Ronaboyd Mahdiharja

Sebuah goresan nan Pribadi mengenai metamorforsis dalam alam pemikiran perjalan menjadi manusia.

May 23, 2019



“Tanggal 1 Mei di hotel, cak. Kudu iso. Yen ora iso golekno gantimu.”
Panggilan dengan nada agak maksa itu hadir tatkala sedang khusyuk mengerjakan laporan. “Aseem,” umpatku. Untungnya si penelepon sudah terbiasa dengan umpatan itu.

Percakapan itu ditutup, “lek gak ada kamu siap-siap. Hahahaha...!”

Saat mendengar materi LKMM, “Manajemen Organisasi, Komunikasi dalam Organisasi, dan Penjabaran Gagasan Awal” dalam benakku sudah membentuk layout materi yang akan kusampaikan jika memang harus mengisi karena pada 2 Mei ada penutupan lustrum. Yah setidaknya saya akan berbicara tentang perbedaan efektif dan efisien, perencanaan, komunikasi vertikal maupun horizontal yah mirip-mirip WoG. Untuk Gaswal perlu mengidentifikasi masalah dan anakoling terlebih dahulu. Terdengar kaku dan perlu tersistematis, sayangnya bukan gayaku.

Pada akhirnya, aku perlu mencari pengganti juga karena harus ada prioritas utama: sarasehan lustrum yang menyita fisik dan pikiran.

Selama seminggu berinteraksi dengan muda/mudi pada rangkaian acara lustrum kerap muncul pertanyaan “Enak nggak, pak, jadi *****?” Pertanyaan yang sebenarnya tidak asing bagiku karena baik di sini maupun di sana akan ada yang selalu bertanya demikian. Bila dijawab secara subjektif dan bersifat khusus untuk diriku yang tidak pernah bercita-cita menjadi seorang *****, saya menjawab “Tidak enak.” Ada berbagai faktor yang membuatku menjawab demikian.

Pertama, masalah celana panjang. Mana ada ***** yang masuk kelas memakai celana 3/4 atau sarung. Orang-orang yang mengenal dekat diriku pasti tahu alasannya bahwa saya alergi dengan celana panjang. Paha dan belakang lutut sering gatal jika memakai celana. Bahkan teman SMA ku dulu sering protes karena saya selalu memakai celana ¾ saat bertamu ke guru atau acara-acara formal. Boleh dibilang sejak SMA sampai sekarang saya memiliki celana panjang yang dapat dihitung dengan jari. Selain alasan gatal, celana panjang itu panas. Sumuk. Lebih enak mengenakan sarung yang semriwing. Saya jadi merasa bersalah pada kawan-kawan magister kalau mengingat-ingat soal sarung. Mereka tentu malu ketika jalan-jalan di mall bersama denganku yang mengenakan sarung. Pada awal-awal mengajar dulu, saya selalu membawa ganti celana pendek atau sarung saat gatal dan sumuk mendera.

Kedua, masalah wibawa. Dilihat dari segi mana pun, bahkan sedotan sekali pun, diriku tidak memiliki sikap dan tingkah laku yang layak dihormati. Sering cengengesan, ketawa keras, dan terlalu woles. Saya sering mendengar bahwa profesi ini perlu menjaga wibawa, namun hal tersebut tak berlaku padaku. Intinya, kewibawaan itu tidak ada pada diriku.

Ketiga, sifat pemalas. Boleh dikatakan bahwa diriku lebih suka tidur daripada bertemu manusia dengan berbagai problematikanya. Bila demikian saya lebih memilih diam dan malas menanggapinya. Anehnya, Allah selalu ada saja cara menghadirkan permasalahan-permasalahan manusia kehadapanku. Terlebih menghadapi manusia yang kadang labil dan galau pada usia-usia puber mereka.

Keempat, tanggung jawab. Beban tanggung jawab ***** itu besar dan berat. Sejak menjalani profesi ini di pundak dan punggungku terasa ada gunung yang menggantung. Mencerdaskan kehidupan bangsa? Saya sendiri masih ragu sanggup mencerdaskan satu orang manusia. Alasannya sederhana, karena saya sendiri merasa masih belum cerdas. Saya kerap merenung, apakah yang kusampaikan kelak berguna dan mampu mendongkrak kecerdasan?

Kelima, sekarepe dewe. Well, profesi ini punya tuntutan menjaga etika dan hal-hal yang perlu dijalankan. Ini jelas berbanding terbalik dengan diriku yang sering sekarepe dewe. Kadang patuh pada sistem, dan lebih sering menciptakan sistem sendiri.

Keenam, niat. Konon, menjadi ***** perlu niat yang mulia dan blablabla. Tiada terlintas dalam benakku untuk menjadi *****. Jadi, semua terjadi begitu saja layaknya big bang. Usai sholat istikharah karena bimbang perihal kegiatan yang sedang kugeluti, Allah menceburkan diriku pada beasiswa ***** yang sangat mengikat. Hal itu terjadi hingga diriku tenggelam sampai sesak napas.

Barangkali saya tidak akan menjadi ***** yang ideal karena berbagai hal. Tetapi, karena sudah tenggelam saya hanya bisa berkata, “yawes pie maneh kudu dinikmati pilihane Gusti Allah”. 

Makanya ketika Brian mengatakan, “***** is the best job ever”, aku hanya bisa garuk-garuk ketek. Mungkin profesi ini cara Tuhan agar diriku bisa membayar kualat masa silam. Meskipun demikian, saya senang melihat muda-mudi yang memiliki niat menggebu mencerdaskan kehidupan bangsa. Tinggal diasah dengan baik dan benar, meski kerap kulihat mereka layu sebelum tumbuh dan berkembang. Entah karena salah asuhan atau salah memilih jalan.

May 6, 2019





Obrolan ringan dengan mas Noe atau sekarang lebih dikenal nama Sabrang tak mampu menghindarkan diriku untuk membayangkan sedang rebahan. Ingin rasanya memejamkan mata barang sepuluh menit saja.
Setiba di kamar setelah berbagai aktivitas, kurebahkan diri dengan mengambil sembarang buku. Novela James Joyce terpilih dari sistem acak tersebut. Untungnya, Ulysses tidak termasuk buku yang kubawa ke Surabaya untuk dibaca ulang.
Aku kaget. Hantaman sebuah benda tumpul di perut membangunkanku. Seseorang yang lama tak kujumpa tersenyum.
“Lihatlah,” katanya ringan. Kesadaranku belum pulih. Aku tidak segera melihat apa yang menghantamku. Buku Joyce di samping tubuhku tertutup dan tertekuk. Jarang sekali aku tertidur saat membaca.
Benda tumpul yang menghantam perutku adalah sebuah bola kristal. Kupandangi dengan malas sambil mendengar perbincangan orang-orang di dalam bola itu. Kulempar kembali bola kristal itu pada si empunya.
“Kau tidak ingin menjawab berbagai praduga itu?”
“Tidak. Untuk apa?” jawabku sambil berdiri menghidupkan kompor dan mulai memasak air.
“Bodoh, untuk menjelaskan!” Ia berdiri membuka pintu agar udara segar masuk. “Semisal anggapan tak profesional karena mencampuradukkan sesuatu lantas menghukum semuanya.”
“Aku sudah menjelaskan semuanya. Dan kurasa selama ini telah fair sebagai manusia yang mencoba menuntun dari luar lingkaran. Mereka bukan orang-orang bodoh yang perlu dijelaskan berkali-kali, kecuali emosi menutupinya. Aku tidak suka pemilihan diksi ‘menghukum’ karena pada dasarnya tidak ada yang dihukum dan tidak ada yang merasa dihukum.”
Aku biarkan dia mengoceh sesuka hatinya. Diriku lebih terfokus pada kopi yang hanya cukup untuk segelas saja. “Jadi, kau mampir hanya untuk melempar bola kristal itu?”
“Bukan. Lama aku tidak berkunjung. Ingin kali tahu responmu saja.”
Jam di ponsel menunjukkan pukul 00:22 WIB. “Sekarang sudah tahu to?”
“Apakah kau mengalami epifani sejak itu?”
“Mungkin, tapi aku tidak tahu pasti.”
“Aaah, pantas saja akhir-akhir ini kau sering menolak murid. Bukan dirimu yang selama ini kukenal.”
“Selama ini aku tidak pernah menerima murid. Kau tahu kemenangan, kepuasan, kekenyangan seorang guru saat melihat muridnya berlaku dan berkata jujur.” Aku bersandar pada tembok dengan memegang rokok yang belum menyala. “Lagian jika sekadar bertanya dan konsul, aku cukup terbuka. Lain hal bila kemudian terjadi relasi yang intens malah akan cukup merepotkan. Bukan padaku, melainkan orang lain. Kau tahu sendiri kan akibatnya?”
“Ya, ya... kebenaran memiliki dampak yang mencerahkan sekaligus mengerikan. Jikalau tidak dikerjakan malah akan menusuk pribadi si pendengar. Terdengar kejam.”
“Di sini lebih baik aku membatasi diri.”
“Kau tidak takut mereka mendapatkan nasihat yang menjerumuskan?”
“Apa peduliku,” balasku, sambil berdiri.
“Wow...wow... sikapmu itu seolah masa bodoh, tapi nadamu sebaliknya. Ingat, ada misimu yang belum dibatalkan sama Allah.”
“Aku baru menyadari sesuatu.”
“Apa itu?”
“Rambutmu mulai memutih. Aku teringat beberapa minggu lalu, tukang cukur rambut mengatakan bahwa di kepalaku tidak ada uban. Katanya, anak muda zaman sekarang sudah tumbuh uban.”
“Tandanya apa?”
“Tandanya otakku masih waras dan belum menua. Aku masih ingat misi-misiku, mana yang telah dibatalkan dan mana yang belum.”
“Kau tidak takut pada misi yang tidak dibatalkan dan belum tuntas?”
“Aku sudah pasrah dan siap menerima semua akibatnya.”
“Kau benar-benar.... uuuh! Jangan terlalu banyak kau hisap.” Dia mengambil dua batang rokok untukku lalu menyembunyikan bungkusnya. “Aku masih ingat dirimu yang masih SMA yang jauh berbeda dengan yang sekarang.”
“Aku lho baru menghidupkan sebatang,” protesku. “Tentu saja. Setiap kali kubunuh cinta, terhapus pula separuh hidupku.”
Kami diam cukup lama. “Menurutmu, mereka juga mengalaminya?” tanyanya tiba-tiba, sambil membuka lembaran-lembaran Kitab Fathur Rabbani.
“Apa?” tanyaku balik, “hei, wudhu dulu.”
“Epifani!” jawabnya dengan nada jengkel. Dia lantas mengembalikan buku itu ke tempat semula.
“Kurasa tidak.”
“Kau tahu darimana? Berinteraksi saja tidak pernah.”
“Aku punya indikator sendiri.”
“Apaan?”
 “Aku pernah menasihati bila ada yang bertanya atau mengirim pesan, jawablah minimal ‘ya atau tidak’. Kuprediksi pesanku itu telah dibaca, yah, mungkin lima kali. Dan sampai sekarang tidak dijawab. Selain itu, aku pun telah memberitahu hanya akan menyimpan atau mengonfirmasi nomer atau akun baru dari mereka. Masih tetap sama. Tidak ada pengaruh atau titik balik.”
“Bisa saja ada yang mencegah atau melarang. Lagipula, orang gila macam mana yang rela ganti nomor dan membuat akun baru hanya demi dirimu? Sinting.”
Aku terpingkal mendengar jawabannya. “Justru itu agar mereka tetap melanjutkan hidup dan tak terlalu memikirkan hal remeh macam aku. Siapa tahu hidup mereka jauh lebih tentram bila tidak mendengarkan kebenaran-kebenaran yang sering kuungkapkan.” Kulirik dia kini sibuk menggunting kuku. “Lagian, hampir setahun lalu di mangrove aku menjelaskan pada mereka misi-misiku sebelum kejadian itu. Kau ingin tahu dampak bila ada yang mengganggu atau menjegal atau menghalangi misi itu?”
Dia buru-buru menutup telinga. “Tidak ingin tahu.”
“Akan kuberitahu hanya padamu.”
“Stop! Hentikan! Cukup! Aku tidak mendengar! Aku tidak mendengar!”
Aku tertawa melihat tingkahnya. “Ayolah...”
Sadar aku hanya menggoda, dia melanjutkan kesibukan memotong kuku. “Sesuatu yang kau tinggalkan pasti akan berbeda. Jauh berbeda. Bukan dari materiil atau kuantitas. Entah itu aura, suasana, atau jiwanya.”
“Semoga perbedaan itu mengarah pada sesuatu yang baik.”
“Lalu... bagaimana cara memperbaiki semuanya?” tanyanya dan dia berhenti memotong setelah jeda ‘klik’ yang lumayan lama.
Meski kini aku fokus pada layar laptop, aku tahu dia menunggu jawabanku. “Tidak ada.”
“Tidak ada atau tidak tahu?”
“Keduanya,” balasku enteng.
“Itu paradoks!” teriaknya sambil melempar pemotong kuku yang mengenai bahuku.

May 2, 2019

“You could not live with your own failure, and where did that bring you? Back to me.”

Judul              : Avengers: Endgame
Durasi            : 181 menit
Sutradara     : Anthony Russo, Joe Russo
Naskah           : Christopher Markus, Stephen McFeely
Pemain           : Robert Downey Jr., Chris Evans, Chris Hemsworth, Scarlett Johansson, Jeremy Renner, Mark Ruffalo, Paul Rudd, Brie Larson, Karen Gillan, Josh Brollin


Tahun ini ada dua hal yang tak boleh kudengar, spoiler film Avengers: Endgame dan akhir dari Game of Throne. Akan terasa menyebalkan bila kedua hal tersebut sampai ada yang memberikan spoiler. Keindahannya akan pudar seperti bila kalian sayup-sayup mendengar akhir kisah Six Sense atau The Prestige. Saya perlu menahan diri, entah itu menghindar dari status teman-teman yang telah menonton maupun membaca berita yang berkaitan dengan keduanya.

Infinity Wars telah membawa banyak spekulasi, mulai “siapa yang akan membunuh Thanos?”, kemunculan film “Captain Marvel” di sela-sela film menimbulkan praduga bahwa ia yang akan mengalahkannya. Lantas, bagaimana langkah Russo bersaudara membangkitkan kembali triliunan makhluk yang mati paska genosida Thanos dengan jentikkan jarinya? Kehadiran Ant-Man sebelum Civil Wars membuka peluang adanya dugaan multiverse ala DC. Tetapi, DC dan Marvel jelas berbeda dalam membangun universe-nya. Biasanya film-film sci-fi untuk mengatasi masalah ini dengan cara time travel, namun tidak ada yang punya kemampuan melakukan perjalanan waktu seperti Flash untuk kembali ke masa lalu atau memanipulasi waktu. Sebentar. Quick Silver telah mati dalam Age of Ultron dan kemampuannya tak sehebat Flash dari DC.  Strange bisa, tapi dia sudah menjadi debu dalam Infinity Wars. Aih, daripada memikirkan semua itu lebih baik saya melihatnya langsung.

Setelah seminggu pemutaran, kesempatan itu datang dan takkan kusia-siakan. Meski seorang diri dan waktunya malam hari, kesempatan tersebut akan sulit terulang. Mengingat jumlah penonton serta waktu luang, lebih-lebih keganjenan kawan-kawan yang ingin segera membocorkan kisah Endgame. Well, lebih baik ndang budaaal!

Hasilnya, Avengers: Endgame menjadi karya kerja keras penuh cinta untuk seluruh fans Marvel Cinematic Universe. Bagi kalian yang tumbuh bersama dengan kehadiran Iron Man, Hulk, atau Thor, dan Captain America sejak tahun 2008 akan begitu terasa keharuannya. Film ini dibuat dengan kecermatan serta kehati-hatian dengan menampilkan banyak momen yang menguras serta memuaskan secara emosional. Kita dibawa untuk menyelami lebih dalam pikiran dan jiwa para super hero yang berkawan lantas berkonflik.

Kita menyadari narasi yang dibangun selama ini begitu solid. Sepanjang film kita menghirup nuansa kelam yang intens melebur dengan humor khas Marvel. Endgame melangkah cepat dengan fokus pengembangan karakter sehingga waktu tiga jam tak terasa.

Pencapaian lain dari film ini adalah kualitas akting dari para pemainnya. Bahkan aktor yang hanya sepintas tampil memberikan sentuhan penuh makna. Perhatikan secara saksama Thor, Captain America, Hulk, Iron Man, Ant-Man, dan Dr. Strange yang membawakan pesan dan emosi yang sulit dicapai film super hero lainnya. Ada suatu anggapan bahwa film super hero atau laga tidak membutuhkan akting yang bagus karena penonton hanya butuh aksi dan baku hantam, makanya genre tersebut akan sulit masuk nominasi Oscar terutama best actor atau best actress. Akan tetapi, kali ini saya akan menganggukkan kepala bila Robert Downey Jr. dimasukkan dalam nominasi Oscar.

Kisah yang dimulai paska genosida menawarkan konsistensi kegelapan dan siksa batin para super hero karena kegagalan sebagai seorang pahlawan. Yah, meski banyak juga film super hero yang berlatar kisah serupa, Endgame memiliki level yang berbeda. Jentikkan jari Thanos memberi efek premis terhadap film ini, 14 juta banding satu.

Apesnya, solusi yang dihadirkan dalam film ini ialah perjalanan waktu. Begitulah manusia ketika ingin menyelesaikan konflik kerap berandai tentang waktu. Meski tak berbelit dalam penguraiannya, perjalanan waktu tentu memiliki kelemahan tersendiri. Lubang plot yang hadir dalam Endgame jika diuraikan malah spoiler. Tenang, saya tak ingin merusak kesenanganmu meski saat ini tanganku terasa gatal untuk mengetik bocoran film ini.

Pada aspek lain, sinematografer nampak bergembira dengan memainkan skema cahaya dan warna dalam berbagai referensi film Marvel terdahulu. Ada juga skor musik yang menyajikan nada-nada riuh di dada. Suatu tawaran yang tak mampu kita tolak sambil bernostalgia ria.

Alhasil, Endgame memiliki struktur film yang kita inginkan dan beberapa ada makna yang kita butuhkan. Capaian langka dari film super hero setelah dengan kesabaran memulainya dalam dekade silam.

Cerita             : 7.5/10
Pemain          : 8.5/10
Ending           : 8/10
Overall           : 8/10

Apr 13, 2019



Jauh sebelum mengenal Levinas, saya sudah memercayai perihal wajah sebagai jejak ilahi yang bersifat transenden. Berkali-kali saya bertemu dengan seseorang yang mengatakan bahwa wajahku seperti A, B, C yang merujuk beberapa tokoh yang telah tiada. Yang mengejutkan, mereka ada benarnya setelah kutelusuri silsilahku. Ini bukan perihal reinkarnasi, dan Tuhan dalam wujud manusia. Ini suatu hal yang berbeda, aku melihat wajah dari suatu sudut pandang yang berbeda: dapat berupa pengingat, hukuman, penghormatan, atau bentuk perbaikan kesalahan masa lalu. Bagi sebagian orang mungkin terdengar konyol dan terlau mengada-ada, namun ini riil.

Bagi Levinas, wajah dilihat sebagai jejak (trace) yang tak terbatas (the infinite). Ia lebih memilih kata “jejak” dibandingkan kata “tanda” karena terdapat unsur transenden dari tak terbatas, kalau dalam sudut pandangku Ilahi. Kata jejak memberikan suatu pemahaman bahwa ada objek yang tertinggal dan masih bisa dikenali. Objek sebagai sumber jejak sudah tidak ada lagi. Ia tidak hadir, tetapi masih bisa ditelusuri kehadirannya.

Saat aku melihat foto si bocil, aku seperti melihat jejak seseorang yang tak hadir di sana, namun masih bisa kukenali, yakni diriku sendiri. Pada kasus lain, aku juga melihat wajah seseorang yang kukenali, akan tetapi bukan wajah orang tersebut. Nah, di sinilah sifat transendennya. Ada relasi saat wajah dapat didominasi persepsi, namun sesuatu yang khas dari wajah tak dapat direduksi oleh persepsi. Kamu melihat orang yang kau kenal, dan saat yang bersamaan dia bukanlah orang yang dimaksud. Wajah mampu mengungkapkan keberlainan yang lain yang tak mampu direduksi, baik yang kelihatan maupun yang tak kelihatan di baliknya. Yang tak terbatas atau Ilahi sebagai pihak ketiga telah menyingkapkan jejak sekaligus memberikan perintah kepada subjek yang melihatnya untuk bertanggungjawab.

Pada sisi lain, perlu diketahui bahwa jejak juga memiliki fungsi seperti tanda yang mengandung pesan untukku. Manusia tak hanya memberikan makna-makna berbagai objek intensional yang disadari, melainkan juga dibentuk dan dipengaruhi secara kuat oleh berbagai penampakan objek yang implisit.

Wajah memang layaknya enigma. Terkadang, wajah memberikan sifat traumatis atau kekhawatiran. Trauma bukan dalam artian berteriak ketakutan atau histeris, melainkan semacam ada kehadiran yang lain dari objek yang lain. Saya tahu karena pernah mengalami fase ini. Wajah itu bahkan pernah hadir dalam mimpi dan saat terbangun bantal menjadi basah. Uniknya, beberapa minggu silam atau mungkin sebulan lalu saya mimpi bertemu dengan orang yang sama, akan tetapi wajahnya tertutup cadar.

Di negara yang mengaku bermahzab Syafi’i yang menulis al-Umm, cadar seperti sesuatu yang ganjil. Saya seperti melihat sisi lain dari cadar: mengikis trauma pada wajah-wajah tertentu.

Dari berbagai rasa kepo dan wawancara terhadap pengguna cadar ada beberapa problem yang kerap mereka hadapi. Saya membaginya menjadi dua problem, yaitu internal dan eksternal. Dari Sisi internal adalah konsistensi. Saat seseorang bercadar, ia dituntut untuk konsisten dalam memakainya, mengamalkan ajaran-ajaran agama, serta perilaku yang berbeda. Inkonsistensi justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri dan juga bagi pengguna cadar yang lain. Pada dasarnya cadar untuk menghindari fitnah, tetapi apa yang dipikirkan manusia saat melihat wanita bercadar keluar-masuk kamar lelaki yang bukan suaminya? Atau bagaimana jika istri/anak perempuan/saudarimu dibawa oleh lelaki yang tak dikenal? Hal tersebut justru menimbulkan streotip negatif dan fitnah.

Pada sisi eksternal, tekanan keluarga dan lingkungan sekitar yang asing terhadap cadar begitu besar. Kurasa ini wajar mengingat cadar mulai berkembang (dalam pengamatanku) di tengah masyarakat Indonesia sekitar sepuluh tahun silam. Sebelum era reformasi wanita bercadar, maupun berjilbab sangat langka. Sekiranya masyarakat mengerti dan memahami pendapat empat mahzab tentang cadar, kurasa tak akan terjadi kehebohan pada tataran sosial. Khususnya pada ruang lingkup keluarga apabila salah satu anggotanya memutuskan bercadar, tambahan pula mendesak ingin segera menikah. Ini seperti geledek siang hari yang menyambar-menyambar langit kaum umat Nabi Yunus AS. Tak usah dibayangkan, nyatanya memang ada dan banyak.

Begitulah ujian nyata bagi kaum perempuan. Jika keputusannya itu datang dari diri sendiri dan ikhlas, ia akan tetap konsisten. Dan bila keputusannya itu bukan dari dirinya atau ternodai motif-motif lain, Ia akan mengalami kekecewaan dan berhenti serta menanggalkan cadarnya.

Kalau kamu bertanya ujian bagi lelaki, yang pasti menjaga pandangannya. Mau telanjang ataupun bercadar kalau mata lelaki jelalatan yo podo wae marai perkoro. Sayangnya, di luar sana banyak yang seperti itu. Aku kerap bersyukur mataku menjadi minus sehingga wajah-wajah nampak pudar.

Apr 2, 2019









Berbagai kegiatan mekanik yang bertubi-tubi membuat otak dan psikisku letih. Di bawah pohon kersen dan beberapa ekor burung perkutut, iseng-iseng aku membuat proposal pelatihan: Kawula Training. Pelatihan kepemimpinan (leadership training) sudah mainstream bos... jadi, pelatihan menjadi kawula, abdi, babu, jongos, kacung juga sama pentingnya. Tetapi, perihal kawula ini dianggap rendahan, tidak modern, tidak menjual bahkan menjijikkan sehingga tidak layak untuk dijadikan pelatihan.

Pelatihan kepemimpinan memang penting karena setiap orang akan memimpin, minimal dirinya sendiri. Namun, mereka kerap lupa bahwa di luar sana mereka juga akan menjadi kawula, abdi, kacung, ma’mum orang lain. Kepemimpinan itu terkait kekuasaan. Benar bila ada yang mengatakan bahwa kekuasaan dapat mengubah banyak hal dan biasanya yang pertama berubah ialah pemegangnya. Sayangnya, pemimpin itu hanya satu sedangkan yang memeroleh pelatihan kepemimpina itu banyak sekali. Apa yang terjadi jika seseorang sudah tidak lagi menjadi seorang pemimpin? Post power syndrome.

Kawula training akan berfokus pada cara-cara menjadi kawula, abdi, babu, jongos, kacung yang baik sekaligus mempersiapkan mental saat kembali menjadi kawula dan tak lagi memimpin. Kawula yang baik tidak harus patuh seratus persen. Ia harus ingat kewajiban-kewajibannya karena ada kalanya seorang pemimpin memanfaatkan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi. Misalkan, ada pemimpin yang menyuruh datang bawahannya hanya untuk permasalahan-permasalahan pribadi. Padahal si bawahan masih memiliki kewajiban dan tanggungjawab yang harus diselesaikan. Relasi yang seperti ini berbahaya. Berbagai skandal dalam institusi formal maupun sosial-keagamaan dimulai dari model relasi seperti ini. Apalagi jika hal tersebut dibalut dengan alasan agenda atau kegiatan institusi. Yah maklum saja, tak mungkin si bos berkata terus terang “temani saya” yang justru malah mengkhawatirkan.

Sang kawula, babu, atau abdi dalam menghadapi pemimpin yang seperti ini perlu tegas dan fokus pada prioritas kewajiban. Sayangnya, karena model pelatihan kawula itu minim, jadi saya kerap menjumpai kawula, babu, atau abdi yang taklid. Ini tentu saja berbahaya karena sifat taklid seseorang sering bingung sendiri dan dengan mudah akan diperbudak model pemimpin tadi. Sifat taklid ini juga yang menghalangi si kawula, babu, atau jongos tidak dapat mandiri. Coba bayangkan sikap taklidmu dibawa sampai mati, saat ditanya malaikat penjaga kubur, meski sudah dikasih tahu modin kisi-kisi jawaban tak akan berpengaruh karena ke-taklid-an yang membutakan jawaban. Masa saat kamu ditanya malaikat, siapa Tuhanmu? Lantas kamu jawab, “Tuhanku si Bos”. Akhirnya, kena gebuk malaikat.

Jadi, hal pertama yang harus dilakukan oleh kawula, abdi, kacung, jongos, atau ma’mum adalah mencari pemimpin yang baik. Apabila hidupmu fiksi bolehlah kamu seperti Togog yang kerap salah dalam mencari majikan. Akan tetapi, ini dunia real. Dunia dengan aneka macam persoalan yang akan menentukan hendak kemana setelah kematian, dan para kawula itu butuh penuntun yang memiliki prinsip, tegas, adil, tahu benar-salah dan pada satu sisi bisa membuat para kawula mandiri.

Kedua, carilah majikan yang tak hanya menyakinkan dalam berbicara, tetapi juga dalam tindakan. Banyak majikan yang hanya bisa menyuruh, tetapi tidak dapat dengan baik memberikan teladan. Aku sudah kenyang bertemu dengan model majikan seperti ini. Apalagi jika majikan itu dibekali kemampuan public speaking yang mampu menyakinkan audien.

Kira-kira begitulah bocoran isi proposal iseng-isengku. Ada suara derak daun-daun keres dan obrolan singkat muda-mudi. Mereka berceloteh karena sang guru keluar tanpa sebab dan seluruh kelas tidak tahu alasannya. Aku tersenyum dan membatin, “kalian ditinggalkan karena seluruh kelas tidak mendengarkan.” Bagaimana aku tahu? Karena aku pernah meninggalkan kelas yang demikian. Bukannya tak peduli, sebaliknya kelas itu yang tak peduli pada tujuan dan tanggungjawabnya. Pada sisi lain si guru ingin menyadarkan seluruh kelas dan melatih untuk mendengarkan. Sayangnya, mungkin ada yang melihat hal ini bukan sebagai bagian dari pelajaran melainkan bentuk ketidakpedulian. Nah, argumen seperti ini terkesan angkuh dan sentimen. Tak cocok menjadi calon majikan penerus bangsa.

Nampaknya, aku perlu menyudahi tulisan ini. Senja mereda menebar belas kasih di tangan. Sayup-sayup terdengar sebuah nada dari handphone salah satu muda-mudi itu. Aku suka lagu lama yang memberi demam hujan.


Mar 25, 2019


Si Berlin tiap kudekati tersenyum. Senyumnya lebar. Aku tidak tahu alasannya tersenyum. Mungkin karena dia merasa melihat teman sebaya padahal aslinya baby face dududu... Aku pun ikut-ikutan tertawa karena dia tersenyum dengan memamerkan gusi yang belum tumbuh gigi alias senyum gigi ompong dedek bayi emez.

Ketika melihat si Berlin diriku mengingat saat-saat “apakah aku harus segera menikah dan memiliki anak?” Pada banyak sisi diriku belum siap, akan tetapi saat melihat kondisi fisik ada dorongan untuk menyegerakannya. Khususnya, anak. Perihal anak ini aku jadi menyadari suatu obrolan dengan sobat lama dari Masalembu yang sedang di Mesir. Kejadiannya delapan tahun silam melalui chat facebook. Ada kekhawatiran pada diriku merawat anak dalam dunia yang serba nisbi dan penuh chaos. Lantas ia seperti menenangkan dengan mengatakan, “Tenang, cak. Sampeyan maqamnya seperti Basudewa.” Pada saat itu aku tak menimpali kelakarnya dan tidak menanyakan lebih lanjut Basudewa si ayah atau anak? Sepengetahuanku Basudewa ialah ayah yang mendidik Baladewa dan Kresna menjadi ksatria dalam Baratayudha yang sakti dan ditakuti. Bahkan keduanya dihalangi untuk mendukung salah satu pihak karena kesaktiannya. Namun, nama Basudewa juga pernah dipakai Kresna dalam sebuah penyamaran dalam salah satu babak wayang.

Seingatku, Basudewa dalam mendidik kedua anaknya mencampurkan berbagai metode. Ia seperti mempergunakan konsep phronesis Aristoteles, membuat Baladewa dan Kresna belajar untuk membuat penilaian yang logis dan benar sekaligus juga moral excellence sebagai seorang calon raja. Basudewa mengajak Kresna dan Baladewa mendefinisikan kebaikan layaknya seorang idealis dan mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Mereka sering diajak sang ayah berkeliling menemukan esensi dari setiap kejadian: di pasar, hutan, kerajaan, laut. Hal ini penting karena kenyataan memang pahit dan mereka harus siap menerima takdir Hyang Wenang. Ketika Kresna tua, ia duduk di atas gunung sambil melihat Dwarawati yang dibangun dan di puncak jaya lenyap bersama wangsa Yadawa. Pada momen itu, aku seperti melihat perdebatan mu’tazilah, qadariyah, jabariyah maupun ahlu sunnah tentang qada’ dan qadar.

Saat ini manusia merasa memiliki kebebasan dan free choice. Akan tetapi, menurutku, itu semu belaka. Memang benar ada ayat yang menyatakan Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan mereka sendiri. Akan tetapi, itu ada lanjutan ayatnya, yakni jika Allah menghendaki. Akan terasa janggal bila Allah yang mengikuti kehendak manusia, sifat Ketuhanan justru akan hilang. Kita saja tidak pernah dilibatkan dalam memilih ayah dan ibu. Kita juga tidak pernah bisa mengendalikan aliran darah dalam tubuh. Bahkan saat manusia berusaha sekuat tenaga menjaga kesehatan, ia tetap akan sakit.

Perihal kebebasan dan free choice ini pula yang membuatku banyak tersenyum. Apalagi jika berkaitan dengan tuntutan hak. Menuntut hak itu seperti menuntut hawa nafsu dan ego. Manusia memang punya hak, tetapi juga punya kewajiban. Jangan-jangan kita menuntut hak lebih banyak daripada kewajiban yang kita lakukan. Itu pun kalau kita berhak, kalau tidak?

Terasa janggal? Tentu saja karena Allah tidak melihat hasil, melainkan proses dan ikhtiar. Yah, memang ada kalanya kita hanya dapat tawakal, tidak ada ikhtiar di dalamnya. Contohnya? Lihatlah Indonesia saat dijajah Belanda lalu Jepang. Berbagai bentuk perwanan untuk mengalahkan Belanda telah dilakukan, tetapi gagal. Lalu muncul Jepang yang mengalahkan Belanda. Jepang tak jauh beda. Kita berusaha mengusirnya, namun hasilnya sama. Lucu bin aneh saat Jepang mundur teratur bukan karena kita melainkan mengaku kalah pada sekutu. Allah punya cara sendiri untuk menyelesaikan masalah-masalah hambanya. Tetapi, perlu diingat konsep itu tidak selalu karena ikhtiar juga sangat penting. Lihatlah perjuangan proklamasi dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Yang penting cara dan prosesnya diridhoi Allah.

Akhir-akhir ini, diriku memikirkan itu kembali. Tak mungkin aku membiarkannya tumbuh dan besar dalam lingkungan buruk. Ia tak seperti Musa yang masih beriman meski diasuh Fir’aun. Juga bukan Yusuf yang memiliki keberuntungan sedemikian rupa. Mereka kekasih-kekasih Allah dan Allah menjamin-Nya.

Pusing memikirkan anak, aku tertidur dan bermimpi. Mimpinya terasa seperti ulangan kejadian lampau. Saat aku menakwilkan mimpi seseorang, aku melihat mimpinya. Dia sedang makan dengan lauk yang banyak dan nasi yang sedikit. Sekonyong-konyong kulihat tiga ular (satu besar dan dua kecil) berwarna garis hitam dan kuning berada di kakinya. Saat hendak kuusir, aku terbangun karena suara adzan subuh.

Mar 23, 2019






Apa yang menjemukan dari sebuah kota besar? Betul, macet. Untungnya, kemacetan yang kulalui melewati sungai Rolak, Gunung Sari yang lumayan menghibur mata. Setidak-tidaknya saya dapat sedikit memainkan imajinasi di sungai yang berwarna coklat itu.

Di tengah kemacetan saat jam pulang kantor muncul robot Godzila yang membuyarkan motor dan mobil. Lalu di bawah tol Karah, Kong yang asyik berendam merasa terusik ikut-ikutan ngamuk. Sial, efek Spielberg.

Malam sebelumnya saya menonton Ready Player One karya sutradara kawakan itu. Film yang mencampur berbagai budaya populer ke dalam suatu tampilan yang wah. Aku tentu tak pernah membayangkan motor PX-03 dari anime Akira hancur oleh si Kong yang turun dari tower. Atau Mechagodzilla yang bertarung dengan robot legendaris Gundam RX-78 dan Iron Giant. Spielberg dengan cerdas dan rapi memainkan berbagai wahana budaya pop ke dalam sebuah film. Sangat cocok untuk manusia yang stres saat melihat keranjang pakaian yang menggunung.

Tak ada Godzilla atau Kong yang saya temui di sungai itu. Adakalanya saya menemukan orang melarung sesaji di sana. Tak sering dan biasanya malam. Tiap orang dan tempat mungkin memaknai hal itu secara berbeda. Dalam budaya populer di Jepang, persembahan sangat penting untuk seorang dewa. Anime Noragami barangkali dapat menjadi representasi akan hal ini. Seorang dewa jika kehilangan penyembah atau yang berdoa untuknya, maka dia akan hilang karena terlupakan. Jauh sebelum Noragami, Neil Gaiman dengan sangat unik dan keren mengisahkan hal serupa: pertarungan dewa lama dengan dewa baru di tanah Amerika. Engkau akan terasa merinding bagaimana kubu Odin dan dewa-dewa dalam mitologi melawan Dewa Dunia dan Dewi Media. Yah semua hanya fiksi, dan seperti kata Gaiman dalam bukunya American Gods “Fiksi membantu kita menyelinap ke dalam kepala-kepala lain, tempat-tempat lain, dan melihat keluar melalui mata yang lain.” Baik Yato maupun Odin tentu mengalami hal yang menyakitkan. Dulunya dipuja kemudian dilupakan sehingga memiliki obsesinya sendiri.

Aku bersyukur karena tidak hidup dalam pemahaman yang demikian. Dalam pemahamanku Allah tidak melihat orangnya, melainkan perbuatannya. Amal kebaikan akan terus mengalir selama dia memberikan contoh yang baik, begitu pun kemaksiatan dan keburukan. Keduanya akan terus menggelinding bahkan setelah kematiannya. Pandangan ini kudasarkan pada hadist tentang putra pertama Adam tetap akan tetap menanggung dosa setiap jiwa yang terbunuh secara zalim.

Begitu menyedihkan menjadi dewa yang mengemis untuk dipuja. Aku lebih memilih tak dikenal, tetapi amal baik terus mengalir bahkan setelah kematianku.