadpool 2
Durasi             : 119 menit
Sutradara       : David Leitch
Naskah           : Rhett Reese, Paul Wernick, Ryan Reynolds
Pemain           : Ryan Reinolds, Josh Brolin, Morena Baccarin, Karan Soni, Zazie Beetz, T.J. Miller, Jullian Dennison, Brianna Hildebrand, Leslie Uggams, dan Stefan Kapicic, Brad Pitt.

Well, that's just lazy writing.
            Bukan, bukan karena joke atau sindirannya Deadpool yang kusuka pada tokoh ini, melainkan kesadaran dirinya yang sedang berada di dunia komik atau film. Saya pun sadar sedang di Surabaya beberapa hari setelah kejadian BOM yang membuat kota ini agak sepi dibandingkan hari-hari biasa. Pusat keramaian dijaga ketat dan semua pengunjung diperiksa, termasuk saya yang notabene tak bertampang teroris hanya saja ada sedikit brewok yang sedang malas kupotong. Langit Surabaya masih dalam nuansa parno, dan saya pun ikut-ikutan parno saat masuk di dalam studio. Ada sekelebat aksi penembakan brutal dalam gedung bioskop seperti di Amerika Serikat sana. Sialnya, posisi dudukku tak menguntungkan untuk berlindung maupun melarikan diri.
            Well, kita bahas Deadpool saja. Film ini memiliki formula yang hampir mirip dengan film pertama yang memerlukan latar belakang kejadian. Tak ada yang istimewa, namun saya suka. Dengan penghormatan terhadap Wolverine sebagai mantan rekan kerjanya, diikuti narasi-narasi kematian super hero untuk menaikkan rating, Deadpool memiliki caranya sendiri untuk mengapresiasi hal tersebut.
            Saya tak ingin membawamu kepada spoiler karena memang film ini tak memiliki plot yang mencengangkan. Terasa pendek dan lebih drama. So, Deadpool tak berbohong ketika mengatakan film ini adalah film keluarga. Super hero yang tak muluk-muluk mengisahkan penyelamatan dunia, tetapi lebih kepada dirinya sendiri yang begitu rumit dan sarkas.
            Di awal, kukatan Deadpool memiliki kesadaran bahwa dirinya berada di dalam dunia komik atau film. Hal ini membuat dialog-dialognya menerabas batas dunia perfilman. Jika kamu penikmat film, tentunya tahu bahwa Ryan Reinolds pernah memerankan Green Lantern dan paska Christian Bale, dia digadang-gadang memerankan sosok Batman (dan akhirnya diperankan oleh Ben Affleck). Banyak parodi dan joke mengenai hal tersebut. Selain itu, saya sendiri tak begitu yakin semua penonton memahami joke dari Merc with a mouth ini karena terlalu banyak referensi budaya pop luar yang tak banyak diketahui masyarakat Indonesia. Apalagi anak muda zaman now yang tak begitu akrab dengan Robocop.
            Akting ryan tak diragukan lagi. Ia benar-benar ingin move on dari green lantern dan menggampar para pengkritiknya melalui Deadpool (jadi, jangan langsung pulang). Ia seperti terinspirasi Hugh Jackman untuk bertaubat memerankan satu karakter super hero. Ryan is Deadpool, Deadpool is Ryan. Josh Brolin tak memiliki ruang khusus untuk mengeksplorasi karakternya. Dan Domino, saya menyukainya. Sepertinya dia akan menjadi tokoh sentral dalam X-Force.
            Adegan laga dan aksi salah satu yang paling ditunggu pada Deadpool. Dengan rating R, film ini menampilkan kebrutalan yang terkadang konyol dan kocak. Seoalah Deadpool ingin mengatakan “namanya juga film”. Berbagai kekacauan yang mengandung kecabulan serta Domino, aku menyukainya. Sudah berapa kali aku mengatakannya?
            Ada satu lagi yang menarik perhatianku: musik. Deadpool seperti mencoba mencuri formula Guardian of Galaxy dalam menempatkan musik-musik lama. Misalkan, Ost Yentl: Papa, can you hear me?  dengan bumbu parodi. Ada juga scene dengan latar Moonage Daydream David Bowie yang menjadi andalan para penjaga galaksi. All Out Love nya Air Suply saat trailer, serta Thunderstruck milik AC/DC ketik para X-Force terjun bebas. Ah, kalau dirimu tahu film Annie (1999), ada lagu Tomorrow-Alicia Morton yang mengiringi slow motion.
            Sesungguhnya yang paling besar mencuri perhatianku ialah Juggernaut. Pada film X-Men: The Last Stand, Ia nampak tak terlalu kuat dan seperti disia-siakan hanya untuk menabrak tembok dan kalah dengan konyol. Cobalah bermain SEGA Genesis atau video game Marvel, kau akan dibuat jengkel oleh Juggernaut sebagai salah satu bos sebelum menghadapi Magneto. Dan bersyukurlah karena Juggernaut mengikuti gaya komiknya, mulai dari kostum maupun kekuatan.
            Kau tahu, saat saya mendapatkan realitas bahwa gedung bioskop di surabaya, khususnya film Deadpool tak mengurangi kecemasan paska kejadian BOM. Buktinya, penonton Surabaya begitu antusias dengan film ini. Saat saya sampai, kursi full, dan kami mendapatkan tempat duduk deret ketiga di depan layar. Kali ini saya kurang begitu puas merasakan sensasi menonton Deadpool 2 lebih karena posisi duduk yang tak menguntungkan. Saranku, menontonlah setelah seminggu film ini diputar, semoga sudah mulai lengang. Ketika pulang nuansa bulan puasa mulai terasa. Tandanya bunyi petasan. Aku sulit membedakan bunyi petasan dengan bom di kota ini. Mungki karena belum pernah mendengarkan suara ledakan asli. Semoga saja tidak pernah. Jadi, saya akhiri dengan menyanyikan sebuah lagu

The sun will come out tomorrow
Bet your bottom dollar that tomorrow
There'll be sun
Just thinkin' about tomorrow
Clears away the cobwebs and the sorrow
'til there's none
When I'm stuck with a day that's grey and lonely
I just stick up my chin and grin and say, oh
The sun will come out tomorrow
So you gotta hang on
'til tomorrow, come what may!
Tomorrow, tomorrow, I love ya, tomorrow
You're always a day away!
            Oh, jangan mengalihkan pandanganmu dari layar karena ada banyak cameo pada film tersebut.

Cerita              : 8/10
Pemain           : 8,5/10
Ending            : 8/10
Overall            : 8/0

Jan 30, 2018





Judul               : Petualangan Don Quixote
Penulis            : Miguel De Cervantes
Penerjemah   : Muajib
Penyunting     : Fahrudin Nasrulloh AM
Penerbit         : Immortal Publisher
Cetakan          : I, Agustus 2017
Tebal              : 124 halaman

            Don Quixote. Nama yang tak asing, tetapi banyak orang tak begitu mengenalnya dengan baik. Bagi pembaca Indonesia yang kesulitan berbahasa asing hanya mengenalnya sekilas, entah dalam bentuk buku dongeng anak, berbentuk puisi maupun sempalan kata di dalam jurnal atau buku. Banyak diperbincangkan, namun terkesan diremehkan karena belum ada buku yang menampilkannya secara utuh dalam bahasa Indonesia.
            Siapa juga yang hendak bersusah payah menghadirkan seorang pria paruh baya yang membuat kekacauan karena gagasan, mimpi, dan imajinasinya? Benar, pria paruh baya itulah Don Quixote. Ia berimajinasi melakukan petualangan dengan menjadi kesatria yang melawan penyihir, prajurit dan raksasa. Layaknya seorang kesatria yang kesepian, Ia mendambakan seorang perempuan bernama Dulcinea del Toboso sehingga setiap orang yang ditemuinya harus mau mengakui kecantikan sang putri. Petualangan yang dilakukan Don Quixote tak hanya merugikan dirinya sendiri, tetapi juga orang lain. Kekacauan demi kekacauan terjadi karena Don Quixote memaksakan imajinasi dan gagasa-gagasan liarnya ke dalam dunia nyata yang tak mampu dipahami oleh orang-orang yang ditemuinya.
            Don Quixote bagi pembacanya merupakan buku yang kaya akan makna dan simbol. Layaknya satire yang hadir dalam nuansa gempuran karya sastra romansa dan kepahlawanan kala itu. Tak mengherankan bila karya ini dianggap sebagai pendobrak corak baru sastra dunia. Kegilaan terhadap kisah-kisah satria di medan perang, putri cantik yang luhur pekerti, dan kisah imajinatif lainnya yang dihadapkan pada realitas yang bertolak belakang.
            Kepopuleran Don Quixote dapat dikaitkan dalam berbagai permasalahan kekinian. Misalnya, politik. Don Quixote tak lagi menunggang kuda, melainkan mobil. Ia mendapatkan legitimasi menjadi kesatria yang terhormat setelah memberikan kegelisahan dan ketakutan yang tak disadarinya. Mereka berpetualang hingga melawan petugas yang membawa pelaku kejahatan, bahkan melawan para raksasa yang sebenarnya tiang listrik.
            Selain itu, Don Quixote yang jomblo nan kesepian juga dapat ditemui dalam komunitas role play. Manusia-manusia yang saling bertukar peran dan terkadang pasangan yang belum pernah mereka temui. Imaji, imitasi, dan realitas luruh. Seperti halnya Don Quixote yang terjebak di dalam jagad hiperrealitas. Realitas menghilang karena longsoran simulasi.
Tak lupa Don Quixote juga punya pengikut seperti Sancho Panza. Pelayan setia yang terbuai janji-janji Don Quixote untuk memberikan sebuah pulau dan kekayaan. Meskipun begitu, pada lain kesempatan sang pelayan mengatakan bahwa tuannya gila. Barangkali kita juga sering menemui manusia seperti Sancho Panza yang realistis sekaligus terjebak dalam buaian mimpi.
Membaca Don Quixote tanpa membahas perihal kegilaan nampaknya kurang lengkap. Tema kegilaan menjadi pertanyaan yang terus muncul selama membaca karya Cervantes ini. “Apakah Don Quixote gila? Ataukah orang-orang yang ia temui yang justru gila?” Cervantes membiarkan kita untuk membuat suatu kesimpulan sendiri tanpa memberikan jawaban yang lugas. Bahkan seluruh penghuni penginapan mendukung Don Quixote saat seorang Barbar meminta baskom miliknya dipergunakan Don Quixote sebagai pelindung kepala. Apakah kegilaan dapat menular? Entahlah, mungkin Michel Foucault dapat menjawabnya.
***
Sejujurnya hal pertama yang menarik dari buku berjudul “Petualangan Don Quixote” ini adalah sampul yang menarik karena kesederhanaan dan warnanya. Selain itu, harganya murah dan ketebalan buku yang tipis. Saya curiga dengan buku ini merupakan retold atau resume dari karya Cervantes yang tebal itu. Sangat tipis dibandingkan halaman buku Don Quixote dalam versi bahasa lain yang pernah saya baca (Penerjemah Tom Lathrop; Penguin, 2011). Sayangnya, penerbit tidak memberikan informasi tentang buku asal terjemahan karena Don Quixote telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa dengan banyak versi. Saya tetap percaya bahwa tiap penerjemah memiliki rasa yang berbeda dalam menerjemahkan sehingga ada hal-hal yang kadang tak mampu kita tangkap saat membaca dalam versi bahasa lain. Ada beberapa bagian yang dalam versi lain terasa kocak dan satire kemudian menjadi biasa saja dalam buku tersebut. Sebaliknya, bagian tertentu yang biasa saja justru dalam buku ini membuatku terpingkal-pingkal, terutama saat pertarungan dengan pendeta.
Bagaimanapun, kehadiran Petualangan Don Quixote perlu diapresiasi. Meskipun hadir dalam bentuk sederhana dan terdapat kesalahan pengetikan. Petualangan Don Quixote mempergunakan bahasa yang ringan dan mudah dimengerti sehingga sangat cocok sebagai pengantar tidur anak-anak. Semoga saja buku ini menjadi pemacu untuk menyajikan terjemahan Indonesia dalam bentuk utuh.