aku terbaring dan menyeret udara
lewati rongga gua,
semudah angin, semudah membayang
sebuah tempat peristirahatan
kala tubuh melupa lelah dan khianat
dipatuk beo yang mengelupas kulit
ketidakpedulian bertepi rasa tak hormat
semudah angin, semudah membayang
tanpa ahli waris
pemahaman adalah keganjilan
apa yang harus menjadi hidup?
remasan kertas bergambar otak
terbuang di selokan kering
berbagi ruang dengan daun berserak,
menunggu tanah terendam gin dan martini
semudah angin, semudah membayang.
Surabaya, 22.09.19
Sebelum Musim Hujan







