Ronaboyd Mahdiharja

Sebuah goresan nan Pribadi mengenai metamorforsis dalam alam pemikiran perjalan menjadi manusia.

Jul 2, 2019




Beberapa pekan belakangan ini sambil tiduran berselimut kunikmati lantunan dua lagu terbaru dari Keane dan Imagine Dragons. Keane hadir dengan lagu “The Way I Feel” yang familiar di telinga meski tak sebagus “Somewhere Only We Know” atau “Is It Any Wonder”. Liriknya terdengar lebih bijak, tetapi tak sepuitik dulu. Barangkali karena para personil Keane telah menua sehingga memberikan pengalaman rasa yang berbeda.

Lalu dari album “Origins” milik Imagine Dragons, kupilih “Bad Liar” sebagai teman kala bermalas dan ngolet-ngolet di kasur. Lagu ini kutemukan pertama kali saat menunggu Bus di terminal Bungurasih dan berputar terus dari Surabaya sampai Jogja. Saya langsung jatuh cinta dengan lagu ini walau belum menangkap secara keseluruhan lirik. Maklum, Listening ku buruk. Vokal Reynold begitu mendalami tiap kata dan nada pada lagu ini. Lagu ini seperti membawa rasa sakit, perpisahan serta banyak emosi. Penasaran, kucari liriknya dan menelusuri tentang lagu ini. “Brengket,” begitulah respon pertama saya saat mengetahui fakta dari lagu ini.

Apa yang kau lakukan saat hubungan rumah tanggamu menjadi hambar? Begitu banyak kebohongan yang terjadi untuk menghindari luka hati, tetapi yang terjadi sebaliknya, kebohongan-kebohongan itu merusak dari dalam dan malah memberikan rasa sakit. Lantas, kau ingin menuangkannya menjadi sebuah lagu bersama istrimu dan menjadikannya backing vocal pada lagu itu. Kemudian bercerai. Saya tak mampu membayangkan betapa banyak emosi dalam penggarapannya. 

Kuputar lagu itu terus menerus. Di dalam selimut kuputuskan untuk menghentikannya. Selimut hijau bulu itu terasa wangi dan lembut karena habis kucuci. Salah satu barang yang melekat pada tubuh ayah ketika meninggal, rencanya akan dibuang atau dipendam dan pada akhirnya kuselamatkan. Sambil menggulung tubuh di dalam selimut, saya memikirkan kata-kata Natsume Soseki dalam Kokoro, kesepian adalah harga yang mesti dibayar karena lahir pada zaman modern yang begitu penuh kebebasan, kemandirian, dan egois. Begitu fantastis dan menggiurkan. Siapa saat ini yang tak memuja ketiga hal itu? Oleh sebab itulah, pada I am a Cat, Natsume dengan mudah mendefinisikan manusia sebagai makhluk yang, tanpa alasan sama sekali, menciptakan penderitaan mereka sendiri yang sebenarnya tak perlu.

Saya masih ingat muda-mudi yang kuamati dari jendela bus sambil memutar Bad Liar. Mereka berpelukan erat sambil cengengesan di atas motor yang berhenti karena traffict light. Mungkin mereka sedang membayangkan menjadi Dilan dan Milea. Model kucing-kucingan seperti apa mereka? Apakah saling bertukar kabar melalui telepon? Tak mungkin. Atau berpamitan pada orang tua karena ada tambahan kursus lantas membolos? Wes mbuh lah.

Kisah cinta tak selalu lurus dan mulus. Bahkan kisah yang demikian justru melenakan seperti jalan tol yang banyak memakan korban itu. Entah ‘kecelakaan’ macam apa saya tak tahu pasti. Bisa-bisa digantung sama pasangan sendiri, seperti berita-berita di koran atau media massa.

Melihat muda-mudi itu jadi ingat obrolan kawan-kawan yang sinis, tapi lumayan realistis.
Kawanku, dengan nada sinis pernah bercerita begini: “Mereka tak tahu rasanya ditolak calon mertua hanya karena beda parpol atau aliran agama. Mereka baru tahu kenikmatan yang tiga menit itu dibayar dengan kesengsaraan seumur hidup.”

Kawanku yang satunya menimpali, “Aku penasaran gajine sepiro. Gaji UMR 1,7 jt dengan biaya kawin 100 jt. Hutang bank? Jaminan bank ora iso modal paru-paru atau ginjel. Apalagi iki bukan hal yang produktif, malah kena hukum riba. Bisa sih dengan nabung sendiri, tapi coba matematikane digawe. 1,7 jt dikurangi uang makan dan kos. Keburu m****r dadi pocong!”

Kuingat-ingat muda-mudi itu karena peringatan dari Natsume dalam Kokoro, “Tetapi ingatlah, ada kesalahan dalam mencintai. Dan ingat pula bahwa dalam mencintai ada sesuatu yang suci.” Sesuatu yang suci itu tak banal dan dangkal seperti muda-mudi di atas motor itu. Bukan sembunyi-sembunyi di bawah restu orang tua, atau sebaliknya bermesraan karena merasa direstui. Sesuatu yang suci akan membuat seseorang menjaga amanah dan menjauhkan pasangan dari dosa. Sesuatu yang suci sikapnya akan adil, adil pada waktu, adil terhadap aturan dan larangan, serta adil terhadap diri sendiri serta orang lain. Pada konsep keadilan, seseorang yang meninggalkan tanggungjawab atau kewajiban demi kepentingan pribadi tak bisa disebut adil. Misal, kamu meninggalkan tugas atau tanggungjawab yang perlu diselesaikan demi menemani pacarmu berbelanja atau janji nonton, dapat dikatakan itu tidak adil. Sesuatu yang suci juga mengandung kebenaran dan kejujuran, bukan kebohongan atau penipuan.

Saya masih percaya bila niat dan cara atau prosesnya salah, hasilnya pun salah.

Saya melingkar di dalam selimut yang aroma pewanginya mulai menghilang. Mataku mulai berat dan tercium bau khas ayah. Sayup-sayup tampak ayah sedang sholat.

Mengapa aku menunggu begitu lama untuk mati?-Natsume Soseki

Jun 25, 2019





Pertengahan bulan Juni begitu unik. Bukan perkara tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni, kecuali jomblo di bulan Syawal. Yah bulan syawal biasanya dibarengi dengan bulan patah hati. Tatkala cinta tak direstui atau cinta karam kala berlabuh.

Lihatlah jalan desamu yang biasanya lengang kemudian menjadi sesak. Di tengah-tengah kemacetan para pemudik itu ditambah hati yang remuk, hidup saat itu mesti sumpek. Kok aku bisa tahu? Ya, bisalah. Pernah mengalami. 

Kesumpekan itulah yang membuat suara di seberang telepon sana sesenggukan karena patah hati. Pada 11 Juni kemarin seseorang di telepon bercerita jika sedang patah hati dan berencana bunuh diri. WTF!!! Tenang, saya tahu kalau dia tak bakal senekat itu. “Solusinya ada dua. Pertama, kamu ke dukun biar dia kembali dan keluarganya merestui. Tapi, rugi. Dosa sudah besar, tapi cuman dapat dia. Mendingan kalau ke dukun sekalian minta pelet artis-artis yang lemah iman.” Dia ketawa terbahak dan aku sedikit lega. “Kedua, kamu minta kepada si pemilik hati, yakni Allah. Tapi, kudu hati-hati kalau berdoa. Ada do’a yang mustajab, insya Allah, namun kudu khatam sek ‘ngajine’.

Anehnya, seminggu sebelumnya ada juga yang mengutarakan niat yang sama karena patah hati. Jadi, ada dua orang dalam waktu berdekatan yang mengalami hal yang sama dengan niat yang sama. Bab yang satu ini pancen huaaffuu.

Entah kesambet malaikat apa diriku pada hari selasa tanggal 11 Juni  di bawah terik matahari yang tertutup pohon kersen kala itu. Pada hari itu kuberikan tips padanya. Tips yang saya sendiri tak tahu pasti dapat dari mana, buku atau kitab apa.
Rajin sholat lima waktu tidak bisa kamu jadikan satu-satunya patokan dalam memilih pasangan. Itu sudah perkara wajib, jadi ya biasa saja. Ada hal lain selain sholat lima waktu yang juga harus kamu jadikan patokan. Sikap baik saja pun tidak cukup. Kamu perlu memerhatikan ini:
  1. Bagaimana ketika dia marah? Apakah alasannya dibenarkan syariat? Lihat alasan dia marah;
  2. Seberapa amanah dirinya;
  3. Seberapa adil sikapnya;
  4. Seberapa jujur perilakunya;
  5. Sejauh mana kesamaan visi kalian dalam membangun rumah tangga, mendidik anak dll.
Obrolan siang itu menggantung karena ada panggilan lain. Diriku menjadi khawatir dibuatnya. Esoknya, hari rabu tanggal 12 Juni di bawah naungan pohon kersen yang menyelipkan kehangatan cahaya pagi kucoba menghubunginya kembali. Takut kalau-kalau dia menjalankan niatnya. Aku bersyukur dia masih bernapas dan membalas meski sudah mulai sibuk dengan kerjaannya.  Yah, aku hanya bisa memberikan nasihat padanya.

Ingatlah kisah-kisah orang salik yang pernah kamu baca atau kenal. Masih banyak yang bisa kita syukuri. Di tengah-tengah kemacetan dan kesemerawutan pemudik, kita ikut senang melihat wajah bahagia mereka yang terlepas dari beban kerja, tugas-tugas sekolah. Kita masih bersyukur masih ada sanak famili yang dikenali dan dibuat tujuan wara-wiri. Masih ngerti kalau sate ayam itu enak. Masih bisa cengengesan lihat televisi. Masih bisa ngelus dada kala ayah-ibumu dengan tulus mencereweti.

Juni memang bulan yang perlu tabah. Aku pun sama perlu tabah dan sabar mencari file berita acara seminar yang perlu diunggah. Ada 6.385 email masuk yang belum terbaca. Aih... malas kali! Di tengah berjibunnya email masuk, aku mengandalkan fasilitas pencarian dengan menggunakan kata kunci. Apesnya, tidak satu pun muncul. Kucoba mencari dengan pencarian nama pengirim, sek... sek... jenenge sopo sing ngirim? Mampus, lali!

Jun 23, 2019






Flu dan demam telah menyebabkan diriku perlu istirahat sejenak. Sambil membongkar film yang terabaikan, The Mustang terpilih untuk menjadi teman.

Saat melihat judulnya, aku terkenang manga tentang kuda: Sylphid & Mars. Saya belum tahu gambaran film ini, namun setidaknya kutahu bahwa film ini tak lepas dari kuda. Yah, pengetahuanku tentang kuda sangat minim, dan aku tahu Mustang adalah sejenis kuda yang hidup liar pun dari manga. Hehehehe...

Atmosfir pembuka berbeda dengan War Horse nya Spielberg. Kuda-kuda liar digiring helikopter dan masuk dalam mobil-mobil besar. Mobil-mobil itu menuju sebuah penjara.

Film terpusat pada seorang napi bernama Roman Coleman. Satu dekade ia berada di dalam penjara dan tak pintar bersosialisasi. Bahkan si anak berpikiran bahwa ayahnya tidak memiliki keinginan keluar penjara. "I'm not good with people," katanya. Hingga terjadilah pertemuan dua monster di dalam penjara. Yah, ini bukanlah film Disney karena terdapat dua monster yang saling menghancurkan, memahami, dan berusaha pulih. Sengatan lembut yang menyakitkan berada pada akhir film yang membuat haru.

Meski berlatar suasana penjara, The Mustang memiliki atmosfir keheningan yang dominan. Dialog yang minim, tapi efektif ditambah akting aktornya yang tenang dan ekspresif membuat film ini memiliki keheningan puitis yang liar. 

Cerita              : 7,5/10
Pemain           :  8/10
Ending            : 8/10
Overall            : 8/0




Berkah Ramadhan. Bulan puasa tahun ini begitu luar biasa. Ada dua hal yang mungkin terdengar sepele, tetapi bagi diriku sangat penting.

Pertama. Inilah bulan yang menegaskan diriku masih memiliki getar hati. Konflik dan kerusuhan menjelang penghujung bulan Mei memberikan gambaran bahwa saya perlu bersyukur. Bersyukur atas hati yang telah Allah berikan masih berfungsi dengan baik. Sejauh dan sedalam apa pun perbedaan pandangan politik kita bukan lantas membenarkan segala bentuk kekerasan yang diterima kedua kubu. Hatiku masih bisa ikut merasakan perih dan sakit saat melihat orang dilempari batu, lalu dibalas pukulan, tendangan, injakan hingga jatuh korban dari kedua belah pihak. Baik yang telah terdata maupun tak ikut masuk statistik.

Batinku merasa terusik kala muncul banyak komentar cupet di medsos yang memaki dan menyalahkan korban. Betapa pun perbedaan pandangan politik tak menyurutkan getar hati itu. Umpama itu adalah adik, kakak, saudara yang digebuki, dilempari karena berbeda pandangan politik dengan kita, apakah kita layak berkomentar negatif padanya hanya karena perihal politik? Toh, perbedaan politik tak memengaruhi seseorang masuk surga atau neraka. Sebagai contoh, kita dapat melihat perbedaan pandangan dan cara Abu Bakar dan Umar dalam memimpin. Keduanya tetap dijamin masuk surga.

Jatuhnya korban tidak direspon dengan semestinya, alih-alih lebih meratapi fasilitas publik yang rusak. Sepengetahuanku, kematian seseorang yang terbunuh bukan karena alasan yang haq, sama dengan kematian seluruh umat manusia. Hal ini bukan berarti kematian dalam arti fisik melainkan kematian sifat-sifat yang melekat dalam martabat manusia. Pemahaman rasa semacam ini tak mungkin diperoleh dengan hasil membaca komik atau menonton sinetron. Saya tak tahu pasti rahmat Allah tersebut merasuk melalui mana. Tanpa sadar air mata menetes dan dengan suara lirih muncul kalimat, “saya masih manusia.”

Berkah ramadhan kedua adalah sesuatu yang spesial, mengharukan, dan menguras emosi meskipun ekspresiku mungkin datar-datar saja kala itu. Teriakan dan tangisan itu melebihi Polonaise No. 6 Op. 53 Chopin. Aku mulai memahami suatu ayat yang menyebut “anak adalah perhiasan dunia”.

Pada sedekah laut yang hampir membuatku mati tenggelam, tak pernah terbersit akan memiliki anak yang bisa kugendong, kugoda, dan kuajak bercanda. Barangkali karena pengalaman-pengalaman yang membuatku hampir modiar berkali-kali yang kemudian membuatku tak terlalu banyak bermimpi muluk-muluk.

Inilah tanggung jawab baru yang mesti kuemban seumur hidup. Kewajiban pertama seorang ayah adalah memberi nama. Ada banyak ribuan nama yang melayang dalam benakku. Padahal anakku hanya satu. Perihal nama ini sangat penting karena pada dasarnya nama adalah doa. Jadi, tak masalah juga saya berpanjang-panjang dengan doa. Tapi, nama yang panjang seperti tak lazim dalam masyarakat. Katanya, hanya bangsawan yang menyandang nama yang panjang. Terkadang, ingin rasanya menimpali: “apa ya perlu tak kasih silsilahku ben ora kakean kecangkeman?” Tetapi, hal tersebut urung karena tidak membawa faedah sedikit pun.

Nama juga penting karena bisa jadi itulah yang melekat pada dirinya seumur hidup. Sesuatu yang mungkin pertama kali ia kagumi atau cintai adalah nama. Pada sisi lain, saya pun akan memberikan kebebasan pada dirinya untuk mengubah itu bila kelak merasa kurang sreg, tentunya dengan catatan nama barunya itu memiliki makna dan doa yang bagus pula.


Hingga kini saya pun masih dibuat heran saat melihat rupa dan tingkah polah si bocil, sambil mbatin “cuuuur.... anakku!”

May 23, 2019



“Tanggal 1 Mei di hotel, cak. Kudu iso. Yen ora iso golekno gantimu.”
Panggilan dengan nada agak maksa itu hadir tatkala sedang khusyuk mengerjakan laporan. “Aseem,” umpatku. Untungnya si penelepon sudah terbiasa dengan umpatan itu.

Percakapan itu ditutup, “lek gak ada kamu siap-siap. Hahahaha...!”

Saat mendengar materi LKMM, “Manajemen Organisasi, Komunikasi dalam Organisasi, dan Penjabaran Gagasan Awal” dalam benakku sudah membentuk layout materi yang akan kusampaikan jika memang harus mengisi karena pada 2 Mei ada penutupan lustrum. Yah setidaknya saya akan berbicara tentang perbedaan efektif dan efisien, perencanaan, komunikasi vertikal maupun horizontal yah mirip-mirip WoG. Untuk Gaswal perlu mengidentifikasi masalah dan anakoling terlebih dahulu. Terdengar kaku dan perlu tersistematis, sayangnya bukan gayaku.

Pada akhirnya, aku perlu mencari pengganti juga karena harus ada prioritas utama: sarasehan lustrum yang menyita fisik dan pikiran.

Selama seminggu berinteraksi dengan muda/mudi pada rangkaian acara lustrum kerap muncul pertanyaan “Enak nggak, pak, jadi *****?” Pertanyaan yang sebenarnya tidak asing bagiku karena baik di sini maupun di sana akan ada yang selalu bertanya demikian. Bila dijawab secara subjektif dan bersifat khusus untuk diriku yang tidak pernah bercita-cita menjadi seorang *****, saya menjawab “Tidak enak.” Ada berbagai faktor yang membuatku menjawab demikian.

Pertama, masalah celana panjang. Mana ada ***** yang masuk kelas memakai celana 3/4 atau sarung. Orang-orang yang mengenal dekat diriku pasti tahu alasannya bahwa saya alergi dengan celana panjang. Paha dan belakang lutut sering gatal jika memakai celana. Bahkan teman SMA ku dulu sering protes karena saya selalu memakai celana ¾ saat bertamu ke guru atau acara-acara formal. Boleh dibilang sejak SMA sampai sekarang saya memiliki celana panjang yang dapat dihitung dengan jari. Selain alasan gatal, celana panjang itu panas. Sumuk. Lebih enak mengenakan sarung yang semriwing. Saya jadi merasa bersalah pada kawan-kawan magister kalau mengingat-ingat soal sarung. Mereka tentu malu ketika jalan-jalan di mall bersama denganku yang mengenakan sarung. Pada awal-awal mengajar dulu, saya selalu membawa ganti celana pendek atau sarung saat gatal dan sumuk mendera.

Kedua, masalah wibawa. Dilihat dari segi mana pun, bahkan sedotan sekali pun, diriku tidak memiliki sikap dan tingkah laku yang layak dihormati. Sering cengengesan, ketawa keras, dan terlalu woles. Saya sering mendengar bahwa profesi ini perlu menjaga wibawa, namun hal tersebut tak berlaku padaku. Intinya, kewibawaan itu tidak ada pada diriku.

Ketiga, sifat pemalas. Boleh dikatakan bahwa diriku lebih suka tidur daripada bertemu manusia dengan berbagai problematikanya. Bila demikian saya lebih memilih diam dan malas menanggapinya. Anehnya, Allah selalu ada saja cara menghadirkan permasalahan-permasalahan manusia kehadapanku. Terlebih menghadapi manusia yang kadang labil dan galau pada usia-usia puber mereka.

Keempat, tanggung jawab. Beban tanggung jawab ***** itu besar dan berat. Sejak menjalani profesi ini di pundak dan punggungku terasa ada gunung yang menggantung. Mencerdaskan kehidupan bangsa? Saya sendiri masih ragu sanggup mencerdaskan satu orang manusia. Alasannya sederhana, karena saya sendiri merasa masih belum cerdas. Saya kerap merenung, apakah yang kusampaikan kelak berguna dan mampu mendongkrak kecerdasan?

Kelima, sekarepe dewe. Well, profesi ini punya tuntutan menjaga etika dan hal-hal yang perlu dijalankan. Ini jelas berbanding terbalik dengan diriku yang sering sekarepe dewe. Kadang patuh pada sistem, dan lebih sering menciptakan sistem sendiri.

Keenam, niat. Konon, menjadi ***** perlu niat yang mulia dan blablabla. Tiada terlintas dalam benakku untuk menjadi *****. Jadi, semua terjadi begitu saja layaknya big bang. Usai sholat istikharah karena bimbang perihal kegiatan yang sedang kugeluti, Allah menceburkan diriku pada beasiswa ***** yang sangat mengikat. Hal itu terjadi hingga diriku tenggelam sampai sesak napas.

Barangkali saya tidak akan menjadi ***** yang ideal karena berbagai hal. Tetapi, karena sudah tenggelam saya hanya bisa berkata, “yawes pie maneh kudu dinikmati pilihane Gusti Allah”. 

Makanya ketika Brian mengatakan, “***** is the best job ever”, aku hanya bisa garuk-garuk ketek. Mungkin profesi ini cara Tuhan agar diriku bisa membayar kualat masa silam. Meskipun demikian, saya senang melihat muda-mudi yang memiliki niat menggebu mencerdaskan kehidupan bangsa. Tinggal diasah dengan baik dan benar, meski kerap kulihat mereka layu sebelum tumbuh dan berkembang. Entah karena salah asuhan atau salah memilih jalan.

May 6, 2019





Obrolan ringan dengan mas Noe atau sekarang lebih dikenal nama Sabrang tak mampu menghindarkan diriku untuk membayangkan sedang rebahan. Ingin rasanya memejamkan mata barang sepuluh menit saja.
Setiba di kamar setelah berbagai aktivitas, kurebahkan diri dengan mengambil sembarang buku. Novela James Joyce terpilih dari sistem acak tersebut. Untungnya, Ulysses tidak termasuk buku yang kubawa ke Surabaya untuk dibaca ulang.
Aku kaget. Hantaman sebuah benda tumpul di perut membangunkanku. Seseorang yang lama tak kujumpa tersenyum.
“Lihatlah,” katanya ringan. Kesadaranku belum pulih. Aku tidak segera melihat apa yang menghantamku. Buku Joyce di samping tubuhku tertutup dan tertekuk. Jarang sekali aku tertidur saat membaca.
Benda tumpul yang menghantam perutku adalah sebuah bola kristal. Kupandangi dengan malas sambil mendengar perbincangan orang-orang di dalam bola itu. Kulempar kembali bola kristal itu pada si empunya.
“Kau tidak ingin menjawab berbagai praduga itu?”
“Tidak. Untuk apa?” jawabku sambil berdiri menghidupkan kompor dan mulai memasak air.
“Bodoh, untuk menjelaskan!” Ia berdiri membuka pintu agar udara segar masuk. “Semisal anggapan tak profesional karena mencampuradukkan sesuatu lantas menghukum semuanya.”
“Aku sudah menjelaskan semuanya. Dan kurasa selama ini telah fair sebagai manusia yang mencoba menuntun dari luar lingkaran. Mereka bukan orang-orang bodoh yang perlu dijelaskan berkali-kali, kecuali emosi menutupinya. Aku tidak suka pemilihan diksi ‘menghukum’ karena pada dasarnya tidak ada yang dihukum dan tidak ada yang merasa dihukum.”
Aku biarkan dia mengoceh sesuka hatinya. Diriku lebih terfokus pada kopi yang hanya cukup untuk segelas saja. “Jadi, kau mampir hanya untuk melempar bola kristal itu?”
“Bukan. Lama aku tidak berkunjung. Ingin kali tahu responmu saja.”
Jam di ponsel menunjukkan pukul 00:22 WIB. “Sekarang sudah tahu to?”
“Apakah kau mengalami epifani sejak itu?”
“Mungkin, tapi aku tidak tahu pasti.”
“Aaah, pantas saja akhir-akhir ini kau sering menolak murid. Bukan dirimu yang selama ini kukenal.”
“Selama ini aku tidak pernah menerima murid. Kau tahu kemenangan, kepuasan, kekenyangan seorang guru saat melihat muridnya berlaku dan berkata jujur.” Aku bersandar pada tembok dengan memegang rokok yang belum menyala. “Lagian jika sekadar bertanya dan konsul, aku cukup terbuka. Lain hal bila kemudian terjadi relasi yang intens malah akan cukup merepotkan. Bukan padaku, melainkan orang lain. Kau tahu sendiri kan akibatnya?”
“Ya, ya... kebenaran memiliki dampak yang mencerahkan sekaligus mengerikan. Jikalau tidak dikerjakan malah akan menusuk pribadi si pendengar. Terdengar kejam.”
“Di sini lebih baik aku membatasi diri.”
“Kau tidak takut mereka mendapatkan nasihat yang menjerumuskan?”
“Apa peduliku,” balasku, sambil berdiri.
“Wow...wow... sikapmu itu seolah masa bodoh, tapi nadamu sebaliknya. Ingat, ada misimu yang belum dibatalkan sama Allah.”
“Aku baru menyadari sesuatu.”
“Apa itu?”
“Rambutmu mulai memutih. Aku teringat beberapa minggu lalu, tukang cukur rambut mengatakan bahwa di kepalaku tidak ada uban. Katanya, anak muda zaman sekarang sudah tumbuh uban.”
“Tandanya apa?”
“Tandanya otakku masih waras dan belum menua. Aku masih ingat misi-misiku, mana yang telah dibatalkan dan mana yang belum.”
“Kau tidak takut pada misi yang tidak dibatalkan dan belum tuntas?”
“Aku sudah pasrah dan siap menerima semua akibatnya.”
“Kau benar-benar.... uuuh! Jangan terlalu banyak kau hisap.” Dia mengambil dua batang rokok untukku lalu menyembunyikan bungkusnya. “Aku masih ingat dirimu yang masih SMA yang jauh berbeda dengan yang sekarang.”
“Aku lho baru menghidupkan sebatang,” protesku. “Tentu saja. Setiap kali kubunuh cinta, terhapus pula separuh hidupku.”
Kami diam cukup lama. “Menurutmu, mereka juga mengalaminya?” tanyanya tiba-tiba, sambil membuka lembaran-lembaran Kitab Fathur Rabbani.
“Apa?” tanyaku balik, “hei, wudhu dulu.”
“Epifani!” jawabnya dengan nada jengkel. Dia lantas mengembalikan buku itu ke tempat semula.
“Kurasa tidak.”
“Kau tahu darimana? Berinteraksi saja tidak pernah.”
“Aku punya indikator sendiri.”
“Apaan?”
 “Aku pernah menasihati bila ada yang bertanya atau mengirim pesan, jawablah minimal ‘ya atau tidak’. Kuprediksi pesanku itu telah dibaca, yah, mungkin lima kali. Dan sampai sekarang tidak dijawab. Selain itu, aku pun telah memberitahu hanya akan menyimpan atau mengonfirmasi nomer atau akun baru dari mereka. Masih tetap sama. Tidak ada pengaruh atau titik balik.”
“Bisa saja ada yang mencegah atau melarang. Lagipula, orang gila macam mana yang rela ganti nomor dan membuat akun baru hanya demi dirimu? Sinting.”
Aku terpingkal mendengar jawabannya. “Justru itu agar mereka tetap melanjutkan hidup dan tak terlalu memikirkan hal remeh macam aku. Siapa tahu hidup mereka jauh lebih tentram bila tidak mendengarkan kebenaran-kebenaran yang sering kuungkapkan.” Kulirik dia kini sibuk menggunting kuku. “Lagian, hampir setahun lalu di mangrove aku menjelaskan pada mereka misi-misiku sebelum kejadian itu. Kau ingin tahu dampak bila ada yang mengganggu atau menjegal atau menghalangi misi itu?”
Dia buru-buru menutup telinga. “Tidak ingin tahu.”
“Akan kuberitahu hanya padamu.”
“Stop! Hentikan! Cukup! Aku tidak mendengar! Aku tidak mendengar!”
Aku tertawa melihat tingkahnya. “Ayolah...”
Sadar aku hanya menggoda, dia melanjutkan kesibukan memotong kuku. “Sesuatu yang kau tinggalkan pasti akan berbeda. Jauh berbeda. Bukan dari materiil atau kuantitas. Entah itu aura, suasana, atau jiwanya.”
“Semoga perbedaan itu mengarah pada sesuatu yang baik.”
“Lalu... bagaimana cara memperbaiki semuanya?” tanyanya dan dia berhenti memotong setelah jeda ‘klik’ yang lumayan lama.
Meski kini aku fokus pada layar laptop, aku tahu dia menunggu jawabanku. “Tidak ada.”
“Tidak ada atau tidak tahu?”
“Keduanya,” balasku enteng.
“Itu paradoks!” teriaknya sambil melempar pemotong kuku yang mengenai bahuku.

May 2, 2019

“You could not live with your own failure, and where did that bring you? Back to me.”

Judul              : Avengers: Endgame
Durasi            : 181 menit
Sutradara     : Anthony Russo, Joe Russo
Naskah           : Christopher Markus, Stephen McFeely
Pemain           : Robert Downey Jr., Chris Evans, Chris Hemsworth, Scarlett Johansson, Jeremy Renner, Mark Ruffalo, Paul Rudd, Brie Larson, Karen Gillan, Josh Brollin


Tahun ini ada dua hal yang tak boleh kudengar, spoiler film Avengers: Endgame dan akhir dari Game of Throne. Akan terasa menyebalkan bila kedua hal tersebut sampai ada yang memberikan spoiler. Keindahannya akan pudar seperti bila kalian sayup-sayup mendengar akhir kisah Six Sense atau The Prestige. Saya perlu menahan diri, entah itu menghindar dari status teman-teman yang telah menonton maupun membaca berita yang berkaitan dengan keduanya.

Infinity Wars telah membawa banyak spekulasi, mulai “siapa yang akan membunuh Thanos?”, kemunculan film “Captain Marvel” di sela-sela film menimbulkan praduga bahwa ia yang akan mengalahkannya. Lantas, bagaimana langkah Russo bersaudara membangkitkan kembali triliunan makhluk yang mati paska genosida Thanos dengan jentikkan jarinya? Kehadiran Ant-Man sebelum Civil Wars membuka peluang adanya dugaan multiverse ala DC. Tetapi, DC dan Marvel jelas berbeda dalam membangun universe-nya. Biasanya film-film sci-fi untuk mengatasi masalah ini dengan cara time travel, namun tidak ada yang punya kemampuan melakukan perjalanan waktu seperti Flash untuk kembali ke masa lalu atau memanipulasi waktu. Sebentar. Quick Silver telah mati dalam Age of Ultron dan kemampuannya tak sehebat Flash dari DC.  Strange bisa, tapi dia sudah menjadi debu dalam Infinity Wars. Aih, daripada memikirkan semua itu lebih baik saya melihatnya langsung.

Setelah seminggu pemutaran, kesempatan itu datang dan takkan kusia-siakan. Meski seorang diri dan waktunya malam hari, kesempatan tersebut akan sulit terulang. Mengingat jumlah penonton serta waktu luang, lebih-lebih keganjenan kawan-kawan yang ingin segera membocorkan kisah Endgame. Well, lebih baik ndang budaaal!

Hasilnya, Avengers: Endgame menjadi karya kerja keras penuh cinta untuk seluruh fans Marvel Cinematic Universe. Bagi kalian yang tumbuh bersama dengan kehadiran Iron Man, Hulk, atau Thor, dan Captain America sejak tahun 2008 akan begitu terasa keharuannya. Film ini dibuat dengan kecermatan serta kehati-hatian dengan menampilkan banyak momen yang menguras serta memuaskan secara emosional. Kita dibawa untuk menyelami lebih dalam pikiran dan jiwa para super hero yang berkawan lantas berkonflik.

Kita menyadari narasi yang dibangun selama ini begitu solid. Sepanjang film kita menghirup nuansa kelam yang intens melebur dengan humor khas Marvel. Endgame melangkah cepat dengan fokus pengembangan karakter sehingga waktu tiga jam tak terasa.

Pencapaian lain dari film ini adalah kualitas akting dari para pemainnya. Bahkan aktor yang hanya sepintas tampil memberikan sentuhan penuh makna. Perhatikan secara saksama Thor, Captain America, Hulk, Iron Man, Ant-Man, dan Dr. Strange yang membawakan pesan dan emosi yang sulit dicapai film super hero lainnya. Ada suatu anggapan bahwa film super hero atau laga tidak membutuhkan akting yang bagus karena penonton hanya butuh aksi dan baku hantam, makanya genre tersebut akan sulit masuk nominasi Oscar terutama best actor atau best actress. Akan tetapi, kali ini saya akan menganggukkan kepala bila Robert Downey Jr. dimasukkan dalam nominasi Oscar.

Kisah yang dimulai paska genosida menawarkan konsistensi kegelapan dan siksa batin para super hero karena kegagalan sebagai seorang pahlawan. Yah, meski banyak juga film super hero yang berlatar kisah serupa, Endgame memiliki level yang berbeda. Jentikkan jari Thanos memberi efek premis terhadap film ini, 14 juta banding satu.

Apesnya, solusi yang dihadirkan dalam film ini ialah perjalanan waktu. Begitulah manusia ketika ingin menyelesaikan konflik kerap berandai tentang waktu. Meski tak berbelit dalam penguraiannya, perjalanan waktu tentu memiliki kelemahan tersendiri. Lubang plot yang hadir dalam Endgame jika diuraikan malah spoiler. Tenang, saya tak ingin merusak kesenanganmu meski saat ini tanganku terasa gatal untuk mengetik bocoran film ini.

Pada aspek lain, sinematografer nampak bergembira dengan memainkan skema cahaya dan warna dalam berbagai referensi film Marvel terdahulu. Ada juga skor musik yang menyajikan nada-nada riuh di dada. Suatu tawaran yang tak mampu kita tolak sambil bernostalgia ria.

Alhasil, Endgame memiliki struktur film yang kita inginkan dan beberapa ada makna yang kita butuhkan. Capaian langka dari film super hero setelah dengan kesabaran memulainya dalam dekade silam.

Cerita             : 7.5/10
Pemain          : 8.5/10
Ending           : 8/10
Overall           : 8/10