Ronaboyd Mahdiharja

Sebuah goresan nan Pribadi mengenai metamorforsis dalam alam pemikiran perjalan menjadi manusia.

Nov 25, 2017









           
            Beberapa waktu lalu anda mungkin pernah terlibat perang urat saraf perihal hate speech pada sosial media atau panasnya pemilu 2014 yang masih meninggalkan bekas bagi para pendukung capres. Bahkan saya pun harus mengakui dulu pernah berdebat dengan kawan mengenai rencana pengenaan pajak pada bisnis online. Kita tidak bisa menyangkal beberapa tahun terakhir arus informasi bergerak sangat cepat. Kontribusi internet dan perkembangan teknologi ponsel turut memiliki andil di dalamnya.
            Kunjungan Chairman Google, Eric Schmidt, beserta salah satu direktur Google, Jared Cohen, ke Korea Utara pada bulan Januari 2013 menimbulkan banyak polemik dari publik Amerika Serikat. Setelah terbitnya buku ini publik mengerti bahwa tindakan tersebut merupakan serangkaian kegiatan untuk penelitian dalam menyusun buku. Tidak hanya Korea Utara, mereka juga mengunjungi beberapa pemimpin negara, enterpreneur, dan aktivis di Asia, Afrika, Eropa, serta Timur Tengah mengenai tantangan teknologi di masing-masing negara. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, mereka menyusun buku ini untuk mengetahui peran dunia digital bagi masa depan dunia. Suatu proyek yang ambisius.
           Schmidt dan Cohen menyoroti berbagai permasalahan masa depan identitas, kewarganegaraan, dan berita; masa depan negara; masa depan revolusi; masa depan terorisme; masa depan konflik, perang, dan intervensi; serta masa depan rekonstruksi. Mereka sangat yakin bahwa identitas virtual di dunia maya pada sepuluh tahun mendatang akan mengalahkan jumlah penduduk dunia. Suatu premis yang dapat dilihat dari banyaknya akun media sosial yang dimiliki oleh satu orang. Perkembangan internet juga memicu negara dalam mengembangkan suatu kebijakan untuk memberikan batasan dan kontrol pada dunia yang dianggap tanpa hukum tersebut.
         Suatu waktu anda akan sering membaca tautan yang bernada persuasif tentang revolusi maupun pemberontakan, namun sayangnya itu hanya sebatas wacana tanpa aksi yang nyata. Masyarakat yang memegang kendali dengan memanfaatkan teknologi, apakah revolusi benar-benar berkobar atau menguap begitu saja. Selain membahas masa depan revolusi, Schmidt dan Cohen juga membahas tentang masa depan terorisme yang meliputi fisik maupun virtual. Pada bagian ini kita dapat melihat teknologi dimanfaatkaan sebagai sarana komunikasi, perekrutan anggota oleh para teroris yang tentunya mempergunakan bahasa-bahasa metofara. Walaupun banyak permasalahan yang muncul dalam dunia digital, mereka mencoba bersikap optimis bahwa teknologi mampu menyatukan masyarakat dalam suatu komunikasi dan usaha rekonstruksi modern.
            Sangat menarik mencermati berbagai argumen dari Schmidt dan Cohen yang memiliki pengalaman di bidang dunia virtual. Sejujurnya tidak ada yang baru dalam buku ini karena kita bisa menemukan pembahasan serupa dalam The World Is Flat karya Thomas L. Friedman atau The Extreme Future milik James Canton. Thomas Friedman dalam The World Is Flat memang memaparkan sejarah perkembangan globalisasi sejak era Columbus sampai pada tahap Globalisasi 3.0 yang persaiangan global semakin menciut dengan hanya melibatkan individu atau kelompok kecil manusia. Berbeda dengan Friedman, Canton lebih memfokuskan pada ranah motif ekonomi untuk melakukan inovasi serta prediksi munculnya kejahatan bioterorisme dan terorisme yang juga dibahas oleh Schmidt dan Cohen. Kelebihan buku ini dibandingkan karya Friedman maupun Canton adalah data-data yang dimunculkan lebih aktual (salah satu contohnya) dengan munculnya Arab Springs serta ISIS.


Judul              The New Digital Age:Cakrawala Baru Negara, Bisnis dan Hidup Kita
Penulis           Eric Schmidt & Jared Cohen
Tebal              : xx+344 halaman
Cetakan         : Agustus 2014

Penerbit         : KPG


Nov 24, 2017






Mungkin saja manusia punya titik didihnya tersendiri. Ada yang memiliki titik puncak melalui ledakan amarah, tangis atau pukulan. Mereka berbeda dalam berbagai tingkatan emosional. Saya pun demikian, barangkali.
            Saya coba melihat ke belakang dengan berbagai masalah yang ada. Kecendurangan diri dalam melihat berbagai persoalan rata-rata dengan tanggapan santai, biasa, dan lumrah. Bahkan kerap merespon berbagai permasalahan dengan tertawa atau tersenyum. Akan tetapi, pada suatu ketika ada hal-hal urgen dan mendasar yang membuatku tak mampu mengendalikan diri. Spontanitas dengan ledakan amarah. “Ini seperti anak kecil,” ungkapku. “Kau berdosa membuat orang lain takut” ungkapku. Saya menolak, “Itu bukan titik puncakku.”
            Benar. Titik puncakku bukan dengan menangis. Saya bahkan lupa kapan terakhir menangis. Pun bukan pula ledakan amarah atau memukul. Mereka hanya ada di tengah-tengah puncak. “Lantas apa?” tanyaku. “Diam dan membiarkan,” jawabku.
            Ledakan amarah itu merupakan gelagat bahwa engkau sudah melampaui batas. Yah, termasuk golongan manusia yang melampaui batas kewajaran. Kompromi-kompromi itu sudah terkikis habis. Akan tetapi, tenanglah. Itu bukan puncak. Seperti kataku tadi, titik puncakku pada diam dan membiarkan.
            Beruntunglah engkau saat ada yang memarahi karena itu tanda Ia masih peduli. Beruntunglah dirimu ketika ada yang memaki sebab ia menegurmu dengan jujur. Celakalah kau saat didiamkan berarti aku tak acuh. Apabila sudah demikian, itu terserah kamu karena aku tak mau tahu tentangmu.
            Instrospeksi dan evaluasi diri itu perlu untuk melihat ke dalam. Yunus as melakukannya saat di perut ikan. Hal tersebut sangat sukar.
Bersambung >>>>>>

Nov 19, 2017

Hidupmu itu sunyi, mas,” ungkap Benyo saat itu.
Tentu saja pernyataan tersebut saya tolak. Apapun argumentasi yang Benyo lontarkan dengan medhog kala itu. Sebaliknya, hidupku terlalu riuh. Saya kasih satu bukti, konkret begitu riuhnya hidupku terutama perihal janji.
Kesampingkan janji-janji pada baliho yang bertebaran di jalan itu. Saya tak begitu menggubrisnya bukan lantaran tak mengenal mereka, melainkan janji-janji pada baliho tersebut kerap tak masuk akal sehingga sulit terealisasi. So, buang jauh-jauh mengenai pembahasan itu.
Saya bermaksud membahas janji yang lain. Yang sepele dan dari orang yang kukenal saja. Begitu banyak janji yang mampir ke dalam telingaku, namun saya tak terlalu berharap mereka memenuhinya. Banyak pelajaran yang dipetik dalam menulis janji tiap manusia yang berjanji kepadamu. Entah itu berkaitan dengan dirimu atau sama sekali tidak berkaitan padamu, alih-alih lebih kepada janji pribadi kepada diri sendiri dan saya sebagai saksinya. Walaupun demikian, saya tetap menulisnya untuk sekedar mengetahui seberapa serius dirinya atau kualitas pribadinya. Sebagai catatan saja, tidak lebih.
Janji yang sejauh ini kuingat, tetapi tidak kutulis adalah janji ayah untuk membelikan mainan yang sedang ngetren. Ada juga janji-janji sepele yang sebenarnya tak penting bagiku, tetapi mungkin penting bagi yang telah berjanji. Misalnya, ada yang berjanji puasa mutih tujuh hari, tidak makan lagi di warung X, tak akan lagi memakai baju berwarna biru. Masalah-masalah sepele yang sejujurnya sangat tidak penting, dan saya harus menjadi pendengar sekaligus saksi. Tak semuanya sepele sih, ada juga yang serius serta penting bagi dirinya dan sekali lagi tak penting bagiku. Saya akan kembali memberikan contoh sebagai bukti, ada kisah janji Life & Time Michael K yang berjanji untuk tidak memberikan harapan pada orang yang suka dirinya, sedangkan Ia sendiri tak suka. Pada lain kesempatan ada Josef K yang berjanji untuk presentasi buku yang saya sodorkan padanya, hingga kini belum semuanya Ia presentasikan. Adapula yang pernah berjanji tidak akan pacaran sebelum skripsinya kelar, lantas Ia lupa terhadap janji tersebut. Ada juga sepupu yang berjanji untuk menjauhi mantannya, tetapi kemudian saya tahu Ia tak bisa meskipun Ia sadar telah kena pelet atau sejenisnya. Atau ada juga pria cengeng yang berjanji akan lebih baik dan bertaubat, walaupun Ia sering mengulangi janji itu dan sejurus kemudian melanggarnya. Dan itu berulang kali.
Ada banyak yang berjanji dan saya menjadi saksi. Itu antara menyebalkan dan menyenangkan. Sebal karena mereka melanggar janjinya sendiri dan memosisikan saya sebagai saksi hanya sebatas candaan ala kadarnya. Menjadi saksi atas janji itu adakalanya menyenangkan melihat orang tersebut melanggar sehingga saya dapat belajar banyak dari manusia-manusia tersebut. Yah, ada yang ingkar, namun tak sadar. Siapapun dia, termasuk saya. Pada pelbagai situasi yang runyam, serius, dan di tengah gelak tawa kata meluncur begitu saja: tanpa kendali dan cepat.
Kamu tak boleh menyamakannya dengan Soekarno. Kata-kata yang keluar mampu membakar semangat massa. Hati pendengarnya akan bergemuruh dan siap mengikuti tiap yang diperintahkannya. Layaknya Hipnotis yang tak menghilangkan kesadaran manusia. Rasional dan tak terbendung. Ia pun tetap setia pada Indonesia dan banyak wanita.
Lain soal dengan mereka yang kerap berjanji di hadapanku, tak ada kata yang mampu menyakinkanku terhadap janji-janji mereka. Bahkan saya membuat sebuah kesimpulan subjektif bahwa manusia yang banyak berjanji lebih mudah lupa akan janjinya. Janganlah mudah percaya padanya.
Kalau saya pribadi masih ingat hanya saja belum terlaksana. Contohnya, ada janji mentraktir seseorang tetapi belum ada waktu karena sibuk (entah Ia atau saya). Saya juga pernah berjanji untuk membelikan baju yang seragam, namun belum kesampaian. Ini janji yang sudah lama, tapi masih saya ingat yaitu mengajak seseorang jalan-jalan bila skripsinya telah usai. Dan terakhir yang masih segar dalam ingatan ialah saat saya berjanji presentasi empat buku, tetapi belum terpenuhi karena pada hari senin yang telah kujanjikan tiada yang datang dan saya harus menunggu sambil dikerubungi nyamuk. Alhasil, saya pun pulang karena saya bosan menunggu. Pada sisi lain, ada rasa takut bila janji yang belum terpenuhi tersebut mengganjalku di akhirat kelak.  Jangan tanyakan padaku apakah mereka memiliki ketakutan yang sama sepertiku atau tidak.

Nov 18, 2017

Selain memperingati pergantian tampilan blog karena diejek jadul oleh arek2, melalui postingan ini saya pun perlu merayakan kehadiran catatan yang akhirnya menjadi buku. Tulisan yang lama mengendap dan tak pernah terpublikasi kemudian terkumpul dan dapat dikatakan layak menjadi buku. Yah, walau boleh disebut tak layak untuk dinikmati oleh umum. Dalam menyusunnya pun terkendala sumber dan bahan karena rata-rata bukunya banyak yang hilang atau dipinjam dan tak kembali. Mbuh lah.
Pastinya butuh keberanian karena saya ini pemalu. Walau banyak yang bilang malu-maluin, tapi jangan percaya sama mereka lebih baik percaya sama Gusti Allah saja. Mungkin saja dirimu suatu hari nanti akan menemukan cover yang berbeda, tebal buku yang tak sama atau bahkan judul yang juga berbeda karena buku ini belum masuk Best Seller editor buku sehingga apa adanya. Saat menyeleksi tulisan-tulisan di dalam buku yang aslinya 408 halaman ini, banyak tulisan yang bersifat privat dan tak layak konsumsi publik. Barangkali engkau nanti hanya dapat menikmati buku esai ini yah sekitar 250 halaman saja. Mungkin bisa kurang. Terserah penerbit yang mau menerbitkan. 😁
Yang saya herankan ialah teman-teman yang sudah tante-tante atau menjadi bapak-bapak malah yang ingin membacanya. Padahal tulisan-tulisan di dalam buku ini untuk mahasiswa. hehehehe...
Secara substansi, saya berharap tak ada perubahan yang fundamental. Bolehlah kata-kata kasar atau vulgar disensor atau dihapus. Tapi, eman rek. hehehehe...
Masalah judul dan cover Insya Allah ganti. Dan saya berharap judul dan covernya seperti di atas.
















Jul 19, 2017

Kejadian tahun 2009 seperti dipersiapkan untuk menghadapi masa-masa seperti ini. Menghabiskan hari dalam sebuah ruang gelap ketika jutaan manusia menyambut kemenangan. Boleh dikatakan tahun 2009 merupakan masa kelam. Dan apesnya, giliranku untuk menyambutnya. Merayakan hari raya di Telang yang mayoritas penghuninya mudik. Akan engkau temukan satu-satunya rumah yang terang benderang di Telang dan itulah kontrakanku. Kampus yang masih dikepung sawah bukan rumah sehingga kau dapat menemukan kunang-kunang maupun makhluk-makhluk berseliweran di rumah hantu. Motor tak ada. Warung dan Bank tutup. ATM terblokir. Kawan-kawan semua mudik dan televisi sibuk memberitakan info mudik tiap jamnya seperti tiada berita lain yang layak dijadikan berita. Sempurna. Benar-benar Bad The Bah.
            Lebaran tahun ini hampir mirip dengan tahun 2009 hanya saja berbeda rasa. Semangat mudik pun tidak. Si Mbak heboh karena mimpi bertemu Ayah. Saya hanya menanggapi sekenanya. Ia tak tahu jika tiap hari saya kerap bertemu dalam mimpi. Orang lain barangkali akan mengatakan bahwa karena saya memakai selimut yang dipakai almarhum saat meninggal dan bukannya dipendam. Tentu saja saya tolak pemikiran tersebut karena pertama saya butuh selimut yang hangat dan kedua kalau dipendam menjadi tidak bermanfaat.
Pada malam takbir rumah di Rembang gelap gulita. Bukan karena saya malas menghidupkannya, melainkan memang lampunya mati dan saya malas menggantinya. Saya biarkan demikian agar lebih hemat listrik dan saya memang sudah terbiasa dengan kegelapan. Suara takbir terdengar sayup-sayup dan lebih didominasi suara binatang malam yang berada di hutan depan rumah. Betul, di rumah tiada siapapun kecuali saya, satu-satunya manusia di tempat itu. Kodok yang dapat menempel tembok dan melompat tinggi serta makhluk-makhluk lain tak perlu dihitung. Ayah yang tinggal disana sebelumnya memang sudah tiada. Bahkan saat beliau meninggal pun tak ada air mata yang menetes. Seolah air mata ini sudah menangis bertahun-tahun silam sehingga tak perlu menangis lagi. Seakan saya sudah tahu bahwa hari itu akan tiba waktunya dan mental pun sudah siap. Alam tak memberikan tanda apapun. Pagi itu telampau biasa dan terasa tak istemewa untuk menghentakkan kesadaranku bahwa Ayahku tiada.
Akhir-akhir ini, sebagai bujang, saya seperti melihat kilasan-kilasan masa lalu yang tak pernah kualami namun ada kehadiranku di sana. Saya sering sulit tidur. Bangun pagi sudah berada di depan laptop dan tertidur di bawah ranjang dengan buku-buku berserak di sebelahku. Terkadang kutemukan kamar kos sangat bersih dan rapi, ada kalanya berantakan seketika. Ah, jangan salahkan saya.
Saya kerap mendapati mahasiswa menatapku dengan mata takut dan menghindar, meskipun saya selalu tersenyum. Seperti saya pernah melukai mereka.  Atau tatapan benci atau mengejek dan berusaha menjauh pun ada. Saya tak mempermasalahkannya karena pada dasarnya lebih suka menyepi. Kau akan seperti melihat tulisan “stay out of my territory” melayang di udara. Saya sedikit terhibur tatkala melihat mahasiswa berbohong dimana mereka tak sadar kebohongannya sudah kuketahui. Saya hanya dapat mengumpat dalam hati, “Don’t bullshit a bullshitter”.
Saya tak takut dibohongi, saya hanya benci dibohongi. Saya perlu mencari udara segar yang bebas polusi kebohongan. Dengan menyendiri atau menjadi diri sendiri.

Ronaboyd

Dec 8, 2015

Satu tulisan yang dimuat oleh Cinemags Bulan Juli 2015.               
             Sorot mata Caesar pada adegan pembuka dan penutup film Dawn of The Planet of The Apes mengingatkan saya pada sorot mata yang sama di pedalaman hutan Kalimantan. Kemudian saya berpikir bahwa seharusnya Indonesia bisa membuat film yang lebih dari ini. Lantas saya membuka kembali ingatan tentang Apocalypto karya Mel Gibson yang berkisah tentang suku Maya. Dari kedua film tersebut ada sebuah permasalahan laten, yakni eksplorasi budaya.
            Eksplorasi kebudayaan kita untuk dijadikan sebuah tontonan yang menarik masih minim. Film-film kita masih didominasi oleh drama yang minim budget. Pada mulanya Pendekar Tongkat Emas memberikan ekspektasi mengenai film yang mengangkat budaya lokal, namun kok jatuhnya seperti film-film silat Tiongkok. Baik dari segi pakaian maupun gaya bertarung. Mungkin The Raid yang mengangkat seni pencak silat di pentas dunia dan melakukan ekspansi budaya ke beberapa negara.
            Einsten pernah menekankan pentingnya imajinasi. Dan imajinasi saya sampai pada ekspansi budaya melalui film sehingga tiada klaim budaya lagi dari negara lain. Jepang, Korea,Tiongkok pun coba memperkenalkan budaya mereka melalui film. Tidak sedikit dari kita yang lebih mengetahui budaya negara lain dibandingkan budaya sendiri melalui film-film mereka. Anda bisa mengecek koleksi film teman-temanmu dan mungkin anda akan menemukan koleksi film Barat, Jepang, Korea, Pinoy, Thailand, India, Tiongkok, atau bahkan Malaysia. Pertanyaannya, adakah manusia dari negara lain yang mengoleksi film-film Indonesia?
            Imajinasi juga yang membawa saya berandai bila kita memiliki pusat industri perfilman semacam Hollywood ataupun Bollywood. Keduanya memiliki karakter khasnya masing-masing. Terutama Bollywood yang tak lepas dengan nyanyian dan tarian yang menambah durasi film menjadi dua jam lebih. “Kita kan sudah punya Dollywood mas bro,” kelakar seorang kawan menimpali imajinasiku. Ia menunjuk sebuah tempat lokalisasi besar di Surabaya yang membawa kenangan pada sejarah bila industri film kita pernah mengakomodir otak mesum masyarakatnya. Saya sangat berterima kasih pada film Petualangan Sherina yang telah membuat jatuh cinta pada industri film nasional. Walaupun ada fase dimana film kita mengakomodir kembali otak mesum masyarakatnya dengan balutan genre horor dan komedi.
            Sinema bukan sekedar hiburan semata. Ada pengenalan identitas sebuah bangsa sekaligus ekspansi budaya pada negara lain. Lalu tinggal melihat respon dari negara tersebut, apakah menelan mentah-mentah ataukah melakukan mekanisme pertahanan diri dan kemudian berekspansi balik? Jepang menyadari situasi ini. Mereka membendung pengaruh Walt Disney dengan menggenjot industri manga dan anime yang dilanjutkan pada ranah game. Seperti ucapan budayawan Yamada Shoji yang mengatakan bahwa ada dua hal yang bertentangan dalam budaya yakni perilaku ”memiliki” sekaligus ”menyebarkan”.
            Tatkala saya bermain perang-perangan memerankan tokoh jagoan dengan keponakan yang telah berubah logat seperti Upin & Ipin. Saya menjadi Gatotkacha dan dia menjadi Naruto. Ia bertanya tentang siapa Gatotkacha, kekuatan apa yang dia miliki kemudian membandingkan Gatotkacha dengan Naruto. Lantas kami sedikit berdebat dan akhirnya kalah oleh ucapannya, “Jagoan kok bisa mati Om. Naruto kan tidak mati saat bertarung. Jadi, nanti Om harus kalah dan mati.” Saya hanya diam karena dalam perang Mahabarata dikisahkan bahwa Gatotkacha memang mati. Apa yang mesti saya jelaskan tentang kematian seorang pahlawan pada anak kecil? Akankah Arjuna juga akan kalah pesona dengan Casanova dalam merebut hati wanita?
            Pasti akan seru menyaksikan tari-tarian tradisional kita mampu melebihi Step Up. Atau mungkin juga menampilkan kejayaan maritim kita dengan kapal-kapalnya sekaligus perang armada lautnya yang lebih seru dibandingkan Pirates of The Caribbean series. Adaptasi I La Galigo menjadi film pun patut dipertimbangkan karena kaya akan filosofi kehidupan. Apabila kita menggali dan mengeksplorasi apa yang kita miliki mungkin tak akan ada habisnya. Tetapi, itu kembali pada sineas kita dan terutama penyandang dana yang tentunya melihat dari sisi profit. Terkadang langkah pertama membutuhkan keberanian dan (juga) kegilaan yang menyertainya.

Cinemags 192 Juli 2015, Hlm 86.

Sep 11, 2015

            Anime tanpa original soundtrack ibaratnya seperti sayur bening tanpa garam. Selain bertambah manis, OST pada anime menunjukkan karakter anime tersebut serta sarana pemasaran. Banyak anime yang tidak terlalu terkenal memiliki soundtrack yang bagus, baik dari segi lirik, musikalitas dan  memperkuat kisahnya. Namun, yang perlu dicatat adalah saya tidak memasukkan anime bertema musik seperti Nodame Cantabile, Nana, Beck, Detroit Metal City, K-On dll. Berikut adalah daftar soundtrack yang dalam sudut pandangku memiliki nilai di atas rata-rata secara keseluruhan.

10. Mi Title – Utaibito Hane (Hungry Heart: Wild Striker)

Walaupun anda mengenal Captain Tsubasa sebagai anime dan manga yang berkisah tentang olahraga sepak bola, akan tetapi Wild Striker memiliki beberapa soundtrack yang bagus dan menggugah semangat. Dengan intro gitar lagu ini memiliki tempo yang meningkat dan menghentak di reff. Semangat dari inti cerita anime ini tersampaikan pada liriknya.

9. Anata Magic – Monobright (Gintama)


            Sejujurnya saya lagu ini karena liriknya dan musiknya yang asyik. Liriknya yang menandakan kejujuran seperti animenya serta visual opening yang mendukung musiknya, terlebih ketika Shinpachi-kun mangap-mangap dibonceng Gin-san serta Catherine pegang kipasnya hahaha ... 

8. Wind – Akeboshi (Naruto)


            Soundtrack ini memiliki nuansa yang sedih dengan lirik nasihat. Piano mengantarkan pembuka yang cantik kemudian dengan melodi seruling dan biola menambah kesan kuat kisah Naruto yang dikucilkan. Acapkali mendengar lagu ini ada rasa sedih karena dikucilkan.

7. Every Heart – BOA (Inuyasha)

Bagi yang pernah nonton anime ini, khususnya cewek, tak ayal akan jatuh cinta dengan soundtrack ini. Sejujurnya saya tak begitu suka dengan anime yang tokohnya bertelinga anjing ini dan harus diakui bahwa soundtracknya menjadi salah satu anime dengan banyak soundtrack bagus-bagus.



6. Memories – Maki Otsuki (One Piece)

            Ini lagu memorable banget. Saya kenal One Piece dari anime baru manga nya. Dan lagu ini menjadi favoritku waktu kecil. Dengerin berkali-kali tak bosan-bosan.





5. Tank! -  Yoko Kanno & The Seatbelts (Cowboy Bebop)

Mari bergoyang dengan nuansa Jazz pada lagu ini. Lagu yang komposeri oleh sang jenius Yoko Kanno. Sangat cocok untuk kisah Cowboy luar angkasa. Bagi yang belum pernah dengar, cobalah mendownloadnya.



4. Brave Song – Aoi Tada (Angel Beats)

            Anime yang satu ini memiliki kisah yang mengharukan dan disertai lagu-lagu yang indah. Sulit mendeskripsikan soundtrack ini. Walaupun namanya “Lagu Keberanian”, tetapi musiknya sendu.

3. Fukaimori – Do As Infinity (Inuyasha)

            DAI mengisi soundtrack Inuyasha dengan ciamik. Sangat disayangkan band ini bubar tahun 2005.

2. Samurai Heart – Spyair (Gintama)

            Satu lagi soundtrack dari anime yang memarodikan berbagai hal (Apa sih yang tak bisa diparodikan oleh anime ini?). Yah... rata-rata tak ada lagu cengeng dalam anime ini. Saya tak menyangka jika anime ini memiliki OST yang keren dan serius. Jika kamu nonton jarang juga yang serius. Hahaha... Yiiiip!! Loncat!!

1.    Ready Steady Go! – L’arc en Ciel (Full Metal Alchemist)

Hehehehehehehehehehehehehehehehehehehehehehehehehehehehehehehehehehe... maaf tak ada alasan khusus. Coba lihat dan dengarkanlah.