Ronaboyd Mahdiharja

Sebuah goresan nan Pribadi mengenai metamorforsis dalam alam pemikiran perjalan menjadi manusia.

Jun 14, 2014


            Kepala ini terasa panas dan ingin meledak tatkala berminggu – minggu bergumul dengan tugas dan buku. Sesekali terselip keinginan untuk nggembel lagi. Hanya bermodal ransel dan gitar, nggandol truck atau pick up. Ternyata kawan – kawan sekelas ada rencana wisata. “Asyik juga, nih.” pikirku. Rencana ke Karimun Jawa batal dan dialihkan ke Pacitan. Dahiku agak mengkerut mendengar Pacitan. Yah, dulu waktu tour Jawa cuma lewat dan singgah sebentar. Kesanku pada saat itu adalah kabupaten yang miskin dan penuh batuh kapur. Nampaknya, liburan ke Pacitan terancam batal karena hanya beberapa teman yang ikut. Namun entah kenapa tiba – tiba beberapa kawan nekat juga memutuskan untuk berangkat. I like it. My journey always better with planless.
            Kami berangkat tengah malam dari Semarang. GPS kami hidupkan karena memang perjalanan ini buta terhadap daerah yang kami tuju. Rencana awal adalah menikmati sunrise di Pantai Klayar. GPS langsung menunjuk Pantai Klayar Pacitan dan pukul empat menjelang subuh GPS sudah menyatakan Pantai Klayar hampir sampai tujuan. Apesnya kami masuk perkampungan yang memiliki jalan sempit. Kami berputar – putar dan tersesat. Tak ada orang yang bisa ditanya arah. Sampai pada akhirnya kami dinyatakan oleh penduduk bahwa kami salah jalan alias tersesat.
            Mobil dipacu agar kami masih sempat menikmati sunrise. Di tengah perjalanan kami kembali bertanya pada muda mudi yang kemudian diarahkannya kami ke jalan yang jauh lebih sesat. Sekitar satu setengah jam kami melewati jalan yang buruk dan sempit. Berulang kali jantung berdetak kencang tatkala jalan yang kami lalui sempit dan terbayang mobil jatuh ke jurang. Dalam hati saya sempat jengkel pada muda mudi yang kami tanyai.
            Finally, kami sampai juga ke Pantai Klayar. Tetapi sunrise udah tak bisa dinikmati karena matahari sudah keluar dari ufuk. Setidaknya kami terobati dengan pemandangan di Klayar. Dengan hamparan pasir putih, eloknya air biru, kokohnya karang-karang dan deru ombak Samudra Hindia. Pantai Klayar memiliki seruling laut yang memuncratkan air dari sela – sela karang layaknya air mancur. Sayangnya di Pantai Klayar sulit untuk berenang karena ombak dan karangnya yang tajam. Berhati-hatilah anda jika ada niat untuk berenang disana. Anda bisa masuk ke batu karang Spinx jikalau ada petugasnya. Biasanya petugasnya datang tengah hari sekitar pukul sepuluh sampai dua belas. Di Batu Karang ini kamu bisa melihat seruling laut dari dekat. Biaya masuknya sekitar dua ribu per orang.
Batu Karang Spinx dari jauh
Karang Spinx dari dekat

            Pemandangan dari atas bukit patut kamu coba untuk melihat Pantai Klayar dengan view  berbeda. Tidak terlalu jauh kamu berjalan. Di samping jalan masuk Batu Karang Spinx terdapat jalan kecil menuju bukit. Dari atas bukit pu terdapat jalan menuju pantai lain dibalik Pantai Klayar, tapi disana agak berbahaya karena gelombang yang besar sampai melewati pasir dan menghantam dinding karang. Di bukit kamu juga bisa melihat seruling laut menyemburkan air dari kejauhan.
Pantai Klayar dari Bukit

Seruling Laut dan Karang Spinx nampak atas

            Perjalanan selanjutnya ke Goa Gong. Goa yang konon terindah kedua di Asia setelah Goa Maharani di Lamongan. Berbicara Pacitan pasti tak luput dari Goa karena klaimnya adalah kabupaten 1001 Goa. Goa ini dinamakan goa Gong karena di dalam goa terdapat batu yang bila dipukul mengeluarkan bunyi seperti Gong. Nah pada perjalanan kali ini aku hanya masuk sebentar. Kipas angin yang dipasang ternyata mengalahkan pengap dan panas di dalam. Terlebih rasa lelah masih terasa dan paru – paru yang penuh asap rokok. Disini kamu bisa menyewa lampu dengan harga lima ribu.
            Setelah ke Goa Gong kami berencana ke Pantai Banyu Tibo, namun kami harus balik arah menuju jalan Pantai Klayar lagi. Perlu kamu ketahui bahwa Goa Gong, Banyu Tibo, dan Pantai Klayar masih satu jalur. Dikarenakan pada awal perjalanan kami yang benar: benar-benar tersesat- Goa Gong tidak kami lewati lebih dahulu. Setelah keputusan diambil, kami akan kembali ke Banyu Tibo esok hari.
            Dan tujuan wisata terakhir hari itu adalah Pantai Teleng Ria. Dari referensi internet yang kami ketahui bahwa pantai ini wajib dikunjungi. Pemandangan dari atas pantai Teleng Ria cukup memesona dengan teluk Pacitan sebagai view nya. Sesampainya disana, kami kecewa dengan kondisi pantai yang kotor dan tidak semenarik Pantai Klayar. Meskipun begitu banyak pula wisatawannya dan beberapa turis manca negara. Seandainya pantai ini bersih dan asri mungkin masih cantik. Bedanya pantai ini memiliki ombak yang tidak sebesar Klayar sehingga bisa dipergunakan untuk berenang. Rasa lelah setelah dari Pantai Klayar dan Goa Gong tidak menarik minat kami untuk bermain di Pantai Teleng. Kami hanya duduk dan menikmati sore sembari makan nasi tiwul dengan ikan bakarnya, tak lupa kopi hitamnya cukup mengobati kekecewaan kami.
Nasi Tiwul+Ikan Bakar+Kopi

Teleng Ria

Sore di Teleng Ria

           Beruntunglah kami yang dapat menginap gratis pada kediamannya temannya teman di desa Sidomulyo Kecamatan Ngadirojo. Jalan menuju lokasi sangat bagus dan mulus sedikit jalan yang rusak (nampaknya ada peran presiden kita dalam membangun Pacitan). Mungkin karena jarang dilewati truck atau kendaraan berat lain. Jalan berkelok dan naik-turun yang menjadi ciri khas jalan di Pacitan kami lalui dengan lancar. Mata kami seakan terpesona dengan pantai yang kami lihat dari pinggir jalan. Pantai ini sepertinya masih belum cukup dikenal oleh wisatawan. Ada kesepakatan tak tertulis kami untuk mengunjungi pantai tersebut esok hari. Setelah mandi, nge-teh  dan makan malam tubuhku tumbang karena lelah dan ngantuk. Rekor tidur cepatku sampai saat ini pukul 19.30 sudah tidur pulas.
            Esok paginya kami lanjut ke pantai yang kami ingin kunjungi. Pantai itu bernama Pantai Soge. Suasana masih sepi dan hanya beberapa orang yang kemah di pantai tersebut. Tidak ada warung maupun sesuatu yang biasa kami temui layaknya wisata pantai karena pantai ini nampaknya masih belum banyak dijamah pengunjung. Pemandangan yang menakjubkan dengan gulungan ombak yang lumayan besar di pagi hari. Sedikit karang yang kami temui disana sehingga aman di kaki, namun entah dengan gelombangnya. Matahari nampak di belakang kami yang muncul dari balik tebing dengan pepohonan yang menjulang tinggi.
Jalan Raya Pantai Soge

Pagi di Pantai Soge

Masih Sepi Pengunjung dan Pedagang

Kamera yang tak mampu menjepret pemandangan yang ciamik

Soge: matahari di balik bukit

            Puas bermain di Pantai Soge, kami akhirnya pulang. Nah, dalam perjalanan pulang terjadi diskusi apakah akan kembali ke Banyu Tibo ataukah melanjutkan wisata ke Tawangmangu, Solo. Pendapat yang ingin ke Tawangmangu adalah karena jika ke Banyu Tibo jalan disana macet karena bertepatan hari minggu. Apalagi akses jalan kesana yang kecil sehingga ada kekhawatiran ketika berpapasan dengan mobil atau bus dari arah berlawanan. Argumentasiku dalam posisi ini adalah Banyu Tibo adalah ke Tawangmangu dari Semarang cukup dekat sehingga kapanpun bisa kita kesana (selain itu karena saya sudah pernah kesana hehehe), namun ke Pacitan belum tentu. Selain itu di Banyu Tibo kita juga bisa memperoleh wisata air terjun. Air terjun? Yap. Disitulah menariknya pantai ini. Air terjun yang berdekatan dengan pantai. Sangat menggairahkan! Kesimpulannya adalah kami ke Banyu Tibo dengan catatan jika macet kami akan berputar arah menuju Tawangmangu.
            Ketika menuju lokasi kami tidak menemui kemacetan, hanya beberapa kali berpapasan dengan mobil dan bus yang membuat hati kami berdegup. Jalur ke Banyu Tibo sangat kecil. Cuma cukup untuk lewat satu mobil saja. Bus dan elf dkk tidak akan bisa melewati jalan setapak perkampungan yang menuju lokasi. Saran saya pergunakan mobil atau sepeda motor untuk menuju kesini. Wisata adrenalin kami terbayar ketika melihat Pantai Banyu Tibo. Segala Puji Bagi Tuhan Yang menciptakan semesta dengan segala isinya. Disinilah kami bermain air sepuasnya. Let’s Rock!
Air Terjun Mini Banyu Tibo

Pantai Banyu Tibo

Deburan Ombak Banyu Tibo

Gaya Bentar aaah

Rock Well hwekekeke

View Atas Banyu Tibo

            Dari informasi yang saya peroleh, pantai Banyu Tibo baru ramai pada awal tahun baru 2014 dan diresmikan untuk dikelola sekitar dua bulanan. Tidak heran jika tempatnya masih bersih. Walaupun kecil dan sempit tapi seru bermain-main air di pantai ini. Ada air terjun dan pantai pilih yang mana terserah anda. Pengawas pantai menambah rasa aman karena terkadang ombak menghantam bibir pantai sampai ke pinggir tebing. Maklum saya tak bisa berenang.
            Banyu Tibo adalah tujuan akhir kami di Pacitan. Sebuah liburan dua hari yang sikat dan cukup menghilangkan penat di kepala. Pacitan yang saya kunjungi kali ini berbeda jauh dengan Pacitan yang dulu saya singgahi. Banyak yang berubah. Mulai dari kondisi jalan yang bagus dan sepertinya sudah tertata rapi. Menariknya, harga-harga di daerah wisata tidak semahal kebanyakan tempat wisata. Kadang kita menemukan tempat wisata yang pedagang – pedagangnya mematok harga yang ngemplang. Harga barang maupun makanan masih normal. Saya dapat pesan dari orang setempat jika menuju lokasi wisata jangan terlalu mengandalkan GPS karena sering menyesatkan mengingat jalan baru menuju lokasi  wisata yang tidak terdaftar pada GPS. Disamping itu, terdapat beberapa lokasi yang miskin sinyal. Ada keinginan lain hari untuk mengunjungi Pacita lagi. Let's Rock!!!

Jun 2, 2014


            Tubuh ini menggigil sekaligus gemas acap kali membaca berita ataupun menonton berita akhir-akhir ini. Tiada bahasan lain selain permasalahan politik. Ditambah sosial media yang kian mengakar memberikan kabar, gambar, dan pesan yang emosionil. La decima, kegagalan tim Thomas & Uber hanya bertahan beberapa hari saja dan kalah telak dengan manuver-manuver politik pra pilpres. Kepemilikan media massa membuat elemen jurnalisme terlihat tidak relevan dalam memenuhi hasrat masyarakat. Situasi ini disebabkan karena politik menjadi perbincangan yang menarik tiap elemen masyarakat mulai dari kafe kelas atas sampai warung kopi pinggir jalan.
            Sudah puluhan tahun yang lalu Chomsky mengkritik kuasa media massa karena peran propaganda dan keberpihakan pada politik. Muncullah apa yang dikatakan Chomsky bahwa berita adalah olahan fakta dari dapur redaksi. Kondisi makin semrawut dengan munculnya web 2.0 dan “adik-adiknya”. Tim cyber dikerahkan untuk menyerang, bertahan dan menyerang balik isu maupun wacana yang dilempar. Baik dengan kecaman atau bahkan melalui humor. Ini lebih dahsyat dari penggambaran ‘World is Flat’nya Thomas L. Friedman dimana persaingan tidak hanya melibatkan individu dalam dunia maya, melainkan sudah masif dan sistematis. Potensi konflik dari dunia maya ke nyata makin besar.
            Berita maupun opini yang muncul berasal dari ideologi tiap pihak. Perdebatan Chomsky dan Zizek perihal ideologi menarik untuk disimak serta dikaji. Slavoj Zizek menegaskan pentingnya kritik atas ideologi sedangkan Chomsky mengutarakan kritik ideologi tidak penting karena kebenaran lah yang penting. Saya tidak ingin terjebak dalam perdebatan tersebut karena ini adalah wajar dalam ranah akademis, namun nampaknya masyarakat telah diarahkan pada wacana perdebatan seperti itu.
Paralaks Wacana Ideologi & Kebenaran
            Titik rawan wacana adalah simulasi konflik. Wacana lebih menggema jikalau terdapat konflik konkret yang diolah untuk menciptakan efek psikologis. Pada pilpres kali ini kedua kubu saling serang dalam kedua hal ini. Kita bahas yang pertama terlebih dahulu, Ideologi. Berangkat dari terminologi Lacanian, Zizek membagi ideologi menjadi tiga mode yaitu doktrin (doctrine), keyakinan (belief), ritual (ritual). Dua kejadian yang sebenarnya tidak menggambarkan pertarungan ideologi membuat berita yang dibaca atau ditonton mengarahkan pada kedua hal tersebut. Kita bisa melihat bagaimana pemberitaan parpol agama tertentu dan wacana pemurnian menggiring terhadap fobia pada ideologi tertentu. Kita juga dapat melihat pemberitaan suatu kebijakan tertentu yang diolah sedemikian rupa mengarah terhadap ideologi pasar tertentu. Agama dan pasar menjadi simbol yang laris dalam propaganda sebuah kampanye. Pemberitaan penyerangan jamaah akan menyeret pemikiran publik untuk berpikir bahwa ini adalah perbuatan si X dan gerakan macam si X didukung oleh calon Y. Demikian pula tatkala sebuah berita memberikan gambaran kebijakan si A yang mendorong orang untuk berpikir bahwa kebijakan tersebut adalah ideologi Z yang bertentangan dengan keinginan bangsa.
            Tatkala Karl Marx dan Nietzsche dihujat oleh bangsa ini, namun pada sisi tertentu bangsa ini sepakat terhadap apa yang dikritik oleh keduanya, agama dan kapitalisme. Marx dan Nietzche bukan mengkritik agama dan yang dipraktekkan di Indonesia melainkan kritik terhadap agama dan pemeluknya yang ada di Eropa pada saat itu. Pada fase ini terdapat perbedaan kosmologi yang tak dapat digeneralisasi begitu saja. Masih banyak hal-hal baik di Indonesia yang tidak terdapat dalam sistem yang berkembang pada kehidupan kedua orang tersebut.
            Kebenaran dalam benak media massa dan juga status sosmed orang yang saya lihat adalah kebenaran subjektif dimana sudah ada penghilangan fakta tanpa melihat secara komprehensif. Tak ayal berbagai respon bertentangan muncul. Suatu kebenaran (yang telah diolah) menggelinding seperti bola salju yang kian membesar dan siap menghantam siapa saja. Media massa maupun media sosial bagi Zizek merupakan ruang penalaran publik yang di dalamnya perlu suatu kritik ideologi, sedangkan Chomsky yang memandang segala sesuatu sudah jelas hanya memerlukan pengungkapan kebenaran. Nah, perdebatan permasalahan ini menyisakan sebuah lubang yakni sejauh mana kemampuan pembaca atau orang dalam mengolah informasi yang ia tangkap.
Cooling Down
            Pada kekacauan informasi karena terdapat kabut yang menyamarkan kebenaran dan informasi timbul keegoisan masing-masing. Rasionalitas tentunya tidak dapat diandalkan pada posisi seperti ini. Ada trauma, dendam, kegelisahan, ketakpercayaan, kekhawatiran yang menyelimuti rasionalitasnya. Hati? Manusia sebagai makhluk yang berlumur dosa tidak tahu apakah hati dan pikirannya benar-benar bersih. Tidak ada yang berani menjaminnya.
            Kejadian-kejadian beberapa minggu terakhir justru menjadi kesempatan bagi pihak ketiga untuk memperkeruh suasana. Kita musti berkaca pada tragedi di luar negeri pada beberapa negara yang kian memanas. Pada konteks yang lebih luas kita juga perlu memerhatikan agenda zionis terhadap negeri ini (lihat artikel agenda zionis). Maka daripada itu kita menenangkan pikiran dan hati sejenak.
            Fase genting seperti saat ini kita juga sering lupa untuk memohon petunjuk pada Yang Maha Kuasa. Inilah yang saya sebut kita terlalu egois dan sombong hanya mengandalkan pikiran dan hati kita dengan melupakan sang pencipta. Setidaknya bagi yang Islam dapat melaksanakan sholat Istikharah sedangkan yang lain dapat melakukan sesuai dengan agamanya. 

May 14, 2014

         
Papan Peringatan Bahwa Anda Memasuki
Wilayah Pemberontak EZLN
         Kita merasakan sesuatu yang sama. Duduk dan menonton sesekali sedikit berharap. Tahun ini panasnya terasa berbeda. Kala malam pun demikian panas. Panas yang bercampur gairah kian terasa. Akan tetapi, bukan itu yang saya rasakan. Mungkin itu yang dirasakan politisi. Saya beruntung jauh dari media yang turut serta menghembuskan angin panas kemana-mana. Panas yang menyebabkan kabut sepanjang hari hingga orang tidak mampu berjalan dengan baik.
            Kudeta posmo terhadap modernisme sudah berdengung sebelum saya lahir. Namun, posmo juga belum mampu memperbaiki kondisi. Sebagian dari kita sadar bahwa kita lahir pada zaman yang genting. Dimana manusia mencari kebahagiaan tetapi terjebak dalam kekejaman dan kekerasan yang lembut. Soft wars yang tidak disadari beberapa dari kita.
        Posmodernisme secara jujur menguraikan kebusukan modernisme sekaligus memberikan kesempatan untuk menggali nilai-nilai dalam masyarakat yang berbeda. Kondisi ini membuat masyarakat menemukan arti hidup bagi mereka masing-masing. Keraguan terhadap metanarasi menyebabkan nilai-nilai universal ditentang oleh kaum posmo. Sepintas posmo memang mendukung etnosentrisme.
            Kejujuran posmo tidak diimbangi oleh proyek selanjutnya. Kudeta yang dilaksanakan seolah tanpa perencanaan sehingga banyak kebanyakan dari mereka dan tentu saja kita kebingungan. Dan kita bertanya pada diri kita, “Lantas apa yang dilakukan setelah ini?” Saya dan mereka bingung. Tidak mengherankan apabila kebanyakan dari kita menjadi pesimis: duduk, menonton sembari berharap.

Politik & Kegilaan
            Setiap zaman memiliki definisi kegilaan yang berbeda, setidaknya itu pendapat Foucault. Perubahan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat setidaknya menyumbangkan perubahan definisi tersebut. Setiap manusia berhak untuk optimis, tetapi tidak sedikit terjebak dalam optimisme yang berlebihan hingga melupakan tujuan optimisme. Optimisme itu bertransformasi menjadi sebuah ambisi. Sejarah terlalu banyak untuk mengungkapkan ambisi seorang pemimpin atau kegagalan sebuah ambisi.
            Ambisi menyeret banyak dari kita terjerembab pada sesuatu yang kita sebut kegilaan. Bulan ini kita akan menyaksikannya. Ada sedikit kesombongan bahwa kita mampu melakukan perubahan. Lihat! Kesombongan itu menjadi virus yang merusak sistem kesadaran kita. Mereka berani malu untuk mempertontonkan wajah mereka di depan publik dengan resiko mendapat caci maki atau malah coretan di wajah pada balihonya. Sedangkan kita? Kita hanya duduk dan menonton mereka memasang baliho karena kita apatis. Pesimisme ini membawa kita takluk pada ambisi mereka.
            Tahun politik bagi kita yang tidak menggairahkan tetap memaksakan diri untuk melaksanakan kewajiban politik. Hobbes membawa perdebatan kontemporer perihal kewajiban politik melalui kontrak sosial. Ketakutan yang dalam status alamiah digambarkan Hobbes sebagai ketundukan pada kondisi pemberian kekuasaan terhadap seseorang. Tindakan yang mengamini apa yang tidak kita inginkan.
            Salah satu nilai dari demokrasi menurut Henry B. Mayo adalah menyelenggarakan perubahan pemimpin secara berkala atau kita lebih mengenalnya dengan pemilu. Namun kita sendiri tidak terlalu percaya pada demokrasi yang dituhankan begitu banyak akademisi. Sejujurnya saya lebih percaya jika demokrasi adalah alat untuk mempertahankan status quo, tidak lebih.
            Richard Rorty melakukan keisengan dengan sebuha ide ketika terjadi kebuntuan politik, yaitu mengandalkan para cendikiawan. Tugas kaum intelek ini menurutnya bukan untuk menyempurnakan teori-teori sosial, tapi membuat kita ikut merasakan penderitaan orang lain, sekaligus menajamkan, memperdalam, dan memperluas kemampuan kita mengidentifikas diiri dengan orang lain, berbela rasa dengan orang lain sesuai moralitas. Tetapi, kaum intelek ini lebih suka bermain dengan imaji mereka dan beradu argumen. Kebenaran yang mereka dapatkan berbuah pesimisme. Mampukah mereka diandalkan?
            Ketidakpastian dan kemungkinan dalam fisika menggambarkan universalitas yang memungkinkan adanya kekacauan. Kekacauan yang semestinya memang harus terjadi dan menyebabkan entropi. Pertumbuhan alamiah yang menjadi dasar entropi membawa kekacauan pada kestabilan karena kekacauan memiliki nilai kecil. Karena mayoritas kita melihat kekacauan sebagai objek manusia. Alam semesta tidak pernah kita perhitungkan sebelumnya karena kita memikirkan mereka sebagai sesuatu yang terpisah. Padahal aslinya tidak karena kita bekerja pada sistem yang sama, yaitu sistem Tuhan.
            Saya percaya bahwa Tuhan itu Esa yang memiliki hukum universal yang nilainya sama. Makna atau hakikat yang ditemukan tiap manusia memiliki kemungkinan berbeda sehingga dalam pendefinisiannya dibutuhkan generalisasi. Letak generalisasinya adalah sebuah fenomena, bukan dengan tafsirnya.
Itulah mengapa posmo tersesat pada hakikat karena mereka mengabaikan generalisasi. Rata-rata mereka tidak mampu menjawab pertanyaan, selanjutnya apa?
            Lalu, apa yang harus dilakukan? Apakah kita menunggu Tuhan turun ke bumi? Hei, omong kosong apalagi itu! Tidakkah kita ingat kisah Musa yang ingin melihat Tuhan, tetapi Ia pingsan dan gunung meledak di depannya? Bukankah Tuhan sudah menunjuk manusia sebagai pemimpin di bumi? Tuhan terlalu suci untuk turun ke bumi yang diselimuti kebusukan. Cukuplah wakil-Nya yang seorang manusia yang memperbaikinya agar kita tidak terlalu sering diprotes oleh alam karena kepemimpinan kita.
            Kompleksitas negara ini sudah dalam taraf akut. Dan sekali lagi kita hanya duduk, menonton serta berharap. Dominan itu yang kita lakukan dan masih mengharapkan perubahan. Pesimisme membuat kita tertunduk dan diam. Perubahan tidak diawali dengan berdiam diri. Itulah hukum universal Tuhan.

                                                                                                       Semarang, 9 Mei 2014

Apr 1, 2014

Gareth Evans dan Iko Uwais kembali menggebrak dunia dengan film The Raid 2 (Berandal). Film The Raid yang sebelumnya mendapatkan kritik karena miskin cerita dibenahi pada film Berandal. Keinginan tersebut nampak bahwa Berandal mengarah adanya konspirasi ala film-film mafia Infernal Affairs dan Godfather. Kisah yang lebih dalam dan konflik yang diciptakan membuat film ini lebih baik dibandingkan sebelumnya. Akan tetapi, bobot film ini memang terletak pada laga yang disuguhkan.
            Alur cerita yang terkesan cepat membuat drama yang coba dibangun Evans kurang mengena. Jika saja Evans lebih bersabar untuk membangun cerita pada film ini dapat memberikan nilai lebih. Banyak tokoh yang memiliki kans besar untuk memperoleh porsi tampil yang lebih. Tidak dapat ditampik apabila mayoritas film laga memang minim cerita, namun dibandingkan film laga lain Berandal menyuguhkan pertarungan, kebrutalan, kekerasan, intrik, dan darah tanpa henti. Tidak ada waktu untuk sekedar nafas dan membuat anda berkali-kali terlonjak dari duduk. Di bioskop anda akan menemukan cewek menangis, merem melek, gemataran, kaget, dan bahkan di lur negeri film ini dihentikan sesaat karena ada penonton yang pingsan. So, memang tidak direkomendasikan bagi penonton yang lemah jantung.
            Adegan laga yang dilakukan melibatkan banyak petarung asli, sehingga pertarungan dibentuk sedemikian nyata dan mampu diterima akal. Pertarungan yang benar-benar masuk akal ternyata tidak diimbangi dengan beberapa adegan yang tidak masuk akal. Misal saja salju di Jakarta. Salju? Di Jakarta? Maaf saya tidak membual. Pada film ini memang terdapat adegan dimana Prakoso terbunuh setelah melakukan perkelahian dengan puluhan pria dan sebelum dieksekusi The Assassin. Niat hati untuk memberikan efek dramatis justru Evans membuat blunder. Walaupun tidak dikatakan setting di Jakarta pada adegan tersebut, tetapi melihat percakapan antara Ucok dan Prakoso di tempat hiburan wilayah kekuasaan Bangun menunjukkan salju memang turun di Jakarta. Disamping itu, adegan kejar-kejaran mobil yang dilaksanakan menunjukkan jalan raya di Jakarta yang lengang. Blunder kedua Evans pada film ini. Sudah menjadi rahasia umum jika Jakarta adalah kota yang penuh kemacetan. Blunder ketiga adalah kondisi penjara yang tidak Indonesia banget. Bagaimana mungkin ruang sel penjara di Indonesia diisi oleh satu orang saja? Faktanya satu sel biasanya diisi oleh puluhan narapidana, kecuali tahanan-tahanan khusus. Selain itu, makanan para napi yang ngalahin atau setidaknya setara makanan anak kos (ada ayam gorengnya lho).
            Bagi saya pribadi blunder yang dilakukan Evans cukup diambil positifnya saja, yaitu sekali-kali orang luar dibodohi oleh film Indonesia. Cukup banyak orang Indonesia dibodohi film luar dan inilah pembalasannya. Biarkan mereka berpikir di Jakarta ada salju. Ketika mereka datang untuk menikmati salju di Jakarta yang ditemukan hanya panas yang menusuk tulang dan banjir dimana-mana. Biarlah mereka berpikir di Jakarta tidak ada macet agar kita bisa berbagi stres karena macet dengan mereka. Untuk kondisi penjara dan makanannya agar mereka dengan ikhlas masuk penjara Indonesia tanpa perlu menyuap karena ingin lepas dari jeratan hukum Indonesia. Pikiran positif saya perihal makanan di penjara yang lumayan enak, mungkin pada saat syuting, tempe lebih mahal dan langka dibandingkan daging ayam (dapat dilihat ukuran tempe yang kecil).
            Terlepas dari ketiga blunder dalam film ini, Berandal sangat sempurna untuk genre film laga. Film diawali eksekusi Andi di kebun tebu yang tentunya membekas dalam benak penonton. Langit mendung dengan angin yang bertiup cukup tenang dan beberapa mobil serta manusia di pojok layar membuat penonton bertanya-tanya. Aura kegelapan segera menyelimuti film. Tawuran di dalam penjara pada ruang sempit dan di lapangan penjara yang berlumpur sangat orisinal. Saya tidak ingat ada adegan seperti itu pada film-film lain. Adegan lain yang bagus adalah pertarungan di dalam mobil dan kereta api. Khusus pertarungan di dalam kereta api sedikit mengingatkan saya adegan pertarungan pedang pada film Hitman, tapi Hammer Girl mampu memberikan nuansa berbeda dalam pertarungan tersebut. Aksi Baseball Bat Man di Kota Tua Jakarta membuat tubuh begidik mendengar suara tulang yang dipukul pentungan baseball. Standing ovation patut diberikan tatkala pertarungan antara Rama dengan Assassin berlangsung. Penonton dibuat menahan nafas selama pertarungan silat berlangsung. Adegan bela diri yang menurut saya sebagai best fight scene. Sedikit di atas ketika adegan pertarungan Andi dan Rama vs Mad Dog. Adegan yang menyebabkan pertarungan Neo vs Agen Smith (The Matrix), Yu Shu Lien vs Jen Yu (Crouching Tiger, Hidden Dragon), The Bride vs The Crazy 88 (Kill Bill Vol. 1) kalah kelas. Mungkin masih banyak adegan laga dalam film ini yang bagus, namun yang perlu dicatat adalah ada pemotongan 20 menit karena terdapat adegan yang terlalu brutal.
            Pada kesempatan ini, Evans mampu menciptakan tokoh ikonik seperti Hammer Girl, Baseball Bat Man dan The Assassin yang akan selalu dikenang pecinta laga. Selain pencak silat yang menjadi ciri khas Indonesia, ternyata Evans juga menonjolkan beberapa hal bersejarah yang sesuai dengan film ini: kebun tebu dan palu. Kebun tebu sepertinya menjadi tempat favorit untuk menyembunyikan suatu pembunuhan di Indonesia. Kejadian 30 September mengingatkan kisah-kisah di pedesaan pembantaian simpatisan PKI dilaksanakan di kebun tebu. Jauh dari perkotaan dan keramaian. Palu yang identik dengan lambang partai terlarang di Indonesia pun ikut naik pamornya. Sesuatu yang tradisional memang dapat memberikan visual yang menyeramkan. Hentakan tanpa jeda pada tiap scence. Miskinnya teknologi CGI justru menambah kesan riil film ini. Secara keseluruhan, film ini benar-benar mengesankan dan meletakkan dasar baru bagi film aksi di seluruh dunia. Cukuplah membuat Malaysia jengkel dan iri sehingga film ini dilarang penayangannya disana.

Jan 3, 2014

           
Hidup manusia diawali dengan oxymoron. Setiap manusia memiliki definisi kebahagiaan, begitu pula saya. Orang yang paling bahagia adalah orang yang tidak memiliki hutang. Namun, setiap orang memiliki hutang. Terutama orang miskin. Orang kaya yang memiliki rumah dan perusahaan besar pun memilikinya. Ia dapat diartikan sebagai materi dan immateri.
            Hutang merupakan kebutuhan dan jeratan, racun obat. Berpusar dalam kubangan yang sama tiap masanya. Kekayaanmu hanyalah topeng hutang dan kemiskinanmu ialah jeratannya. Kejayaan dapat kau peroleh dengannya dengan cepat, akan tetapi sesaat saja. Kebangkrutan demikian menjalar cepat layaknya virus, sulit untuk bangkit dengan usaha yang setengah-setengah. Ia petunjuk dari ketiadaan materi dan immateri.
            Betapapun coba enyahkan mengenai materialisme pada dirimu, tapi tidak akan bisa lepas sepenuhnya. Disebabkan masih banyak manusia yang memikirkannya dan membutuhkannya. Semudah melakukan, sesulit mengembalikan. Tekanan dan usaha terus dilakukan untuk membayarnya. Tekanan dan usaha dipergunakan agar dikembalikan. Kalian akan jadi gila dibuatnya.
            Oxymoron: Random order. Bagi yang bertuhan, melalui bahasa klise, tiap hutang melekat hak orang yang dihutang. Setiap hak (termasuk hak asasi) muncul karena ada kewajiban, tiada yang mutlak. Pandangan bahwa hak adalah absolute tanpa adanya kewajiban, hanyalah pandangan mesum terhadap kebebasan. Apa yang engkau bayarkan dapat memenuhi kebutuhannya, membayar janjinya, menahan amarahnya, menjaga ucapannya, dan tidak menutup kemungkinan melunasi hutang si pemberi hutang. Suatu bentuk kewajiban manusia membantu sesama dan pengabdian kepada pencipta.
            Bagi yang tidak memiliki Tuhan, dengan bahasa yang klise juga, membayar hutang adalah suatu bentuk meniadakan Tuhan. Dan itu dapat melanggengkan kepercayaanmu. Bebas dari rasa bersalah, alih-alih berharap si pemberi hutang melupakannya dan memaafkanmu. Ketidakpercayaan si pemberi akan menyebar pada orang lain dan akan menyulitkanmu dikemudian hari.
            Bagi yang memiliki banyak Tuhan, engkau tahu bahwa dirimu menghamba dengan banyak Tuhan. Cobalah bunuh satu saja dan hanya sebentar pula Tuhan Uangmu. Itu tidak akan membuatmu dicap sebagai ateis karena mengurangi Tuhanmu yang banyak. Masih banyak Tuhan-Tuhan lain yang patut untuk dipertahankan, Tuhan Politik, Tuhan Kelamin, Tuhan Status Sosial, atau Tuhan Moral.
            Membaca Kafka adalah cara terbaik memahami keseluruhan pemikiran Nietzsche dibandingkan dengan pengikut Nietzsche lainnya. Terdapat humor dan optimisme. Dalam Metamorfosis, Kafka memberikan suatu gambaran menarik perihal keharusan yang memaksa untuk segera diatasi. Yang dalam konteks ini saya anggap sebagai kewajiban yang membahagiakan untuk mengetahui karakter manusia tatkala mengalami keterpurukan.

Semarang, 3 Januari 2013

Dec 30, 2013



I am
A little bit of loneliness
A little bit of disregard
A handful of complaints
But I can't help the fact
That everyone can see these scars
(Faint – Linkin Park)

         
         
           Sebelum anda melanjutkan membaca artikel ini, hendaknya anda memutar lagu Faint dari Linkin Park (jikalau belum memilikinya sebaiknya anda mengunduhnya). Memang tidak ada kaitannya antara Linkin Park dengan petapa. Setidaknya itu dapat mengurangi kejenuhan atas pemberitaan yang membentuk energi negatif.
            Dulu. Dulu sekali saya (yang lain) pernah menjadi seorang masokis, bukan masokis yang merupakan bentuk parafilia, tetapi lebih pada penyimpangan psikologi untuk ingin dipenjara. Berawal dari konklusi bahwa engkau tidak akan berpikir jernih untuk menulis suatu karya jika tidak di dalam penjara. Ketika para koruptor ketakutan akan penjara dan kriminal lain lari dari jeratan hukum, saya malah ingin merasakannya. Liberte!!! Suatu teriakan dari gema revolusi Perancis yang bertahan sampai saat ini, dan kini terdiam di Amerika Serikat menjadi sebuah patung. Dan kini terekam dalam buku dan hati para manusia dengan baik. Penjara merupakan kekuatan tersendiri untuk membangunkan tingkat imajinasi dan keluasan mata dalam memandang. Dari dalam jeruji besi semua nampak lebih jujur, meskipun nampak kotor. Namun, itu lebih baik dibandingkan kemunafikan yang telah memoles rupanya dengan keramahan dan keteraturan yang dipaksakan. Di sana saya bisa menjadi petapa yang menyepi, diam, dan tidak terlihat. Mataku bisa berubah menjadi mata elang yang luas memandang. Kemudian menjadi cacing yang berpandangan sempit yang melihat segala sesuatu menjadi serba besar. Kesakitan membuatku semakin bergairah. Itu tidak lazim memang, tetapi seperti kata Foucault bahwa setiap zaman memiliki definisi kegilaannya sendiri. Definisi kegilaan yang berubah sebagai indikator terjadinya perubahan paradigma, dimana Capra menyebutnya sebagai bagian dari titik balik peradaban.
            “Dari penjara itu engkau akan membuat berbagai karya yang menggemparkan,” ujarku (yang lain) pada saat itu.
            “Tetralogi Pulau Buru (Pramoedya Ananta Toer), Catatan-Catatan dari Penjara (Gramsci), Dari Penjara ke Penjara (Tan Malaka), Don Quixote (Miguel de Cervantes), Fi-Zhilalil Qur’an (Sayyid Qutb), Pledoi Indonesia Menggugat (Soekarno). Masih belum puas aku memberikan contoh karya dari penjara? Hitler pun dengan Mein Kampf dan Abu Bakar Ba’asyir tidak ketinggalan.”
            Aku terus mengoceh dengan mengutip dari Ibnu Taimiyah, “Dan dipenjara yang sebenarnya ialah yang dipenjarakan hawa nafsunya. Bila orang-orang yang memenjarakan saya ini tahu bahawa saya dalam penjara ini merasa bahagia dan merasa merdeka, maka merekapun akan dengki atas kemerdekaan saya ini, dan akhirnya mereka tentulah mengeluarkan saya dari penjara ini.”
            Lantas diriku yang lain mengambil alih dengan keinginan menyendiri di gunung untuk menghindari kegilaan duniawi. Penjara terlalu berisik dengan kenaifan pula. Kota terlalu cepat, penuh polusi serta kemacetan. Di sana masing-masing memiliki Gatoloco yang berbeda topeng berevolusi dengan halus: kalimat-kalimat bijak nan halus untuk pemerkosaan, kondisi-kondisi pemaaf yang kompromis. Obsesi Nietzsche terhadap Zarathustra menjadi Gatoloco bagi kaum ‘kiri’ yang membuat lebih skeptis dan apatis terhadap realitas. Dunia menghasilkan ‘Si Gila’ Nietzche, ‘Sang pemberontak’ Camus, Hitler yang paranoia, dan narcissus baru di media sosial.
            Secara duniawi tidak ada yang bergaransi, semua membutuhkan resiko. Begitu juga Resi Bisma ketika meninggalkan pertapaannya untuk turun gunung menjadi guru Pandawa dan Kurawa. Ia tidak menyangka bila pesona kekayaan menjeratnya, itu pun diakuinya. Lantas, apakah saya? Pertanyaan tersebut terus terjadi sampai para Gatoloco kelelahan yang kemudian berlanjut dengan berkomplotnya iblis dan dajjal. Mereka muncul dengan kebaikan, lalu coba menjerumuskan.
            Banyak orang yang saya kenal dan temui mengatakan sanggup menghadapi berbagai godaan. Pada mulanya saya memercayai ucapannya karena intelektualitas mereka. Pemikiran bukanlah berjenjang seperti dibilang Comte, melainkan utuh. Dari berpikir metafisik, logis, dan afeksi. Memang terkadang pemikiran menghasilkan tindakan, namun tidak selalu tindakan berasal dari pemikiran. Terdapat faktor-faktor yang memengaruhi, seperti perasaan, situasi, spontanitas, afeksi, dan kemampuan.
            Engkau perlu membangunnya. Tetapi, perlu pemikiran jernih yang memandang segala sesuatu secara meluas dan hati yang tenang, bukan melalui kegundahan dan pesimistis. Seperti banyak dialami manusia masa kini. Diskotik yang selalu sesak; ekstasi yang penuh fantasi; keriuhan sentuhan perkelaminan. Dunia beserta teorinya dibangun dengan keputus-asaan. Pesimistis yang menghasilkan nihilisme. Tak akan engkau temukan solusinya karena yang tersisa adalah pembenaran-pembenaran. Pemuka agama sudah nyenyak. Semua tampak gonyah walaupun kelihatan kokoh. Tidak kah kau dapat melihatnya?
            Mereka akan terus lari. Mencari ketenangan di pinggir laut dan di atas gunung. Mereka tidak akan menemukan apapun. Sang Petapa sudah banyak yang turun gunung dan merapat pada keramaian kota. Seperti halnya Musashi, Petapa perlu menghindar menyimpang di kesunyian dan lalu bergerak maju untuk membunuh kegelisahan serta kelinglungan bagi mereka yang mencarinya.
            Banyak cara menjadi petapa. Paling efektif adalah dengan menghindar menyimpang. Meskipun tidak ada jaminan untuk menghilangkan permasalahan hidup, dan permasalahan itu adalah solusi bagi manusia-manusia yang mencarinya. Hingga telinga sang petapa penuh kotoran karena cerita-cerita.
            Dan entah sejak kapan saya tidak menyukai ‘kiri’ yang dulunya kupuja. Mungkin dogma akan dunia diciptakan dengan struktur keseimbangan membuat kiri bergeser menjadi topangan rasio dalam membangunkan hatiku. Kapan itu? Saya sendiri lupa.
            Musik telah berganti dengan lagu Breaking the Habit karena lupa melakukan repeat otomatis. Sampai pada lirik, I don't want to be the one, the battles always choose.

Semarang, 30 Desember 2013


Dec 21, 2013

            Awalnya tidak ada niatan untuk mengetik. Disebabkan rasa kantuk yang besar iseng-iseng putar musik campur sari. Ternyata eh ternyata malah tidak bisa tidur. Lantunan musik serta lirik yang melankolis dari Didi Kempot membuatku over dosis untuk berimajinasi. Well, mataku melirik tumpukan buku di sampingku. Begitu banyak buku yang aku baca, tapi dari sekian itu apakah ada yang berkesan? Lantas coba ku buka gudang memoriku untuk menemukan buku-buku yang berkesan bagiku (bukan bagimu). Nomer urut tidak memengaruhi ya…

1.      Edensor (Andrea Hirata)

Buku ketiga dari Tetralogi Laskar Pelangi ini memiliki banyak pengaruh, terutama pengaruh untuk mengikuti jejak Ikal dan Arai untuk berkeliling Eropa. Tentunya pada saat itu bukan Eropa yang kukelilingi, melainkan Jawa. Selain itu, jika Ikal dan Arai kegiatannya ketika liburan kuliah, Saya keliling Jawa ketika menjelang kuliah berakhir dan mengakibatkan harus cuti kuliah. Andrea membuat kisah dalam novel Edensor menarik tatkala mozaik-mozaik dalam novel sebelumnya, Sang Pemimpi, dihadirkan di dalamnya. Sebut saja kutukan Capo Lam Nyet Pho dan tentunya penantian enam belas tahun pembalasan Tuhan terhadap lolongan serigala Arai di sebuah Masjid di Austria (berkali-kali saya baca adegan ini, berkali-kali pula dibuatnya tertawa). “Tuhan tahu tapi menunggu” kutip Andrea menirukan Leo Tolstoy untuk menjelaskan peristiwa tersebut.




2.     Cerita Dari Blora (Pramoedya Ananta Toer)
 
Ini adalah buku kenang-kenangan yang diberikan oleh salah satu dosen. Dipinjam oleh seorang teman kurang lebih selama satu setengah tahun dan segera berupaya memintanya untuk dikembalikan setelah tahu jika harga buku ini di pasar loak Rp. 250.000,- (meskipun di belakang buku tertera harga Rp. 15.000,-). Kisah bersetting pada masa revolusi tahun 1945-1949 yang menggambarkan suasana mencekam tokoh-tokoh yang menderita karena konflik negara yang baru lahir. Satu-satunya kumpulan cerpen yang paling menyanyat dan ciamik. Buku yang menginspirasi untuk menulis cerpen.


3.      Il Principle (Niccolo Machiavelli)

Ini dia buku pedoman para diktator mulai dari Stalin, Hitler, Mussolini, Pol Pot, Pinochet, Milosevic dan masih banyak lagi. Sebuah kado bagi Lorenzo de Medici dari Machiavelli setelah melakukan pengamatan terhadap karakter penguasa di Eropa. Ia gemas melihat Italia terjajah dan kalah terhadap negara lain sehingga terpecah menjadi beberapa bagian. Keinginannya untuk menyatukan Italia adalah dengan memperkuat Sang Penguasa yang dihormatinya. Tetapi Sang Penguasa yang dihormatinya terlalu menjunjung moral sehingga mudah tergilas kenaifan Penguasa-Penguasa lain. Kejujuran Machiavelli dalam mengungkapkan tabir kekuasaan begitu gamblang. Contoh-contoh yang digambarkannya banyak ditiru oleh para pemimpin dunia. Karena buku ini, dulu sempat juga berkhayal menjadi seorang diktator sekaligus membuat daftar nama orang yang akan aku binasakan. Hahahaha maklum darah masih mudah mendidih.

4.     The End of History and the Last Man (Francis Fukuyama)
Awal semester dua saya tidak sengaja menemukan buku ini. Ketika membacanya tiada satu pun yang saya pahami. Lantas seorang dosen berkomentar sambil ketawa, “Ya harus paham filsafat dulu untuk mengetahui buku seperti itu.” Saya turuti sarannya untuk belajar filsafat secara otodidak. Setelah mulai paham, saya buka kembali buku ini dan mengerti maksud dari tulisan Fukuyama.
Tesis Fukuyama berakhir dengan pernyataan bahwa Sejarah telah berakhir dengan kemenangan kapitalisme dan demokrasi liberal yang menjadi akhir dari peradaban. Tesis tersebut berangkat dari filsafat Hegel mengenai sejarah. Hegel menekankan bahwa sejarah sebagai suatu proses dialektika yang terus berputar, yang dimaknai Fukuyama bahwa sejarah as the dialectical processes and not the occurrence of events. Akhir sejarah dalam pemahaman Fukuyama, tidak berarti siklus alam seperti kelahiran dan kematian akan berakhir, atau bahwa peristiwa-peristiwa penting tidak akan terjadi lagi.
Dalam sejarah peradaban manusia, kemunculan Komunisme melalui Karl Marx yang kemudian melahirkan negara-negara komunis yang kuat seperti Uni Soviet, China, dan Kuba menimbulkan perang dingin. Keruntuhan Uni Soviet di tahun 1990an, yang dianggap sebagai pusat komunisme internasional pada saat itu, dianggap menunjukkan akhir dari pergulatan dua filsafat besar, yaitu kemenangan idealisme dan kekalahan materialisme.
Arogansi filsafat Hegel nampak jelas dalam tulisan ini, pandangan Barat lebih superior daripada non-Barat dan Demokrasi liberal akan menjadi kiblat. Paradigma tersebut sebenarnya membawa dikotomistik karena berangkat dari dasar-dasar yang sudah usang dalam ilmu sosial. Misalnya, hukum Aufhebung Hegel sudah dibantah oleh Foucault dengan diskontinuitas sejarahnya untuk memahami peradaban kontemporer.
Membaca buku ini setidaknya membuka cakrawala terhadap perdebatan dunia yang tidak pernah habis. Perkembangan Islam yang pesat, luput oleh perhatian Fukuyama.
  
5.     The Clash of Civilization and the Remaking of World Order (Samuel P. Huntington)
Buku yang sama dengan karya Fukuyama yang membahas permasalahan global pasca perang dingin. Sebuah anti tesis dari Huntington terhadap Fukuyama terkait pola-pola dunia dalam pergulatan dan permasalahannya tidak semata-mata antara kapitalisme dan komunisme. Lebih jauh lagi, Huntington menggambarkan adanya suatu benturan peradaban di dunia yang aka terus bertarung dan bergulat karena di situlah letak konfliknya, Peradaban.
Melalui buku ini anda akan melihat banyak sekali benturan peradaban yang dialami Indonesia. Mulai dari klaim Malaysia terhadap kebudayaan Indonesia, ekspansi K-Pop di Indonesia ataupun fashion kawula muda kita. Efek dari globalisasi yang tidak terhindarkan.


6.        The World is Flat (Thomas L. Friedman)
Beberapa tahun terakhir globalisasi dianggap sebagai hantu oleh negara-negara dunia ketiga. Dengung globalisasi membuka ranah baru dan suatu gaya yang baru dalam dunia. Tetapi, globalisasi oleh Friedman telah berlangsung cukup lama. Ia membagi tiga versi globalisasi. Pertama, globalisasi versi 1.0 yang diawali dengan penjelajahan Colombus tahun 1492 sampai tahun 1800 yang sekaligus mengawali era globalisasi. Inilah era mengglobalnya negara yang meruntuhkan tembok agama dan imperialisme. Kedua, globalisasi versi 2.0 dimulai tahun 1800 sampai tahun 2000 yang menjadi era penyusutan dunia pada tataran perusahaan multinasional. Melalui revolusi industri membuat perusahaan-perusahaan multinasional memainkan peran penting pasar dunia dan tenaga kerja yang kemudian diikuti depresi dari perang dunia serta diakhiri dengan jatuhnya biaya telekomunikasi. Ketiga, globalisasi versi 3.0 dimulai tahun 2000 yang menyusutkan dunia yang kecil makin kecil sehingga menjadi datar. Konvergensi komputer atau telekomunikasi membuat Individu ataupun kelompok kecil mampu menjadi global tanpa menghiraukan jarak pada tataran dunia datar (flat world platform). Persaingan individu menentukan era ini yang disokong dengan pesatnya perkembangan gadget.
Sesungguhnya dari Fukuyama, Huntington maupun Friedman memandang pergerakan dunia dengan sudut pandang yang berbeda. Fukuyama dari arah ideologi, Huntington dari unsur peradaban, dan Friedman dari teknologi dan industri. Friedman memiliki persepsi yang berbeda terhadap globalisasi apabila disandingkan pandangan globalisasi pada umumnya, dimana pada saat inilah era globalisasi. Ia memandang persaingan global sudah terjadi sejak abad lima belas, yang dimulai dengan persaingan antar negara yang kemudian kian menyusut lebih kecil.

7.     Teori Keadilan (John Rawls)
Buku ini saya beli dua kali karena yang pertama hilang (penghalusan dari kata dicuri). Disebabkan oleh saya adalah mahasiswa hukum tentunya terdapat referensi hukum yang memiliki kesan dan salah satu buku tersebut adalah karya John Rawls, Teori Keadilan. Ada suatu keinginan dari Rawls untuk menemukan alternatif bagi dua teori besar, yakni utilitarianisme dan intuitif deontologis. Ia ingin mengakomodasi individu tanpa mempertaruhkan kesejahteraan atau haknya sendiri demi kebaikan orang lain. Selain itu Ia memberikan metode yang konkret untuk membuat keputusan paling mendasar dari keadilan distributif yang kemudian menghasilkan keadilan sebagai kesetaraan (justice as fairness).
Meskipun terdapat keinginan untuk memberikan jalan keluar dari kedua teori, tetapi Rawls terjebak dalam penguatan utilitarianisme. Sebenarnya banyak kelemahan dari teori Rawls, namun buku ini memberikan banyak gambaran mengenai proses keadilan yang rasional dan institusional yang lebih condong ke normatifnya.

8.     Teori Umum Hukum dan Negara (Hans Kelsen)
Tidak ada mahasiswa hukum yang tidak kenal Hans Kelsen, baik dari teori stufentheory maupun pure of law. Bisa dikatakan pemikiran melalui buku inilah yang mendominasi struktur keilmuan hukum sampai saat ini, meskipun pada era postmodern banyak yang menentangnya akan tetapi tidak mengurangi pendukungnya. Hans Kelsen meletakkan dasar-dasar yang kuat bagi positivisme hukum, sehingga Meuwissen pun berpendapat bahwa ilmu hukum adalah ilmu yang sui generis.
Kelsen dalam buku ini ingin membuktikan hukum dan negara bukanlah dua hal yang berbeda, melainkan saling keterkaitan. Secara lengkap buku ini membahas banyak hal mulai dari konsep hukum sampai mengenai negara sekaligus kritik terhadapnya. Keinginan-keinginan Kelsen untuk menjauhkan hukum dari anasir-anasir non yuridis melupakan suatu hal yang penting, yakni bahwa pembentuk undang-undang adalah lembaga politik yang dipilih dari lapisan masyarakat. Sehingga, tentu saja sulit untuk memisahkannya dengan anasir non yuridis, setidaknya politik. Hal ini tentunya memengaruhi produk hukum yang berada di bawah undang-undang apabila mengacu sistem hierarki peraturan perundang-undangan yang mengharuskan untuk sinkron.

9.     Politik Kuasa Media (Noam Chomsky)
Ini buku kecil nan tipis, namun membuka pemikiran kita terhadap berita yang muncul di berbagai media. Setidaknya ini membantu mampu memilah berita-berita yang muncul. Chomsky berpendapat bahwa fakta di media massa hanyalah rekonstruksi dan olahan dari redaksi. Terkadang terdapat fakta yang sengaja disembunyikan, penonjolan secara berlebihan suatu fakta-fakta tidak penting. Secara garis besar buku ini membicarakan kebobrokan media di Amerika Serikat yang terkadang melakukan perselingkuhan dengan pihak pemerintah ataupun swasta untuk membentuk opini publik. Bagaimana humas bekerja dan media-media memeroleh dana yang begitu besar oleh politik media dikeluarkan pemerintah untuk menjaga kekuasaanya.
Sebagai pegiat pers, buku ini terlalu jujur dan berani tetapi tidak ada yang salah karena saya sendiri mengetahui bagaimana kerja media di lapangan sampai masuk dapur redaksi. Meskipun begitu, kondisi seperti ini perlu ditelaah bagi pegiat media untuk melakukan segala aktivitas dengan nurani.

10.    Seri Sherlock Holmes (Sir Arthur Conan Doyle)
Aoyama Gosho dalam pembuatan komik Detektif Conan terinspirasi dari penulis seri Sherlock Holmes. Bagi saya ini adalah buku yang mampu merangsang rasa ingin tahu saya yang besar (jika anak muda sekarang dibilang “Kepo”). Cara berpikir deduktif coba saya terapkan sejak masih sekolah dasar sampai kuliah (akhir-akhir ini mulai mencoba berpikir induktif), walaupun tidak disertai dengan ‘blusukan’ ala Holmes. Gaya penulisan yang seperti catatan perjalanan dari Watson tidak mengurangi kekuatan karakter dari tokoh-tokohnya. Meskipun tokoh-tokoh fiksi dalam serial detektif, mulai dari Hercule Poirot (Agatha Cristie), Jacques Clouseau (Seri Pink Panther) sampai era Ace Ventura dan Sinichi Kudo, Holmes selalu lebih menonjol karena dia adalah pembuka gerbang tokoh detektif.

11.  Dragon Ball, especially vol 33-35 (Akira Toriyama)
Hehehe ini adalah sebuah pengakuan karena buku inilah saya gemar membaca buku, sehingga berapa pun umurku tidak bisa lepas dari sebuah komik disebabkan oleh komik adalah buku favorit pertama saya. Komiknya sendiri sudah tamat pada saat SD (hahaha maklum misi komersial televisi). Serial televisinya baru berakhir ketika saya SMA kelas 2 padahal pertama kali muncul di televisi Indonesia tahun 1995an (bayangkan sendiri berapa lama). Gaya pertarungan Super Saiya 3 dalam komik ini memberikan dampak gaya bertarung ketika main perang-perangan maupun pas Karate (kondisi ini berlaku sampai tamat SD, geli rasanya jika mengingat hal tersebut). Overall, hanya menceritakan pukul-pukulan dan tidak ada pesan moralnya, namun tetap berkesan (mungkin karena dulu suka pukul-pukulan). Hahahaha udah ah tidak mau membahas terlalu lama. Ada ketakutan malah akan larut dalam nostalgia masa kecil.

12.    A Walk To Remember (Nicholas Sparks)
Semakin aku gali memori dan kenangan dalam gudang otak, ku temukan buku yang bikin mewek dan termehek-mehek. Ialah novel ini. Cerita yang romantis sampai menangis di akhir cerita. Istilah leukimia pada saat itu begitu asing, sampai dosen yang begitu dekat denganku menderitanya juga. Sontak saya teringat dengan novel ini.
Nicholas Sparks memang spesialis kisah romantis-dramatis mulai dari Notebook sampai Dear John. Meskipun masih banyak buku serupa karena novel ini dibaca tatkala hendak masuk masa puber (sekitar umur 14 tahunan) ada sisi kenangan yang tidak bisa lepas dari keinginan sederhana seorang gadis muda.


13.    One Piece (Eichiro Oda)
Kisah Naruto, Bleach, Fairy Taile, sampai Beelzebub kalah telak dengan One Piece yang menjadi manga terpanjang dalam sejarah Jepang. Petualangan yang tidak mengenal ujung ini sangat amat panjang dan menarik dan tidak dapat diprediksi endingnya (karena memang belum TAMAT). Komik yang penuh gairah, semangat, dan pesan moral nan kocak. Semua komplit dan dalam porsi yang tepat tanpa sesuatu yang berlebihan. Jika anda seorang skeptis dan pesimistis perlu kiranya membaca komik ini untuk suplemen semangat dalam menghadapi dunia yang kian nisbi.


14.  Kata adalah Senjata (Subcomandante Marcos)
Keunikan EZLN (Ejército Zapatista de Liberación Nacional) dan Marcos sebagai pemimpin (jika bisa dibilang begitu) adalah gerakan yang lain dari suatu pemberontak. Pemberontakan yang tidak bertujuan untuk menggulingkan pemerintahan, tetapi mengadakan sebuah pemilu yang bersih dan demokratis meskipun hasilnya adalah sama. Sehingga di sebuah bukit, Ia tidak mengajarkan cara menggunakan senjata untuk para militan melainkan mengajarkan sastra dan filsafat. Setelah pemberontakan yang gagal karena cara berpikir masyarakatlah yang mesti diubah, Ia mewajibkan pembacaan terhadap karya sastra. Gerakan senjata militer adalah kegagalan dan kata merupakan senjata baru yang tak terkalahkan. Melalui esai-esai yang cerdas, Marcos membangkitkan gejolak muda saya untuk terus berpikir, belajar sastra, dan menulis. Walaupun hanya gerakan kultural, namun efek yang diberikan pada seluruh dunia terasa. Bahkan Gabriel Garcia-Marquez mengapresiasi sastra Marcos. Rentetan kata-katanya mampu menembus hati yang angkuh dan memaksa untuk mengerahkan segala indera terhadap hegemoni dunia.



15.  The Alchemist (Paulo Coelho)
Begitu banyak buku yang harus kubeli dua kali karena dipinjam yang berujung tidak dikembalikan, sehingga aku lupa siapa yang meminjam. Pertama kali membaca ketika SMA pada waktu yang tepat, -patah hati. Masih ingat di benakku kalimat pelipur lara itu,
“jika emas yang kau temukan itu terbuat dari unsur murni, maka ia tidak akan rusak. Dan kau bisa selalu bisa kembali. Tetapi jika emas yang kau temukan itu hanya sepuhan belaka, seperti kilasan bintang jatuh, kau tidak akan menemukan apapun tatkala pulang nanti.”
Tahun 2011-2012, saya rekomendasikan seorang teman untuk membelinya dengan niatan membacanya ulang (Hehehe maaf ya, Ardi). Ketika membaca untuk kedua kalinya ada perbedaan nuansa, kali ini yang muncul adalah kemesraan dan kerinduan pada seseorang wanita di Semarang, seperti halnya kerinduan Santiago terhadap Fatima. Pada tanggal 26 November 2013 kuputuskan untuk memberikan kado ulang tahun pada wanita tersebut buku ini. Yang semoga saja merepresentasikan isi hatiku padanya.