Ronaboyd Mahdiharja

Sebuah goresan nan Pribadi mengenai metamorforsis dalam alam pemikiran perjalan menjadi manusia.

Showing posts with label Sastra. Show all posts
Showing posts with label Sastra. Show all posts

Jan 3, 2014

           
Hidup manusia diawali dengan oxymoron. Setiap manusia memiliki definisi kebahagiaan, begitu pula saya. Orang yang paling bahagia adalah orang yang tidak memiliki hutang. Namun, setiap orang memiliki hutang. Terutama orang miskin. Orang kaya yang memiliki rumah dan perusahaan besar pun memilikinya. Ia dapat diartikan sebagai materi dan immateri.
            Hutang merupakan kebutuhan dan jeratan, racun obat. Berpusar dalam kubangan yang sama tiap masanya. Kekayaanmu hanyalah topeng hutang dan kemiskinanmu ialah jeratannya. Kejayaan dapat kau peroleh dengannya dengan cepat, akan tetapi sesaat saja. Kebangkrutan demikian menjalar cepat layaknya virus, sulit untuk bangkit dengan usaha yang setengah-setengah. Ia petunjuk dari ketiadaan materi dan immateri.
            Betapapun coba enyahkan mengenai materialisme pada dirimu, tapi tidak akan bisa lepas sepenuhnya. Disebabkan masih banyak manusia yang memikirkannya dan membutuhkannya. Semudah melakukan, sesulit mengembalikan. Tekanan dan usaha terus dilakukan untuk membayarnya. Tekanan dan usaha dipergunakan agar dikembalikan. Kalian akan jadi gila dibuatnya.
            Oxymoron: Random order. Bagi yang bertuhan, melalui bahasa klise, tiap hutang melekat hak orang yang dihutang. Setiap hak (termasuk hak asasi) muncul karena ada kewajiban, tiada yang mutlak. Pandangan bahwa hak adalah absolute tanpa adanya kewajiban, hanyalah pandangan mesum terhadap kebebasan. Apa yang engkau bayarkan dapat memenuhi kebutuhannya, membayar janjinya, menahan amarahnya, menjaga ucapannya, dan tidak menutup kemungkinan melunasi hutang si pemberi hutang. Suatu bentuk kewajiban manusia membantu sesama dan pengabdian kepada pencipta.
            Bagi yang tidak memiliki Tuhan, dengan bahasa yang klise juga, membayar hutang adalah suatu bentuk meniadakan Tuhan. Dan itu dapat melanggengkan kepercayaanmu. Bebas dari rasa bersalah, alih-alih berharap si pemberi hutang melupakannya dan memaafkanmu. Ketidakpercayaan si pemberi akan menyebar pada orang lain dan akan menyulitkanmu dikemudian hari.
            Bagi yang memiliki banyak Tuhan, engkau tahu bahwa dirimu menghamba dengan banyak Tuhan. Cobalah bunuh satu saja dan hanya sebentar pula Tuhan Uangmu. Itu tidak akan membuatmu dicap sebagai ateis karena mengurangi Tuhanmu yang banyak. Masih banyak Tuhan-Tuhan lain yang patut untuk dipertahankan, Tuhan Politik, Tuhan Kelamin, Tuhan Status Sosial, atau Tuhan Moral.
            Membaca Kafka adalah cara terbaik memahami keseluruhan pemikiran Nietzsche dibandingkan dengan pengikut Nietzsche lainnya. Terdapat humor dan optimisme. Dalam Metamorfosis, Kafka memberikan suatu gambaran menarik perihal keharusan yang memaksa untuk segera diatasi. Yang dalam konteks ini saya anggap sebagai kewajiban yang membahagiakan untuk mengetahui karakter manusia tatkala mengalami keterpurukan.

Semarang, 3 Januari 2013

Dec 30, 2013



I am
A little bit of loneliness
A little bit of disregard
A handful of complaints
But I can't help the fact
That everyone can see these scars
(Faint – Linkin Park)

         
         
           Sebelum anda melanjutkan membaca artikel ini, hendaknya anda memutar lagu Faint dari Linkin Park (jikalau belum memilikinya sebaiknya anda mengunduhnya). Memang tidak ada kaitannya antara Linkin Park dengan petapa. Setidaknya itu dapat mengurangi kejenuhan atas pemberitaan yang membentuk energi negatif.
            Dulu. Dulu sekali saya (yang lain) pernah menjadi seorang masokis, bukan masokis yang merupakan bentuk parafilia, tetapi lebih pada penyimpangan psikologi untuk ingin dipenjara. Berawal dari konklusi bahwa engkau tidak akan berpikir jernih untuk menulis suatu karya jika tidak di dalam penjara. Ketika para koruptor ketakutan akan penjara dan kriminal lain lari dari jeratan hukum, saya malah ingin merasakannya. Liberte!!! Suatu teriakan dari gema revolusi Perancis yang bertahan sampai saat ini, dan kini terdiam di Amerika Serikat menjadi sebuah patung. Dan kini terekam dalam buku dan hati para manusia dengan baik. Penjara merupakan kekuatan tersendiri untuk membangunkan tingkat imajinasi dan keluasan mata dalam memandang. Dari dalam jeruji besi semua nampak lebih jujur, meskipun nampak kotor. Namun, itu lebih baik dibandingkan kemunafikan yang telah memoles rupanya dengan keramahan dan keteraturan yang dipaksakan. Di sana saya bisa menjadi petapa yang menyepi, diam, dan tidak terlihat. Mataku bisa berubah menjadi mata elang yang luas memandang. Kemudian menjadi cacing yang berpandangan sempit yang melihat segala sesuatu menjadi serba besar. Kesakitan membuatku semakin bergairah. Itu tidak lazim memang, tetapi seperti kata Foucault bahwa setiap zaman memiliki definisi kegilaannya sendiri. Definisi kegilaan yang berubah sebagai indikator terjadinya perubahan paradigma, dimana Capra menyebutnya sebagai bagian dari titik balik peradaban.
            “Dari penjara itu engkau akan membuat berbagai karya yang menggemparkan,” ujarku (yang lain) pada saat itu.
            “Tetralogi Pulau Buru (Pramoedya Ananta Toer), Catatan-Catatan dari Penjara (Gramsci), Dari Penjara ke Penjara (Tan Malaka), Don Quixote (Miguel de Cervantes), Fi-Zhilalil Qur’an (Sayyid Qutb), Pledoi Indonesia Menggugat (Soekarno). Masih belum puas aku memberikan contoh karya dari penjara? Hitler pun dengan Mein Kampf dan Abu Bakar Ba’asyir tidak ketinggalan.”
            Aku terus mengoceh dengan mengutip dari Ibnu Taimiyah, “Dan dipenjara yang sebenarnya ialah yang dipenjarakan hawa nafsunya. Bila orang-orang yang memenjarakan saya ini tahu bahawa saya dalam penjara ini merasa bahagia dan merasa merdeka, maka merekapun akan dengki atas kemerdekaan saya ini, dan akhirnya mereka tentulah mengeluarkan saya dari penjara ini.”
            Lantas diriku yang lain mengambil alih dengan keinginan menyendiri di gunung untuk menghindari kegilaan duniawi. Penjara terlalu berisik dengan kenaifan pula. Kota terlalu cepat, penuh polusi serta kemacetan. Di sana masing-masing memiliki Gatoloco yang berbeda topeng berevolusi dengan halus: kalimat-kalimat bijak nan halus untuk pemerkosaan, kondisi-kondisi pemaaf yang kompromis. Obsesi Nietzsche terhadap Zarathustra menjadi Gatoloco bagi kaum ‘kiri’ yang membuat lebih skeptis dan apatis terhadap realitas. Dunia menghasilkan ‘Si Gila’ Nietzche, ‘Sang pemberontak’ Camus, Hitler yang paranoia, dan narcissus baru di media sosial.
            Secara duniawi tidak ada yang bergaransi, semua membutuhkan resiko. Begitu juga Resi Bisma ketika meninggalkan pertapaannya untuk turun gunung menjadi guru Pandawa dan Kurawa. Ia tidak menyangka bila pesona kekayaan menjeratnya, itu pun diakuinya. Lantas, apakah saya? Pertanyaan tersebut terus terjadi sampai para Gatoloco kelelahan yang kemudian berlanjut dengan berkomplotnya iblis dan dajjal. Mereka muncul dengan kebaikan, lalu coba menjerumuskan.
            Banyak orang yang saya kenal dan temui mengatakan sanggup menghadapi berbagai godaan. Pada mulanya saya memercayai ucapannya karena intelektualitas mereka. Pemikiran bukanlah berjenjang seperti dibilang Comte, melainkan utuh. Dari berpikir metafisik, logis, dan afeksi. Memang terkadang pemikiran menghasilkan tindakan, namun tidak selalu tindakan berasal dari pemikiran. Terdapat faktor-faktor yang memengaruhi, seperti perasaan, situasi, spontanitas, afeksi, dan kemampuan.
            Engkau perlu membangunnya. Tetapi, perlu pemikiran jernih yang memandang segala sesuatu secara meluas dan hati yang tenang, bukan melalui kegundahan dan pesimistis. Seperti banyak dialami manusia masa kini. Diskotik yang selalu sesak; ekstasi yang penuh fantasi; keriuhan sentuhan perkelaminan. Dunia beserta teorinya dibangun dengan keputus-asaan. Pesimistis yang menghasilkan nihilisme. Tak akan engkau temukan solusinya karena yang tersisa adalah pembenaran-pembenaran. Pemuka agama sudah nyenyak. Semua tampak gonyah walaupun kelihatan kokoh. Tidak kah kau dapat melihatnya?
            Mereka akan terus lari. Mencari ketenangan di pinggir laut dan di atas gunung. Mereka tidak akan menemukan apapun. Sang Petapa sudah banyak yang turun gunung dan merapat pada keramaian kota. Seperti halnya Musashi, Petapa perlu menghindar menyimpang di kesunyian dan lalu bergerak maju untuk membunuh kegelisahan serta kelinglungan bagi mereka yang mencarinya.
            Banyak cara menjadi petapa. Paling efektif adalah dengan menghindar menyimpang. Meskipun tidak ada jaminan untuk menghilangkan permasalahan hidup, dan permasalahan itu adalah solusi bagi manusia-manusia yang mencarinya. Hingga telinga sang petapa penuh kotoran karena cerita-cerita.
            Dan entah sejak kapan saya tidak menyukai ‘kiri’ yang dulunya kupuja. Mungkin dogma akan dunia diciptakan dengan struktur keseimbangan membuat kiri bergeser menjadi topangan rasio dalam membangunkan hatiku. Kapan itu? Saya sendiri lupa.
            Musik telah berganti dengan lagu Breaking the Habit karena lupa melakukan repeat otomatis. Sampai pada lirik, I don't want to be the one, the battles always choose.

Semarang, 30 Desember 2013


Oct 27, 2011

asap meliuk rendah
membebani langit
runtuh menimpa kalimat manja
menatap lekat

robeklah!
sebar kutu yang kian menggigil
menyeruak dalam karung goni bekas

tangis memandu terang
daun kuncup sebelum sorot-
melotot

mengendurkan ranting
melecut akar kerontang
jeritan membakar retak tanah

Goa, 2011

Oct 19, 2011


                            2020, 15:32 WIB
menyerahkan tubuh ke badai
panas adalah namanya
kau diam atau turut serta

tegak tanpa langkah
menjadi mati

gerak terhisap pasir
lebih berarti

aku datang bersama pasukan timur
membawa panji-panji hitam
memberikan sapuan duri
pada pion-pion bermata satu

jelas
maut mengintip bahagia
daun jatuh di musim semi, kita bahagia
daging membusuk, mereka takut

kalian tinggalkan aku
sendiri di tiang-tiang malam
menunggu cahaya itu datang

berdiri di samping pedang yang berayun geram
simpul senyum ku raih
sampai gersang menjadi hijau zamrud membentang

Oct 13, 2011

"Mana yang lebih berbahaya, perokok aktif atau pasif?" tanyaku.
"Perokok pasif!" teriak mereka serentak.
"Nah, makanya jadilah perokok aktif" timpalku.

Aku keluar dari ruangan dengan menyisakan gemuruh dan tanda tanya. Malamnya aku temukan diriku yang lain duduk di depanku dengan raut wajah serius.
"Siang tadi, apakah kau merasa menang?" tanyanya dengan senyum sinis.
"Sama sekali tidak." jawabku.
"Kau mengetahui merokok adalah kata kerja dan perokok adalah kata benda (dalam hal ini proper noun). Kau sendiri yang mengumpamakan perokok aktif adalah penguasa. Lantas, mengapa kau menyuruh mereka menjadi penguasa?" 
"Aku hanya mengajak mereka berpikir."

Malam itu diriku ngoceh padaku, tapi aku sudah tenggelam pada lautan rokok. Aku tak menggubrisnya. Perokok dan merokok. Subjek dan predikat. Pada dasarnya mereka membenci merokok bukan perokok. Perokok aktif lah yang mereka benci karena dialah yang mengisap rokok secara aktif. Lain halnya dengan perokok pasif yang hanya menerima asap rokoknya saja, namun dialah yang kena pengaruh buruk lebih banyak. Bencilah mereka pada perokok aktif. Tanpa disadari sebenarnya perokok aktif juga sekaligus perokok pasif. Perokok aktif selain mengisap rokok juga mengisap asapnya. Perokok aktif pun tidak menyadarinya karena dia telah terbiasa dengan bau asap rokok. 

Kekuasaan pun demikian. Menjadi candu bagi yang haus kekuasaan. Masyarakat sangat marah pada penguasa, disebabkan tindakan yang dilakukan oleh penguasa menyebabkan masyarakat menerima dampak negatifnya. Apabila masyarakat yang keblinger ingin menjadi perokok aktif alias ingin menjadi penguasa, maka mereka pun tanpa sadar juga turut masuk ke dalam lingkaran bahaya rokok. Pikiran sederhana mereka: kenapa mereka tidak menjadi penguasa saja? Dampaknya lebih kecil daripada menjadi rakyat biasa.

Penguasa memiliki tanggung jawab besar: terhadap dirinya dan orang di sekitarnya. Penguasa pula yang menyebabkan sebuah bangsa hancur atau sejahtera. Masyarakat yang menjadi perokok pasif pun ikut terkena dampaknya. Pengangguran, pendidikan tidak merata, perampokan, hutan gundul merupakan dampak tidak langsung dari penguasa yang rakus. Mereka mengisap asap rokok dan perokok aktif tak mengisap asap yang dikeluarkannya. Begitu juga bencana longsor, tanggul jebol, banjir, tsunami dan faktor alam lainnya  merupakan akibat penguasa. Bencana alam tersebut digerakkan oleh sesuatu dari alam non materi.  

"Bencana itu berasal dari alam." kata penguasa. Hal ini persis yang dikatakan dalam Surat Al-Jaatsiyah ayat 24, namun penguasa tidak sadar apabila Ada yang menggerakan non materi yang kemudian menggerakan materi. Sekali lagi masyarakat yang terkena dampaknya dan penguasa selamat. Walaupun penguasa selamat dari bencana sesaat, namun penguasa akan mengalami penderitaan psikis yang panjang. Jiwa dan hati para penguasa akan tersiksa dan tersayat dengan perantara harta yang tidak halal, menyalahgunakan kekuasaan, ketakutan akan digulingkan dari kekuasaan.

Fiksasi dan Dalih
Freud pernah mengatakan apabila orang merokok memiliki kecenderungan fase oralnya terganggu, sehingga untuk memenuhi kepuasaan oral ketika dewasa menyalurkannya dengan rokok. Kita juga sering melihat ambisi masyarakat yang ingin sekali mengisi pos-pos penguasa atau paling tidak di bawahnya. Hal ini tidak terlepas dari keinginan mereka yang tertindas dari penguasa yang kemudian muncul keinginan menjadi penguasa berikutnya.

Orang yang merokok pun punya dalih. Orang yang merokok memiliki ciri-ciri, yakni dia itu sehat, memiliki uang, dan beriman. Apabila tidak sehat seorang perokok akan dilarang merokok. Kemudian bila tidak memiliki uang janganlah jadi perokok. Dan oleh sebab hidup matinya makhluk itu ditentukan Tuhan kenapa musti takut merokok? Toh tidak merokok pun juga akan mati. Kesehatan terkadang dilupakan atau tidak diacuhkan oleh kita. Seorang dokter bilang kita sakit, namun tetap saja kita merokok. Tak selamanya orang yang merokok itu memiliki uang, bisa saja dia meminta rokok pada orang yang sudah punya rokok. Memang benar hidup mati seseorang yang menetukan Tuhan, di samping itu kita juga tidak bisa melupakan bahwa kita harus menjaga apa yang Tuhan ciptakan termasuk tubuh kita. Tuhan yang menciptakan, manusia yang menjaganya.

Penguasa tidak jauh berbeda. Menjadi Penguasa juga harus memiliki kesehatan, uang, dan iman. Kesehatan diperlukan untuk menjalankan kehidupan masyarakat. Kesehatan fisik bisa dilihat, namun kesehatan rohani sulit diterima. Kita bisa lihat penguasa yang arogan menggusur rumah-rumah atas nama kepentingan negara dengan mengenyahkan keberadaan warga yang digusur sebagai unsur terbentuknya negara. Melalui  kekuasaannya membeli tanah dengan harga murah. Uang adalah modal awal menjadi seorang penguasa. Tidak punya uang tinggal kongkalikong dengan pemilik modal. Aku rasa hal tersebut sudah jamak kita ketahui. Terlebih proses pemilihan seorang penguasa dalam demokrasi saat ini memerlukan banyak biaya. Iman menjadi simbol-simbol mereka. Menjual ayat-ayat suci dalam kampanye mereka denga harga murah. 

"Bagaimana jika industri rokok di tutup? Bukankah itu mengakibatkan pengangguran bagi orang yang bekerja di sana? Makanya kita mau berkorban demi mereka" tanya para perokok. Inilah tugas penguasa untuk memberikan industri alternatif untuk buruh tembakau. Penguasa sering sibuk mengeruk untung dari industri rokok dan enggan memberikan perhatian kepada penelitian alternatif agar tembakau memiliki manfaat lain dari pada digunakan untuk rokok. 

Aku sendiri menulis ini dengan merokok, namun alam bawah sadarku terkadang mengingatkan untuk berhenti. Aku seperti penguasa yang candu akan kekuasaan. Penguasa menyediakan tempat khusus area perokok. Di sana kita menjadi perokok sebenarnya: perokok aktif sekaligus perokok pasif. Nikmatnya merokok di alam terbuka. Membebaskan asap-asap lari kemana mereka mau. Ke arah kita atau filter-filter alam. Bahkan lebih nikmat tidak merokok.

Irfa R. Boyd Utama
Malam menjadi gelap lebih awal. Bintang dan bulan nampak lebih terang. Listrik menjadi padam di sekitar kampus dari sore sampai kembali pagi. Penyebabnya sepele, layang-layang tersangkut penangkal petir pada tiang listrik.  Musim dan angin yang mendukung menarik minat masyarakat bermain layang-layang. Semua menyalahkan layang-layang dan orang yang bermain. “Jaman sekarang kok masih ada yang bermain layang-layang” celetuk orang dengan raut kesal.
Benar bila layang-layang adalah usang. Ketika putus tali, dia bergerak sesuai angin bertiup. Kita sendiri tahu bila angin selalu berubah dan bergerak. Uni Soviet menjadi pelajaran bagaimana perubahan dan gerak angin tidak dapat ditebak. Layang-layang berubah kehendak. Dulu diminati dan sekarang dicaci. Layang-layang mempunyai sejarah yang panjang. Dia menjadi alat petarungan udara di kala manusia bermimpi terbang. Kemeriahan mengejar layang-layang yang putus memiliki keasyikan tersendiri. Tanpa takut nyangkut di tiang listrik atau tertabrak kendaraan.
Sekarang, layang-layang seolah tak bersahabat dengan modernitas atau justru modernitas yang tak bersahabat dengan layang-layang. Dia memiliki kejayaan masa lampau yang coba dipertahankan dengan derasnya arus modernitas. Apanya yang salah? Modern menjadi musuh dari arkais.  Modernitas memang membawa perubahan terhadap kehidupan, namun adakalanya modernitas menjadi alat bagi kapitalis yang rakus. Mengeruk keuntungan tanpa memedulikan lingkungan dan budaya. Mereka menumbangkan keindahan alami dan menciptakan keindahan buatan. Mereka mengisap kekayaan alam dan memberikan kerusakan di atas permukaan tanah.
Di mana yang salah? Pendidikan kita. Pendidikan adalah jantung bagi perubahan sosial. Pergeseran persepsi bahwa pendidikan hanya dimaknai sebagai sekolah-sekolah yang telah kita tempuh. Bagaimana bisa sekolah yang hanya dibatasi dinding tersebut bisa melakukan perubahan sosial? Bagaimana bisa dari tempat itu mengajarkan kita cara mengubah realitas-realitas sosial?
Janganlah heran jika pendidikan kita berada dalam situasi stagnan. Pendidikan kita masih menganut paradigma dogmatisme. Inilah penyebab terhentinya proses berpikir dalam dunia pendidikan. Hal tersebut yang dapat menghambat pemikiran agar tetap percaya pada realitas. Teori-teori hanya sebatas fiksasi realitas dan bukan lagi sebuah perkembangan yang bisa berubah. Penelitian-penelitian yang dihasilkan cenderung bersifat final. Dogmatisme menyebabkan ketidak mampuan melihat struktur sosial, termasuk dirinya. Pendidik meneruskan metode-metode baku yang kemudian makin diendapkan. Realitas dipandang sebagai objek untuk dimanupulasi, dikuasai dan ditundukkan. Menurut Jean-Francois Lyotard saat ini sedang memasuki fase di mana logika tunggal yang diyakini kaum modernis telah digantikan dengan pluralitas logika. Bagi yang tertutup matanya oleh paradigma mereka sendiri tidak menyadari akan hal ini. Dampaknya adalah mereka membangun dunia hanya dalam satu dimensi, apa yang ada dihadapannya hanyalah hitam dan putih. Maka matilah mereka!
Kita tidak akan menemukan kebebasan dalam menentukan pilihan. Kita hanya akan mendapatkan para pendidik yang membentuk pola pikir peserta didik sesuai dengan pola pikir mereka. Biarkan kita memilih, mengikuti atau bahkan menciptakan mahzab sendiri. Biarkan kita menemukan sintesis apa yang disampaikan pendidik tanpa memaksakan pola pikirnya.

Jikalau lampu tidak padam gara-gara layang-layang, kita tidak bisa menikmati malam dengan kelembutan angin, bintang dan bulan di alam terbuka. Mungkin kita akan sibuk dengan televisi atau komputer di depan kita.

Sep 19, 2011

Aku terbangun di sebuah perumahan Knightsbridge, London. Di sana aku menemukan beberapa gambar pada hp ku. Entah aku tidak benar-benar tahu bagaimana aku sampai di sana. Muncul sebuah nama dan angka yang tidak saya kenal sebelumnya.

Hari kala itu berubah malam, malam memberikan apapun yang kita inginkan: dengan mimpi. Aku cukup muda untuk mengatakan dunia harus sesuai kehendakku, harus menjadi kehidupan yang lebih baik. Namun, banyak yang mengatakan jika kamu tidak bisa melawan. Seperti London pada malam berapi itu. Pesawat seperti melompat keluar. Ini menjadi omong kosong yang tidak bekerja, London yang eksotis pada malam sebelum berubah seketika.  Sebagian orang berteriak gembira seperti orang bodoh.

Aku putus asa di tengah kekacauan itu. Aku merasa seperti akan kehilangan sesuatu yang berharga. Ibarat ribuan jendela menutup dengan begitu cepat. Semua memberikan wajah dengan mental kalah. Alam bawah sadar mengingatkan bahwa masih ada harapan. Harapan yang kita miliki begitu banyak untuk merasa baik tentang ketidak teraturan dunia.

Malam itu aku ajak para remaja minum. Memberikan sugesti untuk berpegang teguh pada kebenaran. Itulah yang hanya dimiliki sebagai laki-laki. Pada dasarnya mereka tak ingin kehilangan apa yang mereka miliki.

Kadang-kadang ketika aku sendirian aku bertanya-tanya, apakah ada mantra yang bisa menjaga saya dari melihat hal yang nyata secara terang tanpa ada keraguan sedikitpun. Mereka tidak siap kehilangan, terkadang aku juga. "Begitu menyakitkan" kata salah seorang dari remaja itu. "Tapi terkadang itu menyakitkan yang baik kata." kataku.

Saat London musim dingin dengan gedung-gedung berapi yang tak ada seorang pun berusaha memadamkannya. Mereka terlalu putus asa. Kemudian kita bernyanyi untuk melampaui hal-hal buruk. Seketika kami ambruk begitu saja. 

"ayo kita padamkan" ujar salah satu dari mereka. Dengan muka merah akibat minuman kita memadamkan api itu. Orang yang melihat kami mulai tergerak hati mereka. Gairah mulai muncu pada diri mereka. Aku merasa hidup saat itu.

Aku Menemukan diriku di dalam sebuah ruangan yang berantakan dengan berbagai macam kabel. Kabel-kabel Laptop, sound, joystick, hard disk membentuk ketidak teraturan.

Sep 16, 2011


Apa harta karunmu? Apabila yang ditanya Edward Newgate pasti dia akan menjawab "Keluarga". Dia bajak laut yang tidak memburu harta, melainkan bajak laut yang berkeliling samudra mencari orang yang diajaknya menjadi keluarga. Keluarga yang mau memanggilnya "Ayah". Dia akan melawan siapa saja yang menyakiti anggota keluarga. Bahkan mati ketika menyelematkan anaknya yang ditangkap angkatan laut.

Mengapa kau membunuh? Apabila yang ditanya Don Michael Corleone pasti akan menjawab "demi keluarga". Kepala keluarga mafia penerus marga Corleone itu tak segan membunuh siapa saja yang mengancam kehidupan keluarga Corleone, sekalipun itu kakak kandungnya.

Akhir Bulan Ramadhan menjelang awal bulan syawal lekat dalam tiap diri, sadar ataupun tak sadar dalam benak yang merayakan akan memikirkan keluarga. Tradisi maaf-memaafkan dan saling kunjung menjadi hal biasa. Dari sanalah akan diketahui keakraban sesama keluarga dan juga ... keretakannya.

Yah... keretakan. Seperti jalan yang retak dan berlubang. Kadang di pinggir, kadang di tengah atau malah keduanya. Kemudian jalan itu ditambal sulam dengan kata perbaikan bukan dengan pembuatan jalan baru. Hasilnya tentu saja mengganggu (karena bergelombang) meskipun terlihat baru.

Zaman dahulu orang berpikiran banyak anak banyak rezeki, sehingga kita seringkali melihat sebuah keluarga besar yang memiliki lusinan anak. Apalah arti lusinan anak bila anak cucu tidak saling kenal dan mengetahui apabila mereka bersaudara. Keretakanlah yang membuat para orang tua enggan mengenalkan sanak saudara mereka. Retak karena malas silaturahim dan silaturahmi.

Konteks Bernegara
Seorang teman malu, tatkala diceritakan garis keturunan. Malu karena di dalam darahnya mengalir sebuah suku yang sering kali dia ejek. Sering kali kita tdak mengetahui tentang asal usul darah yang mengalir dalam diri kita. Mungkin saja di dalam darah itu bercampur dari berbagai suku, tapi kita tidak menyadarinya. Kita menganggap saudara bagi yang jelas saja. Tanpa pernah ingin menggali lebih dalam. Kita tak perlu membenci Yahudi jika tahu kita ada darah mereka. Kita tak perlu mengejek ras tertentu bila kita memiliki garis keturunan ras tersebut. Walaupun satu tetes darah saja karena itu sama saja mengejek dan membenci diri kita sendiri.

Kerusuhan berbau SARA tak perlu terjadi ketika kita menyadari dan mengetahui bila mereka adalah keluarga. Nepotisme dapat hilang apabila kita sadar sepenuhnya bahwa kita bersaudara yang putus silsilahnya, sehingga kita saling tidak mengenal. Saling mengenal keluarga saja masih bisa berselisih apalagi jika tidak mengenal.

Sekali lagi tentang mengutamakan harta dan kekuasaan yang dibarengi dengan keengganan menjalin silaturahmi dan silaturahim menyebabkan keretakan keluarga. Berkaca dari sejarah dan cerita perihal perselisihan internal keluarga telah begitu gamblang keretakan terjadi karena itu. Bagaimana Oda Nobunaga saling berperang dengan adiknya sendiri, Oda Nobuyuki, dalam memperebutkan kepala klan Oda. Bagaimana perang saudara menenggelamkan kerajaan-kerajaan di penjuru Nusantara. Bagaimana Perang Bharatayudha terjadi oleh sesama saudara.

 Manusia yang hidup dalam negara ini adalah keluarga. Dimana saling bahu membahu untuk kesejahteraan anggota keluarga lainnya. Dimana mereka bermusyawarah untuk menyelesaiakan masalah keluarganya. Dimana perbedaan, kesenjangan, dan perselisihan itu hal biasa tetapi tidak melupakan untuk memikirkan masa depan keluarganya bukannya memilih sendiri jalan hidupnya.

***
"kenapa ayah mau membantu Pak Yadi membayar uang operasi padahalkan bukan keluarga kita?" tanya seorang anak umur 10 tahunan suatu hari. "Siapa bilang bukan keluarga kita? Semua manusia di negeri ini adalah keluarga" jawab Sang Ayah tersenyum mengusap kepala anaknya dengan lembut. "Keluarga dari mana? Enyang putri? Edi juga keluarga kita dong yah?" tanya anak itu lagi.
"Bukan dari Enyang putri tapi dari ibu enyang putri namanya Ibu Pertiwi. Edi juga keluarga kita."
"Tapi kenapa Edi masih saja nakal sama aku dan teman-teman?"
"Yah... Edi belum tau saja kalau semua orang Indonesia itu keluarga"

Dan Edward Newgate tetaap ditertawakan teman-temannya, dalam hatinya berkata "Kalian belum tahu bagaimana rasanya tidak memiliki keluarga. Karena Keluarga adalah harta karunku".
Malam selalu gelap. Segelap tinta yang senantiasa kugores pada selembar kertas yang putih dan terkadang bergaris. Dikala malam sering kali kudengar suara-suara asing yang selalu bertanya. Mungkinkah karena itu orang memilih tidur daripada bangun mendengar pertanyaan yang setiap jawaban selalu dikejar? Tak kan pernah usai tatkala pagi menyingsing menyisakan pertanyaan yang terus membekas dalam benak.

Malam tak dapat dihindari, begitu pula mempertanyakan jawaban kembali. Malam kali ini berbeda. Kali ini dia menyerang apa yang sering kulakukan dan tetap teguh kupegang. Sekali-kali dia menggoyahkan keyakinanku dengan semilir angin lembut yang membelai rambut. Dia mempertanyakan kekuatan tulisan.

"Mengapa engkau menulis?" tanya malam. "Karena menulis adalah kewajiban" jawabku. "Kewajiban dari siapa? Bukankah engkau menulis karena ambisi pribadimu?" tanyanya lagi. Pertanyaan yang langsung menohok hati. Tanpa sadar aku merasa malu sendiri dibuatnya.

"Ada amal yang tak kan terputus ketika kita mati, yakni amal jariyah, do'a anak yang sholeh, dan ilmu yang bermanfaat. Melalui tulisan kita bisa menyalurkan sebuah ilmu." jawabku dengan nada serius. "Hah!! Engkau ingin abadi? Bila engkau ingin abadi, kau melupakan-Nya!! Jikalau semua manusia musnah, siapa yang akan membaca tulisanmu? Tulisanmu hanya hidup sepanjang manusia itu ada. Munafik!" ujarnya dengan menahan geram. 

"Bukan begitu" kataku.
"Bukan begitu bagaimana? Meneruskan ilmu yang bermanfaat? Hanya ada manusia berlomba-lomba menjadi kekal lewat tulisan. Itu alibi!" bentaknya.

"Tulisan memiliki kekuatan untuk menginspirasi seseorang melakukan sesuatu, mengubah cara pandang bagi yang membaca dan sebagai salah satu cara menyampaikan sebuah kebenaran" kataku sambil meraih rokok di depanku. "Menginspirasi atau agitasi? Bukankah dengan mengubah paradigma seseorang berarti engkaau menginginkan dunia ini berjalan sesuai keinginanmu? Hebat betul kamu yah.." ujarnya sambil meraih rokok, menyalakannya, menghisap dan kemudian mengepulkan awan-awan gelap yang berarakan. "Menyampaikan kebenaran... Dengan lihainya para penulis menyusun kata yang mampu membelokkan logika yang salah menjadi benar dan sebaliknya. Kebenaran bagi otak si penulis sendiri" lanjutnya.

"Ada benarnya juga. Kertas, note, blog atau media apa pun itu merupakan sebuah lahan kosong. Lahan yang menunggu untuk kita bangun sebuah dunia baru. Meninggalkan dunia nyata kita yang telah banyak mengecewakan. Di lahan kosong itu kita bebas, sebebas-bebasnya mengeluarkan gagasan dan ide kita. Walaupun terkadang gagasan itu utopis, namun dominan orang menulis mempergunakan dunia riil sebagai fondasinya dengan memperbaiki apa saja yang salah padanya. Setelah sempurna ada kalanya dunia gagasan ditaruh begitu saja ke dunia riil." ucapku dalam hati.

"Nah!" kejutnya, membuyarkan lamunanku. "Bagaimana dunia gagasan ditaruh begitu saja ke dunia riil?" tanya malam.
"Kau membaca pikiranku?" tanyaku penuh curiga. 
"Tak bolehkah?" jawabnya.
"Tak sopan tanpa izin" kataku singkat.

"Paling tidak dengan begini aku bisa membantumu berdialektika. Tidak seperti para penulis yang memanfaatkan momen kesengsaraan bagi masyarakat yang dia jadikan objek. Masyarakat menjadi objek paling menarik untuk menuju ketenaran mereka, tanpa memberikan sumbangsih bagi objeknya itu. Kalian hanya berdiri di belakang meja." ungkapnya.

Realisasi Tulisan
Malam semakin malam. Rerumputan dengan mudah bergoyang ditiup angin semilir. Menimbulkan gemirisik khas rumput kering menanti hujan yang tak kunjung datang.

"Siapa bilang kami hanya bekerja di balik meja? Banyak juga yang turut serta merealisasikan gagasan mereka dan memberikan sumbangsih bagi objek mereka."
"Dan engkau mengetahui akibatnya kan?" malam bertanya balik. "Lihat Tolstoy mati di stasiun kereta api setelah diusir istrinya karena akan memberikan kekayaannya pada petani. Syari'ati yang dibunuh intelejen SAVAK. Rosa Luxemburg yang disiksa dan dibunuh Freikorps. Kau tahu akibatnya kan?"

"Yah. Tak perlu mereka turun lapangan merealisasikan gagasan mereka. Hanya berjuang melalui tulisan sama saja membahayakannya bergerilya di bawah tanah, itu kata Syari'ati."

"Apalah gunanya jikalau hanya menulis saja? Bagaimana bila tulisan tersebut tidak sesuai jika diterapkan karena sang penulis sendiri tidak ikut turun lapangan?" tanya malam sebelum menyeruput kopi yang aku suguhkan.

"Bukan berarti tidak berguna. Sang penulis hanya bisa menulis, belum diberi kesempatan turun lapangan untuk merealisasikannya. Meskipun tulisan tersebut tidak sesuai dengan lapangan, apabila ada yang membaca dan menyadari kekurangan tersebut kemudian membenahinya bisa bermanfaat juga tulisan tersebut." kataku.

"Hmm..." kata malam sambil manggut-manggut.
"Tanpa adanya tesis tak mungkin sintesis terjadi." ujarku sambil berdiri.
"Hei... Mau kemana?"
"Tidur. Ngantuk." ucapku dengan berjalan masuk menuju tempat tidur.
"Jam segini sudah ngantuk?" seru malam dari luar.
"Kita lanjutkan besok!" teriakku.

Dia adalah malam tak mungkin mengantuk.







Jun 23, 2011


Banyak teori mengenai penciptaan semesta. Banyak konsepsi bagaimana Tuhan menjalankan roda kehidupan. Dan tak berkesudahan sampai saat ini. Itu yang menarik umat manusia untuk mengetahui lebih dalam tentang kosmis. Dalam perkembangannya manusia menyadari semesta tidak hanya di alam material, namun juga daerah metafisik meskipun ada pula yang menolaknya karena alasan rasionalitas. Hal tersebut yang coba mereka ungkap. Berujung pada  sering muncul bagaimana menghadapi masalah ini itu, bagaimana hari mereka esok, apa pekerjaan yang cocok, apakah dia jodohku, apakah hari ini baik untuk sebuah perjalanan atau pekerjaan. Muncullah ramalan, primbon, atau feng shui dan sebagainya.


Manusia dan Ramalan
Tuhan menciptakan cosmis dengan matematika. Bisa saja Tuhan menciptakan dengan kun fayakun, tetapi Tuhan lebih menyukai sebuah proses dan keteraturan. Proses inilah direncanakan dengan sebuah rumus-rumus Tuhan yang hanya Dia Yang Tahu. Di sisi lain kita sebagai salah satu ciptaan-Nya juga dibekali akal guna berpikir. Akal sebagai awal dari rasa keingintahuan akan semua hal yang tersembunyi dan mengandung misteri di benak mereka. Keinginan manusia menjelajah cosmis dengan utuh membuat mereka bertanya-tanya rumus-rumus Tuhan. Munculnya primbon, feng shui, zodiak ataupun ramalan karena ketidak mampuan manusia menemukan rumus tersebut, sehingga mereka menggunakan probabilitas yang nilainya antara 0 sampai 1. Angka probabilitas mendekati 1 semakin pasti, hasilnya 0 tidak terjadi, dan bila hasilnya 1 pasti terjadi. Mereka menarik sebuah kesimpulan dan keputusan dari suatu fenomena yang diamati. Kebenarannya tidaklah pasti absolut karena hasil dari pencarian meraka hanya berupa frekuensi relatif terhadap sesuatu. Tuntutan untuk mempercayainya pun tidak harus disebabkan hasilnya hanyalah prediksi. Kecuali jika itu termuat dalam kitab suci karena nilai probabilitasnya 1. Kitab suci bagiku tidak hanya sebuah kitab biasa. Di dalamnya juga termuat sebuah ramalan yang gamblang, tetapi ada pula yang multi interpretasi.

Peringatan Dini
Saya percaya manusia adalah makhluk otonom (bebas dan mandiri). Kebebasan dan kemandirian yang memiliki batas merupakan wujud pemberian yang harus dipertanggungjawabkan. Satu rumus dari Tuhan untuk menghadapi probabilitas yang dihasilkan manusia. Dominan manusia malah terpaku pada hasil probabilitas manusia sendiri. Mereka hanya tahu bagaimana menghindar tanpa pernah menghadapi sebuah rumus. Saya sendiri sering menjumpai orang yang mendapat peruntungan buruk cenderung menjadi pesimis dan terpaku pada ketakutan ramalan buruk. Bahkan bila ramalan itu bagus, mereka hanya diam dan menunggu hasilnya tanpa bergerak dan mengejarnya.
Kita sering kali lupa dimana kita hidup, lantas bagaimana kita lepas pada prediksi-prediksi. Seseorang yang lahir pada tanggal sekian akan memiliki watak demikian, apabila mendirikan disini akan begini. Jadi teringat kata yang bertautan, Tidak akan diubah nasib suatu kaum jika kaum itu sendiri tidak berubah, dan Apa yang terjadi adalah hasil buah pemikiranmu karena cosmis akan merespon apa yang ada dalam otakmu. Sejujurnya ramalan, primbon, zodiak dan semacamnya adalah peringatan bagi manusia. Sejauh mana mereka menghadapi apa yang terjadi untuk mewujudkan keinginan dari diri.

Untuk Indonesia
Kondisi Indonesia yang morat marit membawa rasa ingin tahu bagaimana negeri ini di masa mendatang. Dengan ilmu metafisik, saya iseng-iseng coba melihatnya. Hasilnya... Sekitar tahun 2018-2020 atau 2018-2022 Indonesia "Panas", banyak yang ingin melepaskan diri, depresi dan ketidak percayaan yang membawa kelompok agama radikal memiliki banyak pengikut. Munculnya satria piningit sekitar tahun 2020-2024 pada saat-saat genting,menjelang aksi pembubaran negeri ini. Butuh waktu 6 tahun untuk membawa negeri ini dalam ketentraman dan kemakmuran. Munculnya Satria Piningit ini sekitar Yogyakarta dan berawalan "B" (yang pasti bukan saya karena awalan saya "I").
Boleh percaya, boleh tidak karena ini hanyalah sebuah trawangan dari alam metafisik oleh manusia yang ingin tahu masa depan negeri ini. Mungkin nilai probabilitasnya 1/1.000.000.000.

Bumi bergerak dengan pelan dan kita tak menyadarinya karena kita diam. Bergerak maju atau diam tergilas zaman.

Boyd Trayutama

NB: Mungkin Esai ini hanyalah sampah, namun dari sampah pun bisa diolah untuk menemukan solusi dari segala keluh kesah. Apabila benar-benar terjadi, anda boleh memaki saya. Tulisan ini masih dalam tahap penggodokan, belum final.

Jun 10, 2011


Judul               : Summer (Musim Panas)
Penulis             : Albert Camus
Penerjemah      : Anna Karina
Penerbit           : Liris
Cetakan           : Pertama, Desember 2010, Surabaya
Tebal               : viii + 116 halaman
Presensi           : Irfa Ronaboyd


            Albert Camus merupakan penerima hadiah Nobel Sastra termuda kedua setelah Rudyard Kipling, sekaligus penulis kelahiran Afrika pertama yang menerima penghargaan itu. Camus dan Sartre sering terhubung sebagai pendukung eksistensialisme. Pemikiran Camus mempengaruhi peningkatan arah filsafat yang terkenal dengan absurdism. Melalui Summer, Camus mempertebal arus filsafat absurdism.
            Summer memuat delapan esai jejak perjalanan pemikiran Camus sejak 1939 sampai 1953 yang akan tetap up to date. Dalam buku ini kita diajak merenung dan memaknai hidup dengan gaya tulisan puitis. Dibuka dengan esai berjudul Minotaur atau Perhentian di Oran, sebuah esai yang ditujukan untuk Pierre Galindo. Dalam paragraf pertama, Camus telah menyeret masuk dalam kehidupan orang-orang dan bahkan batu dari Oran yang berjuang menghindari menjadi bagian dari padang pasir, menjaga tetap bajik dalam menghadapi eksotis dan ganasnya alam. Ada yang menarik dari esai pertama ini, yakni sebuah pertandingan tinju di Oran. Camus ingin menunjukkan bahwa dari olahraga pun bisa didapatkan pelajaran moralitas.
            Esai kedua, Camus dalam filsafatnya terinspirasi Pohon Buah Badam. Pohon yang ditunggu Camus pada Musim Dingin bulan Februari di Vallée des Consuls. Pohon Buah Badam akan dipenuhi bunga-bunga putih yang membawa kegembiraan baginya, namun setiap tahun bunga itu akan lenyap dan cukup waktu lama untuk mempersiapkan buahnya. Kemudian dia berkata “…, melalui sifat baiknya seperti warna putih dan sari pohon buah badam, beridir tegak melawan angin dari lautan. Itulah yang akan mempersiapkan buahnya dalam musim dingin dunia.”
            “Di mana absurditas?” Tanya Camus dengan esai keenam, teka-teki. Esai ini mengajak kita berpikir dan merenung perihal ironi-ironi dalam sekitar kita. Mengungkap ketidak sederhanaan hidup dengan pertanyaan-pertanyaan tanpa henti. Secara keseluruhan esai dalam buku berjumlah delapan. Filsafat Camus dalam buku ini paling menerangi ketika kita membacanya tidak secara langsung. Sebuah cara yang bagus untuk mencelupkan jari kita ke dalam esai Camus, sebelum menenggelamkan pikiran dan jiwa kita dalam karya-karya Camus lainnya yang lebih menantang.