Ronaboyd Mahdiharja

Sebuah goresan nan Pribadi mengenai metamorforsis dalam alam pemikiran perjalan menjadi manusia.

Oct 12, 2018







Life can only be understood looking backward. It must be lived forward.- Eric Roth, The Curious Case of Benjamin Button Screenplay

Aku menjamah Pedro Paramo berulang kali. Akhir-akhir ini lebih sering dengan membandingkan terjemahan yang berbeda (Gambang dan Gramedia). Bolak-balik menuju lorong masa kini dan silam di kota Comala. Kurasakan gegar riuh dan sunyi dalam deretan kata Rulfo. Hal itu tak lantas memberikanku sebuah kesimpulan bahwa hidup ialah seperiuk tai. Jangan dengarkan gerutuan Kilgore Trout, kakek uzur yang mengalami ‘gegar’ karena gempa waktu.

Vonnegut menjelma menjadi lebih cerewet dari biasanya. Mohon mahfum namanya juga kakek-kakek, nenek-nenek pun demikian. Meskipun mereka menyebar hoax atau haus perhatian, biarkanlah namanya juga kakek-nenek. Adakalanya mereka sudah makan sepiring nasi tapi merasa belum makan sama sekali. Janganlah kita ikut-ikutan membully walau mereka bullyable. Tentu saja merepotkan. Anggaplah menahan diri sebagai latihan menjadi lelaki atau anak/kawula muda yang berbakti.

Bicara merepotkan, aku ingin membawamu pada sejarah dalam definisi Carr, dialog tanpa akhir antara masa kini dan masa lalu. Belakangan ini ada sebuah kerepotan yang membayangiku. Terlepas dari repotnya kakek-nenek yang merepotkan itu, aku bertanya-tanya, sejauh mana dulu aku merepotkan.  Ketika belum lahir pun kita kerap merepotkan orang tua. Cobalah bayangkan dirimu mendekam di rahim sedangkan orangtuamu berkeliling mencari lele penyet pada pagi hari saat anak-anak sekolah di Surabaya (yang luas). Atau pagi buta mencari warung rawon yang masih buka. Merepotkan? Tidak, justru menyenangkan dan lucu meski saat mencarinya jelas-jelas mengerutu. Pemahaman ini setelah ada jeda dan jarak.

Jeda dan jarak itulah yang membuatku terpingkal-pingkal tatkala membaca tulisan-tulisanku bertahun lampau. Aku tak mampu menemukan betapa merepotkannya diriku saat masih dalam kandungan. Selain ayahku yang irit bicara, aku tak begitu dekat dengan ibu (karena jarang berjumpa). Jadi, tulisan-tulisan itulah yang merepresentasikan betapa merepotkannya diriku. Tulisan-tulisan hasil belajar yang oleh para mentor dibuang, disobek, dihujat, dibanting, diinjak, dan diamini.

Dulu tiada tebersit kegiatan yang menjemukan itu menghasilkan uang atau sekumpulan karya. Lha wong aku sinau nulis biar skripsiku lancar. Memang dangkal banget. Mungkin sedikit berbeda dengan orang-orang yang berniat belajar menulis untuk menembus media, menghasilkan maha karya atau alih-alih menjadi abadi. Bagiku itu hanyalah bonus sebab ora kepikiran blas.

Ketika kian jamak pelatihan menulis tentu saja hal tersebut membuatku semakin merinding. Mereka berharap banyak setelah mengikuti pelatihan menjadikan tulisan mereka semakin bagus secara tiba-tiba. Kerap kutemui muda-mudi dengan semangat menggebu yang kemudian menjadi lesu ketika mereka dijatuhkan. Padahal menulis merupakan proses berulang penghancuran dan pembentukan. Hanya orang keras kepala yang mau dan belajar berbenah dari proses ini.

Aku tak mampu membayangkan betapa repotnya para mentorku. Barangkali mereka pusing atau bahkan hendak muntah saat membacanya. Pasti akan mengejutkan mendengar komentar-komentar mereka. Sayangnya, diriku belum sempat menanyakannya. 

Sejauh apapun diriku membayangkan betapa merepotkannya pada masa silam, hidup memang selalu ke depan dan harus dijalani. Aih, benar memang jika sejarah nampak seperti pelacur yang bersahaja. Tapi, ...

Though wise men at their end know dark is right,
Because their words had forked no lightning they
Do not go gentle into that good night.
Dylan Thomas

May 17, 2018




Judul               : Deadpool 2
Durasi             : 119 menit
Sutradara       : David Leitch
Naskah           : Rhett Reese, Paul Wernick, Ryan Reynolds
Pemain           : Ryan Reinolds, Josh Brolin, Morena Baccarin, Karan Soni, Zazie Beetz, T.J. Miller, Jullian Dennison, Brianna Hildebrand, Leslie Uggams, dan Stefan Kapicic, Brad Pitt.

Well, that's just lazy writing.
            Bukan, bukan karena joke atau sindirannya Deadpool yang kusuka pada tokoh ini, melainkan kesadaran dirinya yang sedang berada di dunia komik atau film. Saya pun sadar sedang di Surabaya beberapa hari setelah kejadian BOM yang membuat kota ini agak sepi dibandingkan hari-hari biasa. Pusat keramaian dijaga ketat dan semua pengunjung diperiksa, termasuk saya yang notabene tak bertampang teroris hanya saja ada sedikit brewok yang sedang malas kupotong. Langit Surabaya masih dalam nuansa parno, dan saya pun ikut-ikutan parno saat masuk di dalam studio. Ada sekelebat aksi penembakan brutal dalam gedung bioskop seperti di Amerika Serikat sana. Sialnya, posisi dudukku tak menguntungkan untuk berlindung maupun melarikan diri.
            Well, kita bahas Deadpool saja. Film ini memiliki formula yang hampir mirip dengan film pertama yang memerlukan latar belakang kejadian. Tak ada yang istimewa, namun saya suka. Dengan penghormatan terhadap Wolverine sebagai mantan rekan kerjanya, diikuti narasi-narasi kematian super hero untuk menaikkan rating, Deadpool memiliki caranya sendiri untuk mengapresiasi hal tersebut.
            Saya tak ingin membawamu kepada spoiler karena memang film ini tak memiliki plot yang mencengangkan. Terasa pendek dan lebih drama. So, Deadpool tak berbohong ketika mengatakan film ini adalah film keluarga. Super hero yang tak muluk-muluk mengisahkan penyelamatan dunia, tetapi lebih kepada dirinya sendiri yang begitu rumit dan sarkas.
            Di awal, kukatan Deadpool memiliki kesadaran bahwa dirinya berada di dalam dunia komik atau film. Hal ini membuat dialog-dialognya menerabas batas dunia perfilman. Jika kamu penikmat film, tentunya tahu bahwa Ryan Reinolds pernah memerankan Green Lantern dan paska Christian Bale, dia digadang-gadang memerankan sosok Batman (dan akhirnya diperankan oleh Ben Affleck). Banyak parodi dan joke mengenai hal tersebut. Selain itu, saya sendiri tak begitu yakin semua penonton memahami joke dari Merc with a mouth ini karena terlalu banyak referensi budaya pop luar yang tak banyak diketahui masyarakat Indonesia. Apalagi anak muda zaman now yang tak begitu akrab dengan Robocop.
            Akting ryan tak diragukan lagi. Ia benar-benar ingin move on dari green lantern dan menggampar para pengkritiknya melalui Deadpool (jadi, jangan langsung pulang). Ia seperti terinspirasi Hugh Jackman untuk bertaubat memerankan satu karakter super hero. Ryan is Deadpool, Deadpool is Ryan. Josh Brolin tak memiliki ruang khusus untuk mengeksplorasi karakternya. Dan Domino, saya menyukainya. Sepertinya dia akan menjadi tokoh sentral dalam X-Force.
            Adegan laga dan aksi salah satu yang paling ditunggu pada Deadpool. Dengan rating R, film ini menampilkan kebrutalan yang terkadang konyol dan kocak. Seoalah Deadpool ingin mengatakan “namanya juga film”. Berbagai kekacauan yang mengandung kecabulan serta Domino, aku menyukainya. Sudah berapa kali aku mengatakannya?
            Ada satu lagi yang menarik perhatianku: musik. Deadpool seperti mencoba mencuri formula Guardian of Galaxy dalam menempatkan musik-musik lama. Misalkan, Ost Yentl: Papa, can you hear me?  dengan bumbu parodi. Ada juga scene dengan latar Moonage Daydream David Bowie yang menjadi andalan para penjaga galaksi. All Out Love nya Air Suply saat trailer, serta Thunderstruck milik AC/DC ketik para X-Force terjun bebas. Ah, kalau dirimu tahu film Annie (1999), ada lagu Tomorrow-Alicia Morton yang mengiringi slow motion.
            Sesungguhnya yang paling besar mencuri perhatianku ialah Juggernaut. Pada film X-Men: The Last Stand, Ia nampak tak terlalu kuat dan seperti disia-siakan hanya untuk menabrak tembok dan kalah dengan konyol. Cobalah bermain SEGA Genesis atau video game Marvel, kau akan dibuat jengkel oleh Juggernaut sebagai salah satu bos sebelum menghadapi Magneto. Dan bersyukurlah karena Juggernaut mengikuti gaya komiknya, mulai dari kostum maupun kekuatan.
            Kau tahu, saat saya mendapatkan realitas bahwa gedung bioskop di surabaya, khususnya film Deadpool tak mengurangi kecemasan paska kejadian BOM. Buktinya, penonton Surabaya begitu antusias dengan film ini. Saat saya sampai, kursi full, dan kami mendapatkan tempat duduk deret ketiga di depan layar. Kali ini saya kurang begitu puas merasakan sensasi menonton Deadpool 2 lebih karena posisi duduk yang tak menguntungkan. Saranku, menontonlah setelah seminggu film ini diputar, semoga sudah mulai lengang. Ketika pulang nuansa bulan puasa mulai terasa. Tandanya bunyi petasan. Aku sulit membedakan bunyi petasan dengan bom di kota ini. Mungki karena belum pernah mendengarkan suara ledakan asli. Semoga saja tidak pernah. Jadi, saya akhiri dengan menyanyikan sebuah lagu

The sun will come out tomorrow
Bet your bottom dollar that tomorrow
There'll be sun
Just thinkin' about tomorrow
Clears away the cobwebs and the sorrow
'til there's none
When I'm stuck with a day that's grey and lonely
I just stick up my chin and grin and say, oh
The sun will come out tomorrow
So you gotta hang on
'til tomorrow, come what may!
Tomorrow, tomorrow, I love ya, tomorrow
You're always a day away!
            Oh, jangan mengalihkan pandanganmu dari layar karena ada banyak cameo pada film tersebut.

Cerita              : 8/10
Pemain           : 8,5/10
Ending            : 8/10
Overall            : 8/0

May 11, 2018





Ingatlah ini hanyalah fiksi dan aku sedang ingin bercinta eh bercanda. Tak kurang dan tak lebih. Maklum saja di ruangan tanpa pencahayaan yang mencukupi nan pengap ini, para manusianya kurang bercanda. Apalagi setelah ada insiden. Aku hanya meminta mereka untuk memberikan kesempatan posting cerpen di blogku.
Sebelum sampai di tempat ini, aku berada di Cirebon. Bersinggah dan mengamati sebuah angka, angka 14. Ada hal keren pada angka 14. Mencerminkan korsa dan kolektivitas tiada banding. Aku kerap dibuat geleng-geleng dengan angka ini, batas privat dan publik menjadi bias. Ketika dunia semakin terpisah dengan ego dan individualis, angka 14 menunjukkan sebaliknya. Aku hanya mampu mencoba memahami, sayangnya diantara mereka ada saling tidak mengerti. Atau lebih tepatnya muncul kecemburuan tak terstruktur. Angka 1 memberikan pengaruh kepemimpinan sekaligus sifat otoriter, namun tetap diimbangi oleh pengaruh angka 4 sang pembaharu yang jujur dan adil. Lebih realistis dan tak mudah percaya, bahkan kepadaku.
“Bagaimana menurutmu?” tanya salah seorang dari mereka kepadaku tiba-tiba.
“Apanya?”
“Tentu saja insiden itu,” ujarnya.
Kuhentikan tulisanku sambil menatapnya yang sedang menghisap rokok dengan wajah mengkerut untuk menghindari asap rokok dari matanya. “Kalian lebih tahu daripada aku cara membedakan pengalihan isu ataukah hanya sebuah kecelakaan yang tak terprediksi,” jawabku. Lalu melanjutkan mengetik.
Di Tasikmalaya, aku bertemu dengan seorang pria Jawa yang sudah tua. Mbah Trimo namanya. Ia banyak bicara. Kasihan aku melihatnya, kusodorkan satu plastik kacang rebus padanya. Ia memakannya dengan suara yang aneh di mulutnya kraus kraus kraus. Aku makan kacang rebus tak seberisik itu. Hanya terdengar suara retakan pelan dari terbelahnya kulit kacang yang basah.
Sambil mengunyah kacang dan dengan bahasa Jawa, Ia bertanya, “Kau belum menikah?” Aku mengangguk. “Pantas bisa keluyuran.”
“Belum dapat pasangan?” Aku kembali mengangguk. Ia terbahak memuncratkan kacang-kacang dalam mutunya.
Nang, tak kasih tips mencari pasangan.”
“Apa itu, mbah?”
“Dengan lima bidak yang tumbang? Bukankah itu aneh?” tanya orang itu. Rokoknya sebentar lagi habis. Aku mencoba bersandar pada kursi, tetapi punggungku sakit. Mereka tak mengincar wajah atau kepala bukan karena terlalu kentara, melainkan yang di dalamnya sangat berharga. Bahkan jikalau aku lumpuh sekalipun asalkan isi kepalaku masih berfungsi, masih dapat diberdayakan.
“Lalat tak mungkin dapat menghancurkan sebuah toko. Menggeser botol atau gelas pun mereka tak sanggup. Mereka hanya mengganggu. Kecuali, lalat itu masuk ke telinga seekor banteng dan membuatnya marah. Toko tersebut dapat hancur berantakan. Mungkin saja akan ada kejadian susulan yang membuat banteng marah.”
“Di mana?”
“Bukankah itu tugas kalian mencari tahu. Tugasku hanyalah ini,” jawabku memamerkan kepadanya beberapa lembar kertas yang membuatku berada dalam ruangan ini. Kualihkan pandanganku pada tulisanku.
“Tips pertama, ujilah pasanganmu dengan jarak dan intensitas pertemuan. Aneh jikalau menguji atau untuk mengetahui karakter pasanganmu dengan mengajaknya ke gunung. Itu hal bodoh dan dangkal. Jika hal itu kamu lakukan Ia tetap setia dan tak berpaling meski sekejap, maka Ia benar-benar mencintaimu dan cocok menjadi pasanganmu. Bukankah kita diuji Tuhan dengan cara yang sama?”
“Bagaimana kita tahu dia setia dan tidak? Sedangkan, kita tak bersamanya.”
“Sabar... tips kedua, Ia membuatmu lebih baik, bukannya menjadi lebih buruk di mata Tuhan. Jika Ia baik untukmu, tentunya kamu akan lebih mendekat pada Tuhan: rajin sholat, puasa yang benar, hubungan sesama manusia juga menjadi baik, tidak mudah emosi, dan selalu tenang. Lha sekarang ini, banyak muda-mudi galau. Itu tandanya hubungan mereka tak sehat. Jadi pemalas, waktu habis untuk memikirkan atau bersamanya, sering berbohong sama orang tua, mudah marah kepada teman atau keluarga. Semua tak sehat karena hubungan mereka dilandasi sesuatu yang buruk, maksiat dan lain-lain. Jika nuranimu ada dan tak tertutup hidayah, tentu mampu membedakan mana pasangan atau orang yang membuatmu lebih baik, bukannya menjadi lebih buruk.”

Aku hanya mengangguk-angguk mendengarkan nasihat Mbah Trimo. “Nah... yang ketiga jangan mendengarkan promosi dari teman dekatnya.”
“Loh mengapa?” tanyaku heran, “Bukankah yang dekat justru lebih tahu.”
Mbah Trimo mendekatkan telapak tangannya ke mataku. Sangat dekat, bahkan aku dapat merasakan hembusan nafasku sendiri. “Apa yang kau lihat?”
“Buram, mbah.”
“Kalau saya bilang ini daging kerbau, kamu percaya gak?”
“Mungkin saja, mbah. Telapak tangannya Mbah memenuhi pandanganku. Kabur, tidak jelas.”
“Banyak orang tertipu promo, nang. Politik percintaan itu benar-benar ada. Apalagi kamu lanang. Ada ikatan antar lelaki untuk saling menutupi kebusukan sesama. Dan lagi, kamu paham promosi melalui SPG lebih menarik. Jadi, yang ditampilkan yang baik-baik saja. Busuknya, tidak. Bukankah begitu sebagai lelaki?”
Aku hanya terkekeh mendengarkan penuturannya.
“Ada itu orang China yang bilang, kita disuruh mendekati musuh karena pandangan mereka yang jelas dan selalu berkata jujur mengenai lawannya,” tambah Mbah Trimo. “Untuk mengetahui setia atau tidak, ya perlu dua puluh empat jam bersamanya. Nikahi dia! Kamu percaya orang baik untuk orang baik, yang buruk untuk yang buruk?” Aku mengangguk.
“Jika kamu tak setia, dia pun akan tak setia. Jika tidak, Ia akan melakukan hal serupa. Apalagi lelaki seperti dirimu, pasti akan mencari pelampiasan jika dikhianati kan?” Aku nyengir karena belum pernah dikhianati pasangan, tetapi banyak contohnya juga sih. “Baik buruknya ini tak dilihat dari masa lalu, tapi saat ini. Sekarang! Kalau bertaubat, ya dikasih yang baik. Jika tidak ya dikasih dengan kwalitas yang nilainya sama.” Suara kraus kraus kraus masih terdengar. Bibir kananku terangkat, tersenyum karena tak mampu menghasilkan suara yang sama dengan Mbah Trimo.
Kutengok angka 15. Ah, lupakan. Dia masih suwung dan bergelut dengan dirinya sendiri. Rajin membaca, tapi malas menulis.  
Gawaiku berbunyi. “Pesan tak penting,” ucap orang itu sebelum aku bertanya. Aku mencoba mengubah posisi dudukku agar rasa sakit di punggung, perut dan kaki beralih.
Angka 16 hadir di Cianjur. Angka ini sering menunda sesuatu yang penting dan genting. Sok tahu dan keusilan mereka membuatnya populer di kalangan kawan. Masih perlu belajar tanggungjawab dan dominan individualis. Jikalau mampu melewatinya, angka 16 dapat menjadi guru yang baik.
Ia sedang sibuk mengetik sesuatu di gawaiku. “Hei, jangan membalas seenaknya.”
“Pesan tak penting perlu dibalas singkat saja dan tak penting juga.”
“Balasanku selalu penting meski terkadang tidak jelas.”
“Oh, iya? Segera selesaikan. Nanti akan kukembalikan.”
“Minta rokoknya. Sedari tadi aku tak merokok.”
“Karena kau mengerjakan sesuatu yang sedang tidak kami suruh.”
“Ambilkan rokokku saja di saku tas samping.” Ia merogoh saku samping dan menyerahkannya padaku. “Koreknya?” Ia memberikan rokoknya yang tinggal satu hisapan kepadaku.
Sukabumi. Setelah dari sana aku ke Banten dan berencana menyeberang ke Sumatera. Itu rencana awalku. Sambil menunggu kendaraan, terlintas angka 17. Angka yang barangkali paling membenci dan tak memercayaiku. Tentunya setelah kejadian itu. Angka yang mengingatkanku pada Athos, Porthos, dan Aramis. Ah, tri mbak kenter atau bolehlah identik dengan akronim Bely. Angka ini sulit menerima nasihat orang lain, perfeksionis sehingga sering menunda dan pada akhirnya kerap menyusahkan diri mereka sendiri. Sebenarnya, angka 7 yang menaungi mereka merupakan tipekal penyendiri yang barangkali spesialis pekerjaan yang cocok dikerjakan seorang diri. Selain itu, angka 7 tak menyukai kegiatan fisik, cenderung dingin pada perjumpaan pertama, dan mudah frustasi. Hari-hari ke depan cobaan mereka semakin berat, dan mereka perlu menyingkirkan ego dan sifat individualis. Angka ini perlu diarahkan pada belajar dari pengalaman orang lain bila nasihat tak mempan. Semoga saja bukan Tuhan yang memberikan nasihat secara langsung padanya. Cukuplah kita doakan agar mereka menjadi tempat curhat kisah-kisah kelam bagi keluarga, teman-temannya di luar sana agar mengerti, memahami, serta pandai bersyukur. Agar angka ini dapat menggunakan pengetahuan dan kebijaksanaannya dengan tepat sehingga mampu menjadi pencanang kehidupan. Sangat berbahaya jika mereka mengalaminya langsung, namanya juga Tri Mbak Kenter.
Dari situlah aku tertidur di sebuah pom bensin dan bangun sudah berada di ruangan ini. Adu mulut dan hantaman. Kuselesaikan keinginan mereka. Diantarkan keluar dan mendapati silau matahari. Kulihat gawai ku penuh pesan. Tubuhku terasa kaku dan lelah, terutama lututku. Aku perlu mencari tempat duduk dan memesan teh hangat.
Belum genap mengistirahatkan tubuh, ada panggilan dari nomer baru.
“Mas, aku mau menikah!” terdengar suara wanita yang sangat lama mampir di telinga.
“Kamu belum menikah?”
“Belumlah.”
“Aku kira sudah,” jawabku setengah kaget. Dengan usianya yang terpaut setahun denganku kukira Ia memang sudah menikah.
“Dengan siapa aku menikah?”
“Pacarmu dong.”
“Dulu siapa yang melarang aku pacaran terus berjanji akan menikahiku saat sudah lulus?” tanya wanita itu ketus. “Bahkan saat Ia dua kali lulus pun tak segera mendatangiku. Dan aku lelah.”
“Loh, siapa?” tanyaku penasaran.
“Kamu, mas.”
“Ha? Aku pernah berjanji seperti itu? Jika melarang pacaran aku masih ingat, kalau yang janji menikah itu aku benar-benar lupa.” Aku sedikit terkesiap. Mencoba mengingat-ingat kembali. Memang dulu aku melarangnya berpacaran hingga Ia sibuk bergiat dalam berbagai acara keagamaan. Sampai-sampai keluarganya mengatakan bahwa Ia ‘salah masuk masjid’ karena penampilan dan sikapnya berubah.
“Dasar Cowok!” Kata-kata itu menujukkan sepertinya Ia tidak berubah. Atau Ia seperti itu hanya padaku saja, aku tak tahu pasti.
“Memangnya calonmu tidak cowok juga?”
“Ya cowok, Alhamdulillah tidak sepertimu.” Terdengar ada senyum dalam nada bicaranya.
“Syukur deh,” ucapku tertawa kecil.
Lalu Ia banyak bertanya dan bicara. Aku menjawab dan balik bertanya sembari menahan rasa lelah di tubuh. Tak lupa Ia menasihatiku dan menanyakan kebiasaan-kebiasaan buruk masa silam. Perbincangan itu berakhir dengan sebuah ultimatum. “Mas harus datang ya! Pokoknya wajib!”
“Yang penting kan doanya,” jawabku sambil melihat teh yang mulai dingin dan hampir habis.
Ada rasa haru dalam keheningan di penghujung perbincangan. Ada kilas balik keceriaan masa SMA dan pertengkaran kecil yang membuat kita terputus kabar. Oh, manusia dengan segala kelupaannya. Berbeda dengan khilaf, ini semacam anugerah lupa dari Pencipta untuk saling menjaga dari jauh.
Bus yang hendak mengantarkanku ke Banten sudah datang. Akan tetapi, kabar itu mendadak membuyarkan segalanya. Bang Toyyib pulang dan aku masih punya kewajiban terhadapnya. Inginku berkata halus dan lembut ternyata tidak bisa.

8’3092  x2:12=  8’:2:,  52_2±  ±’8’=7,3 52=  6’8262≠ 


Jumat, 11 Mei 2018


Apr 18, 2018





Apa yang akan kamu lakukan ketika ada yang berkata “Call me Ishmael” saat membuka halaman pertama? Tentu saja hal ini tak lumrah pada zaman dulu, seolah ada orang asing yang mengajakmu berbicara dan kamu akan terus diajak dalam petualangannya dalam buku Moby Dick. Atau saat Kafka mendobrak kesadaran dan mengagetkan kita dengan kalimat pembuka, As Gregor Samsa awoke one morning from uneasy dreams he found himself transformed in his bed into a gigantic insect.”
Pada suatu karya kalimat pembuka menjadi sangat sakral karena akan memberikan kesan dan kehendak membaca kalimat berikutnya. Akan tetapi, saya punya pendapat lain saat Leila S. Chudori membuka novel Pulang: “Dia muncul seperti selarik puisi yang belum selesai.” Selain memberi nuansa misterius, kalimat tersebut terkesan puitis. Leila memberikan diksi puitis untuk pembacanya. Pembuka tersebut memenuhi keutamaan unsur diksi menurut Aristoteles: jelas dan tidak biasa. Ini tentu tidak mudah dan tidak semua penulis mampu membuatnya. Saya kerap heran bagaimana seseorang mampu menulis diksi puitis.
Konon, kalimat puitis identik dengan puisi. Well, sejak SD sampai sekarang puisi merupakan hal yang sulit kupahami sehingga saya hanya mampu menikmati larik-larik puitis karya penyair, tanpa mampu membuatnya. Mungkin, dulu bagiku, puisi hanya sekedar untaian kata untuk merayu wanita.
Dengarkanlah puisi Neruda berjudul I Like for You to be Still:
I like for you to be still
it is as though you are absent
And you hear me from far away
And my voice does not touch you
it seems as though your eyes had flown away
And it seems that a kiss had sealed your mouth

Atau Are You The New Person, Drawn Toward Me? Milik Walt Whitman:
Are you the new person drawn toward me?
To begin with, take warning—I am surely far different from what you suppose;
Do you suppose you will find in me your ideal?
Do you think it so easy to have me become your lover?
Do you think the friendship of me would be unalloy’d satisfaction?
Do you think I am trusty and faithful?
Do you see no further than this façade—this smooth and tolerant manner of me?
Do you suppose yourself advancing on real ground toward a real heroic man?
Have you no thought, O dreamer, that it may be all maya, illusion?

Sebenarnya masih banyak lagi soneta-soneta cinta Neruda, Whitman, atau Gibran. Maklum, ini pemahaman dangkal seseorang yang tak mendalami puisi. Begitulah saya melihat puisi yang selalu puitis, sehingga saya menulis puisi saat jatuh cinta. Dan itu bermula dari nasihat seorang kawan,
“Koen, yen pengen dapat pacar: nulis puisi! Kirimi dia puisi pas tengah malam.”  
Saya yang tak pernah tuntas menulis puisi sejak kecil kemudian mendadak latihan membuat puisi. Meski nasihatnya terasa menyimpang dan terasa ganjil, tetap saja saya menurutinya. Layaknya kalimat pembuka novel Pulang, puisi-puisiku jarang selesai dan jikalau selesai kemudian menjadi puisi gelap. Walaupun begitu, ternyata benar, resep itu manjur.
Lambat laun saya pun menyadari bahwa tak semua puisi bernada puitis untuk lawan jenis. Kita dapat melihat karya-karya Chairil atau Wiji Thukul yang lugas dan tajam. Mungkin juga dengan... hmmm... gimana ya? Begini, apa yang terlintas dalam benakmu saat mendengar kalimat “starving hysterical naked”? Terkesan aneh dan membuat kita ingin tertawa, kan? Puisi Howl oleh Ginsberg mewakili karya-karya Beat Generation.
Sepulang dari Jogja yang mampir dahulu ke Solo, selepas pengalaman-pengalaman emosional dan spritual, kulihat puisi-puisiku yang lampau. Sesekali tersenyum kecil dan geleng-geleng, dan tentunya banyak bertanya: apa maksud puisiku ini? Atau mengapa aku menggunakan kata ini? Jejak rasa dalam puisiku itu seperti lindap, adakalanya saya seperti terputus dengan jejakku sendiri. 
Dahulu saya tak paham maksud dari kata-kata Octavio Paz, “Like a poem, it is not linear, it meanders and twists back on itself, shows us what we do not see with our eyes, but in the eyes of our spirit.” Benar, apa yang diperlihatkan puisi tak melalui mata lahiriah, melainkan penyelaman relung –relung jiwa manusia. Dan saya telah kehilangan makna dari puisi yang belum terselesaikan. Apakah rasa dan ingatan saat itu sudah menguap sehingga tak mampu lagi kutelusuri? 
Entah siapa yang bilang, saya lupa, tetapi masih teringat betul kata-kata tersebut yang mengatakan, “Jika kamu tidak dapat menulis puisi, atau setidaknya tak mampu menikmatinya, berhati-hatilah karena itu menandakan hatimu keras.” Dan kusadari ternyata tugas penyair itu sulit karena menyampaikan perwakilan rasa dari jiwa manusia yang melampaui bahasa.
Pada momen-momen tersebut saya bersyukur ternyata masih terdapat lilin kecil yang menyala dan mungkin akan terus kujaga: menulis puisi. Yap, puisi yang tak lagi melulu masalah cinta. Meski begitu tetap saja saya malu untuk memperlihatkannya, kecuali orang-orang terdekat atau kuanggap dekat. Sementara ini, cukuplah kutulis dan simpan sendiri coretan-coretan mungil itu. Puisi-puisi gelap itu memberiku ketakutan jika pembacanya salah menafsirkan atau salah menangkap maknanya sehingga memunculkan kecurigaan, permusuhan, atau pertikaian. Tak dipungkiri saya pun berharap kelak ada yang membacanya, akan tetapi saat saya sudah tidak di sana dan tak mengetahui jika ada yang membacanya.

Apr 14, 2018




            Bagaimana kita melihat suatu paradoks? Yup, paradoks yang menyelimutiku hari-hari ini. Kali ini saya akan mengawalinya dengan membahas salah satu karya Shakespeare, Macbeth. Meski bukan karya Shakespeare favoritku (Hamlet is my favourite), namun Macbeth mampu memberikan suatu gambaran mengenai paradoks. Karya tersebut terangkum dalam sebuah frasa terkenal, “fair is foul, foul is fair”. Sebuah frasa yang dikatakan penyihir ketiga yang terkesan bijaksana dan penengah. Karakter penyihir dalam Macbeth memiliki kepribadian yang berbeda. Seperti sebuah dialektika, penyihir pertam yang kerap bertanya dan gelisah; penyihir kedua yang reaktif dan pemberi jawaban; dan penyihir ketiga yang menjadi penengah dan terkesan bijaksana.
            Shakespeare dengan jeli membungkus niat dengan cantik. Cobalah lihat apa yang dikatakan Lady Macbeth saat diberitahu rahasia oleh Macbeth: “My hands are of your color; but I shame to wear a heart so white. Dan selanjutnya, jika anda membacanya, akan tahu karakternya.
            Paradoks yang sama akan anda temukan pada beberapa kisah lain. Ada seorang yang berniat mencuri dan mengatakan niatnya tersebut kepada seorang kawan. Apakah sang kawan mencegahnya? Tidak. Ia membiarkan dan kawannya pun mencuri dan membunuh pemilik rumah. Seminggu sebelum eksekusi, sang kawan mengunjungi si pencuri dan terjadi banyak dialog. Si kawan mengungkapkan penyesalan dan berjanji membantu keluarga si pencuri jika Ia mati. A heart look so white. Si pencuri bersikeras bahwa itu adalah niatnya sendiri dan ia mengatakan bahwa “Satu-satunya kesalahanku adalah aku menjalankan niat burukku.” Yang menarik dari kisah tersebut adalah bagaimana seorang kawan digambarkan layaknya super hero, dan si pencuri menjadi pesakitan. Adil itu busuk.

     Adapula kisah lain yang lebih terkenal dalam film Trainspotting. Yup... film Skotlandia terbaik sepanjang masa dan berdiri kokoh di puncak sebagai film terbaik yang mengisahkan kehidupan pemadat (Maaf Requiem for a Dream kutaruh nomor dua). Akan tetapi, saya tak akan fokus ke narkoba melainkan sisi lain dari film tersebut. Trainspotting mengisahkan beberapa manusia yang bersahabat sejak kecil yang memiliki kehidupan beragam. Lihatlah bagaimana si Renton memberikan heroin kepada Tommy, kemudian kecanduan heroin dan mati karena terkena HIV. Penyesalan kehilangan kawan belum terlalu terekspos saat itu. Kemudian T2 Trainspotting kehidupan para tokoh yang sudah menua dan konflik berpusat pada Begbie yang lari dari penjara karena tidak ingin menghabiskan hidupnya di penjara. Lantas apa yang dilakukan kawan-kawannya? Mereka menaruh si pembuat onar di bagasi mobil dan mengirimnya kembali ke penjara. Begbie marah dan mengutuk teman-temannya, sedangkan teman-temannya tak ingin kehilangan sahabat karibnya lagi. Busuk itu adil.
Fair is foul, foul is fair juga tersebar dalam kisah sehari-hari. Dan ada kisah yang menggelitik yang pernah mampir ke telingaku. Kisah pertama seorang pemuda-pemudi kasmaran yang berlibur menghabiskan waktu di wilayah Batu, Malang, dan terus berlanjut di kosan beberapa bulan kemudian. Si wanita hamil dan menuntut pertanggungjawaban, sedangkan si pria menolak dengan berbagai alasan. Dialog perdebatan tersebut masih kuingat jelas karena keduanya bertengkar dengan nada kencang sehingga tetangga rumah kontrakan mendengarnya.
“Kau tak bisa terus menyalahkanku! Kau sendiri menikmatinya! Kita suka sama suka!” teriak si pria.
“Dulu di Malang aku sudah merengek minta pulang. Kau tidak mencegah rencanamu dan malah melanjutkan perbuatanmu! Aku paham jika keluarga kita pasti akan malu. Jika sudah begini bagaimana?” si wanita tak kalah meraung disertai isak tangis.
Waktu memang tak bisa diulang kembali. Semenjak itu Si cantik berubah wajah pucat pasi karena aborsi. Si pria menggandeng wanita lain lagi. Fair is foul.
Kisah kedua sedikit lucu dan menggelitik. Kisah temanku sendiri yang curhat kala sore hari yang biasa saja. Ketika baru jadian saya berasumsi kawanku ini beruntung mendapatkan pacar yang cantik. Akan tetapi saat mendengarkan penuturan kawanku, mereka jadian dan putus karena kesangean pacarnya. Loh kok bisa? Mereka jadian saat si cewek sange dan kawanku tergoda. Akhirnya mereka kerap petting di berbagai tempat. Pada suatu ketika saat petting, ceweknya benar-benar gak kuat dan segera meminta untuk lebih.
“Kau masukkan gak?” tanyaku penasaran.
“Ya, enggaklah! Aku tolak. Aku masih bisa mikir masa depannya. Iya kalau jodoh, jika tidak? Kasihan dia dan suaminya,” ungkapnya pelan. Pada sisi ini saya salut pengendalian dirinya.
“Lha kenapa bisa putus?”
“Ya, karena aku menolak permintaannya itu. Seketika itu juga aku langsung ditendang, dimaki-maki kolot, puritan, pengecut, cemen. Wes macem-macem lah.”
Mendengarkan kisahnya sontak saya tertawa terbahak-bahak dan spontan saja bungkus rokok kena lempar mukaku. Meski begitu saya masih penasaran, “Eh, yang bawahnya gimana kayak artis bokep?”
“Dulu dia sering petting sama mantannya dan masturbasi pas njomblo.
“Terus?” Saya bertanya sambil mikir kok gak nyambung sih jawabannya.
“Yaaa item laaah!”
Kami pun tertawa sore itu. Setelah itu kawanku menikah dengan wanita dan sekarang sudah menjadi ayah. Nampaknya, dia baik-baik saja dan hidup normal. Semenjak putus, mantannya itu kerap mengunggah status di media sosial yang bernada keras, ketus, dan kontroversial. Beberapa pekan yang lalu saya dapat kabar bahwa dia telah menikah, tetapi status di media sosialnya masih tetap dengan gaya konsisten. Yah... Foul is Fair.
Paradoks Macbeth setidaknya memberikan pembelajaran mengenai niat dan tindakan. Adakalanya niat yang salah perlu tindakan pencegahan yang keras dan tegas. Dan niat yang baik perlu pengorbanan dan jalan berliku. Seorang ibu sekaligus pelacur tak ingin anak-anaknya merasakan pengalaman sakit yang sama dengan dirinya. Setidaknya, kakak yang baik akan mencegah tindakan dari niat bodoh adiknya. Seperti halnya pengetahuan yang diperoleh melalui proses tanpa pengalaman (apriori). Sedangkan, banyak orang ingin memeroleh pengetahun yang diperoleh dari pengalaman (posteriori). Jikalau itu adalah pengalaman yang buruk sehingga tak sedikit membuat orang jatuh ke dalam lubang keledai, cukuplah itu menjadi pelajaran dan tak perlu dilakukan. Sayangnya, kita kurang mendengarkan pengalama-pengalaman buruk itu dan kurang percaya terhadapnya.
            Dari berbagai kisah, saya lebih suka adegan ketika Sunan Bonang berdialog dengan Lokajaya. Apriori dan posteriori berkelindan pada dialog tersebut: niat dan tindakan Lokajaya seperti mencuci pakaian dengan air kencing; rumput yang tercerabut dengan kesia-siaan; dan pengalaman langkah-langkah Sunan Bonang dalam mengentaskan kemiskinan.


Apr 11, 2018





Aku kerap mengkerut saat Soe mengucapkan seseorang yang bernama Kehlil. Tak hanya ucapan, terkadang saya menemukan nama tersebut dalam tulisannya. Rasa penasaran pun mendera, lantas kubertanya

“Kehlil itu siapa Soe?”

“Itu lho mas Kehlil Gibran.”

Mampus aku... Tawaku tak terbendung. Dia malu, namun selanjutnya dia masih mengulangi hal yang sama.

Khalil atau barat mengejanya menjadi Kahlil. Lidah Jawa mungkin berubah menjadi Kholil, Sedangkan Soe menjadi Kehlil. Entah Soe dapat darimana cara tersebut. Ini asumsiku, dia pernah baca bukunya dan tertulis Kahlil Gibran dan kemudian dia mendapatkan pelajaran bahasa inggris, yang mana, a dibaca e. Saya tak sempat menanyakannya karena Ia hidup dengan kerumitan hidup yang tak seharusnya tak rumit-rumit banget.

Kenangan percakapan dengan Soe mengenai Kehlil dan Kahlil membawaku terfokus pada buku-buku karya Kahlil Gibran. Ada banyak buku karya Kahli Gibran berjejer dari berbagai penerbit. Hampir semuanya telah kubaca mulai dari Sang Nabi, Sayap-Sayap Patah, Suara Sang Guru, Kematian Sebuah Bangsa, Airmata dan Senyuman, serta Yesus Anak Tuhan. Dari semua buku Kahlil, favoritku adalah Sayap-Sayap Patah.

Kahlil Gibran merupakan salah satu penulis yang malas saya bahas. Pernah suatu ketika ada yang bertanya, “Pernah baca Kahlil Gibran?” Lantas kujawab, “Tidak pernah.” Ada juga yang bertanya, “Mengapa tidak suka Kahlil Gibran?” atau “Mengapa tidak membaca Kahlil Gibran?” Aku hanya menjawab, “terlalu melankolis” atau “terlalu dramatikal.” Bahkan ada yang lebih jeli lagi, “Mengapa tulisanmu tak pernah menyinggung Kahlil Gibran?”

Kahlil Gibran, bagiku, identik dengan masa-masa memalukan saat sekolah dulu. Kutemukan dirinya terselip diantara pajangan koran-koran mesum yang tengah marak kala itu. Tentu saja hal ini aneh: pada sebuah kecamatan desa yang tak memiliki toko buku, kecuali toko buku tulis atau sekolah, terdapat sebuah buku mungil. Sampul buku tersebut bagian atasnya berwarna merah dengan tiga wajah, sedangkan sampul belakang berwarna kuning terang. Berharga murah dan di depannya tertulis nama pengarang serta judulnya: Sayap-Sayap Patah terbitan Pustaka Jaya.

Lihatlah bagian pembuka dari buku itu:
“Usiaku baru delapan belas tahun ketika cinta membuka mataku dengan sinar-sinar ajaibnya dan menyentuh jiwaku untuk pertama kalinya dengan jari-jemarinya yang membaca, dan Selma Karamy adalah wanita pertama yang membangkitkan jiwaku...”

Dulu saya hafal diluar kepala lanjutannya, sekarang sudah tidak. Maaf. Anak ingusan ini pun terkesiap. Wew... itu baru pembukaan, belum masuk bab pertama yang saat itu bagiku begitu puitis: Duka yang Bisu. Bab pertama akan engkau dapatkan kata-kata yang menohok
“Para tetanggaku, kalian tentu ingat masa remaja dengan segala kesenangannya, dan tentu menyesalkan berlalunya semua itu; namun aku mengenangnya sebagai seorang narapidana yang mengingat-ingat kembali terali besi serta belenggu-belenggu rumah tahanannya.”

Hingga larik kalimat, “Cinta datang dengan lidah dan air mata.” Si anak ingusan itu membatin untuk membacanya sekali duduk. Akhirnya, buku tersebut ditutup “... aku pun tak dapat bertahan lagi; aku menghambur ke atas makam Selma dan meratap.” Buku kututup dan berencana membawanya kemana pun serta mencari karya-karyanya yang lain.

Seperti bukuku yang sudah-sudah, buku tersebut dipinjam dan berpindah tangan selama berbulan-bulan tanpa sempat mampir ke rumahku. Setelah itu, banyak anak yang membeli buku-buku Kahlil karena harganya memang murah. Punya mereka masih terlihat baru, sedangkan milikku sudah lusuh dan penuh tekukkan. Mendadak muncul fenomena baru: lahirnya pujangga-pujangga dadakan. Mereka membuat kata-kata puitis di buku tulis, buku pelajaran, diary, bangku maupun meja tak luput dari sasaran vandalisme. Lambat laun kondisi tersebut menjemukan hingga taraf mual. Well, ada rasa terkhianati, “Kahlil, gombalanmu ternyata tidak hanya untukku, tetapi juga untuk yang lain.” Buku-bukunya pun kuberikan pada teman atau adik kelas yang membutuhkan. Semenjak itu, aku tak pernah membahas Kahlil hingga tulisan ini muncul.

Sampai pada kulihat berderet buku-bukunya lagi. Terbersit pemikiranku untuk membayar hutang pada seseorang dengan satu set buku-buku Kahlil. Ah, aku teringat dia menolak dibayar. Kuurungkan niatku. Aku meninggalkan rak buku tersebut dan melihat tumpukan buku yang lain jikalau ada yang menarik.

Saat mengetik tulisan ini aku sering tersenyum sendiri jika mengenangnya. Kenapa aku merasa terkhianati? Bukankah aku yang mengenalkan dia pada teman-temanku? Padahal aku mengenal konsep kemurnian cinta dari Kahlil. Namun, aku lebih suka istilah yang dipergunakan Octavio Paz, yakni “cinta yang sopan”. Kawanku lebih canggih lagi dia mengistilahkannya sebagai cinta sejati setelah melihat pasangan idamannya.

Ia berjuang mendapatkan cinta sejatinya. Setelah menikah dengan cinta sejatinya, kawanku ini malah ingin muntah dan hendak bercerai. Ia tak percaya lagi dengan cinta sejati. Saat mendengarkan kisahnya, aku seperti ingat dua bab awal The Art of Loving nya Erich Fromm yang banyak membahas cinta sebagai kemenangan manusia dari keterasingan dan kerinduan akan bersatu. Apalah dayaku, Ia adalah temanku. Ada syair Kahlil tentang sahabat, entah di dalam Sang Nabi atau syair-syair cinta saya lupa, kurang lebih isinya seperti ini
“Sahabat adalah kebutuhan jiwa, yang mendapat imbangan. ...
Carilah ia untuk bersama: membunuh waktu!
Sebab dialah orang yang mengisi kekuranganmu. Bukannya mengisi keisenganmu.
Dan dalam kemanisan persahabatan, biarkanlah ada tawa ria kegirangan, berbagi duka dan kesenangan...”

Buku-buku Kahlil memang sangat cocok untuk manusia yang kasmaran atau patah hati. Khususnya, para kawula muda yang masih ingusan akan mudah terhipnotis Buku Kahlil akan penuh penanda seandainya kau beri sticky note/post it. Aku yakin itu. Bahasanya  puitis, bersayap, dan tak jarang paradoks memberikan  banyak ruang untuk perenungan.

Minggu-minggu ini memang terasa membosankan. Pekan yang serba menunggu. Toko buku salah satu cara untuk menghilangkan kejumudan. Sesekali mencium aroma buku yang beragam serta mengagumi pembaruan-pembaruan sampul buku. Jikalau ada yang menarik kumasukkan dalam tas yang disediakan toko buku itu. Setelah mengitari dan melihat, ternyata kusadari langkahku kembali pada rak si Kahlil. Kutengok sebentar dan kumasukkan judul buku yang terasa asing: Almustafa. Sampul biru dengan  gambar perahu di tengah laut memikatku. Dan perlu dicatat, aku belum pernah membaca karya Kahlil yang berjudul Almustafa, meski nama tersebut terasa familiar di telinga. Oh, seperti nama tetanggaku di desa, Pak Tofa. Hehehehe...

Aku tak ingin merusak kebahagiaanku dengan membaca sinopsis buku. Itu salah satu kebiasaan dalam membeli buku: harus ada kejutan. Yah, setidaknya si Kahlil tidak jauh-jauh membicarakan kasmaran, patah hati, atau kehidupan. Tak mungkin pula Ia membahas pramuka atau pers. Tema besar karyanya memang berkutat dalam hal cinta. Begitulah, cinta memang sesuatu yang mudah untuk dijual. Walau Octavio Paz melihat cinta sebagai sebuah penggelembungan waktu yang merentang dari menit ke abad, cinta tak memberikan jaminan melindungi kita dari risiko dan kemalangan eksistensi. Hmm seperti kemalangan si Kahlil. Well, jangan khawatir bila bukumu membicarakan cinta, Insya Allah tetap laku, karena “cinta berbicara perihal kebutuhan luhur dan riil dalam setiap manusia” begitulah kata Fromm.

Saat ini, dapat dikatakan aku telah memiliki konsep yang berbeda tentang cinta ala Kahlil jika dibandingkan ketika sekolah dulu. Aku membeli lagi buku si Kahlil bukan karena sedang kasmaran atau patah hati, melainkan lebih pada keisengan di tengah kemalasan. Dengan polos aku membatin, “mungkin ada hal baru dari buku Kahlil yang kubaca itu.”

Di kamar ku buka semua buku termasuk Almustafa. Aku tertegun karena buku tersebut adalah terjemahan dari The Prophet yang biasa diberikan judul “Sang Nabi” atau “Sang Utusan”. Oleh penerjemah judul tersebut tidak dipilih karena membimbing pembaca kepada pengertian yang sudah pasti, dan alasannya memilih Almustafa “agar kemungkinannya menjadi lebih lapang.” Pantas saja seperti familiar dengan nama tersebut. Yaweslah, setidaknya aku dapat menikmati kelembutan berbahasa si penerjemah: Sapardi Djoko Damono.

Well, begitulah aku menulis dengan malas dan membahas orang yang sebetulnya malas kubahas. Dan brengseknya, engkau pun membacanya.

Apr 7, 2018



Judul               : A Quiet Place
Durasi             : 90 menit
Sutradara       : John Krasinski
Naskah           : John Krasinski, Bryan Woods, dan Scott Beck
Pemain           : John Krasinski, Emily Blunt, Millicent Simmonds, Noah Jupe


Kakiku mendadak dingin. Aku berusaha bernapas dengan teratur. Tanpa mengalihkan pandangan dari layar bioskop, jaket ku lepas untuk menutup kakiku yang mulai menggigil. Aku misuh dalam hati berharap film cepat kelar, meski mata fokus di layar.
            Semua itu kualami ketika menonton film A Quiet Place. Bermula dari tag instagram si Vain pada sebuah trailer film dengan tagline “If They Hear You, They Hunt You”. Tag line tersebut sebenarnya terasa seperti film horror lainnya, tetapi di akhir trailer menunjukkan klue lain “Silence is Survival” terasa wah...
            Silence salah satu kata pertama yang kupelajari: Keep Silent hehehe beda ya. Jika The Silence of the Lamb pasti kan sama. Setidaknya kata silence maupun silent akrab denganku, entah itu menjaga keheningan dalam kegelapan selama 4 hari atau tidak berbicara selama beberapa hari. Rasanya hening. Perasaannya tentu saja sangat jauh berbeda seperti hampir gila. Jadi, aku belum gila. Aku bisa buktikan dengan surat keterangan sehat kejiwaan lhooo...
Pengalaman dengan keheningan maupun tak bicara membuatku tertarik untuk menonton film ini. Jadi, kuputuskan untuk berangkat ke bioskop dengan memakai boxer karena stock celana pendek masih di laundry dan terjadilah ‘acara’ menggigil di dalam bioskop itu. Celana panjang? Oh, aku hanya memakai celana panjang saat acara-acara formal. Lagian akhir-akhir ini alergiku terhadap celana panjang kumatnya parah.
Secara garis besar film ini mengisahkan sebuah keluarga yang bertahan hidup dengan keheningan. Jangan bertanya dimana pemerintah, ini bukan film politik. Pemerintah mbuh ono, mbuh ora tidak mengganggu jalannya cerita. Monsternya selama film diputar tak dijelaskan datang dari mana. Mbuh ora ngerti monster itu dari mana lan ora penting omahe asli endi. Bukan dari hasil uji coba ilmiah karena tak ada kerusakan di muka bumi layaknya film The Road nya Cormac McCharty atau The Book of Eli, alih-alih Mad Max. Buktinya hutan masih hijau, hanya saja kotanya menjadi sunyi. Monsternya Ujug-ujug ono ngono wae.
Pada sepanjang film pikiran kita telah dibangunkan atmosfer keheningan yang menegangkan sekaligus menyebalkan. Tak ada jeda pemikiran secuil pun mengenai pemerintah atau asal monster. Kita disuguhi interaksi para pemain yang melakukan akting luar biasa: dengan gimik, isyarat, ketakutakan, kesakitan, dan kesunyian. Bagaimana kalian menjaga anakmu dari bahaya? Bagaimana orangtua melakukan sesuatu yang baik menurut mereka dan kita kerap sebal dibuatnya.
Nggegeg sak durunge katisen
A Quiet Place salah satu film yang mungkin tidak akan disukai Uda Jay karena selain keheningan tentu saja hentakan yang membuat jantung terlonjak. Suspense yang dibangun pun mampu memengaruhi kita, bahkan saat dirimu sendirian di kamar. Terlebih adegan ketika air ketuban Evelyn pecah, kita dibuat benar-benar tak mampu bergerak. Pahamkan jika air ketuban pecah peristiwa yang selanjutnya terjadi? No Woman, No Cry  begitulah. Padahal suara kecil pun akan disambangi si monster yang tak bernama itu (Nanti ada rule nya kok, tenang saja). Si monster seperti manusia yang sakit gigi lantas mendatangi pembuat kebisingan. Atau Squidward yang menghendaki dunia tanpa kebisingan SpongeBob dan Patrick Star. Napas? Lihat saja sendiri. Hehehe...
Ini film recomended. Meski bukan film yang cerdas, A Quiet Place dapat dikatakan berkualitas: minim dialog, aura horor dan suspensinya ketat banget. Terakhir kali saya menonton film dengan minim dialog adalah All Is Loss sekitar tahun 2013/2014. Film model ini biasanya menjual ketegangan dan butuh akting pemain yang optimal. Setidaknya, si aktor atau dalam film itu kudu ada teriakanlah masa dibayar mahal-mahal gak ngomong (Kecuali, film The Artist dan film jadul zaman bahula ya). Sayangnya, teriakan adalah cara bunuh diri dalam A Quiet Place. Cara mati yang menyeramkan sekaligus heroik.
A Quiet Place bukan horror spiritual semacam Ringu, The Others, atau The Six Sense, melainkan horror sci-fi (Maaf, Insidious bagiku horror yang tak terlalu menegangkan). Yaah, layaknya film Alien nya Ridley Scott. Nuansa ketegangan yang membuat saya perlu menahan napas mengingatkanku pada Jaws maupun Saw.
Ide yang orisinal dengan elemen paling dasar film horor maupun suspense mampu dieksplorasi habis-habisan. Dan ditutup dengan ending yang cakep. BTS eh BTW, saya masih kepikiran kaleng-kaleng bekas di sawah.  

Cerita             : 8/10
Pemain           : 8.5/10
Ending           : 8.5/10
Overall           : 8.3/10