Ronaboyd Mahdiharja

Sebuah goresan nan Pribadi mengenai metamorforsis dalam alam pemikiran perjalan menjadi manusia.

Aug 28, 2014



Pemain           : Scarlet Johansson, Morgan Freeman, Min-Sik Choi, Amr Waked
Sutradara       : Luc Besson
Naskah           : Luc Besson
Durasi             : 89 Menit

We humans are more concerned with having than with being

            Sinopsis sebuah film terkadang melebih-lebihkan atau justru sebaliknya. Selain trailer dan poster, sinopsis juga bagian penting dari marketing sebuah film. Untuk saya pribadi, ada kalanya saya melihat sinopsis terlebih dahulu baru kemudian trailer dan pemainnya. Namun, ada kalanya juga saya tak perlu membaca sinopsis dan melihat pemain yang masuk dalam daftar saya nilai memiliki akting bagus. ScarJo dan Morgan Freeman adalah pemain yang masuk dalam daftar saya dan inilah alasan saya menonton LUCY. Semenjak menonton Lost In Translation kemudian Match Point saya mengikuti film-film ScarJo sampai HER (meskipun cuma suara doang tapi asyik juga) dan Under The Skin. Shawsank Redemption lah yang memperkenalkan saya dengan Morgan Freeman dan film-film yang Ia bintangi memiliki kisah yang menarik serta memiliki twist ending. Selain Shawsank Redemption, ada Se7en, Million Dollar Baby, Trilogi Batman karya Christoper Nolan, Now You See Me, Wanted dll.
            Saya tak akan menguraikan sinopsisnya kembali karena itu membuang waktumu dan waktuku. Anda bisa membacanya sendiri pada website dan situs yang anda percaya. Langsung saja, Ok! Ide dasarnya adalah peningkatan kemampuan otak manusia melalui obat jenis baru. Manusia digambarkan hanya mempergunakan 10% kemampuan otaknya, dan bisa melakukan sesuatu yang spesial jika mempergunakan lebih dari itu. Tidak lebih bagus dari film Limitless, tapi ini lebih luas jangkauannya karena terdapat bumbu terkait kehidupan dan tujuan manusia. Pada awal film cukup bagus dengan selingan-selingan deskripsi evolusi dan adegan binatang yang cukup menggelikan. Karakter Lucy sendiri mengalami perubahan yang dari awalnya seorang gadis yang polos dan suka berpesta menjadi lebih tenang dan agresif (cenderung primitif/bar bar). ScarJo mampu membawakan karakter Lucy dengan baik pada awal sampai peertengahan, sedangkan dari pertengahan sampai akhir saya seperti melihat Black Widow. Morgan Freeman pun tidak mendapatkan porsi yang banyak dan karakter yang dibawakannya memang tidak berkembang. Min-Sik Choi dan Amr Waked lumayanlah tapi tidak benar-benar membantu.
            Sejak menit awal kita diberikan ketegangan dan berbagai pertanyaan muncul dalam benak kita. Ketegangan sedikit mengendor ketika fokus kita tidak lagi pada Lucy, melainkan lebih pada penjelasan ilmiah. Menjelang ending cerita nampak kedodoran dan dipaksakan. Tidak ada yang istimewa dari adegan ketika Lucy dapat mempergunakan kemampuan otaknya lebih dari 10% karena kita dapat menemukannya pada film-film X-Men. Atau lebih tepatnya jika Luc Besson tak jeli mengeksplorasi kemampuan Lucy dengan adegan yang bisa dikenang pada penonton.
            Saya menyukai humor yang disisipkan Luc Besson, terutama Black Humor yang dapat ditemukan dari dialog antara Lucy dengan Pierre Del Rio ketika Lucy menyetir mobil.
Pierre Del Rio: “I'd rather be late than dead.”
Lucy: “We Never Really Die”
Perhatikan saja ekspresi Pierre ketika mendengar jawaban Lucy. Sepertinya sang sutradara memang ingin sedikit mengurai ketegangan yang dibangunnya dengan menyelipkan beberapa klip personifikasi yang sesuai dengan situasi yang terjadi, terutama pada awal film dan bagian penjabaran immortality and reproduction (nah, yang ini si Besson dapat video itu darimana coba? Hehehe)
            Bagi mayoritas penonton pasti berpikir bahwa ada kesan menyeret Lucy menjadi Tuhan, namun jika demikian akan membuat lubang dalam cerita dan menarik pertanyaan yang mendasar “Apa yang terjadi jika semua manusia mampu mengoptimalkan 100% otaknya? Mengapa manusia harus memiliki hati? Lantas siapa yang menciptakan seluruh alam semesta dan kemampuan manusia yang begitu luar biasa?” Tiada penjelasan dalam film dan inilah yang menjadi salah satu ciri scifi. Lucy mengalami fase dimana kehilangan rasa sakit, takut, dan hasratnya. “Everything that makes us human, begins to escape. I feel less human.” Saya salut terhadap keberanian Besson dalam memasuki wilayah absolut dengan menciptakan karakter Lucy. Mustahil manusia memasuki wilayah absolut karena harus menghilangkan kemanusiaannya dan memandang semua rasa adalah sama yang tiada bedanya. Yang bisa dilakukan manusia adalah menyeimbangkan anugerah yang telah diberikan baik hati, jiwa, rasio bahkan indra. Pada tataran absolut, semua pertentangan/ironik/paradog harus dirasakan secara bersamaan dalam satu waktu sehingga upaya apapun manusia mencapainya adalah mustahil. Inilah yang membuatku menyukai genre scifi (truly scifi, bukan yang abal-abal) dibandingkan genre lainnya.
Lucy: “Time is the reason for its own existence, the ultimate measure. It attributes its existence to matter. Without time, it does not exist.”
            Berbicara tentang waktu teringat surat al-Ashr yang berbunyi “Demi masa (1) Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian (2) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran (3)”. Jadi, jangan sia-siakan waktu. Saatnya kembali fokus pada tesis. CU!!

Aug 27, 2014

    
            Suntuk mikirin tesis mending mengenang masa kecil dan komik. Pada dasarnya komik selalu lekat dengan anak-anak. Orang dewasa yang suka membaca komik kecenderungan ketika kecil sudah suka dengan komik. Jarang sekali saya temukan pemula yang mencintai komik secara tiba-tiba ketika dewasa. Sejak kecil sampai saya sudah kelar kuliah masih saja suka membaca komik. Pada kali ini saya tidak akan membahas tujuan orang membaca komik atau menyelidiki fase pecinta komik, namun saya hanya ingin mengenang beberapa komik yang kelak layak untuk terus dicari oleh pecinta komik meskipun beberapa tidak pernah lagi muncul di televisi ataupun dicetak lagi.
1.        Doraemon
Karya Fujiko F. Fujio ini benar-benar ikonik untuk anak kecil dan bahkan menciptakan pecinta Doraemon lintas generasi. Fantasi, teknologi, keinginan, persahabatan, edukasi membuat komik ini selalu direkomendasikan untuk anak-anak oleh orang dewasa. Saya tidak pernah tahu persis berapa kali komik ini dicetak ulang oleh Elex Media Komputindo. Tidak ada volume tamat dalam komik ini dikarenakan pengarangnya yang telah meninggal dunia, sehingga endingnya pun mengambang. Ada kabar jika film Doraemon Stand By Me adalah ending dari serial Doraemon.

2.        Dragon Ball
Mangaka Akira Toriyama sukses membawa Son Goku dkk menjadi idola bagi anak pria. Genre Fighting yang diusung benar-benar menjadi contoh bagi genre sejenis untuk menyami kesuksesan Dragon Ball. Bahkan adapula yang mengatakan bahwa Dragon Ball adalah gerbang manga merajai dunia komik. Lihat saja karakter utama dalam Naruto dan Bleach (ichigo) yang terinspirasi oleh karakter dalam Dragon Ball. Walaupun sepertinya sudah tidak dicetak ulang tetapi komik ini masih banyak diburu.

3.        One Piece
Adventure Never End. Well, ini serial komikku yang sampai saat ini belum TAMAT. Ini adalah Legenda Hidup komik modern dan mungkin sangat sulit/mustahil menyamai rekor yang ditorehkan Eiichiro Oda dalam menciptakan alur, tokoh, dan kisah yang seru, lucu, penuh nilai. Petualangan Monkey D. Luffy masih berlanjut untuk mendapatkan One Piece dan menjadi Raja Bajak Laut.

4.        Sylphid
Jarang-jarang ada komik yang membahas tentang kuda pacu dan bagus. Mungkin kamu masih memfavoritkan Mars atau Makibao, tetapi Sylphid lebih komplit menurutku. Dari segi hubungan antara joki dan kuda pacunya yang mengharuka. Yaaah, walaupun cover komik ini sebenarnya tidak mengundang nafsu untuk membaca tapi ternyata kereeeen!

5.        Detective Conan
Satu lagi komik trendsetter bergenre misteri dan detektif di Indonesia. Meskipun di Jepang Detektif Kindaichi lebih dahulu, ternyata Conan lebih sukses daripada pendahulunya. Mungkin disebabkan tokoh dalam Detective Conan menyertakan anak kecil dan kasus-kasusnya tidak sesadis Kindaichi. Alhasil kita akan menemukan banyak sekali komik-komik detektif serupa. Masih On Going nih komik. Oh, ya. Saya berasumsi jika Aoyama Gosho mengambil nama penulis novel series terkenal Sherlock Holmes, Arthur Conan Doyle sebagai tokoh utamanya.

6.        Samurai X
Komik samurai favorit saya. Komik ini merupakan pintu gerbang yang memperkenalkan sejarah Jepang pada saya. Nobuhiro Watsuki sebagai mangaka mampu memberikan konflik dasar pada setiap pertarungan Kenshin Himura, yaitu tidak boleh lagi membunuh sehingga Ia memakai pedang bermata tajam terbalik, Sakabatou. Sebenarnya saya mengenal Samurai X dari anime yang ditayangkan oleh SCTV, tetapi di dalam anime yang saya lihat berhenti sampai melawan Shishio Makoto. Original Soundtrack anime Samurai X sendiri masih menghiasi koleksi OST anime saya, mulai opening Sobakasu (Judy & Mary) sampai ending Dame! (You Izumi). Tak lupa Heart Of Sword (TM Revolution) dan Its Gonna Rain (Bonnie Pink). Mengapa komik ini akan terus dicari para penggemar komik Indonesia? Karena inilah komik legend samurai yang dikenal oleh masyarakat kita, meskipun ada Vagabond yang lebih sadis dan menarik. Komik ini sudah tak dicetak kembali dan dalam forum-forum pencinta komik dan bazar buku selalu dicari. Komik pertama yang saya baca berformat kanan-kiri.

7.        Kungfu Boy
Siapa yang tak kenal ahli Kungfu fantasi Chinmi dari kuil Dairin? Ketika masih kecil saya sering bermain tarung-tarungan dan selalu mengambil Chinmi sebagai karakter bertarung. Jurus andalan saya waktu itu adalah Jurus Peremuk Tulang untuk menghadapi laser Ultraman, Pedang Mataharinya Ksatria Baja Hitam RX, atau Megazordnya Power Rangers. Alhasil saya sering kena marah karena membuat menangis teman. Hehehe… Dengan alasan Chinmi lah saya tertarik ikut Karate, meskipun tidak nyambung karena yang penting saat itu dalam benak anak kecil saya “Saya harus lebih kuat dari Ultraman, Power Rangers, KBH RX, atau Gundam.” Banyak pembelajaran yang bisa dipetik dari serial komik ini. Eksistensi komik ini masih dapat ditemui pada toko buku dengan edisi baru.

8.        Paman Gober
Sebetulnya banyak juga komik non Jepang yang beredar pada saat saya masih kecil dan pernah saya baca misalnya Spiderman, Batman, Superman, G.I. JOE, Tintin, Asterix, Si Bob Napi Badung, Mickey Mouse, dan Donal Bebek dll. Terdapat beberapa argumentasi mengapa saya memasukkan satu saja komik non Jepang. Pertama dalam segi cerita yang lebih menarik dan tidak monoton. Rata-rata komik-komik non jepan memiliki alur cerita yang simpel tapi monoton untuk terus diikuti serinya. Kedua dalam segi gambar yang memiliki karakter dan menancap kuat dalam benak anak-anak. Kualitas gambar komik non Jepang lebih rumit, rame, dan ruwet yang terbanding terbalik dengan komik-komik Jepang (anak kecil suka menggambar tokoh dalam komik yang tidak rumit). Ketiga dari segi hikmah yang dapat diambil dari para tokoh maupun ceritanya. Satu ini saya tak perlu menjelaskannya karena kalian bisa merasakan perbedaannya sendiri. Keempat dari segi harga. Komik non Jepang memiliki harga yang lebih mahal dibandingkan harga komik Jepang. Kelima adalah distribusinya. Distribusi komik Jepang lebih merata dibandingkan non Jepang. Bahkan saya menemukan banyak jilid-jilid komik non Jepang dijual tidak teratur. Selain itu, cukup sulit menemukan komik-komik keluaran Marvel ataupun DC Comic di kota-kota kecil. Apalagi anak-anak tak perlu membeli komiknya karena sudah ditayangkan televisi, berbeda dengan komik Jepang yang penayangan animenya terkadang terlambat. Lantas mengapa Paman Gober? Walaupun Paman Gober kurang terkenal dibandingkan karya Walt Disney lainnya, tetapi ada muatan edukasi dan petualangan yang ditawarkan. Di samping itu juga terkadang Donal Bebek, Mickey Mouse, atau Goffy juga masuk dalam cerita.

9.        Breakshot
Satu lagi karya Takeshi Maekawa selain Kungfu Boy. Komik ini tak lazim, cuy! Saya belum menemukan lagi komik yang yang berkisah tentang Bilyar dan tokohnya punya jurus lagi. Hahahaha… Anehnya nama tokoh utamanya juga Chinmi, saya kira Takhesi Maekawa ini kehabisan nama untuk karakter utamanya dan ternyata nama Chinmi dalam komik ini bukan asli dari Takeshi melainkan dari penerbit Indonesia. Banyak juga sih nama karakter asli disesuaikan oleh penerbit dari negara penerjemah seperti Milo menjadi Snowy, atau Shiro menjadi Si Putih. Nama asli tokoh dalam Break Shot adalah Oda Shinsuke. Tema Bilyar memang susah untuk dibuat dan menjadi booming, tetapi Takeshi mampu memberikan pemahaman tentang Bilyar dari peraturan sampai teknik-tekniknya walaupun agak irrasional juga terkadang.

10.    Crayon Sinchan
Mangaka Yoshito Usui sudah berpulang, tetapi tokoh yang bernama asli Nohara Shinnosuke meski banyak kecaman masih memiliki banyak penggemar setia. Si Trouble Maker ini anak TK yang terlalu dini tumbuh dewasa. Walaupun kurang ajar dan lucu perlu perhatian orang tua jika anak anda memegang komik ini. Setidaknya dengan membaca komik ini anda memiliki gambaran cara preventif untuk mengatasi kenakalan anak anda. Ony Syahrial sebagai Seiyu mampu membawakan karakter Shinchan dengan sempurna.



Bonus
Kungfu Komang

Asli deh kocaknya. Semua kekonyolan yang sering muncul dalam komik ataupun televisi ditampilkan dengan segar. Perlu dicatat bahwa ini bukan karya Jepang atau Tiongkok melainkan Korea Selatan. Tokohnya pun unik-unik dan asyik, terutama Mekanin dan Kulpang. Sayangnya komik ini sudah langka diperedaran komik bekas maupun di toko buku. Jika anda memiliki edisi komplitnya bisa menghubungi saya, jika harganya terjangkau. Hehehe…

Aug 14, 2014

            Banyak pertanyaan yang diajukan perihal film pada saya. Dari berbagai pertanyaan tersebut rata-rata menanyakan film dengan genre science fiction/scifi/fiksi ilmiah. Fiksi ilmiah dapat diartikan sebagai sebuah genre yang mengedepankan khayalan imajinasi pembuat dalam merajut kisah/cerita yang mengajak kita untuk berpikir atau kontemplasi terhadap berbagai permasalahan yang melibatkan teknologi ataupun ilmu pengetahuan, walaupun ilmu pengetahuan tersebut belum teruji secara ilmiah. Lantas apa bedanya dengan genre fantasi? Fantasi adalah bagian kecil dari scifi yang tak memerlukan penjelasan ilmiah, pemikiran atau kontemplasi. Intinya, genre fantasi tinggal tonton saja tanpa berpikir keras atau bingung karena alur yang njlimet. Perkembangan film yang pesat membuat genre fantasi dan scifi menipis karena ada kecenderungan industri film lebih menekankan pada faktor finansial sehingga menghasilkan film yang laku di pasar. Selain itu, rata-rata penonton menonton film memiliki tujuan yang berbeda dan dominan mereka menonton untuk menghilangkan penat alias refreshing.
             Kita dalam memahami genre scifi perlu memerhatikan beberapa hal sebagai berikut:
1.    IPTEK
       Kita tak perlu repot untuk membuktikan fantasi pembuat film perihal teknologi atau ilmu pengetahuan yang dikemukakan. Disebabkan oleh rata-rata IPTEK yang ditonjolkan belum ditemukan atau belum teruji ilmiah dalam dunia nyata. Ikuti saja argumentasi pembuat film dalam membangun cerita. Biasanya terdapat konflik antara manusia dengan hasil ciptaan iptek (jadi teringat kerumitan konflik dalam film HER).
       Perhatikan poin-poin dalam iptek yang dibangun agar mengerti jalannya cerita. Meskipun terdapat istilah-istilah yang rumit atau tidak dipahami catat baik-baik dan cari tahu ketika film sudah berakhir (jika nonton di bioskop, bila di laptop kamu dapat pause). Hitung-hitung menambah perbendaharaan kosa kata, siapa tahu dalam film lain muncul kembali. Film yang menonjolkan IPTEK (terutama komputer/teknologi yang memiliki kemampuan cerdas sebagai antagonis) lebih mudah diikuti karena kuncinya terdapat menjelang akhir film.
2.    ALIEN dan LUAR ANGKASA
       Alien dan luar angkasa dapat dikatakan sebagai trademark dari scifi. Keberadaan alien dan luar angkasa yang misterius menjadi lahan yang subur untuk para sineas mengeksplorasinya dalam scifi. Secara garis besar ada alur dimana alien dan manusia bermusuhan (ex: ALIENS, Pacific Rim, Starship Troopers dll), namun juga terkadang makhluk luar angkasa tersebut bersahabat dengan manusia (Guardian Galaxy, Star Trek, Godzilla dll).
       Penjelajahan manusia ke luar angkasa pasti memiliki konflik cerita yang beragam. Setidaknya kita bisa mengambil hikmah dalam film ini. Ada kalanya ketamakan manusia mengakibatkan kerusakan alam semesta, namun tetap muncul juga kehumanisannya. Kita bisa ambil contoh ambisi dan ketamakan manusia dalam film Avatar, Enders Game ataupun Planet The Apes Saga.
       Bila kamu menemui kisah alien dan luar angkasa tak perlu terlalu panik karena pada dasarnya kisah ini mayoritas mudah diikuti hanya sedikit membuat gemas. Jangan terlalu banyak bertanya dimana asal dan terciptanya alien karena setting cerita alien sudah ada seperti itu adanya. Pada kasus-kasus tertentu mungkin bisa ditemukan film yang membutuhkan pemikiran dan kontemplasi terutama ada beberapa film yang berargumentasi bahwa manusia adalah ciptaan alien (Jangan emosi). Kamu bisa melihatnya dalam Prometheus dan Alien VS Predator. So, jangan ditelan mentah-mentah.
3.    Waktu
       Waktu menurut saya sangat penting karena kita tidak bisa kembali pada lampau. Kondisi inilah yang dimanfaatkan dengan alur yang cukup rumit dan penuh konflik. Baik itu konflik dalam mengubah sejarah atau hidup seseorang. Jika kita membuat film scifi dengan tema waktu memiliki potensi untuk membuat lubang dalam cerita. Kerumitan dan kisah yang membutuhkan analisis membuat tema ini lebih menarik dibandingkan yang lain.
       Para sineas tatkala mengangkat tema ini pada genre scifi akan memanfaatkan teknologi mesin waktu atau kemampuan seseorang dalam berpindah waktu. Tema mesin waktu dapat kamu lihat dalam film Back To The Future, Butterfly Effect, Déjà vu, Time Machine dan masih banyak lagi. Sedangkan kemampuan seseorang untuk berpindah waktu bisa ditonton lewat Hiro dalam serial Heroes. Dampak pada kisahnya pun berbeda. Ada beberapa teori dalam perumusan kisah perihal waktu, yaitu:
a.       Saling Berpengaruh
Tokoh yang datang pada masa tertentu keberadaannya memengaruhi kondisi dan sejarah masa si tokoh. Ada kepentingan sang tokoh untuk mengubah situasi di masa lalu atau masa depan.

b.      Tak Ada Pengaruh
Masa lalu dan masa depan tidak memiliki pengaruh apapun ketika tokoh datang pada masa itu. Waktu berjalan sendiri-sendiri tanpa saling memengaruhi. Ada kepedulian sang tokoh terhadap orang-orang yang dia kenal/cinta dalam hal ini untuk belajar dari kejadian pada masa sang tokoh.

Jul 19, 2014


  
Well, kapan lagi saya membicarakan sebuah album yang penting untuk grup band kesukaanku: Coldplay!! Sejak album Parachutes sampai Viva la Vida or Death and All His Friends memberikan nuansa yang mampu membangkitkan semangat. Namun, semenjak Mylo Xyloto memiliki atmosfer yang synthy dan di beberapa bagian sangat upbeat justru membuat saya agak tidak tertarik. Seperti ada keinginan melakukan evolusi musikalitas dalam diri Coldplay. Sayangnya pada saat album tersebut dirilis, synthesizer sudah dipergunakan band-band lain dua tahun sebelumnya. Sesuatu yang terlambat.
Pada akhirnya album Ghost Stories muncul dan menarik perhatianku. Pertama kali dengar lagu Magic saya tak sadar jika lagu tersebut dinyanyikan Coldplay. Kentalnya bunyi ambient pada beberapa lagu dengan percobaan drummer Will Champion melalui dentuman lembut synth perkusi. Musik chillout dan balad selaras dengan nada sendu Chris Martin cocok untuk merileksasikan pikiran kita. Jangan lupa sambil ngawang menghitung para mantan pacar atau mengenang waktu bersamanya. Tapi jangan sampai mewek, ntar malah jelek. :p
Saya benar-benar kaget dan tertegun dengan musik yang diusung Coldplay. “Kok Coldplay galau dan gelap banget lagu-lagunya, meskipun sejak dulu begitu tapi gak begini banget. Wah ikut-ikutan band Indonesia nih..” Lirik dari True Love membuat menyanyat hati,
So tell me you love me
If you don’t,
Then lie, lie to me
Call it true, call it true love…

Melihat judulnya, True Love, ada deskripsi mengenai cinta sejati yang romantik. Tapi, Anjriiit… lirik yang mengemis brooo! Setidaknya A Skyfull of Stars memberikan semangat sedikitlah. Sebenarnya lagu ini masih kalah dengan Speed of Sound dan Viva la Vida, namun menjadi keren karena satu album mellow. Oh, iya vocal Chris Martin disini nampak banget falsetto Chris Martin yang rendah kesenduan tetapi catchy abis.
I don't care, go on and tear me apart
I don't care if you do, ooh…

O dan Ocean adalah lagu yang mengistirahatkan telinga kita dengan bunyi-bunyi elektronik dan diganti dengan musik akustik yang melankolis. Mengingatkan saya dengan album Parachutes. Dentingan piano yang saya rindukan hadir pada lagu O. Saya bertanya-tanya, mengapa harus O? Mengapa tidak Fly On saja? Lagu yang mempersonifikasikan burung dengan cinta ini patut dicurigai. Hehehehe…
Setelah memutar berulang kali satu album Ghost Stories baru tahu jika Chris Martin bercerai dengan Gwyneth Paltrow. Baru nyadar kayak ditampar. Pantesan dikasih judul O, mungkin ada yang kangen ma hahahaha… Album ini cocok untuk yang lagi broken heart, saya yang sedang berbahagia merasakan biasa-biasa pada album ini. Akan tetapi, kedukaannya kental terasa di sepanjang lagu.



Jun 14, 2014


            Kepala ini terasa panas dan ingin meledak tatkala berminggu – minggu bergumul dengan tugas dan buku. Sesekali terselip keinginan untuk nggembel lagi. Hanya bermodal ransel dan gitar, nggandol truck atau pick up. Ternyata kawan – kawan sekelas ada rencana wisata. “Asyik juga, nih.” pikirku. Rencana ke Karimun Jawa batal dan dialihkan ke Pacitan. Dahiku agak mengkerut mendengar Pacitan. Yah, dulu waktu tour Jawa cuma lewat dan singgah sebentar. Kesanku pada saat itu adalah kabupaten yang miskin dan penuh batuh kapur. Nampaknya, liburan ke Pacitan terancam batal karena hanya beberapa teman yang ikut. Namun entah kenapa tiba – tiba beberapa kawan nekat juga memutuskan untuk berangkat. I like it. My journey always better with planless.
            Kami berangkat tengah malam dari Semarang. GPS kami hidupkan karena memang perjalanan ini buta terhadap daerah yang kami tuju. Rencana awal adalah menikmati sunrise di Pantai Klayar. GPS langsung menunjuk Pantai Klayar Pacitan dan pukul empat menjelang subuh GPS sudah menyatakan Pantai Klayar hampir sampai tujuan. Apesnya kami masuk perkampungan yang memiliki jalan sempit. Kami berputar – putar dan tersesat. Tak ada orang yang bisa ditanya arah. Sampai pada akhirnya kami dinyatakan oleh penduduk bahwa kami salah jalan alias tersesat.
            Mobil dipacu agar kami masih sempat menikmati sunrise. Di tengah perjalanan kami kembali bertanya pada muda mudi yang kemudian diarahkannya kami ke jalan yang jauh lebih sesat. Sekitar satu setengah jam kami melewati jalan yang buruk dan sempit. Berulang kali jantung berdetak kencang tatkala jalan yang kami lalui sempit dan terbayang mobil jatuh ke jurang. Dalam hati saya sempat jengkel pada muda mudi yang kami tanyai.
            Finally, kami sampai juga ke Pantai Klayar. Tetapi sunrise udah tak bisa dinikmati karena matahari sudah keluar dari ufuk. Setidaknya kami terobati dengan pemandangan di Klayar. Dengan hamparan pasir putih, eloknya air biru, kokohnya karang-karang dan deru ombak Samudra Hindia. Pantai Klayar memiliki seruling laut yang memuncratkan air dari sela – sela karang layaknya air mancur. Sayangnya di Pantai Klayar sulit untuk berenang karena ombak dan karangnya yang tajam. Berhati-hatilah anda jika ada niat untuk berenang disana. Anda bisa masuk ke batu karang Spinx jikalau ada petugasnya. Biasanya petugasnya datang tengah hari sekitar pukul sepuluh sampai dua belas. Di Batu Karang ini kamu bisa melihat seruling laut dari dekat. Biaya masuknya sekitar dua ribu per orang.
Batu Karang Spinx dari jauh
Karang Spinx dari dekat

            Pemandangan dari atas bukit patut kamu coba untuk melihat Pantai Klayar dengan view  berbeda. Tidak terlalu jauh kamu berjalan. Di samping jalan masuk Batu Karang Spinx terdapat jalan kecil menuju bukit. Dari atas bukit pu terdapat jalan menuju pantai lain dibalik Pantai Klayar, tapi disana agak berbahaya karena gelombang yang besar sampai melewati pasir dan menghantam dinding karang. Di bukit kamu juga bisa melihat seruling laut menyemburkan air dari kejauhan.
Pantai Klayar dari Bukit

Seruling Laut dan Karang Spinx nampak atas

            Perjalanan selanjutnya ke Goa Gong. Goa yang konon terindah kedua di Asia setelah Goa Maharani di Lamongan. Berbicara Pacitan pasti tak luput dari Goa karena klaimnya adalah kabupaten 1001 Goa. Goa ini dinamakan goa Gong karena di dalam goa terdapat batu yang bila dipukul mengeluarkan bunyi seperti Gong. Nah pada perjalanan kali ini aku hanya masuk sebentar. Kipas angin yang dipasang ternyata mengalahkan pengap dan panas di dalam. Terlebih rasa lelah masih terasa dan paru – paru yang penuh asap rokok. Disini kamu bisa menyewa lampu dengan harga lima ribu.
            Setelah ke Goa Gong kami berencana ke Pantai Banyu Tibo, namun kami harus balik arah menuju jalan Pantai Klayar lagi. Perlu kamu ketahui bahwa Goa Gong, Banyu Tibo, dan Pantai Klayar masih satu jalur. Dikarenakan pada awal perjalanan kami yang benar: benar-benar tersesat- Goa Gong tidak kami lewati lebih dahulu. Setelah keputusan diambil, kami akan kembali ke Banyu Tibo esok hari.
            Dan tujuan wisata terakhir hari itu adalah Pantai Teleng Ria. Dari referensi internet yang kami ketahui bahwa pantai ini wajib dikunjungi. Pemandangan dari atas pantai Teleng Ria cukup memesona dengan teluk Pacitan sebagai view nya. Sesampainya disana, kami kecewa dengan kondisi pantai yang kotor dan tidak semenarik Pantai Klayar. Meskipun begitu banyak pula wisatawannya dan beberapa turis manca negara. Seandainya pantai ini bersih dan asri mungkin masih cantik. Bedanya pantai ini memiliki ombak yang tidak sebesar Klayar sehingga bisa dipergunakan untuk berenang. Rasa lelah setelah dari Pantai Klayar dan Goa Gong tidak menarik minat kami untuk bermain di Pantai Teleng. Kami hanya duduk dan menikmati sore sembari makan nasi tiwul dengan ikan bakarnya, tak lupa kopi hitamnya cukup mengobati kekecewaan kami.
Nasi Tiwul+Ikan Bakar+Kopi

Teleng Ria

Sore di Teleng Ria

           Beruntunglah kami yang dapat menginap gratis pada kediamannya temannya teman di desa Sidomulyo Kecamatan Ngadirojo. Jalan menuju lokasi sangat bagus dan mulus sedikit jalan yang rusak (nampaknya ada peran presiden kita dalam membangun Pacitan). Mungkin karena jarang dilewati truck atau kendaraan berat lain. Jalan berkelok dan naik-turun yang menjadi ciri khas jalan di Pacitan kami lalui dengan lancar. Mata kami seakan terpesona dengan pantai yang kami lihat dari pinggir jalan. Pantai ini sepertinya masih belum cukup dikenal oleh wisatawan. Ada kesepakatan tak tertulis kami untuk mengunjungi pantai tersebut esok hari. Setelah mandi, nge-teh  dan makan malam tubuhku tumbang karena lelah dan ngantuk. Rekor tidur cepatku sampai saat ini pukul 19.30 sudah tidur pulas.
            Esok paginya kami lanjut ke pantai yang kami ingin kunjungi. Pantai itu bernama Pantai Soge. Suasana masih sepi dan hanya beberapa orang yang kemah di pantai tersebut. Tidak ada warung maupun sesuatu yang biasa kami temui layaknya wisata pantai karena pantai ini nampaknya masih belum banyak dijamah pengunjung. Pemandangan yang menakjubkan dengan gulungan ombak yang lumayan besar di pagi hari. Sedikit karang yang kami temui disana sehingga aman di kaki, namun entah dengan gelombangnya. Matahari nampak di belakang kami yang muncul dari balik tebing dengan pepohonan yang menjulang tinggi.
Jalan Raya Pantai Soge

Pagi di Pantai Soge

Masih Sepi Pengunjung dan Pedagang

Kamera yang tak mampu menjepret pemandangan yang ciamik

Soge: matahari di balik bukit

            Puas bermain di Pantai Soge, kami akhirnya pulang. Nah, dalam perjalanan pulang terjadi diskusi apakah akan kembali ke Banyu Tibo ataukah melanjutkan wisata ke Tawangmangu, Solo. Pendapat yang ingin ke Tawangmangu adalah karena jika ke Banyu Tibo jalan disana macet karena bertepatan hari minggu. Apalagi akses jalan kesana yang kecil sehingga ada kekhawatiran ketika berpapasan dengan mobil atau bus dari arah berlawanan. Argumentasiku dalam posisi ini adalah Banyu Tibo adalah ke Tawangmangu dari Semarang cukup dekat sehingga kapanpun bisa kita kesana (selain itu karena saya sudah pernah kesana hehehe), namun ke Pacitan belum tentu. Selain itu di Banyu Tibo kita juga bisa memperoleh wisata air terjun. Air terjun? Yap. Disitulah menariknya pantai ini. Air terjun yang berdekatan dengan pantai. Sangat menggairahkan! Kesimpulannya adalah kami ke Banyu Tibo dengan catatan jika macet kami akan berputar arah menuju Tawangmangu.
            Ketika menuju lokasi kami tidak menemui kemacetan, hanya beberapa kali berpapasan dengan mobil dan bus yang membuat hati kami berdegup. Jalur ke Banyu Tibo sangat kecil. Cuma cukup untuk lewat satu mobil saja. Bus dan elf dkk tidak akan bisa melewati jalan setapak perkampungan yang menuju lokasi. Saran saya pergunakan mobil atau sepeda motor untuk menuju kesini. Wisata adrenalin kami terbayar ketika melihat Pantai Banyu Tibo. Segala Puji Bagi Tuhan Yang menciptakan semesta dengan segala isinya. Disinilah kami bermain air sepuasnya. Let’s Rock!
Air Terjun Mini Banyu Tibo

Pantai Banyu Tibo

Deburan Ombak Banyu Tibo

Gaya Bentar aaah

Rock Well hwekekeke

View Atas Banyu Tibo

            Dari informasi yang saya peroleh, pantai Banyu Tibo baru ramai pada awal tahun baru 2014 dan diresmikan untuk dikelola sekitar dua bulanan. Tidak heran jika tempatnya masih bersih. Walaupun kecil dan sempit tapi seru bermain-main air di pantai ini. Ada air terjun dan pantai pilih yang mana terserah anda. Pengawas pantai menambah rasa aman karena terkadang ombak menghantam bibir pantai sampai ke pinggir tebing. Maklum saya tak bisa berenang.
            Banyu Tibo adalah tujuan akhir kami di Pacitan. Sebuah liburan dua hari yang sikat dan cukup menghilangkan penat di kepala. Pacitan yang saya kunjungi kali ini berbeda jauh dengan Pacitan yang dulu saya singgahi. Banyak yang berubah. Mulai dari kondisi jalan yang bagus dan sepertinya sudah tertata rapi. Menariknya, harga-harga di daerah wisata tidak semahal kebanyakan tempat wisata. Kadang kita menemukan tempat wisata yang pedagang – pedagangnya mematok harga yang ngemplang. Harga barang maupun makanan masih normal. Saya dapat pesan dari orang setempat jika menuju lokasi wisata jangan terlalu mengandalkan GPS karena sering menyesatkan mengingat jalan baru menuju lokasi  wisata yang tidak terdaftar pada GPS. Disamping itu, terdapat beberapa lokasi yang miskin sinyal. Ada keinginan lain hari untuk mengunjungi Pacita lagi. Let's Rock!!!

Jun 2, 2014


            Tubuh ini menggigil sekaligus gemas acap kali membaca berita ataupun menonton berita akhir-akhir ini. Tiada bahasan lain selain permasalahan politik. Ditambah sosial media yang kian mengakar memberikan kabar, gambar, dan pesan yang emosionil. La decima, kegagalan tim Thomas & Uber hanya bertahan beberapa hari saja dan kalah telak dengan manuver-manuver politik pra pilpres. Kepemilikan media massa membuat elemen jurnalisme terlihat tidak relevan dalam memenuhi hasrat masyarakat. Situasi ini disebabkan karena politik menjadi perbincangan yang menarik tiap elemen masyarakat mulai dari kafe kelas atas sampai warung kopi pinggir jalan.
            Sudah puluhan tahun yang lalu Chomsky mengkritik kuasa media massa karena peran propaganda dan keberpihakan pada politik. Muncullah apa yang dikatakan Chomsky bahwa berita adalah olahan fakta dari dapur redaksi. Kondisi makin semrawut dengan munculnya web 2.0 dan “adik-adiknya”. Tim cyber dikerahkan untuk menyerang, bertahan dan menyerang balik isu maupun wacana yang dilempar. Baik dengan kecaman atau bahkan melalui humor. Ini lebih dahsyat dari penggambaran ‘World is Flat’nya Thomas L. Friedman dimana persaingan tidak hanya melibatkan individu dalam dunia maya, melainkan sudah masif dan sistematis. Potensi konflik dari dunia maya ke nyata makin besar.
            Berita maupun opini yang muncul berasal dari ideologi tiap pihak. Perdebatan Chomsky dan Zizek perihal ideologi menarik untuk disimak serta dikaji. Slavoj Zizek menegaskan pentingnya kritik atas ideologi sedangkan Chomsky mengutarakan kritik ideologi tidak penting karena kebenaran lah yang penting. Saya tidak ingin terjebak dalam perdebatan tersebut karena ini adalah wajar dalam ranah akademis, namun nampaknya masyarakat telah diarahkan pada wacana perdebatan seperti itu.
Paralaks Wacana Ideologi & Kebenaran
            Titik rawan wacana adalah simulasi konflik. Wacana lebih menggema jikalau terdapat konflik konkret yang diolah untuk menciptakan efek psikologis. Pada pilpres kali ini kedua kubu saling serang dalam kedua hal ini. Kita bahas yang pertama terlebih dahulu, Ideologi. Berangkat dari terminologi Lacanian, Zizek membagi ideologi menjadi tiga mode yaitu doktrin (doctrine), keyakinan (belief), ritual (ritual). Dua kejadian yang sebenarnya tidak menggambarkan pertarungan ideologi membuat berita yang dibaca atau ditonton mengarahkan pada kedua hal tersebut. Kita bisa melihat bagaimana pemberitaan parpol agama tertentu dan wacana pemurnian menggiring terhadap fobia pada ideologi tertentu. Kita juga dapat melihat pemberitaan suatu kebijakan tertentu yang diolah sedemikian rupa mengarah terhadap ideologi pasar tertentu. Agama dan pasar menjadi simbol yang laris dalam propaganda sebuah kampanye. Pemberitaan penyerangan jamaah akan menyeret pemikiran publik untuk berpikir bahwa ini adalah perbuatan si X dan gerakan macam si X didukung oleh calon Y. Demikian pula tatkala sebuah berita memberikan gambaran kebijakan si A yang mendorong orang untuk berpikir bahwa kebijakan tersebut adalah ideologi Z yang bertentangan dengan keinginan bangsa.
            Tatkala Karl Marx dan Nietzsche dihujat oleh bangsa ini, namun pada sisi tertentu bangsa ini sepakat terhadap apa yang dikritik oleh keduanya, agama dan kapitalisme. Marx dan Nietzche bukan mengkritik agama dan yang dipraktekkan di Indonesia melainkan kritik terhadap agama dan pemeluknya yang ada di Eropa pada saat itu. Pada fase ini terdapat perbedaan kosmologi yang tak dapat digeneralisasi begitu saja. Masih banyak hal-hal baik di Indonesia yang tidak terdapat dalam sistem yang berkembang pada kehidupan kedua orang tersebut.
            Kebenaran dalam benak media massa dan juga status sosmed orang yang saya lihat adalah kebenaran subjektif dimana sudah ada penghilangan fakta tanpa melihat secara komprehensif. Tak ayal berbagai respon bertentangan muncul. Suatu kebenaran (yang telah diolah) menggelinding seperti bola salju yang kian membesar dan siap menghantam siapa saja. Media massa maupun media sosial bagi Zizek merupakan ruang penalaran publik yang di dalamnya perlu suatu kritik ideologi, sedangkan Chomsky yang memandang segala sesuatu sudah jelas hanya memerlukan pengungkapan kebenaran. Nah, perdebatan permasalahan ini menyisakan sebuah lubang yakni sejauh mana kemampuan pembaca atau orang dalam mengolah informasi yang ia tangkap.
Cooling Down
            Pada kekacauan informasi karena terdapat kabut yang menyamarkan kebenaran dan informasi timbul keegoisan masing-masing. Rasionalitas tentunya tidak dapat diandalkan pada posisi seperti ini. Ada trauma, dendam, kegelisahan, ketakpercayaan, kekhawatiran yang menyelimuti rasionalitasnya. Hati? Manusia sebagai makhluk yang berlumur dosa tidak tahu apakah hati dan pikirannya benar-benar bersih. Tidak ada yang berani menjaminnya.
            Kejadian-kejadian beberapa minggu terakhir justru menjadi kesempatan bagi pihak ketiga untuk memperkeruh suasana. Kita musti berkaca pada tragedi di luar negeri pada beberapa negara yang kian memanas. Pada konteks yang lebih luas kita juga perlu memerhatikan agenda zionis terhadap negeri ini (lihat artikel agenda zionis). Maka daripada itu kita menenangkan pikiran dan hati sejenak.
            Fase genting seperti saat ini kita juga sering lupa untuk memohon petunjuk pada Yang Maha Kuasa. Inilah yang saya sebut kita terlalu egois dan sombong hanya mengandalkan pikiran dan hati kita dengan melupakan sang pencipta. Setidaknya bagi yang Islam dapat melaksanakan sholat Istikharah sedangkan yang lain dapat melakukan sesuai dengan agamanya. 

May 14, 2014

         
Papan Peringatan Bahwa Anda Memasuki
Wilayah Pemberontak EZLN
         Kita merasakan sesuatu yang sama. Duduk dan menonton sesekali sedikit berharap. Tahun ini panasnya terasa berbeda. Kala malam pun demikian panas. Panas yang bercampur gairah kian terasa. Akan tetapi, bukan itu yang saya rasakan. Mungkin itu yang dirasakan politisi. Saya beruntung jauh dari media yang turut serta menghembuskan angin panas kemana-mana. Panas yang menyebabkan kabut sepanjang hari hingga orang tidak mampu berjalan dengan baik.
            Kudeta posmo terhadap modernisme sudah berdengung sebelum saya lahir. Namun, posmo juga belum mampu memperbaiki kondisi. Sebagian dari kita sadar bahwa kita lahir pada zaman yang genting. Dimana manusia mencari kebahagiaan tetapi terjebak dalam kekejaman dan kekerasan yang lembut. Soft wars yang tidak disadari beberapa dari kita.
        Posmodernisme secara jujur menguraikan kebusukan modernisme sekaligus memberikan kesempatan untuk menggali nilai-nilai dalam masyarakat yang berbeda. Kondisi ini membuat masyarakat menemukan arti hidup bagi mereka masing-masing. Keraguan terhadap metanarasi menyebabkan nilai-nilai universal ditentang oleh kaum posmo. Sepintas posmo memang mendukung etnosentrisme.
            Kejujuran posmo tidak diimbangi oleh proyek selanjutnya. Kudeta yang dilaksanakan seolah tanpa perencanaan sehingga banyak kebanyakan dari mereka dan tentu saja kita kebingungan. Dan kita bertanya pada diri kita, “Lantas apa yang dilakukan setelah ini?” Saya dan mereka bingung. Tidak mengherankan apabila kebanyakan dari kita menjadi pesimis: duduk, menonton sembari berharap.

Politik & Kegilaan
            Setiap zaman memiliki definisi kegilaan yang berbeda, setidaknya itu pendapat Foucault. Perubahan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat setidaknya menyumbangkan perubahan definisi tersebut. Setiap manusia berhak untuk optimis, tetapi tidak sedikit terjebak dalam optimisme yang berlebihan hingga melupakan tujuan optimisme. Optimisme itu bertransformasi menjadi sebuah ambisi. Sejarah terlalu banyak untuk mengungkapkan ambisi seorang pemimpin atau kegagalan sebuah ambisi.
            Ambisi menyeret banyak dari kita terjerembab pada sesuatu yang kita sebut kegilaan. Bulan ini kita akan menyaksikannya. Ada sedikit kesombongan bahwa kita mampu melakukan perubahan. Lihat! Kesombongan itu menjadi virus yang merusak sistem kesadaran kita. Mereka berani malu untuk mempertontonkan wajah mereka di depan publik dengan resiko mendapat caci maki atau malah coretan di wajah pada balihonya. Sedangkan kita? Kita hanya duduk dan menonton mereka memasang baliho karena kita apatis. Pesimisme ini membawa kita takluk pada ambisi mereka.
            Tahun politik bagi kita yang tidak menggairahkan tetap memaksakan diri untuk melaksanakan kewajiban politik. Hobbes membawa perdebatan kontemporer perihal kewajiban politik melalui kontrak sosial. Ketakutan yang dalam status alamiah digambarkan Hobbes sebagai ketundukan pada kondisi pemberian kekuasaan terhadap seseorang. Tindakan yang mengamini apa yang tidak kita inginkan.
            Salah satu nilai dari demokrasi menurut Henry B. Mayo adalah menyelenggarakan perubahan pemimpin secara berkala atau kita lebih mengenalnya dengan pemilu. Namun kita sendiri tidak terlalu percaya pada demokrasi yang dituhankan begitu banyak akademisi. Sejujurnya saya lebih percaya jika demokrasi adalah alat untuk mempertahankan status quo, tidak lebih.
            Richard Rorty melakukan keisengan dengan sebuha ide ketika terjadi kebuntuan politik, yaitu mengandalkan para cendikiawan. Tugas kaum intelek ini menurutnya bukan untuk menyempurnakan teori-teori sosial, tapi membuat kita ikut merasakan penderitaan orang lain, sekaligus menajamkan, memperdalam, dan memperluas kemampuan kita mengidentifikas diiri dengan orang lain, berbela rasa dengan orang lain sesuai moralitas. Tetapi, kaum intelek ini lebih suka bermain dengan imaji mereka dan beradu argumen. Kebenaran yang mereka dapatkan berbuah pesimisme. Mampukah mereka diandalkan?
            Ketidakpastian dan kemungkinan dalam fisika menggambarkan universalitas yang memungkinkan adanya kekacauan. Kekacauan yang semestinya memang harus terjadi dan menyebabkan entropi. Pertumbuhan alamiah yang menjadi dasar entropi membawa kekacauan pada kestabilan karena kekacauan memiliki nilai kecil. Karena mayoritas kita melihat kekacauan sebagai objek manusia. Alam semesta tidak pernah kita perhitungkan sebelumnya karena kita memikirkan mereka sebagai sesuatu yang terpisah. Padahal aslinya tidak karena kita bekerja pada sistem yang sama, yaitu sistem Tuhan.
            Saya percaya bahwa Tuhan itu Esa yang memiliki hukum universal yang nilainya sama. Makna atau hakikat yang ditemukan tiap manusia memiliki kemungkinan berbeda sehingga dalam pendefinisiannya dibutuhkan generalisasi. Letak generalisasinya adalah sebuah fenomena, bukan dengan tafsirnya.
Itulah mengapa posmo tersesat pada hakikat karena mereka mengabaikan generalisasi. Rata-rata mereka tidak mampu menjawab pertanyaan, selanjutnya apa?
            Lalu, apa yang harus dilakukan? Apakah kita menunggu Tuhan turun ke bumi? Hei, omong kosong apalagi itu! Tidakkah kita ingat kisah Musa yang ingin melihat Tuhan, tetapi Ia pingsan dan gunung meledak di depannya? Bukankah Tuhan sudah menunjuk manusia sebagai pemimpin di bumi? Tuhan terlalu suci untuk turun ke bumi yang diselimuti kebusukan. Cukuplah wakil-Nya yang seorang manusia yang memperbaikinya agar kita tidak terlalu sering diprotes oleh alam karena kepemimpinan kita.
            Kompleksitas negara ini sudah dalam taraf akut. Dan sekali lagi kita hanya duduk, menonton serta berharap. Dominan itu yang kita lakukan dan masih mengharapkan perubahan. Pesimisme membuat kita tertunduk dan diam. Perubahan tidak diawali dengan berdiam diri. Itulah hukum universal Tuhan.

                                                                                                       Semarang, 9 Mei 2014