Ronaboyd Mahdiharja

Sebuah goresan nan Pribadi mengenai metamorforsis dalam alam pemikiran perjalan menjadi manusia.

Jul 7, 2019



Semasa kanak, aku kerap dibuat bingung ketika menulis suatu surat yang mesti mencantumkan alamat. Lazim dalam contoh-contoh buku sekolah, alamat surat memuat nama jalan. Rumahku yang berada di tepi jalan justru tak memiliki nama jalan. Cukup kita tulis nama, rt/rw, nama desa dan keluarahan, kecamatan, kabupaten, dan tak lupa kode pos. Begitu pun bila ada pos datang, pada alamat tidak tertera nama jalan.

Bolehlah bila dikatakan bahwa rumahku berada di desa. Suatu desa yang berada tepat di jantung kecamatan sehingga lumayan padat penduduk. Hal tersebut membuatku menarik suatu kesimpulan bahwa pekerjaan tukang pos tidak hanya mengantarkan barang atau surat pada alamat yang dituju, melainkan juga mengingat nama-nama manusia pada suatu daerah. “Pasti pak pos punya ingatan yang super kuat,” batinku kala itu.

Pendingin dalam batok kepalaku membuat kenangan itu utuh membeku. Ketika berkenalan dengan lagu U2 Where the Street Have No Name, setidaknya aku tahu bahwa ada juga jalan-jalan di negara lain yang tak memiliki nama. Konon, Bono menulis lagu ini setelah mengunjungi Ethiopia pada masa perang saudara. Ia melihat jalan-jalan di negara tersebut tak memiliki nama, hanya angka. Tetapi, ada yang menyebutkan lagu ini mengisahkan jalan-jalan di Irlandia. Tiap jalan merepresentasikan orang yang menempati: agama, status, dan kepercayaan.

Kuelus-elus dada membayangkan Bono lari dan sembunyi. Aku bersyukur jalan rumahku yang tak bernama, tak pernah sekalipun membuatku berlari alih-alih sembunyi.

Hal berbeda yang secara dramatis dialami Choi Byung-Kwan. Ia mengabadikan sudut-sudut kawasan Korea’s DMZ (Demilitarized Zone) melalui foto. DMZ merupakan kawasan garis terdepan pertempuran perang Korea. Kini, menjadi wilayah yang steril dari aktivitas manusia, bahkan militer. Kawasan sepanjang 249,4 Km itu menjadi lahan tak bertuan. Tidak ada lagi jalan. Hanya sisa-sisa perang, zona ranjau, dan helm-helm tentara yang pecah dan berlubang.
***

Pada dasarnya perang melibatkan dua atau lebih pihak yang merasa memiliki posisi sama atau seimbang. Ambil contoh Argentina. Bukan Argentina yang kalian kenal sekarang dengan Messi-nya, melainkan Argentinan yang dulu. Argentina yang pede melawan Inggris dalam perang Malvinas. Oleh sebab terlalu pede karena perekonomian sedang berkembang pesat seperti Indonesia saat ini, Argentina dengan berani meladeni Inggris untuk memperebutkan kepulauan Falkland.

Akhirnya, Argentina kalah. Menurutku, itu awal mula kesialan Argentina. Selanjutnya, Argentina juga lengah dalam menghadapi middle-income countries trap. Seperti yang kita ketahui, Argentina mengalami krisis dan para ekonom menyebut fenomena tersebut sebagai “The Argentina Paradox”. Tahun 2002 The Economist menulis laporan panjang dalam “Argentina’s Collapse: A Decline Without Parallel” yang mendeskripsikan bagaimana Argentina yang menjadi bintang Amerika Latin lantas seperti pesakitan lepra. Digempur oleh Inggris, ditentang masyarakat sendiri. Kurang apes bagaimana?

Perang, bagaimanapun, selalu mendatangkan penentangan. Lihatlah kata mutiara orang-orang besar perihal perang. Sangat banyak hingga bikin suntuk. Hancur di luar, babak belur dari dalam. Respon terhadap perang memang bisa beragam.

Cicero menyebut pada masa perang, hukum diam saja (silent enim leges inter arma). Karen Armstrong terdengar membenarkan perang ketika ia mengatakan bahwa tidak ada perubahan sosial dan politik radikal yang pernah dicapai dalam sejarah umat manusia, tanpa pertumpahan darah. Bahkan pada lain kesempatan dia menyebut tiap agama memiliki sejarah kekerasan.

Berharap dunia tanpa perang mungkin terdengar naif. Ada momen ketika perang tak terhindari. Ini bukan berarti melanggar hukum. Bahkan para Nabi dan Rasul pun pernah melakukan perang ketika ada perintah dari Tuhan, misal Daud dengan perang Sharayim saat melawan Jalut maupun Muhammad dengan perang Badr. Pada titik ini aku seperti mengalami dejavu ketika membaca jilid kedua The Lord of the Ring: Dua Menara. Pada buku itu, Tolkien melalui Faramir menulis kurang lebih begini,

“Perang memang harus dilakukan, untuk membela diri melawan perusak yang mengganyang segalanya, .... Aku hanya mencintai apa yang mereka pertahankan.”

Ada fase perang itu tak perlu dilakukan, seperti Eksodus nabi Musa, era awal mula Islam ketika di Mekkah, atau Isa. Menurutku, hal ini melihat kondisi dari kaum para Nabi dan Rasul. Kaum Israel era Nabi Musa tak terlatih berperang karena lama menjadi budak. Kaum Nabi Isa belum begitu kuat dan mampu dalam berperang, akan tetapi pada nubuat akhir zaman pada akhirnya Nabi Isa pun akan ikut berperang bahkan membunuh Dajjal.

***

Pada jalan atau kawasan yang tak diketahui lagi namanya, Choi menemukan sebuah helm baja tentara yang berkarat, pecah, dan berlubang karena terjangan peluru. Dari sela-sela pecahan helm itu tumbuh bunga liar berwarna kuning yang cantik. Suatu kontras yang menarik sisi tragis dan optimis sekaligus. Ia mengabadikan objek itu dan menamai fotonya “May the Flowers of Peace Bloom”.


Di tempatku, jalan tak seperti Bono atau Choi temui. Jalan adalah ruang besar tanpa nama. Semak belukar masih sering kujumpa di sana. Namun, pak pos tak pernah salah mengantar karena ia tahu alamat yang dituju dan mengingat nama penghuninya.

Di kota besar dan era gawai canggih yang kini kutinggali, lumrah menemukan manusia memegang gawai yang dilengkapi GPS. Alamat rumahnya pun terbilang lengkap (nama, nomer rumah, gang, jalan, kecamatan, kodepos). Sayangnya, aku justru disibukkan untuk menjawab panggilan telepon dari kurir yang bertanya, “mas, posisi rumahnya di mana?”

Jul 5, 2019

Suatu ketika si Anis mengatakan bahwa Kata Pengantar dalam buku himpunan puisi yang kuterjemahkan dapat membuat seorang wanita baper. Saya sendiri tidak tahu bagian mana yang membuat baper. Setelah kubaca berulang kali, mungkin bagian awal buku. Kira-kira beginilah sepenggal Kata Pengantar buku himpunan puisi yang kuterjemahkan, dicetak secara terbatas untuk seserahan pernikahan:

KATA PENGANTAR


“I am the poet of the Body and I am the poet of the Soul.” – Walt Whitman

Engkau istimewa. Bukan karena kecantikan, kecerdasan, atau berbagai alasan lain. Melainkan karena engkau telah bersedia memilihku untuk sisa hidupmu, semoga. Maka daripada itulah, sehimpun puisi terjemahan ini kupersembahkan untukmu.
Dari begitu banyak penyair hingga akhirnya saya memilih Walt Whitman sebagai pembuka buku ini. Barangkali di Indonesia namanya tidak begitu populer karena membaca karya Whitman bagai menunggang kuda liar yang tidak patuh. Begitu banyak detail dan pengulangan untuk menciptakan kualitas mantra yang memikat dan memukau. Seringkali, Whitman memulai beberapa baris berturut-turut dengan kata atau frasa yang sama (Anaphora). Ia memaksa kita untuk menghirup kata-kata tanpa jeda napas.
Puisi Whitman mencerminkan vitalitas dan siklus kehidupan individu. Karya Whitman banyak suara-suara individu yang unik, namun setara. Ada interaksi interpersonal dan cara bagi individu untuk mengintegrasikan keyakinan mereka ke dalam kehidupan sehari-hari. Barangkali suara-suara individu itulah yang pernah atau akan menghiasi kehidupan sehingga kita dapat mengambil hikmahnya.
Ada beberapa hal yang membuatku memilih judul Song of Myself dalam kumpulan puisi ini. Pada dasarnya Song of Myself merupakan puisi yang terdapat dalam Leaves of Grass karya Walt Whitman yang mewakili inti dari visi puitis Whitman sebagai jurnalis, esais, sukarelawan perang saudara, dan juga seorang manusia. J.M. Coetzee dalam sebuah artikel berjudul Love and Walt Whitman menulis bahwa Whitman memberi tubuh makna dalam suatu konsepsi demokrasi: kerekatan yang menjadi landasan masyarakat demokratis. Kerekatan yang juga dimaknai sebagai keterikatan, persahabatan, persaudaraan nasional yang Whitman lihat dalam diri prajurit-prajurit muda yang berperang. Sebuah rasa cinta tanah air kala melihat negara dilanda perang saudara.

Jul 4, 2019





Lebih tersiksa menunggu? Atau membuat orang lain menunggu?

Bagi sebagian orang menunggu identik dengan kejumudan yang membawa kejenuhan. Bagiku, selama ada rokok dan kopi hal tersebut tak berlaku. Bahkan di bawah pohon kersen sambil menunggu jam pulang, saya masih dapat menikmatinya. Perihal menunggu ini, rasanya aneh. Tiba-tiba saya ingat Melos, bahkan sudah lupa sejak lama. Natsume Soseki yang menarik kembali Osamu Dazai pada ingatanku tentang Melos.

Run, Melos! Sebagai salah satu cerpen Dazai begitu membekas. Melos yang akan dihukum mati Raja Dionysius meminta penangguhan tiga hari karena masih ada urusan yang harus diselesaikan. Sebagai gantinya sahabat Melos, Selinuntius, menjadi jaminan selama dia menyelesaikan urusannya. Bermodal rasa percaya dan kesetiaan sebagai sahabat masa kanak, Selinuntius menerimanya dengan enteng walau dirinya tahu akan dieksekusi jika Melos tak datang.

Di sepanjang cerita, Melos terus berlari dengan pergulatan batin dalam dirinya. Apakah harus berhenti atau terus lari memenuhi janji. Tentunya tak mudah karena sepanjang perjalanan ada saja halangan dan godaan.

Bagi seseorang seperti diriku yang hanya memiliki kemampuan untuk percaya pada orang lain, tentu rapuh dan mudah hancur. Makanya bila diriku menjadi Selinuntius, barangkali akan menunggu Melos sambil ngopi dan ngudud mengamati orang seliweran. Sedangkan, Melos bersusah payah memenuhi janjinya dengan berbagai halangan: cuaca, begal, pergulatan batin, dan kondisi fisiknya sendiri.
Realitasnya, banyak orang tak seperti Melos. Dominan orang tidak merasa bila ditunggu. Inilah mentalitas ala pejabat yang merasa dirinya penting. Oleh sebab itulah, yang membuatku mengamini ucapan Soseki, “semakin manusia diamati, semakin dipaksa untuk menyimpulkan bahwa mereka egois.”

Pada dasarnya Run, Melos! berusaha untuk membantah bahwa manusia hidup untuk menyelamatkan dirinya sendiri, hal itu disadari bila akan dihadapkan pada kematian. Sayangnya, karya ini berbeda dengan karya Dazai lainnya yang lebih kelam seperti No Longer Human.

Dazai memang dikenal sebagai maniak bunuh diri. Berulang kali ia mencoba bunuh diri, apesnya sering gagal. Tidak sendirian, dalam riwayat menyebutkan dia pernah melakukan upaya bunuh diri berdua. Upaya itu mengalami kegagalan karena pasangannya mati, dan dirinya masih hidup. Kubayangkan sulit juga menemukan seseorang untuk melakukan bunuh diri bersama. Barangkali itu ambisi dan kebahagiaannya: bunuh diri bersama.

Bukankah terkadang manusia terluka bahkan oleh sebab kebahagiaan? Dazai menyadari konsep tersebut. Daripada terluka oleh sebab kebahagiaan yang baru dia rasakan bersama pacar barunya, lebih baik bunuh diri bersama. Mumpung ada yang bersedia. Upaya terakhir itu sukses. Dazai dan kekasih barunya ditemukan tenggelam bersama. Novel Goodbye yang dimuat bersambung menjadi tak rampung.

Kisah-kisah hidup memilukan Dazai itu terus membayangiku saat membaca Run, Melos!
Melos berlari bukan sekadar menyelamatkan nyawa seorang manusia. Ia berlari karena sesuatu yang lebih besar dan tak terhingga, sesuatu yang lebih menyeramkan dari kematian. Ia berlari karena kesetiaan pada ikrar, kepercayaan temannya. “Karena janji itu melebihi nyawaku,” tegas Melos.

Hatiku berdegup. Menunggu akhir kisah Melos sembari membatin, sesuatu yang berharga dan diinginkan oleh semua orang selalu hilang tepat saat baru saja didapatkan. Saat itu saya membayangkan, apa yang terjadi jika Melos memenuhi janjinya, sedangkan sang raja menolaknya?

Mungkin itulah yang akan menjadi masalahku. saya berusaha menepati janji, tapi ada hal atau orang yang membuat janji itu tak terpenuhi.

Jul 2, 2019




Beberapa pekan belakangan ini sambil tiduran berselimut kunikmati lantunan dua lagu terbaru dari Keane dan Imagine Dragons. Keane hadir dengan lagu “The Way I Feel” yang familiar di telinga meski tak sebagus “Somewhere Only We Know” atau “Is It Any Wonder”. Liriknya terdengar lebih bijak, tetapi tak sepuitik dulu. Barangkali karena para personil Keane telah menua sehingga memberikan pengalaman rasa yang berbeda.

Lalu dari album “Origins” milik Imagine Dragons, kupilih “Bad Liar” sebagai teman kala bermalas dan ngolet-ngolet di kasur. Lagu ini kutemukan pertama kali saat menunggu Bus di terminal Bungurasih dan berputar terus dari Surabaya sampai Jogja. Saya langsung jatuh cinta dengan lagu ini walau belum menangkap secara keseluruhan lirik. Maklum, Listening ku buruk. Vokal Reynold begitu mendalami tiap kata dan nada pada lagu ini. Lagu ini seperti membawa rasa sakit, perpisahan serta banyak emosi. Penasaran, kucari liriknya dan menelusuri tentang lagu ini. “Brengket,” begitulah respon pertama saya saat mengetahui fakta dari lagu ini.

Apa yang kau lakukan saat hubungan rumah tanggamu menjadi hambar? Begitu banyak kebohongan yang terjadi untuk menghindari luka hati, tetapi yang terjadi sebaliknya, kebohongan-kebohongan itu merusak dari dalam dan malah memberikan rasa sakit. Lantas, kau ingin menuangkannya menjadi sebuah lagu bersama istrimu dan menjadikannya backing vocal pada lagu itu. Kemudian bercerai. Saya tak mampu membayangkan betapa banyak emosi dalam penggarapannya. 

Kuputar lagu itu terus menerus. Di dalam selimut kuputuskan untuk menghentikannya. Selimut hijau bulu itu terasa wangi dan lembut karena habis kucuci. Salah satu barang yang melekat pada tubuh ayah ketika meninggal, rencanya akan dibuang atau dipendam dan pada akhirnya kuselamatkan. Sambil menggulung tubuh di dalam selimut, saya memikirkan kata-kata Natsume Soseki dalam Kokoro, kesepian adalah harga yang mesti dibayar karena lahir pada zaman modern yang begitu penuh kebebasan, kemandirian, dan egois. Begitu fantastis dan menggiurkan. Siapa saat ini yang tak memuja ketiga hal itu? Oleh sebab itulah, pada I am a Cat, Natsume dengan mudah mendefinisikan manusia sebagai makhluk yang, tanpa alasan sama sekali, menciptakan penderitaan mereka sendiri yang sebenarnya tak perlu.

Saya masih ingat muda-mudi yang kuamati dari jendela bus sambil memutar Bad Liar. Mereka berpelukan erat sambil cengengesan di atas motor yang berhenti karena traffict light. Mungkin mereka sedang membayangkan menjadi Dilan dan Milea. Model kucing-kucingan seperti apa mereka? Apakah saling bertukar kabar melalui telepon? Tak mungkin. Atau berpamitan pada orang tua karena ada tambahan kursus lantas membolos? Wes mbuh lah.

Kisah cinta tak selalu lurus dan mulus. Bahkan kisah yang demikian justru melenakan seperti jalan tol yang banyak memakan korban itu. Entah ‘kecelakaan’ macam apa saya tak tahu pasti. Bisa-bisa digantung sama pasangan sendiri, seperti berita-berita di koran atau media massa.

Melihat muda-mudi itu jadi ingat obrolan kawan-kawan yang sinis, tapi lumayan realistis.
Kawanku, dengan nada sinis pernah bercerita begini: “Mereka tak tahu rasanya ditolak calon mertua hanya karena beda parpol atau aliran agama. Mereka baru tahu kenikmatan yang tiga menit itu dibayar dengan kesengsaraan seumur hidup.”

Kawanku yang satunya menimpali, “Aku penasaran gajine sepiro. Gaji UMR 1,7 jt dengan biaya kawin 100 jt. Hutang bank? Jaminan bank ora iso modal paru-paru atau ginjel. Apalagi iki bukan hal yang produktif, malah kena hukum riba. Bisa sih dengan nabung sendiri, tapi coba matematikane digawe. 1,7 jt dikurangi uang makan dan kos. Keburu m****r dadi pocong!”

Kuingat-ingat muda-mudi itu karena peringatan dari Natsume dalam Kokoro, “Tetapi ingatlah, ada kesalahan dalam mencintai. Dan ingat pula bahwa dalam mencintai ada sesuatu yang suci.” Sesuatu yang suci itu tak banal dan dangkal seperti muda-mudi di atas motor itu. Bukan sembunyi-sembunyi di bawah restu orang tua, atau sebaliknya bermesraan karena merasa direstui. Sesuatu yang suci akan membuat seseorang menjaga amanah dan menjauhkan pasangan dari dosa. Sesuatu yang suci sikapnya akan adil, adil pada waktu, adil terhadap aturan dan larangan, serta adil terhadap diri sendiri serta orang lain. Pada konsep keadilan, seseorang yang meninggalkan tanggungjawab atau kewajiban demi kepentingan pribadi tak bisa disebut adil. Misal, kamu meninggalkan tugas atau tanggungjawab yang perlu diselesaikan demi menemani pacarmu berbelanja atau janji nonton, dapat dikatakan itu tidak adil. Sesuatu yang suci juga mengandung kebenaran dan kejujuran, bukan kebohongan atau penipuan.

Saya masih percaya bila niat dan cara atau prosesnya salah, hasilnya pun salah.

Saya melingkar di dalam selimut yang aroma pewanginya mulai menghilang. Mataku mulai berat dan tercium bau khas ayah. Sayup-sayup tampak ayah sedang sholat.

Mengapa aku menunggu begitu lama untuk mati?-Natsume Soseki

Jun 25, 2019





Pertengahan bulan Juni begitu unik. Bukan perkara tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni, kecuali jomblo di bulan Syawal. Yah bulan syawal biasanya dibarengi dengan bulan patah hati. Tatkala cinta tak direstui atau cinta karam kala berlabuh.

Lihatlah jalan desamu yang biasanya lengang kemudian menjadi sesak. Di tengah-tengah kemacetan para pemudik itu ditambah hati yang remuk, hidup saat itu mesti sumpek. Kok aku bisa tahu? Ya, bisalah. Pernah mengalami. 

Kesumpekan itulah yang membuat suara di seberang telepon sana sesenggukan karena patah hati. Pada 11 Juni kemarin seseorang di telepon bercerita jika sedang patah hati dan berencana bunuh diri. WTF!!! Tenang, saya tahu kalau dia tak bakal senekat itu. “Solusinya ada dua. Pertama, kamu ke dukun biar dia kembali dan keluarganya merestui. Tapi, rugi. Dosa sudah besar, tapi cuman dapat dia. Mendingan kalau ke dukun sekalian minta pelet artis-artis yang lemah iman.” Dia ketawa terbahak dan aku sedikit lega. “Kedua, kamu minta kepada si pemilik hati, yakni Allah. Tapi, kudu hati-hati kalau berdoa. Ada do’a yang mustajab, insya Allah, namun kudu khatam sek ‘ngajine’.

Anehnya, seminggu sebelumnya ada juga yang mengutarakan niat yang sama karena patah hati. Jadi, ada dua orang dalam waktu berdekatan yang mengalami hal yang sama dengan niat yang sama. Bab yang satu ini pancen huaaffuu.

Entah kesambet malaikat apa diriku pada hari selasa tanggal 11 Juni  di bawah terik matahari yang tertutup pohon kersen kala itu. Pada hari itu kuberikan tips padanya. Tips yang saya sendiri tak tahu pasti dapat dari mana, buku atau kitab apa.
Rajin sholat lima waktu tidak bisa kamu jadikan satu-satunya patokan dalam memilih pasangan. Itu sudah perkara wajib, jadi ya biasa saja. Ada hal lain selain sholat lima waktu yang juga harus kamu jadikan patokan. Sikap baik saja pun tidak cukup. Kamu perlu memerhatikan ini:
  1. Bagaimana ketika dia marah? Apakah alasannya dibenarkan syariat? Lihat alasan dia marah;
  2. Seberapa amanah dirinya;
  3. Seberapa adil sikapnya;
  4. Seberapa jujur perilakunya;
  5. Sejauh mana kesamaan visi kalian dalam membangun rumah tangga, mendidik anak dll.
Obrolan siang itu menggantung karena ada panggilan lain. Diriku menjadi khawatir dibuatnya. Esoknya, hari rabu tanggal 12 Juni di bawah naungan pohon kersen yang menyelipkan kehangatan cahaya pagi kucoba menghubunginya kembali. Takut kalau-kalau dia menjalankan niatnya. Aku bersyukur dia masih bernapas dan membalas meski sudah mulai sibuk dengan kerjaannya.  Yah, aku hanya bisa memberikan nasihat padanya.

Ingatlah kisah-kisah orang salik yang pernah kamu baca atau kenal. Masih banyak yang bisa kita syukuri. Di tengah-tengah kemacetan dan kesemerawutan pemudik, kita ikut senang melihat wajah bahagia mereka yang terlepas dari beban kerja, tugas-tugas sekolah. Kita masih bersyukur masih ada sanak famili yang dikenali dan dibuat tujuan wara-wiri. Masih ngerti kalau sate ayam itu enak. Masih bisa cengengesan lihat televisi. Masih bisa ngelus dada kala ayah-ibumu dengan tulus mencereweti.

Juni memang bulan yang perlu tabah. Aku pun sama perlu tabah dan sabar mencari file berita acara seminar yang perlu diunggah. Ada 6.385 email masuk yang belum terbaca. Aih... malas kali! Di tengah berjibunnya email masuk, aku mengandalkan fasilitas pencarian dengan menggunakan kata kunci. Apesnya, tidak satu pun muncul. Kucoba mencari dengan pencarian nama pengirim, sek... sek... jenenge sopo sing ngirim? Mampus, lali!

Jun 23, 2019






Flu dan demam telah menyebabkan diriku perlu istirahat sejenak. Sambil membongkar film yang terabaikan, The Mustang terpilih untuk menjadi teman.

Saat melihat judulnya, aku terkenang manga tentang kuda: Sylphid & Mars. Saya belum tahu gambaran film ini, namun setidaknya kutahu bahwa film ini tak lepas dari kuda. Yah, pengetahuanku tentang kuda sangat minim, dan aku tahu Mustang adalah sejenis kuda yang hidup liar pun dari manga. Hehehehe...

Atmosfir pembuka berbeda dengan War Horse nya Spielberg. Kuda-kuda liar digiring helikopter dan masuk dalam mobil-mobil besar. Mobil-mobil itu menuju sebuah penjara.

Film terpusat pada seorang napi bernama Roman Coleman. Satu dekade ia berada di dalam penjara dan tak pintar bersosialisasi. Bahkan si anak berpikiran bahwa ayahnya tidak memiliki keinginan keluar penjara. "I'm not good with people," katanya. Hingga terjadilah pertemuan dua monster di dalam penjara. Yah, ini bukanlah film Disney karena terdapat dua monster yang saling menghancurkan, memahami, dan berusaha pulih. Sengatan lembut yang menyakitkan berada pada akhir film yang membuat haru.

Meski berlatar suasana penjara, The Mustang memiliki atmosfir keheningan yang dominan. Dialog yang minim, tapi efektif ditambah akting aktornya yang tenang dan ekspresif membuat film ini memiliki keheningan puitis yang liar. 

Cerita              : 7,5/10
Pemain           :  8/10
Ending            : 8/10
Overall            : 8/0




Berkah Ramadhan. Bulan puasa tahun ini begitu luar biasa. Ada dua hal yang mungkin terdengar sepele, tetapi bagi diriku sangat penting.

Pertama. Inilah bulan yang menegaskan diriku masih memiliki getar hati. Konflik dan kerusuhan menjelang penghujung bulan Mei memberikan gambaran bahwa saya perlu bersyukur. Bersyukur atas hati yang telah Allah berikan masih berfungsi dengan baik. Sejauh dan sedalam apa pun perbedaan pandangan politik kita bukan lantas membenarkan segala bentuk kekerasan yang diterima kedua kubu. Hatiku masih bisa ikut merasakan perih dan sakit saat melihat orang dilempari batu, lalu dibalas pukulan, tendangan, injakan hingga jatuh korban dari kedua belah pihak. Baik yang telah terdata maupun tak ikut masuk statistik.

Batinku merasa terusik kala muncul banyak komentar cupet di medsos yang memaki dan menyalahkan korban. Betapa pun perbedaan pandangan politik tak menyurutkan getar hati itu. Umpama itu adalah adik, kakak, saudara yang digebuki, dilempari karena berbeda pandangan politik dengan kita, apakah kita layak berkomentar negatif padanya hanya karena perihal politik? Toh, perbedaan politik tak memengaruhi seseorang masuk surga atau neraka. Sebagai contoh, kita dapat melihat perbedaan pandangan dan cara Abu Bakar dan Umar dalam memimpin. Keduanya tetap dijamin masuk surga.

Jatuhnya korban tidak direspon dengan semestinya, alih-alih lebih meratapi fasilitas publik yang rusak. Sepengetahuanku, kematian seseorang yang terbunuh bukan karena alasan yang haq, sama dengan kematian seluruh umat manusia. Hal ini bukan berarti kematian dalam arti fisik melainkan kematian sifat-sifat yang melekat dalam martabat manusia. Pemahaman rasa semacam ini tak mungkin diperoleh dengan hasil membaca komik atau menonton sinetron. Saya tak tahu pasti rahmat Allah tersebut merasuk melalui mana. Tanpa sadar air mata menetes dan dengan suara lirih muncul kalimat, “saya masih manusia.”

Berkah ramadhan kedua adalah sesuatu yang spesial, mengharukan, dan menguras emosi meskipun ekspresiku mungkin datar-datar saja kala itu. Teriakan dan tangisan itu melebihi Polonaise No. 6 Op. 53 Chopin. Aku mulai memahami suatu ayat yang menyebut “anak adalah perhiasan dunia”.

Pada sedekah laut yang hampir membuatku mati tenggelam, tak pernah terbersit akan memiliki anak yang bisa kugendong, kugoda, dan kuajak bercanda. Barangkali karena pengalaman-pengalaman yang membuatku hampir modiar berkali-kali yang kemudian membuatku tak terlalu banyak bermimpi muluk-muluk.

Inilah tanggung jawab baru yang mesti kuemban seumur hidup. Kewajiban pertama seorang ayah adalah memberi nama. Ada banyak ribuan nama yang melayang dalam benakku. Padahal anakku hanya satu. Perihal nama ini sangat penting karena pada dasarnya nama adalah doa. Jadi, tak masalah juga saya berpanjang-panjang dengan doa. Tapi, nama yang panjang seperti tak lazim dalam masyarakat. Katanya, hanya bangsawan yang menyandang nama yang panjang. Terkadang, ingin rasanya menimpali: “apa ya perlu tak kasih silsilahku ben ora kakean kecangkeman?” Tetapi, hal tersebut urung karena tidak membawa faedah sedikit pun.

Nama juga penting karena bisa jadi itulah yang melekat pada dirinya seumur hidup. Sesuatu yang mungkin pertama kali ia kagumi atau cintai adalah nama. Pada sisi lain, saya pun akan memberikan kebebasan pada dirinya untuk mengubah itu bila kelak merasa kurang sreg, tentunya dengan catatan nama barunya itu memiliki makna dan doa yang bagus pula.


Hingga kini saya pun masih dibuat heran saat melihat rupa dan tingkah polah si bocil, sambil mbatin “cuuuur.... anakku!”